cover
Contact Name
Ria Buana
Contact Email
Jurnal.eberspapyrus@gmail.com
Phone
+628129657508
Journal Mail Official
jurnal.eberspapyrus@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Ebers Papyrus
ISSN : 08548862     EISSN : 27981630     DOI : https://doi.org/10.24912/ep.vxxxx.xxxxx
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Ebers Papyrus adalah jurnal kedokteran dan kesehatan yang dikaji oleh pakar yang ahli dalam bidangnya. Ebers Papyrus berfokus meningkatkan wasasan dan pengetahuan ilmu kedokteran dasar, kedokteran klinis dan kedokteran komunitas dengan pendekatan Evidence-Based Medicine berupa artikel asli, studi kasus dan tinjauan pustaka. Konten Ebers Papyrus meliputi artikel-artikel terkini dalam bidang Biologi Molekuler, Histopatologi, Alergi dan Imunologi, Studi Sel Punca, Gizi, Geriatri, Farmakologi, Herbal, Infeksi dan Penyakit Tropis, Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Kesehatan Anak, Ilmu Obstetri dan Ginekologi, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Ilmu Bedah, Neurologi, Oftalmologi, Otolaringologi, Dermatovenerologi, Psikiatri, Radiologi, Forensik, Rehabilitasi Medik dan Kedokteran Olah Raga.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 16 No. 3 (2010): EBERS PAPYRUS" : 7 Documents clear
Kho Lien Kheng Andri Wanananda
Ebers Papyrus Vol. 16 No. 3 (2010): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peranan zinc dalam menurunkan lama sakit diare pada bayi dan anak Ronald Sugiono Suwandi
Ebers Papyrus Vol. 16 No. 3 (2010): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

NILAI DIAGNOSTIK SKOR KALSIFIKASI ARKUS UNTUK DETEKSI KALSIFIKASI VASKULAR PADA PASIEN DENGAN HEMODIALISIS RUTIN Eva Sian Li; Maruhum Bonar Marbun; Vanny Wulani
Ebers Papyrus Vol. 16 No. 3 (2010): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kalsifikasi vaskular pada pasien Penyakit Ginjal Kronik (PGK) dikaitkan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas kardiovaskular. Penilaian kalsifikasi vaskular dapat dilakukan dengan  pemeriksaan  pencitraan  yang canggih  sampai  yang sedehana  seperti  foto palos abdomen   lateral  dan  toto  toraks   PA.  Adanya   perbedaan demografi dan praktek klinis di setiap unit hemodialisis (HD) akan mempengaruhi  karakteristik pasien HD dengan kalsi­ fikasi vaskular. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui nilai diagnostik skor Kalsifikasi Arkus Aorta (KAA) untuk deteksi kalsifikasi vaskular pada pasien HD  rutin dan karakteristik pasien HD dengan kalsifikasi vaskular. Penelitian ini dilakukan dengan disain studi potong lintang analitik  di unit HD RS Cipto Mangunkusumo dengan metoda  pengambilan  sampel  konse­ kutif. Kalsifikasi vaskular dinilai dengan dua pemeriksaan foto toraks PA (skor KAA) dan foto palos abdomen lateral (skor Kalsifikasi Aorta Abdominalis/KAAb).  Dari 55 subjek penelitian didapatkan kalsifikasi vaskular pada 76%   subjek penelitian (71% dengan foto toraks PA, 58% dengan foto palos abdomen lateral, dan 53%  dengan  keduanya). Rerata  usia  subjek penelitian  50,9±12,4  tahun  dan  penyebab  PGK terbanyak  nefropati  diabetik  (33%).  Re­ rata  lama  HD  subjek  penelitian  43±44  bulan. Penggunaan Obat Pengikat Fosfat (OPF) terbanyak berbasis kalsium (89%) dengan rerata asupan  kalsium  dari OPF  1,3 gram/hari. Peningkatan   kejadian  kalsifikasi  vaskular didapatkan   pada  pasien  dengan  rerata  usia yang   lebih  tinggi   (53,1±11,4  vs  44,2±13,7 tahun), gender pria (62% vs 54%), diabetes melitus (33% vs 23%), lama HD lebih panjang 47±49 vs 31±20 bulan),  subjek dalam  terapi OPF berbasis kalsium   (93% vs 77%), obat hipoglikemik (26% vs 15%), anti-dislipidemia (19% vs 15%), warfarin (5% vs 2%), dan  vitamin D  (2%  vs  0%). Median  untuk  skor KAA pada   penelitian   ini  18,75%,  skor KAAb   segmental   25%,   dan  skor KAAb   gabungan 2,0. Terdapat  korelasi  positif  antara skor KAA dengan  skor KAAb  segmental  (r = 0,582;p<0,0001) dan dengan  skor KAAb gabungan (r = 0,593; p< 0,0001). Nilai Area Under Curve (AUC) skor KAA 0,815 (p< 0,0001; IK 95% 0,697-0,923)  untuk  skor KAAb  gabungan  >0. Nilai  titik  potong  skor KAA  pada  skor KAAb gabungan >0 didapatkan 9,375% dengan sensitivitas 87,5%, spesifisitas 73,9%, nilai duga positif 82,4%, dan nilai duga negatif 80,9%. Dari penelitian ini dapat disimpulkan nilai   diagnostik  skor KAA  untuk  deteksi   kalsifikasi vaskular  pada  pasien HD rutin cukup tinggi. Peningkatan kejadian kalsitikasi vaskular dida­ patkan pada pasien dengan rerata usia yang lebih tinggi, gender pria, diabetes melitus, lama HD lebih panjang, subjek  yang  dalam  terapi  OPF  berbasis  kalsium,  obat  hipoglikemik, anti-dislipidemia, warfarin, dan vitamin D.
PENATALAKSANAAN LINI PERTAMA PADA DERMATITIS ATOPIK Jennifer Idris; Linda Julianti Wijayadi
Ebers Papyrus Vol. 16 No. 3 (2010): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dermatitis atopik (DA) termasuk salah satu kelainan kulit yang paling umum terjadi pada anak -  anak, memiliki prevalensi 10% - 20% pada dekade pertama kehidupan. Derma­ tis akuta merupakan suatu kelainan inflamasi kronik dengan karakteristik berupa pruritus, morfologi dan distribusi lesi yang khas, sering rekuren, berdampak nyata pada kualitas kehidupan, dan berperan sebagai pintu gerbang menuju "atopic march" sehingga terjadi asma dan rinitis alergik. Patogenesis DA bersifat multifaktor, melibatkan mutasi gen Filag­ grin, defek fungsi sawar kulit, disregulasi imun, faktor neurogenik, dan lingkunganKeber­ hasilan penatalaksanaan lini pertama DA tercapai melalui keharmonisan dalam mengiden­ tifikasi dan mengeliminasi faktor pencetus, mempertahankan fase remisi dan mengatasi fase rekuren secara cepat, serta menanggulantgi fase rekalsitran. Perawatan kulit atopi harus menjadi dasar dari terapi DA.
TERAPI TROMBOLISIS:HARAPAN BARU PADA PENATALAKSANAAN STROKE ISKEMIK AKUT Ingrid Wijaya; Yuwono Yuwono
Ebers Papyrus Vol. 16 No. 3 (2010): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stroke iskemik merupakan penyakit yang kompleks yang merupakan salat:l satu penyebab kecacatan utama di dunia. Hal ini terjadi karena terbatasnya  pilihan terapi yang dapat di­ gunakan. Terapi trombolisis menawarkan  harapan baru dan memperbaharui penatalaksa­ naan stroke iskemik akut dalam merevaskularisasi sel-sel saraf yang mengalami iskemia untuk mencegah kerusakan lebih luas. Hal ini dilakukan dengan merekanalisasi arteri yang tersumbat  melalui penghancuran  trombus  untuk menyelamatkan jaringan otak yang me­ ngalami iskemia (penumbra). Walaupun perdarahan intrakranial merupakan risiko utaman­ ya, manfaat terapi trombolisis untuk memulihkan  keadaan fungsional penderita dalam 90 hari setelah onset stroke masih lebih besar. Selain trombolisis  intravena dengan rt-PA (IV rt-PA) yang telah direkomendasikan oleh American Heart Association,  beberapa studi ter­ kini mengemukakan berbagai  terapi endovaskular  yang dapat  meningkatkan perbaikan klinis pada beberapa penderita, baik tunggal maupun dikombinasi c;lengan IV rt-PA. Metoda revaskularisasi  berkembang  pesat.  Berbagai  kombinasi  obat-obatan,  teknologi,  metoda dan alat-alat mekanik dapat mencapai tingkat rekanalisasi yang lebih tinggi, namun ke­ mampulaksanaan, keamanan dan efektivitasnya masih dipelajari lebih lanjut.
SUPLEMENTASI SENG SEBAGAI TERAPI TAMBAHAN DIARE PADA ANAK Elni S; Wiyarni Pambudi
Ebers Papyrus Vol. 16 No. 3 (2010): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diare merupakan suatu gejala klinis yang sering dijumpai pada anak- anak, di mana sering kali tidak dapat dibedakan secara klinis berdasarkan agen penyebabnya. Diare merupakan penyebab  kematian kedua pada anak usia di bawah lima tahun di negara berkembang. Diperkirakan setiap tahunnya lebih dari 10 juta anak di bawah lima tahun di seluruh dunia dan lebih dari 3 juta di negara berkembang  meninggal  karena diare. Pemberian    larutan rehidrasi oral terbukti sejak lama dapat menurunkan angka kematian sebagai akibat lang­ sung dari dehidrasi,  namun  perlu diketahui  bahwa  penurunan  angka  k r:natian disertai penurunan  episode diare serta kejadian gizi buruk pada anak - anak yang dapat bertahan  hidup.  Penggunaan  seng dalam mengobati  diare diduga  bekerja  pada .sistem kekebalan tubuh, struktur dan fungsi usus, serta proses pemulihan epitel selama diare. Setelah lebih dari 20 tahun dilakukan penelitian yang ekstensif, suplementasi seng ditetap­ kan sebagai terapi tambahan guna untuk mengurangi  berat dan episode diare akut, serta kemungkinan infeksi ulangan dalam waktu 2 - 3 bulan setelah terapi
ANTIBIOTIKA PROFILAKSIS PADA SEKSIO SESAREA Octavia Dwi Wahyuni
Ebers Papyrus Vol. 16 No. 3 (2010): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Faktor resiko yang paling panting dalam terjadinya infeksi maternal adalah persalinan de­ ngan seksio sesarea. Permintaan  untuk seksio  sesarea akhir-akhir  ini meningkat  pesat, bahkan terkadang tanpa indikasi yang tepat dan terencana serta tanpa diimbangi dengan pelayanan  kesehatan  yang memadai.  Seksio  sesarea  rentan terhadap  infeksi yang da­ pat menimbulkan komplikasi-komplikasi. Antibiotika profilaksis untuk seksio sesarea telah menunjukkan pengurangan dalam hal angka kesakitan dari infeksi maternal pasca operasi. Penisilin (ampisislin dengan atau kombinasi dengan Sulbaktam) dan sefalosporin generasi pertama (sefazolin) merupakan  regimen antibiotika yang paling banyak dipakai dalam pe­ nelitian dan dinyatakan paling baik dan aman sampai saat ini sebagai antibiotika profilaksis dalam seksio sesarea. Beberapa penelitian menunjukkan pemberian preoperatif dengan single dose lebih baik dibandingkan multidosis antibiotika profilaksis. Hal tersebut juga se­cara langsung dapat mengurangi lama rawat inap dan secara tidak langsung mengurangi biaya kesehatan yang dikeluarkan.

Page 1 of 1 | Total Record : 7