cover
Contact Name
Masda Surti Simatupang
Contact Email
jurnal.dialektika@uki.ac.id
Phone
+6282244341592
Journal Mail Official
jurnal.dialektika@uki.ac.id
Editorial Address
Fakultas Sastra dan Bahasa Universitas Kristen Indonesia, Gedung AB Jln. Mayjend Sutoyo no. 2, Cawang Jakarta 13630
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA
ISSN : 23382635     EISSN : 27981371     DOI : https://doi.org/10.33541/dia.v9i1
FOCUS AND SCOPE Journal of Dialektika is a professional, double-blind peer-reviewed international journal devoted to promoting scholarly knowledge and exchanging academic research and professional findings on all aspects of English such as English literature, second or foreign language (ESL/EFL) learning, including translation studies. To this end, Dialektika publishes theoretical and empirical studies in the form of original research, research reviews, case studies, conceptual frameworks, and innovative educational and social ideas with both regional and global perspectives. Dialektika has a clear preference for manuscripts with a solid theoretical foundation and tangible educational and research implications. We, therefore, invite original submissions from around the world that fit within this aim. Authors are encouraged to submit complete, unpublished, original, and full-length articles that are not under review elsewhere. The online version of the journal is free to access and download.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 8 No. 2 (2021): DESEMBER" : 10 Documents clear
ANALISIS KONTRASTIF ADJEKTIVA BAHASA INDONESIA DAN BAHASA INGGRIS BERDASARKAN CIRI SEMANTIS DAN CIRI SINTAKSIS Terweline Tapilatu
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 8 No. 2 (2021): DESEMBER
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v8i2.3723

Abstract

Abstrak Analisis kontrastif pada dasarnya dilakukan untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai persamaan dan perbedaan dari bagian tertentu dalam B1 dan B2. Fokus dari kajian analisis kontrastif berikut ini adalah membandingkan adjektiva bahasa Indonesia dan bahasa Inggris berdasarkan ciri semantis dan ciri sintaksis. Kajian ini merupakan kajian kualitatif yang menggunakan metode analisis isi. Berdasarkan hasil perbandingan dapat diketahui bahwa adjektiva kedua bahasa mempunyai fungsi yang sama yaitu menggambarkan atau memberi makna khusus kepada nomina dan pronomina serta dapat berfungsi atributif dan predikatif. Perbedaan antara kedua adjektiva ini adalah pada posisi adjektiva dalam frasa nominal, urutan adjektiva ketika digunakan secara bersamaan dalam satu frasa nominal, fungsi predikatif sebagai pelengkap subjek, dan penggunaan verba tertentu sebelum adjektiva bahasa Inggris dalam posisi predikatif yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia. Hal-hal yang mungkin menjadi masalah bagi pemelajar ketika menggunakan adjektiva bahasa Inggris adalah penentuan jenis adjektiva secara tepat agar dapat ditempatkan pada urutan yang benar dalam frasa, perbedaan makna adjektiva yang diakhiri –ing dan –ed, perbedaan makna beberapa adjektiva tertentu bila ditempatkan pada posisi atributif dan posisi predikatif, kekhususan beberapa adjektiva yang hanya dapat bersifat atributif atau predikatif, perbedaan posisi adjektiva atributif, dan kemungkinan pengabaian penggunaan linking verb be karena interferensi B1 dan karena ketiadaan padanan verba tersebut dalam sistem bahasa Indonesia. Dengan mengetahui persamaan dan perbedaan kedua adjektiva berdasarkan ciri semantis dan ciri sintaksis maka pemelajar dapat memperoleh gambaran yang lebih baik mengenai cara menggunakan adjektiva bahasa Inggris secara benar dalam membuat kalimat. Bagi pengajar bahasa Inggris kajian ini dapat menjadi masukan bagi pengajaran adjektiva dan penyusunan materi pembelajaran yang lebih baik. Kata kunci : analisis kontrastif, ciri semantis, ciri sintaksis Abstract The purpose of doing a contrastive analysis is to get a whole picture of the similarities and differences of a specific aspect of L1 and L2. Therefore this qualitative study which used the content analysis method focuses on comparing the English and Indonesian adjectives based on their semantic and syntactic features. The findings revealed that both adjectives modify nouns or pronouns and, therefore, can be attributive and predicative. The differences between them include the position of the adjective in a noun phrase, the order of adjectives when used together in a noun phrase, the function of predicative adjectives as a subject complement, and the use of a certain verb before an English adjective in a predicative position which does not exist in Indonesian. Problems that may arise when using the English adjectives are determining the type of description the adjectives provide to place them in the correct order in a noun phrase, the different meaning of participle adjectives, the different meaning of certain adjectives when placed in attributive and predicative positions. The specificity of some adjectives, which can only be attributive or predicative, different positions of attributive adjectives, and the possibility of neglecting the use of the linking verb are due to L1 interference and the absence of be equivalent in the Indonesian language system. This contrastive study will provide learners with a better description of how to use the English adjective correctly in a sentence. It may provide inputs for teachers in teaching the English adjective better and developing better learning material. Keywords: contrastive analysis, semantic features, syntactic features
KOLOKASI DALAM PENERJEMAHAN Yusniaty Galingging, M.Hum
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 8 No. 2 (2021): DESEMBER
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v8i2.3725

Abstract

Abstrak Dalam penerjemahan menemukan makna yang tepat adalah sebuah tugas yang paling penting. Upaya menemukan makna ini merupakan salah satu dari empat proses penting penerjemahan, yaitu adanya teks sumber, kemudian mengidentifikasi makna, menemukan makna dan mengekspresikan makna tersebut pada bahasa sasaran. Kolokasi adalah unsur leksikal yang dapat hadir dalam sebuah konstruksi kalimat yang sama. Penerjemahan adalah tindakan memindahkan makna teks suatu bahasa ke bahasa lain. Pemahaman kolokasi pada proses penerjemahan adalah pada upaya menemukan makna. Newmark mengatakan ada dua pendekatan dalam menemukan makna dalam penerjemahan, yaitu dengan membaca kalimat demi kalimat dan yang kedua dengan membaca seluruh teks dua atau tiga kali. Kedua pendekatan ini sudah tentu melibatkan pemahaman akan kolokasi. Kegagalan memahami kolokasi dapat menghasilkan terjemahan yang tidak masul akal. Setiap bahasa menggabungkan kata-kata dalam kolokasi secara berbeda. Kolokasi dapat dianalisis dari berbagai bidang ilmu Bahasa, seperti gramatika, semantik dan juga penerjemahan. Data untuk penerjemahan kolokasi pada tulisan ini diambil dari film singkat dari film seri Turki “Magnificent Century” yang berjudul “I Found the Grave Empty”. Film ini diambil secara acak dari sejumlah film singkatndari serial Magnificent Century. Tulisan ini khususnya diharapkan dapat membantu mahasiswa Fakultas Sastra dan Bahasa UKI yang melakukan kajian penerjemahan mereka. Kata Kunci: kolokasi, kajian penerjemahan, menemukan makna. Abstract In translation finding the equivalent meaning is a most important part. Discovering meaning is one of the four important processes of translation, they are the source text, identifying meaning, finding meaning and expressing that meaning in the target language or the translation. Collocations are lexical items that may occur in the same sentence construction. Translation is the act of transferring the meaning of a text from one language that is the source language to another. The understanding of collocation in the translation process is a part of discovering meaning. According to Newmark there are two approaches in finding the meaning in translation. Firstly, read the sentence by sentence and secondly read the entire text for two or three times. Both of these approaches must involve an understanding of collocation. Failure to understand collocations may result a bad or nonsense translation. Each Language combines words in collocations differently. Collocations can be analyzed from various fields of language knowledge, such as grammar, semantics and also translation. The data for the translation of collocations in this paper are taken from a short film as part of the Turkish film series "Magnificent Century" entitled "I Found the Grave Empty". The film was taken randomly from those short films of the Magnificent Century serial. In particular, it is hoped that this writing can help the students of Faculty of Letters and Languages UKI to conduct their translation studies. Key Words: Collocation, Translation studies, discovering the meaning
UPACARA SATI DAN OPRESI TERHADAP PEREMPUAN PADA PUISI “SITA” KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO: KAJIAN SASTRA FEMINIS Heri Isnaini
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 8 No. 2 (2021): DESEMBER
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v8i2.3726

Abstract

Abstrak Sati adalah konsep bakar diri perempuan India untuk menunjukkan kesetiaan kepada suami. Dalam cerita Ramayana, sati dilakukan oleh Sita sebagai pembuktian kesetiaan kepada Rama. Konsep sati jelas bersifat opresi kepada perempuan baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari masyarakat. Bentuk opresi tersebut digambarkan dengan lakuan Sita yang sesungguhnya merupakan konstruksi keinginan Rama belaka. Dalam sajak “Sita” karya Sapardi Djoko Damono, drama sati yang dilakukan Sita diawali oleh rasa cemburu Rama. Hal ini jelas bentuk opresi kepada perempuan yang dikonstruksi menjadi liyan dan bukan menjadi dirinya sendiri. Hak seksualitas Sita hilang karena harus mengikuti seksualitas yang diinginkan Rama. Artinya, sistem patriarki yang melingkupi drama tersebut membuat perempuan menjadi objek yang abjek. Sajak “Sita” yang ditulis Sapardi Djoko Damono memiliki hubungan intertekstualitas dengan teks Ramayana. Dengan demikian, tulisan ini akan membahas hasil pembacaan dari sajak “Sita” karya Sapardi Djoko Damono dilihat dari bentuk-bentuk opresi terhadap perempuan dengan memperhatikan tanda-tanda dan intertekstualitasnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa intertesktualitas sajak “Sati” dan epos Ramayana dapat disandingkan dan dibandingkan. Kedua teks memperlihatkan bentuk opresi perempuan dalam bentuk ketidakadilan gender karena dikonstruksi oleh sistem patriarki dalam masyakarat pendukungnya. Kata kunci: gender, intertekstualitas, opresi, perempuan, sati Abstract Sati is an Indian woman's self-immolation concept to show loyalty to her husband. In the Ramayana story, sati is done by Sita as proof of commitment to Rama. The concept of sati is clearly oppressive to women both as individuals and as part of society. Sita's practice depicts the form of oppression, which is actually a construction of Rama's wishes. In "Sita" poetry by Sapardi Djoko Damono, Sita's sati drama is preceded by Rama's jealousy. It is a form of oppression to women who are constructed into liyan and not themselves. Sita's sexual rights are lost because they have to follow the sexuality that Rama wants. That is, the patriarchal system that surrounds the drama makes women objects of ridicule. The rhyme "Sita" written by Sapardi Djoko Damono has intertextuality with the Ramayana text. Thus, this paper will discuss the reading of the "Sita" poetry by Sapardi Djoko Damono seen from the forms of oppression against women by paying attention to the signs and intertextuality. The results of this study showed that the intertextuality of the"Sati" poetry and the Ramayana epic could be juxtaposed and compared. Both texts show the form of female oppression in the form of gender injustice because it is constructed by a patriarchal system in the community of its supporters. Keywords: gender, intertextuality, oppression, women, sati
THE USE OF LANGUAGES ON JOKOWI’S INSTAGRAM COMMENTS AND ITS IMPLICATIONS ON THE PRESENT NETIZENS’ CHARACTER Devi Melisa Saragi, S.S., M.A
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 8 No. 2 (2021): DESEMBER
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v8i2.3727

Abstract

Abstract The study aims at describing the use of languages on Jokowi’s instagram coloums in the context of political propaganda and how it can imply the character of the present netizens. This belongs to a descriptive qualitative research whose data consist of words, phrases and sentences taken from Jokowi’s instagram comments during the 2019 president campaign period. The data collection was conducted by applying the document technique and note taking, while the data analysis was performed by content analysis using inductive method. It is found that there is a deviation of pragmatics in the use of languages towards the political propaganda found on Jokowi’s instagram coloums. The deviation of the pragmatics was a form of sarcasm, hate speech and taboo which were deliberately written in order to attack Jokowi as one of the president candidates for 2019-2024. These pattern of language also implied that present liberal delivering opinion of the Indonesia netizens show a degradation of eastern cultural value especially in using Bahasa. Keywords: Instagram, language use, netizen, pragmatics Abstrak Penenlitian ini bertujuan untuk menjelaskan penggunaan bahasa pada kolom komentar akun instagram Presiden Jokowi dalam konteks propaganda politik serta bagaimana penggunaan bahasa tersebut dapat mengimplikasikan karakter para netizen Indonesia sekarang ini. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang data−datanya berbentuk kata, frasa dan kalimat diambil dari akun instagram Presiden Jokowi selama kampanye Presiden 2019. Data dikumpulkan melalui teknik catat dan dokumentasi untuk kemudian dianalisis melalui teknik analisis isi dengan menggunakan metode induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan para netizen dalam konteks propaganda politik telah mengalami penyimpangan secara pragmatis. Wujud dari penyimpangan tersebut adalah bentuk sarkasme, ujaran kebencian dan bahasa tabu yang digunakan untuk menyerang Jokowi sebagai salah satu kandidat presiden untuk periode 2019−2024. Selain itu, pola penggunaan bahasa ini juga mengimplikasikan bahwa cara para netizen Indonesia mengemukakan pendapat secara bebas menunjukkan adanya penurunan dari nilai−nilai kebudayaan timur terutama dalam penggunaan bahasa. Kata kunci: Instagram, penggunaan bahasa, netizen, pragmatik
INTERFERENSI FONOLOGIS BAHASA BANJAR HULU PADA MASYARAKAT BANJAR DALAM BERBAHASA INDONESIA Ahmad Imam Muttaqin
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 8 No. 2 (2021): DESEMBER
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v8i2.3728

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap interferensi yang terjadi pada Bahasa Indonesia saat seorang penutur asli Bahasa Banjar Hulu bertutur dengan Bahasa Indonesia. Terdapat beberapa bentuk interferensi fonologis yang terjadi. Penelitian ini juga mengungkap bagaimana kaidah dari interferensi tersebut sehingga masyarakat luas tidak akan merasa asing lagi akan interferensi yang terjadi ini dan dapat memaklumi fenomena interferensi kebahasaan itu sendiri sebagai suatu fenomena normal. Penelitian ini berupa penelitian kualitatif deskriptif yang akan memaparkan tentang bentuk interferensi fonologis seperti apa yang terjadi pada Bahasa Indonesia oleh penutur Bahasa Banjar Hulu dengan menggunakan fitur distingtif sebagai alat ukur untuk menemukan bagaimana bentuk dari interferensi fonologis tersebut. Ditemukan adanya proses fonologis (1) bunyi /ǝ/ menjadi /a/, (2) bunyi /e/ menjadi /i/, (3) bunyi /o/ menjadi /ʊ/, dan (4) bunyi /k/ menjadi /ʔ/. Penempatan bunyi-bunyi tersebut bisa berada dimana saja kecuali bunyi /k/ menjadi /ʔ/ yang berada di akhir kata yang diawali dengan bunyi konsonan. Kata kunci: interferensi bahasa Indonesia, bahasa Banjar Hulu, proses fonologis, fitur distingtif Abstract This research is written to reveal interferences in the Indonesian language when a Hulu Banjarese native spoke in Bahasa. There are a few kinds of phonological interferences which happened. This research also revealed the pattern of those phonological interferences in case people will not have a strange feeling about it and accept it as a normal phenomenon. This research is qualitative descriptive research that uses distinctive features theory to reveal the phonological interferences, including the shape and the pattern of the phonological interferences in the Indonesian language spoken by Hulu Banjarese native speakers. This research shows four phonological processes heading to the phonological interferences in the Indonesian language spoken by Hulu Banjarese native speakers. (1) sound /ǝ/ being /a/, (2) sound /e/ being /i/, (3) sound /o/ being /ʊ/, and (4) sound /k/ being /ʔ/. Those sounds can be placed everywhere except sound /k/ being /ʔ/, which is placed at the end of the word and start with consonants. Keywords: Indonesian language interferences, Hulu Banjarese, phonological process, distinctive features
MULTICULTURALISM VALUES IN HENA KHAN’S AMINA’S VOICE Nelly Trisna Raja Guk-Guk; Mike Wijaya Saragih
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 8 No. 2 (2021): DESEMBER
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v8i2.3729

Abstract

Abstract This paper aims to show how the forms of multiculturalism values are displayed in Amina's life and how multiculturalism can change the perspective of other characters towards multiculturalism in the novel Amina's Voice (2017), written by a Pakistani-American writer, Hena Khan. This novel tells about a girl named Amina who has a family background from Pakistan and has long lived in Milwaukee, Wisconsin, United States. Despite living in a dominant Western culture, the Amina family consistently upholds Pakistani cultural values and uses their native customs daily. The differences between these two cultures often lead to conflicts experienced by Amina and other characters in the story. Despite encountering obstacles, Amina is shown still to practice the values of multiculturalism in her daily life. This study uses the concept of indicators of multiculturalism values proposed by Tilaar (2004) and the concept of acculturation written by Berry (2005). This research shows that there are forms of multiculturalism values found in the three spheres of Amina's life, namely in the family, school, and social environment. The indicators of multicultural values are learning in diversity, mutual trust, mutual understanding, mutual respect, open-mindedness, appreciation and interdependence (mutual dependence), and conflict resolution. In addition, the present writer also found that the practice of multiculturalism that occurred in the text resulted in an acculturation process that succeeded in changing the perspective of Amina's family members towards the value of multiculturalism. Keywords: acculturation, multicultural, multiculturalism values Abstrak Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan bagaimana bentuk nilai-nilai multikulturalisme ditampilkan dalam kehidupan Amina dan bagaimana praktek multikulturalisme dapat mengubah cara pandang tokoh lain terhadap multikulturalisme di dalam novel Amina’s Voice (2017) yang ditulis oleh seorang penulis Pakistan-Amerika, Hena Khan. Novel ini menceritakan tentang seorang anak perempuan bernama Amina yang memiliki latar belakang keluarga dari Pakistan yang sudah lama menetap di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat. Walaupun hidup di tengah budaya Barat yang sangat dominan, keluarga Amina secara konsisten tetap menjunjung tinggi nilai budaya Pakistan dan menggunakan adat-istiadat asal mereka di kehidupan sehari-hari mereka. Perbedaan 2 budaya ini kerap kali mendatangkan konflik yang dialami Amina dan tokoh-tokoh lain di dalam cerita. Walaupun mengalami kendala, Amina ditampilkan tetap mempraktekkan nilai-nilai multikulturalisme di dalam kehidupan sehari-harinya. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan konsep indikator nilai-nilai multikulturalisme yang dikemukakan oleh Tilaar (2004) dan menggunakan konsep akulturasi yang ditulis oleh Berry (2005). Hasil dari penelitian ini adalah terdapat bentuk-bentuk nilai multikulturalisme yang ditemukan di tiga ruang lingkup kehidupan Amina, yaitu di lingkungan keluarga, sekolah, dan sosial. Adapun indikator nilai multikultural yang ditemukan adalah belajar hidup dalam perbedaan, membangun saling percaya, memelihara saling pengertian, menjunjung sikap saling menghargai, terbuka dalam berpikir, apresiasi dan interdepedensi, dan resolusi konflik. Selain itu, penulis juga menemukan bahwa praktek multikulturalisme yang terjadi di dalam teks menghasilkan proses akulturasi yang berhasil mengubah cara pandang anggota keluarga Amina terhadap nilai multikulturalisme. Kata Kunci: akulturasi, multikultural, nilai-nilai multikulturalisme
ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA BIDANG MORFOLOGI PADA KARYA ILMIAH SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 KLEGO Byuti Adi Maghfiroh; Firman Fajar Wiguna; Sella Lukitasari; Chafit Ulya
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 8 No. 2 (2021): DESEMBER
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v8i2.3730

Abstract

Abstrak Bahasa tulis merupakan salah satu instrumen penting dalam pembelajaran. Kemampuan berbahasa siswa di sekolah diajarkan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia. Salah satu hal terpenting saat mempelajari bahasa yakni mengetahui kesalahan berbahasa. Kegiatan menulis merupakan kegiatan yang cukup kompleks, karena dalam menulis memerlukan pemahaman keterampilan berbahasa yang lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk kesalahan dalam berbahasa bidang morfologi yang terdapat pada teks karya ilmiah siswa kelas XI SMA Negeri 1 Klego. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan dokumen. Metode penelitian yang digunakan oleh penulis adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini berupa dokumen atau data yang memiliki kesalahan berbahasa. Kesalahan berbahasa bidang morfologi yang ditemukan dalam artikel karya ilmiah siswa kelas XI SMA Negeri 1 Klego antara lain Afiksasi, Reduplikasi dan Pemajemukan. Peneliti menemukan kesalahan yang paling banyak yaitu pada penulisan afiksasi. Untuk mengurangi kesalahan berbahasa dalam penulisan karya ilmiah, maka siswa perlu diberikan pelatihan dan pengajaran. Kata kunci: kesalahan, berbahasa, morfologi Abstract Written language is one of the essential instruments in learning. Students' language skills in schools are taught in Indonesian subjects. One of the most important things when learning a language is knowing the language mistakes. Writing activities are pretty complex because writing requires understanding other language skills. This study aims to determine the form of errors in the morphology field of the language contained in the text of the scientific work of class XI students of SMA Negeri 1 Klego. Data collection techniques used in this study using documents. The research method used by the author is a qualitative descriptive approach—sources of data used in this study in the form of documents or data that have language errors. Morphological language errors found in scientific articles of class XI students of SMA Negeri 1 Klego include affixation, reduplication, and compounding. Researchers found the most errors in affixation writing. Students need to be given training and teaching to reduce language errors in writing scientific papers. Keywords: error, language, morphology
SHAPING AUTONOMOUS LEARNERS IN EFL ONLINE LEARNING L. Angelianawati
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 8 No. 2 (2021): DESEMBER
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v8i2.3731

Abstract

Abstrak Artikel ini mengulas fenomena otonomi pembelajar dalam konteks pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing di Indonesia. Otonomi pelajar telah menjadi topik yang signifikan dalam pendidikan bahasa baru-baru ini sebagai hasil dari penekanan pada refleksi dan tanggung jawab pelajar untuk proses belajarnya sendiri. Banyak guru bahasa, di sisi lain, yang berkomitmen pada pemusatan dan otonomi pembelajar, berjuang dalam hal bagaimana memelihara otonomi pembelajar atau setidaknya untuk mewujudkan konsep otonomi pembelajar di kelas bahasa terutama dalam konteks pembelajaran saat ini yang telah bergeser dari pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran online, dan kini mulai berubah menjadi pembelajaran tatap muka dan atau blended learning. Tujuan studi ini adalah untuk mengulas permasalahan dan cara untuk membentuk otonomi pembelajar di kelas bahasa Inggris. Kesimpulannya, membentuk pembelajar otonom dalam lingkungan pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing harus mempertimbangkan prinsip-prinsip pembelajaran otonom. Pendampingan guru tidak boleh absen selama proses pembelajaran bahasa melainkan memfasilitasi proses tersebut, walaupun inti dari belajar otonom adalah menuntut peserta didik untuk belajar secara mandiri. Kata kunci: pembelajar otonom, Bahasa Inggris sebagai bahasa asing, pembelajaran online Abstract The paper focuses on learner autonomy in the English as a Foreign Language (EFL) learning context in Indonesia. Learner autonomy has become an essential topic in recent language education due to an emphasis on learner reflection and taking responsibility for one’s learning processes. Many language teachers who are committed to learner-centeredness and autonomy struggle with how to nurture student autonomy or at the very least to promote the concept of learner autonomy in the language classroom, especially in the current context of learning which has shifted from face-to-face to online learning, and now starting to change into face-to-face and or blended learning. The study’s objective is to ascertain the ways and issues shaping learner autonomy in EFL online classrooms. In conclusion, shaping autonomous learners in an EFL environment should consider the principles of autonomous learning. Teachers’ assistance should not be absent during the language learning process but facilitate the process, even though the essence of autonomous learning is to require learners to learn independently. Keywords: autonomous learner, EFL, online learning
NATIVE AMERICAN REPRESENTATION IN SHERMAN ALEXIE’S SHORT STORY THE TRIAL OF THOMAS BUILDS-THE-FIRE Mike Wijaya Saragih
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 8 No. 2 (2021): DESEMBER
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v8i2.3732

Abstract

Abstract This paper aims to show the representation of Native Americans in Sherman Alexie's short story The Trial of Thomas-Builds-the-Fire, which is part of his story collections The Lone Ranger and Tonto Fistfight in Heaven (1993). The main character, Thomas-Builds-the-Fire, represents native Americans. This paper will analyze Thomas as a subaltern who was oppressed by white hegemony. The presence of fairy tales as media voicing out Thomas' thoughts and feeling as the subaltern interprets something deeper. The present writer will use Gayatri C. Spivak's theories which are subaltern and representation, to analyze the forms of Native American representation. The result shows there are two forms of representation used in the story. They are "to represent," meaning "the idea of representing something," and "re-present," meaning "the idea of bringing back." However, both forms of representation stated in the story failed to make the subaltern speak or be heard. Kata kunci: fairy tales, Native American, representation, subaltern Abstrak Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan representasi penduduk asli atau pribumi Amerika dalam cerpen Sherman Alexie yang berjudul The Trial of Thomas-Builds-the-Fire, yang merupakan bagian dari buku kumpulan cerita pendek karya Sherman Alexie yang berjudul The Lone Ranger dan Tonto Fistfight in Heaven (1993). Penduduk asli atau pribumi Amerika direpresentasikan oleh tokoh utama Thomas-Builds-the-Fire. Tulisan ini akan berfokus pada Thomas sebagai subaltern yang tertindas oleh hegemoni kulit putih. Kehadiran dongeng sebagai media yang menyuarakan pikiran dan perasaan Thomas sebagai subaltern memaknai sesuatu yang lebih dalam. Untuk menemukan bentuk-bentuk representasi penduduk asli atau pribumi Amerika akan diterapkan konsep Subaltern dan Representasi oleh Gayatri C. Spivak. Hasil dari penelitian ini adalah ditemukannya dua bentuk representasi di dalam teks, yaitu representasi (represent) sebagai “yang mewakili” dan representasi (re-present) sebagai “yang menghadirkan kembali”. Kedua bentuk representasi yang muncul di dalam teks gagal membuat subaltern bersuara maupun didengar. Keywords: dongeng, pribumi Amerika, representasi, subaltern
AFIKSASI DALAM PENINGKATAN VALENSI VERBA BAHASA JAWA DAN BAHASA BANJAR Zindi Nadya Wulandari
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 8 No. 2 (2021): DESEMBER
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v8i2.3733

Abstract

Abstrak Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk untuk mengetahui proses afiksasi yang berperan terhadap peningkatan valensi verba dalam bahasa Jawa dan bahasa Banjar. Data dalam penelitian ini diperoleh dari penutur asli bahasa Jawa, bahasa Banjar. Peneliti juga menggunakan data yang berasal dari buku yang ditulis oleh Wedhawati dan kamus bahasa Banjar. Data yang diperoleh dianalisa menggunakan teori valensi menurut Haspelmath dan Wedhawati. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam bahasa Jawa, proses afiksasi yang mempengaruhi perubahan valensi yaitu imbuhan prefiks n- dan sufiks –ake, prefiks di- dan sufiks –i, prefiks di dan sufiks –ake serta prefiks n- dan sufiks –ake, prefiks ng-, prefiks n- dan sufiks -i, sufiks -an dan prefiks ng-. Sedangkan dalam bahasa Banjar, proses afiksasi yang mempengaruhi peningkatan valensi yaitu prefiks maN- dan sufiks -akan, prefiks m- dan sufiks -akan, prefiks ba- dan suffiks -an, prefiks maN- dan suffiks -i, prefiks di- dan suffiks -akan, prefiks ma-, prefiks di- dan prefiks -ta. Kata kunci: Afiksasi, Bahasa Banjar, Bahasa Jawa, Valensi verba Abstract This research is qualitative research and the aim of this research is to find the affixation process which increase the verb valence in Javanese and Banjarese. The data in this study were obtained from native speakers of Javanese, Banjarese. Researcher also used data from a book written by Wedhawati and Banjarese dictionary. The data obtained were analyzed using the valence theory of verbs according to Haspelmath and Wedhawati. The results of the analysis show that in Javanese, the affixation process that affects changes in valence is the insertion of prefix n- and suffix -ake, prefix di- and suffix -i, prefix di and suffix -ake and prefix n- and suffix -ake, prefix ng-, prefix n- and suffix -i, suffix -an and prefix ng-. Meanwhile in Banjarese, the affixation process that affects the increase in valence is prefix maN- and suffix -akan, prefix m- and suffix -akan, prefix ba- and suffix -an, prefix maN- and suffix -i, prefix di- and suffix -akan, prefix ma-, prefix di- and prefix -ta. Keywords: Affixation, Banjarese, Javanese, Verb valence

Page 1 of 1 | Total Record : 10