cover
Contact Name
Abdullah Maulani
Contact Email
jmanuskripta@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jmanuskripta@gmail.com
Editorial Address
Gedung VIII Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok 16424 Jawa Barat
Location
,
INDONESIA
MANUSKRIPTA
ISSN : 22525343     EISSN : 23557605     DOI : https://doi.org/10.33656/manuskripta
MANUSKRIPTA aims to provide information on Indonesian and Southeast Asian manuscript studies through publication of research-based articles. MANUSKRIPTA is concerned with the Indonesian and Southeast Asian manuscript studies, the numerous varieties of manuscript cultures, and manuscript materials from Southeast Asian society. It also considers activities related to the care and management of Southeast Asian manuscript collections, including cataloguing, conservation, and digitization.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 13 No 1 (2023): Manuskripta" : 5 Documents clear
Sabun Mandi Natural Herbal Hasil Adaptasi dari Naskah Pengobatan Tradisional Hanani, Tifa
Manuskripta Vol 13 No 1 (2023): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v13i1.5

Abstract

Text editions of traditional medicinal texts resulting from research by philologists have not been widely used as an alternative to body care products, particularly natural bath soap. Two of them are manuscripts of traditional medicine from the collection of the National Library of Indonesia entitled Usada (KBG 357) and Tetamba Jampi (BR 55). The purpose of this research is to present an eco-friendly natural bath soap with herbal ingredientsadapted from ancient manuscripts. In this regard, this research focuses on benefits and decomposition of traditional spices in manuscripts that can be used as ingredients for making natural bath soap. The results of this study can be seen that the herbs contained in traditional medicine texts can be used as an alternative herbal ingredients for making eco-friendly natural bath soap because of their benefits for the skin. In addition to having cultural and profit values, namely as an alternative to creative industry products based on local wisdom, making eco-friendly soap also has cultural values, namely preserving the contents of ancient manuscripts. === Edisi teks naskah pengobatan tradisional hasil riset para pakar filologi belum banyak dimanfaatkan sebagai alternatif produk perawatan tubuh, khususnya sabun mandi natural. Dua diantaranya yaitu naskah pengobatan tradisional koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia berjudul Usada (KBG 357) dan Tetamba Jampi (BR 55). Tujuan dari penelitian ini adalah menghadirkan sabun natural ramah lingkungan dengan bahan herbal yang diadaptasi dari naskah kuno. Berkenaan dengan itu, penelitian ini berfokus pada penguraian rempah tradisional dalam naskah yang dapat digunakan sebagai bahan pembuatan sabun mandi natural beserta manfaatnya. Hasil dari penelitian ini dapat diketahui bahwa herbal yang terkandung dalam teks naskah pengobatan tradisional dapat digunakan sebagai alternatif bahan herbal pembuatan sabun mandi natural ramah lingkungan karena manfaatnya bagi kulit. Selain bernilai budaya dan profit yaitu sebagai alternatif produk industri kreatif berbasis kearifan lokal, pembuatan sabun mandi ramah lingkungan juga bernilai budaya yaitu melestarikan kandungan naskah kuno.
History in Documents, VOC Records from Batavia (17-18th Centuries) Katkova, Irina
Manuskripta Vol 13 No 1 (2023): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v13i1.1

Abstract

The present article deals with Malay letters and documents from the archives of the Dutch East India Company (Verenigde Oost-Indische Compagnie– VOC), dating to the seventeenth and eighteenth centuries. The documents belong to the collection of the Russian scholar and collectioner N.P. Likhachev (1862-1936) and have been kept in the Institute of Oriental Manuscripts in St.Petersburg since 1938. The collection of VOC diplomatic letters that was in a possession of to Governor-General Johan van Hoorn (1653-1711), travelled from old Batavia, to Amsterdam and then to St. Petersburg. Fifty-six letters were written in different languages, Malay in Arabic and Javanese scripts, Dutch, Persian, Arabic, Spanish and Chinese. Mostly addressed to Johan van Hoorn the Dutch Governor-General in 1704-1709, they are not only exemplary of the fine art of Malay letter-writing, but also original diplomatic documents and historical sources on Dutch early colonial policy in Malay Archipelago. === Artikel ini membahas surat-surat Melayu dan dokumen-dokumen dari arsip Perusahaan Hindia Timur Belanda (Verenigde Oost-Indische Compagnie– VOC), yang berasal dari abad ketujuh belas dan kedelapan belas. Dokumen- dokumen tersebut milik koleksi akademisi dan profesor asal Rusia N. P. Likhachev (1862-1936) dan disimpan di Institute of Oriental Manuscripts di St. Petersburgsejak tahun 1938. Koleksi surat-surat diplomatik VOC yang dimiliki oleh Gubernur Jenderal Johan van Hoorn (1653-1711), berasal dari Batavia lama, ke Amsterdam dan kemudian ke St. Petersburg. Lima puluh enam surat ditulis dalam berbagai bahasa, Melayu dalam aksara Arab dan Jawa, Belanda, Persia, Arab, Spanyol, dan Cina. Sebagian besar ditujukan kepada Johan van Hoorn, Gubernur Jenderal Belanda pada tahun 1704-1709, karya-karya tersebut tidak hanya merupakan contoh seni penulisan surat Melayu, namun juga dokumen diplomatik asli dan sumber sejarah mengenai kebijakan awal kolonial Belanda di Kepulauan Melayu. , , , , .
Fungsi dan Keutamaan Aksareng Usadha dalam Struktur Kebudayaan Masyarakat Bali Geria, Anak Agung Gde Alit
Manuskripta Vol 13 No 1 (2023): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v13i1.2

Abstract

The Modre, revered as Balinese sacred scripts, holds significance within the Balinese community for the virtues (kottaman) attributed to its characters in the context of traditional Balinese medicine (usadha). Modre scripts excellence is a vital component in therapeutic practices, believed to possess mystical and supernatural powers. Various palm-leaf manuscripts, including Aji Saraswati, Usadha Tantri, and Tutur Swara Wyanjana, are associated with the virtues of Balinese characters, serving as instrumental tools in Balinese medicine. These characters, believed to be soul-saving (pangraksaning jiwa), harness energy potential within usadhi pranawa, transforming bijaksara or modre characters into yantras. Through medication initiation, facilitated by mantras and the healer's yoga, this process is detailed in manuscripts like Ruměksa ing Wěngi, Punggung Tiwas, and Wisik Warah. The alignment of the healer's pure mind with the supreme Balinese characters, mahottama, is integral in applying usadhi pranawa during treatment, akin to the essential alignment in the Sabda tan Mětu ceremony with sacred scripture. === Aksara Modre (suci) telah diyakini oleh masyarakat Bali karena keutamaan (kottaman) aksaranya yang bertalian dengan bidang usadha (pengobatan tradisional Bali). Keutamaan aksara Modre menjadi sarana penting dalam prosesi pengobatan atau penyembuhan penyakit karena diyakini memiliki kekuatan gaib atau mistik. Ada sejumlah lontar yang berkaitan dengan kottaman aksara Bali, seperti Aji Saraswati, Usadha Tantri, Tutur Swara Wyanjana, dan yang lainnya. Kottaman aksara Bali sebagai sarana usadha Bali dapat digunakan sebagai penyelamat jiwa (pangraksaning jiwa). Hal ini didukung oleh sejumlah lontar yang diyakinioleh masyarakat Bali seperti Ruměksa ing Wěngi, Punggung Tiwas, Wisik Warah. Konsep penyatuan antara pikiran suci sang balian dengan aksara Bali mahottama itu, sangat penting dilakukan ketika mengobati dengan usadhi pranawa. Hal ini identik dengan prosesi sabda tan mětu ketika menyatukan pikiran dengan sastra aji (aksara suci).
Tinjauan Awal Naskah Sujarah Penatah: Narasi, Kreativitas, dan Legitimasi Rahardja, Bima Slamet
Manuskripta Vol 13 No 1 (2023): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v13i1.3

Abstract

The Javanese puppet makers, or penatah, in Yogyakarta, are celebrated for their artistic brilliance, yet their personal biographies remain largely obscure, overshadowed by the grandeur of their craft. Renowned names like Resapenatas, Maraguna, Kertiwanda, Prawirasucitra, and Prayitnawiguna are synonymous with exceptional wayang artistry, each possessing distinctive aesthetic styles. Despite their prominence, scant information exists about their lives. The primary written source on penatah, Sujarah Panatah (the History of Wayang Carvers), dates back to the early 20th century in Yogyakarta. This manuscript weaves tales of Javanese puppet carvers into performances, connecting factual anecdotes and divine myths, portraying these artists not as ordinary individuals but as chosen ones capable of communicating with gods. Examining the Sujarah Panatah, this paper explores the factual underpinnings of its stories, delves into the text's perception of creative origins, and analyzes its strategy for legitimizing Javanese puppet makers while tracing the continuity of their artistic legacy. === Para pembuat wayang, atau penatah di Yogyakarta dihargai karena kecemerlangan seni mereka, namun biografi pribadi mereka sebagian besar tetap gelap, terlupakan oleh kemegahan karya seni mereka. Nama-nama terkenal seperti Resapenatas, Maraguna, Kertiwanda, Prawirasucitra, dan Prayitnawiguna bersinonim dengan keahlian seni wayang yang luar biasa, masing-masing memiliki gaya estetika yang khas. Meskipun terkenal, informasi tentang kehidupan mereka sangat sedikit. Sumber tertulis utama tentang penatah, Sujarah Panatah (Sejarah Pencipta Wayang), berasal dari awal abad ke-20 di Yogyakarta. Naskah ini menganyam kisah-kisah para pembuat wayang ke dalam pertunjukan, menghubungkan anekdot fakta dan mitos ilahi, menggambarkan para seniman ini bukan sebagai individu biasa tetapi sebagai yang terpilih mampu berkomunikasi dengan para dewa. Dengan memeriksa Sujarah Panatah, makalah ini mengeksplorasi dasar faktual dari kisah-kisahnya, menyelami persepsi teks terhadap asal-usul kreatif, dan menganalisis strateginya dalam melegitimasi para pembuat wayang sambil melacak kelanjutan warisan seni mereka.
Perbandingan Mode Naratif Apokaliptik dalam Teks Mosalaparwa dan Cariyos Dajal Habibah, Nurmalia
Manuskripta Vol 13 No 1 (2023): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v13i1.4

Abstract

This article aims to demonstrate how cultural heritage can surprisingly bridge differences that often trigger religion-based conflicts, showcasing the underlying essence of unity in diversity by delving into the interpretation of literary works. At a more specific level, this paper endeavors to uncover the universality of the Javanese perspective on the eschatological crisis culminating in the Judgment Day event. This exploration is conducted through a meticulous analysis of the apocalyptic narrative style found in two Javanese texts; the Old Javanese Mosalaparwa and the New Javanese Cariyos Dajal. When considering the conclusion of each narrative, in accordance with Collins' classification (2014) of the apocalyptic genre, Mosalaparwa falls into the historical apocalypses sub- type, while Cariyos Dajal aligns with the apocalypses involving heavenly journeys sub-type. === Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap universalitas pandangan masyarakat Jawa terhadap krisis eskatologis yang berujung pada peristiwa kiamat melalui close reading terhadap perbandingan mode naratif apokaliptik dalam teks Mosalaparwa Jawa Kuna dan Cariyos Dajal. Setelah kedua teks kisah hari akhir dalam ranah sastra Jawa tersebut dicermati, terdapat bagian-bagian naratif yang membentuk struktur teks dan mencerminkan karakteristik apokaliptik sehingga teks-teks religius lokal itu dapat ditempatkan dalam kategori teks sastra bermode naratif apokaliptik. Apabila melihat akhir ceritanya, maka merujuk pada klasifikasi genre apokaliptik menurut Collins (2014), teks Mosalaparwa termasuk ke dalam sub-tipe historical apocalypses dan teks Cariyos Dajal ke dalam apocalypses with heavenly journeys.

Page 1 of 1 | Total Record : 5