cover
Contact Name
Rangga Sururi
Contact Email
rekalingkungan@itenas.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
rekalingkungan@itenas.ac.id
Editorial Address
PHH. Street Mustapa 23 Bandung 40124
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Reka Lingkungan
ISSN : 23376228     EISSN : 27226077     DOI : https://doi.org/10.26760/rekalingkungan
Core Subject : Social,
Fokus keilmuan dari Jurnal Reka Lingkungan meliputi Teknologi dan Manajemen dari bidang Teknik dan Ilmu Lingkungan. Beberapa ruang lingkup dari Jurnal meliputi sebagai berikut, namun tidak terbatas pada lingkup dibawah ini: 1. Ekologi, 2. Kimia Lingkungan 3. Teknik Lingkungan 4. Ilmu Lingkungan 5. Kesehatan Lingkungan dan Toksikologi 6. Manajemen Lingkungan 7. Polusi lingkungan dan pembersihannya 8. Persampahan dan B3 9. Kualitas air dan pengolahan air minum dan air limbah 10. Mikrobiologi lingkungan 11. Pengelolaan sumber daya air 12 Polusi udara 13. Remediasi
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 1 (2022)" : 8 Documents clear
Pengembangan Model Pengelolaan Risiko Sistem Informasi Berbasis FMEA dan ISO 31000:2009 Sebagai Pendukung K3L di Laboratorium Agie Adhitya Gunawan; Christine Suryadi
Jurnal Reka Lingkungan Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v10i1.79-89

Abstract

AbstrakLaboratory Information Management Systems (LIMS) merupakan SI berbasis komputer yang bermanfaat bagi laboratorium dalam meningkatkan keamanan, produktifitas dan akurasi data, mengelola semua informasi yang berkaitan dengan kegiatan laboratorium serta memungkinkan laboratorium untuk menampilkan data serta laporan secara cepat. Penelitian dilakukan dengan cara merancang model pengelolaan risiko SI untuk menilai risiko-risiko yang berkaitan dengan pemanfaatan SI di Laboratorium Uji Kimia X dengan memanfaatkan kerangka kerja FMEA dan acuan ISO 31000. Penerapan model pada Laboratorium Uji Kimia X berhasil mengidentifikasi enam belas risiko SI. Sementara hasil penilaian dan analisis risiko-risiko SI tersebut menyatakan bahwa terdapat dua risiko yang termasuk kedalam kategori kritis dengan nilai Risk Priority Number (RPN) secara berurutan yaitu 75 dan 100. Sistem ini dapat diterapkan untuk mendeteksi bahaya dan risiko di laboratorium lingkungan.Kata kunci: FMEA, ISO 31000, LIMS, risiko SI, environmental laboratory.AbstractLaboratory Information Management Systems (LIMS) is a computerized IS used by laboratory to increase safety, data productivity and accuracy, manage information related to laboratory activities and allow laboratory to display data and reports faster. The research was conducted by creating IS risk management model using FMEA framework and ISO 31000 standard to assess risks related to IS implementation in Chemical Testing Laboratory X. The result of model testing in case study Chemical Testing Laboratory X manage to identify 16 IS risks threatening IS assets. Analysis of these risk produce two risks that fall in critical category. UTP cable damage and data input errors. Risk Priority Number (RPN) value for each risks are 100, and 75, respectively. This system can be implemented to detect the risk of hazards that may occur in the environmental laboratory.Keywords: FMEA, ISO 31000, LIMS, IS risks, IS assets, environmental laboratory.
Pengaruh Konsentrasi NaCl terhadap Parameter Elastik Pasir Tersaturasi Muammar Qadafi; Usman Malik
Jurnal Reka Lingkungan Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v10i1.1-10

Abstract

AbstrakTelah dilakukan penelitian mengenai pengaruh konsentrasi larutan natrium klorinda (NaCl) yang disaturasikan pada sampel (core) pasir terhadap parameter elastik. Core dibuat dengan diameter 7,5 cm dan panjang 10 cm. Core dicetak dengan tekanan sebesar 5,8×104 N/m2. Core yang telah dicetak disaturasi dengan larutan NaCl yang divariasikan kosentrasinya dari 0 ppm hingga 360000 ppm (titik jenuh NaCl) selanjutnya dirambatkan gelombang seismik/elastik menggunakan Sonic Wave Analyzer (SOWAN), dari pengukuran ini akan diperoleh waktu tempuh gelombang (delay) pada sampel. Berdasarkan waktu tempuh, kecepatan gelombang primer dan sekunder pada Core diketahui. Hasil yang diperoleh berupa parameter elastisik dari Core seperti modulus Young, Modulus Bulk, Modulus Geser dan Konstanta Lame. Modulus Young Core berkisar antara 7,8×107Pa-1,8×109Pa, modulus Bulk sebesar 1,8×107Pa-8,9×108Pa, modulus geser antara 5,1×107Pa-7,6×108Pa dan Konstanta Lame berkisar antara 1,8×108Pa-3,4×109Pa. AbstractResearch has been carried out on the effect of saturated sodium chloride (NaCl) solution concentration in sand samples (cores) on elastic parameters. This research was conducted to determine the differences in the elastic core parameters according to the concentration of NaCl that saturates them. The cores are made with a diameter of 7.5 cm and a length of 10 cm. The cores are molded at a pressure of 5,8×104 N/m2. The cores that have been printed are saturated with NaCl solution with varying concentrations from 0 ppm to 360000 ppm (saturation point of NaCl) then propagated seismic/elastic waves using a Sonic Wave Analyzer (SOWAN), from this measurement the wave travel time (delay) will be obtained in the sample. Based on the travel time, the primary and secondary wave velocities at the Core are known. The core elastic parameters was obtained such as Young's modulus, Bulk modulus, Shear modulus and Lame's constant. Young Core modulus ranges from 7,8×107Pa-1,8×109Pa, Bulk modulus of 1,8×107Pa-8,9×108Pa, shear modulus between 5,1×107Pa-7,6×108Pa and Lame Constant ranges between 1,8×108Pa-3,4×109Pa.
Pemilihan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik di DAS Cisangkan Eka Wardhani; Rosmeiliyana Rosmeiliyana
Jurnal Reka Lingkungan Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v10i1.67-78

Abstract

AbstrakKota Cimahi merupakan wilayah penyumbang beban pencemaran yang besar terhadap Sungai Citarum. Terdapat 5 sungai di Kota Cimahi yang terindikasi tercemar berat diantaranya adalah Sungai Cisangkan. DAS Cisangkan ditempati oleh penduduk dengan kepadatan tinggi dan belum dilengkapi dengan sistem pengelolaan air limbah domestik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi pengendalian pencemaran air yang sesuai untuk Sungai Cisangkan. Pengendalian difokuskan kepada air limbah domestik sesuai dengan PerMenPUPR No. 4 Tahun 2017. Hasil penelitian menyebutkan bahwa mutu air Sungai Cisangkan masuk katagori cemar berat dengan parameter yang tidak memenuhi bakumutu diantaranya BOD, COD, TSS, Fecal coli dan Total Coli.  DAS Cisangkan meliputi 10 kelurahan, berdasarkan hasil penapisan 7 diantaranya akan menerapkan sistem terpusat dan 3 kelurahan menerapkan sistem setempat. Pengelolaan secara terpusat akan menggunakan perpipaan yang akan menyalurkan ke instalasi pengolahan air limbah. Sistem setempat direncanakan dengan menggunakan tangki septik biofilter berkapasitas 200 kepala keluarga per unit.Kata kunci: Sungai Cisangkan, limbah, domestik, pengelolaanAbstractCimahi City is an area that contributes a large pollution load to the Citarum River. There are five rivers in Cimahi City that are indicated to be heavily polluted, including the Cisangkan River. The Cisangkan watershed is occupied by a high- density population and is not equipped with a domestic wastewater management system. This study aims to determine the appropriate water pollution control strategy for the Cisangkan River. Control is focused on domestic wastewater in accordance with the regulation of the Minister of Public Works and Public Housing No. 4/2017. The results stated that the quality of Cisangkan River water was categorized as heavily polluted with parameters that did not meet the quality standards, including BOD, COD, TSS, Fecal Coli and Total Coli. The Cisangkan watershed covers ten sub-districts; based on the results of the screening, 7 of them will implement a centralized system, and three villages will apply the local system. Centralized management will use piping that will supply the wastewater treatment plant. The local system is planned using a biofilter septic tank with a capacity of 200 households per unit.Keywords: Cisangkan River, domestic, wastewater, management
Desain Enclosure Akustik Sebagai Mitigasi Polusi Kebisingan di Pembangkit Listrik Mikrohidro Dago Bengkok Bandung Seprijal Berliansyah; Didin Agustian Permadi
Jurnal Reka Lingkungan Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v10i1.57-66

Abstract

AbstrakKebisingan industri merupakan gangguan suara yang diakibatkan terutama berasal dari operasional mesin, gangguan ini dapat mengganggu kesehatan dan performansi pekerja industri tersebut. Dari hasil pengukuran lapangan didapatkan nilai tingkat kebising 8 jam di ruang turbin-generator sebesar 92-99 dBA.. Dari perencanaan yang dilakukan untuk desain enclosure didapatkan spesifikasi enclosure yaitu menggunakan material plywood dengan ukuran 16 m x 7 m x 2,5 m, diberi dua buah pintu akses ukuran 2 m x 1 m menggunakan material plywood, didapatkan efektifitas penurunan tingkat kebisingan sebesar 38,07 dBA, sehingga didapatkan penurunan tingkat kebisingan setelah penggunaan enclosure di area turbin-generator menjadi 54-56 dBA. Total anggaran biaya yang dibutuhkan untuk membangun enclosure sebesar Rp 135.721.378,00.Kata kunci : kebisingan; enclosure; turbin-generator AbstractIndustrial noise is a sound disturbance that is caused mainly from machine operations, this disturbance can interfere with the health and performance of the industrial workers. From the results of field measurements, the 8 hours noise level in the turbine-generator room is 92-99 dBA. By applying the source-medium-receiver concept approach, it is known that one of the most effective techniques for controlling noise is by using an acoustic enclosure. From the planning carried out for the enclosure design, specifications are obtained, namely using plywood material with a size of 16 m x 7 m x 2.5 m, the effectiveness of reducing noise levels is 38.07 dBA, resulting in a reduction in noise levels after using the enclosure in the turbine-generator area becomes 54-56 dBA. The total budget needed to build the enclosure is IDR 135,721,378Keywords : noise; enclosure; turbine-generator
Evaluasi dan Optimalisasi Instalasi Pengolahan Lindi di TPK Sarimukti Putri Safria; Arief Perdana
Jurnal Reka Lingkungan Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v10i1.11-22

Abstract

AbstrakInstalasi Pengolahan Lindi TPK Sarimutki terdiri dari Kolam Stabilisasi - Bak Pengumpul - Kolam Anaerobic Buffle Reactor (ABR) - Kolam Aerobik, Kolam Sedimentasi dan Land Treatment. Skema bangunan pengolah tersebut belum menunjukkan hasil yang optimal, dilihat dari kualitas lindi dan kuantitas yang sangat fluktuatif. Penelitian dilakukan dengan cara mengevaluasi kondisi eksisting kemudian membandingkan dengan peraturan dan standar baku mutu yang ada. Hasil evaluasi menunjukkan seluruh unit pengolahan memiliki permasalahannya masing-masing baik dari segi kualitas maupun kuantitas sehingga mempengaruhi kinerja IPL secara keseluruhan, oleh karena itu IPL TPK Sarimukti perlu melakukan optimalisasi/redesain pada setiap unit pengolahannya. Rencana optimalisasi IPL TPK Sarimukti secara berurutan terdiri atas Kolam Stabilisasi – Bak Kontrol 1 – Reaktor AOP – Bak Kontrol 2 – Kolam ABR – Kolam Aerobik 1 – Kolam Aerobik 2 – Kolam Sedimentasi – Reaktor Filtrasi – Bak Effluen – Badan air yang berupa sungai.Kata kunci: Lindi, IPL, Evaluasi, OptimalisasiAbstractThe Sarimutki Leachate Treatment Plant consists of a Stabilization Pond - Collecting Tub - Anaerobic Buffle Reactor (ABR) Pond - Aerobic Pond, Sedimentation Pond and Land Treatment. The processing building scheme has not shown optimal results, seen from the quality and quantity of leachate and which  very fluktuatif. The research was conducted by evaluating the existing conditions and then comparing them with the existing regulations and quality standards. The results of the evaluation show that all processing units have their respective problems in terms of both quality and quantity which affect the overall performance of the IPL, therefore the IPL TPK Sarimukti needs to optimize / redesign each processing unit. The IPL optimization plan of the Sarimukti TPK sequentially consists of a stabilization pond - control basin 1 - AOP reactor - control basin 2 - ABR pool - Aerobic pool 1 - Aerobic pond 2 - Sedimentation pond - Filtration reactor - Effluent basin - Water bodies in the form of rivers.Keywords: Leachate, Lachate Treatmet Plant, Evaluation, Optimization
Analisis Sistem Tanggap Darurat Tumpahan B3 Studi Kasus di Perusahaan Manufaktur Mochamad Ulwan Pasha; Juli Soemirat; M Candra Nugraha Deni
Jurnal Reka Lingkungan Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v10i1.23-34

Abstract

AbstrakIndustri semakin banyak menggunakan material dan proses yang tergolong berbahaya  yang dikelompokan sebagai bahan berbahaya dan beracun (B3). Setiap proses produksi memiliki risiko terjadinya kecelakaan kerja yang diakibatkan oleh B3 hingga mengakibatkan keadaan darurat yang dapat merugikan secara kesehatan, material, dan finansial. PT X merupakan perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur, dengan terdapat 5 proses produksi diantara nya: gudang penyimpanan barang produksi, konstruksi, nailing, assembling, dan finishing. Dalam tahap tersebut terdapat B3 seperti nikel, chromium, asam sulfat, dan solar yang digunakan. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi sistem tanggap darurat tumpahan B3 pada PT X, yang terdiri dari manajemen tanggap darurat, sarana dan prasarana tanggap darurat, dan pengelolaan B3 itu sendiri. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan kondisi eksisting dengan peraturan diantaranya PermenLHK 74/2019, PermenLH 03/2008, dan beberapa National fire protection association (NFPA). Hasil evaluasi menunjukan nilai penerapan sistem tanggap darurat B3 di PT X sebesar 49,82% dikarenakan terdapat beberapa komponen yang belum tersedia dan beberapa komponen yang tidak sesuai standar. Oleh karena itu diperlukan suatu sistem tanggap darurat tumpahan B3 berupa rencana pengelolaan kedaruratan (RPK), mulai dari merencanakan tindakan pencegahan tumpahan, tindakan pada saat terjadi tumpahan, hingga pada pemulihan pasca tumpahan B3. Kata kunci: Industri, B3, Sistem Tanggap Darurat, rencana pengelolaan kedaruratanAbstractHazardous chemicals are  substances that are classified known as hazardous substances. Production processes using such substances may carry a risk of work accidents caused by them resulting in emergencies that can be detrimental to health, and cause material, and financial losses. PT X is a manufacturing company, with 5 production processes i.e: warehouse storage of production, construction, nailing, assembling, and finishing, where hazardous materials such as nickel, chromium, sulfuric acid, and diesel are being used. Evaluation of hazardous materials spill emergency response system at PT X consisting of emergency response management, facilities and infrastructure, and proper management were conducted by comparing existing conditions with regulations including PermenLHK 74/2019, PermenLH 03/2008, and several National fire protection associations. The results showed that the implementation of these hazardous materials emergency response system at PT X only comply for 49.82% due to lack of some components and some were not in accordance with the exisiting standards. Hence the need for a comprehensive hazardous materials emergency response system in the form of an emergency management plan, starting from planning spill prevention measures, taking action in the event of a spillage to post hazardous materials spill recovery.Keywords: Industry, Hazardous Materials, Emergency Response, Emergency Management Plan
Pengendalian Sanitasi Makanan dengan Metode HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah Muhammad Irfan Agung Laksana
Jurnal Reka Lingkungan Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v10i1.47-56

Abstract

ABSTRAK Penyelenggaraan ibadah haji merupakan tugas negara. Pemerintah memiliki tanggung jawab dalam menjaga kondisi kesehatan jemaah, terutama keamanan pangan yang disediakan pihak katering. Penelitian ini bertujuan untuk menggunakan metode HACCP dalam pengendalian sanitasi makanan. Lokasi penelitian berada di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah dam menggunakan data sekunder berupa indikator Coliform dan zat kimia pestisida, sianida, formalin, boraks, dan Rhodamin B. Critical Control Point (CCP) didapatkan pada 5 (lima) tahapan proses, yaitu pencucian peralatan masak dan makan, penyajian masakan, penerimaan pastel, kesehatan dan pendidikan higiene pekerja, dan penyiapan jus jambu. Dapat direkomendasikan perlunya tim HACCP yang bertanggungjawab atas sistem HACCP, tersedianya air yang memenuhi syarat kesehatan, disinfeksi peralatan masak dan makan, sertifikasi pekerja serta pendidikan higiene untuk semua manajemen dan pekerja. Kata kunci : Asrama haji, sanitasi makanan, HACCP, Critical Control Point ABSTRACTOrganizing pilgrimage is a state duty. The government has the responsibility to protect their health condition, especially the food safety provided by the caterer. The purpose of this study was to apply HACCP method in food sanitation. This research was conducted in the Donohudan Hajj Boarding House, Boyolali, Central Java and using secondary data consisted of Coliform indicator bacteria, pesticides, formalin, borax, cyanide, and rhodamine B. CCP (Critical Control Point) were obtained at 5 (five) stages of the process, namely washing of cooking and eating utensils, serving foods, receiving pastels, health and hygiene education for workers, and preparing guava juice. It can be recommended that there is a need for a HACCP team responsible for the HACCP system. It is also recommended to provide a safe drinking water supply, disinfection of all cooking and eating utensils, health certification of workers, and food sanitation education for all.  Keywords: Hajj boarding house, food sanitation, HACCP, Critical Control Point
Studi Pemanfaatan Limbah Bottom ASH sebagai Adsorben Zat Warna pada Industri Tekstil (Studi Kasus PT. TCI Kabupaten Bandung) Nur Rezky Arifatunnisa; Prismita Nursetyowati; Dyah Marganingrum
Jurnal Reka Lingkungan Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v10i1.35-46

Abstract

ABSTRAKPT. TCI  merupakan industri tekstil yang mengolah benang hingga menjadi kain. Limbah yang dihasilkan dari Indutri tekstil berupa bottom ash dan limbah cair dapat bersifat mutagenik dan karsinogenik apabila dibiarkan terlalu lama di lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan kapasitas adsorpsi bottom ash yang telah disintesis untuk mengadsorpsi zat warna yang terkandung dalam limbah cair industri tekstil PT. TCI. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode adsorpsi. Aktivasi bottom ash dilakukan dengan pemanasan pada suhu 500C dan 1000C selama 1 jam. Dalam penelitian ini dilakukan variasi terhadap pH (2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9) dan waktu kontak (15, 30, 45, 60, 90, 120, 150, 180 menit) dengan limbah zat warna sebanyak 150 mL. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sintesis bottom ash dapat digunakan sebagai adsorben untuk menurunkan kadar zat warna pada limbah cair dengan pH dan waktu kontak optimum pada pembakaran 500C dan 1000C masing-masing pH 5 pada menit ke 90 dan pH 6 pada menit ke 180. Proses adsorpsi ini mengikuti jenis isotherm Freundlich dengan presentase adsorpsi optimum 31,804%.Kata Kunci : Adsorpsi, bottom ash, industri tekstil, zat warna. ABSTRACTPT. TCI is a textile industry that processes yarn into fabrics. The waste produced from the textile industry such as bottom ash and dyes wastewater can be mutagenic and carsinogenic if its too long in the environment. This study aims to determine the characterization and adsorption capacity of activated bottom ash to adsorb the liquid waste from PT. TCI. The method of this study is adsorption. The bottom ash activation was done by hydrothermal method at 500C and 1000C for 1 hour respectively. In the adsorption process, variation of pH (2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9) and contact time (15, 30, 45, 60, 90, 120, 150, 180 minutes) was done with 150 mL of dyes wastewater. The result of this study showed that syhnthesized bottom ash can be used as an adsorbent to reduce the dyes on the wastewater. The optimum pH and contact time at the combustion of 500C and 1000C were pH 5 at 90 minutes and pH 6 at 180 minutes respectively. The adsorption followed the Freundlich isotherm process type with the optimum adsorption percentage of 31,804%.Keynote : Adsorption, bottom ash, dyes wastewater, textile industry.

Page 1 of 1 | Total Record : 8