cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
ganendra@batan.go.id
Editorial Address
Jl. Babarsari Kotak Pos 6101 ykbb, Yogyakarta 55281
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Ganendra: Majalah IPTEK Nuklir
ISSN : 14106957     EISSN : 25035029     DOI : https://doi.org/10.17146/gnd
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Iptek Nuklir Ganendra merupakan jurnal ilmiah hasil litbang dalam bidang iptek nuklir, diterbitkan oleh Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan (PTAPB) - BATAN Yogyakarta. Frekuensi terbit dua kali setahun setiap bulan Januari dan Juli.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Volume 16 Nomor 2 Juli 2013" : 6 Documents clear
PLASMA CHARACTERISTICS IN SQUARE PULSE ARC DISCHARGE OF PLASMA CATHODE ELECTRON SOURCE DEVICE Agus Purwadi; Bambang Siswanto; Wirjoadi .; Lely Susita R.M.; Sudjatmoko .
GANENDRA Majalah IPTEK Nuklir Volume 16 Nomor 2 Juli 2013
Publisher : Website

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.483 KB) | DOI: 10.17146/gnd.2013.16.2.606

Abstract

Plasma parameters in Plasma Cathode Electron Source Device (PCESD) are very important things because they will determine the eficiency of its electron extraction. Square pulse mode of PCESD’s arc discharge plasma current can be obtained by using Pulse Forming Network (PFN) circuits which is called Arc Discharge Power Supply (ADPS). The square pulse mode is necessity to simplify in electron irradiation dose calculation. ADPS is connected with Hollow Anode Chamber (HAC) which is placed inside of PCESD to produce arc discharge plasma. The value of arc discharge plasma current is the main key to determine plasma parameters that can be measured by using Rogowski coil. The value of the arc discharge plasma current is IADPS = 206.30 A with pulse width  = 80 μs. Whereas the plasma parameters values inside of the HAC are: the electron plasma density ne = (16.85  1019) m-3, electron plasma temperature Te = 2.609 eV, electron plasma frequency fe = 116.74 GHz, and Debye length λD = 9.958 µm respectively.
STUDI KRITIKALITAS VHTR PRISMATIK SEBAGAI FUNGSI RADIUS BAHAN BAKAR KOMPAK DAN KERNEL Fajar Arianto; Suwoto .; Zuhair .
GANENDRA Majalah IPTEK Nuklir Volume 16 Nomor 2 Juli 2013
Publisher : Website

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.275 KB) | DOI: 10.17146/gnd.2013.16.2.601

Abstract

Radius bahan bakar kompak dan kernel selama ini dibuat tetap pada nilai baku yang diadopsi oleh proyek reaktor suhu tinggi. Radius kompak bahan bakar ditetapkan 0,6225 cm dan radius kernel bahan bakar ditentukan 0,0250 cm. Dua parameter ini diinvestigasi karena sangat mempengaruhi performa moderasi neutron dalam teras VHTR. Efek radius kernel dan bahan bakar kompak dalam bahan bakar blok VHTR sebagai representasi dari teras aktif didiskusikan dalam makalah ini. Pengkayaan 235U sebesar 12% dan fraksi packing TRISO 0,29 dikerjakan di seluruh perhitungan dengan program transport Monte Carlo MCNPX dan pustaka data nuklir energi kontinu ENDF/B-VII pada suhu 1200K. Bahan bakar blok VHTR dimodelkan secara utuh dan presisi dengan kondisi batas reflektif. Hasil perhitungan memperlihatkan ketergantungan k∞ pada radius kernel berkurang seiring dengan berkurangnya radius bahan bakar kompak. Nilai k∞ hampir tidak bergantung pada radius kernel untuk radius bahan bakar kompak 0,4000 cm. Analisis menyimpulkan bahwa, kombinasi dua parameter ini adalah cara yang tepat untuk mendapatkan nilai faktor perlipatan neutron tak hingga yang diinginkan dari teras VHTR prismatik dengan fraksi packing dan pengkayaan bahan bakar yang spesifik.
SIMULASI DESAIN PERISAI RADIASI MBE-LATEKS MENGGUNAKAN MCNP5 Darsono .; Safirudin .; M. Toifur
GANENDRA Majalah IPTEK Nuklir Volume 16 Nomor 2 Juli 2013
Publisher : Website

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.459 KB) | DOI: 10.17146/gnd.2013.16.2.607

Abstract

Telah dilakukan simulasi desain perisai radiasi MBE lateks 300 keV/20 mA menggunakan program MCNP5. Simulasi dilakukan untuk memperoleh data verifikasi desain perisai radiasi MBE lateks secara analitik. Dalam simulasi menggunakan program MCNP5 dibutuhkan masukan yang tepat agar memberikan hasil yang diharapkan. Masukan itu berupa bentuk dan intensitas sumber radiasi sinar X yang digunakan, bentuk geometri perisai radiasi dan komponen MBE lateks di dalam perisai, dan jenis bahan perisai dan komponen MBE lateks yang digunakan. Masukan tersebut kemudian dimodelkan menggunakan program VISED. Dalam simulasi ini sumber radiasi sinar X dimodelkan berbentuk segi empat tipis berada ditengah-tengah jendela Ti yang memancarkan radiasi secara isotropik. Selain itu komponen MBE lateks di dalam perisai dipandang sebagai pengganggu pancaran sumber radiasi X. Pengamatan intensitas teratenuasi dideteksi menggunakan 5 detektor titik talli (Tally) F5 yang diletakkan searah tebal perisai radiasi. Pengamatan distribusi sinar X pada perisai dideteksi dengan meletakkan banyak detektor pada permukaan bagian luar perisai. Dari hasil simulasi dan analisis data, diperoleh nilai tebal perisai Pb yang aman untuk menahan paparan radiasi MBE lateks 300 keV/20 mA yaitu > 2,5 cm. Di samping data tebal perisai, pada simulasi ini juga diperoleh nilai laju dosis pada berbagai permukaan perisai. Besar nilai laju dosis pada permukaan perisai bidang XZ sebesar 2,58 mrem/jam, dan pada permukaan perisai bidang YZ sebesar 2,88 mrem/jam. Perbedaan laju dosis ini disebabkan oleh pengaruh letak komponen MBE yang berada di dalam perisai radiasi sinar X.
CORROSION RESISTANCE IMPROVEMENT OF AISI 316L STAINLESS STEEL USING NITROGEN ION IMPLANTATION Sudjatmoko .; Lely Susita R.M.; Wirjoadi .; Bambang Siswanto
GANENDRA Majalah IPTEK Nuklir Volume 16 Nomor 2 Juli 2013
Publisher : Website

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (770.114 KB) | DOI: 10.17146/gnd.2013.16.2.602

Abstract

The nitrogen ion implantation can be used to improve surface mechanical properties and corrosion resistance behavior of AISI 316L stainless steels by modifying the near-surface layers of these materials. In this study, an AISI 316L stainless steel plate was implanted with the optimum ion dose of 5  1016 ion/cm2 for ion energy variation of 60, 80 and 100 keV. Microhardness was measured by Vickers method, and the results of measurements clearly indicate an enhancement hardness behavior for nitrogen implanted layer. It is found that the implanted layer hardness was increased by a factor of 1.3 in comparison to that of the unimplanted samples. The increased hardness resulting from nitrogen ion implantation was attributed to the formation of an iron nitride phase. Microstructure, chemical composition and surface morphology studied using the technique of Scanning Electron Microscope (SEM) coupled with Energy Dispersive X-ray (EDX) and X-ray Diffraction (XRD). Analysis of SEM-EDX micrographs and XRD diffraction patterns indicate that the nitrogen implanted layer is composed of a metastable single phase which has properties very hard, good corrosion resistance behavior and wear resistance surface layers of stainless steel components. Effects of nitrogen ion implantation on the corrosion properties of AISI 316L stainless steels was evaluated using potentiostat PGS 201T. Corrosion properties of test results showed that there was a significant improvement in the corrosion resistance in the case of nitrogen implanted samples.
PENGARUH INHIBITOR KAFEINA PADA LAJU KOROSI DAN STRUKTUR MIKRO BAJA KARBON KS01 DAN AISI 1045 DALAM MEDIA AIR LAUT Sulistioso Giat S; Setyo Purwanto; Deswita .; Ari Handayani
GANENDRA Majalah IPTEK Nuklir Volume 16 Nomor 2 Juli 2013
Publisher : Website

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (919.642 KB) | DOI: 10.17146/gnd.2013.16.2.603

Abstract

Sejumlah material sintetis digunakan sebagai inhibitor untuk mencegah korosi, tetapi kebanyakan inhibitor tersebut bersifat racun, maka digunakan bahan organik sebagai inhibitor korosi, yang tidak berbahaya dan ramah lingkungan. Penggunaan inhibitor dikenal sangat baik, diantara beberapa metode pengendalian dan pencegahan korosi. Pada penelitian ini digunakan senyawa kafeina sebagai inhibitor korosi. Senyawa ini dapat digunakan sebagai inhibitor korosi karena adanya gugus-gugus yang mengandung pasangan elektron bebas, yaitu gugus nitrogen. Pengujian laju korosi dilakukan di media air laut yang diambil dari daerah Utara Indramayu dengan variasi konsentrasi kafeina 0, 50, 100, 150, dan 200 ppm untuk mengetahui konsentrasi optimum kafeina dalam menginhibisi laju korosi baja karbon KS01 dan AISI 1045 yang merupakan material yang banyak digunakan pada sistem pendingin di industri. Laju korosi baja karbon KS01 tanpa penggunaan inhibitor lebih kecil, yaitu 25,07 mpy dibandingkan dengan laju korosi baja karbon AISI 1045 yaitu sebesar 45,82 mpy. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kafeina mampu menginhibisi laju korosi baja karbon KS01 dengan efisiensi optimum sebesar 64,38%, dan baja karbon AISI 1045 sebesar 66,63%. Konsentrasi optimum dari kafeina untuk menghibisi baja karbon AISI 1045 adalah 150 ppm dan untuk AISI KS01 adalah 100 ppm. Selain uji korosi dilakukan juga analisis struktur mikro dari kedua sampel di atas, sebelum dan sesudah diberi inhibitor.
EFEK KEBOCORAN BEAMTUBE DAN PIPA PRIMER PENUKAR PANAS PADA SUATU MODEL REAKTOR RISET 1 MW BERBAHAN BAKAR TIPE SILINDER Reinaldy Nazar Nazar
GANENDRA Majalah IPTEK Nuklir Volume 16 Nomor 2 Juli 2013
Publisher : Website

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.115 KB) | DOI: 10.17146/gnd.2013.16.2.605

Abstract

Telah dilakukan analisis transien menggunakan program komputer RELAP5/Mod3.2 terhadap model reaktor riset berbahan bakar tipe silinder daya 1 MW dan diasumsikan mengalami kebocoran pada beamtube, pipa cold leg, dan pipa hot leg. Berdasarkan hasil analisis diketahui reaktor mencapai kestabilan pada daya 1 MW adalah 1650 detik setelah kekritisan. Pada kondisi stabil suhu pusat dan suhu kelongsong bahan bakar pada kanal terpanas, serta suhu air pendingin primer keluar dari kanal terkait berturut-turut adalah 529,35 OC, 98,37 OC, 81,27 OC. Pada 7,3 detik setelah beamtube bocor, atau 5,1 detik setelah pipa cold leg bocor, atau 6,2 detik setelah pipa hot leg bocor reaktor scram karena level air tangki telah turun 0,5 m. Penurunan air tangki ini terhenti pada level 0,959 m ketika 97,7 detik setelah beamtube bocor, atau pada level 1,252 m ketika 76,4 detik setelah pipa cold leg bocor, atau pada level 1,252 m ketika 78,6 detik setelah pipa hot leg bocor. Pada kondisi ini suhu pusat dan suhu kelongsong bahan bakar pada kanal terpanas, serta suhu air pendingin primer keluar dari kanal terkait berturut-turut adalah 96,25 OC, 89,63 OC, 78,96 OC untuk kebocoran beamtube, atau 87,12 OC, 78,31 OC, 69,10 OC untuk kebocoran pipa cold leg, atau 87,32 OC, 78,54 OC, 69,43 OC untuk kebocoran pipa hot leg. Berbeda dengan kebocoran pada pipa cold leg dan pipa hot leg, suhu-suhu tersebut pada kebocoran beamtube cenderung terus naik karena sisa panas peluruhan, dan air tangki yang tersedia tidak mampu mengambil panas tersebut secara maksimal, sehingga diperlukan sistem pendinginan teras darurat (SPTD) untuk mendinginkannya.

Page 1 of 1 | Total Record : 6