cover
Contact Name
Tyson Jeidi Jeri Supit
Contact Email
tysonsupit@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkardia@gmail.com
Editorial Address
8RPM+CPF, Kakaskasen, Tomohon Utara, Tomohon City, North Sulawesi
Location
Kota tomohon,
Sulawesi utara
INDONESIA
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : -     EISSN : 29862019     DOI : https://doi.org/10.69932/kardia
Adapun yang menjadi Fokus dan Ruang Lingkup dalam Jurnal KARDIA adalah: 1. Teologi Biblika (Perjanjian Lama & Perjanjian Baru) 2. Teologi Historika 3. Teologi Sistematika 4. Teologi Sosial dan Publik 5. Teologi Digital dan Internet of Things 6. Teologi Kontekstual 7. Misiologi Biblikal & Praktikal 8. Etika Kristen 9. Pendidikan Kristiani dalam Gereja, Keluarga & Sekolah
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 1 (2026): Februari 2026" : 5 Documents clear
Pendidikan Agama Kristen sebagai Sarana Pembentukan Discernment Rohani: Eksegesis 1 Yohanes 4:1 Rivaldo, Fersal Kinova; Soleman Tinglioy; Robet Matias Laumakan
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 4 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v4i1.61

Abstract

Abstract: This study aims to analyse the role of Christian Religious Education (CRE) as a means for forming spiritual discernment based on an exegetical study of 1 John 4:1. The findings indicate that the command dokimazete ta pneumata (“test the spirits”) is a collective imperative that demands active and continuous engagement from the entire community of believers. Spiritual discernment in Scripture is understood as a Spirit-enabled capacity to evaluate teachings, spiritual experiences, and life decisions based on sound Christological confession and ethical fruit consistent with the Gospel. The study further reveals that spiritual discernment develops through the integration of wisdom, faith, and perseverance as complementary elements of spiritual formation. Pedagogically, CRE makes a strategic contribution by strengthening exegetically grounded theological understanding, cultivating mature and critical faith attitudes, and fostering sustained spiritual reflection. Therefore, CRE functions not merely as the transmission of religious knowledge but as a holistic faith formation process that nurtures believers’ spiritual sensitivity. Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Pendidikan Agama Kristen (PAK) sebagai sarana pembentukan discernment rohani berdasarkan eksegesis 1 Yohanes 4:1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perintah “δοκιμάζετε τὰ πνεύματα” (ujilah roh-roh) merupakan imperatif kolektif yang menuntut tindakan aktif dan berkelanjutan dari seluruh komunitas orang percaya. Discernment rohani dalam Kitab Suci dipahami sebagai kemampuan yang bersumber dari Roh Kudus untuk menilai ajaran, pengalaman rohani, dan keputusan hidup berdasarkan pengakuan Kristologis yang benar serta buah kehidupan yang selaras dengan Injil. Penelitian ini juga menemukan bahwa discernment rohani bertumbuh melalui integrasi hikmat, iman, dan ketekunan sebagai unsur formasi spiritual yang saling melengkapi. Dalam kerangka pedagogis, PAK memiliki kontribusi strategis melalui penguatan pemahaman teologis berbasis eksegesis, pembentukan sikap iman yang kritis dan dewasa, serta pembiasaan refleksi rohani yang berkelanjutan. Dengan demikian, PAK berfungsi sebagai proses formasi iman yang holistik untuk membangun kepekaan rohani orang percaya
Krisis Kepemimpinan dan Tanggung Jawab Etis-Teologis dalam Bencana Ekologis Sumatera Simanjuntak, Harlinton
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 4 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v4i1.62

Abstract

Abstract: The ecological disaster that occurred in Aceh, North Sumatra, and West Sumatra in November 2025 revealed an ethical-theological crisis in political leadership practices in Indonesia. The narrative friction between the government and the community, as well as various controversial legal and political policies, form the background of this study. Using a literature-based research method grounded in Colossians 3:17 and a social hermeneutic approach, this study analyses the socio-legal-political dynamics behind these disasters in relation to moral responsibility in governance. The results of the study reveal five main issues: deforestation and environmental destruction, weak disaster risk mitigation, problems with environmental law enforcement, unpreparedness and lack of responsiveness in disaster management, and ineffective and irrelevant public communication. These findings confirm that the ecological crisis in Sumatra is not merely a natural phenomenon, but a manifestation of leadership failure. A comprehensive evaluation of natural resource management is needed to realise environmental policies that are fair, sustainable, and in line with the principles of ethical-theological responsibility. Abstrak: Bencana ekologis yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada November 2025 memperlihatkan adanya krisis etis-teologis dalam praktik kepemimpinan politik di Indonesia. Friksi narasi antara pemerintah dan masyarakat serta berbagai kebijakan hukum dan politik yang kontroversial menjadi latar belakang penelitian ini. Melalui metodo riset literatur berbasis prinsip Kolose 3:17 dan pendekatan hermeneutika sosial, penelitian ini menganalisis dinamika sosial-hukum-politik di balik bencana tersebut dalam kaitannya dengan tanggung jawab moral dalam tata kelola pemerintahan. Hasil penelitian menunjukkan lima persoalan utama: deforestasi dan perusakan lingkungan hidup, lemahnya mitigasi risiko bencana, masalah penegakan hukuk lingkungan, ketidaksiapan dan ketidaksigapan penanggulangan bencana, serta komunikasi publik yang tidak efektif dan relevan. Temuan ini menegaskan bahwa krisis ekologis di Sumatera bukan sekadar fenomena alam, melainkan manifestasi dari kegagalan dalam kepemimpinan. Diperlukan evaluasi yang menyeluruh terhadap pengelolaan sumber daya alam untuk mewujudkan kebijakan lingkungan yang adil, lestari, dan sesuai dengan prinsip tanggung jawab etis-teologis
Etika Terapan Kristen di Era Digital: Fondasi Teologis dan Transformasi Moral-Sosial Toisuta, Jakson Sespa
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 4 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v4i1.63

Abstract

Abstract: The digital era has significantly reshaped the moral and social dynamics of human life. Rapid advances in information technology expand access to knowledge and communication while simultaneously generating moral, social, and spiritual challenges that threaten the integrity of faith and human dignity. This article examines these crises and proposes a theological response through the lens of Christian applied ethics. Employing a qualitative library research and a theological–conceptual approach, the study highlights core ethical principles rooted in God’s love, justice, and the transformative work of the Holy Spirit as a foundation for navigating digital disruption. The findings show that Christian applied ethics provides a practical framework for believers to embody Kingdom values in digital spaces through ethical and incarnational witness. The church and Christian communities are encouraged to utilise digital platforms for contextual ministry and mission. In Christian religious education (PAK), integrating digital ethics is essential for fostering character formation, moral awareness, and ethical responsibility within the digital generation. Overall, Christian applied ethics offers not only a response to emerging moral and social challenges but also a pathway for spiritual renewal in an evolving digital landscape. Abstrak: Era digital membawa dampak signifikan terhadap kehidupan moral dan sosial umat manusia. Perkembangan teknologi informasi yang cepat tidak hanya membuka akses pengetahuan dan komunikasi, tetapi juga memunculkan krisis moral, sosial, dan spiritual yang mengancam integritas iman dan kemanusiaan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis krisis moral dan sosial dalam era digital serta menawarkan respons teologis melalui perspektif etika terapan Kristen. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif studi pustaka (library research) dan pendekatan teologis-konseptual, penelitian ini menelusuri prinsip dan dasar etika Kristen yang bersumber pada kasih Allah, keadilan, dan karya Roh Kudus sebagai landasan transformatif dalam menghadapi disrupsi digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa etika terapan Kristen berfungsi sebagai pedoman praksis bagi umat percaya untuk menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah di dunia digital melalui kesaksian hidup yang inkarnasional dan etis. Gereja dan komunitas Kristen dipanggil untuk memanfaatkan ruang digital sebagai wadah pelayanan dan misi yang kontekstual. Dalam konteks pendidikan agama Kristen (PAK), integrasi etika digital menjadi strategi penting dalam pembentukan karakter, kesadaran moral, dan tanggung jawab etis generasi digital. Dengan demikian, etika terapan Kristen bukan hanya respons terhadap krisis moral dan sosial, tetapi juga menjadi sarana pembaruan dan transformasi spiritual bagi umat di tengah realitas digital yang terus berkembang
Keesaan YHWH dan Identitas Tritunggal: Kajian Teologi Biblika atas Kesinambungan Monoteisme Alkitabiah Yustinus, Yustinus
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 4 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v4i1.65

Abstract

Abstract: In contemporary Christian theology, the divine identity of YHWH is often reduced to God the Father, resulting in a fragmented understanding of the relationship between Jesus Christ, the Holy Spirit, and the God of Israel. This article investigates YHWH as the single divine identity that grounds the unity of the Father, the Son, and the Spirit within the canonical witness of Scripture. Employing a biblical-theological approach, the study conducts a layered textual analysis of key Old and New Testament passages, including Exodus 3:14–15, Deuteronomy 6:4, Joel 2:28–32, Romans 10:9–13, Philippians 2:9–11, 1 Corinthians 8:6, John 1:1–3, and Hebrews 1:10–12. The findings demonstrate that the oneness of YHWH in the Old Testament functions as a covenantal identity claim rooted in creation and redemptive action. The New Testament consistently applies texts, attributes, and prerogatives of YHWH to Jesus Christ without abandoning Jewish monotheism. The term “single” in the title, therefore, denotes the indivisible unity of divine identity rather than a denial of personal distinction. This study argues that the doctrine of the Trinity represents a canonical articulation of YHWH’s unified and relational identity, firmly grounded in biblical monotheism. Abstrak: Dalam praktik iman Kristen kontemporer, identitas ilahi YHWH sering direduksi hanya kepada Allah Bapa, sehingga relasi Yesus Kristus dan Roh Kudus dengan YHWH Perjanjian Lama tidak terbaca secara utuh. Artikel ini mengkaji YHWH sebagai identitas ilahi tunggal yang menjadi dasar kesatuan Bapa, Putera, dan Roh Kudus dalam kesaksian kanonik. Penelitian menggunakan pendekatan teologi biblika dengan analisis berlapis terhadap teks-teks kunci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, khususnya Keluaran 3:14–15, Ulangan 6:4, Yoel 2:28–32, Roma 10:9–13, Filipi 2:9–11, 1 Korintus 8:6, Yohanes 1:1–3, dan Ibrani 1:10–12. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keesaan YHWH dalam Perjanjian Lama merupakan klaim identitas perjanjian yang konsisten, dan Perjanjian Baru secara sistematis menerapkan teks, atribut, dan prerogatif YHWH kepada Yesus tanpa membatalkan monoteisme Israel. Istilah “tunggal” dalam judul karena itu menunjuk pada kesatuan identitas ilahi yang tidak terbagi, bukan pada penolakan terhadap pembedaan personal. Artikel ini menegaskan bahwa doktrin Tritunggal merupakan artikulasi kanonik atas identitas YHWH yang esa dan relasional dalam kesinambungan monoteisme alkitabiah.
Kejadian 2:24 dan Arsitektur Perjanjian Pernikahan Kristen: Analisis Integratif atas Monogami, Gender, dan Kesatuan Kristiawan, Ragil; Pujiati, Pujiati; Kiedong, Kim
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 4 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v4i1.66

Abstract

Abstract: This study conducts an integrative exegetical analysis of Genesis 2:24 as the theological foundation of Christian marriage. It reveals four interrelated principles within the divine design of marriage: monogamy, heterosexuality, independence (leaving), and physical unity (one flesh). These four principles form a coherent theological architecture in which each aspect mutually reinforces and defines the others. Monogamy reflects God's faithfulness, heterosexuality is based on gender complementarity in creation, independence is a prerequisite for forming a new family unit, and the "one flesh" union establishes sexuality as a sacred gift within the covenantal bond. The study addresses the academic gap in the lack of a holistic analysis of these four dimensions as a unified system. Its implications for the contemporary church include marriage formation centred on covenant, pastoral guidance that is firm yet compassionate on gender issues, the establishment of healthy boundaries with families of origin, and the restoration of a biblical view of sexuality as sacred. Thus, Genesis 2:24 remains relevant as a normative foundation for the resilience and witness of Christian marriage amid contemporary cultural challenges. Abstrak: Penelitian ini melakukan kajian eksposisi integratif terhadap Kejadian 2:24 sebagai fondasi teologis pernikahan Kristen. Studi ini mengungkap empat prinsip yang saling terkait dalam desain ilahi tentang pernikahan: monogami, heteroseksualitas, kemandirian, dan kesatuan fisik. Keempat prinsip tersebut membentuk suatu arsitektur teologis yang koheren, di mana setiap aspek saling memperkuat dan mendefinisikan satu sama lain. Monogami mencerminkan kesetiaan Allah, heteroseksualitas berdasar pada komplementaritas gender dalam penciptaan, kemandirian menjadi prasyarat bagi pembentukan unit keluarga baru, dan kesatuan “satu daging” menetapkan seksualitas sebagai karunia kudus dalam ikatan perjanjian. Penelitian ini menyoroti celah akademis berupa kurangnya analisis holistik terhadap keempat dimensi tersebut sebagai satu sistem. Implikasinya bagi gereja masa kini mencakup pembinaan pernikahan yang berpusat pada perjanjian (covenant), pendampingan pastoral yang tegas namun penuh kasih dalam isu gender, penegasan batas sehat dengan keluarga asal, serta pemulihan pandangan alkitabiah tentang seksualitas yang kudus. Dengan demikian, Kejadian 2:24 tetap relevan sebagai landasan normatif bagi ketahanan dan kesaksian pernikahan Kristen di tengah tantangan budaya kontemporer.

Page 1 of 1 | Total Record : 5