cover
Contact Name
-
Contact Email
lkp2m@uin-malang.ac.id
Phone
+6285173116244
Journal Mail Official
lkp2m@uin-malang.ac.id
Editorial Address
Gedung Jenderal Besar H.Muhammad Soeharto (Sport Center) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Jl. Gajayana No.50, Dinoyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65144
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
LoroNG
ISSN : 26848171     EISSN : 18299245     DOI : https://doi.org/10.18860/lorong.v
LoroNG: Media Pengkajian Sosial Budaya adalah jurnal ilmiah mahasiswa yang diterbitkan sebagai wadah pengkajian sosial dan budaya. Jurnal ini bertujuan menjadi tempat pengembangan kemampuan kritis dan analitis mahasiswa serta menjadi sarana untuk menggairahkan kembali tradisi menulis di kalangan akademisi. Lorong memuat tulisan ilmiah populer, gagasan orisinal yang kritis dan segar, serta ulasan buku. Jurnal ini diterbitkan secara berkala pada bulan Juni dan Desember setiap tahun oleh UKM LKP2M (Lembaga Kajian Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 9 No 2 (2020)" : 5 Documents clear
Aborsi Bagi Perempuan Korban Pemerkosaan dalam Perspektif Mazhab Syafi’i Maziyyah, Sayyidah Ayu
LoroNG: Media Pengkajian Sosial Budaya Vol 9 No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/lorong.v9i2.950

Abstract

This article aims to answer how abortion law for women victims of rape from the perspective of the Syafi’i school comprehensively and the factors that influence women victims of rape to perform abortions. The type of research used in this research is the type of normative research or library research. This research approach uses qualitative descriptive in which the researcher describes the research data in words or analyzes to obtain conclusions. The results found include: First, abortions performed after the blowing of illicit spirits are performed based on the fuqaha agreement. While abortions do before the blowing of the essence, there are differences of opinion. The scholars of the Shafi’i school who do not allow it are Imam Al Ghazali in his book “Al-Ihya al-Ulumuddin,” Ibn Hajar in his book “at-Tuhfah.” As for the Shafi’i schools that would enable it, namely Imam ar-Romli from his book “Nihayatul Muhtaj” and Imam Subkhi. Second, the factors that affect women rape victims can be classified as psychological, social, and economic. Artikel ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan bagaimana hukum aborsi bagi perempuan korban pemerkosaan perspektif mazhab Syafi’i secara komprehensif dan apa saja faktorfaktor yang mempengaruhi perempuan korban pemerkosaan melakukan aborsi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian normatif atau penelitian pustaka (library research) dengan pendekatan deskriptif kualitatif, peneliti menggambarkan data hasil penelitian berbentuk narasi atau menganalisa untuk memperoleh kesimpulan. Hasil yang ditemukan meliputi: Pertama, aborsi yang dilakukan setelah peniupan ruh haram dilakukan berdasarkan kesepakatan fuqoha’. Sedangkan aborsi yang dilakukan sebelum peniupan ruh terdapat perbedaan pendapat. Ulama’ mazhab Syafi’i yang tidak membolehkan yaitu Imam Al Ghazali dalam kitabnya “Al-Ihya al-Ulumuddin”, Ibnu Hajar dalam kitabnya “at-Tuhfah”. Adapun dari kalangan mazhab Syafi’i yang membolehkan yaitu Imam ar-Romli dari dalam kitabnya “Nihayatul Muhtaj”, serta Imam Subkhi. Kedua, faktor-faktor yang mempengaruhi perempuan korban pemerkosaan dapat diklasifikasikan pada segi psikologi, sosial, dan ekonomi
Dampak Covid-19 Terhadap Standar Minimum Penilaian Pembelajaran di Kurikulum (K-13) Windarto, Windarto
LoroNG: Media Pengkajian Sosial Budaya Vol 9 No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/lorong.v9i2.951

Abstract

The Covid-19 pandemic has changed the stability of countries in the world, including in Indonesia, where various sectors of life are exposed, starting from the economy, social, health, and education. Education with the essential Kurikulum 2013 (K-13) had to be carried out through an online learning system from their respective homes with the help of technological devices. The two policies of the Minister of Education and Culture in the form of Circular Letter Number 4 of 2020 regarding the implementation of education during the Covid-19 period and the Decree of the Minister of Education and Culture Number 719/P/2020 concerning Guidelines for Curriculum Implementation in Education Units in Special Conditions serve as educational guidelines in which there is relaxation and flexibility in it. This study focuses on collecting and building data regarding the minimum standards of learning assessment in the essential Kurikulum 2013 (K-13). This research method is descriptive qualitative with a library research approach. Data collection system by accommodating, reading, recording, and processing various reading literature. The results show that the minimum standard of learning assessment is derived from the essence of the policies of the Minister of Education and Culture such as teachers are not burdened with completing the K-13 curriculum achievements in normal times, the substance of learning gives meaning and life skills to students, learning assessment is not in the form of numbers but rather a qualitative description of achievement of competence in students. Thus, an effective assessment technique is portfolio assessment and self-assessment which is dominant in the affective domain rather than psychomotor and cognitive. Pandemi Covid-19 telah merubah stabilitas negara-negara di dunia, termasuk di Indonesia yang mana berbagai sektor kehidupan terpapar mulai dari ekonomi, sosial, kesehatan, dan pendidikan. Pendidikan dengan kurikulum 2013 (K-13) esensial terpaksa harus dilakukan melalui sistem pembelajaran daring dari rumah masing-masing dengan bantuan perangkat teknologi. Dua kebijakan Mendikbud berupa Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang pelaksanaan pendidikan di masa Covid-19 dan keputusan Mendikbud Nomor 719/P/2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum Pada Satuan Pendidikan Dalam Kondisi khusus menjadi pedoman pendidikan yang mana terdapat relaksasi dan fleksibilitas di dalamnya. Penelitian ini berfokus pada pengumpulan dan bangunan data mengenai standar minimum Penilaian Pembelajaran Di Kurikulum 2013 (K-13) esensial. Metode penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan library research. Sistem pengumpulan data dengan cara mengakomodasi, membaca, mencatat serta mengolah berbagai literatur bacaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa standar minimum penilaian pembelajaran diturunkan dari esensi kebijakan-kebijakan Mendikbud seperti guru tidak dibebani untuk menuntaskan capaian kurikulum K-13 di masa normal, substansi pembelajaran memberi makna dan kecakapan hidup pada siswa, penilaian pembelajaran tidak berupa kuantitas angka melainkan deskripsi kualitatif tentang ketercapaian kompetensi dalam diri siswa. Dengan demikian teknik penilaian yang efektif dilakukan adalah penilaian portofolio, dan penilaian diri yang mana dominan ke ranah afektif dari pada psikomotorik dan kognitif.
Pendidikan Seksualitas Bagi Anak: Telaah Semiotika pada Booklet Cerdas Cegah Kekerasan Seksual Sari, Jihan Fatika
LoroNG: Media Pengkajian Sosial Budaya Vol 9 No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/lorong.v9i2.952

Abstract

The number of sexual violence against children has increased every year. KPAI recorded the rate of sexual violence at school in children during 2019; it reached 21 cases with 123 children. Of 21 cases, 13 cases occurred in elementary school. The outside of school, sexual violence often occurs even at home. Throughout 2019, 770 cases were related to incest. Sexual violence in the home by family often occurs because of the effect of power relations. Children do not understand what they are going through because of a lack of knowledge. To prevent an increase in the case of sexual violence, necessary to implement education that provides knowledge for children about sexuality. One crucial element in education is teaching materials. This research was conducted to understand the meaning of denotation dan and connotation in a booklet on sexuality education printed to prevent sexual violence in children. So, that the process of booklet demonstration did not raise misunderstand. The research method that was used is descriptive qualitative with semiotic technique from Roland Barthes. Angka kekerasan seksual pada anak mengalami peningkatan setiap tahunnya. KPAI mendata tingkat kekerasan seksual di sekolah pada anak selama 2019 mencapai 21 kasus dengan jumlah korban 123 anak. Dari 21 kasus, 13 kasus terjadi di sekolah dasar. Di luar sekolah, juga seringkali terjadi kekerasan seksual bahkan di rumah. Sepanjang tahun 2019, terdapat 770 kasus yang merupakan hubungan inses. Kekerasan seksual di rumah oleh keluarga kerapkali terjadi akibat adanya relasi kuasa. Anak tidak mengerti apa yang dialaminya karena kurangnya pengetahuan. Untuk mencegah peningkatan kasus kekerasan seksual, perlu diimplementasikan pendidikan yang memberi pengetahuan bagi anak mengenai seksualitas. Salah satu unsur penting dalam pendidikan adalah bahan ajar.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memahami makna denotasi dan konotasi dalam sebuah booklet pada pendidikan seksualitas yang dicetak dengan tujuan pencegahan kekerasan seksual pada anak. Sehingga proses demontrasi booklet tidak menimbulkan kesalahan pemaknaan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik semiotika dari Roland Barthes.
Sayyidah Khadijah sebagai Role Model Istri dalam Keluarga Islam Tafuzi Mu’iz, Dzikrul Hakim
LoroNG: Media Pengkajian Sosial Budaya Vol 9 No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/lorong.v9i2.953

Abstract

The wife can affect the intensity of a husband’s happiness. However, the husband’s happiness on the attitude and behaviour can suppress polygamy, which frequently occurs. It can also support the realization of a sakinah, mawadah, and warahmah family. The husband’s happiness on the attitude and behaviour can suppress polygamy, which often occurs. It can also support the realization of a sakinah, mawaddah, and warahmah family. As an example of a solid and harmonious household, it can be seen from the relationship of the Prophet’s family with Sayyidah Khadijah. Sayyidah’s behaviour and attitude towards the Prophet reflect how the wife should treat her husband to happiness in the household. This study aims to reveal that Sayyidah Khadijah personally deserves to be a role model for a Salihah wife in an ideal Islamic family concerning QS. Al-Nisa ‘(4): 34. The results of this study are Sayyidah Khadijah has four indicators of Salihah wives in Islam to create an ideal family. First, unite God. Second, be commendable to yourself. Third, be respectable to the husband. And fourth, knowledgeable and have extensive knowledge. These four indicators already exist in the person of Sayyidah Khadijah. All Muslim women can emulate them to become pious wives and create an ideal Islamic family. Istri dapat mempengaruhi intensitas kebahagiaan seorang suami. Kebahagiaan suami atas sikap dan perilaku dari seorang istri diyakini dapat menekan praktek poligami yang kerap kali terjadi. Hal tersebut juga dapat mendukung terwujudnya keluarga sakinah, mawadah dan warahmah. Sebagai teladan rumah tangga yang kokoh dan harmonis, dapat dilihat dari hubungan keluarga Rasulullah dengan Sayyidah Khadijah. Perilaku dan sikap Sayyidah terhadap Rasulullah dapat menjadi cerminan bagaimana perlakuan yang semestinya dilakukan oleh istri kepada suami sehingga suami mendapatkan kebahagiaan dalam rumah tangga tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan bahwasanya pribadi Sayyidah Khadijah layak dijadikan role model istri salihah dalam keluarga Islam yang ideal dengan mengacu pada QS. Al-Nisa’ (4): 34. Hasil dari penelitian ini adalah Sayyidah Khadijah memiliki empat indikator istri salihah dalam islam untuk membuat keluarga yang ideal. Pertama, mengesakan Allah. Kedua, berakhlak terpuji pada diri sendiri. Ketiga, berakhlak terpuji kepada suami. Dan keempat, berilmu dan memiliki pengetahuan yang luas. Keempat indikator ini sudah ada pada pribadi Sayyidah Khadijah dan dapat dicontoh oleh seluruh muslimah sehingga dapat menjadi istri yang salihah dan dapat menciptakan keluarga Islam yang ideal.
Turki, Hagia Sophia dan Kebangkitan Politik Islam: Membaca Fenomena Peralihan Museum Bersejarah Menjadi Masjid Muhammad, Luthvi Nur
LoroNG: Media Pengkajian Sosial Budaya Vol 9 No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/lorong.v9i2.954

Abstract

The city of Constantinople, or what is now known as Istanbul, was the capital of two great world civilizations, namely the Byzantine Empire and the Ottoman Empire. These civilizations left historical traces, one of which was the Hagia Sophia. On May 29, 1453, the city of Constantinople was conquered by Mehmet II, which became the beginning of a new civilization. Mehmet II created prestige and symbolic power on the Hagia Sophia building for his political interests in this conquest. This article will discuss the transition of the function of the Hagia Sophia. The research method used is a literature study. The results of this study are, Hagia Sophia has passed more than 15 centuries and is a silent witness to the ongoing transition of power in the land of Constantinople. In its history, Hagia Sophia has often been used as a symbol of the glory of its era. This article highlights the transition of the Hagia Sophia from a museum to a mosque which has received a response from the international community. This change is considered evidence of the rise of political Islam in Turkey under the leadership of President Erdogan. The political promise of Erdogan and his Islamist AKP Party is suspected to be the reason behind the change in the status and function of the Hagia Sophia. Amid various criticisms, both domestically and internationally, for this policy, the Erdogan government believes that the changes made are entirely Turkey’s constitutional rights that cannot be interfered with by anyone. Kota Konstatinopel atau yang saat ini disebut dengan Istanbul merupakan ibu kota dari dua peradaban besar dunia yaitu Kekaisaran Byzantium dan Kesultanan Ottoman. Kedua peradaban ini meninggalkan jejak sejarah, salah satunya yaitu Hagia Sophia. Pada 29 Mei 1453 Kota Konstatinopel ditaklukkan oleh Mehmet II yang menjadi awal dari sebuah peradaban baru. Dalam penaklukkan tersebut, Mehmet II menciptakan prestise dan kekuatan simbolis pada bangunan Hagia Sophia demi kepentingan politiknya. Artikel ini akan membahas mengenai fenomena peralihan fungsi Hagia Sophia. Metode penelitian yang digunakan yaitu studi pustaka. Hasil penelitian ini yaitu, Hagia Sophia telah melewati lebih dari 15 abad dan menjadi saksi bisu berlangsungnya transisi kekuasaan di tanah Konstantinopel. Dalam sejarahnya, Hagia Sophia seringkali dijadikan simbol kejayaan pada eranya. Artikel ini menyoroti peralihan Hagia Sophia dari museum ke masjid yang mendapatkan respon dari masyarakat internasional. Perubahan ini ditengarai menjadi bukti bangkitnya politik Islam di Turki dibawah kepemimpinan Presiden Erdogan. Janji Politik Erdogan dan Partai AKPnya –yang berhaluan Islamis- ditengarai menjadi alasan dibalik pergantian status dan fungsi Hagia Sophia tersebut. Ditengah berbagai kritik, baik dari dalam negeri maupun dunia internasional terhadap kebijakan ini, Pemerintahan Erdogan berasalan bahwa perubahan yang dilaku.

Page 1 of 1 | Total Record : 5