cover
Contact Name
Sanya Anda Lusiana
Contact Email
sanyalusiana@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
ejournal.gemkes@gmail.com
Editorial Address
Jl. Padang Bulan II Kelurahan Hedam Distrik Heram, Jayapura, Papua
Location
Kota jayapura,
P a p u a
INDONESIA
Gema Kesehatan
ISSN : 20885083     EISSN : 26548100     DOI : https://doi.org/10.47539/gk.v15i1
Core Subject : Health,
Gema kesehatan is published by Poltekkes Kemenkes Jayapura twice a year. p-ISSN 2088-5083/e-ISSN 2654-8100. Kemdikbudristek has accredited the Gema Kesehatan journal to rank four from 2019 to 2023 based on the decree:164/E/KPT/2021. We believe that open-source knowledge is able to produce something more treasured, giving an advantage to researchers, policy-makers and society in general. By collaborating committedly with authors, reviewers and editors we guarantee that the academic community will be given free access to explore into a wealth of highest quality research. All articles are published under a Creative Commons license: Attribution 4.0 International (CC-BY-SA) http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/, indicative of the fact that authors retain the copyrights of their work and hence, can freely use, reuse and share their articles. Prademic also allows authors to post their work online to any academic repository any time they wish. Gema Kesehatan (GK) implements the PKP Preservation Network (PKP PN), as can be seen in the records of The Keepers Registry and Garuda
Articles 136 Documents
PENYEBAB KOMPLIKASI PERSALINAN DI BANDAR LAMPUNG: DETERMINANTS OF CHILDBIRTH COMPLICATIONS IN BANDAR LAMPUNG Amrina Octaviana; Nelly Indrasari; Indah Trianingsih; Riyanto Riyanto
GEMA KESEHATAN Vol. 17 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/gk.v17i2.504

Abstract

Angka Kematian Ibu (AKI) di Provinsi Lampung mengalami peningkatan dari 96 kasus pada tahun 2022 menjadi 105 kasus pada tahun 2023, dengan Kota Bandar Lampung menempati urutan keempat tertinggi (8,6%). Kondisi ini menunjukkan pentingnya identifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan komplikasi persalinan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan komplikasi persalinan pada ibu bersalin di Kota Bandar Lampung tahun 2024. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 432 ibu nifas yang berdomisili di Kota Bandar Lampung. Data dianalisis menggunakan regresi logistik dengan tingkat signifikansi 5% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 49,1% responden mengalami komplikasi persalinan. Sebagian besar responden tinggal di wilayah perkotaan (96,5%), memperoleh pelayanan antenatal (97,7%), menerima informasi terkait komplikasi kehamilan dan persalinan (98,1%), melakukan kunjungan Antenatal Care (ANC) ≥6 kali (82,6%), memiliki persiapan persalinan yang baik (98,1%), ditolong oleh dokter (51,4%), dan melahirkan di tempat Praktik Mandiri Bidan (74,2%). Hasil analisis menunjukkan bahwa informasi mengenai komplikasi kehamilan dan persalinan (p = 0,025; OR = 12,148), persiapan persalinan (p = 0,032; OR = 3,836), dan penolong persalinan (p < 0,001; OR = 0,174) berhubungan signifikan dengan kejadian komplikasi persalinan. Analisis multivariat mengidentifikasi bahwa informasi mengenai komplikasi kehamilan dan persalinan merupakan faktor paling dominan (OR = 12,148). Kesimpulannya, pemberian informasi terkait komplikasi kehamilan dan persalinan berperan penting sebagai determinan utama komplikasi persalinan di Kota Bandar Lampung tahun 2024. Kata kunci: Angka Kematian Ibu, Ibu Bersalin, Komplikasi Persalinan     Maternal Mortality Ratio (MMR) in Lampung Province increased from 96 cases in 2022 to 105 cases in 2023, with Bandar Lampung City ranking fourth highest (8.6%). This trend highlights the importance of identifying factors associated with childbirth complications. This study aimed to analyze the determinants of childbirth complications among postpartum women in Bandar Lampung City in 2024. A quantitative cross-sectional design was employed involving 432 postpartum women residing in Bandar Lampung City. Data were analyzed using logistic regression with a significance level of 5% (α = 0.05). The results showed that 49.1% of respondents experienced childbirth complications. Most respondents lived in urban areas (96.5%), received antenatal care services (97.7%), obtained information regarding pregnancy and childbirth complications (98.1%), attended ≥6 Antenatal Care (ANC) visits (82.6%), had adequate birth preparedness (98.1%), were assisted by physicians during delivery (51.4%), and delivered at independent midwifery practices (74.2%). Logistic regression analysis revealed that information on pregnancy and childbirth complications (p = 0.025; OR = 12.148), birth preparedness (p = 0.032; OR = 3.836), and type of birth attendant (p < 0.001; OR = 0.174) were significantly associated with childbirth complications. Multivariate analysis identified information on pregnancy and childbirth complications as the most dominant determinant (OR = 12.148). In conclusion, access to adequate information regarding pregnancy and childbirth complications plays a critical role as the primary determinant of childbirth complications in Bandar Lampung City in 2024. Keywords : Childbirth Complications, Maternal Mortality Ratio (MMR), Women in Labor
PENGETAHUAN DAN SIKAP LANSIA TERHADAP PEMANFAATAN POSYANDU LANSIA DI DESA PABELAN SUKOHARJO : KNOWLEDGE AND ATTITUDES OF OLDER ADULTS TOWARD THE UTILIZATION OF ELDERLY INTEGRATED HEALTH POSTS IN PABELAN VILLAGE, SUKOHARJO Farell Safiah Amalia; Agus Sudaryanto
GEMA KESEHATAN Vol. 17 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia menimbulkan berbagai tantangan dalam bidang kesehatan, salah satunya adalah perlunya peningkatan pelayanan kesehatan yang berfokus pada kebutuhan lansia, termasuk melalui posyandu lansia sebagai upaya pemantauan dan peningkatan derajat kesehatan lansia. Namun, tingkat pemanfaatan Posyandu di Desa Pabelan masih rendah, yaitu hanya 64% dari target minimal 70%. Kondisi ini menunjukkan adanya faktor internal lansia yang perlu dianalisis, terutama pengetahuan dan sikap. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi korelasi antara tingkat pengetahuan dan sikap lansia terhadap pemanfaatan posyandu lansia melalui metode penelitian kuantitatif dengan model deskriptif korelatif serta strategi pengamatan cross sectional. Total populasi penelitian terdiri dari 1.043 peserta lansia di posyandu lansia Desa Pabelan dan diambil sampel sebanyak 290 responden dengan menggunakan system random sampling. Data diperoleh menggunakan kuesioner kemudian diolah melalui spearman rank yang memperlihatkan dominasi responden berada pada tingkat pengetahuan yang kurang 57,9% dan sikap lansia yang kurang 55,9% ketika terlibat dalam pemanfaatan posyandu lansia. Temuan kuantitatif memperlihatkan p value 0,000 dengan nilai korelasi 0,431 yang mengkonfirmasi keberadaan hubungan bermakna antara pengetahuan dan sikap lansia terhadap pemanfaatan posyandu lansia. Kata kunci: Lansia, Pengetahuan, Sikap   The increasing elderly population in Indonesia poses significant public health challenges, particularly the need to strengthen elderly-oriented health services. One such community-based service is the elderly integrated health post (Posyandu Lansia), which plays an important role in monitoring and improving the health status of older adults. However, the utilization rate of Posyandu Lansia in Pabelan Village remains suboptimal at 64%, below the minimum target of 70%. This condition indicates the presence of internal factors among the elderly that require further investigation, particularly knowledge and attitudes. This study aimed to examine the correlation between the level of knowledge and attitudes of the elderly and the utilization of Posyandu Lansia. A quantitative study with a descriptive correlational design and a cross-sectional approach was conducted. The study population consisted of 1,043 elderly participants registered at Posyandu Lansia in Pabelan Village, from which 290 respondents were selected using random sampling. Data were collected using a structured questionnaire and analyzed using the Spearman rank correlation test. The results showed that the majority of respondents had low levels of knowledge (57.9%) and negative attitudes (55.9%) toward the utilization of Posyandu Lansia. Statistical analysis revealed a p-value of < 0.001 and a correlation coefficient of 0.431, indicating a moderate and statistically significant relationship between elderly knowledge, attitudes, and the utilization of Posyandu Lansia. In conclusion, knowledge and attitudes are significantly associated with the utilization of elderly integrated health posts. These findings highlight the importance of improving health education and fostering positive attitudes to enhance the utilization of Posyandu Lansia services. Keywords: Attitude, Elderly, Knowledge
KOMBINASI MASSAGE EFFLEURAGE DAN MUSIK KLASIK TERHADAP NYERI PERSALINAN KALA 1: THE EFFECT OF EFFLEURAGE MASSAGE AND CLASSICAL MUSIC ON FIRST-STAGE LABOR PAIN Vita Triani Adi Puteri Vita; Lestari Puji Asuti; Asih Nur A.T
GEMA KESEHATAN Vol. 17 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/gk.v17i2.510

Abstract

Nyeri persalinan adalah kejadian sensasi fisik yang terkait dengan kontraksi uterus, dilatasi dan penipisan serviks, serta penurunan janin selama persalinan. Nyeri persalinan mulai muncul pada persalinan kala I fase laten saat pembukaan 0-3 cm, nyeri tersebut menyebabkan rasa sakit atau ketidaknyamanan, saat pembukaan 4-7 cm yang dirasakan nyeri agak menusuk dan saat pembukaan 7-10 cm yang dirasakan nyeri menjadi lebih hebat, menusuk dan kaku. Salah satu terapi nonfarmakologi yang dapat digunakan dalam mengurangi nyeri persalinan yaitu massage effleurage dan musik klasik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh Kombinasi Massage Effleurage Dan Musik Klasik Terhadap Nyeri Persalinan Kala 1 Di Puskesmas Kandeman Kabupaten Batang. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian Quasy experimental dengan one group pretest posttest design. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 30 orang yang diberikan perlakuan massage effleurage dan terapi musik klasik. Penelitian ini menggunakan uji wilcoxon. Dari uji Wilcoxon didapatkan hasil ada pengaruh kombinasi massage effleurage dan musik klasik terhadap nyeri persalinan kala I. Dalam penelitian ini rata-rata nilai pre test nyeri persalinan adalah 5 dan rata-rata nilai post test nyeri persalinan adalah 3 sedangkan nilai p value nya adalah 0,000. Sehingga hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh kombinasi massage effluerage dan musik klasik terhadap nyeri persalinan kala I fase aktif di Puskesmas Kandeman Kabupaten Batang. Kata kunci: Nyeri Persalinan, Massage Effleurage, Musik Llasik   Labor pain is a physiological response associated with uterine contractions, cervical dilation and effacement, and fetal descent during childbirth. Pain typically begins in the latent phase of the first stage of labor at cervical dilation of 0–3 cm and progressively intensifies as dilation increases. During the active phase (4–7 cm), pain is perceived as sharper, and it becomes more intense and rigid at dilation of 7–10 cm. One non-pharmacological approach to reduce labor pain is the combination of effleurage massage and classical music therapy. This study aimed to examine the effect of combining effleurage massage and classical music on labor pain during the first stage of labor at Kandeman Community Health Center, Batang Regency. A quasi-experimental study with a one-group pretest–posttest design was conducted. The sample consisted of 30 women in labor who received effleurage massage combined with classical music therapy. Labor pain intensity was measured before and after the intervention and analyzed using the Wilcoxon signed-rank test. The results showed a significant reduction in labor pain following the intervention. The mean pain score decreased from 5 in the pretest to 3 in the posttest, with a statistically significant difference (p < 0.001). In conclusion, the combination of effleurage massage and classical music therapy has a significant effect in reducing labor pain during the active phase of the first stage of labor at Kandeman Community Health Center, Batang Regency. Keywords: Classical Music, Effleurage Massage, Labor Pain
PERILAKU MENYIKAT GIGI DAN KEJADIAN KARIES PADA MURID SEKOLAH DASAR PADUSUNAN KOTA PARIAMAN : TOOTH-BRUSHING BEHAVIOR AND THE OCCURRENCE OF DENTAL CARIES AMONG PRIMARY SCHOOL STUDENTS IN PADUSUNAN, PARIAMAN CITY Susi Susi; Frisnaini Ayuputi Ratnaningtyas; Yarsi Wulandari; Arymbi Pujiastuty; Desy Purnama Sari
GEMA KESEHATAN Vol. 17 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/gk.v17i2.511

Abstract

Karies gigi merupakan masalah kesehatan utama pada anak-anak, terutama pada usia sekolah dasar. Prevalensinya cukup tinggi pada anak usia sekolah dasar di Sumatera Barat. Karies dapat menyebabkan rasa sakit, gangguan makan dan tidur. Karies dapat dicegah dengan perilaku yang baik dalam menjaga kebersihan gigi. Saat ini hanya 2,8% penduduk Indonesia menyikat gigi pada waktu dan teknik yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis teknik dan waktu menyikat gigi dengan kejadian karies pada murid Sekolah Dasar di Padusunan Pariaman. Metode penelitian kuantitatif dengan desain study cross-sectional, pada 104 responden yang dipilih secara acak. Data mengenai kebiasaan menyikat gigi dinilai melalui kuesioner sedangkan karies dinilai melalui pemeriksaan klinis. Data dianalisis menggunakan uji chi-square untuk menilai hubungan antara perilaku menyikat gigi dengan karies. Hasil penelitian melaporkan terdapat 10,6% siswa mengalami karies. Terdapat hubungan antara kejadian karies dengan waktu menyikat gigi (p-value= 0,00),  tekanan saat menyikat gigi (p-value= 0,03) serta penggunaan benang gigi (p-value= 0,021). Kesimpulan: perilaku menyikat gigi mempengaruhi kejadian karies pada anak sekolah. Saran: tindakan mencegah karies dapat dilakukan dengan memperbaiki waktu, frekuensi, teknik menyikat gigi pada anak-anak. Kata kunci: Anak, Durasi, Karies, Menyikat Gigi, Waktu   Dental caries is a significant public health problem among children, particularly primary school students, with a relatively high prevalence in West Sumatra. Dental caries can cause pain and disrupt eating and sleeping patterns; however, it is largely preventable through appropriate oral hygiene practices. Currently, only 2.8% of the Indonesian population brushes their teeth using the correct timing and technique. This study aimed to analyze the association between tooth-brushing technique and timing and the occurrence of dental caries among primary school students in Padusunan, Pariaman. A quantitative cross-sectional study was conducted involving 104 students selected through random sampling. Data on tooth-brushing behavior were collected using a structured questionnaire, while dental caries status was assessed through clinical examination. Data were analyzed using the chi-square test. The results showed that 10.6% of students had dental caries. Significant associations were found between dental caries and tooth-brushing timing (p < 0.001), brushing pressure (p = 0.03), and the use of interdental cleaning devices (p = 0.021). In conclusion, tooth-brushing behavior significantly influences the occurrence of dental caries among school-aged children. Caries prevention efforts should focus on improving tooth-brushing timing, frequency, and technique in this population. Keywords: Children, Dental Caries, Duration, Timing, Toothbrushing
KEGEMUKAN PADA REMAJA DI JAKARTA: PENGARUH EMOTIONAL EATING, FAST FOOD, AKTIVITAS FISIK, DAN DURASI TIDUR: OVERWEIGHT AMONG ADOLESCENTS IN JAKARTA: THE INFLUENCE OF EMOTIONAL EATING, FAST FOOD CONSUMPTION, PHYSICAL ACTIVITY, AND SLEEP DURATION Desiani Rizki Purwaningtyas; Anasya Zahratunnisya
GEMA KESEHATAN Vol. 17 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/gk.v17i2.514

Abstract

Kegemukan atau gizi berlebih (overweight dan obesitas) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang prevalensinya semakin meningkat termasuk pada kelompok remaja di perkotaan. Jakarta menempati urutan tertinggi kegemukan pada remaja 16-18 tahun (19,2%). Kegemukan terjadi ketika asupan energi yang dikonsumsi melebihi kebutuhan tubuh sehingga menyebabkan penimbunan lemak dan peningkatan berat badan di atas normal. Pola makan tinggi kalori seperti konsumsi fast food yang berlebihan, durasi tidur yang tidak adekuat, perilaku emotional eating, serta rendahnya aktivitas fisik diduga berkontribusi terhadap meningkatnya risiko kegemukan pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan konsumsi fast food, durasi tidur, emotional eating, dan aktivitas fisik dengan kejadian gizi berlebih pada remaja di Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional. Subjek berjumlah 97 remaja yang berdomisili di Jakarta. Jumlah tersebut sudah sesuai perhitungan estimasi minimal sampel dengan rumus uji hipotesis dua proporsi Lemeshow. Teknik penarikan subjek menggunakan purpossive sampling. Dutch Eating Behavior Questionnaire (DEBQ), Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ),  Sleeping Time Quesioner (STQ), Physical Activity Level (PAL) recall merupakan instrumen yang digunakan pada penelitiain ini. Analisis statistik Chi Square atau Fisher’s Exact Test digunakan untuk menganalisis hubungan variabel independen dengan kejadian kegemukan pada remaja. Berdasarkan hasil uji statistik, terdapat hubungan antara frekuensi konsumsi fast food (p=0,036), persentase kontribusi asupan energi (p=0,020), dan persentase kontribusi asupan lemak (p=0,040) dengan kegemukan. Sementara itu, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara durasi tidur (p=0,670), emotional eating (p=0,880), dan aktivitas fisik (p=0,997) dengan kegemukan pada remaja. Kesimpulannya, konsumsi fast food dan asupan energi serta lemak berperan dalam peningkatan risiko kegemukan pada remaja. Oleh karena itu, mengontrol frekuensi dan jumlah konsumsi fast food sangat penting bagi remaja untuk mencegah kegemukan. Kata Kunci: Emotional Eating, Fast Food, Durasi Tidur, Kegemukan, Remaja Overweight and obesity are major public health concerns with increasing prevalence, particularly among adolescents in urban areas. Jakarta has the highest prevalence of overweight among adolescents aged 16–18 years (19.2%). Overweight occurs when energy intake exceeds the body’s requirements, resulting in excessive fat accumulation and weight gain. High-calorie dietary patterns, including excessive fast-food consumption, inadequate sleep duration, emotional eating behaviors, and low levels of physical activity, are suspected contributors to the rising prevalence of overweight among adolescents. This study aimed to analyze the associations between fast-food consumption, sleep duration, emotional eating, and physical activity and the occurrence of overweight among adolescents in Jakarta. A quantitative cross-sectional design was employed. A total of 97 adolescents residing in Jakarta were included, meeting the minimum sample size requirement based on Lemeshow’s two-proportion hypothesis formula. Participants were selected using purposive sampling. Data were collected using the Dutch Eating Behavior Questionnaire (DEBQ), Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), Sleeping Time Questionnaire (STQ), and Physical Activity Level (PAL) recall. Data were analyzed using the Chi-square test or Fisher’s exact test. The results showed significant associations between the frequency of fast-food consumption (p = 0.036), percentage contribution of energy intake (p = 0.020), and percentage contribution of fat intake (p = 0.040) with overweight status. In contrast, sleep duration (p = 0.670), emotional eating (p = 0.880), and physical activity (p = 0.997) were not significantly associated with overweight. In conclusion, fast-food consumption as well as excessive energy and fat intake contribute to an increased risk of overweight among adolescents. Therefore, regulating both the frequency and portion size of fast-food consumption is essential for overweight prevention in this population. Keywords: Adolescents, Emotional Eating, Fast Food Consumption, Overweight, Sleep Duration
PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN EFIKASI DIRI TENTANG ANEMIA DAN TABLET TAMBAH DARAH SISWI SMA SETELAH EDUKASI GIZI DENGAN NUVIQ: IMPROVEMENT OF KNOWLEDGE AND SELF-EFFICACY REGARDING ANEMIA AND IRON SUPPLEMENTATION TABLETS AMONG FEMALE HIGH SCHOOL STUDENTS AFTER NUVIQ-BASED NUTRITION EDUCATION Desak Putu Susinta Pradnyarini; I Wayan Ambartana; I Putu Suiraoka
GEMA KESEHATAN Vol. 18 No. 1 (2026): Mei 2026
Publisher : POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/gk.v18i1.493

Abstract

Anemia masih menjadi masalah kesehatan umum pada siswi di Indonesia, sedangkan kepatuhan dalam mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) masih rendah akibat kurangnya pengetahuan dan efikasi diri. Strategi edukatif yang menarik, seperti Nutrition Video and Interactive Quiz (NUVIQ), yang menggabungkan video edukasi dan kuis interaktif, dapat meningkatkan pemahaman dan keyakinan remaja dalam mengonsumsi TTD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi gizi berbasis NUVIQ terhadap pengetahuan dan efikasi diri siswi SMA mengenai anemia dan TTD. Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan rancangan pre-test and post-test with control group. Sampel terdiri atas 170 siswi kelas X dan XI yang dibagi menjadi kelompok perlakuan dan kontrol, masing-masing 85 orang. Hasil uji independent t-test menunjukkan perbedaan signifikan antara kedua kelompok (p < 0,05). Dengan demikian, edukasi gizi menggunakan NUVIQ efektif meningkatkan pengetahuan dan efikasi diri siswi dalam pencegahan anemia. Kata kunci: Anemia, Edukasi gizi, Efikasi diri, Nutrition Video and Interactive Quiz (NUVIQ), Tablet Tambah Darah (TTD) Anemia remains a common public health problem among female adolescents in Indonesia, while adherence to Iron Supplementation Tablets (Tablet Tambah Darah, TTD) remains low due to limited knowledge and self-efficacy. Engaging educational strategies, such as the Nutrition Video and Interactive Quiz (NUVIQ), which combines educational videos and interactive quizzes, may improve adolescents’ understanding and confidence in consuming TTD. This study aimed to examine the effect of NUVIQ-based nutrition education on knowledge and self-efficacy regarding anemia and TTD among female high school students. This study employed a quasi-experimental design with a pre-test and post-test control group design. The sample comprised 170 female students in grades X and XI, divided equally into intervention and control groups, with 85 participants in each group. Independent t-test analysis showed significant differences between the two groups (p < 0.05). These findings indicate that NUVIQ-based nutrition education effectively improves students’ knowledge and self-efficacy in anemia prevention. Keywords: Anemia, Iron Supplementation Tablets, Nutrition Education, Nutrition Video and Interactove Quiz (NUVIQ), Self-Efficacy
PENERAPAN METODE DOQ-IT DALAM MENGUKUR KESIAPAN IMPLEMENTASI REKAM MEDIS ELEKTRONIK DI RUMAH SAKIT X KOTA SURABAYA: APPLICATION OF THE DOQ-IT METHOD IN MEASURING READINESS FOR ELECTRONIC MEDICAL RECORD IMPLEMENTATION AT HOSPITAL X IN SURABAYA Ari Susanti; Atika Mima Amalin; Nuke Amalia; Windi Anindya Putri
GEMA KESEHATAN Vol. 18 No. 1 (2026): Mei 2026
Publisher : POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/gk.v18i1.506

Abstract

Persentase rumah sakit di Indonesia yang sudah menggunakan rekam medis elektronik hanya 12.8%. Kesiapan organisasi menerapkan rekam medis elektronik (RME) menjadi faktor utama keberhasilan penggunaan RME. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat kesiapan implementasi RME di RS X Kota Surabaya menggunakan pendekatan DOQ-IT (Doctors’ Office Quality–Information Technology). Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan analisis statistik deskriptif kemudian ditentukan nilai rata-rata dengan nilai cut off point 2 termasuk kategori siap mengimplementasikan RME. Desain penelitian menggunakan penelitian cross sectional yang melibatkan 58 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner DOQ-IT dan dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 12 aspek penilaian DOQ-IT, aspek keuangan yang paling siap mengimplementasikan RME sedangkan aspek proses alur kerja menjadi aspek yang belum siap dalam mengimplementasikan RME. Manajemen rumah sakit perlu memprioritaskan penyesuaian standar prosedur operasional RME dan koordinasi antar unit agar selaras dengan RME yang diterapkan. Kata kunci: DOQ-IT, Implementasi, Rekam Medis Elektronik, Rumah Sakit Only 12.8% of hospitals in Indonesia have implemented electronic medical records (EMRs). Organizational readiness to implement EMRs is a major factor influencing the success of EMR implementation. This study aimed to assess the level of readiness for EMR implementation at Hospital X in Surabaya using the DOQ-IT (Doctors' Office Quality-Information Technology) approach. This study is employed a quantitative cross-sectional design involving 58 respondents. Data were collected using descriptive statistical analysis. A mean score with a cut-off point of 2 was used to determine the readiness category for EMR implementation. The results show that among the 12 DOQ-IT assessment aspects, the financial aspect was the most prepared for EMR implementation, while the workflow process aspect was identified as not yet ready for implementation. Hospital management should prioritize adjustments to EMR standard operating procedures and strengthen coordination among units to ensure alignment with the implemented EMR system. Keywords : DOQ-IT, Electronic Medical Record, Hospital, Implementation  
ASUPAN ZAT GIZI DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN STATUS GIZI PADA CALON PENGANTIN WANITA DI KABUPATEN MAROS: NUTRIENT INTAKE, PHYSICAL ACTIVITY, AND NUTRITIONAL STATUS AMONG PREMARITAL WOMEN IN MAROS REGENCY nurulannisa pathanah; St. Masithah; Siti Uswatun Hasanah; Syafruddin Syafruddin
GEMA KESEHATAN Vol. 18 No. 1 (2026): Mei 2026
Publisher : POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/gk.v18i1.512

Abstract

Kesehatan wanita pada masa prakonsepsi dapat dinilai melalui status gizi sebagai indikator krusial karena berpengaruh terhadap kondisi kehamilan dan kesehatan bayi yang akan dilahirkan. Pelaksanaan penelitian ini mempunyai tujuan guna mengkaji korelasi antara asupan zat gizi (protein, energi, karbohidrat, lemak, maupun zat besi) serta derajat aktivitas fisik dengan status gizi pada wanita prakonsepsi di wilayah kerja Puskesmas Bontoa, Puskesmas Lau, dan Puskesmas Maros Baru, Kabupaten Maros. Desain cross-sectional serta teknik total sampling diaplikasikan pada penelitian ini, dengan total sampel berjumlah 32 responden. Metode food recall 2×24 jam dilaksanakan selama dua hari berturut-turut guna memperoleh data asupan nutrisi, sementara kuesioner Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) diterapkan dalam menghimpun data aktivitas fisik. Penelitian ini menerapkan uji korelasi Spearman dalam analisis data. Temuan penelitian memperlihatkan jika korelasi yang signifikan tidak ditemukan antara asupan protein (p = 0,505), energi (p = 0,673), karbohidrat (p = 0,222), lemak (p = 0,523), zat besi (p = 1,000), serta aktivitas fisik (p = 0,332) dengan status gizi. Simpulan dari penelitian ini yaitu status gizi pada wanita prakonsepsi tidak dipengaruhi secara langsung oleh asupan nutrisi dan tingkat aktivitas fisik. Hal ini diduga berkaitan dengan faktor lain, seperti pola makan yang tidak teratur akibat persiapan menjelang pernikahan. Kata kunci: Aktivitas Fisik, Asupan Zat Gizi, Calon Pengantin Wanita, Status Gizi   Women’s health during the preconception period can be assessed through nutritional status, which serves as a crucial indicator because it influences pregnancy outcomes and infant health after birth. The study aimed to determine the correlation between nutrient intake (protein, energy, carbohydrates, fat, and iron) and physical activity levels with the nutritional status of preconception women in the  working areas of the Bontoa, Lau, and Maros Baru Community Health Centers in Maros Regency. This study employed a cross-sectional design with a total sampling technique involving 32 respondents. Nutrient intake data were collected using a 2x24-hour food recall conducted over two consecutive days, while the Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ). Data were analyzed using Spearman’s Correlation test. The results showed no significant correlation between protein intake (p=0.505), energy intake (p=0.673), carbohydrate intake (p=0.222), fat intake  (p=0.523), iron intake (p=1.000), physical activity (p=0.332) and nutritional status. In conclusion, the nutritional status of preconception women was not directly influenced by nutrient intake or physical activity levels. This finding may be associated with other factors, such as irregular eating patterns related to pre-marital preparations. Keywords: Nutrient Intake, Nutritional Status, Physical Activity, Preconception Women
KUALITAS TIDUR, TINGKAT STRES, DAN PERILAKU MAKAN ANTARA REMAJA OVERWEIGHT DAN OBESITAS : SLEEP QUALITY, STRESS LEVELS, AND EATING BEHAVIOR AMONG OVERWEIGHT AND OBESE ADOLESCENTS trisri jumrah; St. Masithah; Fitri Wahyuni; Bdn. Selvia
GEMA KESEHATAN Vol. 18 No. 1 (2026): Mei 2026
Publisher : POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/gk.v18i1.513

Abstract

Kelebihan berat badan pada remaja merupakan masalah kesehatan masyarakat yang terus meningkat dan berisiko menimbulkan obesitas serta penyakit tidak menular pada usia dewasa. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kualitas tidur, tingkat stres, dan perilaku makan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kualitas tidur, tingkat stres, dan perilaku makan antara remaja overweight dan obesitas. Jenis penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah sampel sebanyak 83 remaja yang mengalami kelebihan berat badan (overweight dan obesitas) yang dipilih melalui teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk menilai kualitas tidur, Self Reporting Questionnaire (SRQ) untuk mengukur tingkat stres, dan Adolescent Food Habits Checklist (AFHC) untuk menilai perilaku makan. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok overweight dan obesitas dalam hal kualitas tidur (p=0,189), tingkat stres (p=0,07), dan perilaku makan (p=0,395). Dapat disimpulkan bahwa kualitas tidur, tingkat stres, dan perilaku makan bukan merupakan faktor yang membedakan secara signifikan antara kondisi overweight dan obesitas pada remaja. Kata kunci: Kelebihan Berat Badan, Kualitas Tidur, Perilaku Makan, Remaja, Stres Overweight among adolescents is an increasing public health problem that increase the risk of obesity and non-communicable diseases in adulthood. This condition may be influenced by several factors, including sleep quality, stress level, and eating behavior. This study aimed to analyze the differences in sleep quality, stress levels, and eating behavior between overweight and obese adolescents. This study employed a cross-sectional design involving 83 adolescents with overweight or obesity selected using a total sampling technique. Data were collected using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) to assess sleep quality, the Self Reporting Questionnaire (SRQ) to measure stress levels, and the Adolescent Food Habits Checklist (AFHC) to evaluate eating behavior. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with the Chi-Square test at a 95% confidence level. The results showed no significant differences between the overweight and obese groups in terms of sleep quality (p=0.189), stress levels (p=0.07), and eating behavior (p=0.395). It can be concluded that sleep quality, stress levels, and eating behavior were not factors that significantly differentiated overweight and obesity among adolescents. Keywords: Adolescent, Eating Behaviour, Overweight, Sleep Quality, Stress  
PENGETAHUAN REMAJA DAN PERILAKU PENCEGAHAN DISPEPSIA: ADOLESCENTS’ KNOWLEDGE AND DYSPEPSIA PREVENTIVE BEHAVIOR Winnerin Amanda Christie; Evi Rokhayati; Husnia Auliyatul Umma; Dewinda Candrarukmi
GEMA KESEHATAN Vol. 18 No. 1 (2026): Mei 2026
Publisher : POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/gk.v18i1.516

Abstract

Dispepsia merupakan kondisi gangguan pencernaan yang umum terjadi pada remaja dan berkaitan dengan pola hidup tidak sehat. Pengetahuan tentang kesehatan menjadi fokus pemerintah dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Remaja sebagai kelompok transisi rentan mengabaikan perilaku hidup sehat, termasuk pencegahan dispepsia. Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi pengetahuan dengan perilaku pencegahan dispepsia. Penelitian kuantitatif dengan desain analitik observasional dan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Surakarta (n = 238) dengan total population sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Analisis data melalui dua tahap, yaitu analisis univariat dan bivariat. Analisis bivariat menggunakan Uji Mann-Whitney dan Uji Spearman. Mayoritas responden memiliki pengetahuan dispepsia yang baik (58.8%), sedangkan perilaku pencegahan dispepsia didominasi kategori cukup (50.8%). Hasil analisis korelasi pengetahuan dengan perilaku pencegahan dispepsia tidak signifikan (r = 0.124 ; p = 0.056). Tidak terdapat hubungan pendapatan orang tua dan perilaku pencegahan dispepsia (r = 0.048 ; p = 0.466) serta tidak terdapat perbedaan bermakna berdasarkan jenis kelamin (p = 0.402). Sebaliknya, tingkat pendidikan terakhir orang tua menunjukkan hubungan signifikan dengan perilaku pencegahan dispepsia (r = 0.136 ; p = 0.036). Hasil analisis menunjukkan pengetahuan tidak berhubungan dengan perilaku pencegahan pada remaja. Pencegahan dispepsia yang efektif pada remaja bukan sekedar pengetahuan, diperlukan intervensi komprehensif yang mencakup faktor lingkungan dan keluarga. Kata kunci: Dispepsia, Pengetahuan, Perilaku Pencegahan, Remaja Dyspepsia is a common digestive disorder among adolescents and is often associated with unhealthy lifestyles. Health knowledge has become one of the government’s main focuses in improving poblic health. Adolescents, as a transitional age group, are vulnerable to neglecting healthy behaviors, including dyspepsia prevention practices. This study aimed to analyze the correlation between knowledge and dyspepsia preventive behavior among adolescents. This study employed a quantitative analytical observational design with a  cross-sectional approach. The study sample consisted of all eighth-grade students of SMP Negeri 8 Surakarta (n = 238), selected using a total population sampling technique. Data were collected using questionnaires and analyzed through univariate and bivariate analyses. The bivariate analysis employed the Mann-Whitney and Spearman tests. Most respondents had good knowledge of dyspepsia (58.8%), while dyspepsia preventive behavior was predominantly categorized as moderate (50.8%). The correlation analysis showed no significant association between knowledge and dyspepsia prevention behavior (r = 0.124; p = 0.056). In addition, no significant association was found between parental income and dyspepsia preventive behavior (r = 0.048 ; p = 0.466), and no significant differences were observed based on gender (p = 0.402). In contrast, parental educational level showed a significant association with dyspepsia preventive behavior (r = 0.136; p = 0.036). In conclusion, knowledge was not significantly associated with preventive behavior among adolescents. Effective dyspepsia prevention among adolescents requires more than knowledge alone, and should involve comprehensive interventions addressing both environmental and family factors. Keywords: Adolescents, Dyspepsia, Knowledge, Preventive Behavior