Al'Adalah
This journal aims to publish original research articles on Islam and Muslims, especially Islamic thoughts, doctrines, and practices oriented toward moderation, egalitarianism, and humanity. The journal articles cover integrated topics on Islamic issues, including Islamic philosophy and theology, Islamic culture and history, Islamic politics, Islamic law, Islamic economics, and Islamic education, engaging a multidisciplinary and interdisciplinary approach. Therefore, this journal receives original research articles from any country and region concerned with Islam and Muslim.
Articles
22 Documents
Search results for
, issue
"Vol. 14 No. 2 (2011)"
:
22 Documents
clear
INTEGRASI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI KEGIATAN PEMBELAJARAN
Sahlan
Al'Adalah Vol. 14 No. 2 (2011)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Ada indikasi kuat mengenai tercerabutnya nilai-nilai luhur bangsa kita, seperti kesantunan, kejujuran, kebersamaan dan lain-lainnya, sehingga muncullah antara lain kasus tawuran pelajar dan mahasiswa, perjokian, penyuapan, markus, korupsi. Semua itu menggambarkan kegagalan pendidikan kita dalam membangun karakter bangsa. Ini sebagai bukti bahwa selama ini ada kecendenmgan masyarakat maupun sekolah hanya sekadar memacu peserta didiknya untuk memiliki kemampuan akademik tinggi, tapi mengabaikan hal-hal yang non akademis dan tanpa diimbangi pembentukan karakter yang kuat dan cerdas. Oleh karena itu, pendidikan karakter mendesak untuk segera mendapat perhatian serius, yang salah satunya dengan cara menanamkan nilai-nilai luhur tersebut melalui kegiatan pembelajaran di setiap satuan pendidikan.
PERSPEKTIF INSIDER DAN OUTSIDER DALAM STUDI AGAMA: SUATU REFLEKSI ATAS PANDANGAN KIM KNOTT
Al'Adalah Vol. 14 No. 2 (2011)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kajian terhadap agama tak lagi melulu menyangkut soal kepercayaan dan ritus individual pemeluknya. Sebagai sebuah sistem kepercayaan, sisi histroris dan sosiologis menjadi bagian tak terpisahdarinya. Karenanya, menjadi absah, manakala keberagamaan manusia menjadi subyek kajian dalamberagam sudut pandang.Salah satu isu penting dalam studi agama adalab soal posisi pengkaji agama; apakah agama hanya bisa dikaji oleh insider, atau ia juga memberi ruang kepada yang di luar penganutnya, outsider?. Di sini, Kim Knott berupaya memetakan kajian agama, baik oleh insider maupun outsider. Dalam penelitiannya, ia berhasil mengklasifikasi empat kelompok besar dalam studi agama, yaitu; complete participant, participant as observer, observer as participant dan complete observer.
REFORMULASI EPISTEMOLOGI AL-JABIRI: SEBUAH TAWARAN MODEL INTEGRATIF-INTERKONEKTIF
Al'Adalah Vol. 14 No. 2 (2011)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kebidupan keagamaan kontemporer menawarkan dua pilihan kepada kita; islamis dan sekuler. Memilih sebagai islamis membawa kita kepada pada posisi sebagai “makhluk asing” dalam kehidupan saat ini dan (berpeluang) tergerus zaman, sedangkan pilihan satunya, “sekuler” memang memungkinkan membuat kita secara sosial relevan dengan zaman kontemporer, tetapi pada saat yang sama, timbul konflik batin, goncangan iman, dan kian merasa berjarak dari Islam, sebagai jalan dan keyakinan. Kondisi ini menyebabkan beberapa pemikir Muslim kontemporer terus berusahan dan mencoba menawarkan solusi alternatif. Salah satunya, memanfaatkan kerangka teori dan metodologi yang digunakan oleh ilmu-ilmu sosial dan humaniora yang berkembang sekitar abad ke-18 dan 19. Filsafat Ilmu ala Barat (Rasionalisme, Empirisisme, dan Pragmatisme) dianggap kurang relevan untuk dijadikan sebagai kerangka teori dan analisis terhadap pasang-surut dan perkembagan studi Islam, sehingga diperlukan perangkat kerangka analisis epistemologis yang khas untuk pemikiran Islam. Konsep epistemologi filsafat ilmu yang ditawarkan oleh M. Abid al-Jabiri; episteme Bayani, Irfani dan Burhani menjadi sebuah keniscayaan untuk didesakkan, diterjemahkan, dan diaplikasikan dalam dunia nyata.
REINTERPRETASI DOKTRIN DAN DIALOG: SEBUAH RESPONS ATAS GERAKAN SALAFI GLOBAL
Al'Adalah Vol. 14 No. 2 (2011)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Problem mendasar dalam proses pengajaran studi Islam di UIN, IAIN, dan STAIN, juga perguruan tinggi berbasis ilmu-ilmu keislaman lainnya adalah menyangkut persoalan metodologi pengkajian Islam itu sendiri. Selama ini para pengajar “terbaca” sehagai pihak yang kurang memahami dengan baik persoalan metodologi dimaksud. Boleh jadi, eksplorasi matakuliah-matakuliah tertentu--cabang-cabang keilmuan Islamic studies sudah mendetail, namun asumsi-asumsi dasar dan kerangka teori yang digunakan oleh bangunan keilmuan tersebut lepas begitu saja. Penyebab utamanya adalah kegagalan penguasaan atas metodologinya, Sudah barang tentu, implikasi dan konsekuensi pada lokus praksis yang dimungkinkan bahkan dicanangkan oleb cabang-cabang keilmuan itu terlepas pula begitu saja. Atau dalam arti lain, kajian atas studi keislaman menjadi sesuatu yang normatif, utopis--tidak menjejak, Akibat dari pola baca yang sekadar puas menikmati kulit dan membuang isi tersebut menyebabkan “seolah-olah” terjadi inkompatibilitas antara Islam dengan sekian unsur modernitas (Misalnya; isu-isu perempuan, hak asasi manusia, kebebasan beragama, dan pluralisme).
PERSENYAWAAN TEKS DAN KONTEKS DALAM PENAFSIRAN AL-QUR’AN: SUATU PENDEKATAN SEMIOTIKA
Al'Adalah Vol. 14 No. 2 (2011)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Sebagai mu’jizat terbesar yang diberikan kepada Nabi SAW, al-Qur’an memiliki tingkat akurasi gaya bahasa yang sangat tinggi, sekaligus membuktikannya bahwa ia sudah dipersiapkan untuk menyapa manusia dengan ssgala karakteristik sosiologisnya. Dan kini seiring dengan perputaran waktu, pun realitas sosial yang dihadapi oleh kaum muslimin, tidak lagi sesederhana seperti saat kali pertama al-Qur’an diturunkan. Realitas hari ini menuntut manusia untuk lebih jeli dalam membaca pesan-pesan teologis-normatif yang terkandung dalam al-Qur’an. Hal ini tidak sedikitpun berupaya mengkerdilkan posisi al-Qur’an, terlebih dapat dibongkar pasang sesuai dengan keinginan dan kepentingan. Namun, upaya ini tidak lebih dan sebuah tradisi keilmuan sebagai upaya mengkaji lebih dalam makna yang terkandung dalam al-Qur’an. Lebih-lebih kemudian, ternyata, pemahaman al-Qur’an melalui penafsiran tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan teks semata tapi juga harus dilakukan dengan melakukan refleksi konteks. Dan pendekatan semiotika dapat menjadi suatu alternatif untuk membangun persenyawaan teks dan konteks dalam penafsiran al-Qur’an.
FALSAFAH KALAM: LINGKARAN TAFSIR ANTARA BAHASA, PEMIKIRAN DAN SEJARAH DALAM ILMU KALAM
Al'Adalah Vol. 14 No. 2 (2011)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Ilmu Kalam atau Teologi Islam, sebagai salah satu kluster keilmuan Islam tidak lain adalah produk pemikiran dalam lingkup sosial budaya tertentu. Oleh karena itu, segala sesuatu yang muncul secara verbal yang berkaitan dengannya tidak sendirinya selalu tepat ditemukan saat ini. Pemikiran demikian ini tidak lain adalah untuk memberikan makna secara substantif dan fungsional terhadap ajaran agama, lebih khusus ilmu Kalam. Dengan sedikit membongkar pemahaman lama itu, agama, melalui doktrin dan ajarannya akan mampu menjawab masalah-masalah kehidupan yang terasa mulai mengancam eksistensi kemanusiaan saat ini. Agama lahir dan ada, baik dalam pengertian diturunkan oleh Tuhan maupun diciptakan oleh manusia bukan untuk kepentingan Tuhan, topi unluk kepentingan manusia dan kehidupannya sendiri. Oleh karenanya, kurang tepat kalau kemudian agama hanya digunakan sebagai tempat sembunyi dari persoalan real yang dibadapi manusia, tetapi harus digunakan senjata untuk mengangkat derajat kemanusiaan, sekaligus melawan rintangannya.
MENELUSURI JEJAK FILSAFAT YUNANI MENUJU DUNIA ISLAM
Al'Adalah Vol. 14 No. 2 (2011)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Filsafat pada umumnya, yang berkembang di dunia hingga saat ini diketahui berasal dari Yunani. Akan tetapi mata rantai penyebarannya dari zaman klasik hingga zaman modern seringkali tidak diketahui, dikarenakan hampir semna sumber yang menampilkan sisi historis transmisi filsafat kurang memperbatikan kesinambungan mata rantainya. Seakan filsafat itu bermula dari Yunani klasik berkembang ke abad pertengaban lalu memasuki masa renaisans dan hadirlah abad modern.Bahwa Dunia Islam telah terbukti menjadi faktor penting pelestarian dan kesinambungan warisan intelektual Yunani, khususnya filsafat, hingga abad pertengahan yang pada gilirannya menjadi modal bagi lahirnya zaman modern. Perkembangan dan penyebaran filsafat Yunani ke Dunia Islam tidak secara langsung melainkan secara alamiah melalui beberapa tahap, bersamaan dengan dinamika masyarakatnya. Hal periting dalam pelestarian warisan Yunani itu adalah adanya gerakan ilmu yang disokong oleh penguasa politik, yakni para khalifah Islam, dengan adanya institusi keilmuan khususnya Bayt al-Hikmab di zaman kekuasaan Abbasiyah. Usaha penting yang berpengaruh adalah aktivitas penerjemahan, penyuntingan, serta pengulasan karya-karya filosof, sehingga menjadi sebuah karya baru.
ISLAM DEMOKRASI DAN PLURALISME: TELAAH TERHADAP ISLAM MODERAT DI INDONESIA
Al'Adalah Vol. 14 No. 2 (2011)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Ketika masyarakat menggunakan kata demokrasi, mereka acapkali memaknai dengan hal-hal yang berbeda, bahkan tidak jarang malah kontradiktif. Jika demokrasi berarti persamaan yang formal di hadapan hukum, maka hal itu bukan hanya sesuai dengan Islam, bahkan jika kita melihat catatan sejarah, Islamlah agama yang memperkenalkan konsep persamaan dihadapan hukum secara formal dimuka bumi. Demokrasi dan pluralisme memiliki daya tarik yang sangat luar biasa. Semakin banyak dibicarakan, semakin menarik dan tak ada habis-habisnya. Sepintas ia seolah bersifat elitis, tapi semakin dalam kita menyelami semakin tahu bahwa ia adalah kehidupan kita sendiri. Itu sekarang dikenal dengan sebutan “living democracy and pluralism”. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa demokrasi dan pluralisme merupakan produk pemikiran manusia yang paling cerdas.
KONSTRUKSI PEMIKIRAN REFORMASI ISLAM AHMAD SURKATI
Al'Adalah Vol. 14 No. 2 (2011)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Syeh Ahmad Surkati adalah tokoh utama berdirinya Jam’iyah al-Islah wa al-Irsyad al-Arabiyah kemudian berubah menjadi Jam’iyat al-Islah wal Irsyad al-Islamiyyah, sekarang menjadi al-lrsyad al-Islamiyyah atau disingkat dengan nama Al-Irsyad. Banyak ahli sejarah mengakui perannya yang besar dalam pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia, namun sayang namanya tak banyak disebut dalam wacana sejarah pergulatan pemikiran Islam di Indonesia. Pemikiran Ahmad Surkati dalam kerangka tajdid di bidang keagamaan mengemukakan konsep Kafa ‘ah dan Musawah yang merupakan perlawanan Ahmad surkati terhadap diskriminasi keturunan Arab Alawi dan non Alawi. Juga Mabadi al-Irsyad yakni perlawanan Ahmad Surkati terhadap praktik-praktik beragama yang menyimpang serta heterodoks, yang dipengaruhi animisme, Hindu, dan Budha. Serta pentingnya pendidikan bagi peningkatan kualitas imaniyah dan insaniyah.
ISLAM DI JAWA: KASUS DI MATARAM DAN KARTASURA
Al'Adalah Vol. 14 No. 2 (2011)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Perkembangan Islam di Jawa pada masa Kerajaan Mataram dan Kartasura menampilkan corak yang berbeda apabila dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Hal itu ditandai dengan kentalnya teosofi kejawen berpadu dengan unsur-unsur budaya Islam. Pada masa ini raja dianggap sebagai simbol penata agama seperti gelar pada sultan Agung. Istana menjadi pusat reproduksi ajaran Islam yang dikemas dalam bentuk serat dan suluk. Pada, masa dua kerajaan inilah berkembang tradisi penulisan serat atau suluk yang digubah dan disesuaikan dengan agama Islam dan bahkan mengadaptasi cerita- cerita dan khazanah Islam yang ada di dunia luar Mataram dan Kartasura.