Journal of Applied Transintegration Paradigm
JOURNAL OF APPLIED TRANSINTEGRATION PARADIGM (JATP) is a peer-reviewed International Journal devoted to the timely study of Religion, Saints, Social, Health Sciences, Education, and Technology. The journal seeks high-quality research papers on the challenges and opportunities presented by Religion, Sains, Health Sciences, Education, and Technology and their impact on society. Issues in JATP cover almost all of the areas of knowledge. Topics include, but are not limited to, the following: Religion, Sains, Social, Health Sciences, Education, and Technology.
Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol. 4 No. 2 (2024): Journal of Applied Transintegration Paradigm"
:
10 Documents
clear
ANALISIS KEBERHASILAN DAKWAH ANTARA MASA RASULULLAH SAW DAN KHULAFAU RASYIDIN
Fikri, Fikri
Journal of Applied Transintegration Paradigm Vol. 4 No. 2 (2024): Journal of Applied Transintegration Paradigm
Publisher : LPPM UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini mencoba menganalisa keberhasilan Dakwah di masa Rasulullah Saw dan Khulafah Rasyidin. Hasil penelitian ini menunjukkan keberhasilan dakwah di masa Rasulullah Saw. terjadi di dua fase yaitu pada fase Makkah dan Madinah. Dakwah yang disebarkan oleh Rasulullah Saw menuai keberhasilan terbesar ketika beliau hijrah bersama kaumnya (kaum Muhajirin) ke Madinah. Setelah berada di Madinah, Rasulullah pun membuat kebijakan untuk mempercepat penyebaran Islam, yang secara garis besar kebijakan yang dibuat tersebut ada tiga membangun Masjid, mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, menyatukan berbagai etnis masyarakat Madinah dalam bentuk aturan yang dikenal sebagai piagam Madinah atau konstitusi Madinah. Kebijakan yang dibuat oleh Rasulullah menuai keberhasilan dengan terwujudnya negara Islam yang berpusat di Madinah dan Rasulullah saw. pun diangkat menjadi kepala negara dan pemimpin kaum muslimin. Sedangkan pada masa khulafau rasyidin yaitu Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bi Abi Thalib, masing-masing memiliki peran yang penting dalam keberhasilan dakwah Islam. Kontribusi mereka sebagai pemimpin dan pembela dakwah telah membantu perkembangan ajaran Islam pada masanya, dan pengaruh mereka masih dirasakan hingga saat ini.
RESEPSI AL-QUR’AN DALAM KONTEN BERAKAL SEHAT: UPAYA CAK NUN DALAM MENANGKAL HOAX
Hotimah, Husnul;
Hasbullah, Hasbullah
Journal of Applied Transintegration Paradigm Vol. 4 No. 2 (2024): Journal of Applied Transintegration Paradigm
Publisher : LPPM UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Artikel ini menunjukkan pentingnya penggunaan akal sehat dan kehati-hatian dalam menyikapi informasi, terutama di era media sosial yang rentan terhadap penyebaran berita palsu atau hoax. Penelitian ini berfokus untuk menganalisis makna Al-Qur’an di media sosial, pada konten pedoman akal sehat diera Hoax dalam channel youtube Cak Nun. Com. Hal ini dilatarbelakangi oleh banyaknya berita hoax yang menyebar di Indonesia, menggunakan metode penelitian kualitatif dengan analisis konten. Artikel ini menunjukkan bahwa Cak Nun membahas ayat Al-Qur’an (Surat Al-Hujurat ayat 6) yang menyeru orang mukmin untuk memeriksa kebenaran berita sebelum menyebarkannya. Dia mengingatkan pentingnya menggunakan akal sehat, kejernihan hati, dan kejujuran hidup sebagai panduan dalam menyikapi informasi, terutama di era media sosial. Cak Nun menekankan pentingnya tabayyun atau penelitian yang seksama terhadap berita yang diterima sebelum mempercayainya. Artikel ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menggunakan akal sehat dan memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya di media sosial. Artikel ini berargumen bahwa fenomena hoax merupakan dampak dari perkembangan teknologi di era media sosial. Oleh karena itu, artikel ini merekomendasikan menggunakan akal sehat, agar setiap individu dapat menjadi agen yang bertanggung jawab dalam menjaga kebenaran informasi.
MENGEKSPRESIKAN PEMIMPIN-PEMIMPIN YANG MENYESATKAN DALAM AL-QUR’AN: STUDI KRITIS TAFSIRQ.COM
Dwi Nurhayati, Riska;
Baharuddin, Baharuddin;
Rafii, Muhammad
Journal of Applied Transintegration Paradigm Vol. 4 No. 2 (2024): Journal of Applied Transintegration Paradigm
Publisher : LPPM UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kepemimpinan merupakan tema penting dalam Al-Qur’an, memberikan panduan berharga bagi pemimpin dalam masyarakat. Artikel ini menelaah konsep “pemimpin yang menyesatkan” sebagaimana dijelaskan dalam TafsirQ.com, yang mengaitkannya dengan 17 ayat Al-Qur’an. jumlah yang sangat banyak, dan menunjukkan urgensi tema tersebut untuk dibaca dan dikaji kembali. Kajian ini merupakan studi pustaka, dengan memanfaatkan analisis diskursus dalam membaca, mendeteksi, dan menganalisis berbagai data yang relevan. Data diperoleh melalui pembacaan langsung terhadap teks Al-Qur’an, terjemahan, tafsir, dan diskusi yang tersedia di dalam paltform TafsirQ.com. Analisis dilakukan dengan membaca setiap tema, serta mempertimbangkan asbabun nuzul. Kajian ini mengungkap dua ciri utama pemimpin yang menyesatkan dalam Al-Qur’an. Pertama, mereka yang menyeru kepada kemusyrikan dengan menjadikan makhluk sebagai Tuhan, sehingga menyimpangkan akidah umat. Kedua, pemimpin yang membawa umat kepada kehancuran melalui kesesatan dan penyalahgunaan kekuasaan, merugikan masyarakat baik secara moral maupun sosial. TafsirQ.com mengangkat tema ini sebagai bentuk edukasi, menyampaikan informasi Qur’ani kepada umat Islam dalam konteks teologis dan sosiologis. Kesimpulannya Al-Qur’an hanya membenarkan pemimpin yang mementingkan akidah serta kesejahteraan sosial. Pemimpin yang ideal adalah yang memadukan tanggung jawab spiritual dengan komitmen untuk meningkatkan kehidupan masyarakat secara adil dan sejahtera. Hal ini menegaskan pentingnya memahami nilai-nilai kepemimpinan Islam untuk menciptakan kehidupan yang selaras dengan ajaran Al-Qur’an.
Hadis Tentang Takdir Perspektif Sunni dan Syiah
Ayatullah, Ayatullah;
Kurnia Agus Malia Putri;
Sakti Hanusa Bhakti, Al Furqon
Journal of Applied Transintegration Paradigm Vol. 4 No. 2 (2024): Journal of Applied Transintegration Paradigm
Publisher : LPPM UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini bertujuan untuk membandingan hadis takdir melalui pandangan Sunni dan Syi'ah mengenai konsep taqdir dalam Islam, dengan bersumber pada hadis-hadis yang relevan dari kedua mazhab, yaitu hadis sunni berdasarkan Kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim Sedangkan Syi’ah Berujuk Pada Kitab Al-Kafi Al-Kulaini. Sunni dan Syiah adalah dua kelompok dalam Islam yang selain Al-Qur'an, juga menjadikan kitab-kitab hadis sebagai pedoman utama. Namun, mereka sering menghadapi kesulitan dalam berkomunikasi karena perbedaan dalam pengembangan dan penilaian kualitas hadis. Sehingga menimbulkan bagaimana pemahaman hadis-hadis sunni dan syi’ah dalam mebandingkan taqdir? Artikel ini mengeksplorasi cara Sunni dan Syi'ah memahami serta menerapkan konsep tersebut, serta dampak perbedaan dalam penekanan dan interpretasi terhadap pemahaman umat Islam secara umum. Penelitian ini menggunakan metode deskriktif analisis dengan pendekatan kualitatif untuk menggali makna. Yang melibatkan penggunaan berbagai jenis literatur, khususnya buku-buku, sebagai sumber utama informasi. Hasil penelitian ini yaitu baik Sunni maupun Syiah sepakat bahwa Allah memiliki pengetahuan mutlak dan kekuasaan atas segala sesuatu, namun pendekatan dan penekanan pada peran manusia dalam menentukan takdir mereka bervariasi di antara keduanya.
MENELAAH ULANG KEHARAMAN FILSAFAT: MUATAN-MUATAN FILOSOFIS DALAM AYAT-AYAT AL-QUR’AN
Alif, Muqoffi Abdur Rohman;
Hydayatullah Taraja, M. Lutfi
Journal of Applied Transintegration Paradigm Vol. 4 No. 2 (2024): Journal of Applied Transintegration Paradigm
Publisher : LPPM UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Artikel ini akan mepaparkan sebuah upaya mentelaah ulang pendapat sebagian orang, khususnya kelompok keagamaan, yang mengatakan bahwa berfilsafat adalah sebuah keharaman. Islam sebagai sebuah peradaban memiliki sejarah yang berkaitan erat dengan filsafat. Para Sejarawan berpendapat jika kemajuan peradaban Islam pada era Daulah Abbasiyah, salah satunya dipicu oleh kemajuan filsafa dalam peradaban tersebut. Di sisi lain al-Qur’an sebagai sumber utama pedoman hidup umat Islam, ternyata memuat ayat-ayat yang bernilai filosofis. Hal ini seakan-akan Allah Swt sebagai Tuhan memerintahkan manusia untuk berfilsafat. Terdapat banyak ayat al-Qur’an yang menstimulasi umat Islam untuk maksimal dalam mendayagunakan potensi akal yang mereka miliki. Lalu sudah tepatkah bila keharaman dilekatkan pada Filsafat Islam?. Adapun metode penelitian yang digunakan dalam artikel ini adalah penelitian kepustakaan (library research). Penulis mengumpulkan data dengan melakukan penelaahan terhadap buku, literatur, catatan, serta berbagai laporan yang berkaitan dengan masalah yang ingin diteliti. Selanjutnya penulis berkesimpulan bahwa argumentasi pengharaman filsafat yang disampaikan oleh tokoh-tokoh Salafi sejatinya adalah sikap mereka terhadap ilmu kalam, bukan filsafat. Ilmu kalam hanyalah sebagian kecil dari luasnya kajian filsafat. Lebih dari pada itu sejatinya tidak terlalu penting apakah filsafat diharamkan ataupun dihalalkan, Sebab ketika seseorang sedang berpikir atas segala sesuatu, maka seseorang tersebut sudah bisa dikatakan sedang berfilsafat.
ANALISIS KEBERHASILAN DAKWAH ANTARA MASA RASULULLAH SAW DAN KHULAFAU RASYIDIN
Fikri, Fikri
Journal of Applied Transintegration Paradigm Vol. 4 No. 2 (2024): Journal of Applied Transintegration Paradigm
Publisher : LPPM UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/htfqn329
Penelitian ini mencoba menganalisa keberhasilan Dakwah di masa Rasulullah Saw dan Khulafah Rasyidin. Hasil penelitian ini menunjukkan keberhasilan dakwah di masa Rasulullah Saw. terjadi di dua fase yaitu pada fase Makkah dan Madinah. Dakwah yang disebarkan oleh Rasulullah Saw menuai keberhasilan terbesar ketika beliau hijrah bersama kaumnya (kaum Muhajirin) ke Madinah. Setelah berada di Madinah, Rasulullah pun membuat kebijakan untuk mempercepat penyebaran Islam, yang secara garis besar kebijakan yang dibuat tersebut ada tiga membangun Masjid, mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, menyatukan berbagai etnis masyarakat Madinah dalam bentuk aturan yang dikenal sebagai piagam Madinah atau konstitusi Madinah. Kebijakan yang dibuat oleh Rasulullah menuai keberhasilan dengan terwujudnya negara Islam yang berpusat di Madinah dan Rasulullah saw. pun diangkat menjadi kepala negara dan pemimpin kaum muslimin. Sedangkan pada masa khulafau rasyidin yaitu Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bi Abi Thalib, masing-masing memiliki peran yang penting dalam keberhasilan dakwah Islam. Kontribusi mereka sebagai pemimpin dan pembela dakwah telah membantu perkembangan ajaran Islam pada masanya, dan pengaruh mereka masih dirasakan hingga saat ini.
RESEPSI AL-QUR’AN DALAM KONTEN BERAKAL SEHAT: UPAYA CAK NUN DALAM MENANGKAL HOAX
Hotimah, Husnul;
Hasbullah, Hasbullah
Journal of Applied Transintegration Paradigm Vol. 4 No. 2 (2024): Journal of Applied Transintegration Paradigm
Publisher : LPPM UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/1x76se38
Artikel ini menunjukkan pentingnya penggunaan akal sehat dan kehati-hatian dalam menyikapi informasi, terutama di era media sosial yang rentan terhadap penyebaran berita palsu atau hoax. Penelitian ini berfokus untuk menganalisis makna Al-Qur’an di media sosial, pada konten pedoman akal sehat diera Hoax dalam channel youtube Cak Nun. Com. Hal ini dilatarbelakangi oleh banyaknya berita hoax yang menyebar di Indonesia, menggunakan metode penelitian kualitatif dengan analisis konten. Artikel ini menunjukkan bahwa Cak Nun membahas ayat Al-Qur’an (Surat Al-Hujurat ayat 6) yang menyeru orang mukmin untuk memeriksa kebenaran berita sebelum menyebarkannya. Dia mengingatkan pentingnya menggunakan akal sehat, kejernihan hati, dan kejujuran hidup sebagai panduan dalam menyikapi informasi, terutama di era media sosial. Cak Nun menekankan pentingnya tabayyun atau penelitian yang seksama terhadap berita yang diterima sebelum mempercayainya. Artikel ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menggunakan akal sehat dan memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya di media sosial. Artikel ini berargumen bahwa fenomena hoax merupakan dampak dari perkembangan teknologi di era media sosial. Oleh karena itu, artikel ini merekomendasikan menggunakan akal sehat, agar setiap individu dapat menjadi agen yang bertanggung jawab dalam menjaga kebenaran informasi.
MENGEKSPRESIKAN PEMIMPIN-PEMIMPIN YANG MENYESATKAN DALAM AL-QUR’AN: STUDI KRITIS TAFSIRQ.COM
Dwi Nurhayati, Riska;
Baharuddin, Baharuddin;
Rafii, Muhammad
Journal of Applied Transintegration Paradigm Vol. 4 No. 2 (2024): Journal of Applied Transintegration Paradigm
Publisher : LPPM UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/wbbqae08
Kepemimpinan merupakan tema penting dalam Al-Qur’an, memberikan panduan berharga bagi pemimpin dalam masyarakat. Artikel ini menelaah konsep “pemimpin yang menyesatkan†sebagaimana dijelaskan dalam TafsirQ.com, yang mengaitkannya dengan 17 ayat Al-Qur’an. jumlah yang sangat banyak, dan menunjukkan urgensi tema tersebut untuk dibaca dan dikaji kembali. Kajian ini merupakan studi pustaka, dengan memanfaatkan analisis diskursus dalam membaca, mendeteksi, dan menganalisis berbagai data yang relevan. Data diperoleh melalui pembacaan langsung terhadap teks Al-Qur’an, terjemahan, tafsir, dan diskusi yang tersedia di dalam paltform TafsirQ.com. Analisis dilakukan dengan membaca setiap tema, serta mempertimbangkan asbabun nuzul. Kajian ini mengungkap dua ciri utama pemimpin yang menyesatkan dalam Al-Qur’an. Pertama, mereka yang menyeru kepada kemusyrikan dengan menjadikan makhluk sebagai Tuhan, sehingga menyimpangkan akidah umat. Kedua, pemimpin yang membawa umat kepada kehancuran melalui kesesatan dan penyalahgunaan kekuasaan, merugikan masyarakat baik secara moral maupun sosial. TafsirQ.com mengangkat tema ini sebagai bentuk edukasi, menyampaikan informasi Qur’ani kepada umat Islam dalam konteks teologis dan sosiologis. Kesimpulannya Al-Qur’an hanya membenarkan pemimpin yang mementingkan akidah serta kesejahteraan sosial. Pemimpin yang ideal adalah yang memadukan tanggung jawab spiritual dengan komitmen untuk meningkatkan kehidupan masyarakat secara adil dan sejahtera. Hal ini menegaskan pentingnya memahami nilai-nilai kepemimpinan Islam untuk menciptakan kehidupan yang selaras dengan ajaran Al-Qur’an.
Hadis Tentang Takdir Perspektif Sunni dan Syiah
Ayatullah, Ayatullah;
Kurnia Agus Malia Putri;
Sakti Hanusa Bhakti, Al Furqon;
Ma'ali, Romi;
Rahman, Muhammad
Journal of Applied Transintegration Paradigm Vol. 4 No. 2 (2024): Journal of Applied Transintegration Paradigm
Publisher : LPPM UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/vpzs2h58
Penelitian ini bertujuan untuk membandingan hadis takdir melalui pandangan Sunni dan Syi'ah mengenai konsep taqdir dalam Islam, dengan bersumber pada hadis-hadis yang relevan dari kedua mazhab, yaitu hadis sunni berdasarkan Kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim Sedangkan Syi’ah Berujuk Pada Kitab Al-Kafi Al-Kulaini. Sunni dan Syiah adalah dua kelompok dalam Islam yang selain Al-Qur'an, juga menjadikan kitab-kitab hadis sebagai pedoman utama. Namun, mereka sering menghadapi kesulitan dalam berkomunikasi karena perbedaan dalam pengembangan dan penilaian kualitas hadis. Sehingga menimbulkan bagaimana pemahaman hadis-hadis sunni dan syi’ah dalam mebandingkan taqdir? Artikel ini mengeksplorasi cara Sunni dan Syi'ah memahami serta menerapkan konsep tersebut, serta dampak perbedaan dalam penekanan dan interpretasi terhadap pemahaman umat Islam secara umum. Penelitian ini menggunakan metode deskriktif analisis dengan pendekatan kualitatif untuk menggali makna. Yang melibatkan penggunaan berbagai jenis literatur, khususnya buku-buku, sebagai sumber utama informasi. Hasil penelitian ini yaitu baik Sunni maupun Syiah sepakat bahwa Allah memiliki pengetahuan mutlak dan kekuasaan atas segala sesuatu, namun pendekatan dan penekanan pada peran manusia dalam menentukan takdir mereka bervariasi di antara keduanya.
MENELAAH ULANG KEHARAMAN FILSAFAT: MUATAN-MUATAN FILOSOFIS DALAM AYAT-AYAT AL-QUR’AN
Alif, Muqoffi Abdur Rohman;
Hydayatullah Taraja, M. Lutfi
Journal of Applied Transintegration Paradigm Vol. 4 No. 2 (2024): Journal of Applied Transintegration Paradigm
Publisher : LPPM UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30631/vjth7c12
Artikel ini akan mepaparkan sebuah upaya mentelaah ulang pendapat sebagian orang, khususnya kelompok keagamaan, yang mengatakan bahwa berfilsafat adalah sebuah keharaman. Islam sebagai sebuah peradaban memiliki sejarah yang berkaitan erat dengan filsafat. Para Sejarawan berpendapat jika kemajuan peradaban Islam pada era Daulah Abbasiyah, salah satunya dipicu oleh kemajuan filsafa dalam peradaban tersebut. Di sisi lain al-Qur’an sebagai sumber utama pedoman hidup umat Islam, ternyata memuat ayat-ayat yang bernilai filosofis. Hal ini seakan-akan Allah Swt sebagai Tuhan memerintahkan manusia untuk berfilsafat. Terdapat banyak ayat al-Qur’an yang menstimulasi umat Islam untuk maksimal dalam mendayagunakan potensi akal yang mereka miliki. Lalu sudah tepatkah bila keharaman dilekatkan pada Filsafat Islam?. Adapun metode penelitian yang digunakan dalam artikel ini adalah penelitian kepustakaan (library research). Penulis mengumpulkan data dengan melakukan penelaahan terhadap buku, literatur, catatan, serta berbagai laporan yang berkaitan dengan masalah yang ingin diteliti. Selanjutnya penulis berkesimpulan bahwa argumentasi pengharaman filsafat yang disampaikan oleh tokoh-tokoh Salafi sejatinya adalah sikap mereka terhadap ilmu kalam, bukan filsafat. Ilmu kalam hanyalah sebagian kecil dari luasnya kajian filsafat. Lebih dari pada itu sejatinya tidak terlalu penting apakah filsafat diharamkan ataupun dihalalkan, Sebab ketika seseorang sedang berpikir atas segala sesuatu, maka seseorang tersebut sudah bisa dikatakan sedang berfilsafat.