cover
Contact Name
Iqmal Tahir
Contact Email
iqmal@ugm.ac.id
Phone
+628999411449
Journal Mail Official
jpe-ces@ugm.ac.id
Editorial Address
Editor Jurnal Manusia dan Lingkungan Pusat Studi Lingkungan Hidup - Universitas Gadjah Mada (PSLH - UGM) Komplek UGM, Jalan Kuningan, Jalan Kolombo, Catur Tunggal, Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Manusia dan Lingkungan
ISSN : 08545510     EISSN : 24605727     DOI : https://doi.org/10.22146/jml.30101
Jurnal Manusia dan Lingkungan is published by the Center for Environment Studies, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. The journal is focused to the relationship between people and its environment that are oriented for environmental problems solving. Jurnal Manusia dan Lingkungan receives a manuscript with interdisciplinary and multidisciplinary approach Abiotic : physical, chemical, technical, geo-environmental science and modelling science Biotic : environmental biology, ecology, agro environment Culture : environmental-socio,-economics,-culture, and environmental health.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 25, No 1 (2018): 1" : 5 Documents clear
TINGKAT EROSI DAN RANCANGAN TEKNIK KONSERVASI TANAH DAN AIR DI SUB DAS WAEWOKI, DAS AESESA KABUPATEN NGADA PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR (Erosion Level and Soil and Water Conservation Engineering Plan in Waewoki Sub Watershed, Aesesa Watershed, Ngada Regency, East Nusa Tenggara Province) Margareta Edo Dhoke; Ambar Kusumandari; Senawi Senawi
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 25, No 1 (2018): 1
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.23045

Abstract

AbstrakKajian tingkat erosi dan rancangan Konservasi Tanah-Air (KTA) telah dilakukan di Sub DAS Waewoki DAS Aesesa Kabupaten Ngada Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi tingkat erosi di Sub DAS Waewoki dan menentukan teknik KTA di Sub DAS Waewoki. Untuk memprediksi erosi, diterapkan model SWAT, dengan tahapan deliniasi DAS, pembentukan peta unit lahan, input data iklim serta data pendukung yang dibutuhkan, dan running SWAT. Dari 51 unit lahan di wilayah kajian diambil sampel tanah pada 13 titik lokasi berdasarkan GPS. Untuk merancang teknik KTA digunakan analisis klaster. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat erosi yang terjadi pada enam tahun terakhir sangat bervariasi, dari tingkat erosi sangat ringan sebesar 0,11 %, kelas ringan sebesar 1,38 % dan kelas sedang sebesar 1 %. Berdasarkan model regresi ditunjukkan bahwa faktor erosi yang paling berpengaruh di lokasi penelitian adalah kelerengan, yang signifikan terhadap kriteria probabilitas yaitu 0.05. Rancangan teknik KTA dirancang pada jarak tandan terkecil dengan jumlah kelompok klaster sebayak 5 yang memiliki klasifikasi unit lahan yang berbeda-beda. Pengklasteran unit lahan menunjukkan bahwa faktor kelerengan, penggunaan lahan dan jenis tanah merupakan faktor yang paling dominan untuk terbentuknya kelompok klaster I dan V, sedangkan untuk kelompok klaster II, III, dan IV faktor yang paling dominan adalah penggunaan lahan dan jenis tanah. Model KTA yang diterapkan pada setiap kelompok klaster adalah model vegetatif dan mekanik sesuai dengan klasifikasi yang terbentuk.AbstractThe study erosion level and Soil-Water Conservation (SWC) engineering plan was conducted in Waewoki Sub watershed, Aesesa Watershed, Ngada Regency, East Nusa Tenggara Province. This study was aimed at predicting the erosion level in Waewoki Sub watershed and determining Soil and Water Conservation engineering in Waewoki Sub watershed. To predict erosion, SWAT model was applied, with model analysis phases including watershed delineation, land unit map creation, climate data input and supporting data needed, and running SWAT. From the 51 units of land in the study area, the soil samples were collected at 13 locations using GPS. Cluster analysis was used to plan SWC engineering. The results showed that the erosion level occurred in the last six years varied widely, ranging from very mild erosion level of 0.11%, mild level of 1.38%, and medium level of 1%. The statistical test with regression model approach showed that the most influential factor of erosion in the study site was slope, which was significant to the probability criterion, i.e. 0.05. SWC engineering plan was planned in the smallest cluster distance by 5 cluster groups with different land unit classification. Land unit clustering showed that the factors of slope, land use and soil type were the most dominant factors for the formation of the cluster groups I and V, while the most dominant factors for cluster groups II, III, and IV were land use and soil type. The SWC models applied to each cluster group were vegetative and mechanical models, in accordance with the classification formed.
ANALISIS KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN TAMAN WISATA ALAM LAUT (TWAL) PULAU WEH BERDASARKAN HUKOM ADAT LAOT (Sustainability Analysis of the Marine Recreational Park (MRP) Management in Weh Island Based on Local Customary Law of the Sea (Hukom Adat Laot) Muhammad Aris; Achmad Fahrudin; Etty Riani; Efin Muttaqin
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 25, No 1 (2018): 1
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.23065

Abstract

AbstrakTaman Wisata Alam Laut (TWAL) Pulau Weh merupakan kawasan konservasi yang dikelola oleh Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Banda Aceh. TWA Laut Pulau Weh terletak di Desa Iboih dan masuk ke dalam Wilayah Hukom Adat Panglima Laot Lhok Iboih. Keberadaan Hukom Adat Laot memberikan dampak secara ekologi, sosial ekonomi, dan tata kelola TWA Laut Pulau Weh. Selain itu, sistem pengelolaan berdasarkan hukum adat dapat dijadikan rujukan dalam menyusun kebijakan atau strategi pengeloaan TWA Laut Pulau Weh ke depan. Tujuan dari penelitian ini adalah menghitung dan mengestimasi tingkat keberlanjutan pengelolaan TWA Laut Pulau Weh berdasarkan Hukom Adat Laot Lhok Iboih. Metode yang digunakan adalah multi dimensional scalling (MDS) berdasarkan tiga dimensi yaitu ekologi, sosial ekonomi dan tata kelola. Hasil analisis menunjukkan bahwa dimensi tata kelola dan sosial ekonomi berada pada kategori cukup keberlanjutan dengan indeks 59,98 dan 56,75, sedangkan dimensi ekologi berada pada kategori kurang berkelanjutan dengan indeks 46,94. Indeks dan status keberlanjutan menunjukkan bahwa, sistem pengelolaan berdasarkan Hukom Adat Laot Lhok Iboih pada dimensi tata kelola dan sosial ekonomi cukup memberikan dampak terhadap keberlanjutan pengelolaan TWA Laut Pulau Weh.AbstractMarine Recreational Park (MRP) Weh Island is a conservation area managed by Natural Resources Conservation Agency Banda Aceh. The MRP is located at Iboih village and it is also inside the area of local customary Law of the Sea Lhok Iboih. The existence of customary Law of the Sea affects the management of MRP in terms of ecology and social economy. Apart from that, the local customary management system could be used as a reference in finalizing the policy and strategy of the management of MRP Weh Island in the future. The purpose of this research is to calculate and to estimate the sustainability level of the MRP Weh Island management based on customary Law of the Sea Lhok Iboih. The method used is multi dimensional scaling (MDS) that is based on 3 dimensions i.e. ecology, social economy, and management. The analysis result indicates that the dimension of management and social economy are arguably sustainable with index 59.98 and 56.75, while the dimension of ecology falls into less sustainable level with index 46.94. The index and sustainability status indicate that the management system based on customary Law of the Sea Lhok Iboih specifically on the dimension of management and social economy influence the sustainability of MRP Weh Island management.
UJI TOKSISITAS SODIUM SIANIDA (NaCN) PADA BEBERAPA SPESIES IKAN AIR TAWAR: REVIEW (The Toxicity Test of Sodium Cyanide (NaCN) to Some Species of Freshwater Fish: A Review) Siti Muyassaroh; Indah Rahmatiah Siti Salami
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 25, No 1 (2018): 1
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.23117

Abstract

AbstrakSianida telah digunakan sebagai senyawa toksik selama beberapa dekade untuk penangkapan ikan. Pengetahuan para nelayan yang rendah dapat menyebabkan kelebihan dosis penggunaan senyawa sianida. Hal ini dapat menyebabkan kematian ikan dan bahkan kerusakan terumbu karang. Sodium sianida tidak bersifat bioakumulasi dan biomagnifikasi berdasarkan nilai Kow-nya dan sebagian besar metabolit dikeluarkan melalui urin dalam bentuk thiosianat, SCN- (60-80%), 2-aminothiazoline-4-carboxylic acid (ATCA) atau 2-iminothiazolidine-4-carboxylic acid, ITCA (15%), serta gas HCN dan CO2. Biomarker organisme yang terpapar sianida yaitu kandungan CN-, SCN-,ATCA atau ITCA pada urin dan darah; perubahan histopatologis di limpa, hepato-renal dan ginjal; penurunan aktivitas enzim katalase pada jaringan hati, insang, otak, dan otot ikan; perubahan aktivitas laktat dehydrogenase (LDH) dan suksinat dehydrogenase (SDH), tingkah laku, laju respirasi, dan metabolit (asam piruvat dan asam laktat). Akan tetapi, aktivitas enzim dan struktur histopatologis kembali normal setelah pemulihan selama 14 hari di medium bebas NaCN. Paparan NaCN juga dapat menyebabkan perubahan kecepatan renang dan durasi surfacing behavior. Konsentrasi sianida di lingkungan tidak bisa diabaikan, sebab dimungkinkan adanya efek sinergis dan juga penghambatan sistem enzim katalase, yang pada akhirnya terjadi kerentanan organisme akuatik terhadap toksisitas sianida. Labeo rohita merupakan spesies ikan air tawar yang paling sensitif terhadap paparan NaCN, dengan nilai LC50 sebesar 0,32 mg/L (tanpa melihat jenis aliran yang digunakan).AbstractCyanide has been used as a toxic compound for decades for fishing. Lack of knowledge of fishermen can lead to overdosing use of a compound. This can lead to fish kills and even damage the coral reefs. Sodium cyanide is not bioaccumulative and biomagnificative based on the value of Kow and most metabolites are excreted in the urine in the form of SCN- (60-80%), 2-aminothiazoline-4-carboxylic acid, ATCA or 2-iminothiazolidine-4-carboxylic acid, ITCA (15%), as well as HCN gas and CO2. Biomarkers organisms are exposed cyanide content of CN-, SCN-, ATCA or ITCA on urine and blood; histopathological changes in spleen, hepato-renal and kidney; decreased activity of catalase enzyme in the liver, gills, brain, and muscles of fish; lactate dehydrogenase (LDH) and succinate dehydrogenase (SDH) activity changes, behavioral, respiratory rate, and metabolites (pyruvic acid and lactic acid). However, the enzyme activity and histopathological structure back to normal after recovery for 14 days at NaCN-free medium. NaCN exposure can also cause changes in swimming speed and duration of surfacing behavior. The concentration of cyanide in the environment can not be ignored, because it is possible the existence of a synergistic effect and also the inhibition of catalase enzyme system, which eventually happened vulnerability of aquatic organisms to cyanide toxicity. Labeo rohita is a freshwater fish species are most sensitive to exposure to NaCN, with LC50 values of 0.32 mg / L (regardless of the type of flow used).
ANALISIS WILLINGNESS TO PAY PELANGGAN AIR BERSIH PDAM DI KOTA KUPANG (Analysis of Willingness to Pay Clean Water Customers of PDAM in Kupang City) Tris Mesano Talahatu; Marthen Robinson Pellokila; Johanis N. Kallau
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 25, No 1 (2018): 1
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.25875

Abstract

AbstrakPDAM Kabupaten Kupang dalam mengelola pelayanan air bersih kepada masyarakat Kota Kupang menghadapi tantangan dalam pelayanannya. Salah satu permasalahan yang dihadapi PDAM adalah menyangkut tarif air minum. PDAM dalam menetapkan tarif selalu mengacu pada peraturan perundangan yang berlaku dengan pertimbangan tarif yang ada dapat memberikan keuntungan setelah biaya operasional dan pengembalian investasi. PDAM tidak pernah melakukan survey untuk mengetahui tingkat kesediaan konsumen dalam membayar tarif air minum. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi nilai Willingness To Pay (WTP) pelanggan air bersih golongan rumah tangga di Kota Kupang dan menganalisis faktor-faktor yang secara signifikan mempengaruhi WTP pelanggan air bersih golongan rumah tangga di Kota Kupang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey deskriptif dan teknik pengambilan sampel menggunakan kombinasi antara Area Sampling dan Proportionate Random Samplingdengan 250 responden. Metode valuasi kontingensi digunakan untuk mengetahui nilai WTP pelanggan air bersih. Nilai WTP pelanggan (individu) per bulan dalam membayar air bersih sebesar Rp. 145.489,46 sedangkan nilai total WTP untuk seluruh pelanggan PDAM Kabupaten Kupang golongan rumah tangga A (Rp 20.846 konsumen) per tahun sebesar Rp 36.394.479.684,00. Faktor-faktor yang berpengaruh signifikan terhadap WTP adalah tingkat pendapatan dan jumlah pemakaian air.AbstractPDAM Kabupaten Kupang to manage clean water service always face challenges in its service. One of the problems that PDAM often faces is the tariff of drinking water. The PDAM in determining the tariff always refers to the prevailing law and regulation with the consideration of the existing tariff can give profit after the operational cost and the return of investment. PDAM has never conducted a survey to find out how much the willingness of consumers in paying drinking water rates. This study aims to estimate the value of Willingness To Pay (WTP) of household clean water subscribers in Kupang City and to analyze the factors that significantly affect the WTP of household clean water subscribers in Kupang City. The research method used is descriptive survey method and sampling technique using a combination of sampling area and proportionate random sampling with 250 respondents. Contingency valuation method is used to know the value of PAP of clean water customer. WTP value of customer (individual) per month in paying clean water Rp. 145,489.46 while the total value of WTP for all customers of PDAM Kabupaten Kupang household class A (20,846 consumers) per year amounted to 36.394.479.684,00. Factors that have significant effect on the PAP are the level of income and the amount of water consumption.
PENGELOLAAN AIR LIMBAH RUMAH POTONG HEWAN DI RPH X, KOTA BOGOR, PROVINSI JAWA BARAT (Wastewater Management of Slaughterhouse in Slaughterhouse X, Bogor City, West Java Province) Irma Lubis; Tri Edhi Budhi Soesilo; Roekmijati W. Soemantojo
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 25, No 1 (2018): 1
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.35396

Abstract

ABSTRAKAir limbah Rumah Potong Hewan (RPH) yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan masalah lingkungan dan gangguan pada masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar RPH. Sejak RPH X beroperasi pada tahun 2009, pengelolaan air limbah RPH X masih belum berjalan optimal. Hal ini dikarenakan air limbah RPH X masih dilihat sebagai materi yang tidak berguna dan dibuang. Saat ini, praktik pengelolaan air limbah RPH X dilakukan dengan menggabungkan semua air limbah kemudian air limbah tersebut diolah dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Riset ini mencoba menganalisis praktik pemotongan sapi, fasilitas RPH, pengelolaan air limbah RPH, kualitas air limbah RPH, dan dampak limbah RPH pada masyarakat. Riset ini menggunakan pendekatan metode kuantitatif dan kualitatif, melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan uji laboratorium. Hasil riset menunjukkan bahwa praktik pemotongan sapi di RPH X termasuk kategori baik, fasilitas RPH X termasuk kategori kurang sesuai dengan persyaratan, pengelolaan air limbah RPH X belum berjalan optimal, kualitas air outlet IPAL telah memenuhi baku mutu, dan dampak limbah RPH X pada masyarakat berupa gangguan bau yang dirasakan oleh 100% responden dan gangguan kesehatan berupa mual yang dirasakan oleh 41% responden. Alternatif peningkatan dalam pengelolaan air limbah RPH yang dapat dilakukan adalah minimisasi air limbah melalui segregasi dan pemanfaatan air limbah RPH.Kata kunci:    Rumah Potong Hewan, praktik pemotongan sapi, fasilitas RPH, pengelolaan air limbah RPH, kualitas air limbah RPH, dampak limbah RPH, minimisasiABSTRACTWastewater of slaughterhouse is not managed optimally can cause environmental problems and disruption to communities living around the slaughterhouse. Since slaughterhouse X operates in 2009, wastewater management of the slaughterhouse X is not managed optimally. This is because the wastewater of the slaughterhouse X is seen as useless and discarded material. Currently, the wastewater management of the slaughterhouse X is carried out by mixing all of the wastewater and then the wastewater is treated by Wastewater Treatment Plant (WWTP). This study analyzes practice of cattle slaughtering, slaughterhouse facilities, wastewater management, wastewater quality, impact of slaughterhouse waste. This study exercises quantitative and qualitative methods, through observations, interviews, questionnaires, and laboratory test. The results showed that the practice of cattle slaughtering was categorized into good, the slaughterhouse X facilities were categorized into less suitable, the wastewater management of slaughterhouse X is still not managed optimally, the wastewater quality of WWTP outlet is comply with water quality standards, and the impact of slaughterhouse waste to the communities living around the slaughterhouse is odor disruption felt by 100% of respondents and health issue are nauseous felt by 41% of respondents. An alternative to improving wastewater management of slaughterhouse is minimization through segregation and utilization of slaughterhouse wastewater.

Page 1 of 1 | Total Record : 5


Filter by Year

2018 2018


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2020): 2 Vol 27, No 1 (2020): 1 Vol 26, No 2 (2019): 2 Vol 26, No 1 (2019): 1 Vol 25, No 2 (2018): 2 Vol 25, No 1 (2018): 1 Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Mei Vol 24, No 1 (2017): Januari Vol 23, No 3 (2016): September Vol 23, No 2 (2016): Juli Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 3 (2015): November Vol 22, No 2 (2015): Juli Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 (2014): November Vol 21, No 2 (2014): Juli Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): November Vol 20, No 2 (2013): Juli Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 3 (2012): November Vol 19, No 2 (2012): Juli Vol 19, No 1 (2012): Maret Vol 18, No 3 (2011): November Vol 18, No 2 (2011): Juli Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3 (2010): November Vol 17, No 2 (2010): Juli Vol 17, No 1 (2010): Maret Vol 16, No 3 (2009): November Vol 16, No 2 (2009): Juli Vol 16, No 1 (2009): Maret Vol 15, No 3 (2008): November Vol 15, No 2 (2008): Juli Vol 15, No 1 (2008): Maret Vol 14, No 3 (2007): November Vol 14, No 2 (2007): Juli Vol 14, No 1 (2007): Maret Vol 13, No 3 (2006): November Vol 13, No 2 (2006): Juli Vol 13, No 1 (2006): Maret Vol 12, No 3 (2005): November Vol 12, No 2 (2005): Juli Vol 12, No 1 (2005): Maret Vol 11, No 3 (2004): November Vol 11, No 2 (2004): Juli Vol 11, No 1 (2004): Maret Vol 10, No 3 (2003): November Vol 10, No 2 (2003): Juli Vol 10, No 1 (2003): Maret Vol 9, No 3 (2002): November Vol 9, No 2 (2002): Juli Vol 9, No 1 (2002): Maret Vol 8, No 3 (2001): Desember Vol 8, No 2 (2001): Agustus Vol 8, No 1 (2001): April More Issue