cover
Contact Name
Tyson Jeidi Jeri Supit
Contact Email
tysonsupit@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkardia@gmail.com
Editorial Address
8RPM+CPF, Kakaskasen, Tomohon Utara, Tomohon City, North Sulawesi
Location
Kota tomohon,
Sulawesi utara
INDONESIA
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : -     EISSN : 29862019     DOI : https://doi.org/10.69932/kardia
Adapun yang menjadi Fokus dan Ruang Lingkup dalam Jurnal KARDIA adalah: 1. Teologi Biblika (Perjanjian Lama & Perjanjian Baru) 2. Teologi Historika 3. Teologi Sistematika 4. Teologi Sosial dan Publik 5. Teologi Digital dan Internet of Things 6. Teologi Kontekstual 7. Misiologi Biblikal & Praktikal 8. Etika Kristen 9. Pendidikan Kristiani dalam Gereja, Keluarga & Sekolah
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 1 (2025): Februari 2025" : 5 Documents clear
Prinsip-Prinsip Pendampingan Generasi yang Fatherless menurut 1 Tesalonika 2:7 Novianti, Novianti; Baskoro, Paulus Kunto
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v3i1.47

Abstract

Abstract: The phenomenon of "fatherlessness," or the absence of a father figure, has become an increasingly concerning social issue, including in Indonesia. Children growing up without a father face various negative impacts, such as psychological disorders, difficulties in forming self-identity, and increased involvement in risky behaviours. The church has the potential to act as an agent of restoration through mentoring based on love and spiritual values. This study aims to examine the church’s mentoring principles for the "fatherless" generation based on 1 Thessalonians 2:7 and identify its implications and logical applications in church life. This study employs a qualitative approach with a hermeneutic analysis of 1 Thessalonians 2:7 and a literature review from relevant books and journals. The findings indicate that church mentoring for the "fatherless" generation can be realized through a gentle and loving approach, effective discipleship, character and identity formation, and emotional healing. The church can also function as a community that provides spiritual and psychosocial support for children who lack a father figure. The implications of this study emphasize that the church must develop a sustainable discipleship system, instil Christ-centered values, and create a supportive environment for young people experiencing "fatherlessness." The novelty of this research lies in its perspective on spiritually-based mentoring, highlighting the church’s role as a "home" for those who have lost a father figure. Abstrak: Fenomena "fatherlessness" atau kehilangan figur ayah menjadi isu sosial yang semakin mengkhawatirkan, termasuk di Indonesia. Anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah mengalami berbagai dampak negatif, seperti gangguan psikologis, kesulitan dalam membentuk identitas diri, serta keterlibatan dalam perilaku berisiko. Gereja memiliki potensi untuk berperan sebagai agen pemulihan melalui pendampingan yang berbasis kasih dan nilai-nilai spiritual. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji prinsip pendampingan gereja bagi generasi "fatherless" berdasarkan 1 Tesalonika 2:7, serta mengidentifikasi implikasi dan penerapan logisnya dalam kehidupan gerejawi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan analisis hermeneutik terhadap teks 1 Tesalonika 2:7 serta kajian pustaka dari buku dan jurnal yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendampingan gereja bagi generasi "fatherless" dapat diwujudkan melalui pendekatan lembut dan penuh kasih, pemuridan yang efektif, pembentukan karakter dan identitas diri, serta penyembuhan emosional. Gereja juga dapat berfungsi sebagai komunitas yang memberikan dukungan spiritual dan psikososial bagi anak-anak yang kehilangan figur ayah. Implikasi dari penelitian ini menegaskan bahwa gereja harus mengembangkan sistem pemuridan yang berkelanjutan, menanamkan nilai-nilai kasih Kristus, dan menciptakan lingkungan yang mendukung bagi generasi muda yang mengalami "fatherlessness". Kebaruan penelitian ini terletak pada perspektif pendampingan berbasis spiritual yang menekankan peran gereja sebagai "rumah" bagi mereka yang kehilangan figur ayah.
Empowering the Digital Generation:: the Role of Biblical Discipleship in Shaping Christian Identity and Countering Cultural Challenges Saptorini, Sari; Purnamasari, Citaning; Arifianto, Yonatan Alex
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v3i1.48

Abstract

Abstract: The digital generation, particularly Millennials and Gen Z, faces an identity crisis driven by the influence of digital culture, moral relativism, and a lack of strong spiritual foundations. This crisis results in weakened Christian values in daily life, posing challenges in forming a steadfast identity amid globalization. This study explores how biblical discipleship shapes a strong Christian identity and equips the digital generation to face modern cultural challenges. Using a descriptive qualitative approach based on a literature review, this research analyzes the concept of biblical discipleship and its relevance in shaping spirituality and strengthening the faith resilience of the digital generation. The findings indicate that biblical discipleship, rooted in the teachings and example of Christ, fosters confidence, reinforces identity as children of God, and develops Christian character. Relevant discipleship strategies for the digital era, including the use of digital technology and contextual approaches, are necessary to enhance the effectiveness of church ministry. Furthermore, digital literacy and creative content in communicating the Gospel to young generations play a crucial role in strengthening Christian identity.   Abstrak: Generasi digital, terutama Millennials dan Gen Z, menghadapi tantangan berupa krisis identitas yang dipicu oleh pengaruh budaya digital, relativisme moral, dan minimnya fondasi spiritual yang kuat. Krisis ini berakibat pada lemahnya nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan sehari-hari, sehingga memunculkan tantangan dalam membentuk identitas yang teguh di tengah arus globalisasi. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana pemuridan berdasarkan Alkitab membentuk identitas Kristiani yang kuat dan membekali generasi digital menghadapi tantangan budaya modern.  Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi literatur, penelitian ini menganalisis konsep pemuridan Alkitabiah dan relevansinya dalam membentuk spiritualitas serta ketahanan iman generasi digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemuridan alkitabiah, yang didasarkan pada ajaran dan teladan Kristus, menumbuhkan rasa percaya diri, memperkuat identitas sebagai anak-anak Allah, dan mengembangkan karakter Kristen. Strategi pemuridan yang relevan untuk era digital, termasuk penggunaan teknologi digital dan pendekatan kontekstual, diperlukan untuk meningkatkan efektivitas pelayanan gereja. Lebih lanjut, literasi digital dan konten kreatif dalam mengkomunikasikan Injil kepada generasi muda berperan penting dalam memperkuat identitas Kristiani.
Theologia Sistematika sebagai Bahan Khotbah bagi Pembinaan Warga Gereja Nuban, Eliazer; Banfatin, Nahor; Adilang, Ryanto
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v3i1.50

Abstract

Abstract: Sermons need to be equipped with a strong foundation of the Word through systematic doctrine so that the preaching of God's Word can be conveyed and transform the faith of every believer. Therefore, the purpose of this article is to examine Systematic Theology is a discipline whose truth is systemized, structured, which comes from the teaching of the Bible which is the Word of God. Thus, if someone learns from the Bible regularly, it will have implications for the discovery of the truth about Christian doctrine which has an impact on the church to do systematic theology which can be integrated with preaching services, (Homiletics) for the development of church citizens. The approach used is descriptive qualitative with a literature study method where researchers review books and articles related to systematic theology and homiletics. The results of this study are expected to overcome the gap by making Systematic Theology through thematic aspects as preaching material so that the development of church members will run well because Systematic Theology comes from the Bible which is the Word of God. The implications of this research encourage preachers to preach systematically which has an impact on the congregation's transformative understanding of the Christian Faith. Abstract: Khotbah perlu diperlengkapi dengan dasar Firman yang kuat melalui doktrin yang sistematis agar pemberitaan Firman Tuhan dapat tersampaikan serta mentransformasi iman setiap orang percaya. Oleh karena itu, tujuan artikel ini adalah mengkaji Theologi Sistematika merupakan disiplin ilmu yang kebenarannya tersistem, terstruktur, yang bersumber dari pada pengajaran Alkitab yang adalah Firman Allah. Dengan demikian jika seseorang belajar dari Alkitab secara teratur akan berimplikasi pada penemuan kebenaran terhadap doktrin Kristen yang berdampak kepada gereja untuk bertheologi secara sistematika yang dapat diintegrasikan dengan pelayanan berkhotbah bagi pembinaan warga gereja. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode studi literatur dimana peneliti mengkaji dari buku dan artikel terkait dengan teologi sistematika dan homiletika. Hasil penelitian ini diharapkan untuk mengatasi kesenjangan dengan menjadikan Theologia Sistematika melalui aspek tematis sebagai bahan khotbah, agar pembinaan warga gereja akan berjalan dengan baik karena Theologia Sistematika bersumber dari Alkitab yang adalah Firman Allah. Implikasi dari penelitian ini mendorong pengkhotbah untuk berkhotbah secara sistematis yang berdampak pada pemahaman transformatif jemaat terhadap Iman Kristen.
Hak Asasi Manusia dalam Perspektif Teologi Sistematika:: Analisis Dialektis terhadap Nilai Teologis dan Sekularisme Michael Lumanauw; Wondal, Max Ray
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v3i1.51

Abstract

Abstract: Human Rights and Systematic Theology are two things that have a relationship because both of these fields are made and compiled by humans who are similar creations and in the image of God. Therefore, the purpose of this article is to examine human rights within the framework of Systematic Theology to create a significant discourse for human rights amid secularization that emphasizes humans without the intervention of the Sovereign God. The research approach is qualitative using the content analysis method where the researcher analyzes human rights historically and Systematic Theology analytically and theoretically. The result of the research in this paper is that systematic theology is a source of human rights knowledge because it explains the work of God as the Creator of human beings, and human actions that must have theological value, glorify God, and present the communion of love to enjoy God in human life. The conclusion is that human rights need to emphasize theological values and not secular values for human survival. This article provides the novelty that systematic theology is relevant for human rights and human rights must be reviewed based on systematic theology specifically through the doctrine of man and sin. Abstrak: Tujuan dari artikel ini adalah menganalisis Hak Asasi Manusia dalam kerangka berpikir Teologi Sistematika agar melahirkan diskursus yang signifikan bagi HAM ditengah-tengah arus sekularisasi yang menekankan manusia tanpa intervensi Allah yang Berdaulat. HAM dan Teologi sistematika adalah dua hal yang memiliki relasi karena kedua bidang ini dibuat dan disusun oleh manusia yang adalah ciptaan yang serupa dan segambar dengan Allah. Pendekatan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode analisis konten dimana peneliti melakukan analisis terkait HAM secara historik dan Teologi sistematika secara analitis teoretis. Adapun hasil penelitian dalam tulisan ini adalah Teologi sistematika merupakan sumber pengetahuan HAM karena menjelaskan karya Allah sebagai Pencipta manusia, dan tindakan manusia yang harus memiliki nilai teologis, memuliakan Allah, serta menghadirkan persektuan cinta kasih untuk menikmati Allah di dalam kehidupan manusia. Simpulan yang didapat adalah HAM perlu menekankan nilai-nilai teologis dan bukan nilai-nilai sekuler bagi keberlangsungan hidup manusia. Artikel ini memberikan implikasi kebaruan bahwa Teologi sistematika relevan bagi HAM serta HAM harus ditinjau berdasarkan Teologi sistematika secara khusus melalui doktrin manusia
Mengampuni Orang Yang Bersalah:: Studi Eksegetis Terhadap 2 Korintus 2: 5-11 Setiawan, Iwan; Malaikari, Halena; Tania, Jovicka Tessalonicka Natalia
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 3 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v3i1.52

Abstract

Abstract: The purpose of writing the article is to explain biblically and comprehensively why it is necessary to forgive those who offend based on 2 Corinthians 2: 5-11 so that believers can apply it in real life. The research method that the author uses is the literature review method by combining sources including articles, journals, and other written documents, using a hermeneutic method, namely a way of expressing, translating, and reviewing. The source material is the Bible text, meaning the original text of the Bible text. The research results obtained are: First, so that he does not perish in sadness. Second, so that believers truly love. Third, so that the devil does not gain an advantage, the implication is that believers need to forgive because otherwise, believers will continue to be in sadness and bitterness, by forgiving believers apply true love and the most important thing is that by giving forgiveness it does not allow the devil to gain profit. The novelty of this article is the presentation which focuses on the text of 2 Corinthians 2:5-11, by finding the principles of forgiving those who offend based on the existing text.   Abstrak: Tujuan dari penulisan artikel adalah untuk menjelaskan secara alkitabiah dan komprehensif mengenai mengapa perlu mengampuni orang yang bersalah berdasarkan 2 Korintus 2: 5-11, supaya orang percaya dapat menerapkannya dalam kehidupan nyata. Metode penelitian yang penulis gunakan ialah metode kajian pustaka dengan menggunakan cara menggabungkan sumber-sumber antara lain Artikel, jurnal, dan dokumen lainnya secara tertulis, dengan menggunakan cara hermeneutik yakni cara untuk mengungkapkan, menterjemahkan dan mengulas. Sumber bahannya adalah teks Alkitab dengan maksud teks asli dari teks Alkitab. Hasil penelitian yang diperoleh adalah: Pertama, supaya ia tidak binasa dalam kesedihan. Kedua, supaya orang percaya sungguh-sungguh mengasihi. Ketiga, supaya iblis tidak memperoleh keuntungan. Implikasinya adalah bahwa penting bagi orang percaya untuk mengampuni, karena jika tidak demikian orang percaya akan terus dalam kesedihan dan kepahitan, dengan hidup mengampuni orang percaya menerapkan kasih yang sesungguhnya dan yang terpenting adalah dengan memberi pengampunan tidak memberikan kesempatan kepada iblis untuk mendapatkan keuntungan. Kebaharuan tulisan ini adalah pemaparan yang memfokuskan pada teks 2 Korintus 2:5-11, dengan menemukan prinsip-prinsip mengampuni orang yang bersalah berdasarkan teks yang ada.

Page 1 of 1 | Total Record : 5