cover
Contact Name
Abdullah Maulani
Contact Email
jmanuskripta@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jmanuskripta@gmail.com
Editorial Address
Gedung VIII Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok 16424 Jawa Barat
Location
,
INDONESIA
MANUSKRIPTA
ISSN : 22525343     EISSN : 23557605     DOI : https://doi.org/10.33656/manuskripta
MANUSKRIPTA aims to provide information on Indonesian and Southeast Asian manuscript studies through publication of research-based articles. MANUSKRIPTA is concerned with the Indonesian and Southeast Asian manuscript studies, the numerous varieties of manuscript cultures, and manuscript materials from Southeast Asian society. It also considers activities related to the care and management of Southeast Asian manuscript collections, including cataloguing, conservation, and digitization.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "vol 16 no 1 (2026): manuskripta" : 5 Documents clear
Teks-teks Lakon Wayang Karya Ki Widiprayitna Eks-Koleksi J. L. Moens: Jembatan Masa Lalu terhadap Kajian Filologi Pertunjukan Bima Slamet Raharja
Manuskripta Vol 16 No 1 (2026): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v16i1.181

Abstract

This article examines the continuity and evolution of lakon wayang texts within the J.L. Moens collection, specifically those rewritten by Ki Widiprayitna. Moens’ initiative was pivotal in documenting Yogyakarta’s puppetry traditions, drawing from ancestral guidelines like Pancakaki and Grenteng. Widiprayitna’s adaptations mirror live performances, meticulously preserving structural elements such as janturan (narrative descriptions), pocapan (dialogue), and gendhing (musical cues). These texts, including the Pakem Ringgit Purwa, serve as vital records of the transition from oral performance to written media. The inclusion of character illustrations further enhances the dramatic technicality of these records. By applying philological transcription to Widiprayitna’s work, researchers can decode the essential symbols and modes that define these standardized plays. Ultimately, this study highlights Widiprayitna’s critical role in formalizing and preserving the rich heritage of Javanese shadow puppetry for future generations. === Artikel ini membahas eksistensi, kesinambungan, dan transformasi teks lakon wayang dalam koleksi J.L. Moens yang ditulis ulang oleh Ki Widiprayitna. Upaya Moens merupakan langkah krusial dalam mendokumentasikan pengetahuan pedalangan di Yogyakarta berdasarkan pakem-pakem leluhur seperti Pancakaki dan Grenteng. Tulisan yang dihimpun Widiprayitna disusun identik dengan struktur pertunjukan asli, mencakup elemen janturan, pocapan, hingga gendhing. Proses ini menandai peralihan medium dari pertunjukan lisan ke bentuk tertulis. Teks seperti Pakem Ringgit Purwa dalam koleksi ini menyimpan detail teknis serta rekaman sejarah pertunjukan masa lalu. Kehadiran ilustrasi tokoh wayang turut memperjelas aspek dramatik dan karakterisasi dalam cerita. Melalui transkripsi filologis terhadap karya Widiprayitna, kode, mode, dan simbol penting dapat terungkap. Secara keseluruhan, studi ini menyoroti peran vital Widiprayitna sebagai produser teks standar dalam melestarikan warisan budaya wayang kulit bagi generasi mendatang.
Ladrang Sri Katon Laras Pelog Pathet Barang: Artikulasi Politik Masa Pemerintahan Paku Buwana X Joko Daryanto; Bambang Sunarto; Bimo Kuncoro
Manuskripta Vol 16 No 1 (2026): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v16i1.188

Abstract

Paku Buwana X, who ruled Surakarta Hadiningrat from 1893 to 1939, placed Ladrang Srikaton Laras Pelog Pathet Barang as the Gendhing Pakurmatan Miyos Dalem, a piece of music played to honor the king's arrival at special events within the palace grounds. During Paku Buwana X's reign, Ladrang Srikaton Laras Pelog Pathet Barang was performed alongside the Dutch national anthem, Wilhelmus. The Serat Sri Karongron by Raden Ngabehi Purbadipura describes the simultaneous presentation of two musical works, each with its own musical basis. The presentation of Ladrang Srikaton Laras Pelog Pathet Barang alongside the Dutch national anthem served as Paku Buwana X's political articulation, affirming that the Surakarta king still possessed legitimate power. The presentation of two musical works with different musical bases is part of Paku Buwana X's effort to demonstrate his power. This paper uses a hermeneutic approach to interpret the texts in Serat Sri Karongron by Raden Ngabehi Purbadipura. === Paku Buwana X yang memerintah Negari Surakarta Hadiningrat pada 1893 – 1939 menempatkan Ladrang Srikaton laras pelog pathet barang sebagai Gêndhing Pakurmatan Miyos Dalêm yaitu gending yang dibunyikan untuk menghormati kedatangan raja pada acara-acara tertentu di lingkungan istana. Sajian Ladrang Srikaton laras pélog pathêt barang pada masa pemerintahan Paku Buwana X disajikan bersamaan dengan lagu kebangsaan Belanda Wilhelmus. Sêrat Sri Karongron karya Raden Ngabehi Purbadipura mendeskripsikan peristiwa penyajian dua karya musikal dengan basis musikal yang berbeda secara bersamaan. Penyajian Ladrang Srikaton laras pélog pathêt barang bersamaan dengan lagu kebangsaan Belanda merupakan artikulasi politik Paku Buwana X bahwa raja Surakarta masih memiliki legitimasi kekuasaan. Penyajian dua karya musik dengan basis musikal yang berbeda merupakan bagian dari upaya Paku Buwana X menunjukkan kekuasaannya. Tulisan ini menggunakan pendekatan hermeneutik untuk menginterpretasi teks-teks dalam Sêrat Sri Karongron karya Raden Ngabehi Purbadipura.
Bahasa Orang-Orang Mandala: Relasi Bahasa antara Lontar Sunda dengan Bahasa Orang Baduy Hady Prastya
Manuskripta Vol 16 No 1 (2026): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v16i1.192

Abstract

This paper examines the relationship between the language of ancient Sundanese texts and the language of the Baduy people, especially their oral tradition of carita pantun. Although the Baduy people have a distinctive cultural style and way of life, including language, based on field evidence, the interaction between the Baduy people and people outside the Baduy community occurs dynamically. The assumption that the Baduy people isolate themselves, which is often expressed by many researchers, is clearly an unproven accusation. Because of the relationship between the language of ancient Sundanese texts and the language of the Baduy people, the question arises whether the language in the texts referred to as ancient Sundanese is chronologically related to what is called modern Sundanese or whether this language is a language variety used by certain groups. === Tulisan ini mengulas mengenai pertautan antara bahasa dalam teks Sunda kuna dengan bahasa orang Baduy terutama tradisi lisan mereka carita pantun. Meski orang Baduy memiliki corak budaya dan pranata hidup yang khas, termasuk bahasa, dari bukti di lapangan interaksi orang Baduy dan orang di luar komunitas Baduy terjadi secara dinamis. Anggapan bahwa orang Baduy mengisolasi diri, yang sering diutarakan banyak peneliti, jelas merupakan tuduhan yang tidak terbukti. Oleh karena pertautan antara bahasa teks Sunda kuna dan bahasa orang Baduy, maka timbul pertanyaan apakah bahasa dalam teks yang disebut Sunda kuna berkaitan secara kronologis dengan yang disebut bahasa Sunda modern ataukah bahasa ini merupakan salah satu ragam bahasa yang digunakan oleh kalangan tertentu.
Formulasi Fitur Visual Manuskrip Arab Pegon Sunda untuk Pengembangan Sistem Handwritten Text Recognition (HTR) Berbasis Artificial Intelligence (AI) Indra Sopian; Muhammad Sigit Pramudya; Asep Achmad Hidayat; Dedi Supriadi; Zulmi Ramdani
Manuskripta Vol 16 No 1 (2026): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v16i1.194

Abstract

This study examines the Sundanese Arab Pegon manuscript Wawacan Abdul Muluk through a philological approach to formulate a conceptual visual feature taxonomy framework as a foundational step for developing Artificial Intelligence (AI)-based Handwritten Text Recognition (HTR). The philological approach is employed to identify the manuscript’s condition, structural content, linguistic characteristics, and script, which are then transformed into digital parameters. The study successfully formulates six categories of conceptual visual features: paleography, text layout, script form, grapheme variation, ornamentation, and physical degradation (such as faded ink and damaged binding) that create visual noise affecting text legibility. These characteristics are analyzed as a baseline to enable AI models to accurately recognize, process, and represent Sundanese manuscripts. This synergy between philology and computational approaches contributes to the digital humanities by providing a visual feature taxonomy for future HTR application development. === Penelitian ini mengkaji manuskrip Arab Pegon Sunda Wawacan Abdul Muluk melalui pendekatan filologi untuk merumuskan kerangka kerja (framework) taksonomi fitur visual konseptual sebagai dasar awal pengembangan model Handwritten Text Recognition (HTR) berbasis Artificial Intelligence (AI). Pendekatan filologi digunakan untuk mengidentifikasi kondisi naskah, struktur isi, karakteristik kebahasaan, dan aksara, yang kemudian ditransformasikan menjadi parameter digital. Hasil penelitian berhasil merumuskan enam kategori fitur visual konseptual: paleografi, tata letak teks, bentuk aksara, variasi grafem, ornamen, serta degradasi fisik naskah (seperti tinta pudar dan jilid rusak) yang menjadi noise visual bagi keterbacaan teks. Karakteristik ini dianalisis sebagai landasan agar model AI mampu mengenali, memproses, dan merepresentasikan manuskrip Sunda secara akurat. Sinergi antara filologi dan pendekatan komputasional ini berkontribusi pada bidang humaniora digital dalam menyediakan taksonomi fitur visual untuk pengembangan aplikasi HTR di masa depan.
Sarining Pamutus: Mantra Ruwat Jawa Kuno dalam Catatan Lontar Bali Pande Putu Abdi Jaya Prawira
Manuskripta Vol 16 No 1 (2026): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v16i1.202

Abstract

The Sarining Pamutus (SP) text is a Balinese palm-leaf manuscript containing Old Javanese prose mantras used for ruwat (purification). This philological study aims to describe the structure and content of the SP text and trace Old Javanese cultural elements in Balinese manuscripts. Three SP manuscripts were identified at Udayana University and the Bali Cultural Documentation Center. Overall, the 23 mantra subtexts feature key characteristics: affirming the chanter's spiritual authority, anthropogony linked to divine mythology (Kāma and Rati), microcosmic cosmology viewing the body as a universe, purification through rituals (panglukatan, pangentas, and palepasan), and symbols of ultimate stillness. These mantras emphasize uniting the spirit with supernatural power to transform evil into good. Further research is required to explore the practical use of these mantras in rituals and reconstruct the transmission of Old Javanese intellectual traditions in Bali. === Teks Sarining Pamutus (SP) merupakan naskah lontar Bali berisi kumpulan mantra Jawa Kuno berbentuk prosa panjang untuk tradisi ruwat (penyucian). Penelitian filologi ini bertujuan mendeskripsikan struktur dan isi teks SP serta melacak jejak budaya Jawa Kuno dalam naskah Bali. Tiga naskah SP diidentifikasi di Perpustakaan Lontar Universitas Udayana dan Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali. Secara umum, 23 subteks mantra di dalamnya memiliki karakteristik utama: penegasan otoritas spiritual penutur, antropogoni yang terhubung dengan mitologi dewa (Kāma dan Rati), kosmologi mikrokosmos yang memandang tubuh sebagai alam semesta, penyucian melalui ritual (panglukatan, pangentas, dan palepasan), serta simbol pencapaian keheningan tertinggi. Mantra-mantra ini menekankan penyatuan roh dengan kekuatan gaib untuk mengubah kejahatan menjadi kebaikan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi aspek praktis mantra dalam ritual serta merekonstruksi tradisi intelektual Jawa Kuno di Bali.

Page 1 of 1 | Total Record : 5