cover
Contact Name
Nasri
Contact Email
nasri@unhas.ac.id
Phone
+62411-589592
Journal Mail Official
jpkwallacea@unhas.ac.id
Editorial Address
Kampus Tamalanrea Fakultas Kehutanan UNHAS, Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10, Makassar
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea
Published by Universitas Hasanuddin
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea (JPK Wallacea) was found in 2012. Initially, this journal was a regular scientifically reviewed printed journal focusing on the Conservation of Biological Resources. We are particularly interested in conservation issues in the biogeographical region of Wallacea, but related conservation issues from other parts of the world are also welcome.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 2 (2015)" : 10 Documents clear
Altitudinal gradient affects on trees and stand attributes in Mount Ciremai National Park, West Java, Indonesia Andes Hamuraby Rozak; Hendra Gunawan
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 4 No. 2 (2015)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (849.775 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2015.vol4iss2pp93-99

Abstract

Understanding the effect of altitude on trees and stand attributes of tropical forests is crucial for the development of effective management and conservation strategies. However, study on this issue in Mount Ciremai National Park is still lacking. A total of 136 plots were set on the eastern slope of Mount Ciremai in Mount Ciremai National Park and investigated in six different altitudes: 500 m a.s.l., 840 m a.s.l., 1,300 m a.s.l., 1,400 m a.s.l., 1,780 m a.s.l., and 2,530 m a.s.l. The objective of this study was to analyze the effect of altitude to trees and stand attributes i.e. species and family richness, tree density, basal area, and tree biomass. The changes on trees and stand attributes to altitudinal gradient were analyzed using regression analysis. The result showed that tree species number, family number, tree basal area, and tree biomass significantly declined with increasing altitude, meanwhile tree density significantly increased with increasing altitude. These findings indicate a distinct effect of altitude on tree and stand attributes in Mount Ciremai National Park.
Sebaran Spasial Tumbuhan Penghasil Minyak Kayu Putih di Taman Nasional Wasur Edy Junaidi; Aji Winara; Mohamad Siarudin; Yonky Indrajaya
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 4 No. 2 (2015)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1880.832 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2015.vol4iss2pp101-113

Abstract

Pemanfaatan jenis tanaman penghasil minyak kayu putih di Taman Nasional(TN) Wasur perludidukung data dan informasi yang akurat. Hal ini menjadi penting mengingat eksploitasi yang tidak terkendali dapat menyebabkan terganggunya fungsi kawasantamannasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran spasial tigajenis tanaman penghasil kayu putih, yaitu jenis Asteromyrtus symphyocarpa, Melaleuca cajuputidan Melaleuca viridiflorayang ada di kawasan TN Wasur. Secara umum sebaran tigajenis tanaman penghasil kayu putih sebagian besar berada pada wilayah Yanggandur.Pusat sebaran ketiga jenis kayu putih ini berada di sekitar Kampung/Desa Yanggandur, Mbembi, Wasur dan Sota.Sebaran ketiga jenis penghasil minyak kayu putih ini sebagian besar terdapat di sekitar rawa, khususnya di Rawa Sermayam, Rawa Buaya dan Rawa Biru. Luas habitat ketiga jenis penghasil kayu putih adalah 103.011,75 ha. A. symphyocarpa merupakan jenis yang mendominasi Taman Nasional Wasur yaitu 8,30% dari luas taman nasional, diikuti oleh jenis M. cajuputi seluas 8,27% dan M. viridiflora seluas 7,03%. Jenis A. symphyocarpaumumnya dominan tumbuh pada jenis tanah Kambisol, sedangkan M. cajuputi dan M. viridiflora tumbuh dominan pada jenis tanah Kambisol dan Gleysol.
Ekosistem Hutan Pegunungan Bawah Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung: Hotspot Keanekaragaman Hayati Burung dan Manajemen Konservasinya Indra A.S.L.P. Putri
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 4 No. 2 (2015)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1163.07 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2015.vol4iss2pp115-128

Abstract

Hutan pegunungan bawah dikenal sebagai salah satu hotspot keanekaragaman hayati. Namun informasi mengenai keanekaragaman hayati burung yang terdapat di ekosistem ini tergolong masih sangat minim. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi ilmiah mengenai ekosistem hutan pegunungan bawah yang kaya akan keanekaragaman hayati burung dan manajemen konservasinya. Pengumpulan data keanekaragaman burung dilakukan di tiga lokasi ekosistem hutan pegunungan bawah Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) dan dilakukan dengan menggunakan metode count point. Analisis data dilakukan dengan menggunakan indeks keanekaragaman jenis Shannon-Weiner, indeks kemerataan jenis Pielou, indeks dominasi Simpson, indeks kekayaan jenis Margalef dan indeks kesamaan jenis Sorensen. Beda nyata pada populasi burung yang dijumpai di lokasi penelitian diuji dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa ekosistem hutan pegunungan bawah TN Babul kaya akan keanekaragaman hayati burung, kaya akan spesies endemik, langka dan dilindungi. Kondisi populasi burung tergolong baik, meskipun terdapat perbedaan nyata pada jumlah individu burung yang dijumpai di lokasi penelitian akibat adanya perbedaan tingkat gangguan oleh manusia. Untuk itu sangat diperlukan peningkatan pemahaman masyarakat tentang zonasi, serta partisipasi berbagai pihak bagi peningkatan peran dan kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi. Selain itu juga diperlukan adanya kesinambungan program konservasi yang dilaksanakan oleh pihak TN Babul, agar kelestarian ekosistem hutan pegunungan bawah dan keanekaragaman hayati yang terdapat di dalamnya tetap lestari.
Parameter genetik pada kombinasi uji provenan dan uji keturunan Araucaria cunninghamii asal Manokwari (Papua) di Bondowoso, Jawa Timur Dedi Setiadi; M. Anis Fauzi
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 4 No. 2 (2015)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (855.376 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2015.vol4iss2pp129-136

Abstract

Araucaria cunninghamii sebagai bahan baku pulp serat panjang perlu dipertimbangkan di masa mendatang yang saat ini masih diimport dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan bahan baku pulp serat panjang di Indonesia. Sumber benih unggul dari jenis tersebut perlu dipersiapkan sejak dini untuk mengetahui peningkatan genetik yang dihasilkan. Kombinasi uji provenan dan uji keturunan A.cunninghamii di Bondowoso, Jawa Timur adalah salah satu penelitian yang dibangun untuk menghasilkan benih A.cunninghamii yang berkualitas di masa yang akan datang. Plot ini dirancang menggunakan rancangan acak lengkap berblok (RCBD) dengan 28 famili, 4 pohon per plot dan 8 blok dengan jarak tanam 4 x 3 m. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada umur 5 dan 10 tahun rerata tinggi dan diameter pohon berturut-turut sebesar 5,47 m; 8,20 cm dan 16,05 m; 20,59 cm, rerata volume pohon/ha sebesar 8,02 m3/ha dan 74,52 m3/ha; riap volume pohon sebesar 1,60 m3/ha/tahun; 7,45 m3/ha/tahun. Pada umur 5 tahun berbeda nyata terhadap diameter batang, sedangkan pada umur 10 tahun menunjukkan perbedaan yang nyata antar provenan terhadap kedua sifat yang diukur. Pada umur 5 dan 10 tahun nilai heritabilitas famili dan individu tergolong sedang, h2f = 0,4 - 0,5 , h2i = 0,2 - 0,3 dan h2f = 0,40 - 0,47, h2i = 0,28 - 0,29 sedangkan heritabilitas di dalam famili (h2wf) sebesar 0,41 - 0,48. Korelasi genetik umur 5 dan 10 tahun cukup tinggi (rg=0,62; 0,82). Taksiran peningkatan genetik untuk tinggi pohon dan diameter batang dari hasil seleksi di dalam famili adalah sebesar 0,10% dan 0,07% pada umur 5 tahun serta 0,53% dan 1,01% pada umur 10 tahun.
Uji Coba Hibrid Morus khunpai dan M. indica Sebagai Pakan Ulat Sutera (Bombyx mory Linn.) Nurhaedah Muin; Heri Suryanto; Minarningsih
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 4 No. 2 (2015)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (809.269 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2015.vol4iss2pp137-145

Abstract

Tersedianya tanaman murbei yang baik merupakan salah satu faktor penentu kontinuitas pemeliharaan ulat sutera. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kecocokan hibrid jenis Morus khunpai dan jenis M.indica (hibrid KI) sebagai pakan ulat sutera yang dapat dilihat pada kualitas kokon dan serat sutera yang dihasilkan. Hibrid KI tersebut merupakan hasil persilangan terkendali dari induk betina M.khunpai dan induk jantan M.indica S-54. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Variabel yang diamati adalah persentase larva mengokon, persentase kokon normal, bobot kokon, bobot kulit kokon, ratio kulit kokon dan panjang serat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas kokon dan serat ulat sutera yang diberi pakan tanaman murbei hibrid jenis M.khunpai dan M.indica (hibrid KI) cenderung menunjukkan nilai lebih rendah dibanding murbei induk (M.khunpai, M.indica) dan kontrol (M.nigra) Kondisi ini menunjukkan bahwa kecocokan hibrid jenis M.khunpai dan M.indica (hibrid KI) sebagai pakan ulat sutera cenderung belum terlihat.
Uji antagonisme Trichoderma spp. terhadap Ganoderma sp. yang menyerang tanaman sengon secara in vitro Benyamin Dendang
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 4 No. 2 (2015)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (925.025 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2015.vol4iss2pp147-156

Abstract

Ganodermasp.adalah cendawan patogen yang dapat menyebabkan penyakit busuk akar pada tanaman sengon (Falcataria mollucana). Ganodermasp. sulit dideteksi karena gejalanyamirip dengan gejala penyakit akar lainnya.Penelitian dilaksanakan di LaboratoriumFakultas Kehutanan IPByang bertujuan untuk mengetahui laju pertumbuhan diameter koloni Ganodermasp. dan Trichodermaspp. dan mempelajari kemampuan Trichoderma spp.dalammenghambat pertumbuhan koloni isolat Ganodermasp. pada media PDA dan MEA secara in vitro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan diameter koloni isolat Ganodermasp. pada media PDA (7,09 mm/hari)lebih cepat daripada pertumbuhan pada media MEA (5,41 mm/hari).Laju pertumbuhan diameter koloni isolat Trichodermaspp. pada media PDA diperoleh nilai rata-rata secara berturut-turut yaitu T. viride(69,67 mm/hari), T. harzianum(56,49 mm/hari), dan T. pseudokoningii(42,04 mm/hari). Sedangkan pada media MEA diperoleh nilai rata-rata tertinggi dari pertumbuhan diameter koloni isolat berturut-turut untuk T. pseudokoningii(77,29 mm/hari), T. harzianum(66,50 mm/hari), dan T. viride(59,67 mm/hari). Persentase penghambatan Trichodermaspp.tertinggi ditunjukkan oleh T. harzianum(73,60%) dibandingkanT. pseudokoningii(59,76%), dan T. viride(46,47%).
Local perspectives on tenure rights and conflict in FMU Rinjani Barat, West Nusa Tenggara Province Cecep Handoko; Yumantoko
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 4 No. 2 (2015)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1115.26 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2015.vol4iss2pp157-170

Abstract

Local perspectives on tenurial rights and conflict needs to be known in overcoming forest tenurial conflict thoroughly. Aiming at knowing this local perspective, study was conducted in FMU Rinjani Barat in 2013 at the villages of Senaru, Santong and Rempek, North Lombok District. Research activities included literatures review, and interview. Data were analyzed using CDA and multiple linier regression. Results indicated that there is need for rearrangement of forest rule and the propriety of the rule, improving forest management, and accommodation to various interests on forest land as well as resources. In high forest destruction condition, forest tenurial conflict resolution should be done in the context of sustainable management which was accompanied by an increase in communication, cooperation, alignment, and mentoring to community. Related to these efforts, law enforcement is needed for improving sustainability of management, and avoiding irregularities in implementation of forest management.
Karakteristik Pertumbuhan Cendana (Santalum album Linn.) Asal Populasi Pulau Sumba Sumardi; Hery Kurniawan; Misto
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 4 No. 2 (2015)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.895 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2015.vol4iss2pp171-177

Abstract

Cendana (Santalum album Linn.) merupakan jenis tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi dengan adanya kandungan minyak atsiri pada kayu terasnya. Nilai ekonomi tinggi pada kayu cendana mendorong tindakan eksploitasi terhadap jenis tersebut. Eksploitasi tanpa diimbangi dengan upaya regenerasi berdampak pada penurunan populasi di alam yang mengakibatkan penurunan variasi genetik jenis tersebut. Penyelamatan materi genetik yang masih tersisa dapat dilakukan dengan konservasi Ex-Situ sekaligus digunakan sebagai populasi dasar untuk tujuan pemuliaan di masa mendatang. Pada tahun 2013, Balai Penelitian Kehutanan Kupang (BPK Kupang) telah membangun plot konservasi Ex-Situ cendana yang berasal dari populasi Pulau Sumba. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik dan pengaruh faktor genetik terhadap karakteristik atau sifat pertumbuhan cendana dari populasi Pulau Sumba sampai dengan umur 6 bulan setelah penanaman. Rancangan penelitian disusun dengan rancangan Incomplete Block Design (IBD) yang terdiri dari 57 famili, single treeplot dan 5 blok sebagai ulangan. Hasil analisis menunjukkan bahwa rerata pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman uji sampai dengan umur 6 bulan masing-masing sebesar 37,36 cm dan 3,88 mm. Taksiran nilai heritabilitas famili (h2f) untuk tinggi dan diameter masing-masing sebesar 0,80 dan 0,55.
Kesesuaian Media Tabur, Sapih dan Naungan pada Semai Lada-Lada (Micromelum minutum Wight & Arn) sebagai Pakan Larva Papilio peranthus untuk Pembinaan Habitat Kupu-Kupu Heri Suryanto
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 4 No. 2 (2015)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.783 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2015.vol4iss2pp179-184

Abstract

Kupu-kupu merupakan fauna khas di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung namun jumlahnya semakin lama semakin menurun. Upaya menjaga keberlangsungan ekosistem hutan terutama spesies kupu-kupu adalah dengan melaksanakan penanaman tumbuhan pakan larva (host plant) kupu-kupu. Salah satunya jenisnya adalah lada-lada (Micromelum minutum). Hal yang terpenting pada penanaman tanaman pakan adalah ketersediaan bibit. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui media tabur, sapih dan naungan yang sesuai dengan lada-lada untuk produksi bibit yang optimal. Kegiatan ini dilakukan di persemaian dengan pengamatan pada perlakuan media tabur, media sapih dan naungan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Micromellum minutum dapat berkecambah dengan baik pada media pasir, tanah dan arang sekam padi maupun serbuk gergaji sedangkan media sapih dan naungan terbaik adalah campuran tanah, pupuk kandang dan sekam padi komposisi 1:1:1 dengan intensitas naungan 50%.
Perbedaan sifat pemesinan kayu timo (Timonius sericeus (Desf) K. Schum.) dan kabesak (Acacia leucophloea (Roxb.) Willd.) dari Nusa Tenggara Timur Heny Rianawati; Siswadi; Retno Setyowati
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 4 No. 2 (2015)
Publisher : Foresty Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (698.483 KB) | DOI: 10.18330/jwallacea.2015.vol4iss2pp185-192

Abstract

Sifat pemesinan merupakan salah satu parameter untuk menentukan kualitas kayu. Pengujian terhadap sifat pemesinan kayu penting dilakukan untuk mengetahui tingkat kemudahan pengerjaannya sebagai bahan baku industri mebel/furniture, kayu kontruksi maupun produk-produk kayu lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan sifat pemesinan kayu timo (Timonius sericeus (Desf) K. Schum.) dan kabesak (Acacia leucophloea (Roxb.) Willd.) yang berasal dari Desa Reknamo, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Pengujian dilakukan menurut metode ASTM D1666. Adapun sifat-sifat pemesinan yang diuji meliputi: pembentukan, penyerutan, pengampelasan, pengeboran dan pembubutan. Pengamatan terhadap mutu hasil pemesinan dilakukan secara visual dengan menghitung persentase cacat yang timbul pada permukaan contoh uji setelah proses pemesinan, kemudian diklasifikasikan kualitasnya ke dalam lima kelas mutu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu timo dan kabesak mempunyai sifat pemesinan yang sangat baik, termasuk kelas I. Adapun perbedaan yang signifikan antara kedua kayu tersebut adalah pada sifat pengampelasan, dimana rata-rata bebas cacat kayu timo 85% sedangkan kabesak 84,5%. Kedua kayu tersebut cocok digunakan sebagai bahan baku produk mebel dan moulding.

Page 1 of 1 | Total Record : 10