Articles
132 Documents
Search results for
, issue
"Vol 2, No 2 (2013)"
:
132 Documents
clear
Keterkaitan Tema Chaos di Terminal Intermoda Banjarmasin
Nurika Irliza;
Rullan Nirwansyah
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1311.364 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v2i2.3437
Tema merupakan suatu pola atau gagasan yang berulang diseluruh desain pada suatu proyek. Tema memudahkan kita ketika proses mendesain sedang berlangsung, karena tema memberikan batasan-batasan dalam memberikan solusi permasalahan. Chaos merupakan suatu ketidakteraturan yang memiliki pola tersendiri. Sedangkan Terminal Intermoda ialah terminal yang didalamnya terdapat 2 atau lebih moda transportasi dan terjadi peralihan penumpang atau barang. Mendesain terminal intermoda memerlukan sebuah tema untuk memberikan suatu inovasi dan membatasi permasalahan dan konsep yang di gunakan.
Penerapan Prinsip Adaptasi pada Desain Bangunan Ekowisata di Lahan Konservasi Mangrove Wonorejo
Rizky Rachmadanti;
I Gusti Ngurah Antaryama
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1576.362 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v2i2.3438
Keseimbangan ekologi lingkungan perairan pantai akan tetap terjaga apabila keberadaan mangrove dipertahankan. Oleh karena itu, keberadaan ekowisata mangrove di kawasan konservasi harusnya bisa menjadi wadah yang menyediakan informasi yang mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, pelestarian, konservasi, dan penelitian mengenai ekosistem mangrove yang memanfaatkan mangrove menjadi daerah wisata alami tanpa melakukan gangguan signifikan terhadap keberadaan mangrove itu sendiri. Adaptasi merupakan cara organisme beradaptasi terhadap lingkungannya dengan mengatasi kondisi fisik lingkungan seperti suhu, cahaya, panas, sehingga mudah merespon perubahan yang terjadi di lingkungannya. Dengan mengangkat tema adaptatif, bunglon dianalogikan sebagai hewan yang memiliki sifat adaptatif, prinsip adaptatif pada bunglon inilah yang akan diterapkan dalam perancangan ekowisata mangrove. Dengan prinsip adaptatif bangunan ekowisata mangrove wonorejo bisa menjadi contoh bangunan ekowisata diatas lahan konservasi yang dapat menjalankan fungsinya tanpa harus banyak merusak ekosistem itu sendiri karena sifatnya yang mampu beradaptasi baik terhadap lingkungan, ekosistem, maupun perubahan kondisi alam.
Solusi Hunian Bagi Pekerja Dan Pelajar Di Kawasan Surabaya Barat Berupa Rancangan Desain Rusunawa
Laras Listian Prasetyo;
Happy Ratna Santosa
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2288.521 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v2i2.3439
Pada era globalisasi, suatu wilayah khususnya kota dapat mengalami aglomerasi, yaitu kota yang semakin mengkota atau kota yang semakin lama akan semakin berkembang meluas. Hal tersebut tidak lepas dari permasalahan kurangnya ketersediaan hunian yang layak bagi masyarakat sehingga terjadi banyaknya permukiman kumuh dan liar yang tidak layak huni. Kota Surabaya yang merupakan ibu kota provinsi Jawa Timur juga mengalami hal tersebut, khususnya Surabaya Barat yang merupakan wilayah dengan perkembangan yang sangat pesat dalam hal pembangunan perumahan, area komersial, munculnya lapangan pekerjaan, dan pendidikan di daerah tersebut. Keadaan Surabaya Barat tersebut memerlukan suatu solusi sebagai pemecahan masalah dan antisipasi, yang berguna untuk mencegah munculnya hunian kumuh dan tidak layak huni khususnya bagi pekerja dan pelajar pada daerah tersebut. Sehingga perlu adanya suatu hunian vertikal bagi pekerja dan pelajar kalangan menengah dengan sistem sewa, yang selanjutnya disebut Rusunawa. Solusi tersebut berupa desain rancangan Rusunawa Sebagai Hunian Pekerja dan Pelajar di Kawasan Surabaya Barat (Gambar 1).
Merepresentasikan Kejutan sebagai Tema dalam Rancangan Galeri Kuliner di Kawasan Tunjungan Surabaya
Yuli Indri Ani;
Dwi Hariadi
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1867.434 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v2i2.3440
Globalisasi menyebabkan perkembangan di segala bidang tanpa terkecuali bidang kuliner. Di sisi lain, produksi makanan lokal dan regional serta tradisi memasak dan makan bersama semakin menghilang. Masyarakat lebih memilih makanan cepat saji yang didominasi produk makanan dari luar negeri. Kuliner khas Jawa Timur semakin lama semakin terdesak dan beberapa bahkan menghilang. Kurangnya kesadaran masyarakat dalam melestarikan kuliner Jawa Timur serta kurangnya perhatian dari pemerintah merupakan penyebab semakin memudarnya kuliner khas Jawa Timur. Dengan adanya Galeri Kuliner Khas Jawa Timur ini diharapkan dapat menjadi salah satu sarana yang dapat mewadahi kegiatan kuliner khususnya kuliner Jawa Timur.Dalam kaitannya dengan spesifikasi objek rancangan berupa sebuah galeri kuliner yang mewadahi beragam kegiatan yang berhubungan dengan kuliner, tema kejutan dipilih karena melihat menjamurnya bisnis kuliner saat ini sehingga diperlukan konsep yang berbeda dan unik sehingga Galeri Kuliner tetap dapat dikunjungi. Kejutan sendiri dapat diperoleh dari sesuatu yang berbeda atau diluar hal dari biasanya. Sesuatu di luar hal yang biasa dalam arsitektur adalah sesuatu yang berbeda. Perbedaan yang muncul bisa dari ukuran, orientasi, lokasi, tampang, konfigurasi, warna, bahan dan tekstur. Kejutan juga dapat terjadi karena perubahan suasana secara tiba-tiba. Definisi tersebut berusaha direpresentasikan dalam rancangan Galeri Kuliner melalui berbagai aspek arsitektural, sehingga objek rancang dapat hadir sebagai sesuatu yang berbeda dan baru. Konteks lingkungan yang berada di Tunjungan yang merupakan kawasan cagar budaya menjadi tantangan tersendiri dalam proses merancang. Karena kawasan Tunjungan memiliki keterikatan yang sangat jelas terhadap aspek kesejarahannya
Pendekatan Teori Symbolism dalam Tema Keju pada Rancangan Sekolah Seni Kuliner Surabaya
Fitri Rahmawati;
Mochamad Salatoen Pujiono
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1350.099 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v2i2.3442
Perkembangan kuliner di dunia global dewasa ini sangat pesat. Berbagai jenis dan macam masakan tidak hanya menjadi kebutuhan, namun juga telah menjadi gaya hidup masyarakat. Menjadi seorang chef atau koki yang ahli untuk mengolah masakan, membutuhkan skill khusus, sehingga diperlukan pendidikan khusus untuk mendalami bidang ini. Sekolah Seni Kuliner Surabaya, merupakan obyek arsitektur yang digunakan sebagai sarana edukasi dan sekaligus entertainment. Sekolah ini nantinya diharapkan mampu menjadi wadah untuk mengembangkan bakat dan memenuhi kebutuhan masyarakat akan sekolah seni kuliner yang berstandar internasional dan mampu bersaing di dunia kerja. Tema “keju” dipilih sebagai panduan dalam mengembangkan obyek dengan harapan nantinya dapat seperti filosofi keju, yang mempunyai ciri yang khas, mampu beradaptasi, sehingga bangunan ini nantinya dapat menjadi sebuah bangunan yang bisa menjadi ikon kuliner di Surabaya. Pengaplikasian tema akan telihat pada gubahan massa bangunan.
Pengaplikasian Tema Melodi pada Sarana Apresiasi Komunitas Musik di Surabaya
Dyah Nawangsari;
Baskoro Isworo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1304.526 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v2i2.3444
Tema pada sebuah bangunan merupakan sebuah wujud dari identitas dan penerapan konsep bentuk. Konsep bentuk tersebut yang nantinya akan menerapkan berbagai macam elemen mulai dari bentuk, materaial, konsep ruang luar, dan interior bangunan. Dalam Sarana Apresiasi Komunitas Musik ini pengambilan tema juga disesuaikan dengan apa yang ingin ditunjukkan. Tema Melodi diambil karena melodi masih berkaitan dengan musik dan merupakan unsur terpenting dari musik, maka diharapkan bangunan ini nantinya juga dapat menjadi icon dan bangunan yang penting bagi perkembangan musik di Surabaya. Tema Melodi menjadikan bangunan ini lebih memperlihatkan jiwa dan identitas bangunannya sebagai bangunan musik, sehingga dengan tema yang diperlihatkan pada bangunan ini orang dapat mengenali bangunan ini merupakan bangunan musik dari visual dan ketika merasakan pengalaman di dalam bangunan ini. Tema Melodi juga akan mempengaruhi detail dari bangunan dan juga interior dari bangunan yang akan memunculkan unsur musik yang dapat dirasakan oleh pengunjungnya ketika berada di bangunan ini.
Multifungsi Graha Remaja dengan Representasi Tema Pelangi
Rizkya Fisabila;
Murni Rachmawati
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1423.503 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v2i2.3445
Remaja sebagai generasi penerus perjuangan Bangsa, harus mendapat fasilitas pendidikan yang layak. Tidak hanya pendidikan formal di sekolah dan kampus, namun juga pendidikan informal. Tindak kriminal, kekerasan, bahkan seks bebas dan penggunaan obat-obatan terlarang hanya sebagian kecil permasalahan remaja yang kita temukan di negara Indonesia. Graha Remaja Surabaya, adalah salah satu jawaban dari berbagai macam permasalahan tersebut. Obyek rancang ini mengangkat tema pelangi sebagai konsep rancangan. Bangunan multifungsi ini diharapkan mampu memfasilitasi kegiatan edukasi dan juga rekreasi, khususnya fasilitas olahraga dan seni bagi para pengguna di Jawa Timur, khususnya di Surabaya.
Trilogi Simbiosis: Seni Rupa, Arsitektur dan Ruang Publik
Nehemia Bislissin;
Murni Rachmawati
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1950.021 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v2i2.3585
Apresiasi merupakan hal yang penting dalam dunia seni khususnya seni rupa karena merupakan bentuk komunikasi dua arah antara pelaku seni dan penikmat seni. Minimnya apresiasi akan berdampak negatif pada kelestarian seni rupa itu sendiri. Ruang publik adalah suatu tempat yang memiliki potensi yang besar untuk menciptakan komunikasi tersebut.Oleh karena itu perlu adanya suatu rancangan yang dapatmelihat hubungan antara seni rupa dengan kualitas ruang publik kota, sehingga masyarakat dapat menikmati karya seni atau bahkan mengapresiasikannya dalam suasana kebersamaan dalam ruang publik kota. Perancangan ini memiliki tujuan untuk meningkatkan interaksi masyarakat terhadap perkembangan seni rupa dan sebagai sarana komunikasi dalam sosialita masyarakat serta meningkatkan kualitas ruang publik kota. “Reciprocity” yang digunakan sebagai tema dalam merancang memiliki pengertian bahwa semua aspek dalam rancangan akan terkait dan dapat diterapkan kedalam perancangan yang adaptif, harmonis dengan lingkungan, proses berkelanjutan, kekhasan solusi yang kontekstual dan mempengaruhi lingkungan. Hasil perancangan ini adalah simbiosis antara seni rupa, arsitektur dan ruang publik dalam rancangan ini menunjukkan ruang interaksi yang saling terkait, rekreatif-edukatif dan memiliki keselarasan sebagai sesuatu yang saling terkait dan terhubung secara timbal-balik.
Keselarasan Ruang Luar dan Ruang dalam pada Perancangan Pusat Budaya Bali
Sofian Deo Ananto;
I Gusti Ngurah Antaryama
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (997.637 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v2i2.3586
Arsitektur tradisional Bali mengenal tipologi bangunan bale yang berupa naungan dan keberadaan natah yang berupa ruang terbuka sebagai pusat orientasi dalam arsitektur tradisional Bali. Kedua elemen arsitektur ini menghasilkan kesan ambigu antara ruang dalam dan ruang luar di dalam rumah tradisional Bali. Dua elemen arsitektur ini juga menjadi ciri khas arsitektur Bali. Dalam perancangan arsitektur Bali yang mengkini maka diperlukan eksplorasi yang lebih dalam tentang hal-hal yang menjadi ciri khas arsitektur Bali diantaranya adalah keberadaan natah dan bale yang menghasilkan ambiguitas ruang luar dan dalam. Kenangan pengalaman ruang di dalam arsitektur tradisional Bali dapat dihadirkan kembali di dalam arsitektur Bali kontemporer dengan menggali kembali kebudayaan yang berkembang dengan tetap berakar pada kebudayaan tradisional Bali. Natah dan Bale di dalam arsitektur tradisional Bali dapat diinterpretasikan dalam bentuk yang berbeda tetapi dengan pengalaman ruang yang hampir sama. Diharapkan dengan proses merancang yang mengadopsi pengalaman ruang arsitektur tradisional Bali ini akan dihasilkan arsitektur yang dapat memberi suasana selaras antara ruang luar dan ruang dalam bangunan sama seperti pengalaman ruang yang dirasakan pada arsitektur tradisional Bali.
Perancangan Studio Film sebagai Wadah Kreasi Perfilman dengan Pendekatan Tema Cahaya
I Made Brata Mardawa;
Erwin Sudarma
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (915.676 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v2i2.3588
Film merupakan salah satu artifak yang dibentuk oleh budaya yang spesifik, film merepresentasikan budaya dan pada gilirannya ikut mempengaruhi budaya. Pada saat ini masih sedikit film produksi anak bangsa yang mampu berkibar di tanah air maupun di kancah internasional. Walau saat ini pemerintah sudah memberi perhatian lebih kepada produksi film tanah air ,masih rendahnya mutu perfilman Indonesia disebabkan kurangnya kemampuan produksi yang berstandar internasional dari para pekerja film Indonesia. Untuk memfasilitasi kebutuhan para pembuat film, dan meningkatkan kuantitas film yang berkualitas, dan perlu adanya suatu tempat yang mampu mewadahi kegiatan produksi film. Sebuah proyek dengan pemrograman ruang yang tepat dan ketersediaan fasilitas yang memadai merupakan salah satu langkah nyata dalam mengembangkan industri perfilman Indonesia ke arah yang lebih baik.