cover
Contact Name
Harriyadi
Contact Email
amerta@brin.go.id
Phone
+6281225308529
Journal Mail Official
amerta@brin.go.id
Editorial Address
Direktorat RMPI - BRIN, Gedung BJ Habibie, Jl. M.H. Thamrin No.8, RW.1, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340, Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Amerta
Published by BRIN Publishing
ISSN : 02151324     EISSN : 25498908     DOI : https://doi.org/10.55981/amt
Starting at Volume 40 Number 2 December 2022, AMERTA’s objective is to promote the wide dissemination of the results of systematic scholarly inquiries into the broad field of archaeological research in proto-history and history chronology themes in the Indonesian Archipelago. The primary, but not exclusive, audiences are researchers, academicians, graduate students, practitioners, and others interested in archaeological research. AMERTA accepts original articles on historical archaeology-related subjects and any research methodology that meets the standards established for publication in the journal. Papers published in the journal may cover a wide range of topics in historical archaeology, including, but not limited to: 1. Field of archaeological findings in Indonesia’s Proto History, Hindu-Buddhist, Islam, and Colonial periods; 2. New theoretical and methodological analyses; 3. Synthetic overviews of topics in the field of historical archaeology.
Articles 735 Documents
Tiga Candi Era Rakai Panangkaran: Interpretasi Konsep Tantrayāna Berdasarkan Prasasti dan Mitologi Bodhisattva Harriyadi; Agus Aris Munandar
AMERTA Vol. 44 No. 1 (2026)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2026.13432

Abstract

 Abstract. Three Temples from the Era of Rakai Panangkaran: an Interpretation of the Tantrayāna Concept Based on Inscriptions and Bodhisattva Mythology. Rakai Panangkaran, a king of the Ancient Mataram Kingdom, commissioned three monumental Buddhist structures: Kalasan Temple, Sewu Temple, and the Ratu Boko Site. Based on their inscriptions, these monuments were dedicated to the worship of Bodhisattvas, presenting a contrast to the Buddhist complexes in the Borobudur area, which were primarily intended for Dhyāni Buddha worship. This study aims to examine the religious background and conceptual foundations behind the construction of these three temples, focusing on the underlying Tantrayāna ideology that shaped their symbolism and function. A qualitative approach was employed through contextual analysis of archaeological data, inscriptions, and literature on Bodhisattva mythology. The data sources include the Kalasan Temple and Kalasan Inscription, Sewu Temple along with the Mañjuśrīgrha and Kelurak Inscriptions, and the Ratu Boko Site with the Abhyagiri Vihara Inscription. The study of literature centers on Buddhist mythology and worship concepts, particularly in relation to Bodhisattva veneration within Tantric Buddhism.The findings reveal that the construction of the three temples reflects distinct mythological and spiritual meanings. Kalasan Temple is associated with the goddess Tārā, representing compassion and guidance for humanity to escape the cycle of samsāra. Sewu Temple relates to Mañjuśrī, the embodiment of wisdom who dispels ignorance and enables moral discernment. Meanwhile, the elevated position of the Ratu Boko Site aligns with the mythology of Avalokiteśvara, symbolizing the highest stage of spiritual liberation. Keywords: Rakai Panangkaran, Kalasan Temple, Sewu Temple, Ratu Boko Site, Bodhisattva, Tantrayāna   Abstrak. Rakai Panangkaran adalah raja Kerajaan Mataram Kuno yang membangun tiga bangunan monumental bercorak Buddha yaitu Candi Kalasan, Candi Sewu, dan Situs Ratu Boko. Berdasarkan prasastinya, ketiga candi tersebut didirikan untuk pemujaan Bodhisattva dan cukup kontras apabila dibandingkan dengan candi Buddha di Kawasan Borobudur yang lebih ditujukan untuk Dhyāni Buddha. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji latar belakang dan konsepsi religi yang melatari pembangunan ketiga candi tersebut. Permasalahan pada penelitian ini adalah apakah konsep religi yang melatarbelakangi pemujaan terhadap tiga Bodhisattva pada bangunan candi tersebut. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan melakukan analisis kontekstual terhadap data arkeologi, prasasti, dan literatur tentang mitologi Bodhisattva. Pengumpulan data difokuskan pada tiga candi dan prasasti era Rakai Panangkaran yaitu Candi Kalasan dan Prasasti Kalasan, Candi Sewu dan Prasasti Mañjuśrīgrha serta Kelurak, dan Situs Ratu Boko dengan Prasasti Abhyagirivihara. Studi literatur difokuskan pada mitologi dan konsep pemujaan dalam agama Buddha. Analisis dilakukan secara kontekstual dengan cara menghubungkan makna mitologi dewa-dewi Buddha dan praktik pemujaan dalam agama Buddha pada ketiga candi. Hasil penelitian menunjukkan pembangunan ketiga candi memiliki keterkaitan dengan mitologi masing-masing Bodhisattva. Candi Kalasan berkaitan dengan makna mitologi Dewi Tārā yaitu navigasi manusia agar selamat dari lingkaran samsara sekaligus pada tahap awal belajar mengenai welas asih, Candi Sewu berhubungan dengan mitologi Mañjuśrī sebagai pemutus ketidaktahuan dan kebijaksanaan tertinggi sehingga manusia dapat membedakan baik dan buruk. Penempatan Situs Ratu Boko yang berada pada bukit sejalan dengan mitologi Avalokiteśvara yang merupakan simbol dari jalan tertinggi dalam pembebasan spiritual. Kata kunci: Rakai Panangkaran, Candi Kalasan, Candi Sewu, dan Situs Ratu Boko, Bodhisattva, Tantrayāna
Perpaduan Gaya Bangunan pada Gereja Santo Yoseph Rancangan F.J.L. Ghijsel di Matraman, Jakarta Timur Kirana Chandra Bestari; Dian Sulistyowati
AMERTA Vol. 44 No. 1 (2026)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2026.13564

Abstract

Abstract. A Combination of Architectural Styles at St Joseph’s Church, designed by F.J.L. Ghijsels, in Matraman, East Jakarta. Santo Yoseph Church in Matraman is one of the early twentieth-century church buildings in Jakarta designed by F.J.L. Ghijsels. This study aims to identify the architectural style applied to the building and to situate it within the development of colonial architecture during the 1920s. The research was conducted through four stages: data collection, data processing, analysis, and interpretation. The main research problem concerns how the architectural character of Santo Yoseph Church can be categorized based on an analysis of its form and building components. The study employs formal analysis, stylistic analysis, and comparative analysis to examine the building style. The results indicate that the church does not represent a single stylistic category but instead demonstrates a character of colonial eclectic architecture. The basilica plan reflects the tradition of classical ecclesiastical architecture, Indies elements appear in adaptations to the tropical climate, and early twentieth-century influences are visible in the treatment of openings and decorative details. This synthesis places the building within a transitional phase toward colonial modern architecture. The study contributes to a broader understanding of the development of colonial architectural styles in early twentieth-century Indonesia. Keywords: Colonial building style, Catholic church, Saint Joseph Church, Colonial eclectic architecture   Abstrak. Gereja Santo Yoseph Matraman merupakan salah satu bangunan gereja awal abad ke-20 di Jakarta yang dirancang oleh F.J.L. Ghijsels. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi gaya arsitektur yang diterapkan pada bangunan tersebut serta menempatkannya dalam konteks perkembangan arsitektur kolonial pada dekade 1920-an. Penelitian ini menggunakan empat tahapan yaitu pengumpulan data, pengolahan data, analisis, dan interpretasi. Permasalahan utama penelitian ini adalah bagaimana karakter gaya bangunan Gereja Santo Yoseph dapat dikategorikan berdasarkan analisis bentuk dan komponennya. Dalam menganalisis gaya bangunan digunakan metode analisis bentuk (formal analysis), analisis gaya (stylistic analysis), dan analisis komparatif (comparative analysis) Hasil kajian menunjukkan bahwa bangunan ini tidak merepresentasikan satu langgam tunggal, melainkan memperlihatkan karakter arsitektur kolonial eklektik. Denah basilika merefleksikan tradisi arsitektur gereja klasik, unsur Indis tampak pada adaptasi terhadap iklim tropis, sementara pengaruh gaya awal abad ke-20 terlihat pada pengolahan bukaan dan detail dekoratif. Perpaduan tersebut menempatkan bangunan ini dalam fase peralihan menuju arsitektur kolonial modern. Kajian ini memberikan kontribusi dalam memahami dinamika perkembangan gaya arsitektur kolonial di Indonesia pada awal abad ke-20. Kata kunci: Gaya bangunan kolonial, Gereja katolik, Gereja Santo Yoseph Matraman, Eklektisme kolonial  
Studi Konseptual Upaya Pelestarian Tinggalan Budaya Kawasan Batujaya Melalui Pendekatan STEAM dalam Pendidikan Mita Indraswari; Hafnidar; Isman Pratama Nasution
AMERTA Vol. 44 No. 1 (2026)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/amt.2026.14972

Abstract

 Abstract. A Conceptual Study on Preservation of Batujaya Sites Through a STEAM Approach in Education. Preservation of cultural heritage is a dynamic process mandated by Law No. 11 of 2010 concerning Cultural Heritage and UNESCO guidelines, both of which emphasize the critical role of community participation. The Batujaya Site represents evidence of early civilization on the northern coast of Java Island, requiring sustainable preservation efforts by instilling its significance in the younger generation. This study aims to formulate the integration model of cultural heritage preservation at the Batujaya Site into school curricula to enhance students' understanding and pride, empowering them as active agents of heritage conservation. The research provides functional solutions for preservation and education by fostering public education through the STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) framework. STEAM is a transformative educational approach by utilizing the results of cultural heritage research with school learning. Utilizing a literature study method, this research synthesizes various studies concerning the Batujaya Site and STEAM approach. The implementation of multidisciplinary STEAM learning has been proven to provide critical and concrete learning experiences in several European and Asian countries, including Indonesia. The findings of this study are expected to not only enhance students' critical and innovative thinking skills but also contribute to the long-term sustainability of cultural heritage preservation. Research on the integration of cultural heritage preservation and STEAM represents a novel contribution to heritage preservation studies in Indonesia. The proposed integration model is expected not only to enhance students’ critical and innovative thinking skills but also to contribute to sustainable cultural heritage preservation. Keywords: Batujaya Site, Sustainable Preservation, STEAM, Public Education, Cultural Heritage   Abstrak. Pelestarian cagar budaya merupakan upaya dinamis yang diamanatkan oleh Undang- Undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya dan UNESCO dengan menekankan pentingnya partisipasi masyarakat. Kawasan Batujaya adalah bukti peradaban awal di pesisir Utara Pulau Jawa, memerlukan upaya pelestarian berkelanjutan melalui pengenalan nilai penting kepada generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model integrasi pelestarian tinggalan budaya di Kawasan Batujaya ke dalam pembelajaran di sekolah untuk meningkatkan pemahaman dan rasa bangga pelajar sebagai agen aktif pelestari cagar budaya. Manfaat penelitian ini untuk memberikan solusi berdaya guna bagi pelestarian dan pendidikan dalam mendorong keterlibatan publik melalui pendekatan pendidikan publik yaitu STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics). STEAM menjadi pendekatan edukatif yang transformatif dengan memanfaatkan hasil penelitian tinggalan budaya dengan pembelajaran di sekolah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur dengan mengumpulkan berbagai hasil kajian mengenai Kawasan Batujaya dan STEAM. Penggunaan STEAM pada pembelajaran di sekolah dengan implementasi multidisiplin ilmu telah terbukti memberikan pengalaman belajar kritis dan konkret bagi pelajar di beberapa negara Eropa dan Asia termasuk di Indonesia. Penelitian mengenai integrasi tinggalan budaya dengan STEAM menjadi kajian baru dalam kajian pelestarian tinggalan budaya di Indonesia. Model integrasi ini menjadi hasil penelitian yang diharapkan tidak hanya meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan inovatif pelajar namun juga dapat meningkatkan pelestarian cagar budaya yang berkelanjutan. Kata kunci: Kawasan Batujaya, Pelestarian Berkelanjutan, STEAM, Pendidikan Publik, Cagar Budaya
Cover Amerta Volume 44, Nomor 1, Tahun 2026 BRIN
AMERTA Vol. 44 No. 1 (2026)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Preface Amerta Volume 44, Nomor 1, Tahun 2026 BRIN
AMERTA Vol. 44 No. 1 (2026)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract