Journal of Health Science
Journal of Health Science is the dissemination of information related to all health science area including: medicine, nursing, midwifery, psychologists, pharmacy, nutrition, and other health sciences. Letters and commentaries of our published articles are welcome. All submitted contributions will undergo a peer-review process according to standardized criteria.
Articles
18 Documents
Penerapan Slow Deep Breathing terhadap Kelelahan (Fatigue) Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Di Ruang Hemodialisa
Muhamad Khilmi Akbarudin;
Dwi Retnaningsih
Link Journal of Health Science Vol 2 No 1 (2025): September : Journal of Health Science
Publisher : CV LINK Education Publication
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.63425/ljhs.v2i1.55
Latar Belakang: Kondisi ginjal kronis adalah keadaan di mana fungsi ginjal berjalan lancar akibat kerusakan ginjal, yang diatasi dengan melakukan hemodialisis. Kelemahan fisik, penurunan energi, dan kelelahan adalah gejala dari hemodialisis, sehingga memerlukan asuhan keperawatan dan intervensi yang tepat, seperti penerapan slow deep breathing. Tujuan: Mengetahui pengaruh slow deep breathing terhadap kelelahan pada pasien yang menderita gagal ginjal kronis yang memerlukan hemodialisis di ruang hemodialisis. Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi kasus. Sampel yang digunakan adalah 5 pasien dengan GGK yang sedang menjalani perawatan diruang hemodialisa. Instrument yang digunakan yaitu lembar karakteristik subjek, lembar kuesioner FACIT, lembar observasi hasil pengukuran skor kelelahan, serta SOP penerapan slow deep breathing dengan analisa dalam penelitian ini yaitu analisis deskriptif berupa frekuensi dan presentase. Hasil: Tingkat kelelahan (fatigue) pada 5 pasien sebelum diberikan penerapan Tindakan Slow Deep Breathing didapatkan hasil nilai rata-rata berada pada tingkat kelelahan berat pada penerapan hari ke 1-3 namun sesudah berikan penerapan Tindakan Slow Deep Breathing didapatkan hasil Sebagian besar pasien mengalami perubahan yaitu berada pada tingkat kelelahan ringan. Kesimpulan: Terdapat pengaruh pada penerapan Slow Deep Breathing guna menurunkan kelelahan (fatigue) pasien dengan gagal ginjal kronik.
Efektifitas penggunaan minyak zaitun untuk mengatasi pruritus pada pasien gagal ginjal kronik
Fikkih Ichtiar Firdaus;
Dwi Retnaningsih
Link Journal of Health Science Vol 2 No 1 (2025): September : Journal of Health Science
Publisher : CV LINK Education Publication
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.63425/ljhs.v2i1.57
Latar Belakang: Salah satu terapi utama bagi pasien gagal ginjal kronik adalah hemodialisa. Namun, prosedur ini dapat menimbulkan efek samping berupa pruritus uremik yang ditandai dengan rasa gatal hebat dan menurunnya kualitas hidup pasien. Salah satu upaya non-farmakologis untuk mengatasi pruritus adalah pengolesan minyak zaitun. Tujuan: Mengurangi keluhan pruritus (gatal) pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa melalui intervensi pengolesan minyak zaitun. Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan 5 responden di RSUD Dr. Gondo Suwarno Ungaran. Instrumen yang digunakan berupa lembar observasi 5-ditchscale (5D-IS) untuk mengukur tingkat pruritus, serta SOP tindakan pengolesan minyak zaitun yang dilakukan selama dua kali pertemuan masing-masing 15 menit analisa data menggunakan uji univariat. Hasil: adanya penurunan tingkat pruritus pada seluruh pasien. Sebelum intervensi, tiga pasien mengalami pruritus berat dan dua pasien mengalami pruritus sedang. Setelah diberikan intervensi pengolesan minyak zaitun, tiga pasien mengalami penurunan dari pruritus berat menjadi sedang, dan dua pasien dari pruritus sedang menjadi ringan. Kesimpulan: Pengolesan minyak zaitun terbukti efektif dalam mengurangi tingkat pruritus pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa. Intervensi ini dapat dijadikan salah satu terapi non-farmakologis untuk meningkatkan kenyamanan dan kualitas hidup pasien.
Penerapan diabetes self-management education terhadap kadar glukosa darah pada lansia penderita diabetes mellitus
Caca Relica;
Dwi Retnaningsih
Link Journal of Health Science Vol 2 No 1 (2025): September : Journal of Health Science
Publisher : CV LINK Education Publication
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.63425/ljhs.v2i1.72
Latar Belakang: Penyakit diabetes melitus biasanya sering terjadi pada usia lebih dari 40 tahun, dan bisanya penderita tidak mengetahui masalah kesehatan yang dialaminya. Dengan memberikan pendidikan kesehatan atau edukasi bagi penderita diabetes mellitus memungkinkan dapat mengubah perilaku mereka serta mencegah terjadinya komplikasi. Tujuan: mengetahui penerapan Diabetes Self-Management Education (DSME) terhadap kadar glukosa darah pada lansia penderita diabetes mellitus. Metode: studi kasus ini menggunakan metode pendekatan deskriftif metode penelitian yang diterapkan adalah desain praeksperimental. Dengan menggunakan rancangan pra-pascates dalam satu kelompok dengan desain pra-post test. Sampel pada 4 lansia dengan diabetes mellitus. Instrumen menggunakan SOP Diabetes Self-Management Education (DSME). Pengumpulan data dengan 4 sesi pertemuan, sesi 1 membahas tentang konsep diabetes mellitus, sesi 2 membahas penatalaksanaan diabetes mellitus, sesi 3 membahas pengelolaan stress dan sesi 4 membahas tentang pencegahan komplikasi diabetes mellitus akut dan kronis. Analisis data univariat berupa distribusi frekuensi dan prosentase. Hasil: Hasil kadar gula darah yang di dapatkan lansia 1 Ny. Se (80 tahun) tercatat 165 mg/dL, lansia 2 Ny. Ma (65 tahun) 140 mg/dL, lansia 3 Ny. Su (67 tahun) 156 mg/dL dan lansia 4 Ny.Si (69 tahun) 149 mg/dL. Kesimpulan: Diabetes Self-Management Education (DSME) sangat berhasil, karena terdapat penurunan kadar glukosa darah setelah penerapan dilakukan.
Penerapan balance exercise terhadap tingkat risiko jatuh pada lansia
Ramadhani, Desi;
Dwi Retnaningsih
Link Journal of Health Science Vol 2 No 1 (2025): September : Journal of Health Science
Publisher : CV LINK Education Publication
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.63425/ljhs.v2i1.73
Pendahuluan: Risiko jatuh ialah salah satu masalah serius pada lansia yang dapat mengakibatkan cedera, penurunan kualitas hidup, hingga kematian. Salah satu upaya pencegahan yang terbukti efektif adalah melalui latihan keseimbangan (balance exercise). Tujuan: Mengetahui pengaruh penerapan balance exercise terhadap tingkat risiko jatuh pada lansia di Panti Werdha Harapan Ibu Semarang. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Subjek penelitian berjumlah empat lansia yang dipilih secara purposive sampling. Pengukuran risiko jatuh dilakukan menggunakan Berg Balance Scale (BBS) sebelum dan sesudah intervensi balance exercise yang diberikan selama beberapa sesi. Data dianalisis secara deskriptif untuk melihat perubahan skor keseimbangan. Hasil: Seluruh responden mengalami peningkatan skor BBS setelah intervensi. Tiga responden yang awalnya berada dalam kategori risiko jatuh menengah mengalami peningkatan skor meskipun belum seluruhnya berpindah kategori. Satu responden dengan kategori risiko rendah menunjukkan peningkatan mendekati skor maksimal. Hal ini menunjukkan bahwa balance exercise memberikan dampak positif terhadap peningkatan keseimbangan dan penurunan risiko jatuh pada lansia. Kesimpulan: Penerapan balance exercise secara rutin dapat meningkatkan fungsi keseimbangan dan menurunkan risiko jatuh pada lansia. Intervensi ini dapat dijadikan program preventif di lingkungan panti werdha untuk menjaga keselamatan dan kualitas hidup lansia.
Penerapan terapi rendam kaki air hangat garam terhadap tingkat nyeri pada lansia penderita gout athritis
Nur Amelia, Alda;
Retnaningsih, Dwi
Link Journal of Health Science Vol 2 No 1 (2025): September : Journal of Health Science
Publisher : CV LINK Education Publication
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.63425/ljhs.v2i1.78
Latar Belakang: Asam urat yaitu gangguan yang ditandai dengan adanya nyeri pada persendian. Seseorang yang paling sering terserang asam urat biasanya lansia. Rendam air hangat adalah tindakan yang dilakukan dengan memberikan cairan hangat untuk memberikan rasa hangat, dan mengurangi nyeri. Tujuan: Mengetahui terapi rendam kaki menggunakan air hangat terhadap tingkat nyeri lansia penderita gout arthritis. Metode: Studi kasus ini deskriptif dengan desain One Group Pretest-Posttest. Sampel sebanyak 4 pasien lanjut usia yang menderita asam urat di panti wredha harapan ibu Semarang. Instrument berupa SOP terapi rendam kaki air hangat garam pada lansia, cek kadar asam dengan alat GCU asam urat dan pengukuran skala nyeri menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Penyajian data studi kasus disajikan dalam bentuk narasi dan tabel distribusi frekuensi. Hasil: Setelah dilakukan terapi rendam kaki air hangat garam didapatkan hasil terhadap 4 responden di hari ke 7 yaitu Ny.S :5,5 mg/dl dengan skala nyeri 2, Ny.S: 5.4 mg/dl skala 2, Ny.S: 5.6 mg/dl skala 3 dan Ny.P: 6.0 mg/dl dengan skala 3. Kesimpulan: Terapi rendam kaki air hangat garam terbukti efektif dalam menurunkan kadar asam urat dan tingkat nyeri pada lansia penderita asam urat. Terapi ini dapat menjadi metode nonfarmakologis yang bermanfaat dalam mengatasi keluhan nyeri pada lansia penderita asam urat.
Efektivitas foot massage untuk menurunkan tekanan darah pada pasien gagal ginjal kronik di ruang hemodialisa
Yuni Dwi Lestari;
Dwi Retnaningsih
Link Journal of Health Science Vol 2 No 1 (2025): September : Journal of Health Science
Publisher : CV LINK Education Publication
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.63425/ljhs.v2i1.83
Latar Belakang: Pasien yang menjalani hemodialisis, seperti penderita Gagal Ginjal Kronis, sering mengalami tekanan darah tinggi. Pengobatan hipertensi yang komprehensif bertujuan untuk menurunkan tekanan darah, termasuk pengobatan farmakologis dan non-farmakologis. Pengobatan non-farmakologis dapat dilakukan dengan beberapa terapi, seperti pijat kaki. Tujuan: Mengetahui efektifitas foot message untuk menurunkan tekanan darah pada pasien gagal ginjal kronik di ruang hemodialisa Metode: Studi kasus ini menggunakan metode deksriptif dengan rancangan one group pre-posttest design. Pengumpulan data pada 5 pasien yang menjalani terapi hemodialisa di ruang hemodialisa RSUD Dr. Gondo Suwarno Ungaran. Instrument yang digunakan yaitu lembar karakteristik subjek, lembar observasi hasil pengukuran tekanan darah serta SOP terapi foot massage. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan analisis univariat. Hasil analisis disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil: sebelum menerima pijat kaki, terdapat lima pasien yang mengalami tekanan darah tinggi. Empat di antaranya mengalami penurunan tekanan darah setelah menerima intervensi pijat kaki, dengan tekanan darah tinggi yang menyebabkan hemodialisis, sementara satu pasien mengalami peningkatan tekanan darah. Kesimpulan: Terapi foot massage dapat menurunkan tekanan darah pada pasien hemodialisa. Pasien gagal ginjal menjalani hemodialisa yang mengalami kenaikan tekanan darah disarankan untuk melakukan foot massage secara mandiri.
Hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan perawatan diri pada pasien diabetes melitus: teori selfcare orem
Sakinah;
Dwi Retnaningsih;
Wahyuningsih
Link Journal of Health Science Vol 1 No 2 (2025): March : Journal of Health Science
Publisher : CV LINK Education Publication
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.63425/ljhs.v1i2.92
Latar Belakang: Diabetes melitus adalah sebuah gangguan dengan kondisi kronis yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa dalam darah. Untuk mencegah terjadinya komplikasi diperlukan tingkat kepatuhan yang tinggi dalam pengelolaan perawatan diri. Salah satu faktor yang berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan kepatuhan tersebut adalah dukungan dari keluarga. Tujuan: Mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan perawatan diri pada pasien diabetes melitus berdasarkan teori selfcare Orem di RSI PKU Muhammadiyah Pekajangan. Metode: Desain menggunakan analitik korelatif dengan pendekatan metode cross-sectional. Total responden dalam penelitian ini adalah 92 orang yang diperoleh dari metode purposive sampling. Instrument menggunakan kuisioner yang terdiri dari dua variabel yaitu dukungan keluarga dan kepatuhan perawatan diri. Penelitian ini dianalisis menggunakan uji chi square. Hasil: Hasil analisis yang dilakukan dengan menggunakan uji chi square menunjukkan nilai p-value 0,000. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan perawatan diri pada pasien diabetes melitus berdasarkan teori selfcare Orem. Perlu adanya dukungan keluarga dalam mendukung pasien diabetes melitus terhadap kepatuhan perawatan diri.
Penerapan terapi nebulizer terhadap frekuensi napas pada pasien ISPA dengan bersihan jalan napas tidak efektif
Nur Martyana, Annisa;
Dwi Retnaningsih
Link Journal of Health Science Vol 2 No 1 (2025): September : Journal of Health Science
Publisher : CV LINK Education Publication
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.63425/ljhs.v2i1.88
Latar belakang: Terapi Nebulizer adalah metode pemberian obat pernapasan dalam bentuk aerosol melalui inhalasi menggunakan alat nebulizer. Terapi nebubulizer sangat dianjurkan untuk pasien yang tidak mampu menggunakann inhealer secara efektif, misalnya dikarenakan sesak napas berat, koordinasi tubuh yang baik terutama pada pasien ISPA. Tujuan: mengetahui efektivitas terapi nebulizer dalam menurunkan frekuensi napas pada pasien ISPA. Metode : penelitian ini menggunkan desain studi kasus pre-post desain. Sampel 5 pasien di Di IG RSUD dr. Gondo Suwarno Ungaran. Instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi penurunan frekuensi napas pada pasien ISPA setelah diberikan terapi nebulizer, serta SOP pemberian terapi nebulizer. Data dianalisis secara deskriptif dengan presentase perubahan frekuensi napas pasien sebelum dan sesudah pemberian nebulizer. Hasil: tingkat frekuensi napas pada 5 pasien sebelum diberikan terapi nebulizer didapatkan sebagian besar pasien mengalami penurunan frekuensi napas. Kesimpulan : Pemberian terapi nebulizer terbukti efektif dalam menurunkan frekuensi napas pasien dengan gangguan pernapasan. Terapi nebulisasi sebaiknya diterapkan secara rutin pada pasien ISPA dengan gangguan bersihan jalan napas tidak efektif, karena terbukti membantu menurunkan frekuensi napas, meningkatkan saturasi oksigen, dan memperbaiki mekanisme ventilasi.