Articles
177 Documents
Search results for
, issue
"Vol 6, No 2 (2017)"
:
177 Documents
clear
Metafora Asa – Burung Sriti untuk Rehabilitasi Mental Anak Korban Kekerasan
Terri Mayangsari Yunus;
Rullan Nirwansyah
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (599.383 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.25988
Kekerasan terhadap anak di kota Surabaya dan sekitarnya semakin meningkat setiap tahunnya. Sering sekali penyelesaian masalah terhenti pada tahapan pengobatan fisik saja tanpa mempertimbangkan kerusakan psikis yang diterima anak selaku korban. Untuk itu, dibutuhkan terapi penyembuhan dan kenyamanan, serta keamanan yang sangat diperlukan untuk menunjang penyembuhan psikis anak. Dengan demikian dibutuhkan fasilitas dengan desain yang dapat menampung semua kebutuhan tersebut dengan baik. Desain yang sesuai adalah yang dapat meningkatkan secara maksimal kemampuan korban agar kejadian yang sama tidak berulang dan mencegah tindakan berbahaya yang dapat dilakukan korban akibat efek psikologis dari kekerasan tersebut. Pasien atau anak harus dapat menemukan kembali harapan hidupnya yang seakan hilang karena tindak kekerasan tersebut. Untuk itu digunakan konsep asa; harapan atau hope, yang dapat dijabarkan lagi menjadi burung sriti sebagai simbol asa yang telah terbukti mengurangi tingkat depresi seseorang, untuk dimetaforakan kedalam karya arsitektur.
Redesain Permukiman Kumuh dengan Pendekatan Incremental
Muhammad Jehan Aldilla;
Asri Dinapradipta
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (512.275 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26006
Mayoritas penduduk permukiman kumuh yang tidak sehat dapat mempengaruhi kualitas masyarakat kota. Kualitas masyarakat kota yang buruk dapat menghambat pertumbuhan kota itu sendiri. Upaya dalam meningkatkan kualitas masyarakat nya dapat dilakukan dari peningkatan kualitas hunian nya. Setelah adanya peningkatan dari kualitas, sebuah hunian selayak nya dapat berkembang untuk masa depan, karena kebutuhan dari manusia yang juga ikut berkembang seiring perkembangan zaman. Peranan arsitektur pada dasarnya adalah memfasilitasi dan mengakomodasi kebutuhan dan aktivitas manusia. Melalui peranan arsitektur tersebut, obyek rancang kawasan ini berfungsi untuk memenuhi kebutuhan dari penghuni nya dan layak digunakan sesuai standar dari Green Architecture dan dapat berkembang sesuai kebutuhan dengan metode Incremental, yang secara harafiah berarti perkembangan dimana penghuni dapat mengembangkan hunian nya sesuai kebutuhan nya sebagai jawaban permasalahan kota.
Wonokromo Junction Efisiensi Ruang dalam Fungsi Waktu
hafri alfian;
Defry Agatha Ardianta
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (486.061 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26007
Salah satu dari fenomena yang ada dalam penggunaan objek arsitektur adalah terbentuknya idle space, dimana ketika sebuah ruang berada pada kondisi tidak digunakan/ tidak termanfaatkan. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi hal ini. Seperti waktu dari penggunaan ruang dan lain lain. Hal ini sering terjadi pada tipologi arsitektur di sekitar kita. Terbentuknya idle space merupakan wujud inefisiensi pemanfaatan sebuah ruang. Konsep yang ditawarkan untuk mengatasi hal ini adalah memaksimalkan penggunaan sebuah ruang. Metode yang digunakan antara lain dengan memperpanjang aktivitas penggunaan ruang, dan menggabungkan program yang memiliki persyaratan teknis yang sama dan waktu yang berbeda dalam sebuah ruang. Proyek Wonokromo Junction dipilih sebagai media untuk menerapkan konsep yang ditawarkan. Dengan pertimbangan kawasan ini akan menghasilkan variasi program. Variasi program yang muncul banyak berkaitan dengan rencana pengembangan kawasan berbasis pejalan kaki oleh pemerintah Surabaya. Variasi program yang ada selanjutnya dikelompokkan untuk menentukan ruang formal yang terbentuk.
Tempat Penitipan Anak Bernuansa Alam dengan Pendekatan Architecture and Human Sense
Dwita Hapsarie Riandhini;
Muhammad Faqih
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (634.464 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26108
Proses tumbuh kembang seorang anak membutuhkan pemantauan dan perhatian, baik segi fisik maupun mental. Sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak dapat berjalan dengan baik dan benar. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, banyak orang tua yang memiliki aktivitas yang padat sehingga mengakibatkan minimnya waktu yang dimiliki dan tidak dapat mengasuh anaknya sepanjang hari. Tempat penitipan anak bernuansa alam merupakan sarana alternatif yang menyediakan jasa pengasuhan, perawatan dan pendidikan dengan menggunakan alam sebagai media yang membantu tumbuh kembang anak melalui pengalaman langsung dengan lingkungan sekitar. Sarana ini diharapkan dapat mewadahi dan menyesuaikan dengan kecenderungan proses perkembangan dan pertumbuhan anak, dimana anak-anak cenderung akan menggunakan panca indera (sense) mereka untuk mempelajari sesuatu yang baru. Apa yang mereka pahami akan berdasarkan pada pengalaman dan informasi yang mereka miliki. Oleh karena itu pengawasan yang lebih sangat dibutuhkan akan pertumbuhan dan perkembangan anak dapat tumbuh dengan baik dan tepat.
Taman Edukatif Rekreatif Jayengrono, Sebuah Ruang bagi Manusia untuk Bertemu
Tuesdayani Sadu;
Andy Mappa Jaya
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (398.263 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26138
Kemajuan teknologi, khususnya pada teknologi gadget membawa dampak bagi kehidupan manusia. Teknologi diciptakan dengan tujuan untuk memudahkan kehidupan manusia. Disamping dampak positif yang memudahkan manusia, terdapat pula dampak negatif bagi penggunanya. Salah satu dampak negatifnya adalah ketergantungan yang dapat menyebabkan seseorang menjadi individualis dan antisosial. Hal tersebut tidak sesuai dengan kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu manusia membutuhkan sebuah ruang untuk bertemu, yaitu sebuah ruang publik. Bertujuan untuk meningkatkan nilai sosial pada manusia, ruang publik ini juga bertujuan untuk memberikan sarana edukasi serta rekreasi. Perancangan menggunakan pendekatan spirit of place, yang diintegrasikan dengan lokasi tapak yang merupakan lokasi bersejarah. Objek rancang merupakan sebuah taman untuk mewadahi kegiatan manusia dalam beraktivitas. Dalam perancangannya, teknologi digunakan sebagai media pendukung fungsi taman. Teknologi dihadirkan berupa sebuah galeri interaktif serta area game yang dapat memberikan edukasi serta rekreasi bagi masyarakat.
Evoking Timelessness through Integration between Old and New Building
Mohammad Irfan Andhikaputra;
Vincentius Totok Noerwasito
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (590.275 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26199
Architecture is inevitably influenced by time. One of the possible way to witness the influence of time in architecture is looking through the present old-structure building. The building that holds historical value to its society, are able to be used over time while retaining its form but adaptively reused by society to fulfill their needs. In the other hand, some buildings are just left abandoned by its society, although it may have the same value with the other “timeless” building. As to retain its historical identity, the government has issued some projects to rejuvenate this sector of Kota Tua. Selected site is developed and adapted, given its newest function as a museum by using pattern language and adaptive reuse as a method to achieve a suitable look of a timeless concept. The implementation of Timelessness into selected site is the main idea of this project, by placing the new structure adaptively through existing building, the integration of the old and new structure is achieved.
Keselarasan antara Baru dan Lama Eks-Bioskop Indra Surabaya
Shinta Mayangsari;
Mohammad Dwi Hariadi
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (502.334 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26273
Surabaya menjadi salah satu kota Metropolitan besar di Indonesia dengan pertumbuhan ekonomi kota yang pesat. Kegiatan perdagangan kota Surabaya yang pesat diharapakan juga sejalan dalam bidang lain terutama dalam hal pelestarian bangunan cagar budaya (BCB). Pemanfaatan bangunan cagar budaya (BCB) menjadi fungsi jasa dan komersial adalah jawaban dari masalah pelestarian BCB dan kaitannya dengan kontribusi dalam perekonomian kota secara aktif. Objek BCB yang dipilih adalah eks-Bioskop Indra Surabaya. Bangunan bergaya khasNieuwe Zakelijkheid ini berdiri sejak 1910. Kondisi bangunan saat ini tidak berfungsi dan terbengkalai. Pelestarian eks-Bioskop Indra dilakukan dengan cara adaptasi (adaptive-reuse), yaitu mengubah eksisting yang terbengkalai untuk difungsikan kembali dengan fungsi baru (berupa kantor sewa & resto) tanpa menuntut perubahan drastis dan tetap mempertahankan ciri khas. Konsep form follows form sebagai dasar untuk merancang massa baru agar selaras dengan bangunan lama. Pendekatan kontekstualisme dan metode insertion-transition dipilih untuk mencapai keterpaduan antara yang lama dan baru.
Perancangan Perpustakaan Umum dengan Pendekatan Arsitektur Hybrid
Armeinda Nur Aini;
Arina Hayati
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (704.581 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26335
Kota Surabaya telah ditetapkan sebagai Kota Literasi pada tahun 2014 diiringi dengan bertambahnya fasilitas taman bacaan dan beberapa perpustakaan untuk meningkatkan minat baca. Sebagai Kota Literasi seharusnya masyarakat umum berpartisipasi, namun karena kurangnya informasi, masyarakat belum sepenuhnya memanfaatkan dan menggunakan fasilitas-fasilitas literasi yang ada. Faktor lain yang mempengaruhi menurunnya jumlah pengunjung ke fasilitas literasi adalah kurangnya minat baca masyarakat dan bangunan yang ada kurang memiliki desain yang menarik dan fasilitas yang kurang memadai. Berdasarkan isu diatas, maka tujuan dari perancangan ini untuk menjawab bagaimana suatu desain arsitektur hadir sebagai pemicu kegiatan literasi yang lebih menarik dan mudah untuk diakses oleh masyarakat umum. Rancangan bangunan perpustakaan diajukan sebagai tempat kegiatan literasi, edukatif dan rekreatif. Perancangan ini menggunakan pendekatan dan metode perancangan arsitektur hybrid yang menggabungkan dua fungsi yaitu perpustakaan dan taman sehingga dapat memberikan persepsi yang berbeda. Hasil rancangan perpustakaan mefokuskan pada menyelesaikan tiga kriteria desain yaitu bangunan yang dapat meningkatkan minat baca, sebagai wadah kegiatan edukasi serta bangunan dapat menjadi identitas literasi pada daerah tersebut.
Mengaburkan Batas dan Orientasi dalam Susunan Program Ruang di KBRI Singapura
Hera Monica;
I Gusti Ngurah Antaryama
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (651.555 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26336
Desain pada bangunan kedutaan memberikan sebuah perhatian kepada beberapa aspek, salah satunya adalah aspek keamanan. Dari sudut pandang arsitektur, keamanan sering kali direpresentasikan dalam wujud pengolahan batas. Batas tersebut menjadikan desain kedutaan mempunyai karakter desain yang khas. Namun desain khas yang mengamankan tersebut seringkali memudahkan orang dalam mengenal pola susunan tempat (mudah ditebak hierarkinya). Hal ini membuat pengamanan kasat mata maupun tidak kasat mata, harus ekstra keras dalam menjalankan tugas mereka untuk mengamankan kedutaan. Salah satu cara merancang desain kedutaan yang tetap memenuhi aspek keamanan adalah menghadirkan susunan bentuk acak dalam mengaburkan orientasi. Hal ini juga sejalan dengan representasi sebuah kedutaan Indonesia yang terkesan ramah terhadap negara lain. Maka diusulkan sebuah rancangan kedutaan berkonsep Chaos, dengan menggunakan metode Surrealist Devices sebagai parameter dalam mengacak. Rancangan kedutaan yang berada di Singapura tersebut, menghasilkan tiga massa yang terlihat menyatu. Pola bentuk pada bangunan maupun lanskapnya ditata distorsi, yang diharapkan mampu mendistraksi orang yang berada di sekitar kedutaan tersebut.
Pendekatan Arsitektur Hijau pada Rancangan Kampung Wisata Budaya Tengger
Ainiyah Intan Permatasari;
Wawan Ardiyan Suryawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (745.079 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26343
Salah satu wujud kebudayaan berupa aktivitas yang bisa dikatakan hampir punah ialah kebudayaan yang dilakukan oleh suku Tengger. Di sisi lain, Gunung Bromo memiliki keindahan alam yang luar biasa dikenal hingga mancanegara. Sebagai suku yang tinggal di kawasan wisata, masyarakat Tengger harus mampu memanfaatkan sektor pariwisata untuk melestarikan kebudayaan serta mengembangkan perekonomian mereka di bidang tersebut. Konsep kampung wisata budaya dipilih untuk dapat mengatasi isu tersebut. Kampung berfungsi untuk lebih mendekatkan masyarakat asli suku Tengger dengan wisatawan. Adanya kampung wisata budaya ini diharapkan agar warga dapat melestarikan kebudayaannya dengan nyaman dan wisatawan dapat belajar, melihat, dan merasakan langsung kebudayaan tersebut karena mereka bisa hidup berdampingan dengan penduduk asli Tengger. Pendekatan Arsitektur Hijau dipilih untuk lebih memperhatikan kondisi eksisting tapak serta masyarakat Tengger sebagai user.