cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota UNISBA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2007): MARET 2007" : 5 Documents clear
PERCEPATAN PENGEMBANGAN WILAYAH MELALUI STRATEGI IMPLEMENTASI WILAYAH PENGEMBANGAN (WP) DAN HIRARKI KOTA-KOTA (Studi Kasus : Kabupaten Subang) HARIYANTO, ASEP
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota UNISBA Vol 7, No 1 (2007): MARET 2007
Publisher : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.604 KB)

Abstract

Percepatan pengembangan wilayah melalui Strategi Implementasi Wilayah Pengembangan (WP) dan Hirarki Kota-kota merupakan suatu upaya untuk pelaksanaan kebijakan pengembangan wilayah yang memungkinkan hirarki kota-kota dan wilayah pengembangan (WP) dapat berjalan sesuai dengan fungsi dan peranan yang sudah ditetapkan, sehingga memungkinkan terciptanya pola pengembangan wilayah yang lebih seimbang. Pengembangan wilayah sendiri merupakan manifestasi ruang dari pengembangan ekonomi secara keseluruhan. Pengembangan ekonomi cenderung mengisi kawasan geografis tertentu, sehingga menimbulkan kesenjangan ruang (spatial inegualities) berdasarkan pendapatan, kemakmuran dan kesejahteraan material. Oleh karena itu pemerintah perlu mengitervensi secara cermat proses pengembangan wilayah tersebut melalui perencanaan wilayah yang salah satu bentuknya adalah pembagian struktur ruang wilayah berdasarkan wilayah pengembangan (WP) dan hirarki kota-kota
KONTRIBUSI EKONOMI DESA-DESA PESISIR TERHADAP PENDAPATAN WILAYAH KABUPATEN BANTUL ASYIAWATI, YULIA; RUSTIJARNO, SINUNG
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota UNISBA Vol 7, No 1 (2007): MARET 2007
Publisher : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.215 KB)

Abstract

Masyarakat di wilayah pesisir Kabupaten Bantul sejak lama mengandalkan pemenuhan kebutuhan hidup dari kegiatan pertanian dan pariwisata. Pandangan ini mulai berubah seiring dengan tuntutan kebutuhan hidup yang semakin meningkat, sehingga dicari alternatif usaha yang tidak hanya mengandalkan aktivitas di darat (terestrial) yaitu pemanfaatan sumberdaya laut di wilayah pesisir. Kegiatan perikanan laut di wilayah pantai selatan Kabupaten Bantul telah berkembang sejak tahun 1995 dengan dirintisnya usaha penangkapan ikan di wilayah Pantai Depok dan Pandansimo yang didorong adanya alih teknologi dari nelayan pendatang. Usaha perikanan laut bersifat komplementer terhadap mata pencaharian pokok yaitu kegiatan pertanian dan pariwisata. Ketiga kegiatan tersebut saling menunjang dan memberikan kontribusi terhadap pendapatan masyarakat dan wilayah pesisir. Penelitian dilakukan di desa-desa pesisir Kabupaten Bantul yaitu Parangtritis, Tirtohargo, Gadingsari, Srigading dan Poncosari pada bulan April-Juli 2002. Tujuan penelitian adalah mengetahui pendapatan masyarakat wilayah pesisir dan kontribusi ekonomi desa-desa pesisir di Kabupaten Bantul terhadap pendapatan wilayah. Metode penelitian menggunakan cara survai, analisis data dilakukan dengan alat bantu perangkat lunak I-think versi 6,0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas pemanfaatan ruang wilayah pesisir tahun 2001 mencapai 2.579,79 ha atau 59,94% luas ruang tersedia, pendapatan wilayah pesisir sebesar Rp 86.752.507.899,- atau memberikan kontribusi sebesar 3,50% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Bantul. Sumbangan pendapatan dari sektor pertanian bahan makanan terhadap PDRB sebesar Rp 77,332,336,603,-, perikanan laut sebesar Rp 4,142,746,611,- dan pariwisata sebesar Rp 3,428,007,139,-. Pendapatan tenaga kerja petani, nelayan dan jasa wisata masing-masing sebesar Rp 4,163,625,- ; Rp 6,282,595,- dan Rp 12,374,718,-/orang/tahun. Peningkatan pendapatan masyarakat dan wilayah pesisir di Kabupaten Bantul dapat dilakukan dengan pengembangan sektor perikanan laut dan wisata bahari.
GAGASAN TEORI PERKEMBANGAN WILAYAH BERBASIS TRANSFORMASI SOSIAL WEISHAGUNA, WEISHAGUNA
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota UNISBA Vol 7, No 1 (2007): MARET 2007
Publisher : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (719.222 KB)

Abstract

Kelemahan mendasar dari teori-teori perkembangan wilayah yang ada sekarang adalah banyak menyandarkan pada asumsí dan indikator-indikator pertumbuhan yang besifat linier misalkan pertumbuhan jumlah penduduk, kepadatan dan laju pertumbuhan ekonomi. Kenyataannya paradigma pertumbuhan linier ini sudah sangat tidak mampu merespon perkembangan kondisi yang ada. Terlebih lagi kondisi masyarakat Indonesia yang mengalami mutasi luar biasa secara terbuka dinamis dan beragam. Oleh karena itu, satu bagian terpenting yang terabaikan dalam teori-teori tersebut adalah proses transformasi sosial sebagai faktor yang paling signifikan dalam menentukan perkembangan wilayah. Perenungan kembali siklus air sebagai ayat-ayat Allah, perlahan menuntun pada sebuah kerangka kajian analogis ilmiah. Ada indikasi bahwa karakteristik air dalam wujud padat (Es), cair (Air) dan gas (uap air), memiliki kesamaan sifat dengan tingkat perkembangan wilayah yaitu wilayah terbelakang, berkembang dan maju. Dengan menggunakan metode sintaktikal meliputi variabel-variabel subtantif perkembangan wilayah dan variabel-variabel teori termodinamika, maka beberapa konsep hipotetik dapat ditemukan sebagai kerangka dasar dalam membangun teori baru tentang perkembangan wilayah berbasis proses transformasi sosial.
PENGEMBANGAN WISATA BAHARI DI WILAYAH PESISIR SELATAN KABUPATEN BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA ASYIAWATI, YULIA; RUSTIJARNO, SINUNG
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota UNISBA Vol 7, No 1 (2007): MARET 2007
Publisher : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.004 KB)

Abstract

Tujuan penelitian adalah mengetahui potensi dan peluang pengembangan obyek dan daya tarik wisata bahari di wilayah pesisir selatan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.. Penelitian dilakukan pada bulan Juni-Agustus 2002 di wilayah Pantai Parangtritis, Samas dan Pandansimo. Penelitian menggunakan metode survai, analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minat pengunjung tertuju pada obyek wisata alam pantai, wisata budaya dan kesenian dan pembentukan gumuk pasir (sand dunes). Jumlah pengunjung obyek tujuan wisata pantai pada tahun 1997 mencapai 1.335.618 orang, meningkat menjadi 1.756.874 orang pada tahun 2002 dengan laju peningkatan mencapai 7,89% per tahun. Pendapatan wisata pantai pada tahun 2001 memberikan kontribusi sebesar Rp 2.556.898.250 atau 98,92% terhadap pendapatan sektor pariwisata Kabupaten Bantul, dengan laju pertumbuhan sebesar 31,90% per tahun selama periode 1997-2001. Pengembangan obyek wisata bahari di Kabupaten Bantul dapat dilakukan dengan 1) Implementasi kebijakan pengembangan pariwisata berdasarkan hasil studi pengembangan obyek wisata, 2) Strategi promosi dengan penerapan teknologi informasi melalui media elektronik terutama internet, dengan membuka situs pariwisata, 3) Implementasi Sapta Pesona pariwisata (aman, indah, tertib, bersih, ramah-tamah dan kenangan), 4) Pemulihan kondisi ekonomi nasional dan jaminan keamanan dan kenyamanan berwisata, 5) Menambah event-event wisata dan diversifikasi produk wisata, aspek kelestarian lingkungan dan pembenahan fasilitas dan akses obyek wisata (taman bermain, akuarium biota laut, marine science tour) dan penataan lingkungan sekitar pantai.
PERANAN PERTIMBANGAN KEARIFAN BUDAYA LOKAL DALAM PERENCANAAN WILAYAH SARASWATI, SARASWATI
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota UNISBA Vol 7, No 1 (2007): MARET 2007
Publisher : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.666 KB)

Abstract

Optimisme negara maju akan pulihnya ekonomi melalui peningkatan ekonomi nasional (GDP) pasca perang dunia ke II, telah menghasilkan konsep-konsep perencanaan pengembangan wilayah berupa penataan pusat-pusat kegiatan ekonomi dan industri yang dikenal dengan Growth Pole dan Growth Center dengan asumsi penetesan perkembangan dan memicu daerah belakangnya (center periphery). Akan tetapi konsep ini lambat laun ditentang oleh berbagai konsep dan fakta di lapangan bahwa penetesan dan peningkatan PDB saja tidak mampu menjawab berbagai permasalahan kesejahteraan, keadilan, dan pertumbuhan itu sendiri. Optimisme tersebut bergeser ke arah perencanaan pembangunan yang menitik beratkan pada pentingnya nilai kesejahteraan, keadilan, pemerataan, dan pelibatan sumberdaya lokal. Perencanaan pembangunan yang pada awalnya lebih bersifat kebijakan dari “atas” atau Development from Above dan mengalami beberapa kegagalan, telah memunculkan gagasan perencanaan pembangunan yang mempertimbangkan potensi lapisan bawah atau Development from Below. Development from Below ini sering juga disebut sebagai Bottom up planning atau Bottom up Approach dalam perencanaan pengembangan wilayah. Pertimbangan Kearifan Lokal dalam Perencanaan Wilayah, merupakan salah satu pengisian pelibatan sumberdaya lokal, baik sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia dalam perencanaan pembangunan, karena di dalamnya ada landasan pengetahuan lokal (local knowledge) yang diperkirakan telah berkembang sebagai potensi perencanaan bagi masyarakat setempat dalam menghadapi persoalan wilayahnya. Paper ini mengantar untuk menjelaskan peranan kearifan lokal dalam pengembangan wilayah berbasis sumberdaya lokal.

Page 1 of 1 | Total Record : 5