cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 472 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2016)" : 472 Documents clear
Optimalisasi Teknologi Fotobioreaktor Mikroalga sebagai Dasar Perencanaan Strategi Mitigasi Gas CO2 Ratna Rizky Rusdiani; Rachmat Boedisantoso; Muhammad Hanif
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (650.632 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.16942

Abstract

Pengendalian emisi gas CO2 sangat dibutuhkan untuk mengurangi efek Gas Rumah Kaca (GRK). Penerapan Carbon Capture Storage (CCS) dapat menjaga stabilitas CO­2 dan mencegah pelepasan CO2 ke atmosfer dalam upaya mitigasi global. Salah satu bentuk teknologi CCS yaitu menggunakan kultur mikroalga dalam fotobioreaktor. Optimalisasi fotobioreaktor dengan menggunakan mikroalga air laut jenis Chlorella sp. Pengoperasian alat dilakukan secara step running dengan variasi acak sesuai matriks Design-Expert. Performa terbaik fotobioreaktor dilihat berdasarkan tingkat penyerapan gas CO2 dan produktivitas mikroalga tertinggi. Kondisi optimum hasil percobaan didapatkan dengan variasi kecepatan aliran fluida 23 cm/detik dan laju alir injeksi gas CO2 0,61 ml/detik. Produktivitas mikroalga yang didapatkan sebesar 0,405 gram/liter. Sedangkan kondisi optimum berdasarkan Design-Expert didapatkan dengan variasi kecepatan aliran fluida 25,82 cm/detik dan laju alir injeksi CO2 0,61 ml/detik. Produktivitas mikroalga yang didapatkan sebesar 0,427 gram/liter. Gas CO2 yang terserap tiap gram mikroalga sebesar 0,638 gram.
Penilaian Risiko Adanya Total Koliform pada Air Produksi IPA X Menggunakan Metode Failure Mode and Effect Analysis Bella Apriliani Amanda; Atiek Moesriati; Nieke Karnaningroem
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (771.439 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.16959

Abstract

Risiko terbesar sistem penyediaan air minum adalah kegagalan menyediakan air minum yang aman bagi masyarakat. Berdasarkan laporan hasil pengujian sampel air produksi IPA X bulan Maret 2016 untuk pemeriksaan parameter wajib diketahui bahwa sampel melebihi baku mutu Permenkes RI No. 492 Tahun 2010 untuk parameter total koliform. Total koliform sebagai indikator pencemaran air oleh patogen menyebabkan air tidak aman dikonsumsi. Proses disinfeksi berperan penting dalam menyisihkan patogen. Kinerjanya dipengaruhi oleh suhu, pH, kekeruhan, dan zat organik. Salah satu cara pengendalian kualitas air produksi melalui pendekatan manajemen risiko menggunakan metode Failure Modes and Effect Analysis (FMEA). Risiko potensial harus terukur agar dapat ditentukan risiko penyebab permasalahan dan tindakan pengurangan risiko yang tepat. Penilaian risiko berdasarkan skala Risk Priority Number (RPN) dijadikan dasar penentuan prioritas tindakan perbaikan. Berdasarkan hasil analisis, risiko kegagalan terbesar yaitu penentuan dosis klor dan zat organik (level risiko tinggi); sisa klor (level risiko sedang); kekeruhan dan pH (level risiko sangat rendah). Usulan perbaikan untuk mengurangi risiko tersebut yaitu dilakukan penentuan dosis klor setiap hari, pengendalian pembentukan disinfectant by products (DBPs) akibat adanya zat organik dalam air dengan menurunkan konsentrasi zat oganik menggunakan granular activated carbon (GAC) atau teknologi aerasi, mengurangi pembentukan DBPs dengan menurunkan dosis disinfektan, menyisihkan DBPs setelah senyawa tersebut terbentuk menggunakan GAC, meningkatkan sisa klor menjadi 0,6 mg/l, melakukan pemantauan kekeruhan dan pH pada sistem pengoperasian filter.
Perbandingan Kemampuan Kitosan dari Limbah Kulit Udang dengan Aluminium Sulfat untuk Menurunkan Kekeruhan Air dari Outlet Bak Prasedimentasi Ipam Ngagel 2 Cecilia Dwi Triastiningrum; Alfan Purnomo
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.366 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.16964

Abstract

PDAM Surya Sembada Surabaya menggunakan air dari Kali Surabaya sebagai sumber air baku utama. Koagulan yang digunakan untuk mengolah air baku tersebut adalah aluminium sulfat. Penggunaan aluminium sulfat dapat mempengaruhi pH air dan menyebabkan kerugian baik dalam sisi lingkungan maupun kesehatan konsumen. Di lain hal, terdapat pula masalah peningkatan jumlah limbah kulit udang yang berpotensi namun belum dimanfaatkan secara optimal. Dari masalah-masalah tersebut muncul ide untuk mencari alternatif koagulan yang ramah lingkungan, efektif, efisien dan sekaligus dapat memanfaatkan limbah kulit udang. Kitosan yang terdapat di kulit udang dapat dijadikan alternatif karena sifatnya tidak beracun, mudah terdegradasi dan bahan bakunya mudah didapatkan. Kitosan adalah senyawa polimer dengan ion positif yang diperoleh dari proses hidrolisis kitin menggunakan basa kuat sehingga terjadi deasetilasi gugus asetamida (NH-COCH3) menjadi gugus amino (NH2). Kitosan diperoleh dari serbuk kulit udang yang melalui proses deproteinasi dengan NaOH 6%, proses demineralisasi dengan HCL 1,1 N, dan proses deasetilasi dengan NaOH 50%. Kitosan yang dihasilkan kemudian di cek kualitasnya dengan melakukan uji kelarutan menggunakan CH3COOH 1% dan pengecekan derajat deasetilasi dengan metode titrasi asam basa. Efektifitas dan efisiensi kitosan diuji dengan metode jar test menggunakan sampel air yang berasal dari outlet bak prasedimentasi IPAM Ngagel 2. Aspek yang diuji adalah kekeruhan dan pH dengan variabel berupa dosis koagulan dan kekeruhan air. Dari sisi biaya, yang akan dibandingkan adalah biaya pemakaian koagulan per hari, per jam dan per m3. Penelitian ini membandingkan kemampuan kitosan dengan aluminium sulfat 17% dan 45% untuk menurunkan kekeruhan air dari outlet bak prasedimentasi IPAM Ngagel 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aluminium sulfat lebih efektif dari kitosan, namun aluminium sulfat tidak lebih efisien dari kitosan. Dari segi biaya, pemakaian aluminium sulfat 17% dan 45% memakan biaya yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan pemakaian kitosan. PDAM Surya Sembada Surabaya menggunakan air dari Kali Surabaya sebagai sumber air baku utama. Koagulan yang digunakan untuk mengolah air baku tersebut adalah aluminium sulfat. Penggunaan aluminium sulfat dapat mempengaruhi pH air dan menyebabkan kerugian baik dalam sisi lingkungan maupun kesehatan konsumen. Di lain hal, terdapat pula masalah peningkatan jumlah limbah kulit udang yang berpotensi namun belum dimanfaatkan secara optimal. Dari masalah-masalah tersebut muncul ide untuk mencari alternatif koagulan yang ramah lingkungan, efektif, efisien dan sekaligus dapat memanfaatkan limbah kulit udang. Kitosan yang terdapat di kulit udang dapat dijadikan alternatif karena sifatnya tidak beracun, mudah terdegradasi dan bahan bakunya mudah didapatkan. Kitosan adalah senyawa polimer dengan ion positif yang diperoleh dari proses hidrolisis kitin menggunakan basa kuat sehingga terjadi deasetilasi gugus asetamida (NH-COCH3) menjadi gugus amino (NH2). Kitosan diperoleh dari serbuk kulit udang yang melalui proses deproteinasi dengan NaOH 6%, proses demineralisasi dengan HCL 1,1 N, dan proses deasetilasi dengan NaOH 50%. Kitosan yang dihasilkan kemudian di cek kualitasnya dengan melakukan uji kelarutan menggunakan CH3COOH 1% dan pengecekan derajat deasetilasi dengan metode titrasi asam basa. Efektifitas dan efisiensi kitosan diuji dengan metode jar test menggunakan sampel air yang berasal dari outlet bak prasedimentasi IPAM Ngagel 2. Aspek yang diuji adalah kekeruhan dan pH dengan variabel berupa dosis koagulan dan kekeruhan air. Dari sisi biaya, yang akan dibandingkan adalah biaya pemakaian koagulan per hari, per jam dan per m3. Penelitian ini membandingkan kemampuan kitosan dengan aluminium sulfat 17% dan 45% untuk menurunkan kekeruhan air dari outlet bak prasedimentasi IPAM Ngagel 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aluminium sulfat lebih efektif dari kitosan, namun aluminium sulfat tidak lebih efisien dari kitosan. Dari segi biaya, pemakaian aluminium sulfat 17% dan 45% memakan biaya yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan pemakaian kitosan.
Stabilisasi/Solidifikasi Timbunan Tailing Penambangan Emas Rakyat Kulon Progo Menggunakan Semen Portland Ihsan Aulia Pamayo; Yulinah Trihadiningrum
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.509 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.16973

Abstract

Penambangan emas rakyat di Kulon Progo menghasilkan limbah berupa tailing yang mengandung merkuri (Hg) dari proses amalgamasi emas. Merkuri tersebut dibuang dan ditimbun dalam tanah. Pada penambangan tersebut terdapat timbunan tailing aktif (TTA) dan tidak aktif (TTTA). Konsentrasi total merkuri pada tailing yaitu sekitar 291-314 mg/kg. Nilai konsentrasi tersebut melebihi baku mutu konsentrasi merkuri pada tailing dengan batas maksimum sebesar 75 mg/kg. Stablilisasi/Solidifikasi (S/S) dapat diaplikasikan untuk remediasi lingkungan tercemar logam berat. Semen portland memiliki kemampuan sebagai binder pencemar logam berat. Tujuan pertama dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi karakteristik dari timbunan tailing aktif dan tidak aktif. Tujuan kedua yaitu untuk menentukan komposisi optimum timbunan tailing aktif dan tidak aktif dalam proses S/S menggunakan semen portland. Penelitian ini menggunakan dua variasi yaitu variasi jenis timbunan tailing dan variasi komposisi timbunan tailing. Variasi jenis timbunan tailing terdiri dari timbunan tailing aktif dan timbunan tailing tidak aktif. Sampel dari kedua jenis timbunan tailing divariasikan dengan semen portland pada % rasio b/b 0:100, 10:90, 20:80, 30:70, 40:60, 50:50, 60:40, 70:30, 80:20, 90:10, dan 100:0. Hasil penelitian menunjukkan sampel timbunan tailing mengandung unsur clay dengan permeabilitas r 7,32 x 10-13 hingga 1,03 x 10-12 cm/detik. Kadar air sampel TTA dan TTTA sebesar 31,77% dan 28%. Konsentrasi merkuri pada sampel TTA yaitu 160-318 mg/kg. Sedangkan pada sampel TTTA yaitu 94-99 mg/kg. Seluruh sampel memenuhi baku mutu kuat tekan dan baku mutu TCLP yang ditetapkan. Komposisi 100% sampel TTA dan TTTA masih mampu mengikat merkuri dengan nilai kuat tekan sebesar 53 ton/m2 dan 117 ton/m2. Nilai TCLP untuk merkuri pada sampel TTA dan TTTA lebih rendah dari 0,0005 mg/L. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tanpa penambahan semen portland sebagai binder, timbunan tailing yang mengandung clay memiliki kemampuan untuk mensolidifikasi dan menstabilkan merkuri yang terkandung dalam limbah tailing, hingga memenuhi baku mutu.
Stabilisasi/Solidifikasi Tailing Tambang Emas Rakyat Kulon Progo Menggunakan Semen Portland dan Tanah Tras Thaniya Triagustine Kalimantoro; Yulinah Trihadiningrum
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (983.819 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17099

Abstract

Merkuri digunakan dalam proses amalgamasi untuk mengikat emas. Namun, penggunaan merkuri pada tambang emas rakyat Kulon Progo, DI Yogyakarta mengakibatkan pencemaran tanah dan badan air di sekitar lokasi tambang. Tailing mengandung merkuri yang dihasilkan dari pengolahan emas ditampung dalam kolam dan seringkali dibiarkan hingga penuh dan meluap ke area sekitarnya. Tailing tergolong limbah B3 kategori 2 menurut Lampiran I PP No. 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Konsentrasi merkuri dalam tailing mencapai 302,31 mg/kg. Upaya remediasi melalui stabilisasi/solidifikasi (S/S) dilakukan untuk mencegah penyebaran merkuri. Semen Portland dan tanah tras digunakan sebagai binder dalam proses S/S ini. Komposisi terbaik antara semen dan tanah tras serta komposisi terbaik antara binder dan tailing ditentukan dalam penelitian ini. Penentuan didasarkan dari hasil uji kuat tekan dan uji TCLP terhadap benda uji. Benda uji berbentuk kubus dengan ukuran tiap sisi 5 cm. Baku mutu uji kuat tekan menurut Kep. Bapedal No. KEP-03/BAPEDAL/09/1995 adalah 10 ton/m2. Baku mutu TCLP menurut Lampiran IV PP No 101 Tahun 2014 yaitu 0,05 mg/L. Variasi komposisi semen dan tanah tras adalah 100:0 ; 90:10 ; 80:20 ; 30:70 ; 60:40 ; 50:50 ; 40:60 ; 30:70 ; 20:80 dan 10:90. Komposisi terbaik ditetapkan pada komposisi 40:60 dengan nilai kuat tekan sebesar 260 kg/cm2. Variasi komposisi binder dan tailing yaitu 50:50 ; 40:60 ; 30:70 ; 20:80 dan 10:90. Komposisi terbaik ditetapkan pada komposisi 50:50 dengan nilai kuat tekan 92,4 kg/cm2 dan nilai TCLP kurang dari 0,21 mg/L.
Analisa Ketelitian Planimetris Citra Quickbird Guna Menunjang Kegiatan Administrasi Pertanahan (Studi Kasus : Kabupaten Gresik, 7 Desa Prona) Theo Prastomo Soedarmodjo
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1216.485 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17169

Abstract

Pembuatan peta dasar dalam menunjang kegiatan administrasi pertanahan yang selama ini menggunakan cara terrestrial dan fotogrametri belum mampu memenuhi dan mencakup seluruh wilayah Indonesia. Saat ini Kabupaten Gresik sedang mengadakan program kadaster lengkap. Dibutuhkan peta dasar dalam memenuhi program tersebut, dimana peta dasar diperoleh secara cepat dan akurat menggunakan data berupa citra satelit resolusi tinggi. Pada penelitian ini diteliti hasil dari kemungkinan data citra satelit resolusi tinggi yang dimiliki oleh Kantor Pertanahan Kabupaten Gresik dapat memenuhi ketentuan dalam peraturan yang telah ditetapkan. Digunakan data berupa citra satelit resolusi tinggi (Quickbird 2007), 9 buah titik kontrol, 13 titik uji dan 17 percobaan jarak yang dilakukan pengukuran dilapangan. Data dasar berupa citra satelit tersebut dilakukan proses pan-sharpening dan pemotongan sesuai lokasi studi kasus. Kemudian dilakukan koreksi geometrik menggunakan 9 buah titik kontrol. Serta dilakukan  proses uji akurasi horizontal CE90 menggunakan 13 buah titik kontrol. Dilakukan pula proses Pengukuran jarak di lapangan sebanyak 17 percobaan kemudian dibandingkan dengan intrepretasi objek di citra. Terdapat pula proses uji statistik dari masing-masing pengukuran jarak. Kemudian setelah proses uji statistik dilakukan proses uji planimetris jarak di lapangan . Dari hasil penelitian didapat nilai hasil besaran koreksi geometrik menggunakan metode polynomial orde-1 (Metode Affine)sebesar 0,515. Dilakukan pula proses uji statistik metode t-test dimana terdapat satu data yang ditolak. Dari hasil data yang diterima didapatkan nilai RMSe dari pengukuran jarak dilapangan yang menunjukkan besar ketelitian planimetris yaitu sebesar 0,245 meter. Terakhir, diperoleh hasil perhitungan ketelitian geometrik untuk penentuan nilai akurasi horizontal sebesar 0.711 meter. Nilai tersebut penggunaan skala 1:2500 untuk di daerah pertanian dan skala 1:10000 untuk daerah perkebunan besar.
Stabilisasi/Solidifikasi Tanah Tercemar Merkuri Tambang Emas Rakyat Kulon Progo Yogyakarta Menggunakan Campuran Semen Portland dan Tanah Tras Elok Dian Karisma Pagri Anisa
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (554.089 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17208

Abstract

Kegiatan tambang emas rakyat merupakan sumber antropogenik terbesar pencemaran merkuri di tanah. Hasil uji total konsentrasi (TK) merkuri pada sampel tanah dari lokasi penambangan emas Kulon Progo Yogyakarta adalah 0,89 mg/kg. Hasil tersebut melebihi baku mutu TK-C merkuri menurut  Lampiran V PP No. 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah B3 sebesar 0,30 mg/kg. Oleh karena itu, diperlukan upaya remediasi untuk meminimisasi tingkat pencemaran merkuri. Salah satu metode yang dapat diaplikasikan adalah teknik stabilisasi/solidifikasi (S/S). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi optimum binder semen dan tras yang digunakan dalam proses S/S, serta komposisi tanah tercemar yang dapat ditambahkan ke dalam campuran semen-tras. Penelitian dilakukan dalam 2 tahap. Pada tahap I digunakan komposisi semen portland-tras dengan variasi perbandingan berat 100:0, 90:10, 80:20, 70:30, 60:40, 50:50, 40:60, 30:70, 20:80, dan 10:90. Sedangkan pada penelitian tahap II dilakukan penambahan sampel tanah tercemar ke dalam campuran optimum binder yang diperoleh dari penelitian tahap I, dengan variasi rasio berat binder : tanah 50:50, 40:60, 30:70, 20:80, dan 10:90. Pada akhir tahap dilakukan uji Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP) berdasarkan US EPA method 1311. Uji kuat tekan dilakukan terhadap benda uji S/S menggunakan Toorse Universal Testing Machine.Kadar merkuri diukur menggunakan metode spektrofotometri serapan atom menurut SNI 6989.78:2011. Dari penelitian tahap I didapatkan komposisi optimum semen-tras sebesar 10:90, dengan nilai kuat tekan 96 kg/cm2. Sedangkan dari penelitian tahap II didapatkan nilai kuat tekan komposisi optimum binder : tanah 10:90 yaitu 6 kg/cm2 dengan konsentrasi merkuri pada uji TCLP sebesar 0,0011 mg/L. Hasil uji kuat tekan memenuhi baku mutu menurut US EPA untuk pengelolaan tanah tercemar sebesar 3,5 kg/cm2. Demikian pula hasil uji TCLP memenuhu baku mutu untuk produk hasil S/S sesuai dengan Lampiran IV PP No. 101 Tahun 2014 sebesar 0,05 mg/L.
Perencanaan Site Layout Facilities Berdasarkan Traveling Distance Dan Safety Index Pada Proyek Pembangunan Hotel The Alimar Surabaya Angga Sukma Wijaya; Yusroniya Eka Putri
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1107.094 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17245

Abstract

Proyek pembangunan hotel The Alimar Surabaya dengan 7 lantai , mempunyai luas tanah sebesar 900 m2 dengan KDB  650 m2 KLB 4550 m2. Permasalahan yang terjadi adalah bangunan tersebut mempunyai lahan yang tidak terlalu luas dan  berhimpitan langsung dengan rumah warga. Ruang gerak yang sempit akan sulit untuk menentukan penempatan site facilities. Dengan perencanaan site layout facilities yang dapat menghemat pemakaian ruang bangun. Semakin besar area yang digunakan dalam penempatan site facilities maka perjalanan antar fasilitas juga semakin banyak memakan waktu. Pembuatan alternatif site layout perlu dilakukan agar memperoleh site facilities yang optimal. Pada penelitian ini dilakukan perencanaan site layout facilities dengan traveling distance dan safety index  atau bisa disebut multi objectives function sebagai acuannya. Perencanaan site layout tersebut pada dasarnya dibagi dua tahap yaitu pada saat pekerjaan sub structure dan pekerjaan upper structure. Dari kedua tahap pekerjaan tersebut dapat menggunakan metode equal maupun unequal site layout. Pada perencanaan fasilitas juga diperhitungkan kebutuhan luas dan fasilitas material pada stock yard. Setelah melakukan iterasi dan membuat skenario-skenario bentuk site layout yang berbeda-beda kemudian terpilih salah satu yang mempunyai nilai multi objectives function paling minimum. Kemudian dengan menggunakan grafik pareto optima maka grafik tersebut mampu menunjukkan titik-titik objectives function yang paling minimum. Hasil yang di dapatkan adalah pada saat pekerjaan Sub Structure, site layout yang paling optimal adalah pada alternatif 665 yang mempunyai travelling distance dan safety index terendah dengan nilai TD sebesar 13246,18 m atau mengalami penurunan sebesar 3,30% dan nilai SI sebesar 1048 atau mengalami penurunan sebesar 5,76% dari kondisi perencanaan awal. Sedangkan Pada saat pekerjaan Upper Structure, site layout yang paling optimal adalah pada alternatif 122 yang mempunyai travelling distance dan safety index terendah dengan nilai TD sebesar 18741,6 m atau mengalami penurunan sebesar 5,15% dan nilai SI sebesar 1072 atau mengalami penurunan sebesar 6,78% dari perencanaan awal.
Evaluasi Metode Aerial Videogrametri untuk Rekonstruksi 3D Bangunan (Studi Kasus: Candi Singasari, Jawa Timur) Yugie Nanda Pranata; Agung Budi Cahyono
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.675 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17375

Abstract

Candi Singasari merupakan salah satu situs warisan dunia dimana upaya untuk konservasi, inventarisasi, dan dokumentasi cagar budaya tersebut diperlukan. Sebagai langkah awal yang dapat dilakukan adalah membentuk model rekosntruksi 3D Candi Singasari. Adapun teknologi yang ditawarkan dalam pemodelan rekonstruksi 3D bangunan begitu bervariasi dengan kelebihan dan kelemahan masing-masing seperti teknologi LiDAR, laser scanner, dan fotogrametri jarak dekat. Dewasa ini, perkembangan dalam dunia fotogrametri untuk kegiatan pemodelan 3D begitu pesat hingga adanya metode yang berkembang saat ini yaitu metode videogrametri. Penelitian ini menggunakan teknologi videogramteri dan konsep SfM untuk membentuk rekonstruksi 3D Candi Singasari. Teknologi videogrametri memiliki kelebihan seperti akuisisi data yang sederhana, harga ekonomis, minim perubahan fotometrik dalam gambar, dan daya overlap tinggi dari data yang dihasilkan. Kriteria yang digunakan dalam rekonstruksi 3D Candi Singasari menggunakan klasifikasi Level of Detail (LoD). Pada penelitian ini difokuskan pada dua aspek yaitu aspek evaluasi visual rekonstruksi 3D dan perhitungan nilai ketelitian geometrik struktur Candi Singasari. Hasil evaluasi visual rekonstruksi 3D diperoleh bentuk point cloud sejumlah 308.248 titik, dense cloud sejumlah 1.126.457 titik, dan textured yang meliputi 225.291 titik (permukaan/face) dan 113.595 vertex dari 161 frame video dengan rata-rata deteksi fitur tiap frame video sejumlah 2.242 titik yang diolah menggunakan konsep structure from motion (SfM). Sedangkan evaluasi untuk validasi nilai geometrik struktur Candi Singasari diperoleh dari hasil korelasi dan uji standar kesalahan. Hasil korelasi antara variabel ICP ukuran model rekonstruksi 3D terhadap ukuran di lapangan menunjukkan nilai kolerasi untuk koordinat easting 0.998, koordinat northing 0.997, dan koordinat Z 0.998. Adapun untuk nilai uji standar kesalahan untuk koordinat easting diterima 83%, koordinat northing diterima 91.7%, dan koordinat Z diterima 91.7% juga nilai RMSE koordinat easting 0.177 meter, northing 0.194 meter, dan koordinat Z 0.168 meter.
Visualisasi Perubahan Volume Dan Elevasi Permukaan Lumpur Dengan Citra Satelit Resolusi Tinggi Temporal Untuk Monitoring Lumpur Sidoarjo Bagas Tri Widodo; Teguh Hariyanto
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1922.377 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17385

Abstract

Sejak awal terjadinya bencana lumpur Sidoarjo pada 29 Mei 2006 silam, telah terjadi lebih dari 10 kali jebolan tanggul penahan lumpur. Yang terakhir terjadi pada akhir tahun 2014 lalu, mengakibatkan rumah warga yang berada di Desa Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin, terendam lumpur. Untuk mencegah hal yang sama terulang kembali, maka perlu dilakukan monitoring untuk mengetahui pola persebaran lumpur dan elevasinya yang berada di dalam tanggul penahan. Dengan menggunakan citra satelit resolusi tinggi WorldView-2 bulan Agustus 2014 dan Juli 2015, maka tutupan lumpur dapat diklasifikasikan menjadi 4 kelas berbeda, yaotu Air Berlumpur, Lumpur Basah, Lumpur Mulai Mengering, dan Lumpur Kering. Menurut hasil pengolahan data observasi lapangan menggunakan GPS geodetik metode kinematik, diketahui bahwa volume total lumpur di dalam tanggul utama pada bulan Maret 2014 adalah 44.039.123,365 m3, dan bulan Juli 2015 sebesar 47.646.879,058 m3. Berdasarkan hasil pemodelan 3 dimensi permukaan lumpur, aliran lumpur pada bulan Maret 2014 cenderung mengarah ke utara. Sedangkan pada bulan Juli 2015 aliran lumpur lebih terkonsentrasi di dekat pusat semburan, membuat tanah bagian bawah mengalami sledding dan penurunan. Dengan demikian, permukaan lumpur menjadi terlihat seperti kaldera atau fitur kawah gunung lumpur. Dan sampai dengan bulan Juli 2015, tutupan lumpur didominasi oleh klasifikasi Lumpur Kering.