cover
Contact Name
Iqmal Tahir
Contact Email
iqmal@ugm.ac.id
Phone
+628999411449
Journal Mail Official
jpe-ces@ugm.ac.id
Editorial Address
Editor Jurnal Manusia dan Lingkungan Pusat Studi Lingkungan Hidup - Universitas Gadjah Mada (PSLH - UGM) Komplek UGM, Jalan Kuningan, Jalan Kolombo, Catur Tunggal, Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Manusia dan Lingkungan
ISSN : 08545510     EISSN : 24605727     DOI : https://doi.org/10.22146/jml.30101
Jurnal Manusia dan Lingkungan is published by the Center for Environment Studies, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. The journal is focused to the relationship between people and its environment that are oriented for environmental problems solving. Jurnal Manusia dan Lingkungan receives a manuscript with interdisciplinary and multidisciplinary approach Abiotic : physical, chemical, technical, geo-environmental science and modelling science Biotic : environmental biology, ecology, agro environment Culture : environmental-socio,-economics,-culture, and environmental health.
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Vol 23, No 2 (2016): Juli" : 17 Documents clear
MONITORING KADAR NITRIT DAN NITRAT PADA AIR SUMUR DI DAERAH CATUR TUNGGAL YOGYAKARTA DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS (Monitoring of Nitrite and Nitrate Content in Ground Water of Catur Tunggal Region of Yogyakarta by UV-VIS Spectrophotometry) Setiowati Setiowati; Roto Roto; Endang Tri Wahyuni
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 23, No 2 (2016): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18784

Abstract

ABSTRAKMetode analisis nitrit dan nitrat perlu dikembangkan untuk memonitor kualitas air minum. Kualitas air sumur untuk parameter nitrit dan nitrat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan kedalaman air sumur.Penelitian ini bertujuan menganalisis nitrit dan nitrat menggunakan asam p-aminobenzoat (PABA) pada air sumur di daerah perkotaan Yogyakarta. Analisis nitrit didasarkan pada reaksi antara ion nitrit dengan PABA yang membentuk senyawa azo dengan panjang gelombang maksimum 546 nm. Kedalaman air sumur di daerah Catur Tunggal rata-rata > 10 m. Kadar nitrit dan nitrat pada air sumur adalah 0,05-0,09 dan 8,22-36,58 mg/L. Kadar nitrit dan nitrat tersebut memenuhi baku mutu dan aman untuk dikonsumsi. Konsentrasi nitrit dan nitrat pada air RO adalah 0,05 dan 2,72-59,57 mg/L. Kadar nitrit pada air RO tidak memenuhi baku mutu sedangkan kadar nitrat memenuhi baku mutu kecuali RO 5.ABSTRACTThe method for analysis nitrite and nitrate had to developed to monitor the drinking water quality. The well water quality, especially for nitrite and nitrate were influenced by environmental conditions and depth of well. This study aims to analyze nitrite and nitrate using p-aminobenzoic acid (PABA) in ground water at urban areas of Yogyakarta. The analysis was based on the reaction between nitrite ions with PABA which form azo compounds with a maximum wavelength of 546 nm. The depth of wells at Catur Tunggal were more than 10 m. Concentration of nitrite and nitrate in well water were 0.05 to 0.09 and 8.22 to 36.58 mg / L. The concentrations met the standard for drinking water quality and was safe for consumption. The concentration of nitrite and nitrate in reverse osmosis (RO) water were 0.05 and 2.72 to 59.57 mg / L. The concentration of nitrite did not meet the standard for drinking water quality while the concentration of nitrate met the standard for drinking water quality except RO 5.
PEMBUATAN MEMBRAN SERAT BERONGGA POLIETERSULFON/2-(METAKRILOILOSI)ETIL POSPORIL KLORIN DAN APLIKASINYA UNTUK PENGOLAHAN AIR SUMUR TERCEMAR LIMBAH TSUNAMI DI BANDA ACEH (Preparation Hollow Fiber Membrane of Polyethersulfone/2-(Methacryloyloxy) Sri Aprilia; Nasrul Arahman
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 23, No 2 (2016): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18785

Abstract

ABSTRAKBanyak kasus air sumur masyarakat di wilayah yang terkena imbas tsunami di Banda Aceh mengandung zat padat terlarut (Total Dissolved Solid, TDS) dan klorida melebihi standar baku mutu untuk pertimbangan kesehatan. Diperlukan perlakuan khusus untuk menghilangkan zat padat terlarut dan klorida dari air tersebut. Teknologi membran telah diperkenalkan secara luas sebagai teknik yang menjanjikan untuk produksi air bersih dengan kualitas tinggi. Pada penelitian ini, teknik separasi dengan lapisan membran digunakan untuk memisahkan kandungan zat padat terlarut dan klorida dari sampel air sumur masyarakat Banda Aceh yang terkena tsunami. Membran serat berongga dibuat dengan melarutkan polietersulfon and 2-(metakriloiloksi)etil posporil klorin ke dalam pelarut N-metil-2-pirolidon. Studi ini mempelajari pengaruh konsentrasi membran modifying agent terhadap struktur morfologi membran yang dihasilkan. Kemudian kinerja membran terhadap filtrasi dilakukan dengan menggunakan air deionisasi. Lebih lanjut, kinerja membran dilakukan untuk mengurangi kadar kekeruhan, TDS, CaCO3, Cl, NO3, NO2, total coliform, dan bakteri Escherichia coli dari sampel air sumur. Hasil ekperimen menunjukkan bahwa semua parameter yang diuji dapat dikurangi sampai nilainya berada di bawah standar baku mutu air bersih. ABSTRACTIn many cases well water on tsunami affected area of Banda Aceh contains the Total Dissolved Solid (TDS) and chloride in high concentration over the drinking water level for general good health consideration. A special treatments are needed to remove the TDS and chloride in water. Membrane technology have been widely introduced as an emerging technique to produce high quality of clean water. In this work, membrane separations are proposed to remove TDS and chloride from well water of community in tsunami affected area of Banda Aceh. Membrane hollow fiber was prepared by dissolving of polyethersulfone and 2-(methacryloyloxy)ethyl phosphoryl chlorine in N-methyl-2-pirrolydone. The effect of membrane modifying agent concentration studied on the morphology of resulted membrane. The fabricated membrane was used to observe the filtration performance of deionized water by using single module of hollow fiber membrane. In addition, the membrane was used to remove turbidity, TDS, CaCO3, Cl, NO3, NO2, total coliform, and Escherichia Coli bacteria from sample of well water. The experimental result showed that all parameter can be reduced and those concentration was under the quality standard of drinking water.
EFEKTIVITAS KAPORIT PADA PROSES KLORINASI TERHADAP PENURUNAN BAKTERI Coliform DARI LIMBAH CAIR RUMAH SAKIT X SAMARINDA (The Effectiveness of Calcium Hypochlorite to Chlorination Process in Decreasing the Amount of Coliform Bacteria in the Wastewater of X) Muhammad Busyairi; Yodi Prapeta Dewi; Devita Irianti Widodo
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 23, No 2 (2016): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18786

Abstract

ABSTRAKKaporit pada limbah cair rumah sakit digunakan sebagai desinfektan, tetapi, penggunaan kaporit dengan dosis yang tidak tepat akan menyebabkan pembentukan senyawa Trihalomethane (THMs) yang beracun dan bersifat karsinogenik. Pada limbah cair rumah sakit X Samarinda, diperoleh nilai MPN Coliform sebesar >160.000 MPN / 100 mL dengan residu klor sebesar 0 ppm. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis optimum dari penggunaan kaporit menggunakan titik Breakpoint Chlorination (BPC) dan pengaruhnya terhadap penurunan Coliform. Analisis dilakukan dengan titrasi iodometri dan menghitung jumlah bakteri Coliform memakai metode Most Probable Number (MPN). Penentuan dosis kaporit berdasarkan dosis optimum pada titik BPC dimaksudkan agar dapat menjaga residu klor dari penambahan dosis yang semakin meningkat. Hasil penelitian mempengarui rerata kadar bahan organik pada sampel limbah cair sebesar 137,26 ppm, sehingga dosis kaporit yang dibubuhkan dimulai dari 130-165 ppm. Titik BPC terjadi pada pembubuhan klor aktif 160 ppm untuk kedua waktu kontak yaitu 30 dan 40 menit. Pada titik BPC, waktu kontak 30 menit diperoleh rerata persentase penurunan nilai Coliform yaitu 98,21% sebesar 2.899 MPN / 100 mL dengan residu klor sebesar 88 ppm. Pada waktu kontak 40 menit diperoleh persentase penurunan bakteri Coliform hingga 98,83%, yaitu dari >160.000/100 mL menjadi 1.866/100 mL dengan residu klor 97,5 ppm.ABSTRACTCalcium hypochlorite of hospital wastewater serves as disinfectant, however, inappropriate dose of it will lead to the formation of Trihalomethane (THMs) which is toxic and carcinogenic. The value of MPN Coliform of wastewater in X hospital Samarinda is >160.000 MPN / 100 mL with residual chlorine 0 ppm. This research aims at determining the optimum dose of calcium hypochlorite usage by using Breakpoint Chlorination curve and its effect to Coliform decrease. Further, the analysis is done by employing iodometric titration and the amount of Coliform bacteria is calculated by using Most Probable Number (MPN) method. Calculation of calcium hypochlorite dose is based on the optimum dose at Breakpoint Chlorination (BPC) in order to maintain the residual chlorine from the addition of increasing doses. The research result has an impact on the average of organic substance in wastewater sample, it is about 137,26 ppm, so the dose of calcium hypochlorite needed is between 130-165 ppm. BPC curve occurs at 160 ppm of active chlorine for both contact time 30 and 40 minutes. At the BPC point of 30 minutes contact time obtained a mean percentage reduction of Coliform value is 98.21% which is 2,899 MPN/100 mL with residual chlorine 88 ppm. Besides, at 40 minutes contact time obtained the percentage reduction of Coliform bacteria up to 98.83%, it is from >160,000/100 mL to 1,866.67/100 mL with residual chlorine 97.5 ppm.
KERENTANAN PENYUSUPAN AIR LAUT DI PESISIR UTARA PULAU TERNATE (Vulnerability of Sea Water Intrusion in Northern Coastal of Ternate Island) Rahim Achmad; Muhammad Pramono Hadi; Setyawan Purnama
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 23, No 2 (2016): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18787

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini dilakukan di wilayah pesisir bagian utara Pulau Ternate, dengan tujuan mengetahui kedalaman batas kontak airtanah dengan air laut dan menganalisis akuifer serta cara pengambilan airtanah sehingga tidak terjadi penyusupan air laut ke dalam tubuh airtanah. Sampel air sumur diukur untuk mengetahui kadar salinitas dan daya hantar listrik (DHL). Kedalaman batas kontak airtanah dengan air laut dukur dengan menggunakan metode geolistrik. Hasil pengukuran DHL dan salinitas airtanah di wilayah pesisir utara menunjukkan, terdapat penyusupan air laut di Desa Tobolo dan Sulamadaha, dengan rentang nilai masing-masing antara 0,5-3,3 mS/cm dan 0,2-1,7 ppt. Hasil pengukuran geolistrik menunjukkan batas kontak airtanah dengan air laut rata-rata antara 12-15 m dari permukaan. Nilai resistivitas air laut berkisar antara 0,01-20 Ωm. Hasil penelitian ini memberikan peringatan untuk tidak melakukan pengeboran sumur di wilayah pesisir. Sebagai contoh kasus, pengeboran sumur hingga 80 m dengan jarak sekitar 250 m dari garis pantai di Desa Takome, di mana batas kontak airtanah dengan air laut pada kedalaman 15 m. Pengukuran nilai DHL dan salinatas air dari sumur ini menunjukkan masing-masing 6,1 mS/cm dan 3,3 ppt. Nilai ini menunjukkan kedalaman sumur bor telah melewati zona pencampuran antara airtanah dengan air laut (interface). ABSTRACTThis research was conducted in the coastal areas of northern part of Ternate island, in order to know the depth of interface and to analyze the aquifers and to avoid seawater intrusion caused of groundwater extraction. Well water samples were measured to determine levels of salinity and DHL. The depth of interface was measured using geoelectric method. The results of electrical conductivity (EC ) and salinity of groundwater measurement in the northern coastal area showed that, there is infiltration of sea water in Tobolo and Sulamadaha. The EC and salinity values ranging between 0.5-3.3 mS/cm and 0.2-1.7 ppt respectively. The geoelectric measurement results showed that the depth of interface ranging between 12-15 m from the surface. The resistivity of saline water values ranging between 0.01-20 Ωm. This research provides a warning for not drilling well in coastal areas . For example case, a drilled well with a depth 80 m, located about 250 m from the shoreline in village Takome, where the depth of the interface is 15 m. The value of EC and saline water were measured from this drilled well showed 6.1 mS/cm and 3.3 ppt respectively. This value indicates the depth of the drilled well has exceeded the interface zone.
ANALISIS POLA DISPERSI PARTIKULAT DAN SULFURDIOKSIDA MENGGUNAKAN MODEL WRFCHEM DI SEKITAR WILAYAH INDUSTRI TANGERANG DAN JAKARTA (Analysis of Particulate and Sulfurdioxide Pattern Dispersion using WRFChem Model over Industrial Area In Tangerang) Ana Turyanti; Tania June; Edvin Aldrian; Erliza Noor
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 23, No 2 (2016): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18788

Abstract

ABSTRAKPeningkatan aktivitas industri dan transportasi menjadi pemicu timbulnya potensi pencemaran udara yang berdampak pada kesehatan masyarakat, terutama di sekitar wilayah industri dan kota-kota besar. Pengenalan daerah yang rawan terhadap pemaparan konsentrasi pencemar udara maksimum perlu dilakukan untuk mengantisipasi dampak terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan. Studi ini bertujuan untuk menganalisis sebaran pencemar udara di sekitar wilayah industri dan menentukan lokasi yang berpotensi terpapar pencemar udara dengan konsentrasi maksimum, khususnya partikulat (dalam hal ini PM10) dan sulfurdioksida (SO2). Lokasi studi adalah wilayah Jakarta dan Tangerang, yang merupakan daerah padat transportasi juga industri. Analisis dispersi menggunakan model Weather Research Forecasting / Chemistry (WRFChem) dengan ukuran grid 4 x 4 km, selama periode 5 hari (120 jam) masing-masing pada bulan Agustus dan Desember. Hasil analisis model menunjukkan lokasi yang rawan terpapar pencemar PM10 maupun SO2 dengan konsentrasi maksimum adalah Jakarta Pusat dan Jakarta Utara, secara umum terjadi pada tengah malam hingga pagi hari. Pada siang hari konsentrasi maksimum cenderung terjadi di sekitar Jakarta Selatan, Tangerang Selatan, serta Kabupaten Tangerang. Secara temporal terjadi fluktuasi konsentrasi pencemar udara, konsentrasi siang hari rendah dan meningkat menjelang malam hari hingga dini hari. Faktor meteorologi terutama pola angin sangat mempengaruhi pola sebaran pencemar di wilayah studi, dan keberadaan garis pantai juga mempengaruhi terakumulasinya pencemar di sekitar wilayah Jakarta.ABSTRACTIncreasing industrial and transportation activity were associated with air pollution, especially in urban and industrial area. The air pollution is associated with significant adverse health effects. Understanding the potential implications of the air pollution to human health, developing strategies to mitigate the pollution should be seen as a serious attention. The purpose of this study was to analyze air pollutant dispersion within industrial area and to determine the locations that potentially exposed to maximum pollutant concentrations, especially PM10 and SO2.The evaluation was conducted within Jakarta and Tangerang using a well known modelling tool ‘WRFChem’. The WRFChem was simulated for the period of 5 days (120 hours) in August and December using the grid size of 4 km x 4 km. The model shows that the maximum concentrations of PM10 and SO2 occurred within Central Jakarta and the North Jakarta, frequently found from the midnight to morning. While during the day time, the maximum concentration tend to occur within the region of South Jakarta, South Tangerang, and Tangerang Regency. Diurnal fluctuation shows the pollutant concentrations are increased at night and decreased after sunrise. Meteorological factors, mainly wind direction, affects the pollutants dispersion in the area of study, and the existence of the shoreline also affects pollutants accumulation around Central Jakarta.
TIMBULAN SAMPAH B3 RUMAHTANGGA DAN POTENSI DAMPAK KESEHATAN LINGKUNGAN DI KABUPATEN SLEMAN, YOGYAKARTA (Generation of Household Hazardous Solid Waste and Potential Impacts on Environmental Health in Sleman Regency, Yogyakarta) Iswanto Iswanto; Sudarmadji Sudarmadji; Endang Tri Wahyuni; Adi Heru Sutomo
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 23, No 2 (2016): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18789

Abstract

ABSTRAKSampah rumahtangga yang mengandung Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) seperti baterai, lampu listrik, elektronik, kemasan pestisida, pemutih pakaian, pembersih lantai, cat, kaleng bertekanan (aerosol), sisa obat-obatan, termometer dan jarum suntik berpotensi mengancam kesehatan manusia dan lingkungan. Meskipun kuantitas sampah B3 rumahtangga (SB3-RT) di Kabupaten Sleman hanya 2,44 g/orang/hari atau sekitar 0,488% dari sampah domestik, tetapi karena memiliki karakteristik mudah meledak, mudah terbakar, reaktif, beracun, infeksius dan/atau korosif maka sangat membahayakan bagi kesehatan dan lingkungan (air, tanah, udara). Sampai saat ini, SB3-RT di Kabupaten Sleman masih ditangani seperti layaknya sampah domestik, yaitu dibakar, dibuang ke sungai, ditimbun di pekarangan, dibuang ke tempat pembuangan sampah ilegal atau dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Piyungan. Jenis SB3-RT yang banyak ditemukan adalah sampah elektronik (24,91%), lampu listrik bekas (18,08%) dan baterai bekas (16,71%). Ketiga jenis sampah tersebut mengandung berbagai unsur logam berat seperti Cd, Pb, Hg, Cr, As, Ni, Co, Zn, Cu, Al, Mn, Li, Sb dan Fe yang umumnya bersifat toksik, karsinogenik dan akumulatif yang dapat masuk ke dalam tubuh manusia secara langsung atau melalui rantai makanan. Pemaparan bahan berbahaya beracun (B3) dapat menyebabkan kerusakan pada berbagai jaringan/organ tubuh pada masyarakat sekitar tempat pembuangan, petugas sampah, pemulung, pengepul, pemanfaat dan pelaku daur ulang SB3-RT. Oleh karena itu SB3-RT perlu dikelola sebagaimana mestinya sesuai dengan sifat dan karakteristiknya. ABSTRACTHousehold solid waste containing hazardous and toxic materials such as batteries, electric light, electronics, pesticides, bleach, cleaner, paint, pressurized cans (aerosol), unused medicines, thermometers and syringes can threaten human and environment. Although the quantity of Household Hazardous Solid Waste (HHSW) in Sleman Regency only 2.44 g/person/day or approximately 0.49% of domestic waste, but because it has the characteristics of explosive, flammable, reactive, toxic, infectious and/or corrosive then potentially cause health and environmental issues (water, soil, air) seriously. Until now, HHSW in Sleman still handled like domestic waste, which is burned, dumped into the river, dumped in the yard, disposed into illegal dumping or dumped into the final disposal site (TPA Piyungan). Types of HHSW most common are electronic waste (24.91%), electric lamps former (18.08%) and used batteries (16.71%). Those HHSW contain a variety of heavy metals such as Cd, Pb, Hg, Cr, As, Ni, Co, Zn, Cu, Al, Mn, Li, Sb and Fe, which are generally toxic, carcinogenic and bioaccumulative that can be entered into the human body directly or through the food chain. Exposure to harmful and toxic materials can cause damage to various tissues/organs of the communities around the dumping, garbage worker, scavengers, collectors, users and recycler of HHSW. Therefore HHSW in Sleman Regency needs to be managed properly in accordance with the nature and characteristics.
VARIASI PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN PADA BERBAGAI TIPE BENTUKLAHAN DAN KAITANNYA DENGAN ALIRAN DASAR SUNGAI PADA DAS KEDUANG PROVINSI JAWA TENGAH (The Variation of Land-Use Change in Various Landform Type and Its Correlation With River Baseflow) Bokiraiya Latuamury; Sudarmadji Sudarmadji; Slamet Suprayogi
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 23, No 2 (2016): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18790

Abstract

ABSTRAKPenelitian variasi penggunaan lahan dan kaitannya dengan aliran dasar skala DAS semakin banyak digunakan, sebagai akibat dari kebutuhan air yang terus meningkat. Karakteristik DAS mempengaruhi proses perubahan curah hujan sebagai masukan, dan aliran sungai sebagai keluaran. Untuk itu penting dilakukan penelitian dengan tujuan untuk menganalisis secara geospasial mengenai variasi perubahan penggunaan lahan pada berbagai tipe bentuklahan dalam kaitannya dengan aliran dasar sungai. Hasil analisis statistik variasi penggunaan lahan pada berbagai tipe bentuklahan dalam kaitannya dengan aliran dasar sungai secara geospasial menunjukkan bahwa ada perubahan yang signifikan. Karakteristik aliran dasar sungai di DAS Keduang Kabupaten Wonogiri Provinsi Jawa Tengah menunjukkan bentuk kurva resesi landai dengan koefisien resesi 0,99 dan volume aliran dasar rata-rata cukup tinggi. Analisis kurva resesi menggambarkan kondisi aliran dasar memiliki kemampuan menyimpan dan meloloskan aliran optimal. Dengan demikian pengelolaan ekosistem sungai secara bersinergi dan berkelanjutan dapat mempertahankan pola pemanfaatan sungai oleh masyarakat sekitar sebagai sebuah alternatif ketersediaan air masyarakat lokal. ABSTRACTNowadays, research that concerning in the relation between land use change and baseflow in watershed scale are increased due to the increasing water demand. Watershed characteristic typically affecting the alteration of rainfall as input and river flow as output. Therefore, this research aims to perform geospatial analysis on the variation of landuse change in various landform type and its correlation with river baseflow. Results from statistical analysis of landuse on the various types of landform and its correlation with river baseflow indicated that there are significant changes. Baseflow characteristic in Keduang watershed, Wonogiri, Central Java Province shows that the shape of recession curve is ramps with coefficient 0,99 and high baseflow average. Recession curve analysis describes that baseflow condition capable in storing and through the optimum flow. Hence, synergic and sustainable river ecosystem management could maintain river utilization pattern by the local community as an alternative for local water supply.
PENGELOLAAN KEBERLANJUTAN EKOSISTEM HUTAN RAWA GAMBUT TERHADAP KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI SEMENANJUNG KAMPAR, SUMATERA (Sustainable Management of Peat Swamp Forest Ecosystems Toward Forest and Land Fires in Kampar Peninsula, Sumatera) Budi Darmawan; Yusni Ikhwan Siregar; Sukendi Sukendi; Siti Zahrah
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 23, No 2 (2016): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18791

Abstract

ABSTRAKKeberadaan ekosistem hutan rawa gambut di Indonesia terus mengalami gangguan dan kerusakan akibat pola pemanfaatan yang tidak bijaksana seperti terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Umumnya kebakaran tersebut berasal dari adanya kegiatan manusia seperti penggunaan dan perubahan tutupan lahan. Kawasan Lindung Hutan Rawa Gambut Semenanjung Kampar termasuk salah satu ekosistem hutan rawa gambut terbesar di Pulau Sumatera. Peranan utama dari kawasan ini sebagai penjaga kestabilan lingkungan terhadap kawasan sekitarnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat dan status serta faktor-faktor kunci yang mempengaruhi keberlanjutan pengelolaan ekosistem hutan rawa gambut terhadap kebakaran hutan dan lahan dengan menggunakan pendekatan Multi-Dimensional Scaling. Mengacu kepada hasil penelitian secara keseluruhan indeks atau status keberlanjutan berada pada kriteria sedang (45,81%) atau status cukup berkelanjutan. Secara parsial untuk masing-masing dimensi yang memiliki status cukup berkelanjutan adalah ekonomi, teknologi dan hukum, sedangkan dimensi ekologi dan sosial kurang berkelanjutan sehingga perlu mendapatkan perhatian serius. ABSTRACTThe existence of peat swamp forest ecosystem in Indonesia continues to become distruption and damage which are caused by unwise utilization patterns such as forest and land fires. This happens because of human activities such as the use and change of the land. Protected area of peat swamp forest in Kampar peninsula is one of the largest forest ecosystems in Sumatera. The main function of this area is to maintain environment stability for the surrounding area. This study aims at finding out the level, status and main factors influencing sustainable management of peat swamp forest ecosystems toward forest and land fires by using multi-dimensional scaling approach. Based on the result of the study, it was found that the overall index or continues status was at the mediocre criterion level (45.81%). Partially, each dimension which has sustainable status includes economy, technology and law, while ecological and social dimensions were not sustainable and need more serious attention.
KEANEKARAGAMAN DAN PEMANFAATAN TUMBUHAN BAWAH PADA SISTEM AGROFORESTRI DI PERBUKITAN MENOREH, KABUPATEN KULON PROGO (Diversity and Untilization of Understorey in Agroforestry System of Menoreh Hill, Kulon Progo Regency) Etik Erna Wati Hadi; Siti Muslimah Widyastuti; Subagus Wahyuono
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 23, No 2 (2016): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18792

Abstract

ABSTRAKAgroforestri yang diadopsi masyarakat dalam bentuk pekarangan dan tegalan menyimpan potensi keanekaragaman jenis tumbuhan bawah yang diduga memiliki berbagai manfaat bagi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis tumbuhan bawah pada sistem agroforestri dan pemanfaatannya oleh masyarakat di perbukitan Menoreh. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey dengan melakukan inventarisasi jenis tumbuhan bawah serta wawancara dengan tokoh masyarakat tentang pemanfaatan tumbuhan bawah yang selama ini dilakukan. Penelitian dilakukan dalam kurun waktu November 2012 sampai dengan April 2013, berlokasi di perbukitan Menoreh Kabupaten Kulon Progo yang terbagi dalam 3 zona berdasarkan ketinggian tempat. Berdasarkan hasil penelitian, keanekaragaman jenis tumbuhan bawah cenderung semakin tinggi pada lokasi yang lebih tinggi. Jenis tumbuhan bawah di pekarangan lebih banyak dibandingkan di tegalan pada semua zona ketinggian tempat. Tumbuhan bawah yang berhasil teridentifikasi sebanyak 41 jenis, 28 jenis di antaranya dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan obat, antara lain untuk penyakit kulit, demam dan beberapa penyakit degeneratif seperti hipertensi, kanker, asam urat, asma dan sebagainya. Cara pemanfaatannya dengan dimakan langsung (dilalap), direbus, dibuat teh dan diambil sari patinya. Beberapa jenis tumbuhan bawah telah dimanfaatkan masyarakat secara tradisional sebagai bahan obat dan dibudidayakan sebagai sumber penghasilan tambahan. ABSTRACTAgroforestry adopted community in the form of homegardens and drylands holds the potential diversity of plants below that allegedly have various benefits for the community. This study aims to determine the diversity of plant species under the agroforestry system and its utilization by the community in the hills Menoreh. The method used is a survey method to conduct an inventory of understorey species and interviews with community leaders on the use of understorey has been done. The study was conducted in the period November 2012 to April 2013, located in the hills Menoreh, Kulon Progo regency is divided into three zones based on altitude. Based on this research, the diversity of understorey species the higher tends to a higher location. Understorey species in the homegardens more than in drylands at all altitude zones. Understorey species which were identified as many as 41 species, 28 species of which society is used as medicine, such as for skin diseases, fever and some degenerative diseases such as hypertension, cancer, gout, asthma and so on. To utilization to be eaten immediately (engulfed), stewed, made tea and juice taken the extract. Understorey species have been used traditionally as a community drug substance and cultivated as a source of additional income.
PREFERENSI DAN MOTIVASI MASYARAKAT LOKAL DALAM PEMANFAATAN SUMBERDAYA HUTAN DI TAMAN NASIONAL LORE LINDU, PROVINSI SULAWESI TENGAH (Preference and Motivation of Local Community in Utilization of Forest Resource in Lore Lindu National Park) Sudirman Daeng Massiri; Bramasto Nugroho; Hariadi Kartodihardjo; Rinekso Soekmadi
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 23, No 2 (2016): Juli
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18793

Abstract

ABSTRAKBanyak pihak masih meragukan nilai masyarakat terkait hutan alasan bahwa masyarakat lokal itu adalah perusak hutan, tidak dapat membatasi konsumsinya terhadap sumberdaya hutan dan dipandang sebagai masalah dalam konservasi sumberdaya hutan. Akibatnya, kebijakan pengelolaan hutan yang melibatkan masyarakat masih menjadi bahan perdebatan, utamanya dalam pengelolaan kawasan konservasi. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran tentang preferensi dan motivasi masyarakat lokal terhadap pemanfaatan sumberdaya hutan di kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) provinsi Sulawesi Tengah. Penelitian ini menerapkan metode survei, yang dilaksanakan pada dua tipe komunitas masyarakat lokal di sekitar TNLL yakni masyarakat desa homogen dan masyarakat desa heterogen. Data preferensi pemanfaatan hutan diperoleh melalui metode skor dengan menggunakan distribusi kartu yang dilakukan oleh masyarakat lokal, sedangkan data motivasi diperoleh melalui wawancara kepada masyarakat menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai preferensi kegunaan hutan yang tertinggi bagi masyarakat lokal adalah kegunaan hutan untuk perlindungan dan pengaturan air. Nilai tertinggi preferensi kegunaan hutan di zona rimba kompatibel dengan tujuan pengelolaan TNLL, sedangkan di zona pemanfaatan dan zona rehabilitasi masih ditemukan nilai preferensi yang tertinggi yang tidak kompatibel dengan tujuan pengelolaan TNLL. Masyarakat lokal yang bermukim di sekitar TNLL tidak hanya memiliki motivasi atas dasar kebutuhan material yang tinggi terhadap sumberdaya di TNLL tetapi juga memiliki motivasi sosial yang tinggi dan bahkan memiliki motivasi moral yang sangat tinggi. Dengan demikian, masyarakat lokal itu perlu dilibatkan dalam pengelolaan taman nasional melalui pengaturan institusi yang tepat. ABSTRACTMany people still doubt the value of local community related to forest, because they think that the local communities are destroyers of the forest, cannot limit their consumption to forest resources and become a problem of forest resource conservation. Consequently, forest management policy involving the local community is still a subject of debate, especially in the management of protected areas. This research aims to provide an overview of the preferences and motivations of local communities to use forest resources in Lore Lindu National Park (LLNP), Central Sulawesi province. This research applied a survey method and was conducted on two types of local communities around the village community LLNP - homogeneous and heterogeneous village communities. Data on forest utilization preferences were obtained through the scoring method using the distribution of cards conducted by local communities, while data on motivation were obtained through interviews to local communities using a questionnaire. This study showed that the highest preference for local community forest use was the uses of forest for protection and regulation of water. The highest value of preference for local community forest use in wilderness zone was compatible with the objectives of LLNP, while in utilization zone and rehabilitation zone, it was still found the highest value of preference for local community forest use which was not compatible with the objectives of LLNP. The Local communities were not only motivated based on high material needs of resources in LLNP but they also have a high social motivation and even they have a very high moral motivation. Therefore, the local communities should be involved in the management of national parks through the appropriate institutional arrangements.

Page 1 of 2 | Total Record : 17


Filter by Year

2016 2016


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2020): 2 Vol 27, No 1 (2020): 1 Vol 26, No 2 (2019): 2 Vol 26, No 1 (2019): 1 Vol 25, No 2 (2018): 2 Vol 25, No 1 (2018): 1 Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Mei Vol 24, No 1 (2017): Januari Vol 23, No 3 (2016): September Vol 23, No 2 (2016): Juli Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 3 (2015): November Vol 22, No 2 (2015): Juli Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 (2014): November Vol 21, No 2 (2014): Juli Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): November Vol 20, No 2 (2013): Juli Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 3 (2012): November Vol 19, No 2 (2012): Juli Vol 19, No 1 (2012): Maret Vol 18, No 3 (2011): November Vol 18, No 2 (2011): Juli Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3 (2010): November Vol 17, No 2 (2010): Juli Vol 17, No 1 (2010): Maret Vol 16, No 3 (2009): November Vol 16, No 2 (2009): Juli Vol 16, No 1 (2009): Maret Vol 15, No 3 (2008): November Vol 15, No 2 (2008): Juli Vol 15, No 1 (2008): Maret Vol 14, No 3 (2007): November Vol 14, No 2 (2007): Juli Vol 14, No 1 (2007): Maret Vol 13, No 3 (2006): November Vol 13, No 2 (2006): Juli Vol 13, No 1 (2006): Maret Vol 12, No 3 (2005): November Vol 12, No 2 (2005): Juli Vol 12, No 1 (2005): Maret Vol 11, No 3 (2004): November Vol 11, No 2 (2004): Juli Vol 11, No 1 (2004): Maret Vol 10, No 3 (2003): November Vol 10, No 2 (2003): Juli Vol 10, No 1 (2003): Maret Vol 9, No 3 (2002): November Vol 9, No 2 (2002): Juli Vol 9, No 1 (2002): Maret Vol 8, No 3 (2001): Desember Vol 8, No 2 (2001): Agustus Vol 8, No 1 (2001): April More Issue