cover
Contact Name
Rangga Sururi
Contact Email
rekalingkungan@itenas.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
rekalingkungan@itenas.ac.id
Editorial Address
PHH. Street Mustapa 23 Bandung 40124
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Reka Lingkungan
ISSN : 23376228     EISSN : 27226077     DOI : https://doi.org/10.26760/rekalingkungan
Core Subject : Social,
Fokus keilmuan dari Jurnal Reka Lingkungan meliputi Teknologi dan Manajemen dari bidang Teknik dan Ilmu Lingkungan. Beberapa ruang lingkup dari Jurnal meliputi sebagai berikut, namun tidak terbatas pada lingkup dibawah ini: 1. Ekologi, 2. Kimia Lingkungan 3. Teknik Lingkungan 4. Ilmu Lingkungan 5. Kesehatan Lingkungan dan Toksikologi 6. Manajemen Lingkungan 7. Polusi lingkungan dan pembersihannya 8. Persampahan dan B3 9. Kualitas air dan pengolahan air minum dan air limbah 10. Mikrobiologi lingkungan 11. Pengelolaan sumber daya air 12 Polusi udara 13. Remediasi
Articles 18 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2021)" : 18 Documents clear
Penyusunan Indeks Tingkat Pelayanan Sistem Pengelolaan Sampah Kota RUMAKAT, ABDUL ASIS; JUWANA, IWAN; AINUN, SITI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (678.937 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i1.23-33

Abstract

AbstrakData PD. Kebersihan Kota Bandung, menunjukkan persentase tingkat pelayanan sampah pada tahun 2017 sebesar 98,14%. Namun pada kenyataannya, masih banyak ditemukan tumpukan sampah di beberapa tempat yang bukan peruntukannya, hal ini menunjukkan angka tersebut belum dapat mewakili pelayanan sampah secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun indeks yang digunakan untuk menilai kinerja pelayanan sampah kota. Indeks ini disusun dengan cara mengidentifikasi komponen, indikator dan sub-indikator, menentukan kriteria penilaian, melakukan pembobotan, melakukan penggabungan serta menyusun interpretasi indeks. Terdapat 5 komponen, 26 indikator dan 21 sub-indikator yang teridentifikasi. Pembobotan dilakukan dengan pemberian nilai berbeda pada komponen, indikator dan sub-indikator dengan metode aritmatik. Interpretasi indeks dibuat kedalam 5 kategori dengan skala 0-100. Dari hasil penyusunan indeks ini, selanjutnya akan digunakan untuk menilai tingkat pelayanan persampahan di Kota Bandung.Kata kunci : tingkat pelayanan, komponen, indikator, sub-indikator. AbstractAccording to the data from PD Kebersihan Kota Bandung, in 2017 the percentage of the performance level of solid waste is 98.14%. However, it is visible that a large amount of solid waste dumped directly to the environment. This indicates that the existing service level performance value is unable to represent the overall solid waste service. Thus, this study aims to develop a solid waste service level index. This study was undertaken by selecting components, indicators and sub-indicators, determining the weights for the components, indicators and sub-indicators, as well as defining the aggregation and interpretation of the final index. Thorough this study, 5 components, 26 indicators and 21 sub-indicators were identified. The chosen weights for the index was the different weighting. Aggregation index using arithmetic method with the interpretation of the final index will be based on 5 categories of 0-100 scale. Keywords : service level, component, indicator, sub-indicator.  
Penyusunan Indeks Tingkat Pelayanan Sistem Pengelolaan Sampah Kota RUMAKAT, ABDUL ASIS; JUWANA, IWAN; AINUN, SITI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (678.937 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i1.23-33

Abstract

AbstrakData PD. Kebersihan Kota Bandung, menunjukkan persentase tingkat pelayanan sampah pada tahun 2017 sebesar 98,14%. Namun pada kenyataannya, masih banyak ditemukan tumpukan sampah di beberapa tempat yang bukan peruntukannya, hal ini menunjukkan angka tersebut belum dapat mewakili pelayanan sampah secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun indeks yang digunakan untuk menilai kinerja pelayanan sampah kota. Indeks ini disusun dengan cara mengidentifikasi komponen, indikator dan sub-indikator, menentukan kriteria penilaian, melakukan pembobotan, melakukan penggabungan serta menyusun interpretasi indeks. Terdapat 5 komponen, 26 indikator dan 21 sub-indikator yang teridentifikasi. Pembobotan dilakukan dengan pemberian nilai berbeda pada komponen, indikator dan sub-indikator dengan metode aritmatik. Interpretasi indeks dibuat kedalam 5 kategori dengan skala 0-100. Dari hasil penyusunan indeks ini, selanjutnya akan digunakan untuk menilai tingkat pelayanan persampahan di Kota Bandung.Kata kunci : tingkat pelayanan, komponen, indikator, sub-indikator. AbstractAccording to the data from PD Kebersihan Kota Bandung, in 2017 the percentage of the performance level of solid waste is 98.14%. However, it is visible that a large amount of solid waste dumped directly to the environment. This indicates that the existing service level performance value is unable to represent the overall solid waste service. Thus, this study aims to develop a solid waste service level index. This study was undertaken by selecting components, indicators and sub-indicators, determining the weights for the components, indicators and sub-indicators, as well as defining the aggregation and interpretation of the final index. Thorough this study, 5 components, 26 indicators and 21 sub-indicators were identified. The chosen weights for the index was the different weighting. Aggregation index using arithmetic method with the interpretation of the final index will be based on 5 categories of 0-100 scale. Keywords : service level, component, indicator, sub-indicator.  
Studi Komparasi Komposter Berbasis Masyarakat HASNA, NATASYA; JUWANA, IWAN; SATORI, MOHAMAD
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.57 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i1.34-44

Abstract

AbstrakSampah organik merupakan sampah dominan di  Bank sampah Sahdu, maka perlu pengolahan untuk mengurangi timbulan sampah organik di TPA. Penelitian ini membandingkan 3 jenis komposter aerob di Bank sampah Sahdu yaitu bata terawang, drum dan takakura. Jenis sampah yang digunakan adalah sampah organik campuran (sisa makanan dan sampah halaman). Kapasitas komposter bata terawang, drum dan takakura dapat menampung sampah per harinya dari 456, 210 dan 20 sumber. Kinerja komposter bata terawang, drum dan takakura dalam mengolah sampah organik menjadi kompos adalah 53,45%, 48,27% dan 56,01%. Kualitas kompos yang dihasilkan seluruh komposter memenuhi baku mutu, kecuali parameter pH kompos dari hasil komposter drum tidak memenuhi baku mutu. Kata kunci: sampah organik, bank sampah, komposter aerobik.Abstract Organic waste is the most dominant waste produced, thus the reduction of this type of waste will reduce waste entering the landfill. This research aims were to compare the performance of 3 types of aerobic composters in Waste bank Sahdu which are brick overlay, drum and takakura. The wastes used in this research is mixed organic waste (food waste and yard waste). The capacity of brick overlay, drum and takakura are able to treat waste per day from 456, 210 and 20 households respectively. As related to their performance, the bric overlay, drum and takakura are able to treat 53,45%, 48,27% and 56,01% of organic waste into compost, respectively. The compost quality that produced by all composter has met the standard quality, except pH parameters from the composter drum. Keyword: organic waste, waste bank, aerobic composter. 
Studi Komparasi Komposter Berbasis Masyarakat HASNA, NATASYA; JUWANA, IWAN; SATORI, MOHAMAD
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.57 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i1.34-44

Abstract

AbstrakSampah organik merupakan sampah dominan di  Bank sampah Sahdu, maka perlu pengolahan untuk mengurangi timbulan sampah organik di TPA. Penelitian ini membandingkan 3 jenis komposter aerob di Bank sampah Sahdu yaitu bata terawang, drum dan takakura. Jenis sampah yang digunakan adalah sampah organik campuran (sisa makanan dan sampah halaman). Kapasitas komposter bata terawang, drum dan takakura dapat menampung sampah per harinya dari 456, 210 dan 20 sumber. Kinerja komposter bata terawang, drum dan takakura dalam mengolah sampah organik menjadi kompos adalah 53,45%, 48,27% dan 56,01%. Kualitas kompos yang dihasilkan seluruh komposter memenuhi baku mutu, kecuali parameter pH kompos dari hasil komposter drum tidak memenuhi baku mutu. Kata kunci: sampah organik, bank sampah, komposter aerobik.Abstract Organic waste is the most dominant waste produced, thus the reduction of this type of waste will reduce waste entering the landfill. This research aims were to compare the performance of 3 types of aerobic composters in Waste bank Sahdu which are brick overlay, drum and takakura. The wastes used in this research is mixed organic waste (food waste and yard waste). The capacity of brick overlay, drum and takakura are able to treat waste per day from 456, 210 and 20 households respectively. As related to their performance, the bric overlay, drum and takakura are able to treat 53,45%, 48,27% and 56,01% of organic waste into compost, respectively. The compost quality that produced by all composter has met the standard quality, except pH parameters from the composter drum. Keyword: organic waste, waste bank, aerobic composter. 
Penentuan Daerah Prioritas di Wilayah Pelayanan Bandung Utara Berdasarkan Parameter Fungsi dan Nilai Daerah SEPTIANI, PEPIN; AINUN, SITI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (652.396 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i1.58-70

Abstract

AbstrakWilayah Pelayanan (WP) Bandung Utara merupakan salah satu wilayah pelayanan sampah di Kota Bandung yang terdiri dari 7 kecamatan dan 31 kelurahan dengan karakteristik yang beragam. Tujuan studi ini menentukan daerah prioritas di WP Bandung Utara berdasarkan parameter fungsi dan nilai daerah pada SNI 19-2454-2002. Studi dilakukan dengan menentukan kriteria penilaian, identifikasi sumber dan jenis data yang tersedia, dan penentuan data yang digunakan, menyusun penilaian penentuan daerah prioritas dengan pembuatan standar kelas penilaian dan skoring, pembobotan nilai akhir dan pembuatan peta daerah prioritas. Daerah prioritas 1 yaitu Kelurahan Pasteur, Sukagalih, Citarum dan Tamansari. Daerah prioritas 2 yaitu Kelurahan Lebak Gede, Sadang Serang, Sekeloa, Gegerkalong, Sarijadi, Sukabungah, Cihaurgeulis, Sukaluyu, Cikutra dan Cihapit, daerah prioritas 3 yaitu Kelurahan Ciumbuleuit, Hegarmanah, Ledeng, Cipaganti, Dago, Lebak Siliwangi, Isola, Sukarasa, Cipedes, Sukawarna, Cigadung, Neglasari, Cicadas Padasuka, Pasirlayung, Sukamaju, dan Sukapada.Kata kunci: Wilayah pelayanan , Fungsi dan nilai daerahAbstractService Area North Bandung is one of the areas of waste management services in Bandung, which consists of 7 districts and includes 31 villages with various characteristics. The purpose of this study was to determine priority areas in North Bandung WP by parameter function and values based on SNI 19-2454-2002. The study was done by determination of the assessment criteria, identification of sources and types of data available, and the determination of the data used, then make assessment determining the priority areas to manufacture class standards of assessment and scoring, weighting the value of the final and mapping areas of priority. The priority area 1 of waste management services were the Village Pasteur, Sukagalih, Citarum and Tamansari. The priority area 2 comprised the Village Lebak Gede, Sadang Serang, Sekeloa, Gegerkalong, Sarijadi, Sukabungah, Cihaurgeulis, Sukaluyu, Cikutra and Cihapit. The priority area 3 consisted of the Village Ciumbuleuit, Hegarmanah, Ledeng, Cipaganti, Dago, Lebak Siliwangi, Isola, Sukarasa, Cipedes, Sukawarna, Cigadung, Neglasari, Cicadas Padasuka, Pasirlayung, Sukamaju, and Sukapada.Keywords: The area of services, functions and value of the area 
Penentuan Daerah Prioritas di Wilayah Pelayanan Bandung Utara Berdasarkan Parameter Fungsi dan Nilai Daerah SEPTIANI, PEPIN; AINUN, SITI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (652.396 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i1.58-70

Abstract

AbstrakWilayah Pelayanan (WP) Bandung Utara merupakan salah satu wilayah pelayanan sampah di Kota Bandung yang terdiri dari 7 kecamatan dan 31 kelurahan dengan karakteristik yang beragam. Tujuan studi ini menentukan daerah prioritas di WP Bandung Utara berdasarkan parameter fungsi dan nilai daerah pada SNI 19-2454-2002. Studi dilakukan dengan menentukan kriteria penilaian, identifikasi sumber dan jenis data yang tersedia, dan penentuan data yang digunakan, menyusun penilaian penentuan daerah prioritas dengan pembuatan standar kelas penilaian dan skoring, pembobotan nilai akhir dan pembuatan peta daerah prioritas. Daerah prioritas 1 yaitu Kelurahan Pasteur, Sukagalih, Citarum dan Tamansari. Daerah prioritas 2 yaitu Kelurahan Lebak Gede, Sadang Serang, Sekeloa, Gegerkalong, Sarijadi, Sukabungah, Cihaurgeulis, Sukaluyu, Cikutra dan Cihapit, daerah prioritas 3 yaitu Kelurahan Ciumbuleuit, Hegarmanah, Ledeng, Cipaganti, Dago, Lebak Siliwangi, Isola, Sukarasa, Cipedes, Sukawarna, Cigadung, Neglasari, Cicadas Padasuka, Pasirlayung, Sukamaju, dan Sukapada.Kata kunci: Wilayah pelayanan , Fungsi dan nilai daerahAbstractService Area North Bandung is one of the areas of waste management services in Bandung, which consists of 7 districts and includes 31 villages with various characteristics. The purpose of this study was to determine priority areas in North Bandung WP by parameter function and values based on SNI 19-2454-2002. The study was done by determination of the assessment criteria, identification of sources and types of data available, and the determination of the data used, then make assessment determining the priority areas to manufacture class standards of assessment and scoring, weighting the value of the final and mapping areas of priority. The priority area 1 of waste management services were the Village Pasteur, Sukagalih, Citarum and Tamansari. The priority area 2 comprised the Village Lebak Gede, Sadang Serang, Sekeloa, Gegerkalong, Sarijadi, Sukabungah, Cihaurgeulis, Sukaluyu, Cikutra and Cihapit. The priority area 3 consisted of the Village Ciumbuleuit, Hegarmanah, Ledeng, Cipaganti, Dago, Lebak Siliwangi, Isola, Sukarasa, Cipedes, Sukawarna, Cigadung, Neglasari, Cicadas Padasuka, Pasirlayung, Sukamaju, and Sukapada.Keywords: The area of services, functions and value of the area 
Optimasi Perolehan Bioetanol dari Kulit Nanas (Ananas cosmosus) dengan Penambahan Urea, Variasi Konsentrasi Inokulasi Starter dan Waktu Fermentasi FITRIA, NOVI; LINDASARI, EVA
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.668 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i1.1-10

Abstract

AbstrakBioetanol dapat dibuat dari bahan yang mengandung karbohidrat melalui proses fermentasi. Kulit nanas mengandung karbohidrat jenis fruktosa dan sukrosa dengan bantuan ragi karbohidrat tersebut akan diubah menjadi bioetanol melalui proses fermentasi. Pada penelitian ini, untuk memperoleh kadar bioetanol yang optimal dilakukan eksperimen yaitu dengan menambahkan urea sebanyak 5 gram dan variasi konsentrasi inokulasi starter 1%, 1,5%, 2% dan 2,5% dengan waktu fermentasi selama 24 jam, 48 jam, 72 jam dan 96 jam pada suhu 30oC melalui dua perlakuan yaitu melalui proses pemutaran dan tanpa melalui proses pemutaran. Hasil menunjukkan bahwa perolehan bioetanol yang optimum sebanyak 28,05% pada penambahan inokulasi starter 1,5% dengan waktu fermentasi 96 jam, pH 5 dan tanpa pemutaran. Limbah kulit nanas dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi yang ramah lingkungan berupa bioetanol.Kata kunci: bioetanol, inokulasi starter, fermentasi, limbah kulit nanas.AbstractBioethanol can be made from materials containing carbohydrates through the fermentation process. Pineapple skin contains fructose and sucrose type carbohydrates with the help of yeast carbohydrates will be converted into bioethanol through the fermentation process. In this study, to obtain optimal bioethanol levels, an experiment was carried out by adding 5 grams of urea and variations in the concentration of starter inoculations of 1%, 1.5%, 2% and 2.5% with fermentation time for 24 hours, 48 hours, 72 hours and 96 hours at a temperature of 30oC through two treatments, with and without shaking process. The results showed that the optimum bioethanol acquisition was 28.05% on the addition of 1.5% starter inoculation with 96 hours fermentation time, pH 5 and without shaking processKeywords: bioethanol, starter inoculation, fermentation, pineapple skin waste.
Optimasi Perolehan Bioetanol dari Kulit Nanas (Ananas cosmosus) dengan Penambahan Urea, Variasi Konsentrasi Inokulasi Starter dan Waktu Fermentasi FITRIA, NOVI; LINDASARI, EVA
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.668 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i1.1-10

Abstract

AbstrakBioetanol dapat dibuat dari bahan yang mengandung karbohidrat melalui proses fermentasi. Kulit nanas mengandung karbohidrat jenis fruktosa dan sukrosa dengan bantuan ragi karbohidrat tersebut akan diubah menjadi bioetanol melalui proses fermentasi. Pada penelitian ini, untuk memperoleh kadar bioetanol yang optimal dilakukan eksperimen yaitu dengan menambahkan urea sebanyak 5 gram dan variasi konsentrasi inokulasi starter 1%, 1,5%, 2% dan 2,5% dengan waktu fermentasi selama 24 jam, 48 jam, 72 jam dan 96 jam pada suhu 30oC melalui dua perlakuan yaitu melalui proses pemutaran dan tanpa melalui proses pemutaran. Hasil menunjukkan bahwa perolehan bioetanol yang optimum sebanyak 28,05% pada penambahan inokulasi starter 1,5% dengan waktu fermentasi 96 jam, pH 5 dan tanpa pemutaran. Limbah kulit nanas dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi yang ramah lingkungan berupa bioetanol.Kata kunci: bioetanol, inokulasi starter, fermentasi, limbah kulit nanas.AbstractBioethanol can be made from materials containing carbohydrates through the fermentation process. Pineapple skin contains fructose and sucrose type carbohydrates with the help of yeast carbohydrates will be converted into bioethanol through the fermentation process. In this study, to obtain optimal bioethanol levels, an experiment was carried out by adding 5 grams of urea and variations in the concentration of starter inoculations of 1%, 1.5%, 2% and 2.5% with fermentation time for 24 hours, 48 hours, 72 hours and 96 hours at a temperature of 30oC through two treatments, with and without shaking process. The results showed that the optimum bioethanol acquisition was 28.05% on the addition of 1.5% starter inoculation with 96 hours fermentation time, pH 5 and without shaking processKeywords: bioethanol, starter inoculation, fermentation, pineapple skin waste.
Pengaruh Variasi Glukosa dalam Pembuatan Selongsong Sosis dengan Proses Fermentasi Air Kelapa menggunakan Sistem Batch Reaktor YUHANIANSYAH, NISA; PRATAMA, YULIANTI; SALAFUDIN, SALAFUDIN
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (860.082 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i1.45-57

Abstract

AbstrakSalah satu faktor yang mempengaruhi proses pembentukan selulosa dalam proses fermentasi oleh A. xylinum adalah sumber karbon. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi glukosa yang optimum terhadap ketebalan selulosa berdasarkan variasi jenis pipa dan perlakuan pipa. Proses fermentasi menggunakan sistem batch reaktor skala laboratorium yang disuplai oksigen murni selama 16 hari fermentasi dengan nilai pH 4,30. Variasi jenis pipa yang digunakan pada penelitian adalah pipa PVC dan pipa PET dengan perlakuan digores dan tanpa digores. Variasi konsentrasi glukosa yang digunakan pada penelitian adalah 5%, 10%, 15%, 20% dan 25%. Hasil terbaik diperoleh pada penambahan konsentrasi glukosa sebesar 15% dan menggunakan pipa PVC dengan perlakuan digores karena menghasilkan selulosa dengan ketebalan 0,2 cm dengan nilai persentase penurunan COD 62,16%, BOD 72,62%, Kadar Glukosa 87,77%, pH 11,11% dan persentase peningkatan TPC 87,13%.Kata kunci: Acetobacter xylinum, BOD, Fermentasi, Reaktor Batch, TPC  Variasi GlukosaAbstractCellulose is a fermented product by the bacterium. Acetobacter xylinum from the degradation source contained in the coconut water substrate. One factor that influences the process of cellulose formation in the fermentation process by A. xylinum i is a carbon source. The purpose of this study is to determine the optimum glucose concentration on cellulose thickness based on variations of pipe types and pipe treatment. A laboratory-scale batch system reactor which is supplied with pure oxygen for 16 days of fermentation with a pH value of 4.30. Variations in the type of pipe used in the study are PVC pipes and PET pipes with scratched and without scratched treatment. Variations in glucose concentration used in the study were 5%, 10%, 15%, 20% and 25%. The best results were obtained by the thickness of 0.2 cm with a percentage of COD reduction of 62.16%, BOD 72.62%, Glucose Level 87.77%, pH 11.11% and 87.13% TPC increase percentage.Keywords: Acetobacter xylinum, BOD, Fermentation, Batch Reactor, TPC, Variation of Glucose
Pengaruh Variasi Glukosa dalam Pembuatan Selongsong Sosis dengan Proses Fermentasi Air Kelapa menggunakan Sistem Batch Reaktor YUHANIANSYAH, NISA; PRATAMA, YULIANTI; SALAFUDIN, SALAFUDIN
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (860.082 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i1.45-57

Abstract

AbstrakSalah satu faktor yang mempengaruhi proses pembentukan selulosa dalam proses fermentasi oleh A. xylinum adalah sumber karbon. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi glukosa yang optimum terhadap ketebalan selulosa berdasarkan variasi jenis pipa dan perlakuan pipa. Proses fermentasi menggunakan sistem batch reaktor skala laboratorium yang disuplai oksigen murni selama 16 hari fermentasi dengan nilai pH 4,30. Variasi jenis pipa yang digunakan pada penelitian adalah pipa PVC dan pipa PET dengan perlakuan digores dan tanpa digores. Variasi konsentrasi glukosa yang digunakan pada penelitian adalah 5%, 10%, 15%, 20% dan 25%. Hasil terbaik diperoleh pada penambahan konsentrasi glukosa sebesar 15% dan menggunakan pipa PVC dengan perlakuan digores karena menghasilkan selulosa dengan ketebalan 0,2 cm dengan nilai persentase penurunan COD 62,16%, BOD 72,62%, Kadar Glukosa 87,77%, pH 11,11% dan persentase peningkatan TPC 87,13%.Kata kunci: Acetobacter xylinum, BOD, Fermentasi, Reaktor Batch, TPC  Variasi GlukosaAbstractCellulose is a fermented product by the bacterium. Acetobacter xylinum from the degradation source contained in the coconut water substrate. One factor that influences the process of cellulose formation in the fermentation process by A. xylinum i is a carbon source. The purpose of this study is to determine the optimum glucose concentration on cellulose thickness based on variations of pipe types and pipe treatment. A laboratory-scale batch system reactor which is supplied with pure oxygen for 16 days of fermentation with a pH value of 4.30. Variations in the type of pipe used in the study are PVC pipes and PET pipes with scratched and without scratched treatment. Variations in glucose concentration used in the study were 5%, 10%, 15%, 20% and 25%. The best results were obtained by the thickness of 0.2 cm with a percentage of COD reduction of 62.16%, BOD 72.62%, Glucose Level 87.77%, pH 11.11% and 87.13% TPC increase percentage.Keywords: Acetobacter xylinum, BOD, Fermentation, Batch Reactor, TPC, Variation of Glucose

Page 1 of 2 | Total Record : 18