cover
Contact Name
Fransesco Agnes Ranubaya
Contact Email
fransescoagnesranubaya@gmail.com
Phone
+6281348162375
Journal Mail Official
jurnal.aggiornamento@gmail.com
Editorial Address
https://jurnalaggiornamento.id/index.php/amt/about/editorialTeam
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Aggiornamento Jurnal Filsafat - Teologi Kontekstual
ISSN : 27464695     EISSN : 29635063     DOI : -
AGGIORNAMENTO adalah sebuah jurnal ilmiah terbuka yang berfokus pada isu-isu kontekstual yang terkait dengan usaha pengembangan ilmu Filsafat dan Teologi Kontekstual. AGGIORNAMENTO menerima hasil kajian filosofis dan teologis dari studi interdisipliner.
Articles 66 Documents
DIALOG INTERRELIGIUS DALAM MEMBANGUN RELASI HARMONIS MAHASISWA LINTAS AGAMA (Studi Kualitatif Pada Anggota Formaka (Forum Mahasiswa Keuskupan Sanggau) Di Malang Raya) Meriyadi Tanggok; Armada Riyanto
Aggiornamento Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : Aggiornamento

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69678/aggiornamento7129-36

Abstract

Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat keberagaman yang tinggi, baik dari segi agama, budaya maupun latar belakang sosial. Dalam konteks kehidupan kampus yang plural, perjumpaan mahasiswa dari berbagai agama menjadi hal yang tidak terhindari. Situasi ini menuntut adanya sikap saling menghargai agar perbedaan tidak menjadi sumber konflik, melainkan menjadi ruang untuk membangun relasi yang harmonis. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melalui dialog interreligius yang memungkinkan terjadinya perjumpaan dan komunikasi antarmahasiswa lintas agama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran dialog interreligius dalam membangun relasi harmonis mahasiswa lintas agama, khususnya pada anggota FORMAKA (Forum Mahasiswa Keuskupan Sanggau) di Malang Raya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif terhadap lima anggota FORMAKA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dialog interreligius dalam kehidupan mahasiswa lebih banyak terjadi melalui interaksi sehari-hari, seperti percakapan informal, diskusi mengenai tradisi keagamaan, serta kerja sama dalam kegiatan kampus. Proses tersebut membantu menumbuhkan sikap saling menghormati, komunikasi yang terbuka dan kerja sama lintas agama di antara mahasiswa. Dengan demikian, dialog interreligius memiliki peran penting dalam membangun relasi yang harmonis serta memperkuat kehidupan bersama di lingkungan kampus yang plural.
BANALITAS KEJAHATAN ORANG MUDA DALAM TRUE CRIME COMMUNITY MENURUT HANNAH ARENDT Donisius Putra
Aggiornamento Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : Aggiornamento

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69678/aggiornamento7145-52

Abstract

Fenomena kriminal yang melibatkan orang muda sebagai pelaku menjadi bentuk nyata realitas kejahatan dan kekaburan dalam memahami etika. Sebagian dari mereka ternyata tergabung dalam sebuah komunitas yang dikenal sebagai True Crime Community (Komunitas Kejahatan Sejati). Komunitas ini menjadi tempat dimana orang muda meluapkan obsesi terhadap perilaku kriminal. Orang muda yang sudah terobsesi tertarik untuk melakukan tindak kejahatan yang terinspirasi dari pelaku serangan sebelumnya. Penulis mencoba melihat fenomena ini dalam sudut pandang Hannah Arendt yang berbicara tentang banalitas kejahatan. Penulis menggunakan metode kualitatif dengan menyertakan sumber-sumber yang relevan terkait pokok pembahasan dalam tulisan ini. Penulis mencoba menunjukkan kaitan fenomena orang muda yang patuh secara buta dalam komunitas kejahatan tersebut dan solusi yang relevan dengan masa kini berdasarkan perspektif Hannah Arendt.
ETIKA TERHADAP LIYAN DALAM BAYANG-BAYANG HUKUM POSITIVISME DAN KRITIK DEKOLONIAL ATAS PRAKTIK INTOLERANSI DI INDONESIA Sergius Hendi Sergius
Aggiornamento Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : Aggiornamento

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini berangkat dari realitas keberagaman Indonesia yang di satu sisi menjadi kakayaan sosial, namun di sisi lain diwarnai oleh praktik intoleransi, terutama terhadap kelompok minoritas. Permasalahan ini menunjukkan adanya kelemahan dalam relasi serta kecendrungan hukum positivistik yang belum sepenuhnya mampu menghadirkan keadilan yang manusiawi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep etika terhadap liyan, menganalisis pengaruh hukum positivisme terhadap praktik intoleransi, serta menunjukkan relevansi kritik dekolonial dalam membangun relasi yang lebih adil. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Kerangka teori yang digunakan meliputi filsafat etika Emmanuel Levinas tentang tanggung jawab terhadap liyan, konsep relasionalitas Armada Riyanto, kritik kekuasaan Michel Foucault, serta perspektif dekolonial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan hukum yang terlalu formaslistik cenderung mengabaikan dimensi etis dan kemanusiaan, sehingga berpotensi melegatimasi praktik intoleransi. Oleh karena itu, diperlukan integrasi etika terhadap liyan dan pendekatan dekolonial guna membangun kesadaran intersubjektif, sehingga hukum tidak hanya sah secara legal, tetapi juga adil, mansuiawi, dan mampu melindungi seluruh warga tanpa diskriminasi
FENOMENOLOGI KESEPIAN: REKONSTRUKSI EKSISTENSI AKU DIALOGAL DALAM KERANGKA RELASIONALITAS ARMADA RIYANTO Nando6yo pernando; FX. Eko Armada Riyanto
Aggiornamento Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : Aggiornamento

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69678/aggiornamento7179-87

Abstract

Fenomena kesepian yang diteliti yakni bukan hanya sebagai individualisme, tetapi menjadi krisis eksistensial yang memisahkan esensi manusia sebagai mahluk sosial. Metode kualitatif digunakan peneliti dalam pendekatan studi literatur, sumber pendukung berupa buku penujang dan jurnal yang relevan juga digunakan untuk penelitian. Tujuan peneliti dalam penelitian ini untuk membangun kembali eksistensi aku dialogal dalam filsafat relasionalitas Armada Riyanto. Analisis ini menunjukan bahwa kesepian sering kali berakar pada kegagalan individu dalam mengenali kehadiran sesama sebagai bagian integrasi dirinya. Melalui kaca mata relasionalitas, kesepian ditransformasikan dari ruang hampa menjadi ruang reflektif yang memugkinkan Aku untuk menyadari kerentanannya dan membuka diri pada dialog yang tulus terhadap sesama yang menjadi bentuk relasi antara pribadi dengan liyan. Kesimpulan temuan penelitian ini bahwa kesepian bukan pelarian dari kesendirian itu sendiri, tetapi memulihkan kesadaran dialogal yang mengutamakan relasi menjadi inti dari eksistensi. perekonstruksian ini memberikan perspektif baru untuk memandang kesepian sebagai gerbang menuju perjumpaan yang dalam dan humanis.
BIOPOLITIK NUTRISI DAN CAPABILITIES APPROACH ETIKA PATERNALISME DALAM KEBIJAKAN “MAKAN BERGIZI GRATIS” DI INDONESIA Wendi Setiawan
Aggiornamento Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : Aggiornamento

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelaksanaan program nasional “Makan Bergizi Gratis” oleh pemerintahan transisi Indonesia tahun 2025 memunculkan diskursus baru yang melampaui sekadar analisis kebijakan publik dan kalkulasi ekonomi. Artikel ini membedah kebijakan tersebut melalui perspektif filsafat politik untuk menguji ketegangan etis antara kewajiban moral negara dan batas kebebasan individu. Dengan menyilangkan Capabilities Approach dari Amartya Sen dan Martha Nussbaum dan kritik terhadap paternalisme negara dalam konsep kebebasan positif Isaiah Berlin serta biopolitik dari Michel Foucault, studi ini mengeksplorasi dua tesis utama. Pertama, dari perspektif Capabilities Approach, intervensi nutrisi yang dikonseptualisasikan sebagai prasyarat fundamental bagi kebebasan sejati; gizi yang layak adalah fondasi yang membebaskan kapabilitas dasar manusia agar berfungsi di ruang publik. Kedua, dari kacamata kritik paternalisme dan biopolitik, kebijakan ini dianalisis sebagai bentuk pendisiplinan “tubuh-tubuh produktif” yang di mana negara berpotensi merampas keagenan domestik (dalam artian ini: keluarga) demi mencetak sumber daya manusia yang mengabdi pada kepentingan petinggi dan eksistensi negara di masa depan. Melalui metode analisis filosofis, artikel ini menemukan bahwa program “Makan Bergizi Gratis” yang beroperasi dalam suatu paradoks, yang membebaskan sekaligus mendisiplinkan. Kebaruan penelitian ini terletak pada pergeseran lokus evaluasi program bantuan sosial dari efektivitas pragmatis menuju perdebatan etis mengenai sejauh mana negara dibenarkan untuk mengintervensi ranah privat (bekal rakyat) demi mencapai apa yang diklaim sebagai “kebaikan objektif” warga Indonesia.
PENYINGKAPAN TANDA IDENTITAS YESUS SEBAGAI MESIAS MENURUT YOHANES 8:37-47 Gabriel Babtistuta
Aggiornamento Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : Aggiornamento

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69678/aggiornamento711-10

Abstract

Tulisan ini mengkaji penyingkapan identitas Yesus sebagai Mesias melalui analisis eksegetis terhadap teks Yohanes 8:37-47. Fokus utama penelitian ini adalah dinamika perdebatan sengit antara Yesus dan orang-orang Yahudi yang terjadi selama perayaan Hari Raya Pondok Daun (Sukkot) di Yerusalem. Penulis mengeksplorasi identitas ke-Mesias-an Yesus dinyatakan secara implisit melalui penggunaan tanda atau simbol di tengah krisis kebenaran yang dialami oleh para pendengar-Nya. Hasil analisis menunjukkan bahwa perdebatan tersebut membongkar kepalsuan klaim spiritual orang-orang Yahudi yang mengaku sebagai keturunan Abraham dan anak-anak Allah. Yesus menegaskan bahwa identitas rohani sejati tidak ditentukan oleh garis keturunan jasmani, melainkan oleh tindakan yang selaras dengan kehendak Allah, yaitu mendengarkan firman dan mengasihi utusan-Nya. Ketegangan mencapai puncaknya ketika Yesus menyebut lawan-lawan-Nya sebagai “anak-anak iblis” karena keinginan mereka untuk membunuh dan ketidakmampuan mereka menerima kebenaran. Secara teologis, penelitian ini menyimpulkan bahwa Yohanes menggunakan narasi perdebatan ini untuk menyingkapkan identitas Yesus sebagai Mesias dalam tiga karakter utama, yaitu: Jalan Kasih (he hodos tes agapes), sebagai lawan dari pembunuhan; Terang Kebenaran (phos aletheia), sebagai lawan dari kedustaan; Air Kehidupan (hydor zoes), sebagai lawan dari kematian rohani. Melalui refleksi ini, pembaca diajak untuk menyadari bahwa menjadi milik Allah berarti tinggal dalam firman Yesus dan memberikan kesaksian hidup melalui kasih dalam kebenaran.