cover
Contact Name
Tri Mulyaningsih
Contact Email
trimulya@unram.ac.id
Phone
+62274-512102
Journal Mail Official
jik@ugm.ac.id
Editorial Address
https://jurnal.ugm.ac.id/jikfkt/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmu Kehutanan
ISSN : 01264451     EISSN : 24773751     DOI : https://doi.org/10.22146/jik.28284
Focusing on aspects of forestry and environments, both basic and applied. The Journal intended as a medium for communicating and motivating research activities through scientific papers, including research papers, short communications, and reviews
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 1 (2019)" : 11 Documents clear
Seberapa Luas Hutan Yang Kita Perlukan? Sebuah Refleksi Cara Pandang Kita Pada Pengurusan Hutan Emma Soraya
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.632 KB)

Abstract

Baru-baru ini Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) melakukan kajian teknokratik masterplan redesign pembangunan kehutanan Indonesia 2020-2024 yang salah satu keluarannya adalah rasionalisasi luas dan fungsi kawasan hutan yang perlu dipertahankan. Kajian ini dimaksudkan untuk menjadi dokumen yang dapat digunakan oleh presiden yang terpilih di tahun ini. Dalam berbagai konsultasi publik yang dilakukan Bappenas, terlihat bahwa Bappenas menggunakan faktor: (1) stok karbon; (2) biodiversitas; (3) kapasitas air; dan (4) fungsi kawasan/ administrasi. Kajian tersebut menyimpulkan bahwa kawasan hutan yang perlu dipertahankan sesuai fungsi hanya 72,3 juta hektar (60% dari kawasan hutan daratan yang luasnya 120,6 juta hektar (KLHK 2018)). Luasan kawasan hutan saat ini mencakup hampir dua per tiga daratan Indonesia.Rekalkulasi luas kawasan hutan dapat dipahami karena kebutuhan lahan di luar sektor kehutanan, mulai dari untuk permukiman, pertanian, hingga sumber energi (pertambangan) terus meningkat dan perlu pengalokasian yang lebih terencana untuk menghindari kerusakan sumberdaya alam/ hutan yang semakin menurun kuantitas dan kualitasnya. Badan dunia semacam FAO pun mengakui bahwa kebutuhan lahan khususnya untuk sumber pangan tidak dapat dihindarkan karena pertumbuhan populasi penduduk dunia yang terus meningkat.Hasil kajian tersebut nampaknya mendapatkan resistensi dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebagai penerima mandat negara sebagai pengurus kawasan hutan. Dalam pasal 1 UU 41, kawasan hutan dijabarkan sebagai wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh Pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap. Seluruh kawasan hutan ditujukan untuk melindungi ekosistem dan pemanfaatan sumber daya hutan untuk menopang ekonomi negara. Resistensi atas hasil kajian Bappenas terjadi karena mungkin KLHK menginterpretasi mandat pengurusan kawasan hutan ini sebagai ‘tuan tanah’ yang ‘menguasai’ kawasan hutan harus dipertahankan sebagai harga mati?Hutan di Indonesia, seperti halnya sumberdaya alam yang lain, diamanatkan oleh undang-undang dasar untuk dapat dikelola untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Kita telah menyadari bahwa hutan kita telah menurun kuantitas dan kualitasnya sejak diundangkannya UU tentang Kehutanan di tahun 1967 dan di dalam UU 41/1999 pun disebutkan bahwa kondisi hutan terus menurun. Disebutkan pula bahwa hutan merupakan salah satu penentu sistem penyangga kehidupan dan sumber kemakmuran rakyat yang keberadaannya harus dipertahankan secara optimal dan dijaga daya dukungnya secara lestari.KLHK juga melaporkan bahwa hasil interpretasi citra Landsat tahun 2016 menunjukkan bahwa dari total luas kawasan hutan daratan hanya sekitar 71% yang masih berhutan (KLHK 2018). Jika mandat yang diberikan kepada KLHK “hanya” pada sumberdaya hutan, sesungguhnya mulai tahun lalu KLHK hanya perlu mengurus 85,6 juta hektar saja. Namun tidak, KLHK juga memiliki mandat untuk mengupayakan kawasan hutan dalam kondisi berhutan dengan kegiatan reforestasi sehingga fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan (ekosistem dan ekonomi) dapat terus berlangsung. Luasnya lahan berstatus kawasan hutan namun tak berhutan menjadi pangkal pertanyaan seberapa luas hutan yang perlu dipertahankan (baca: yang dapat diurus negara?).Namun, kajian Bappenas pun dapat dikatakan terlalu menyederhanakan faktor-faktor yang digunakan dalam menghitung luas kawasan hutan yang harus dipertahankan. Pertimbangan tersebut masih berorientasi ekonomi dan kurang mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosial. Hal ini mungkin dapat dipahami karena sebagian besar dari kita memandang hutan baru sebatas sumberdaya ekonomi saja. Bappenas juga masih mengkotak-kotakkan fungsi kawasan hutan seperti halnya yang dilakukan oleh KLHK dalam mengurus kawasan hutan.Penggunaan pertimbangan-pertimbangan tersebut mungkin dapat dipahami karena sebagian besar dari kita memandang hutan baru sebatas sumberdaya ekonomi saja. Selain itu, ketika kajian dilaksanakan masih terkendala dengan ketersediaan data spasial yang masih belum lengkap dan tertata Adanya data spasial yang terintegrasi merupakan pangkal untuk menjawab pertanyaan luasan kawasan hutan yang perlu dipertahankan.Sebenarnya sejak tahun 2016 melalui Peraturan Presiden Nomor 9/2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Kebijakan Satu Peta (PKSP), Presiden telah memandatkan untuk memastikan seluruh peta tematik sesuai dengan kondisi aktual di lapangan dan terhindar dari tumpang tindih. Badan Informasi Geospasial (BIG), Bappenas, dan Kementerian Dalam Negeri dimandati sebagai pelaksana KSP. Akhir tahun 2018, presiden telah meresmikan penggunaan Geoportal Kebijakan Satu Peta (KSP) yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan peta skala besar yang terstandarisasi dan terupdate secara nasional sehingga dapat mencegah konflik dan penyalahgunaan kekayaan alam. Pelaksaan KSP dibagi dalam beberapa pekerjaan: kompilasi, integrasi, dan sinkronisasi. Saat ini BIG telah berhasil menyelesaikan tahap kompilasi dan integrasi 83 dari 85 peta Informasi Geospasial Tematik (IGT) yang di targetkan di seluruh Indonesia yang bersumber dari 19 kementrian/ lembaga dan 34 propinsi sebagai wali data.Tahapan terakhir berupa tahapan sinkronisasi masih dalam proses dan perlu segera diselesaikan. Kendala terbesar tahap ini berupa penyelesaian tumpang tindih pemanfaatan lahan. Hasil identifikasi tumpang tindih telah dituangkan melalui Peta Indikatif Tumpang Tindih IGT (PITTI). Berdasar PITTI ditemukan tumpang tindih pemanfaatan hutan, sumber daya alam, dan perizinan yang luasnya mencapai 10,4 juta hektar di Kalimantan dan 6,4 juta hektar di Sumatra. Sebanyak 70% dari luasan tersebut berada di kawasan hutan. Hasil penelitian tim Fakultas Kehutanan UGM pun menemukenali kebun sawit seluas 2,8 juta hektar yang ada di dalam kawasan hutan dari interpretasi penginderaan jauh (FKT UGM 2018). Temuan-temuan tumpang tindih seperti ini tidak hanya akan mengubah peta, tetapi juga akan memiliki implikasi hukum yang berpengaruh pada surat keputusan penerbitan izin hak guna usaha dan bangunan.Terlepas telah tersedianya peta-peta tematik yang terintegrasi, yang lebih penting adalah perlunya menyamakan cara pandang pada bagaimana mengelola hutan. Sejalan dengan yang disampaikan Sayer et al. (2003) lebih dari 15 tahun yang lalu, pada Kongres Kehutanan Dunia di Quebec, Canada, paling tidak terdapat dua faktor penting yang perlu dijadikan pertimbangan dalam pengurusan dan pengelolaan SDH, yaitu: (1) mengoptimalkan kemanfaatan nilai publiknya dengan mengedepankan keunikan kondisi dan kebutuhan lokal; dan (2) memastikan fungsi ekologis hutan mampu berkontribusi terhadap fungsionalitas lansekap secara keseluruhan. Kedua hal tersebut dapat kita gunakan untuk menentukan luasan kawasan hutan yang perlu dipertahankan. Lebih lanjut, Sayer et al. (2003) juga menyarankan untuk tidak mengkotak-kotakkan fungsi hutan berdasar kategori yang sudah ditentukan sebelumnya dan memastikan stakeholder lokal menjadi aktor utama pada proses pengelolaan SDH. Kedua hal tersebut, dapat diterjemahkan dalam bentuk mosaik berbagai tipe pengelolaan hutan yang sesuai dan memenuhi kebutuhan masyarakat lokal dan sekaligus secara simultan mampu memenuhi konservasi global (misal: biodiversitas dan penyerapan karbon). Tipe pengelolaan hutan menjadi sangat unik dan merupakan solusi lokal yang sesuai dengan kondisi biofisik dan sosial sehingga terwujud hutan sebagai komponen lansekap DAS yang multi-fungsi yang menyeimbangkan fungsi perlindungan hingga ekonomi lokal.Kisah keberhasilan komunitas/ masyarakat lokal dalam pengelolaan dan peningkatan nilai konservasi hutan sudah sangat sering kita dengar namun tidak sampai tercatat dalam statistik global. Hal ini disebabkan pengelolaan hutan oleh masyarakat lokal hampir selalu memiliki karakter yang sangat khas: sesuai dengan kondisi tapak dan ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan lokal. Kisah sukses ini menunjukkan bahwa masyarakat lokal mempunyai kemampuan dan kearifan untuk mengelola SDH. Pengutamaan stakeholder lokal tidak hanya memastikan bahwa pengurusan dan pengelolaan hutan dapat optimal kemanfaatan dan terjamin kelestariannya, namun juga sebenarnya merupakan solusi untuk penyelesaian persoalan tumpang tindih penggunaan lahan di lapangan. Nilai budaya gotong-royong masih merupakan modal sosial yang cukup kuat untuk penyelesaian permasalahan di tingkat tapak.Selain itu, SDH perlu diurus dan dikelola tidak hanya berdasar pada kondisi biofisik terbatas di lahan di mana hutan itu tumbuh, namun perlu penekanan bahwa hutan yang ada harus dapat berkontribusi dengan fungsi ekologisnya terhadap fungsionalitas lansekap daerah aliran sungai (DAS) secara keseluruhan (Sayer et al. 2003). Bahkan, jika dirasa perlu, di lansekap tertentu, restorasi untuk meningkatkan semua multi-manfaat hutan, terutama untuk kebutuhan yang bersifat lokal harus juga dilakukan.Dengan mempertimbangkan kedua faktor tersebut dan adanya data spasial yang telah terstandarisasi dan sesuai dengan kondisi tapak saat ini, penentuan luas kawasan hutan yang masih perlu dipertahan dapat dengan mudah dikuantifikasikan dan dipetakan sebarannya.
Pemodelan Efektivitas Hutan Pantai di Cagar Alam Pananjung Pangandaran Sebagai Buffer Tsunami Denni Susanto; Lies Rahayu Wijayanti Faida; Sunarto Sunarto
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2188.754 KB) | DOI: 10.22146/jik.46139

Abstract

Kawasan pantai selatan Jawa merupakan daerah pesisir yang rawan terjadi tsunami. Tahun 2006 tsunami dengan kekuatan gempa 6 skala Richter melanda daerah Pangandaran termasuk Cagar Alam Pananjung. Terdapatnya hutan pantai di Cagar Alam Pananjung mampu mereduksi kekuatan tsunami sehingga efek merusak tsunami dapat diminimalkan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memodelkan efektivitas hutan pantai Cagar Alam Pananjung Pangandaran sebagai buffer tsunami dengan berbagai faktor pereduksi tsunami. Nested sampling digunakan untuk pengambilan data karakteristik vegetasi dengan intensitas sampling 4%. Luas hutan pantai 38 ha, sehingga digunakan petak ukur sebanyak 38 petak ukur persegi dengan ukuran petak ukur untuk tumbuhan bawah 1 m x 1 m, semai 2 m x 2 m, sapihan 5 m x 5 m, tiang 10 m x 10 m, dan pohon 20 x 20 m. Petak ukur ditempatkan secara purposive dengan mempertimbangkan lokasi genangan tsunami dan kerapatan vegetasi. Kerapatan vegetasi dilakukan dengan analisis citra Sentinel 2-A tahun 2017. Efektifitas hutan pantai sebagai buffer tsunami dianalisis menggunakan persamaan matematis menggunakan konsep Harada dan Imamura (2003) dan dimodelkan dengan Spatial Multi Criteria Analysis (SMCA) dengan kriteria lebar hutan pantai, kerapatan vegetasi, diameter pohon, dan kerapatan tumbuhan bawah. Hasil penelitian menunjukkan nilai-nilai parameter hutan pantai pereduksi tsunami di Cagar Alam Pananjung berupa kerapatan vegetasi > 2000 ind/ha, rata-rata diameter pohon yaitu 15,94 cm, dan lebar hutan pantai antara 120– 325 m. Ketinggian tempat hutan pantai Cagar Alam Pananjung bergelombang antara 0–59 m dpl. Hasil pemodelan menunjukkan efektivitas hutan pantai Cagar Alam Pananjung sebagai buffer dalam meredam energi tsunami memiliki nilai reduksi sebesar 41,18%, sehingga termasuk kategori efektif. Effectiveness Model of Coastal Forest in Pananjung Nature Reserve, Pangandaran as Tsunami Buffer AbstractThe southern coast of Java is a coastal area prone to tsunami. In 2006, a tsunami with a magnitude of 6 Richter scale happened in Pangandaran area including Pananjung Nature Reserve. The presence of coastal forest in the Pananjung Nature Reserve reduced the force of the tsunami so that the destructive effect of the tsunami can be minimized. This research aimed to model and assess the effectiveness of coastal forest in Pananjung Nature Reserve as a tsunami buffer. Nested sampling was used to collect vegetation data with 4% sampling intensity. Extensive coastal forest of 38 ha was measured in 38 square forest sample plots with the size of the plot for the understorey 1 mx 1 m, seedlings 2 m x 2 m, saplings 5 mx 5 m, poles 10 m x 10 m, and trees 20 x 20 m. The plots were located purposively by considering the location of tsunami inundation and vegetation density. The vegetation density was performed by image analysis of Sentinel 2-A2017. The effectiveness of coastal forests as tsunami buffers was analyzed using mathematical concepts according to Harada and Imamura (2003) and modeled with Spatial Multi Criteria Analysis (SMCA) with width coastal vegetation criteria, vegetation density, tree diameter, and density of understorey. The results showed that in Pananjung Nature Reserve has vegetation density > 2000 ind/ha, average tree diameter of 15.94 cm, and coastal forest width between 120 m - 325 m. Topography of coastal forest Pananjung Nature Reserve waved between 0 m asl - 59 m asl. It was found that the effectiveness of coastal forest Pananjung Nature Reserve in reducing energy tsunami was in the value of 41.18%, thus it was included in the effective category.
Okupansi Kukang Jawa (Nycticebus javanicus E. Geoffroy 1812) di Hutan Tropis Dataran Rendah di Kemuning, Bejen, Temanggung, Jawa Tengah Mahfut Sodik; Satyawan Pudyatmoko; Pujo Semedi Hargo Yuwono
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1164.801 KB) | DOI: 10.22146/jik.46141

Abstract

Faktor kehilangan/berkurangnya habitat, dan fragmentasi habitat dapat memberikan dampak buruk terhadap kukang Jawa (Nycticebus javanicus), satwa primata nokturnal yang tergolong dalam kategori Critically Endangered. Kukang Jawa yang hidup di hutan yang terfragmentasi merasakan dampak negatif dari faktor- faktor tersebut dan hal tersebut juga dapat memengaruhi okupansi dalam sebuah kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi okupansi habitat oleh kukang Jawa di hutan dataran rendah yang terfragmentasi di Kemuning, Temanggung, Jawa Tengah, Indonesia. Untuk mem­perkirakan proporsi penggunaan wilayah, probabilitas detek­si (detection probability) dan faktor – faktor yang berpengaruh terhadap okupansi habitat oleh kukang Jawa, kami menggunakan occupancy model of a single-season. Sebanyak 5 kali ulangan survei malam pada tahun 2017 digunakan sebagai data pokok di dalam model okupansi. Metode pengambilan data lingkungan dan data anthropogenic menggunakan observasi lapangan dan interview dengan masyarakat lokal. Kami membagi lokasi penelitian menjadi 141 grid dengan ukuran 200 m x 200 m (4 ha) sebagai acuan dalam survei malam dengan jalur. Data kovariat lingkungan yang diukur adalah jarak dari jalan, jarak dari tepi hutan, jarak dari pemukiman, jarak dari sumber air, ketinggian tempat, dan kemiringan lahan. Hasil penelitian menunjukan bahwa kukang Jawa menghuni habitat sekitar 23,2% dari keseluruhan areal di hutan Kemuning. Jarak dari jalan dan jarak dari sumber air (sungai) berkorelasi positif terhadap tingkat hunian, sedang jarak dari pemukiman berkorelasi negatif terhadap tingkat hunian dari kukang Jawa. Data dan informasi kuantitatif yang dihasilkan dari penelitian ini penting untuk mengetahui kebutuhan sumber daya jangka panjang populasi kukang Jawa khususnya di hutan Kemuning. Selanjutnya diharapkan pemerintah Indonesia atau stakeholder terkait dapat melakukan upaya konservasi dan rencana strategi pengelolaan spesies kukang Jawa dengan baik khususnya di hutan dataran rendah yang terfragmentasi.Occupancy of Javan Slow Loris (Nyticebus javanicus E. Geoffroy 1812) in Kemuning Tropical Low Land Forest, Bejen, Temanggung, Central Java Abstract Habitat loss and landscape fragmentation have a negative impact on the Javan slow loris (Nycticebus javanicus), a Critically Endangered nocturnal primate species. Slow lorises in remaining forest fragments might be suffered and affect their occupancy behavior. We aim to investigate the determinant factors for the probability of habitat occupancy by the javan slow loris in Kemuning forest fragment of Temanggung District, Central Java. To estimate the site occupancy rate, detection probability, and the determinant factor of site use by Nycticebus javanicus, we employed the occupancy model of a single-season using night surveys. Five repeated night surveys in 2017 were used as the main basis data for the occupancy model. We used direct observation and interview with locals to collect data on environmental and anthropogenic features. We divided the study area into 141 grids with 200 m x 200 m (4 ha) each which were the basis for the night survey following existing walking paths. The influence of six covariates was assessed to determine of site use by Nycticebus javanicus: distance to road, distance to forest edge, distance to the settlement, distance to water source, altitude, and elevation. The result shows that the probability of site use occupied by Nycticebus javanicus was 23.2% of the total area. Distance to roads and distance to water source have a positive correlation with the probability of site use, whereas the influence of distance to settlements has a negative correlation with the site use of the species. Such quantitative data and information gained in this research are important to know for the long term resource needs of the Nycticebus javanicus, especially in the Kemuning forest. Therefore, the Indonesian Government or related stakeholders can formulate the detail conservation plans of the species, especially in the lowland fragmented tropical forest.
Habitat dan Interaksi Spatio-Temporal Merak Hijau dengan Sapi dan Herbivora Besar di Taman Nasional Baluran Satyawan Pudyatmoko
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.877 KB) | DOI: 10.22146/jik.46142

Abstract

Merak hijau (Pavo muticus muticus) adalah species yang terancam punah dengan populasi yang terus menurun. Burung ini adalah jenis yang dilindungi di Indonesia, dan hidup di beberapa sisa-sisa habitat yang kebanyakan sempit dan dengan tingkat perburuan tinggi. Hal ini menyebabkan risiko kepunahan yang tinggi. Penelitian ini dilakukan di Taman Nasional Baluran untuk menyelidiki pengaruh variabel habitat terhadap kemungkinan okupansi merak hijau serta interaksi spasial dan temporal antara merak hijau dengan sapi dan herbivora besar. Kehadiran merak hijau direkam dengan kamera trap dan variabel-variabel habitat diukur di tempat kamera trap dipasang. Penelitian ini menemukan bahwa kemungkinan okupansi merak hijau paling baik dijelaskan oleh model yang tidak melibatkan peran variabel habitat. Selain itu, ditemukan pula bahwa pola interaksi merak hijau dengan sapi mirip dengan pola interaksi merak hijau dengan sebagian besar herbivora besar. Tidak ada dampak negatif sapi terhadap kehadiran dan aktivitas harian merak hijau. Burung ini memiliki daya adaptasi yang cukup tinggi terhadap kondisi lingkungan yang berbeda. Penurunan populasi di Jawa mungkin lebih disebabkan karena tekanan perburuan yang tinggi daripada perubahan habitat. Habitat and Spatio-Temporal Interaction Between Green Peafowl with Cattle and Megaherbivores in Baluran National Park  Abstract Green peafowl (Pavo muticus muticus) is an endangered species, whose population is continuously declining. It is protected animal in Indonesia that occurs in remnant, and sometime small habitat with high hunting pressure, that made the animal prone to extinction. This study was conducted to investigate the influence of habitat on the occupancy probability of green fowl as well as the interaction between green peafowl and free-range cattle and wild mammal in Baluran National Park. The presence of animals in the study was recorded by camera traps, and the habitat variables were measured in the locations, where the camera traps were installed. The research found that the occupancy of green peafowl best explained by the model that not include any habitat variables. The pattern of interaction between green peafowl and domesticated cattle was similar to those of between green peafowl and the majority of wild mammal. There was no evidence of negative impact of domesticated cattle on the spatial occurrence as well as temporal activity of green peafowl. Green peafowl is a bird species with high adaptability to various environmental conditions. The population decrease of this animal in Java might be mainly due to high hunting pressure than habitat change.
Struktur Sebaran dan Tata Ruang Anggrek Epifit (Orchidaceae) di Hutan Pantai Cagar Alam Pulau Sempu Malang, Jawa Timur Asep Sadili
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.722 KB) | DOI: 10.22146/jik.46143

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur, sebaran, dan tata ruang jenis-jenis anggrek epifit yang ada di hutan pantai Cagar Alam Sempu, Malang, Jawa Timur. Penelitian menggunakan plot memanjang 10 m x 1.000 m (1 ha), yang dibagi menjadi 100 anak plot. Letak plot dari Pantai Semut ke arah Pantai Sumber Air Tawar. Seluruh jenis anggrek epifit dalam plot dicatat dan dihitung jumlahnya (rumpun). Hasil menunjukkan terdapat empat jenis dari tiga marga, dengan kerapatan 77 rumpun/ha. Jenis dominan adalah Taeniophyllum cf. biocellatum, diikuti Dendrobium subulatum, Grosourdya appendiculata, dan Dendrobium crumenatum. Pola tata ruang sebaran berdasarkan tiga parameter indeks dan uji chi-square bagi setiap jenis menunjukkan adanya pola acak.Structure, Distribution, and Spatial Patterns of Epiphytic Orchids (Orchidaceae) at Coastal Forest of the Sempu Island Nature Reserve, Malang, East Java AbstractThe aim of this study is to know the structure, spatial pattern, and distribution of epiphytic orchids in coastal forest Sempu Nature Reserve, Malang, East Java. This study used an elongated plot of 10 m x 1.000 m (1 ha), and was divided into 100 subplots. The location of plot was from Semut Beach to the direction of Sumber Air Tawar Beach. All the epiphytic orchids species of inside plot were recorded and counted (clumps). The results showed that there was four species from three genera with density of 77 clumps/ha. The most dominant species was Taeniophyllum cf. biocellatum, followed by Dendrobium subulatum, Grosourdya appendiculata, and Dendrobium crumenatum. Spatial pattern of distribution based on three parameter indices, and chi-square test showed that every species showed a random pattern.
Kajian Pengusangan Cepat dan Penyimpanan Biji terhadap Perkecambahan Anaphalis longifolia (Blume) Blume ex.DC. Muhammad Imam Surya; Suluh Normasiwi
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.267 KB) | DOI: 10.22146/jik.46144

Abstract

Anaphalis longifolia merupakan kelompok bunga edelweiss yang memiliki nilai konservasi tinggi, namun upaya konservasi melalui kegiatan penyimpanan biji dan pengembangan usaha pembudidayaannya relatif masih terbatas. Penelitian ini melaporkan hasil dua percobaan yang dilaksanakan di laboratorium Kebun Raya Cibodas. Dalam percobaan pertama, pengusangan biji dilakukan menggunakan etanol 96% dengan 11 lama waktu perendaman (0, 10, 20, 30, 40, 50, 60, 70, 80, 90 dan 100 menit), sedangkan dalam percobaan kedua dilakukan pengujian kualitas daya simpan biji terhadap beberapa tempat penyimpanan seperti desikator, lemari, kulkas 4 oC dan freezer -20 oC selama kurun waktu 12 bulan. Hasil percobaan pertama menunjukkan bahwa perendaman biji pada etanol 96% selama 10-30 menit mampu memacu perkecambahan biji A. longifolia. Penyimpanan biji A. longifolia untuk waktu yang lama direkomendasikan menggunakan freezer dengan suhu -20 oC.A Study of Accelerated Aging and Seed Storage on the Germination of Anaphalis longifolia (Blume) Blume ex.DC. AbsractAnaphalis longifolia is a group of edelweiss flowers which has a highly conservation value. However, there are only limited information on conservation activities of A. longifolia regarded to the seed storage and cultivation. The study was conducted in the laboratory of Cibodas Botanical Garden. In this study, two experiments were carried out. In the first experiment, A. longifolia seeds were treated by ethanol 96% with 11 different immersion time (0, 10, 20, 30, 40, 50, 60, 70, 80, 90 and 100 minutes). In the second experiment, seed storability and viability test were conducted after A. longifolia seeds were saved in desiccator, cabinet, refrigerator 4 oC and freezer -20 oC during 12 months. Results of the first experiment showed that soaking seeds on 96% ethanol for 10-30 minutes was able to stimulate seed germination of A. longifolia. Freezer with temperature -20 oC is recommended to storage A. longifolia for long periods.
Multi Inang Fungi Ektomikoriza pada Dipterocarpaceae di Hutan Tropis Maliyana Ulfa; Eny Faridah; Su See Lee; Sumardi Sumardi; Christine le Roux4 le Roux; Antoine Galiana; Patahayah Mansor; Marc Ducousso
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.186 KB) | DOI: 10.22146/jik.46196

Abstract

Dipterocarpaceae dikenal sebagai keluarga vegetasi hutan dominan di hutan tropis yang memiliki simbiosis mutualisme dengan fungi ektomikoriza. Hal tersebut menjadikan pemulihan hutan tropis bergantung pada keberadaan fungi ektomikoriza. Peranan fungi ektomikoriza dalam mendukung regenerasi dijumpai dalam bentuk multi inang yang dapat terindikasi dari penggunaan secara bersama jenis fungi ektomikoriza antar tanaman. Berdasarkan hal tersebut, penelitian bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis fungi ektomikoriza yang berasosiasi dengan dipterocarpaceae di tingkat pohon dan semai, serta mengetahui adanya multi inang fungi ektomikoriza pada kedua tingkat pertumbuhan tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan mengidentifikasi ektomikoriza melalui pendekatan molekuler dengan menggunakan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR). Urutan ekstrak DNA diperkuat menggunakan pasangan primer spesifik ITS 1F-ITS 4. Identitas fungi ektomikoriza diperoleh dari pencocokan urutan DNA sampel terhadap database Genbank. Berdasarkan hasil identifikasi, jenis-jenis fungi ektomikoriza yang berasosiasi dengan dipterocarpaceae di tingkat pohon dan semai mempunyai hubungan kekerabatan dengan kelas Dothideomycetesdan ordo Sordariales, Sebacinales, Cantharellales, Russulales, Agaricales, Boletales, dan Thelephorales. Penelitian juga menemukan multi inang fungi ektomikoriza terhadap dipterocarpaceae, baik pada jenis maupun tingkatan pertumbuhan inang yang berbeda (semai dan pohon). Jenis fungi ektomikoriza yang paling berperan dalam multi inang adalah fungi yang mempunyai hubungan kekerabatan dengan ordo Thelephorales, Russulales, dan Sebacinales.Tomentella sp. dari ordo Thelephorales ditemukan paling banyak berasosiasi multi inang pada pohon dan semai. R. lepidicolor, Sebacina sp., dan fungi ektomikoriza famili Thelephoraceae masing-masing berasosiasi multi inang di tingkat semai. Keberadaan jenis-jenis fungi ektomikoriza yang mampu berasosiasi secara multi inang dengan dipterocarpaceae merupakan modal alami upaya rehabilitasi hutan tropis terdegradasi. Multi-Host of Ectomycorrhizal Fungi on Dipterocarpaceae inTropical Rain ForestsAbstractDipterocarpaceae is known as the dominant forest vegetation family in tropical forests that has mutual symbiosis with ectomycorrhizal fungi. It makes tropical forest resilience depend on the existence of ectomycorrhizal fungi. The role of ectomycorrhizal fungi to support the regeneration was found in multi-host form, indicated by sharing ectomycorrhizal fungal species between plants. Based on that phenomenon, the study aims to recognize ectomycorrhizal fungi that associate with dipterocarpaceae at tree and seedling levels, and the presence of multi-host ectomycorrhizal fungi on both growth stages. The research was conducted by identifying the ectomycorrhizal fungi via molecular approach by using Polymerase Chain Reaction (PCR) technique. To strengthen the sequence of DNA extracts, a specific primer pair of ITS 1F-ITS 4 was used. The identity of the ectomycorrhizal fungi was obtained by matching the samples’DNA sequence to the Genbank database. Based on the identification results, ectomycorrhizal fungi that associate with dipterocarpaceae on tree and seedling levels have genetic relationship with Dothideomycetes class and Sordariales, Sebacinales, Cantharellales, Russulales, Agaricales, Boletales, and Thelephorales orders. The research also found that multi-host of ectomycorrhizal fungi to dipterocarpaceae is formed both in different species and growth stages of host (tree and seedling). The most ectomycorrhizal fungi that play a role in multi-host are those with genetic relationship to the orders of Thelephorales, Russulales, and Sebacinales. Tomentella sp. of Thelephorales order was the most multi-host on both tree and seedling levels. R. lepidicolor, Sebacina sp., and ectomycorrhizal fungi of Thelephoraceae were found multi-host in seedling level. The existence of ectomycorrhizal fungi associated in multi-host with dipterocarpaceae is a natural asset for rehabilitation effort of degraded tropical forests.
Distribusi Sel Pori pada Kayu Tarik dan Korelasinya dengan Komposisi Lignin Deded Sarip Nawawi; Istie Sekartining Rahayu; Nyoman Jaya Wistara; Rita Kartika Sari; Wasrin Syafii
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.755 KB) | DOI: 10.22146/jik.46207

Abstract

Sifat anatomi kayu tarik dianalisis untuk parameter jumlah dan diameter pori dan korelasinya dengan komposisi lignin. Sampel kayu reaksi diambil dari batang pohon mindi (Melia azedarach) yang tumbuh miring. Pembentukan kayu tarik menurunkan jumlah dan diameter pori dan sebagai implikasinya meningkatkan proporsi serat. Jumlah dan diameter pori berkorelasi positif dengan kadar lignin. Nisbah siringil/guaiasil dan erythro/threo struktur β-O-4 berkorelasi negatif dengan jumlah dan diameter pori. Hasil penelitian ini mengkonfirmasi bahwa perubahan proporsi sel penyusun kayu akibat tegangan pertumbuhan merupakan salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap perubahan karakteristik kimia lignin kayu tarik. Distribution of Vessels in Tension Wood and Its Correlation with Lignin CompositionAbstractThe anatomical properties of tension wood were investigated for number and diameter of vessel and its correlation with lignin composition. Reaction wood sample was taken from the leaning stem of mindi (Melia azedarach). The formation of tension wood reduced the number and size of vessel and, consequently, increased the proportion of fiber. Number and diameter of vessels positively correlated with lignin content. However, syringyl/guaiacyl ratio of lignin and erythro/threo ratio of β-O-4 structures were negatively correlated with number and diameter of vessels. It was confirmed that changes in the proportion of wood cell was an importance factor influencing the changes in chemical characteristic of tension wood lignin.
Aktivitas Larvasida Ekstrak Daun Tumih (Combretocarpus rotundatus (Miq.) Danser) terhadap Larva Aedes aegypti Renhart Jemi; Royda Dara Ertini Damanik; Lies Indrayanti
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.45 KB) | DOI: 10.22146/jik.46208

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kadar ekstrak daun tumih dan menguji aktivitas larvasidanya terhadap Aedes aegypti. Daun tumih dimaserasi dan difraksinasi dengan pelarut metanol, n-heksana, etil asetat, dan etanol. Aktivitas larvasida ekstrak diuji dengan konsentrasi 0, 5, 10, 25, 50, 75, dan 100 ppm. Hasil penelitian menunjukkan rendemen dari ekstraksi daun tumih pada berbagai larutan adalah sebagai berikut ekstrak metanol sebesar 15%, n-heksana 51%, etil asetat 35% dan etanol 85%. Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak metanol daun tumih positif mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin. Pengujian larvasida ekstrak daun tumih menunjukkan pengaruh terhadap mortalitas larva Aedes aegypti. Aktivitas larvasida ekstrak daun tumih optimum pada ekstrak etil asetat dengan LC(50) = 24,54 ppm, ekstrak metanol LC(50) = 45,65 ppm, ekstrak etanol LC(50) = 46,77 ppm dan ekstrak n-heksana LC(50) = 48,97 ppm. Ekstrak etil asetat daun tumih merupakan ekstrak teraktif dalam aktivitas larvasidanya. Selanjutnya, analisis FT-IR menunjukkan adanya gugus fungsi C-H alkana dan C = C aromatik. Gugus fungsi tersebut diduga penyusun senyawa alkaloid, flavanoid, saponin, dan tanin. Hasil analisis LCMS mengindikasikan adanya 7 senyawa bioaktif yaitu hexadecyl-ferulate, 21-o-methyl toosendanopentaol, 23-acetate alismaketone, dehydroxy-24-acetate alisol, physanol, prosapogenin 2, dan stigmastan-3,6-dione Larvacide Activity of Tumih (Combretocarpus rotundatus (Miq.)Danser) Leaf Extracts against Aedes aegyptiAbstractThis research aimed to measure the content of Combretocarpus Rotundatus (Miq.) Danser leaf extracts and to test its larvicidal activity against Aedes aegypti. The leaves were macerated and fractionated using methanol, n-hexane, ethyl acetate, and ethanol. The extract contents from the leaves extraction were metanol extract of 15%, n-hexane extract of 51%, ethyl acetate extract of 35% and ethanol extract of 85%. The larvicidal activity of extracts was tested with concentration of 0, 5, 10, 25, 50, 75, and 100 ppm. Phytochemicals test exhibited that the methanol extract of Combretocarpus rotundatus (Miq.) Danser leaves contained alkaloids, flavonoids, saponins, and tannins. Larvicidal test conducted on the extracts exhibited an effect on the mortality levels against Aedes aegypti larvae. The larvicidal activity of leaf extracts was optimum in the ethyl acetate extract at LC(50) = 24.54 ppm, methanol extract at LC(50) = 45.65 ppm, ethanol extract at LC(50) = 46.77 ppm, and n-hexane extract at LC(50 = 48.97 ppm. It was found that the ethyl acetate extract was the most active larvicide. FT-IR analysis showed existing functional groups of C-H alkanes and C=C aromatics. Those functional groups were assumed to be flavanoid, alkaloid, saponin, and tannin constituents. Results of LC-MS analysis indicated 7 bioactive compounds i.e.hexadecyl-ferulate, 21-o-methyl toosendanopentaol, 23-acetate alismaketone, dehydroxy-24-acetate alisol, prosapogenin 2, and stigmastan-3,6- dione.
Optimasi Produksi Badan Buah Tiga Jenis Jamur Kayu dengan Inovasi Perlakuan pada Waktu Inkubasi dan Jumlah Penyobekan pada Baglog Denny Irawati; Naresvara Nircela P Nircela P; Febe Margareta RM; J.P. Gentur Sutapa Gentur Sutapa
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.162 KB) | DOI: 10.22146/jik.46209

Abstract

Di Indonesia permintaan jamur konsumsi, baik yang untuk obat maupun bahan makanan, terus meningkat. Akselerasi produksi perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama waktu inkubasi dan banyaknya jumlah penyobekan baglog terhadap produktivitas 3 jenis jamur konsumsi yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Sampel baglog pada penelitian ini diperoleh dari petani jamur Sedyo Lestari, Bantul. Selanjutnya pada baglog tersebut diinokulasikan 3 jenis jamur yaitu Auricularia sp. (jamur kuping), Pleurotus sp. (jamur tiram), dan Ganoderma sp. (jamur lingzhi). Setelah inokulasi, media diinkubasi selama 30, 40, dan 50 hari, untuk selanjutnya dibudidayakan selama 60 hari. Pada akhir masa inkubasi dilakukan pengukuran kadar glukosamin dan penyobekan baglog pada 1 atau 2 ujung untuk memicu munculnya badan buah. Selama periode pembudidayaan, dilakukan pemanenan badan buah dan diukur produktivitas badan buah serta intensitas pemanenan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan lama waktu inkubasi dan jumlah sobekan pada baglog memberikan pengaruh yang berbeda terhadap setiap jenis jamur. Lama waktu inkubasi tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas badan buah dan nilai konversi biologi pada jamur tiram dan kuping, namun berpengaruh nyata terhadap jamur lingzhi. Lama waktu inkubasi terbaik untuk jamur lingzhi adalah 40 hari. Jumlah sobekan pada baglog tidak memberi pengaruh terhadap produktivitas jamur tiram dan kuping, akan tetapi berpengaruh terhadap produktivitas jamur lingzhi dan intensitas pemanenan jamur kuping.  Optimization of Fruiting Body Production of Three Kinds Edible Mushrooms Species by Innovate the Incubation Time and Number of Rips on Baglog AbstractIn Indonesia the demand for edible mushroom, both for medicine and food, continues to increase. Production acceleration is needed to meet the market needs. This study aims to determine the effect of the incubation time and the number of rips on baglog to the productivity of 3 species of edible mushrooms that are widely cultivated in Indonesia. The baglog as sample in this study was obtained from Sedyo Lestari mushroom farmer in Bantul. The baglog was inoculated by 3 kinds of mushroom of Auricularia sp. (ear fungus), Pleurotus sp. (oyster mushroom), and Ganoderma sp. (lingzhi mushroom). After inoculation, the medium was incubated for 30, 40, and 50 days, for subsequent cultivation for 60 days. At the end of the incubation period, the glucosamine content was analysed and the baglog was teared at 1 or 2 ends to trigger the appearance of the fruiting body. During the cultivation period, the fruiting bodies were harvested and the productivity of the fruiting body and the harvesting intensity were measured. The results showed that the incubation time and the amount of rips on the baglog gave a different effect on each mushroom species. The duration of incubation time had no significant effect on fruiting body productivity and biological conversion on oyster and ear mushrooms.However, it had a significant effect on Lingzhi mushroom. The best time of incubation for Lingzhi mushroom was 40 days. The amount of rips on the baglog did not give effect to the productivity of oyster and ear mushrooms, but it affected the productivity of Lingzhi mushroom and the harvesting intensity of ear mushroom.

Page 1 of 2 | Total Record : 11