cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota UNISBA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2006): JULI 2006" : 5 Documents clear
REPOSISI ISTILAH REVIEW SEJARAH RUANG KEPULAUAN Weishaguna, Weishaguna
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota UNISBA Vol 6, No 2 (2006): JULI 2006
Publisher : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (645.965 KB)

Abstract

Pengalaman sejarah ruang kepulauan yang berlangsung secara kompleks dan dinamis telah melahirkan banyak istilah dengan paradigmanya sendirinya. Tidak ada satupun istilah yang benar-nenar konsisten dapat digunakan untuk mendefinisikan ruang kepulauan ini. Setiap istilah memiliki nilai historis, akar kebudayaan, ruang lingkup wilayah dan periodisasi waktu yang berbeda. Oleh karena itu, reposisi istilah merupakan bagian terpenting menuju review sejarah ruang kepulauan yang lebih objektif.
BAGAIMANA KEDUDUKAN INTUISI DALAM SEBUAH PERENCANAAN? Pamungkas AS, Raditya
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota UNISBA Vol 6, No 2 (2006): JULI 2006
Publisher : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.318 KB)

Abstract

Sebagaimana kita ketahui, manusia perlu berpengetahuan, karena manusia lahir dan diciptakan membawa sifat ingin tahu. Untuk mengetahui banyak hal, manusia mempunyai tiga alat: indera, akal dan hati (intuisi). Untuk mampu mengetahui hal-hal yang empiris manusia memfungsikan inderawinya, akal sendiri dapat mengetahui objek yang abstrak. Hati dapat mengetahui hal-hal yang ghaib yang disebut sebagai supralogis (abstrak tapi masih logis). Sama halnya dengan sebuah perencanaan pada umumnya disusun berdasarkan hal-hal yang bersifat empiris (lebih kepada pengetahuan inderawi), akan tetapi, penggunaan intuisi atau rahsa (illative
KEARIFAN BUDAYA LOKAL DALAM PERSFEKTIF TEORI PERENCANAAN SARASWATI, SARASWATI
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota UNISBA Vol 6, No 2 (2006): JULI 2006
Publisher : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.101 KB)

Abstract

Secara garis besar, teori perencanaan berkembang dari alur besar instrumental rasionalitas menuju komunikatif rasionalitas, yaitu mengalir dari alur authoritative knowledge ke alur pelibatan berbagai fihak dalam perencanaan. Komunikatif rasionalitas dikemas dan dikategorikan dalam teori perencanaan komunikatif (Communicative Planning Theory) dalam bentuk konsep yang beragam, seperti advocacy planning, transactive planning, participatory planning, radical planning, collaborative planning, dan lain-lain. Namun demikian, dalam alur komuniatif rasionalitas tersebut, konsep dasar mengenai komunikasi dan kolaborasi antara budaya lokal atau kearifan lokal dengan perencanaan masih belum secara eksplisit dibicarakan, karena selama ini komunikatif rasionalitas lebih banyak membicarakan hubungan antar individu, kelompok masyarakat, pemerintah, pelaku bisnis, dan stakeholder perencanaan lainnya. Budaya atau kearifan budaya lokal sebagai bagian dari “practical reasoning” sesungguhnya ada dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, terutama di negara-negara sedang berkembang bukan barat (non western culture) seperti Indonesia, di samping perencanaan normatif sebagai hasil penalaran “knowledge of science” dalam perencanaan. Tulisan ini menjelaskan konsep kolaborasi antara kearifan budaya lokal dengan perencanaan dalam persfektif teori perencanaan.
Peranan Pertimbangan Kearifan Budaya Lokal dalam Perencanaan Wilayah Saraswati, Saraswati
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota UNISBA Vol 6, No 2 (2006): JULI 2006
Publisher : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.936 KB)

Abstract

Optimisme negara maju akan pulihnya ekonomi melalui peningkatan ekonomi nasional (GDP) pasca perang dunia ke II, telah menghasilkan konsep-konsep perencanaan pengembangan wilayah berupa penataan pusat-pusat kegiatan ekonomi dan industri yang dikenal dengan Growth Pole dan Growth Center dengan asumsi penetesan perkembangan dan memicu daerah belakangnya (center periphery). Akan tetapi konsep ini lambat laun ditentang oleh berbagai konsep dan fakta di lapangan bahwa penetesan dan peningkatan PDB saja tidak mampu menjawab berbagai permasalahan kesejahteraan, keadilan, dan pertumbuhan itu sendiri. Optimisme tersebut bergeser ke arah perencanaan pembangunan yang menitik beratkan pada pentingnya nilai kesejahteraan, keadilan, pemerataan, dan pelibatan sumberdaya lokal. Perencanaan pembangunan yang pada awalnya lebih bersifat kebijakan dari “atas” atau Development from Above dan mengalami beberapa kegagalan, telah memunculkan gagasan perencanaan pembangunan yang mempertimbangkan potensi lapisan bawah atau Development from Below. Development from Below ini sering juga disebut sebagai Bottom up planning atau Bottom up Approach dalam perencanaan pengembangan wilayah. Pertimbangan Kearifan Lokal dalam Perencanaan Wilayah, merupakan salah satu pengisian pelibatan sumberdaya lokal, baik sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia dalam perencanaan pembangunan, karena di dalamnya ada landasan pengetahuan lokal (local knowledge) yang diperkirakan telah berkembang sebagai potensi perencanaan bagi masyarakat setempat dalam menghadapi persoalan wilayahnya. Paper ini mengantar untuk menjelaskan peranan kearifan lokal dalam pengembangan wilayah berbasis sumberdaya lokal.
STUDI UNTUK MENENTUKAN FUNGSI HUTAN KOTA DALAM MASALAH LINGKUNGAN PERKOTAAN Sundari, Eva Siti
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota UNISBA Vol 6, No 2 (2006): JULI 2006
Publisher : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.695 KB)

Abstract

Berbagai perubahan kondisi lingkungan dapat berpengaruh buruk terhadap manusia. Berbagai bentuk perusakan lingkungan, seperti pencemaran udara, pencemaran air, dan menurunnya kualitas lingkungan akibat bencana alam, hal ini tentunya bisa berdampak global pada lingkungan, khususnya bagi kesehatan masyarakat sendiri. Masalah lingkungan, seperti bencana banjir, bencana kekeringan, tanah longsor, kebakaran hutan, masalah sampah, dan meningkatnya kadar polusi udara merupakan masalah lingkungan yang tergolong bukan sepele. Sebab, tidak terselesaikannya atau berlarut-larutnya masalah lingkungan akan menghancurkan potensi pemenuhan generasi mendatang. Termasuk adanya kemerosotan kualitas lingkungan bisa berdampak buruk bagi kenyamanan lingkungan, khususnya bagi kehidupan manusia. Hutan kota merupakan pendekatan dan penerapan salah satu atau beberapa fungsi hutan dalam kelompok vegetasi di perkotaan untuk mencapai tujuan proteksi, rekreasi, estetika, dan kegunaan fungsi lainnya bagi kepentingan masyarakat perkotaan. Untuk itu, hutan kota tidak hanya berarti hutan yang berada di kota, tetapi dapat pula berarti bahwa hutan kota dapat tersusun dari komponen hutan, dan kelompok vegetasi lainnya yang berada di kota, seperti taman kota, jalur hijau, serta kebun dan pekarangan.

Page 1 of 1 | Total Record : 5