cover
Contact Name
Iqmal Tahir
Contact Email
iqmal@ugm.ac.id
Phone
+628999411449
Journal Mail Official
jpe-ces@ugm.ac.id
Editorial Address
Editor Jurnal Manusia dan Lingkungan Pusat Studi Lingkungan Hidup - Universitas Gadjah Mada (PSLH - UGM) Komplek UGM, Jalan Kuningan, Jalan Kolombo, Catur Tunggal, Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Manusia dan Lingkungan
ISSN : 08545510     EISSN : 24605727     DOI : https://doi.org/10.22146/jml.30101
Jurnal Manusia dan Lingkungan is published by the Center for Environment Studies, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. The journal is focused to the relationship between people and its environment that are oriented for environmental problems solving. Jurnal Manusia dan Lingkungan receives a manuscript with interdisciplinary and multidisciplinary approach Abiotic : physical, chemical, technical, geo-environmental science and modelling science Biotic : environmental biology, ecology, agro environment Culture : environmental-socio,-economics,-culture, and environmental health.
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Vol 21, No 1 (2014): Maret" : 17 Documents clear
MULTIOBJECTIVES ANALYSIS OF WASTEWATER MANAGEMENT SYSTEM IN TAPIOCA STARCH INDUSTRY: CASE STUDY - CIAMIS DISTRICT, WEST JAVA (Analisis Multiobyektif sistem Pengelolaan Air Limbah Industri Tapioka: Studi Kasus Kabupaten Ciamis, Jawa Barat) Mochammad Chaerul; Astried Sunaryani
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 1 (2014): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18504

Abstract

ABSTRACTCiamis district is one of the industrial centers of tapioca starch in West Java. Industry has been utilizing solid waste into by-products, fertilizers and animal feeds, but the wastewater which consist a lot of organic substances still discharged directly into the water that potentially cause water pollution. This study aims to determine the wastewater treatment system that can be applied in tapioca starch industry based on five scenarios proposed by using fuzzy goal programming approach. The first objective is the achievement of stream standard (DO-dissolved oxygen and BOD-biochemical oxygen demand) and wastewater quality standards. The second objective is to minimize the cost of wastewater treatment. Wastewater treatment system that proposed, consists of a primary, secondary and collective treatment that shared by some of the industries in one segment with 20% efficiency of BOD removal for primary, 60% for secondary and 85% for collective treatment. The results show that scenario five, which consists of primary, secondary and collective wastewater treatment is chosen for all industries by considering economic and environmental aspects. There was some improvement of water quality for the Cijolang middle-stream segment with DO 7.35 mg/L and BOD 3.68 mg/L; Citanduy middle-stream segment with DO 6.24 mg/L and BOD 2.37 mg/L, and also for Citanduy down-stream segment  with DO 6.11 mg/L and BOD 5.52 mg/L. The fulfillment of BOD pollutant load limits obtained with achieving BOD concentration of 6.32 to 27.89 mg/L of each industry with total cost incurred is IDR 62,689 per day. Fuzzy goal programming approach provides a solution in achievement and as useful information for decision-makers to improve the quality of the environment, especially in the district of Ciamis.ABSTRAKKabupaten Ciamis merupakan salah satu sentra industri tapioka di Jawa Barat. Industri tapioka menghasilkan limbah cair dan limbah padat. Pelaku industri sudah memanfaatkan limbah padat menjadi produk samping, pupuk dan makanan ternak, namun limbah cair belum diolah dengan baik dan masih dibuang langsung ke badan air yang berpotensi menimbulkan pencemaran air sungai. Penelitian ini mengkaji sistem pengolahan air limbah yang dapat diterapkan di industri tapioka berdasarkan atas lima skenario yang diusulkan melalui pendekatan fuzzy goal programming dengan sasaran untuk memenuhi baku mutu DO (dissolved oxygen) dan BOD (biochemical oxygen demand) air sungai, baku mutu limbah yang telah ditetapkan dan minimalisasi biaya pengolahan. Tiga sistem pengolahan air limbah terdiri atas pengolahan air limbah tingkat I, tingkat II dan pengolahan kolektif yang dipakai bersama dalam satu segmen sungai dengan efisiensi penyisihan BOD 20% untuk pengolahan tingkat I, 60% untuk tingkat II dan 85% untuk pengolahan kolektif. Dari hasil penelitian, skenario kelima yang merupakan rangkaian dari pengolahan primer, sekunder dan kolektif memberikan hasil yang paling baik dengan perbaikan kualitas perairan untuk segmen Sungai Cijolang tengah dengan DO 7,35 mg/L dan BOD 3,68 mg/L; untuk segmen Sungai Citanduy tengah dengan DO 6,24 mg/L dan BOD 2,37 mg/L; dan untuk segmen Sungai Citanduy Hilir dengan DO 6,11 mg/L dan BOD 5,52 mg/L. Pemenuhan batas beban pencemar BOD diperoleh dengan pencapaian konsentrasi BOD sebesar 6,32 – 27,89 mg/L dari setiap industri. Dan biaya minimal yang dikeluarkan adalah sebesar Rp 62.689 per hari. Pendekatan fuzzy goal programming dapat memberikan suatu solusi dalam pencapaian sasaran dan merupakan sebuah informasi yang bermanfaat bagi pengambil keputusan untuk meningkatkan kualitas lingkungan khususnya di Kabupaten Ciamis.
ANALISIS KETERSEDIAAN AIR SUNGAI BAWAH TANAH DAN PEMANFAATAN BERKELANJUTAN DI KAWASAN KARST MAROS SULAWESI SELATAN (Analysis of Underground River Water Availability and Its Sustainable uses at Karst Maros Area in South Sulawesi) Muhammad Arsyad; Hidayat Pawitan; Paston Sidauruk; Eka Intan Kumala Putri
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 1 (2014): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18505

Abstract

ABSTRAKKawasan Karst Maros mempunyai tata air yang kondusif, baik yang berada di bawah gua maupun yang muncul sebagai sungai permukaan, seperti DAS Bantimurung. DAS Bantimurung bahagian hulunya dipergunakan sebagai tempat pariwisata, air irigasi bagi pertanian dan air baku PDAM Kabupaten Maros. Untuk itu, perlu dilakukan valuasi ekonomi terhadap sumberdaya air tersebut, berupa nilai total ekonomi. Besarnya debit air yang terdapat di Kawasan Karst Maros selama 20 tahun (1990-2010) cenderung berada pada angka 7,00 m3/s, dengan debit air terendah terjadi bulan September, sekitar 1,00 m3/s dan tertinggi pada bulan Januari mencapai 20 m3/s. Perhitungan nilai guna langsung  (direct use value) sebesar Rp.385.479.052.214, nilai guna tidak langsung (indirect use value) sebesar Rp.13.251.588.000,  dan nilai bukan guna (non  use value) sebesar Rp.20.016.148.000, sehingga nilai ekonomi total (Total Economic Value, TEV) dari setiap tahunnya sebesar Rp.418.746.788.214. Untuk keberlanjutan pemanfaatan air sungai bawah tanah Kawasan Karst Maros diperoleh kebutuhan air seluruh irigasi pertanian di Kabupaten Maros adalah 5,32 m3/s dan PDAM sebesar 2.037.943 m3 setiap tahun.  Sedangkan air yang tersedia di Kawasan Karst Maros adalah 220,8 juta m3 setiap tahun, sehingga masih ada surplus air sebesar 15,10 juta m3 setiap tahun. ABSTRACTThe karst region of Maros has water system that is conducive both under the cave and emerge as the river surface, such as watershed Bantimurung. The upstream of DAS Bantimurung is used as a place of tourism , agriculture and irrigation for raw water in Maros PDAM. To that end, economic valuation needed to be done to water resource, in the form of total economic value. The amount of discharge water contained in Maros Karst area for 20 years (1990-2010) tended stands at 7,00 m3/s, with the lowest water discharge occurred in September, approximately 1,00 m3/s and the highest in January at 20 m3/s. Direct use value amounted to Rp 385,479,052,214 then indirect use value was Rp 13,251,588,000 and the non-use value was Rp20,016,148,000, so the total economic value, TEV, of each year was Rp418,746,788,214. For sustainable use of river water underground of Karst Maros that acquired the entire agricultural irrigation water needed in Maros regency was 5,32 m3/s and the PDAM amounted 2,037,943 m3 then available water in Karst Maros was 220.8 milyar m3 per year, so there was still the water surplus of 15,10 milyar m3 for each year
MODEL SPASIAL DINAMIK GENANGAN AKIBAT KENAIKAN MUKA AIR LAUT DI PESISIR SEMARANG (Spatial Dynamic Model of Inundated area due to Sea Level rise at Semarang coastal Area) Ifan R Suhelmi; Hari Prihatno
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 1 (2014): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18506

Abstract

ABSTRAKKota Semarang merupakan kota pesisir di Provinsi Jawa Tengah yang memiliki topografi datar pada wilayah laut yang biasa disebut dengan kota bawah dan bergunung pada bagian atasnya yang biasa disebut dengan kota atas. Kota bawah memiliki kerentanan yang tinggi terhadap genangan akibat kenaikan muka air laut, hal ini disebabkan olehkondisi topografi yang datar. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan gambaran secara dinamik distribusi genangan akibat berbagai skenario kenaikan muka air laut. Model spasial dinamik menggunakan Flash yang berfungsi memberikan gambaran secara interaktif dan real time pada berbagai skenario kenaikan muka air laut. Skenario kenaikan muka air laut menggunakan skenario IPCC hingga tahun 2100. Hasil studi menunjukkan bahwa terjadi kenaikan jumlah genangan dari 599,4 ha pada tahun 2020 menjadi 4.235,4 ha pada tahun 2100. ABSTRACTSemarang is one of coastal city located at Central Java Province. It has flatten topography at coastal area called “downside town” and hilly topography at upper area called “topside town”.  Ownside town was highly vulnerable to sea level rise caused by it’s topographic condition and the land subsidence phenomena. This research conducted to mapeed the inundated area due to sea level rise at many scenarios of sea level rise. The dynamic spatialmodel of sea level rise represented using flash techmology to showed distributed area inundated by sea level rise. The scenario of sea level rise by IPCC prediction was used at this study. The stuty showed that the inundated area increased from 599.4 ha at year 2020 to 4,235.4 ha at 2100.
KAJIAN TOTAL DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN HARIAN MENGGUNAKAN PEMODELAN QUAL2K UNTUK PENCEMAR BOD, TSS, AMMONIA, FOSFAT DAN NITRAT DI SUNGAI KAMPUNG BUGIS (Study of Total Maximum Daily Load Using QUAL2K Modelling for BOD, TSS, Ammonia, Phosphate) Eko Sugiharto; Christian Widya Purnama Setyabudi; Endang Astuti
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 1 (2014): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18507

Abstract

ABSTRAKTelah dilakukan studi untuk mengetahui kualitas air serta memprakirakan beban pencemar di Sungai Kampung Bugis Kota Tarakan Kalimantan Utara. Metode pendekatan yang digunakan adalah dengan simulasi pemodelan QUAL2K serta metode perhitungan Total Beban Tampung Maksimum Harian. Berdasar hasil studi, dinyatakan bahwa kandungan pencemar khususnya BOD dan NH3 di Sungai Kampung Bugis melebihi Baku Mutu Lingkungan (BML). Hal serupa didapat dari hasil pemodelan QUAL2K, dinyatakan bahwa Sungai Kampung Bugis tidak dapat menampung beban pencemar TSS, BOD dan NH3. Namun demikian, beban pencemar lainnya yaitu NO3 dan PO4 masih berada pada batas normal, di bawah nilai BML. Berdasarkan hasil simulasi menggunakan QUAL2K, dapat diprediksi bahwa pola persebaran pencemar untuk masing-masing pencemar di Sungai Kampung Bugis pada setiap ruas dari hulu menuju hilir tidak merata, kecuali pada PO4 dan NO3. Hasil perhitungan total beban maksimum harian pencemar adalah BOD 90,32 kg/hari, TSS 73,77 kg/hari, NH35,11 kg/hari, PO40,03 kg/hari dan NO3sebesar 5,75 kg/hari. ABSTRACTDetermination and prediction studies on water quality as well as on the number of pollutant load in Kampung Bugis River, Tarakan, South Borneo were studied. The approaching methods used were modelling simulation with QUAL2K and calculating method with Total Maximum Daily Load (TMDL). Based on the result of study, the number of pollutants in Kampung Bugis River were exceeding the environmental quality standards especially for BOD and NH3. However, for other pollutants, PO4 and NO3 were on normal level, below than the environmental quality standard. Simulation results by QUAL2K stated that the prediction of dispersion pattern for each pollutant from the headwaters to downstream were uneven, except for PO4 and NO3. In addition, the load capacity results for BOD, TSS, NH3, PO4 and NO3 were  90.32; 73.77; 5.11; 0.03 and 5.75 kg/day, respectively.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI KAIN KASA TERLAPISI TiO¬2/Ag AMORF, Ag, DAN KITOSAN/Ag TERHADAP BAKTERI GRAM NEGATIF DAN POSITIF (The Antibacterial Activity of Gauze Coated by Tio¬2/Ag Amorphous, Ag, and Chitosan/Ag Against Gram Negative and Positive Bacteria) Candra Purnawan; Tri Martini; Sotya Rawiningtyas; Zidny Z.S.R.A. Zidny
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 1 (2014): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18508

Abstract

ABSTRAKPelapisan kain kasa dengan komposit TiO2/Ag amorf, kitosan/Ag, dan Ag telah dilakukan menggunakan metode dip coating dengan variasi urutan pelapisan. Komposit TiO2/Ag amorf disintesis dengan metode sol gel dalam pelarut etanol. Hasil sintesis dikarakterisasi menggunakan FTIR dan XRD. Kain kasa hasil pelapisan dikarakterisasi menggunakan XRD dan dilakukan uji antibakteri menggunakan metode optical density pada λ 600nm terhadap aktivitas bakteri Eschericia coli dan Stapylococcus aureus. Kain kasa dengan urutan pelapisan kitosan/Ag, komposit TiO2/Ag amorf, dan Ag memiliki daya antibakteri optimum. Daya antibakteri kain kasa terhadap E. coli sebesar 98, 66% setelah jam ke-24. Daya antibakteri tersebut lebih besar dibandingkan dengan daya antibakteri terhadap S. aureus yaitu 71,47% setelah jam ke-24. ABSTRACTTiO2/Ag amorphous composite has been synthesized by sol gel method in ethanol. This composite  was characterized using FTIR and XRD. TiO2/Ag amorphous composite, chitosan/ Ag, and Ag coated in gauze using dip coating method with plating sequence variation. Coated gauze was characterized using XRD and antibacterial test was conducted by optical density at λ 600 nm against Escherichia coli and Staphylococcus aureus. The results showed that coated gauze with the sequence was chitosan/Ag, TiO2/Ag amorphous composite, and Ag was optimum antibacterial power. The inhibition against Escherichia coli was greater than Staphylococcus aureus. The inhibition against Escherichia coli was 98.66% for 24 hours and against Staphylococcus aureus was 71.47% for 24 hours.
BIOAKUMULASI MERKURI DAN STRUKTUR HEPATOPANKREAS PADA TEREBRALIA SULCATA DAN NERITA ARGUS (MOLUSKA: GASTROPODA) DI KAWASAN BEKAS PENGGELONDONGAN EMAS, MUARA SUNGAI LAMPON, BANYUWANGI, JAWA TIMUR(Bioaccumulation of mercury and the hepatopancreas structure) Susintowati Susintowati; Suwarno Hadisusanto
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 1 (2014): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18509

Abstract

ABSTRAKAmalgamasi pada proses penggelondongan emas tradisional di muara sungai Lampon menggunakan Merkuri (Hg). Limbah dibuang langsung ke muara dan lingkungan sekitar. Walaupun aktivitas penggelondongan emas telah dihentikan, efek cemar Merkuri terhadap lingkungan termasuk biota terus berlangsung. Bioakumulasi Merkuri dapat ditelusuri menggunakan bioindikator anggota Gastropoda. Penelusuran bioakumulasi Merkuri menggunakan spesimen Terebralia sulcata yang hidup di hutan mangrove sekitar lokasi penggelondongan, dan Nerita argus yang hidup di muara pantai. Analisis Merkuri berdasar metode SNI 06-6992.2-2004 menggunakan perangkat Mercury Analyzer. Hepatopankreas sebagai organ detoksifikasi Merkuri digunakan sebagai parameter patologis. Hepatopankreas masing-masing spesimen dipreparasi dengan metode parafin, diwarnai dengan Hematoksilin Ehrlich’s-Eosin untuk pengamatan struktur mikroskopis. Bioakumulasi Merkuri dalam tubuh T. sulcata hingga 3,10 ppm, sedangkan dalam tubuh N. argus hingga 3,03 ppm. Tampak banyak vesikula residu diduga berisi inklusi pemadatan elektron dan metalotionin sebagai dampak detoksifikasi ion logam Merkuri dalam hepatopankreas. Tubulus hepatopankreas N. argus mengalami disintegrasi dan atropi cukup parah. Walaupun tambang emas di Lampon berskala kecil dan telah ditutup, efek patologis pencemaran Merkuri terhadap biota terutama Gastropoda sangat signifikan. ABSTRACTTraditional gold mining at Lampon Banyuwangi district was used mercury amalgamation. Tailings are discharged to waters, that caused mercury pollution. Mercury accumulation can be trace in sediments and benthic organisms such as Gastropods. Although the gold mining has been ceased, the impact of mercury pollution can be traced. The purposes of this study are to know the mercury accumulation in sediments, to know mercury bioaccumulation in the soft body of Gastropod bioindicators, to know mercury pathological effect in hepatopancreas. Terebralia sulcata and Nerita argus are Gastropods that as mercury bioindicators in this research. Study site administratively located at Banyuwangi district, East Java. Mercury analysis using SNI 06.6992.2-2004 methods that reads by Mercury Analyzer at LPPT UGM Yogyakarta. Hepatopancreas structure of Terebralia sulcata and Nerita argus were preparating with paraffin method and Hematoxilin Ehrlich’s-Eosin staining method. Accumulation of mercury in the tailings about 137,54 ppm, in site I sediment 0,45 ppm, in site II sediment 65,52 ppm, in site III sediment 1,17 ppm and in the tailing piles remaining after the mining ceased about 634,19 ppm. Bioaccumulation in Terebralia sulcata 3,10 ppm, Nerita argus about 3,03 ppm. The values of mercury accumulation are very high at all. Residual vesicles are found in hepatopancreas structure of Terebralia sulcata. The residual vesicles are the sign of mercury detoxification proccess. Vesicles are thought to contain inclutions of residual electrons and methallothionine compaction as a result of mercury ions detoxification by hepatopancreas cells. The hepatopancreatic tubulus of Nerita argus have disintegration and severe atrophy. The gold mining at Lampon is the small gold mining and has been ceased but the pathological effects of mercury pollution on aquatic organisms, especially Gastropods is very significant.   
EFEK PERLAKUAN LOGAM BERAT KADMIUM TERHADAP APOPTOSIS MELALUI AKTIVASI CASPASE-3 BULU BABI Deadema setosum: APLIKASI BIOMONITORING PENCEMARAN DI PERAIRAN LAUT (Effect of Cadmium Heavy Metal Treatment Toward Apoptosis Through Caspase-3 Activation of Sea) Dominggus Rumahlatu; Aloysius Duran Corebima; Mohamad Amin; Fatchur Rohman
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 1 (2014): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18510

Abstract

ABSTRAKKadmium yang terakumulasi pada hewan dapat menyebabkan karsinogenik, mutagenik, dan teratogenik. Pada penelitian ini, dilakukan secara eksperimen nonfaktorial dalam RAL 6 level dengan 7 ulangan selama 4 minggu, untuk mengkaji efek perlakuan logam berat Cd terhadap apoptosis melalui aktivasi protein caspase-3 bulu babi Deadema setosum. Penelitian dilakukan di laboratorium Balai LIPI Ambon dalam 6 bak aquarium berukuran 100 x 60 x 70 cm3.Tiap bak perlakuan diisi 200 L air laut yang diganti satu kali setiap minggu. Konsentrasi perlakuan adalah 0, 1, 3, 6, 9, dan 12 µg/L Cd terlarut. Pada tiap bak diterapkan satu level perlakuan konsentrasi Cd, dan tiap bak itu dihuni oleh 7 individu D. setosum sebagai ulangan. Usia hewan uji sekitar 8 bulan berbobot 90 g dengan lingkar tubuh 15 cm. Hewan uji diberi pakan lamun. Pengukuran konsentrasi protein caspase-3 dilakukan pada organ hepar dengan metode Caspase Colorimetric Assay Kit, sedangkan pemeriksaan apoptosis dilakukan dengan teknik pengecatan Hematoxilen-Eosin (HE). Data penelitian terkait konsentrasi protein caspase-3 dianalisis dengan One Way Anova dan uji lanjut dihitung dengan Duncan 0,05. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa perlakuan Cd sangat signifikan meningkatkan kadar protein caspase-3; semakin tinggi kadar Cd, kadar protein caspase-3 juga makin tinggi. Konsentrasi protein caspase-3 pada konsentrasi perlakuan 12 µg/L Cd adalah yang paling tinggi dibanding kontrol. Gambaran histologi hepar D. setosum yang mengalami apoptosis atas dasar pengecatan HE sangat sesuai dengan tiap konsentrasi protein caspase-3 yang terekam. Hasil ini menunjukkan bahwa protein caspase-3 memiliki potensi sebagai satu alternatif biomonitoring pencemaran Cd pada tingkat seluler D. setosum di perairan laut.  ABSTRACTCadmium which accumulated in animals could cause carcinogenic, mutagenic and teratogenic. In this research, non factorial experiments conducted in Complete Random Design (CRD) 6 level with 7 replication for 4 weeks, in order to examine effect of Cd heavy metal treatment toward apoptosis through caspase-3 protein activation in sea urchin Deadema setosum.  Research conducted in LIPI Ambon laboratory using 6 aquarium tank size 100 x 60 x 70 cm3. Each tank was filled with 200 litres of sea waters that being replace once a week. Treatment concentrations in tanks  are containing 0.0, 1.0, 3.0, 6.0, 9.0, and 12.0 µg/L dissolved Cd. In each tank there is one level Cd concentration treatment level, and each tank was filled with 7 Deadema setosum individual as replication. The age of animals is approximately 8 month with the weight 90 gram and body circumference 15 cm. These animals were fed with seagrass. Measurement of Caspase-3 protein concentration was conducted in heparin organ using the method Caspase Colorimetric Assay kit, while apoptosis examination was conducted by painting technique using Hematoxilen-Eosin (HE) in Physiology and Histology Laboratory of Medical Faculty Brawijaya University. Research data concerning caspase-3 protein concentration was analyzed by One Way Anova and further test was calculated by  Duncan 0.05. Result of this research showed that Cd treatment is significantly increasing caspase-3 protein content; higher Cd content, caspase-3 protein would essentially higher. Caspase-3 protein concentration in treatment concentration of 12 µg/L is the highest compared to control treatment. Histological description of Deadema setosum heparin organ that experiencing apoptosis based on HE painting is in accord with each recorded caspase-3 protein concentration. This result showed that caspase-3 protein has the potential to become one alternative in Cd pollution biomonitoring at celluler level of Deadema setosum in the sea. 
DAMPAK PENERAPAN SISTEM SILVIKULTUR TEBANG PILIH TANAM JALUR TERHADAP KELESTARIAN KESUBURAN TANAH DALAM MENUNJANG KELESTARIAN PENGELOLAAN HUTAN ALAM (The Impact of Selective Cutting and Strip Planting System Implementation Toward Sustainability of Soil) Widiyatno Widiyatno; Soekotjo Soekotjo; Hatma Suryatmojo; Haryono Supriyo; Susilo Purnomo; Jatmoko Jatmoko
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 1 (2014): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18511

Abstract

ABSTRAKTebang pilih merupakan salah satu sistem silvikultur yang  dikembangkan untuk mengelola hutan hujan tropis di Indonesia. Sistem ini didasarkan pada limit diameter, jumlah tegakan tinggal untuk rotasi berikutnya dan keberhasilan permudaan alam maupaun penanaman pengkayaan. Sistem silvikultur Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) dengan teknik silvikultur intensif (SILIN) diintrodusir pada tahun 2005 untuk merehabilitasi dan meningkatkan produktivitas Logged Over Area (LOA) hujan hujan tropis dengan pola penanaman pengkayaan jalur. Pelaksanaan TPTJ dimungkinkan akan mempengaruhi stabilitas tanah karena tanah pada hutan hujan tropis sangat sensitif terhadap perubahan akibat pelaksanaan TPTJ. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menginvestigasi status kesuburan tanah LOA (1 dan 5 tahun setelah penanaman) pada hutan hujan tropis yang dikelola dengan sistem TPTJ dengan teknik SILIN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  tanah  pada lokasi penelitian bersifat sangat asam (pH H2O: 3.97-4.50 dan pH KCl: 3,57-4,07). Nilai pH tersebut  mengindikasikan bahwa tingkat konsentrasi kandungan nutsisi Ca, Mg  dan K dalam kategori rendah  sebab tanah tersebut masuk dalam ordo Ultisols. Kandungan nutrisi pada areal 1 dan 5 tahun setelah penanaman tidak berbeda nyata pada uji T dengan taraf kepercayaan 5%. Pada umumnya, kandungan nutrisi orda Horizon A mempunyai nilai C-organik yang lebih tinggi dibandingkan lapisan di bawahnya karena keberadaan akumulasi dari bahan organik dan nilai ini mempunyai korelasi yang positif terhadap Kapasitas Tukar Kation (R2= 0.946) sehingga keberadaannya akan menyediakan unsur hara dalam mendukung pertumbuhan tanaman dipterocarps pada sistem penanaman jalur. ABSTRACTSelective cutting is one of the silviculture system  developed to manage the tropical rain forest in Indonesia. This system is based on diameter limit, the number of trees left (residual stand) for the next harvesting and successfully regeneration natural of residual stand or enrichment planting. In 2005, selective cutting and strip planting with intensive sillviculture was being applied to rehabilitate and to improve the productivity of Logged Over Area (LOA) of tropical rain forest with enrichment planting in strip planting system. TPTJ system might stimulate the soil stability of tropical rain forest damaged because it was sensitive of changing. The objective of this research was to investigate the soil fertility status on LOA (1 and 5 years old after planting) of tropical rain forest in selective cutting and strip planting with intensive sillviculture. The result showed that soil at the reseach sites were very acid it was about pH H2O 3.97-4.50 and pH KCl 3,57-4,07.  This pH values indicated that nutrient concentrations especially Ca, Mg and K were very low because the soil included on Ultisols. Nutrient concentration at 1 and 5 years old after planting of area was not significant in T test with 5% confident level. In general, nutrient concentrations in A, horizon  was organic matter accumulation on the top soil would increase C-organic content and this value had positive correlation with cation exchangeable capacity (CEC) that value of correlation coefficient (R2)  was 0.946, so it could provide nutrient to support growth of dipterocarps in the strip planting system.
PERAN REVEGETASI TERHADAP RESTORASI TANAH PADA LAHAN REHABILITASI TAMBANG BATUBARA DI DAERAH TROPIKA (The Role of Revegetation on the Soil Restoration in Rehabilitation Areas of Tropical Coal Mining) Cahyono Agus; Eka Pradipa; Dewi Wulandari; Haryono Supriyo Supriyo; Saridi Saridi; Dody Herika Herika
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 1 (2014): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18512

Abstract

ABSTRAKPertambangan batubara terbuka menyebabkan degradasi lahan, sehingga perlu upaya rehabilitasi lahan melalui program revegetasi. Penelitian dilakukan di areal PT. Berau Coal  pada site Binungan, Lati dan Sambarata, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Indonesia. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap ber-blok dengan umur revegetasi sebagai perlakuan, tiga kali ulangan dan tiga site sebagai blok. Pemilihan lokasi menggunakan metode purposif sampling yaitu pengambilan sampel yang didasarkan pada pertimbangan pada umur pengolahan lahan revegetasi, meliputi S1 : area hutan sebelum ditambang (rona awal), S2 : revegetasi awal, umur tanaman  < 1 tahun, S3 : revegetasi menengah, umur tanaman 3 tahun, dan S4: revegetasi lanjut, umur tanaman  > 5 tahun. Pengambilan sampel tanah pada  kedalaman 0–20 dan 20-40 cm pada setiap perlakuan di ketiga lokasi, selanjutnya dianalisis sifat fisik dan kimianya. Tanah Typic Hapludult pada lahan hutan sebelum ditambang batubara secara terbuka (S1,  rona awal) mempunyai kadar C-organik (1,87 %), N-total (0,14 %), P-tersedia (31,40 ppm), K-tertukar (0,11 me/100g), pH (3,98), KTK (10,72 me/100g) dan kejenuhan basa (17 %). Penambangan terbuka batubara telah menyebabkan lapisan bawah dan  permukaan tanah menjadi terbongkar dan terjadi penurunan kualitas tanah yang sangat drastis. Penimbunan lahan dengan media tanah permukaan sebelumnya, telah cukup  mampu memperbaiki sifat-sifat tanah tertambang namun belum sesuai sebagai media pertumbuhan, serta sangat rentan terhadap degradasi lahan lebih lanjut. Revegetasi menggunakan tanaman pionir, cepat tumbuh dan adaptif seperti Sengon, Akasia, Sungkai, Melina, Angsana, Jarak serta Legume Cover Crop (LCC) pada area bekas tambang  batubara memberikan pengaruh yang  nyata terhadap peningkatan kandungan C-organik, N-total dan  pH tanah. Revegetasi menggunakan spesies cepat tumbuh setelah berumur 5 tahun telah mengembalikan bahkan memperbaiki sifat kimia tanah dibanding dengan kondisi pada hutan tropika basah sebelum dilakukan penambangan terbuka. ABSTRACTOpen coal mining causes land degradation, so they need land rehabilitation through re-vegetation programs. The study was conducted in the PT Berau Coal area of Binungan, Lati and Sambarata site, Berau regency, East Kalimantan, Indonesia. Research using a randomized completely block design with the age of re-vegetation as treatments, three replication and three sites as blocks. Sampling unit was selected using a purposive sampling method that is based on the re-vegetation management, including: (i) S1: forest area without mining activities (baseline), (ii) S2: initial re-vegetation, plant age < 1 year, (iii) S3 : medium re-vegetation, plant age 3 years, (iv) further re-vegetation, plant age > 5 years. Soil sample was collected from 0-20 and 20-40 cm soil depth in each treatment at three locations, then analyzed for soil  physic and chemistry. Soil of Typic Hapludult on forest land without coal mining has a C-organic (1.87 %), N-total (0.14 %), available-P (31.40 ppm), exchangeable-K (0.11 me/100g), pH (3.98), CEC (10.72 me/100g) and base saturation (17 %). Opened coal mining has led the soil layer becomes exposed and a declining in soil quality drastically. Land closure with the top soil media has been quite able to improve soil properties in rehabilitation areas, but not suitable as media for plant growth, and highly susceptible for further degradation. Land rehabilitation and re-vegetation with fast growing and adaptive pioneer plants such as: Sengon, Acacia, Sungkai, Melina, Angsana, Jarak and Legume Cover Crop (LCC) in the rehabilitation area of coal mining, gave significant effect on the increasing of  C-organic, N-total and soil pH. Re-vegetation with fast growing species after 5-year-old has returned the soil chemical properties that are equivalent or even better than thier condition in moist tropical forests without open coal mining.
STRUKTUR KOMUNITAS TUMBUHAN DAN FAKTOR LINGKUNGAN DI LAHAN KRITIS, IMOGIRI YOGYAKARTA (Community Structure of Plant and Environmental Factor in Critical Land, Imogiri Yogyakarta) Maizer Said Nahdi; Djoko Marsono; Tjut Sugandawaty Djohan; M. Baequni
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 1 (2014): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18513

Abstract

ABSTRAKPenelitian bertujuan mempelajari struktur komunitas tumbuhan pada berbagai tingkat pertumbuhan  sebagai  respon  terhadap aktivitas masyarakat, dan kualitas fisik kimia tanah yang terbentuk di kawasan lahan kritis Imogiri. Metode penelitian menggunakan kuadrat plot, dengan  ukuran plot 1x1, 5x5, 10x10, ulangan 6 – 10 diletakkan secara stratified random sampling. Pengumpulan data dengan mengamati kehadiran cacah spesies, dihitung kerapatan, dominansi, frekuensi spesies, dan Nilai Penting. Analisis ordinasi dua dimensi digunakan untuk mengelompokkan komunitas pada berbagai tingkat pertumbuhan, dengan analisis t-test untuk uji signifikansi unsur fisik kimia tanah. Hasil penelitian ditemukan 303 spesies, terdiri dari 34 tingkat pohon, 62 sapling dan 207 tumbuhan bawah dengan distribusi yang bervariasi. Kemelimpahan menunjukkan bahwa pada tingkat pohon terjadi pengelompokan, sedangkan pada tingkat sapling dan tumbuhan bawah mengumpul menjadi satu. Dalbergia sisso tingkat pohon dan sapling serta tumbuhan bawah  Euphatorium inulifolium merupakan spesies paling dominan dan merespon kondisi lahan kritis sehingga dapat dijumpai pada semua lokasi kajian. Kemelimpahan tingkat pohon sangat dipengaruhi oleh aktivitas masyarakat, dan mineral organik yang terbentuk sehingga didominasi vegetasi dengan nilai ekonomi tinggi. Sedangkan kehadiran spesies tingkat sapling dan tumbuhan bawah merespon kandungan hara yang terbentuk. ABSTRACTThe purpose of this research was to study the community structure of plant at different growth-forms in response to the activities of the local community (people) and the physico-chemical characteristics of soil in the critical land of Imogiri. The research methods employed random quadrat with plot size of 1 x 1, 5 x 5, 10 x 10 m.  The placement of the plot followed stratified random sampling. At each plot, species richness, density, dominance, frequency of species, importance values were calculated. The grouping of growth-forms was analyzed using Ordination Analysis and t-test was used to find out the significance of physico-chemical characteristics of the soil. The finding suggested that 303 species could be found in Imogiri, consisting of 34 trees, 62 saplings, and 207 seedlings. Based on the calcultation of the species abundance, it could be concluded that there was an unequal pattern of vegetation communities at the level of trees, saplings, and seedlings/ shrubs. At the level of tree, grouping could be found. Meanwhile at the level of tree, sapling and seedlings  tend to show one group (clumped). The tree and sapling of Dalbergia sisso and the shrub of Euphatorium inulifolium showed high dominance and responded the critical land very well hence they could be found in almost in all locations. The abundance of tree species was highly influenced by people’s activities and organic minerals that occur in the area. Hence, most of trees had high economical value. Meanwhile, the presence of species at the level of sapling and seedling responded the occuring soil-nutrients. 

Page 1 of 2 | Total Record : 17


Filter by Year

2014 2014


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2020): 2 Vol 27, No 1 (2020): 1 Vol 26, No 2 (2019): 2 Vol 26, No 1 (2019): 1 Vol 25, No 2 (2018): 2 Vol 25, No 1 (2018): 1 Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Mei Vol 24, No 1 (2017): Januari Vol 23, No 3 (2016): September Vol 23, No 2 (2016): Juli Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 3 (2015): November Vol 22, No 2 (2015): Juli Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 (2014): November Vol 21, No 2 (2014): Juli Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): November Vol 20, No 2 (2013): Juli Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 3 (2012): November Vol 19, No 2 (2012): Juli Vol 19, No 1 (2012): Maret Vol 18, No 3 (2011): November Vol 18, No 2 (2011): Juli Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3 (2010): November Vol 17, No 2 (2010): Juli Vol 17, No 1 (2010): Maret Vol 16, No 3 (2009): November Vol 16, No 2 (2009): Juli Vol 16, No 1 (2009): Maret Vol 15, No 3 (2008): November Vol 15, No 2 (2008): Juli Vol 15, No 1 (2008): Maret Vol 14, No 3 (2007): November Vol 14, No 2 (2007): Juli Vol 14, No 1 (2007): Maret Vol 13, No 3 (2006): November Vol 13, No 2 (2006): Juli Vol 13, No 1 (2006): Maret Vol 12, No 3 (2005): November Vol 12, No 2 (2005): Juli Vol 12, No 1 (2005): Maret Vol 11, No 3 (2004): November Vol 11, No 2 (2004): Juli Vol 11, No 1 (2004): Maret Vol 10, No 3 (2003): November Vol 10, No 2 (2003): Juli Vol 10, No 1 (2003): Maret Vol 9, No 3 (2002): November Vol 9, No 2 (2002): Juli Vol 9, No 1 (2002): Maret Vol 8, No 3 (2001): Desember Vol 8, No 2 (2001): Agustus Vol 8, No 1 (2001): April More Issue