cover
Contact Name
Rangga Sururi
Contact Email
rekalingkungan@itenas.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
rekalingkungan@itenas.ac.id
Editorial Address
PHH. Street Mustapa 23 Bandung 40124
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Reka Lingkungan
ISSN : 23376228     EISSN : 27226077     DOI : https://doi.org/10.26760/rekalingkungan
Core Subject : Social,
Fokus keilmuan dari Jurnal Reka Lingkungan meliputi Teknologi dan Manajemen dari bidang Teknik dan Ilmu Lingkungan. Beberapa ruang lingkup dari Jurnal meliputi sebagai berikut, namun tidak terbatas pada lingkup dibawah ini: 1. Ekologi, 2. Kimia Lingkungan 3. Teknik Lingkungan 4. Ilmu Lingkungan 5. Kesehatan Lingkungan dan Toksikologi 6. Manajemen Lingkungan 7. Polusi lingkungan dan pembersihannya 8. Persampahan dan B3 9. Kualitas air dan pengolahan air minum dan air limbah 10. Mikrobiologi lingkungan 11. Pengelolaan sumber daya air 12 Polusi udara 13. Remediasi
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 2 (2021)" : 17 Documents clear
Inventarisasi Emisi Pencemar Kriteria dan Gas Rumah Kaca dari Sektor Transportasi On-Road di Kota Bandung menggunakan Model International Vehicle Emissions (IVE) DEWANTO, BILLY YOGA; DIRGAWATI, MILA; PERMADI, DIDIN AGUSTIAN
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.462 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i2.132-144

Abstract

AbstrakPerkembangan Kota Bandung berimplikasi terhadap pesatnya pertumbuhan aktivitas transportasi. Akibatnya, terjadi peningkatan emisi kendaraan bermotor secara kontinu. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi beban emisi pencemar kriteria dan gas rumah kaca dari sektor transportasi on-road di Kota Bandung, khususnya untuk truk. Estimasi beban emisi diperoleh dari hasil simulasi model IVE untuk menghasilkan faktor emisi lokal komposit disertai dengan pembaruan pada jumlah registrasi seluruh jenis kendaraan di Kota Bandung. Beban emisi total tahunan paling dominan yang dihasilkan dari aktivitas transportasi di Kota Bandung tahun 2019 yakni 5.286.612,81 ton/tahun (94,48%) CO2; 254.378,9 ton/tahun (4,55%) CO; dan 35.501,65 ton/tahun (0,63%) NOx dengan kontribusi terbesar berasal dari (98,9%) emisi running. Moda transportasi yang menyumbang proporsi emisi total terbesar berasal dari 43,4% mobil pribadi, 27,8% truk, 17,1% sepeda motor, dan 10,1% berasal dari bus.Kata kunci: Aktivitas Transportasi, Model International Vehicle Emissions (IVE), Beban EmisiAbstractThe development of Bandung city has affected the level of community mobilization needs, which has implications for the rapid growth of transportation activities. As a result, an increase in motor vehicle emissions continues to have an impact on decreasing air quality in Bandung city. This study aims to estimate emission load of criteria pollutant and greenhouse gases from the on-road transportation sector, especially for trucks. Emission load estimates are obtained from the results of the IVE model simulation to generate composite local emission factors accompanied by updates on current registration numbers of vehicles in Bandung city. The most dominant total annual emission load generated from all type of fleets in Bandung city in 2019 was 5,286,612.81 tons/year (94.48%) CO2; 254,378.9 tons/year (4.55%) CO; and 35,501.65 tons/year (0.63%) NOx, with the largest contribution coming from running emissions. Major transportation modes that accounted for the largest proportion of total emissions came from 43.4% of private cars, 27.8% of trucks, 17.1% of motorbikes and 10.1% of buses. Keywords: Transportation Activities, International Vehicle Emissions (IVE) Model, Emission Load
Penyusunan Alat Ukur Partisipasi Birokrat dalam Program Pengurangan Sampah di Kota Bandung LARASATY, AFIFAH TRI; SOEMIRAT, JULI; AINUN, SITI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.812 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i2.84-94

Abstract

AbstrakProgram pengurangan sampah diwujudkan dengan keterlibatan aktif masyarakat maupun pihak pengelola sampah. Dalam mewujudkan keberhasilan suatu program pengurangan sampah di dalam implementasinya juga melibatkan pihak birokrat yang seringkali berperan baik sebagai inisiator, penyelenggara, maupun pengawas program. Terkait hal tersebut, diperlukan adanya sebuah penelitian untuk mengukur tingkat partisipasi birokrat dalam program-program yang diselenggarakan dengan menggunakan teori Arnstein (A Ladder Of Citizen Participation).Teknik stratified sampling diterapkan untuk menentukan sampel. Penilaian dilakukan dengan skoring dan ranking. Hasil penelitian didapat sebuah alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat partisipasi birokrat dalam pengelolaan sampah, yaitu berupa daftar pertanyaan, yang terdiri dari 3 bagian, yaitu bagian identitas, umum, dan khusus. Alat ukur utama adalah di bagian khusus yang memiliki 13 pertanyaan yang sudah mencakup pertanyaan terkait tiga tahapan partisipasi, dengan parameter sarana dan prasarana, aturan, kerjasama, pendampingan, dana, serta monitoring dan evaluasi.Kata kunci : Birokrat, Partisipasi, Pengurangan sampahAbstractWaste reduction programs is realized with the active involvement of the community as well as waste management. A waste reduction program in its implementation will also involve bureaucrats who often acts as initiator, organizer, as well as program supervisor. It is therefore important to measure the level of participation of bureaucrats in waste reduction programs using the Arnstein theory (A Ladder Of Citizen Participation). Stratified sampling technique was used to determine the sample size. Assessment was done by scoring and ranking. The result a of this study is a measurement tool that can be used to measure the level of participation of bureaucrats in waste management, namely in the form of a questionnaire, which consists of three parts, namely the identity part, the general, and the special part, i.e., the part on participation. The main measuring tool was in the special section, which  has 13 questions related to the three stages of participation, including infrastructure parameters, rules/regulations, teamwork, mentoring, funding, monitoring , and evaluation.Keywords: Bureaucrats, Participation, Waste reduction
Penyusunan Alat Ukur Partisipasi Birokrat dalam Program Pengurangan Sampah di Kota Bandung LARASATY, AFIFAH TRI; SOEMIRAT, JULI; AINUN, SITI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.812 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i2.84-94

Abstract

AbstrakProgram pengurangan sampah diwujudkan dengan keterlibatan aktif masyarakat maupun pihak pengelola sampah. Dalam mewujudkan keberhasilan suatu program pengurangan sampah di dalam implementasinya juga melibatkan pihak birokrat yang seringkali berperan baik sebagai inisiator, penyelenggara, maupun pengawas program. Terkait hal tersebut, diperlukan adanya sebuah penelitian untuk mengukur tingkat partisipasi birokrat dalam program-program yang diselenggarakan dengan menggunakan teori Arnstein (A Ladder Of Citizen Participation).Teknik stratified sampling diterapkan untuk menentukan sampel. Penilaian dilakukan dengan skoring dan ranking. Hasil penelitian didapat sebuah alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat partisipasi birokrat dalam pengelolaan sampah, yaitu berupa daftar pertanyaan, yang terdiri dari 3 bagian, yaitu bagian identitas, umum, dan khusus. Alat ukur utama adalah di bagian khusus yang memiliki 13 pertanyaan yang sudah mencakup pertanyaan terkait tiga tahapan partisipasi, dengan parameter sarana dan prasarana, aturan, kerjasama, pendampingan, dana, serta monitoring dan evaluasi.Kata kunci : Birokrat, Partisipasi, Pengurangan sampahAbstractWaste reduction programs is realized with the active involvement of the community as well as waste management. A waste reduction program in its implementation will also involve bureaucrats who often acts as initiator, organizer, as well as program supervisor. It is therefore important to measure the level of participation of bureaucrats in waste reduction programs using the Arnstein theory (A Ladder Of Citizen Participation). Stratified sampling technique was used to determine the sample size. Assessment was done by scoring and ranking. The result a of this study is a measurement tool that can be used to measure the level of participation of bureaucrats in waste management, namely in the form of a questionnaire, which consists of three parts, namely the identity part, the general, and the special part, i.e., the part on participation. The main measuring tool was in the special section, which  has 13 questions related to the three stages of participation, including infrastructure parameters, rules/regulations, teamwork, mentoring, funding, monitoring , and evaluation.Keywords: Bureaucrats, Participation, Waste reduction
Perencanaan Sistem Plambing Air Bersih Gedung Dinas Lingkungan Hidup Propinsi Jawa Barat. M GANI, MUHD SHABRI; PRABOWO, ANINDITO NUR; APRIYANTI S, LINA
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.776 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i2.95-106

Abstract

AbstrakSistem Pemerintahan yang semakin berkembang mengakibatkan gedung Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Propinsi Jawa Barat saat ini mempunyai kapasitas dan fasilitas yang belum memadai untuk melaksanakan semua aktivitas secara terpadu. Sehingga diperlukannya tambahan sarana penunjang yaitu  area untuk pendukung aktivitas kerja maka, pemerintah propinsi merencanakan untuk mengembangkan gedung perkantoran DLH Propinsi Jawa. Kegiatan sanitasi dalam gedung harus ditunjang dengan pemenuhan akan kebutuhan air bersih bagi semua penghuni, maka dari itu dibutuhkan perencanaan sistem plambing air bersih. Metode yang menjadi acuan adalah SNI 7065-2005, untuk perhitungan kebutuhan air bersih dan SNI 8153-2015 untuk penentuan dimensi pipa air bersih. Hasil perhitungan jumlah populasi menunjukan 654 jiwa. Total kebutuhan air bersih : 38,1 m³/hari, Kapasitas tangki bawah : 45,72 m³, kapasitas tangki atas : 15,29 m³. Berdasarkan hasil perencanaan dimensi pipa horizontal air bersih berkisar antara rentang 15 - 32 mm, dimensi pipa vertikal 40 mm, pompa yang dipasang adalah pompa sentrifugal dengan daya : 1,02 kW. Pompa booster dipasang untuk membantu tekanan di lantai 6 karena tidak memenuhi tekanan standar. Pipa yang digunakan untuk distribusi air bersih adalah jenis pipa PPR (Polypropylene Random).Kata kunci: Air Bersih, Alat Plambing Dan pipa PPR AbstractA system of gevornment which keeps growing resulting in the office building of environmental dlh) the provinces of west java currently possess the capacity and to inadequate facilities in carrying out all the activity of in an integrated way. So that she needed addition support facilities for that is an area for work and supporting the activity of, the provincial government of planning to develop java topped dlh office buildings. Sanitation in the building activities must be supported with the fulfilment of not need clean water for all the inhabitants of the, that is why it is planning plambing system needed clear water. A method which is used to is 7065-2005 sni, to requetment calculation sni 8153-2015 clear water and clear water pipe for the determination of dimensions. The result of reckoning the size of the population show 654 soul. The total the need of clean water 38,1 m³ per day, the capacity of a tank under 45,72 m³, the capacity of a tank upon the request  from has set the inflation rate. Based on the results of planning dimensions horizontal. Pipa clear water ranges between ranges  Keywords: Water Supply And Plumbing Equipment.
Perencanaan Sistem Plambing Air Bersih Gedung Dinas Lingkungan Hidup Propinsi Jawa Barat. M GANI, MUHD SHABRI; PRABOWO, ANINDITO NUR; APRIYANTI S, LINA
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.776 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i2.95-106

Abstract

AbstrakSistem Pemerintahan yang semakin berkembang mengakibatkan gedung Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Propinsi Jawa Barat saat ini mempunyai kapasitas dan fasilitas yang belum memadai untuk melaksanakan semua aktivitas secara terpadu. Sehingga diperlukannya tambahan sarana penunjang yaitu  area untuk pendukung aktivitas kerja maka, pemerintah propinsi merencanakan untuk mengembangkan gedung perkantoran DLH Propinsi Jawa. Kegiatan sanitasi dalam gedung harus ditunjang dengan pemenuhan akan kebutuhan air bersih bagi semua penghuni, maka dari itu dibutuhkan perencanaan sistem plambing air bersih. Metode yang menjadi acuan adalah SNI 7065-2005, untuk perhitungan kebutuhan air bersih dan SNI 8153-2015 untuk penentuan dimensi pipa air bersih. Hasil perhitungan jumlah populasi menunjukan 654 jiwa. Total kebutuhan air bersih : 38,1 m³/hari, Kapasitas tangki bawah : 45,72 m³, kapasitas tangki atas : 15,29 m³. Berdasarkan hasil perencanaan dimensi pipa horizontal air bersih berkisar antara rentang 15 - 32 mm, dimensi pipa vertikal 40 mm, pompa yang dipasang adalah pompa sentrifugal dengan daya : 1,02 kW. Pompa booster dipasang untuk membantu tekanan di lantai 6 karena tidak memenuhi tekanan standar. Pipa yang digunakan untuk distribusi air bersih adalah jenis pipa PPR (Polypropylene Random).Kata kunci: Air Bersih, Alat Plambing Dan pipa PPR AbstractA system of gevornment which keeps growing resulting in the office building of environmental dlh) the provinces of west java currently possess the capacity and to inadequate facilities in carrying out all the activity of in an integrated way. So that she needed addition support facilities for that is an area for work and supporting the activity of, the provincial government of planning to develop java topped dlh office buildings. Sanitation in the building activities must be supported with the fulfilment of not need clean water for all the inhabitants of the, that is why it is planning plambing system needed clear water. A method which is used to is 7065-2005 sni, to requetment calculation sni 8153-2015 clear water and clear water pipe for the determination of dimensions. The result of reckoning the size of the population show 654 soul. The total the need of clean water 38,1 m³ per day, the capacity of a tank under 45,72 m³, the capacity of a tank upon the request  from has set the inflation rate. Based on the results of planning dimensions horizontal. Pipa clear water ranges between ranges  Keywords: Water Supply And Plumbing Equipment.
Perhitungan Beban Emisi Gas Buang SO2 dari Kendaraan Bermotor di Ruas Jalan Utama Kota Bandung menggunakan Pemodelan Terbalik OKTAVIAN, KIRANA; PERMADI, DIDIN AGUSTIAN; DIRGAWATI, MILA
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.346 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i2.107-118

Abstract

AbstrakKota Bandung sebagai kota dengan aktivitas transportasi yang tinggi menghasilkan emisi pencemar di udara, salah satunya adalah Sulfur Dioksida (SO2). Data pengukuran kualitas udara roadside rata-rata pertahun oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung (DLH Kota Bandung) bahwa trend peningkatan konsentrasi SO2 dari tahun 2017-2018 sebesar 46%. Meninjau dari dampak yang disebabkan terhadap kesehatan manusia maupun lingkungan, maka diperlukan suatu upaya pengendalian pencemaran udara, salah satunya adalah inventarisasi emisi (IE). Pelaksanaan IE di Indonesia masih terdapat kekurangan dalam segi teknis maupun non teknis. Data faktor emisi yang digunakan dalam perhitungan beban emisi belum spesifik terhadap kondisi lalu lintas di Kota Bandung. Selain itu, metode IE secara umum memerlukan banyak pengambilan data. Tujuan dari penelitian ini adalah perhitungan beban emisi dari sektor transportasi dengan menggunakan metode pemodelan terbalik. Metode ini memberikan informasi nilai estimasi faktor emisi melalui hasil pengukuran udara. CALINE4 merupakan salah satu model kualitas udara yang dapat diaplikasikan untuk konsep pemodelan terbalik. Kata kunci: Sulfur Dioksida, Model Terbalik, CALINE4, Faktor Emisi, Beban Emisi AbstractBandung City is a growing cities with intensive transportation activities which are expected to emit air pollutants such as Sulfur Dioxide (SO2). Based on data from the average annual roadside air quality measurement by DLH Kota Bandung that the trend of increasing SO2 concentrations from 2017-2018 is 46%. The necessary for controlling air pollution in Bandung City is needed, one of which is inventory of emissions (IE). Implementation of IE in Indonesia is still lacking in various aspects. Emission factor data that were used in the calculation of emission loads is not specific to the traffic conditions in Bandung. In addition, the IE method generally requires a lot of data retrievall. The purpose of this study is to calculate the emission load of SO2 from the transportation sector by using the inverse modeling method. This method provides information on the estimated value of emission factors through the results of air measurements. CALINE4 air quality models was used for the purpose.  Keywords: Sulfur Dioxide, Inverse Modelling, CALINE4, Emission Factor, Emission Load
Perhitungan Beban Emisi Gas Buang SO2 dari Kendaraan Bermotor di Ruas Jalan Utama Kota Bandung menggunakan Pemodelan Terbalik OKTAVIAN, KIRANA; PERMADI, DIDIN AGUSTIAN; DIRGAWATI, MILA
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.346 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i2.107-118

Abstract

AbstrakKota Bandung sebagai kota dengan aktivitas transportasi yang tinggi menghasilkan emisi pencemar di udara, salah satunya adalah Sulfur Dioksida (SO2). Data pengukuran kualitas udara roadside rata-rata pertahun oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung (DLH Kota Bandung) bahwa trend peningkatan konsentrasi SO2 dari tahun 2017-2018 sebesar 46%. Meninjau dari dampak yang disebabkan terhadap kesehatan manusia maupun lingkungan, maka diperlukan suatu upaya pengendalian pencemaran udara, salah satunya adalah inventarisasi emisi (IE). Pelaksanaan IE di Indonesia masih terdapat kekurangan dalam segi teknis maupun non teknis. Data faktor emisi yang digunakan dalam perhitungan beban emisi belum spesifik terhadap kondisi lalu lintas di Kota Bandung. Selain itu, metode IE secara umum memerlukan banyak pengambilan data. Tujuan dari penelitian ini adalah perhitungan beban emisi dari sektor transportasi dengan menggunakan metode pemodelan terbalik. Metode ini memberikan informasi nilai estimasi faktor emisi melalui hasil pengukuran udara. CALINE4 merupakan salah satu model kualitas udara yang dapat diaplikasikan untuk konsep pemodelan terbalik. Kata kunci: Sulfur Dioksida, Model Terbalik, CALINE4, Faktor Emisi, Beban Emisi AbstractBandung City is a growing cities with intensive transportation activities which are expected to emit air pollutants such as Sulfur Dioxide (SO2). Based on data from the average annual roadside air quality measurement by DLH Kota Bandung that the trend of increasing SO2 concentrations from 2017-2018 is 46%. The necessary for controlling air pollution in Bandung City is needed, one of which is inventory of emissions (IE). Implementation of IE in Indonesia is still lacking in various aspects. Emission factor data that were used in the calculation of emission loads is not specific to the traffic conditions in Bandung. In addition, the IE method generally requires a lot of data retrievall. The purpose of this study is to calculate the emission load of SO2 from the transportation sector by using the inverse modeling method. This method provides information on the estimated value of emission factors through the results of air measurements. CALINE4 air quality models was used for the purpose.  Keywords: Sulfur Dioxide, Inverse Modelling, CALINE4, Emission Factor, Emission Load
Pengembangan Penentuan Daerah Prioritas Terhadap Sistem Pengelolaan Sampah Berdasarkan SNI 19-2454-2002 (Studi Kasus: Wilayah Pelayanan Bandung Selatan) HAFIDZAH, YUNITA RACHMAH; AINUN, SITI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.58 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i2.119-131

Abstract

AbstrakWilayah pelayanan sampah Kota Bandung yang saat ini dilakukan berdasarkan zonasi, berdasarkan jarak terdekat dengan pengelolaan yang sama. Dibutuhkan pembentukan daerah prioritas untuk meminimalisir permasalahan sampah. Penentuan daerah prioritas akan dilakukan di wilayah pelayanan Bandung Selatan menurut metode SNI 19-2454-2002. Tujuan dari studi ini yaitu mengembangkan skala kepentingan daerah pelayanan yang disesuaikan dengan ketersediaan data. Hasil kajian menunjukkan, terdapat 1 dari 6 parameter yang dirubah yaitu parameter kondisi lingkungan menjadi parameter area beresiko persampahan. Sementara itu, terjadi pengembangan di kriteria penilaian, bobot, nilai kerawanan sanitasi dan potensi ekonomi. Pengembangan kriteria penilaian terjadi pada parameter fungsi dan nilai daerah, kondisi lingkungan, topografi, dan tingkat pendapatan penduduk. Kata kunci: Daerah Prioritas, Pengembangan,parameter, SNIAbstractThe distribution of the Bandung City waste service area that is currently running based on zoning, thus, is needed to establish priority areas in the service area that has the lowest level of service in the hope of increasing the level of waste services in the city of Bandung. Based on this, the establishment of priority areas will be carried out in the area of Bandung South Bandung service by using the SNI 19-2454-2002 method. The purpose of this study is to develop the scale of interest in service areas that are adjusted to the availability of data. The results of the study show that there are 1 of 6 parameters that are changed, namely the parameters of environmental conditions into parameters of the area at risk of solid waste. Meanwhile, there are developments in the assessment criteria, weight, sanitation vulnerability and economic potential. Development of assessment criteria occurs in the parameters of function and value area, environmental conditions, topography, and population income level.Keywords: Priority area, development, parameters, SNI
Pengembangan Penentuan Daerah Prioritas Terhadap Sistem Pengelolaan Sampah Berdasarkan SNI 19-2454-2002 (Studi Kasus: Wilayah Pelayanan Bandung Selatan) HAFIDZAH, YUNITA RACHMAH; AINUN, SITI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.58 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i2.119-131

Abstract

AbstrakWilayah pelayanan sampah Kota Bandung yang saat ini dilakukan berdasarkan zonasi, berdasarkan jarak terdekat dengan pengelolaan yang sama. Dibutuhkan pembentukan daerah prioritas untuk meminimalisir permasalahan sampah. Penentuan daerah prioritas akan dilakukan di wilayah pelayanan Bandung Selatan menurut metode SNI 19-2454-2002. Tujuan dari studi ini yaitu mengembangkan skala kepentingan daerah pelayanan yang disesuaikan dengan ketersediaan data. Hasil kajian menunjukkan, terdapat 1 dari 6 parameter yang dirubah yaitu parameter kondisi lingkungan menjadi parameter area beresiko persampahan. Sementara itu, terjadi pengembangan di kriteria penilaian, bobot, nilai kerawanan sanitasi dan potensi ekonomi. Pengembangan kriteria penilaian terjadi pada parameter fungsi dan nilai daerah, kondisi lingkungan, topografi, dan tingkat pendapatan penduduk. Kata kunci: Daerah Prioritas, Pengembangan,parameter, SNIAbstractThe distribution of the Bandung City waste service area that is currently running based on zoning, thus, is needed to establish priority areas in the service area that has the lowest level of service in the hope of increasing the level of waste services in the city of Bandung. Based on this, the establishment of priority areas will be carried out in the area of Bandung South Bandung service by using the SNI 19-2454-2002 method. The purpose of this study is to develop the scale of interest in service areas that are adjusted to the availability of data. The results of the study show that there are 1 of 6 parameters that are changed, namely the parameters of environmental conditions into parameters of the area at risk of solid waste. Meanwhile, there are developments in the assessment criteria, weight, sanitation vulnerability and economic potential. Development of assessment criteria occurs in the parameters of function and value area, environmental conditions, topography, and population income level.Keywords: Priority area, development, parameters, SNI
Identifikasi Senyawa BTEX pada Asap Kendaraan Bermotor Roda Dua MAULANA, YUSUF EKA; YULIANA, TRISNA; ROHMAH, AINI ASPIATI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (999.679 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i2.71-83

Abstract

 AbstrakPenggunaan kendaraan bermotor roda dua di Indonesia semakin berkembang pesat. Semakin tinggi tingkat penggunaan transportasi yang beroperasi disuatu daerah, maka akan semakin tinggi pula potensi pencemaran udara di daerah tersebut. Jika pembakaran pada kendaraan bermotor tidak sempurna maka dapat dihasilkan senyawa yang berbahaya yaitu benzene (C6H6), toluene (C7H8), ethylbenzene (C8H9), dan xylene (C8H10) atau biasa disingkat BTEX. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi senyawa BTEX dan senyawa hidrokarbon lainnya dalam asap kendaraan bermotor dengan menggunakan kromatografi gas-spektrometer massa (GC-MS). Hasil identifikasi menunjukkan adanya hubungan yangsangat kuat antara standard dengan hasil pengukuran yaitu dengan R2 di atas 0,99. Identifikasi menunjukkan senyawa BTEX yang terbentuk adalah Benzene, Toluene, Etil Benzene, Xylene.Kata kunci: kendaraan bermotor, hidro karbon, BTEX, GC-MS.AbstractThe use of two wheels motorized vehicles or motorcycles in Indonesia is growing rapidly. It has been known that the greater the number of two wheels motorized vehicles the higher the potential for air pollution. If the combustion occur incomplete, hazardous compounds can be generated, namely benzene (C6H6), toluene (C7H8), ethylbenzene (C8H9), and xylene (C8H10) or commonly abbreviated BTEX. The purpose of this study was to identify BTEX compounds and other hydrocarbon compounds in motor vehicle fumes using gas chromatography-mass spectrometers. The identification results indicate a very strong relationship between the standard and the measurement results, with R2 above 0.99. Identification shows that BTEX compounds formed are Benzene, Toluene, Ethyl Benzene, Xylene. Keywords: motorcycles, hidro karbon, BTEX, GC-MS.

Page 1 of 2 | Total Record : 17