Jurnal Audiens
Jurnal Audiens focuses on issues of media review, whether print, electronic, film, social media and new media and various on communication including: 1. Advertising, Public Relations, and Broadcasting 2. Social Media, New Media, Information Communication and Technology 3. Health Communications, Disaster Communications, Sport Communication 4. Political Communication, Political Marketing 5. Multiculturalism, Islam and Communication
Articles
15 Documents
Search results for
, issue
"Vol. 3 No. 1 (2022): March"
:
15 Documents
clear
Representasi Perempuan Jepang sebagai Standar dalam Iklan Shinzui Body Lotion Edisi Tahun 2015
Khansa Maura Syahrania;
Ria Rahma Sukmawardani;
Pindy Subaldan
Jurnal Audiens Vol. 3 No. 1 (2022): March
Publisher : Universitas Muhammdiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/jas.v3i1.11695
enelitian ini dilakukan untuk mengetahui standar kecantikan dari iklan Shinzui body lotion yang merepresentasikan kulit yang putih seperti perempuan jepang adalah kulit yang cantik. Standar kecantikan sangat menarik untuk diteliti dari representasi kecantikan yang sesungguhnya terutama yang telah dilihat oleh masyarakat Indonesia saat ini. Tujuan dari penelitian ini yaitu meneliti makna denotasi, konotasi, dan mitos yang ada dalam iklan Shinzui body lotion. Penelitian ini menggunakan teori identitas dengan menggunakan metode semiotika mengenai produksi sosial makna dari sistem tanda dari sang pakar bahasa Swiss, Ferdinand de Saussure. Analisis ini dilakukan melalui tanda-tanda iklan dari potongan adegan-adegan tersebut mengenai bagaimana representasi kecantikan dari iklan Shinzui body lotion dan membahas tagline yang bertuliskan “cantik seperti perempuan Jepang”. Berdasarkan hasil analisis, disimpulkan perempuan yang cantik adalah perempuan yang memiliki kulit putih cerah, lembut, dan harum. Seperti yang dipromosikan di iklan perempuan cenderung bersifat feminim dan anggun.
Representasi Perempuan Ideal dalam Iklan New Veet Silk & Fresh Tahun 2017
Alga Sapanca;
Muhammad Ramadan;
Pindy Subaldan
Jurnal Audiens Vol. 3 No. 1 (2022): March
Publisher : Universitas Muhammdiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/jas.v3i1.11697
Perempuan akan selalu berusaha untuk tampil cantik. Namun standar kecantikan yang berada dalam masyarakat mengharuskan perempuan cantik itu harus berkulit putih, bertubuh langsing, dan tinggi. Hal tersebut ditampilkan di berbagai media, khususnya media iklan. Metode penelitian ini menggunakan metode semiotika untuk menganalisis objek penelitian. Objek penelitian dalam penelitian ini adalah iklan New Veet Silk & Fresh tahun 2017. Objek penelitian dianalisis menggunakan semiotika Roland Barthes yang berlandaskan dari pemikiran Ferdinand De Saussure. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui representasi perempuan cantik ideal dalam iklan New Veet Silk & Fresh yang harus memiliki kulit ketiak yang putih dan mulus. Analisis dilakukan melalui tanda yang muncul dalam adegan iklan New Veet Silk & Fresh mulai dari ekspresi wajah, penggunaan pakaian, dan latar belakang yang digunakan.
Representasi Tubuh Ideal Pria dalam Iklan L-Men 2018: Men’s Guide
Jagat Senoaji;
Winanda Prasetyawan Bagaskara;
Raihan Razin B.
Jurnal Audiens Vol. 3 No. 1 (2022): March
Publisher : Universitas Muhammdiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/jas.v3i1.11743
Penelitian ini berfokus pada representasi maskulinitas yang merupakan sebagian dari komoditas tubuh laki-laki dalam iklan susu L-Men Gain Mass versi Gain Mass-Man Guide tahun 2018. Iklan L-Men 2018: Men’s Guide ini merupakan iklan susu pembentuk badan dengan seluruh pemerannya diperankan oleh pria yang bertubuh kekar. Penelitian ini menggunakan teknik analisis semiotika Roland Barthes. Hasil dari penelitian ini yaitu menunjukkan bahwa iklan ini menggambarkan bahwa laki-laki ideal adalah harus memiliki badan yang tinggi, tubuh six pack, tampan dan hidung mancung. Dalam iklan ini ada beberapa atribut pendukung yang menunjukan representasi maskulinitas dalam iklan ini yaitu mulai dari pakaian yang dikenakan seperti jas dan kemeja juga celana yang bagus dan mewah. Kemudian aktivitas olahraga yang dilakukan merupakan olahraga ekstrim yang menjadi gambaran sebuah maskulinitas.
Representasi Gerakan Politik Identitas Islam dalam Film “Sepanjang Jalan Satu Arah”
Hafiyyan Sulthon Aulia Sukmana;
Budi Dwi Arifianto
Jurnal Audiens Vol. 3 No. 1 (2022): March
Publisher : Universitas Muhammdiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/jas.v3i1.11762
Film merefleksikan keadaan sosial politik dalam dinamika kehidupan masyarakat, salah satunya melalui bentuk pendekatan representasi. Salah satu bentuk pendekatan yang biasa digunakan adalah pendekatan konstruksionis, dari bentuk ini film mampu membahasakan pemikiran sineasnya serta membawa realitas melalui layarnya dengan mengubah dan membentuk realitas tersebut berdasarkan kode-kode, konvensi-konvensi, dan ideologi dari kebudayaannya. Bentuk tersebut diaplikasikan melalui film yang menjadi objek penelitian ini, film yang berjudul “Sepanjang Jalan Satu Arah (Along the One Way)” yang membahas pergolakan gerakan Politik Identitas dalam Pilkada Surakarta 2015. Penelitian ini akan menggunakan analisis semiotika Roland Barthes dengan konsep pemaknaan tandanya (denotatif, konotatif, mitos). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui representasi gerakan politik identitas yang berlangsung selama kontestasi Pilkada Surakarta tahun 2015. Representasi tersebut dianalisis melalui proses pemaknaan teks-teks yang tercipta dalam film ini, di antaranya unsur naratif (dialog, penokohan dan alur) serta unsur sinematiknya (mise-en-scene). Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa film ini merepresentasikan gerakan politik identitas sebagai gerakan yang ‘taat’ dalam bentuk identifikasi dirinya (simbolik dan ritual), memobilisasi massa dengan retorika ‘relijius’-nya, serta menggunakan sarana ibadah sebagai pemenuhan proses politiknya.
Putih yang Ideal: Representasi Warna Kulit Perempuan dalam Iklan Kosmetik Vaseline Insta Fair Tahun 2013
Destya Arwanda;
Esa Ayu Wulandari;
Muhammad Rais Padma Saputra
Jurnal Audiens Vol. 3 No. 1 (2022): March
Publisher : Universitas Muhammdiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/jas.v3i1.11769
Sampai saat ini permasalahan mengenai warna kulit masih terus berlanjut. Kulit yang putih seringkali dijadikan standar kecantikan yang ideal untuk setiap perempuan. Hal tersebut menjadikan banyak perempuan yang ingin memiliki kulit putih Penelitian ini membahas tentang representasi warna kulit ideal perempuan dalam iklan Vaseline Insta Fair tahun 2013 yang dikatakan bahwa seorang perempuan cantik harus memiliki kulit yang putih dan cerah. Penelitian ini menggunakan metode analisis semiotika Roland Barthes. Tanda-tanda dalam iklan dikaji secara bertahap untuk mendapatkan makna pesan dan bentuk representasi dari cuplikan scene pada iklan. Berdasarkan penelitian ini, ditemukan bahwa perempuan dianggap ideal apabila mempunyai kulit yang berwarna cerah dan perempuan berkulit gelap dianggap tidak merepresentasikan standar kecantikan. Hal tersebut tidak sesuai dengan kondisi warna kulit perempuan yang ada di Indonesia. Mayoritas perempuan di Indonesia cenderung memiliki kulit kuning langsat.
Eksploitasi Sensualitas Perempuan dalam Iklan Permen Sukoka
Tsabita Rafidati;
Mila Pratika Fitri;
Shafira Aisa Fadilla
Jurnal Audiens Vol. 3 No. 1 (2022): March
Publisher : Universitas Muhammdiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/jas.v3i1.11775
Latar belakang masalah dalam penelitian ini menampilkan iklan di televisi sebagai salah satu strategi dari perusahaan atau pemilik usaha untuk mempromosikan sebuah produk, namun pada kenyataannya masih terdapat iklan televisi yang belum merepresentasikan produk itu sendiri, salah satunya yaitu iklan permen Sukoka. Strategi dalam iklan tersebut menampilkan sensualitas terhadap tubuh perempuan, dimana strategi ini merupakan sasaran utama bagi para pengiklan untuk menarik perhatian audiens yang dapat menimbulkan hasrat seksual laki – laki serta tubuh perempuan menjadi daya tarik yang memiliki nilai jual. Penelitian ini dibuat untuk menganalisis iklan permen Sukoka yang melanggar etika periklanan, dimana iklan tersebut menampilkan eksploitasi terhadap perempuan sehingga dapat mengetahui penyebab iklan tersebut mengeksploitasi sensualitas terhadap perempuan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan kajian kritis dan juga menggunakan metode semiotika untuk menganalisis obyek penelitian. Hasil dari penelitian ini yaitu iklan permen Sukoka menggunakan seorang perempuan untuk dieksploitasi sensualitasnya, dimana sensualitas ini menurut pengiklan dapat menarik perhatian audiens walaupun hal tersebut tidak ada kaitannya dengan produk yang ditawarkan.
Representasi Lelaki Ideal dalam Iklan Djarum 76 Versi Pengen Ganteng Tahun 2010
Habib Muhammad Rifqy Rais;
Cita Antariskia;
Muhammad Rajih Imanda
Jurnal Audiens Vol. 3 No. 1 (2022): March
Publisher : Universitas Muhammdiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/jas.v3i1.11793
Penelitian ini terfokus pada representasi maskulinitas dan lelaki ideal dalam iklan Djarum 76 Pengen Ganteng Tahun 2010. Iklan ini memberikan gambaran bahwa menjadi pria ideal harus memiliki tubuh yang sempurna dan penampilan yang sempurna. Maskulinitas dan lelaki ideal pada iklan ini menarik untuk diteliti mengenai pandangan lelaki ideal dari kebanyakan masyarakat terutama di Indonesia. Representasi sendiri adalah proses bagaimana kita memberi makna pada sesuatu melalui Bahasa. Tujuan dari penelitian ini yaitu bagaimana representasi lelaki ideal yang ditonjolkan pada iklan Djarum 76 Pengen Ganteng ini ditonjolkan. Penelitian pada iklan ini menggunakakan teori maskulinitas. Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode semiotika Barthes. Dengan menggunakan metode semiotika Barthes, isi pesan iklan dan bentuk pesan dapat dianalisis dengan menggunakan kombinasi dari penanda (signifier) dan petanda (signified). Analisis ini dilakukan melalui tanda-tanda iklan dari potongan adegan-adegan tersebut mengenai bagaimana maskulinitas ditonjolkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unsur maskulinitas dalam iklan Djarum 76 Pengen Ganteng cenderung direpresentasikan dengan seorang laki-laki berpenampilan sederhana yang meminta kepada jin untuk menjadi kaya raya yang kemudia terwujud. Selain itu unsur maskulinitas dan lelaki ideal juga direpresentasikan dengan seorang laki-laki dengan fisik gendur, berkulit gelap, dan bergigi maju yang meminta kepada seorang jin untuk menjadi ganteng. Akan tetapi, jin tersebut malah menertawai dan meremehkan seakan akan merendahkan laki-laki tersebut tidak akan bisa mendapat keinginannya untuk menjadi ganteng.
Stereotipe Perempuan Muslim sebagai Ibu Rumah Tangga dalam Iklan So Klin Pemutih versi “Ramadhan”
Nida Amalia Aristya;
Venta Ridha Faidaty
Jurnal Audiens Vol. 3 No. 1 (2022): March
Publisher : Universitas Muhammdiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/jas.v3i1.11803
Produk pemutih pakaian So Klin merupakan pemutih pakaian yang mempromosikan produknya melalui beragam macam media, salah satunya media televisi. So Klin Pemutih ini membuktikan bahwa setiap pakaian putih dicuci menggunakan pemutih untuk menghilangkan noda membandel, namun persoalan mencuci pakaian kerap kali dilakukan oleh perempuan atau ibu rumah tangga, serta perempuan yang mengenakan pakaian dan hijab yang serba putih distereotipekan sebagai kaum muslimah. Hal ini dibuktikan dengan baju putih tertutup yang dikenakan oleh umat muslim saat hari Raya Idul Fitri pada iklan So Klin Pemutih versi “Ramadhan”. Melalui metode semiotik ditemukan bahwa Pada hari Raya Idul Fitri perempuan muslim banyak yang mengenakan pakaian serba putih, hal ini dimaknai warna putih melambangkan kesucian dan orang muslim pada saat hari Raya Raya Idul Fitri identik dengan kembali ke fitri atau suci kembali. Maka penelitian ini hanya akan berfokus membahas mengenai stereotype peran ibu rumah tangga dalam iklan So Klin Pemutih versi Ramadhan.
Putih sebagai Kulit Ideal: Representasi Warna Kulit Perempuan Ideal dalam Iklan Dove Body Wash Tahun 2017
Zainul Aden;
Dimas Dewas Syaputra;
Dihan Ervatamia Diva Rigata
Jurnal Audiens Vol. 3 No. 1 (2022): March
Publisher : Universitas Muhammdiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/jas.v3i1.11806
Sebagai sarana promosi yang relatif sering digunakan, iklan merupakan media yang tepat untuk menawarkan suatu produk baik barang maupun jasa. Bentuk iklan di era sekarangpun telah bermacam-macam. Iklan akan menunjukkan keunggulan suatu produk tertentu yang mana di era sekarang produsen juga menyisipkan nilai-nilai tertentu yang menunjang daya tarik pembeli. Dalam prakteknya, sisipan nilai ini ternyata tidak semuanya bisa diterima oleh masyarakat. Iklan Dove yang dipublikasikan pada tahun 2017 merupakan salah satunya. Di tengah isu rasis yang tengah menjadi perbincangan hangat hampir di seluruh lapisan masyarakat serta keinginan untuk mendobrak standar kecantikan, Dove justru membuat iklan yang diasumsikan memuat nilai yang mendukung rasisme. Iklan inipun kemudian dikecam. Hal ini karena masyarakat beranggapan jika beberapa adegan dalam iklan tersebut adalah sebuah bentuk perbuatan rasisme. Utamanya karena dalam iklan tersebut seolah menggiring bahwa orang yang berkulit putih (yang dapat dihasilkan dengan menggunakan produk ini), jauh lebih menarik. Menggunakan metode penelitian semiotik, peneliti akan menemukan, mengungkapkan dan menganalisis sejauh mana makna yang dihasilkan dari hubungan struktural pada sistem tanda apa pun yang ditampilkan dalam suatu iklan, serta bagaimana reaksi masyarakat atas hal tersebut.
Representasi Ayah Ideal dalam Iklan Asuransi MetLife Versi “My Dad's Story Dream for My Child” Tahun 2015
Muhammad Daffa Uddin Alhaq;
Muhammad Humam Yassar Al-Wafi;
Said Zaidaan Firstiansyah
Jurnal Audiens Vol. 3 No. 1 (2022): March
Publisher : Universitas Muhammdiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/jas.v3i1.11819
Sosok ayah memiliki peran penting di dalam keluarga. Fenomena tersebut diambil oleh Metlife dalam iklannya, yang merepresentasikan seperti apa gambaran ayah yang ideal. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji representasi sosok ayah ideal yang ditunjukkan di dalam iklan asuransi Metlife. Penelitian ini menggunakan teori representasi yang bermakna sebagai proses di mana praktik penandaan tampak untuk berdiri atau mewakili objek atau praktik lain di dunia nyata. Lalu teori idealitas ayah dalam pengasuhan anak yang digambarkan dengan pernyataan yang ada, yaitu ayah direpresentasikan perannya sebagai orang yang secara efektif mencirikan kegiatan untuk membantu tumbuh kembang anak-anak mereka. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode semiotika Roland Bsrthes. Setelah mengiterpretasikan serta mengkaji iklan MetLife mengenai respresentasi ayah ideal, dengan demikian kami memperoleh hasil bahwa representasi ayah yang ideal yang digambarkan dalam iklan tersebut adalah penghibur, penyayang, dan juga bertanggung jawab atas kebahagiaan anaknya.