cover
Contact Name
Nurmalia Habibah
Contact Email
jurnal.fib@ugm.ac.id
Phone
+62274513096
Journal Mail Official
arnawa.journal@gmail.com
Editorial Address
Javanese Language, Literature, and Culture Program, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada Sosiohmaniora 3 St. Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta, Indonesia. 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Arnawa
ISSN : -     EISSN : 30317657     DOI : https://doi.org/10.22146/arnawa
Arnawa is an intellectual sanctuary dedicated to unraveling the intricate layers of Javanese identity through the lenses of language, literature, and culture. Nestled within the cultural heartland of Java, this journal serves as a vibrant forum for the exchange of scholarly discourse, fostering a profound understanding of the diverse facets that define Javanese existence. Arnawa is a biannual publication of the Javanese Language, Literature and Culture Study Program, Faculty of Cultural Sciences at Gadjah Mada University, released in June and December each year. We extend an open invitation to scholars and practitioners alike, encouraging active participation in the vibrant exchange of ideas, insights, and research. This collaborative endeavor seeks to enrich our collective comprehension of the nuanced facets that characterize the world of Javanese culture.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 2 (2025): Edisi 2" : 10 Documents clear
Objektifikasi Perempuan dalam Legenda Makam Ratu Mas Malang: Kajian Sastra Feminis Khoirunnisa, Alfi Nur
Arnawa Vol 3 No 2 (2025): Edisi 2
Publisher : Javanese Language, Literature, and Culture Study Program, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/arnawa.v3i2.24866

Abstract

The legend of the Tomb of Ratu Mas Malang is one of the oral stories that developed among the people of Pleret, Bantul, DIY. The story contains the origin of the tomb of Ratu Mas Malang, which is also related to the reign of Islamic Mataram under the leadership of Amangkurat I. This research aims to analyze the position of women in the legend of the Tomb of Ratu Mas Malang through a feminist lens, focusing on the forms of women's objectification. This research is qualitative, with data collected through field observation, interviews, listening, and note-taking. The results of this study show that the objectification of women in the story of Ratu Mas Malang is the result of layered repression from the king and men in power as active subjects. The forms of objectification of women are seen in various actions. First, women are still seen as tools to fulfil men's desires based on physical form, reproductive ability, and usefulness in the political sphere. Second, women's agency in the story is reduced through the narrative. Third, the response of the community still tends to view women in terms of their beauty and believes stereotypes about women as a nuisance. On the other hand, the legend of the Tomb of Ratu Mas Malang also opens public awareness that oral literature positions women as mere objects. === Legenda Makam Ratu Mas Malang merupakan salah satu cerita lisan yang berkembang di masyarakat Pleret, Bantul, DIY. Cerita tersebut memuat asal-usul makam Ratu Mas Malang yang juga berkaitan dengan masa pemerintahan Mataram Islam di bawah kepemimpinan Amangkurat I. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis posisi perempuan dalam legenda Makam Ratu Mas Malang melalui pendekatan feminisme dengan fokus bahasan, yaitu bentuk-bentuk objektifikasi perempuan. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan teknik pengambilan data melalui observasi lapangan, wawancara, menyimak, dan mencatat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa objektifikasi perempuan dalam cerita Ratu Mas Malang merupakan akibat dari represi berlapis dari raja dan laki-laki yang berkuasa sebagai subjek aktif. Bentuk-bentuk objektifikasi perempuan terlihat dalam berbagai tindakan. Pertama, perempuan masih dipandang sebagai alat untuk memenuhi keinginan laki-laki yang didasarkan pada bentuk fisik, kemampuan reproduksi, dan kegunaan dalam ranah politik. Kedua, agensi perempuan dalam cerita direduksi melalui narasi yang disampaikan. Ketiga, respons masyarakat masih cenderung memandang perempuan dari segi kecantikannya dan mempercayai stereotip tentang perempuan sebagai gangguan. Di sisi lain, legenda Makam Ratu Mas Malang juga membuka kesadaran masyarakat bahwa sastra lisan tersebut memosisikan perempuan sebagai objek belaka.
Fungsi dan Struktur Mantra Pengobatan Sakit Perut di Desa Jomboran Kecamatan Wuryantoro Kabupaten Wonogiri Provinsi Jawa Paranti, Paranti
Arnawa Vol 3 No 2 (2025): Edisi 2
Publisher : Javanese Language, Literature, and Culture Study Program, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/arnawa.v3i2.25820

Abstract

This study aims to examine the structure and function of a stomachache healing mantra used by the community of Jomboran Village, Pulutan Wetan, Wuryantoro District, Wonogiri Regency, Central Java. The material object of this research is the oral utterance of the healing mantra as performed by a traditional practitioner within the context of healing practices. This study employs a qualitative approach with a descriptive method and applies a literary structuralism approach, specifically poetic structuralism, contextualized within oral literature. Data were collected through observation, in-depth interviews, and audio recording of the mantra utterances, which were subsequently transcribed and analyzed. The analysis focuses on the structural elements of the mantra, including sound patterns (assonance, alliteration, and rhyme), diction, and concrete words, while also considering the context of performance and the ritual function of the mantra as a performative oral text. The results indicate that the stomachache healing mantra possesses a poetic structure built through repetition, rhythm, and harmonious sound patterns that function to strengthen its suggestive power and magical effect. The diction and concrete words used emphasize elements of spirituality and healing symbolism. The functions of the mantra include healing, spiritual, psychological effects, and the preservation of local cultural traditions. The novelty of this study lies in its examination of healing mantras as performative oral literature by integrating poetic structural analysis with ritual function based on oral data from a local context in which the number of practitioners is increasingly limited. === Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji struktur dan fungsi mantra pengobatan sakit perut yang digunakan oleh masyarakat Desa Jomboran, Pulutan Wetan, Kecamatan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Objek material penelitian ini adalah tuturan mantra pengobatan yang dituturkan oleh penutur dalam konteks praktik pengobatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, serta menerapkan pendekatan strukturalisme sastra dalam pengertian strukturalisme puitik yang dikontekstualkan pada sastra lisan. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan perekaman tuturan mantra, yang selanjutnya ditranskripsikan dan dianalisis. Analisis dilakukan dengan mengkaji unsur-unsur struktur mantra, meliputi bunyi (asonansi, aliterasi, dan rima), diksi, serta kata konkret, dengan tetap mempertimbangkan konteks penuturan dan fungsi ritual mantra sebagai teks performatif lisan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mantra pengobatan sakit perut memiliki struktur puitik yang dibangun melalui pengulangan, ritme, dan keharmonisan bunyi yang berfungsi memperkuat daya sugestif dan efek magis. Diksi dan kata konkret yang digunakan menegaskan unsur spiritualitas dan simbol penyembuhan. Fungsi mantra meliputi fungsi penyembuhan, fungsi spiritual, efek psikologis, serta fungsi pelestarian tradisi budaya masyarakat setempat. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengkajian mantra pengobatan sebagai sastra lisan performatif yang mengintegrasikan analisis struktur puitik dan fungsi ritual berbasis data tuturan lisan dari konteks lokal yang penuturnya semakin terbatas.
Decoding Text, Shaping Data: A Digital Study of the Keywords Walandi and Pakêmpalan in Kadjawen magazine 1927–1931 Suryani, Sri
Arnawa Vol 3 No 2 (2025): Edisi 2
Publisher : Javanese Language, Literature, and Culture Study Program, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/arnawa.v3i2.25848

Abstract

This study presents a linguistic analysis and an examination of political discourse in the Javanese-language magazine Kadjawen, published during the Dutch colonial period from 1927 to 1931. This study is exploratory in nature and has been elaborated using a Digital Humanities approach, with an emphasis on a conceptual orientation towards discourse analysis related to the relationship between language, power, and colonialism. This study also applies digital text analysis methods, such as frequency and concordance analysis, with a primary focus on investigating the occurrence and contextual proximity of two keywords: Walandi “Dutch” and pakêmpalan “association” or “organisation”, which are scattered throughout the text corpus. The data was taken from the freely accessible digital edition of Kadjawen on the website sastra.org. There were a total of 201 texts as raw data, which were then converted to plain text format and analysed using Python and Voyant Tools. The results of the analysis show that despite being subject to colonial restrictions and rules, Kadjawen displayed linguistic strategies that reflected the negotiation between Javanese cultural identity and Dutch colonial power, as well as its involvement in the national discourse that developed in the late 1920s. === Penelitian ini memaparkan kajian wacana linguistik dan diskursus politik di dalam majalah berbahasa Jawa Kadjawen yang terbit pada masa kolonial Belanda, dari periode 1927 hingga 1931. Penelitian bersifat eksploratif dan telah dielaborasikan dengan pendekatan humaniora digital, menekankan orientasi konseptual terhadap kajian wacana terkait relasi antara Bahasa, kekuasaan, dan kolonialitas. Selanjutnya, penelitian menerapkan metode analisis teks digital, khususnya analisis frekuensi dan konkordansi, dengan fokus utama melakukan penelusuran atas kemunculan serta kedekatan kontekstual dua kata kunci, yaitu Walandi “Belanda” dan Pakêmpalan “perkumpulan” atau “organisasi”, yang tersebar di dalam korpus teks. Data diambil dari edisi digital Kadjawen yang bebas akses di situs sastra.org. Terdapat total 201 teks sebagai data mentah yang kemudian dikonversi ke format plain teks, kemudian dianalisis menggunakan Python serta Voyant Tools. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meski berada di dalam batasan serta aturan kolonial, Kadjawen menampilkan strategi kebahasaan yang merefleksikan adanya negosiasi antara identitas kultural Jawa dengan kekuasaan kolonial Belanda serta keterlibatannya terhadap wacana kebangsaan yang berkembang pada akhir 1920-an.
Representasi Lingkungan Hidup dalam Geguritan Ĕnggung: Kajian Ekologi Sastra Wardana, I Wayan Kasu
Arnawa Vol 3 No 2 (2025): Edisi 2
Publisher : Javanese Language, Literature, and Culture Study Program, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/arnawa.v3i2.26216

Abstract

This study examines how the natural environment is represented in Geguritan Ĕnggung, a traditional Balinese literary work. Geguritan Ĕnggung highlights the harmonious relationship between humans and nature. The main goal of this research is to reveal the ecological values embedded in traditional Balinese literature, which remain relevant for environmental preservation. The study uses a descriptive qualitative method with an ecocritical (literary ecology) approach. Primary data is the Geguritan Ĕnggung text, transliterated from Balinese to Latin script and translated into Indonesian. Secondary data comes from related literature. Data collection involved documentation and note-taking. Content analysis was used to identify, classify, and interpret ecological symbols in the text. Results show Geguritan Ĕnggung represents the environment through fauna and nature. Animal characters are personified as humans, while natural settings—such as rice fields, rivers, mountains, and the sea—symbolize balance and harmony. The work illustrates nature's beauty and stresses the moral value of environmental preservation. Geguritan Ĕnggung reflects Balinese society's ecological awareness and serves as a medium for instilling a love of nature through local wisdom. === Penelitian ini membahas representasi lingkungan hidup dalam Geguritan Ĕnggung, salah satu karya sastra Bali tradisional yang merefleksikan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Alasan utama penelitian ini dilakukan adalah untuk mengungkap nilai-nilai ekologis yang tersirat dalam karya sastra tradisional Bali yang hingga kini masih relevan dalam konteks pelestarian lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan ekologi sastra. Data utama berupa teks Geguritan Ĕnggung yang telah dialihaksarakan dari aksara Bali ke aksara Latin dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sedangkan data sekunder diperoleh dari kajian pustaka yang relevan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi dan teknik catat, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi dengan tahapan identifikasi, klasifikasi, dan interpretasi terhadap simbol-simbol ekologis dalam teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Geguritan Ĕnggung merepresentasikan lingkungan hidup dalam dua aspek utama, yaitu aspek hewan dan aspek alam. Aspek hewan tercermin melalui tokoh-tokoh hewan yang dipersonifikasikan layaknya manusia, sedangkan aspek alam direpresentasikan melalui penggunaan latar seperti sawah, sungai, gunung, dan laut yang berfungsi sebagai simbol keseimbangan kehidupan. Dengan demikian, Geguritan Ĕnggung menjadi karya sastra yang mencerminkan kesadaran ekologis masyarakat Bali serta relevan sebagai media edukatif dalam menanamkan nilai cinta alam melalui kearifan lokal.
Pandangan Awal: Tiga Konsep Ajaran Masyarakat Pegunungan dalam Teks Kidung Subrata Purnama, Prastowo Budi
Arnawa Vol 3 No 2 (2025): Edisi 2
Publisher : Javanese Language, Literature, and Culture Study Program, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/arnawa.v3i2.26307

Abstract

This article presents a philological study of Kidung Subrata (manuscript code L304 Peti 71 Roll 855/1), a Merapi–Merbabu scriptorium manuscript held by the National Library of Indonesia. Written on a frontal leaf in Buda script, the text belongs to the sisya lělana genre, narrating a protagonist’s journey of learning religious teachings in pursuit of spiritual perfection. Building on the author’s earlier research that examined bayu–śabda–hiḍěp, the present study extends the analysis by adding two further doctrinal concepts, oṅkāra and bañcana, as part of an initial mapping of nine teachings identified across the text. The research procedure consists of: (1) locating and selecting relevant textual fragments, (2) presenting a Latin transliteration based on a cleaned reading to avoid misleading spellings, (3) translating the passages into Indonesian, and (4) conducting content analysis supported by textual comparison with roughly contemporaneous sources (e.g., Sang Hyang Kamahāyanikan, Dharmapatañjala, and Bhima Svarga). The findings suggest that oṅkāra is framed as a generative principle of mystical syllables (leading to tryakṣara and pañcākṣara), bayu–śabda–hiḍěp functions as an integrated scheme of disciplined energy, speech, and mind for yogic practice, while bañcana is conceptualised as danger or deception arising from desire and attachment to material elements. Overall, the text conveys esoteric teachings through concise and symbolic formulations, making comparative reading essential for reconstructing its pedagogical framework. === Kajian ini merupakan kajian filologi menggunakan objek material naskah skriptorium Merapi-Merbabu yang berjudul Kidung Subrata dengan kode naskah L304 Peti 71 Rol 855/1. Naskah ini merupakan salah satu naskah koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Kidung Subrata ditulis menggunakan bahan material daun lontar atau rontal dan beraksara Buda. Teks ini memiliki genre Sisya Lelana atau cerita sastra yang berisikan perjalanan suatu tokoh dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan dalam rangka mencari kesempurnaan hidup. Dalam penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh penulis, teks Kidung Subrata berisikan konsep-konsep pengajaran Sivaisme. Dipenelitian sebelumnya, penulis menganalisis satu konsep pengajaran tersebut, yaitu bayu-śabda-hiḍěp. Untuk kajian saat ini, penulis menambahkan dua analiss konsep, yaitu konsep oṅkāra dan bañcana. Metode yang dilakukan adalah menggunakan hasil transliterasi edisi diplomatik dilanjutkan dengan menganalisis konsep-konsep tersebut dengan cara mengalihbahasakan dan mencari sumber pembanding untuk mempermudah analisis.
Objektifikasi Perempuan dalam Legenda Makam Ratu Mas Malang: Kajian Sastra Feminis Khoirunnisa, Alfi Nur
Arnawa Vol 3 No 2 (2025): Edisi 2
Publisher : Javanese Language, Literature, and Culture Study Program, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/arnawa.v3i2.24866

Abstract

The legend of the Tomb of Ratu Mas Malang is one of the oral stories that developed among the people of Pleret, Bantul, DIY. The story contains the origin of the tomb of Ratu Mas Malang, which is also related to the reign of Islamic Mataram under the leadership of Amangkurat I. This research aims to analyze the position of women in the legend of the Tomb of Ratu Mas Malang through a feminist lens, focusing on the forms of women's objectification. This research is qualitative, with data collected through field observation, interviews, listening, and note-taking. The results of this study show that the objectification of women in the story of Ratu Mas Malang is the result of layered repression from the king and men in power as active subjects. The forms of objectification of women are seen in various actions. First, women are still seen as tools to fulfil men's desires based on physical form, reproductive ability, and usefulness in the political sphere. Second, women's agency in the story is reduced through the narrative. Third, the response of the community still tends to view women in terms of their beauty and believes stereotypes about women as a nuisance. On the other hand, the legend of the Tomb of Ratu Mas Malang also opens public awareness that oral literature positions women as mere objects. === Legenda Makam Ratu Mas Malang merupakan salah satu cerita lisan yang berkembang di masyarakat Pleret, Bantul, DIY. Cerita tersebut memuat asal-usul makam Ratu Mas Malang yang juga berkaitan dengan masa pemerintahan Mataram Islam di bawah kepemimpinan Amangkurat I. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis posisi perempuan dalam legenda Makam Ratu Mas Malang melalui pendekatan feminisme dengan fokus bahasan, yaitu bentuk-bentuk objektifikasi perempuan. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan teknik pengambilan data melalui observasi lapangan, wawancara, menyimak, dan mencatat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa objektifikasi perempuan dalam cerita Ratu Mas Malang merupakan akibat dari represi berlapis dari raja dan laki-laki yang berkuasa sebagai subjek aktif. Bentuk-bentuk objektifikasi perempuan terlihat dalam berbagai tindakan. Pertama, perempuan masih dipandang sebagai alat untuk memenuhi keinginan laki-laki yang didasarkan pada bentuk fisik, kemampuan reproduksi, dan kegunaan dalam ranah politik. Kedua, agensi perempuan dalam cerita direduksi melalui narasi yang disampaikan. Ketiga, respons masyarakat masih cenderung memandang perempuan dari segi kecantikannya dan mempercayai stereotip tentang perempuan sebagai gangguan. Di sisi lain, legenda Makam Ratu Mas Malang juga membuka kesadaran masyarakat bahwa sastra lisan tersebut memosisikan perempuan sebagai objek belaka.
Fungsi dan Struktur Mantra Pengobatan Sakit Perut di Desa Jomboran Kecamatan Wuryantoro Kabupaten Wonogiri Provinsi Jawa Paranti, Paranti
Arnawa Vol 3 No 2 (2025): Edisi 2
Publisher : Javanese Language, Literature, and Culture Study Program, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/arnawa.v3i2.25820

Abstract

This study aims to examine the structure and function of a stomachache healing mantra used by the community of Jomboran Village, Pulutan Wetan, Wuryantoro District, Wonogiri Regency, Central Java. The material object of this research is the oral utterance of the healing mantra as performed by a traditional practitioner within the context of healing practices. This study employs a qualitative approach with a descriptive method and applies a literary structuralism approach, specifically poetic structuralism, contextualized within oral literature. Data were collected through observation, in-depth interviews, and audio recording of the mantra utterances, which were subsequently transcribed and analyzed. The analysis focuses on the structural elements of the mantra, including sound patterns (assonance, alliteration, and rhyme), diction, and concrete words, while also considering the context of performance and the ritual function of the mantra as a performative oral text. The results indicate that the stomachache healing mantra possesses a poetic structure built through repetition, rhythm, and harmonious sound patterns that function to strengthen its suggestive power and magical effect. The diction and concrete words used emphasize elements of spirituality and healing symbolism. The functions of the mantra include healing, spiritual, psychological effects, and the preservation of local cultural traditions. The novelty of this study lies in its examination of healing mantras as performative oral literature by integrating poetic structural analysis with ritual function based on oral data from a local context in which the number of practitioners is increasingly limited. === Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji struktur dan fungsi mantra pengobatan sakit perut yang digunakan oleh masyarakat Desa Jomboran, Pulutan Wetan, Kecamatan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Objek material penelitian ini adalah tuturan mantra pengobatan yang dituturkan oleh penutur dalam konteks praktik pengobatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, serta menerapkan pendekatan strukturalisme sastra dalam pengertian strukturalisme puitik yang dikontekstualkan pada sastra lisan. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan perekaman tuturan mantra, yang selanjutnya ditranskripsikan dan dianalisis. Analisis dilakukan dengan mengkaji unsur-unsur struktur mantra, meliputi bunyi (asonansi, aliterasi, dan rima), diksi, serta kata konkret, dengan tetap mempertimbangkan konteks penuturan dan fungsi ritual mantra sebagai teks performatif lisan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mantra pengobatan sakit perut memiliki struktur puitik yang dibangun melalui pengulangan, ritme, dan keharmonisan bunyi yang berfungsi memperkuat daya sugestif dan efek magis. Diksi dan kata konkret yang digunakan menegaskan unsur spiritualitas dan simbol penyembuhan. Fungsi mantra meliputi fungsi penyembuhan, fungsi spiritual, efek psikologis, serta fungsi pelestarian tradisi budaya masyarakat setempat. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengkajian mantra pengobatan sebagai sastra lisan performatif yang mengintegrasikan analisis struktur puitik dan fungsi ritual berbasis data tuturan lisan dari konteks lokal yang penuturnya semakin terbatas.
Decoding Text, Shaping Data: A Digital Study of the Keywords Walandi and Pakêmpalan in Kadjawen magazine 1927–1931 Suryani, Sri
Arnawa Vol 3 No 2 (2025): Edisi 2
Publisher : Javanese Language, Literature, and Culture Study Program, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/arnawa.v3i2.25848

Abstract

This study presents a linguistic analysis and an examination of political discourse in the Javanese-language magazine Kadjawen, published during the Dutch colonial period from 1927 to 1931. This study is exploratory in nature and has been elaborated using a Digital Humanities approach, with an emphasis on a conceptual orientation towards discourse analysis related to the relationship between language, power, and colonialism. This study also applies digital text analysis methods, such as frequency and concordance analysis, with a primary focus on investigating the occurrence and contextual proximity of two keywords: Walandi “Dutch” and pakêmpalan “association” or “organisation”, which are scattered throughout the text corpus. The data was taken from the freely accessible digital edition of Kadjawen on the website sastra.org. There were a total of 201 texts as raw data, which were then converted to plain text format and analysed using Python and Voyant Tools. The results of the analysis show that despite being subject to colonial restrictions and rules, Kadjawen displayed linguistic strategies that reflected the negotiation between Javanese cultural identity and Dutch colonial power, as well as its involvement in the national discourse that developed in the late 1920s. === Penelitian ini memaparkan kajian wacana linguistik dan diskursus politik di dalam majalah berbahasa Jawa Kadjawen yang terbit pada masa kolonial Belanda, dari periode 1927 hingga 1931. Penelitian bersifat eksploratif dan telah dielaborasikan dengan pendekatan humaniora digital, menekankan orientasi konseptual terhadap kajian wacana terkait relasi antara Bahasa, kekuasaan, dan kolonialitas. Selanjutnya, penelitian menerapkan metode analisis teks digital, khususnya analisis frekuensi dan konkordansi, dengan fokus utama melakukan penelusuran atas kemunculan serta kedekatan kontekstual dua kata kunci, yaitu Walandi “Belanda” dan Pakêmpalan “perkumpulan” atau “organisasi”, yang tersebar di dalam korpus teks. Data diambil dari edisi digital Kadjawen yang bebas akses di situs sastra.org. Terdapat total 201 teks sebagai data mentah yang kemudian dikonversi ke format plain teks, kemudian dianalisis menggunakan Python serta Voyant Tools. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meski berada di dalam batasan serta aturan kolonial, Kadjawen menampilkan strategi kebahasaan yang merefleksikan adanya negosiasi antara identitas kultural Jawa dengan kekuasaan kolonial Belanda serta keterlibatannya terhadap wacana kebangsaan yang berkembang pada akhir 1920-an.
Representasi Lingkungan Hidup dalam Geguritan Ĕnggung: Kajian Ekologi Sastra Wardana, I Wayan Kasu
Arnawa Vol 3 No 2 (2025): Edisi 2
Publisher : Javanese Language, Literature, and Culture Study Program, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/arnawa.v3i2.26216

Abstract

This study examines how the natural environment is represented in Geguritan Ĕnggung, a traditional Balinese literary work. Geguritan Ĕnggung highlights the harmonious relationship between humans and nature. The main goal of this research is to reveal the ecological values embedded in traditional Balinese literature, which remain relevant for environmental preservation. The study uses a descriptive qualitative method with an ecocritical (literary ecology) approach. Primary data is the Geguritan Ĕnggung text, transliterated from Balinese to Latin script and translated into Indonesian. Secondary data comes from related literature. Data collection involved documentation and note-taking. Content analysis was used to identify, classify, and interpret ecological symbols in the text. Results show Geguritan Ĕnggung represents the environment through fauna and nature. Animal characters are personified as humans, while natural settings—such as rice fields, rivers, mountains, and the sea—symbolize balance and harmony. The work illustrates nature's beauty and stresses the moral value of environmental preservation. Geguritan Ĕnggung reflects Balinese society's ecological awareness and serves as a medium for instilling a love of nature through local wisdom. === Penelitian ini membahas representasi lingkungan hidup dalam Geguritan Ĕnggung, salah satu karya sastra Bali tradisional yang merefleksikan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Alasan utama penelitian ini dilakukan adalah untuk mengungkap nilai-nilai ekologis yang tersirat dalam karya sastra tradisional Bali yang hingga kini masih relevan dalam konteks pelestarian lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan ekologi sastra. Data utama berupa teks Geguritan Ĕnggung yang telah dialihaksarakan dari aksara Bali ke aksara Latin dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sedangkan data sekunder diperoleh dari kajian pustaka yang relevan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi dan teknik catat, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi dengan tahapan identifikasi, klasifikasi, dan interpretasi terhadap simbol-simbol ekologis dalam teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Geguritan Ĕnggung merepresentasikan lingkungan hidup dalam dua aspek utama, yaitu aspek hewan dan aspek alam. Aspek hewan tercermin melalui tokoh-tokoh hewan yang dipersonifikasikan layaknya manusia, sedangkan aspek alam direpresentasikan melalui penggunaan latar seperti sawah, sungai, gunung, dan laut yang berfungsi sebagai simbol keseimbangan kehidupan. Dengan demikian, Geguritan Ĕnggung menjadi karya sastra yang mencerminkan kesadaran ekologis masyarakat Bali serta relevan sebagai media edukatif dalam menanamkan nilai cinta alam melalui kearifan lokal.
Pandangan Awal: Tiga Konsep Ajaran Masyarakat Pegunungan dalam Teks Kidung Subrata Purnama, Prastowo Budi
Arnawa Vol 3 No 2 (2025): Edisi 2
Publisher : Javanese Language, Literature, and Culture Study Program, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/arnawa.v3i2.26307

Abstract

This article presents a philological study of Kidung Subrata (manuscript code L304 Peti 71 Roll 855/1), a Merapi–Merbabu scriptorium manuscript held by the National Library of Indonesia. Written on a frontal leaf in Buda script, the text belongs to the sisya lělana genre, narrating a protagonist’s journey of learning religious teachings in pursuit of spiritual perfection. Building on the author’s earlier research that examined bayu–śabda–hiḍěp, the present study extends the analysis by adding two further doctrinal concepts, oṅkāra and bañcana, as part of an initial mapping of nine teachings identified across the text. The research procedure consists of: (1) locating and selecting relevant textual fragments, (2) presenting a Latin transliteration based on a cleaned reading to avoid misleading spellings, (3) translating the passages into Indonesian, and (4) conducting content analysis supported by textual comparison with roughly contemporaneous sources (e.g., Sang Hyang Kamahāyanikan, Dharmapatañjala, and Bhima Svarga). The findings suggest that oṅkāra is framed as a generative principle of mystical syllables (leading to tryakṣara and pañcākṣara), bayu–śabda–hiḍěp functions as an integrated scheme of disciplined energy, speech, and mind for yogic practice, while bañcana is conceptualised as danger or deception arising from desire and attachment to material elements. Overall, the text conveys esoteric teachings through concise and symbolic formulations, making comparative reading essential for reconstructing its pedagogical framework. === Kajian ini merupakan kajian filologi menggunakan objek material naskah skriptorium Merapi-Merbabu yang berjudul Kidung Subrata dengan kode naskah L304 Peti 71 Rol 855/1. Naskah ini merupakan salah satu naskah koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Kidung Subrata ditulis menggunakan bahan material daun lontar atau rontal dan beraksara Buda. Teks ini memiliki genre Sisya Lelana atau cerita sastra yang berisikan perjalanan suatu tokoh dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan dalam rangka mencari kesempurnaan hidup. Dalam penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh penulis, teks Kidung Subrata berisikan konsep-konsep pengajaran Sivaisme. Dipenelitian sebelumnya, penulis menganalisis satu konsep pengajaran tersebut, yaitu bayu-śabda-hiḍěp. Untuk kajian saat ini, penulis menambahkan dua analiss konsep, yaitu konsep oṅkāra dan bañcana. Metode yang dilakukan adalah menggunakan hasil transliterasi edisi diplomatik dilanjutkan dengan menganalisis konsep-konsep tersebut dengan cara mengalihbahasakan dan mencari sumber pembanding untuk mempermudah analisis.

Page 1 of 1 | Total Record : 10