cover
Contact Name
Prasetyadi Mawardi
Contact Email
prasetyadimawardi@yahoo.com
Phone
+6287834999959
Journal Mail Official
jurnalibehs@gmail.com
Editorial Address
Bagian Pendidikan & Penelitian RSUD Dr. Moewardi Jl. Kol. Soetarto 132 Fax (0271) 666954 Surakarta
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Basic and Experimental Health Sciences
Published by RSUD Dr. Moewardi
ISSN : -     EISSN : 30255929     DOI : 10.11594/ibehs
Core Subject : Health,
Indonesian Basic and Experimental Health Sciences Journal (IBEHS) is a health journal published by RSUD Dr. Moewardi Surakarta, Central Java, Indonesia as a contribution to RSUD Dr. Moewardi for the development and progress of health science which is marked by various innovations and creativity of health workers, both in the Dr. Moewardi or other health workers who are always concerned about education, research, and community service in the health sector.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 12 No. 1 (2023): November" : 5 Documents clear
PROFIL TIROID, AUTOANTIBODI TIROID DAN RT-PCR SARS CoV-2 SERUM PADA PASIEN COVID-19 Pramudianti, M I Diah; Ariningrum, Dian; Sulistyantoko, Damar; Fitriastuti, Avanti
Indonesian Basic and Experimental Health Sciences Vol. 12 No. 1 (2023): November
Publisher : Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/ibehs.vol12iss1pp1-9

Abstract

PENDAHULUAN Penyakit tiroid merupakan masalah kesehatan masyarakat yang harus diwaspadai karena dapat mempengaruhi berbagai organ tubuh. Penyakit COVID-19 dapat memacu gangguan tiroid secara direk atau melalui respon inflamasi imun yang memacu autoimun. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis profil tiroid, autoantibodi tiroid dan RT-PCR SARS CoV-2 serum pada pasien COVID-19 METODE Penelitian potong lintang dengan sampling berurutan pada bulan Juli 2022 sampai dengan Oktober 2022 di laboratorium Patologi Klinik RSUD Dr. Moewardi di Surakarta. Kriteria inklusi yaitu pasien dewasa dengan COVID-19. Kadar TSH, FT4, FT3, dan TPO antibody diperiksa menggunakan alat imunologi Mindray CL-900i metode CLIA. RT-PCR SARS CoV-2 serum menggunakan alat Roche Cobas Z 480. Data diproses menggunakan komputer. HASIL Penelitian ini terdiri 85 subjek dengan median usia 50 (19-68) tahun dan laki-laki lebih banyak daripada perempuan (55,3% vs 44,7%). Disfungsi tiroid pada 16 subjek (18,8%), dan kasus hyperthyroid lebih banyak daripada hypothyroid (12,9% vs 5,9%). Subjek dengan euthyroid, hyperthyroid dan hypothyroid didapatkan rerata usia 49 (19-68); 58 (38-66); dan 50 (21-60) tahun (berurutan). Subjek dengan autoimmune dan non autoimmune thyroid sebanyak 12 (14%) vs 73 (86%) orang. Keseluruhan subjek didapatkan hasil RT-PCR SARS CoV-2 serum negatif (100%). SIMPULAN Diantara subjek dengan thyroid dysfunction didapatkan gangguan terbanyak yaitu hyperthyroid, dengan prevalensi autoimmune sebanyak 14% dan tidak didapatkan bukti transmisi virus SARS CoV-2 melalui darah. Perlu dilakukan skrining autoimmune thyroid pada pasien COVID-19.
PERBANDINGAN KARAKTERISTIK KLINIS PASIEN COVID 19 VARIAN OMICRON DAN VARIAN DELTA DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR. MOEWARDI SURAKARTA Permana, Septian Adi; Purwoko, P; Thamrin, Muhammad Husni; Anggoro, Pandu
Indonesian Basic and Experimental Health Sciences Vol. 12 No. 1 (2023): November
Publisher : Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/ibehs.vol12iss1pp10-28

Abstract

PENDAHULUAN Perkembangan SARS-CoV-2 telah ditandai dengan pengenalan "Variant Of Concern," atau perubahan sifat virus seperti penularan penyakit dan antigenisitas. VOC Delta SARS-CoV-2 40% -60% lebih mudah menular daripada VOC Alpha (B.1.1.7) dan dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko rawat inap. TUJUAN Untuk mengetahui karakteristik klinis pasien COVID-19 varian Delta dan Omicron di High Care Unit (HCU) dan Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Dr Moewardi. METODE Penelitian deskriptif analitik kuantitatif dengan pendekatan retrospektif yang dilakukan pada Juni 2021-Maret 2022. Sampel penelitian adalah pasien terkonfirmasi positif COVID-19 yang di rawat di ICU dan HCU isolasi pada Agustus-Oktober 2021 dan Januari-Maret 2022. Diukur tanda vital, komorbid, hasil laboratorium, status intubasi dan mortalitas. HASIL Angka kematian pasien yang terinfeksi Covid-19 varian delta dan varian omicron masing-masing adalah 10% dan 10,8%. Varian Delta lebih signifikan berdampak terhadap CVA (p=0.001) dan penyakit jantung (p<0.001) dibandingkan pada CVA (p=0.015) dan penyakit jantung (p=0.190) pada pasien SARS-CoV-2 varian Omicron. Varian Omicron lebih signifikan berdampak terhadap sepsis (p=0.012) dibandingkan varian Delta (p=0.026). KESIMPULAN Tidak didaptakan perbedaan angka mortalitas antara varian COVID-19 omicron dan delta. Kematian pada kelompok omicron sebagian besar disebabkan penyakit komorbid, sedangkan pada kelompok delta, kematian disebabkan karena COVID-19 menyebabkan disfungsi endotel.
INDIVIDUAL CORRELATION OF OXYGEN DELIVERY WITH HAEMOGLOBIN LEVEL IN 20-YEAR-OLD WOMAN WITH HB 1.8 WITH INCOMPATIBLE CROSS-MATCH RESULTS: CASE REPORT STUDY Permana, Septian Adi; Yuliana, Friskha
Indonesian Basic and Experimental Health Sciences Vol. 12 No. 1 (2023): November
Publisher : Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/ibehs.vol12iss1pp29-34

Abstract

BACKGROUND Clinical assessment of the delivery of tissue oxygenation is very challenging for clinicians to study. Anaemia reflects a decrease in oxygen carrying capacity in the blood which is very at risk of oxygen delivery (DO2) insufficiency and cellular hypoxemia, to assess tissue hypoxia in addition to being a reliable tool, the clinician must also adjust to the patient's clinical and hemodynamic. Blood transfusions are generally used to correct anaemia precisely and efficiently, but in certain circumstances that make it impossible for clinicians to perform blood transfusions, at that time we have to think of other methods of therapy in patients. METHODS 20-year-old woman came with anaemia, with a haemoglobin (Hb) level of 6.0 g/dl, a stable clinical condition and hemodynamic within normal limits, a blood transfusion was planned but the results of the Comb test was incompatible, so it was an absolute contraindication for transfusion. The patient experienced clinical changes that indicated the occurrence of tissue hypoxia when the Hb level was 2.0gr/dl. The clinician decided to maximize DO2, and reduce oxygen demand/consumption (VO2), so that there is a balance. The patient was treated with steroids, suspected autoimmune haemolytic anaemia (AIHA). On the eighth day of clinical treatment the patient improved, hemodynamically stable, and Hb increased. CONCLUSION Clinical valuation of the distribution of tissue oxygenation is very important for AIHA patient.
TWIN TO TWIN TRANSFUSION SYNDROME APA YANG DAPAT KITA LAKUKAN DI PERIFER? Bachnas, Muhammad Adrianes
Indonesian Basic and Experimental Health Sciences Vol. 12 No. 1 (2023): November
Publisher : Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/ibehs.vol12iss1pp35-40

Abstract

PENDAHULUAN Twin-Twin transfusion syndrome (TTTS) merupakan tantangan tersendiri bagi perifer. Hingga saat ini Fetoscopic laser photocoagulation (FLP) baru tersedia satu di seluruh Indonesia, yaitu di RSAB Harapan Kita, Jakarta. Sementara menurut perhitungan rasio kejadian TTTS terhadap angka kelahiran di Indonesia, tidak kurang dari 3000 kasus TTTS terjadi pertahunnya. Artinya, 10 kasus perhari membutuhkan tindakan tersebut. Maka bila di satu senter layak mengerjakan maksimal 3 kasus maka dibutuhkan 3-4 senter fetoskopi di Indonesia. Sementara kita menunggu terbitnya senter fetoskopi selain RSAB Harapan Kita Jakarta, maka apa yang mungkin dan bisa kita lakukan? TUJUAN Memberikan gagasan manajemen TTTS untuk daerah perifer berbasis telaah literatur beserta telaah kasus serial yang ditangani. Metode: Serial Kasus HASIL Empat kasus TTTS terdiagnosis rata-rata pada minggu 26.5 kehamilan (dari 23 – 29 minggu). Satu kasus datang sudah dalam persalinan tanpa intervensi. Satu kasus dilakukan amnnioreduksi. Dua kasus dapat dilakukan 50% dilakukan septostomi dan amnioreduksi. Lama waktu dari intervensi sampai dengan bayi lahir 19.6 hari. Didapatkan 100% (8 bayi) lahir hidup, tetapi hanya 37.5% (3 bayi) yang dapat bertahan hidup. Dua bayi lahir dari ibu yang sama dengan usia kehamilan 36 minggu, sayang bayi resipien meninggal beberapa saat setelah dilahirkan. Pada kasus lain Satu bayi donor juga berhasil bertahan hidup pasca tindakan septostomi yang lahir pada usia 32 minggu sementara resipien meninggal pasca salin. Cara persalinan, 50% (2 kasus) pervaginam dan 50% (2 kasus) perabdominam. KESIMPULAN Tindakan pertama terpilih untuk TTTS adalah fetoskopi dan laser ablasi dengan angka keselamatan kedua janin lebih dari 90%, hanya saja dikarenakan fasilitas ini belum tersedia di RSUD Dr. Moewardi maka diambil pilihan kedua, yaitu melakukan septostomi dan amnioreduksi. Tindakan septostomy dapat mencegah kompresi tali pusat pada janin donor akibat oligohidramnion, sehingga mengurangi probabilitas kematian intrauterin. Tindakan amnioreduksi dilakukan simultan setelah septostomy dapat mengurangi dypsnea dan nyeri perut akibat overdistensi serta prematuritas. Timing septostomi dan amnioreduksi ternyata sangat menentukan untuk setidaknya dapat menolong salah satu janin.
PENEGAKAN DIAGNOSIS NEUROPATI AUDITORI : SEBUAH LAPORAN KASUS Primadewi, Novi; Anggraini, Rinda Putri; Aditya, Destar
Indonesian Basic and Experimental Health Sciences Vol. 12 No. 1 (2023): November
Publisher : Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/ibehs.vol12iss1pp41-54

Abstract

PENDAHULUAN Neuropati auditori merupakan bagian dari tuli sensorineural, dimana suara dapat masuk hingga telinga dalam, tetapi transmisi sinyal dari telinga dalam ke otak terganggu pada jaras tertentu. Evaluasi klinis serta pemeriksaan yang tepat dibutuhkan pada penegakkan diagnosis neuropati auditori sehingga tatalaksana yang tepat dapat segera diberikan. LAPORAN KASUS Dilaporkan seorang anak laki-laki umur 1 tahun 8 bulan dengan keluhan belum dapat bicara sesuai usianya dan tidak respon terhadap panggilan ataupun suara keras. Pasien mempunyai riwayat hiperbilirubinemia pada usia 2 minggu. Pasien dilakukan pemeriksaan OAE dengan hasil normal, ABR/BERA terdapat gelombang mikroponik koklea pada intensitas 90-95 dB dan tidak tampak gelombang V pada intensitas 70-95 dB dan ASSR hasil ambang dengar gangguan derajat berat. DISKUSI Diagnosa neuropati auditori dapat ditegakkan dengan pemeriksaan Otoacoustic Emission (OAE) dengan hasil fungsi sel rambut luar koklea normal dan pada auditory brainstem respons (ABR/BERA) didapatkan Cochlear Microphonic (CM) normal atau pernah ada dalam satu waktu tetapi respons gelombang tidak normal atau tidak ada. Pada kasus ini telah dilakukan penegakan diagnosis yang sesuai dengan panduan. KESIMPULAN Diagnosa neuropati auditori dapat ditegakkan dengan pemeriksaan Otoacoustic Emission (OAE) dengan hasil fungsi sel rambut luar koklea normal dan pada auditory brainstem respons (ABR/BERA) didapatkan Cochlear Microphonic (CM) normal atau pernah ada dalam satu waktu tetapi respons gelombang tidak normal atau tidak ada.

Page 1 of 1 | Total Record : 5