cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Materi Indonesia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Sains Materi Indonesia (Indonesian Journal of Materials Science), diterbitkan oleh Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir - BATAN. Terbit pertama kali: Oktober 1999, frekuensi terbit: empat bulanan.
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 14, No 1: OKTOBER 2012" : 14 Documents clear
PREPARASI DAN KARAKTERISASI NANO PARTIKEL ALUMINIUM FOSFA Agus Haryono; Witta Kartika Restu; Sri Budi Harmami
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 14, No 1: OKTOBER 2012
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (989.629 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2012.14.1.4641

Abstract

PREPARASI DAN KARAKTERISASI NANO PARTIKEL ALUMINIUM FOSFAT.Telah dilakukan penelitian pembuatan nanopartikel aluminium fosfat (AlPO4) dengan disodium fosfat (Na2HPO4.7H2O), aluminium klorida (AlCl3.6H2O), dan natrium asetat (CH3COONa.3H2O) yang digunakan sebagai material utamanya. Proses preparasi dilakukan dengan memasukkan larutan aluminium klorida/natrium asetat (AlCl3.6H2O/CH3COONa.3H2O) pada konsentrasi 0,164Mke dalamlarutan disodiumfosfat dengan konsentrasi 0,144 M. Pengadukan dilakukan pada putaran rendah yaitu 40 rpm hingga 60 rpm dan berlangsung pada suhu ruang. Nanopartikel AlPO4 yang dihasilkan dikarakterisasi dengan Particle Size Analyser (PSA) untuk mengetahui ukuran partikelnya, photo microscope untuk melihat distribusi partikel pada permukaannya, dan Transmission Electron Microscope (TEM) untuk mengetahui morfologinya. Diperoleh ukuran partikel 225,9 ± 64,0 nm dengan indeks polidispersi 0,323, distribusi partikel yang merata pada permukaannya dan morfologi yang berpori. Nanopartikel AlPO4 ini berpotensi untuk digunakan sebagai adjuvan vaksin. Diharapkan penggunaannya nanti sebagai adjuvan vaksin dapat meningkatkan efektivitas terhadap vaksin yang dibutuhkan dibandingkan dengan partikel AlPO4.
PENUMBUHAN CARBON NANOTUBE DENGAN TEKNIK MILLING MENGGUNAKAN Fe SEBAGAI KATALIS PENUMBUH Yunasfi Yunasfi; Salim Mustofa; Muflikhah Muflikhah
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 14, No 1: OKTOBER 2012
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.169 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2012.14.1.4637

Abstract

PENUMBUHAN CARBON NANOTUBE DENGAN TEKNIK MILLING MENGGUNAKAN Fe SEBAGAI KATALIS PENUMBUH. Telah dilakukan penumbuhan Carbon Nanotube (CNT) dengan teknik milling menggunakan partikel Fe sebagai katalis penumbuh. Campuran serbuk Fe-C berukuran nano dibuat dari campuran serbuk grafit dan Fe dalam berbagai variasi persen berat Fe (1% berat hingga 5 %berat), lalu diproses milling memakai teknik High Energy Milling (HEM) selama 50 jam. Hasil analisis pola difraksi sinar-X menunjukkan hadirnya puncak-puncak karbon C(002), C(004) dan C(110) dan puncak Fe(101) dan Fe(200), Puncak karbon menurun intensitasnya dan cenderung amorf dengan meningkatnya%berat Fe, sedangkan puncak Fe makin menajam. Hasil pengamatan struktur mikro dengan TEM memperlihatkan adanya penumbuhan awal CNT dengan dimensi yang dipengaruhi %Fe. Pada kandungan 2 % berat Fe terbentuk struktur CNT dengan ukuran lebih panjang dibanding pada kandungan berat Fe lainnya. Pembentukan CNT ini juga teridentifikasi dari spektrum Raman yang memperlihatkan hadirnya puncak G-band pada 1590 cm-1 dan puncak D-band pada 1310 cm-1 dengan intensitas ID yang lebih tinggi dibanding IG serta tak hadirnya puncak RBM-band pada bilangan gelombang rendah. Kondisi ini merupakan jenis spektrum untuk bahan dengan struktur Multi Wall Carbon Nanotube (MWCNT). Rasio ID/IG tertinggi pada 2 % berat Fe mendukung hasil analisis dimensi CNT dari pengamatan Transmission Electron Microscope (TEM). Secara umum dari data-data yang diperoleh pada penelitian ini dapat ditunjukkan bahwa Fe dapat berfungsi sebagai katalis dalam penumbuhan CNT.
FAILURE ANALYSIS OF ALUMINIUM AND ZINC HEAT REFLECTOR IN TIMBER DRYKILN Sulistioso Giat S.; A Sitompul; M. N. Indro; A Rahmatika
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 14, No 1: OKTOBER 2012
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (973.693 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2012.14.1.4642

Abstract

FAILURE ANALYSIS OF ALUMINIUM AND ZINC HEAT REFLECTOR IN TIMBER DRYKILN. Aluminium and Zinc (Al-Zn) alloy coated steel sheet (JIS G3141) was used as a heat reflector in timber dry kiln. After six months continuous service at 110°C in moist condition, the heat reflector is corroded. Failure analysis method was used to analyze this corrosion phenomena. Macroscopic and microscopic examination with some characterization have been performed to determine the elemental composition and corrosion products. The elemental composition of corroded heat reflector that were detected by SEM-EDS are sulphur, chloride, calcium, and potassium. XRD analysis revealed the zinc aluminium carbonate hydroxide hydrate (Zn6Al2(OH)16CO3.4H2O) known as black rust staining and iron oxide (Fe3O4), as corrosion products. Environmental condition in timber dry kiln with the existence of acid and alkaline elements cause the corrosion process occur. Those elements come fromthe dried timber and steam that adhered on the heat reflector surface attacked the Al-Zn coating and base metal. Humidity and high temperature in timber dry kiln environment increase the corrosion rate of the heat reflector.
PENGGUNAAN HIGH RESOLUTION NEUTRON POWDER DIFFRACTOMETER UNTUK MENENTUKAN STRUKTUR KRISTAL DAN MAGNETIK SENYAWA La0,47Ca0,53Mn1-yCuyO3 (0 < y < 0,09) Y E Gunanto; A Purwanto; Andika Fajar; H Mugirahardjo; Wisnu A A; B Kurniawan; S Poertadji
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 14, No 1: OKTOBER 2012
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.81 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2012.14.1.4632

Abstract

PENGGUNAAN HIGH RESOLUTION NEUTRON POWDER DIFFRACTOMETER UNTUK MENENTUKAN STRUKTUR KRISTAL DAN MAGNETIK SENYAWA La0,47Ca0,53Mn1-yCuyO3 (0 < y < 0,09). Telah dianalisis pada suhu ruang dan suhu rendah struktur kristal dan magnetik sampel La0,47Ca0,53Mn1-yCuyO3 0 < y < 0,09 menggunakan High Resolution Neutron Powder Diffractometer (HRPD). Didapatkan bahwa pada suhu ruang dan suhu rendah, sampel mempunyai struktur kristal orthorhombic dengan space group Pnma. Semakin meningkat nilai x, maka volume kisi semakin besar juga. Pada suhu ruang sampel mempunyai sifat paramagnetik, sedangkan pada suhu rendah bersifat antiferomagnetik bercampur feromagnetik. Nilai momen magnetik semakin kecil seiring meningkatnya nilai x.
FACILE ONE POT SYNTHESIS OF HIGHLY MONODISPERSE SILICA NANOPARTICLES IN WATER BASED MEDIUM Oka Pradipta Arjasa; Jarot Raharjo
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 14, No 1: OKTOBER 2012
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.58 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2012.14.1.4638

Abstract

FACILE ONE POT SYNTHESIS OF HIGHLY MONODISPERSE SILICA NANOPARTICLES IN WATER BASED MEDIUM. Highlymonodisperse silica nanoparticles (SNs) were successfully prepared using water based synthesis. The right catalyst and controllable release of silanol compounds into water phase was the two mostimportant parameters in the SNs water based synthesis. The particle size of the SNs produced by this method was easily controlled by changing TetraEthyl OrthoSilicate (TEOS) concentration. The particle size ranging from 60 nm to 200 nm can be prepared in one pot synthesis. The SNs were analyzed by using dynamic light scattering.
MODIFIKASI SINTESIS DAN PENINGKATAN KARAKTERISTIK MAGNETIK NANOPARTIKELCORE/SHELLFe/Oksida Fe HASIL REAKSI REDUKSI BOROHIDRIDA. Mujamilah Mujamilah; Grace Tj Sulungbudi; Wildan Zakiyah Lubis; Agus Salim A
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 14, No 1: OKTOBER 2012
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.414 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2012.14.1.4539

Abstract

MODIFIKASI SINTESIS DAN PENINGKATAN KARAKTERISTIK MAGNETIKNANOPARTIKELCORE/SHELLFe/Oksida Fe HASIL REAKSI REDUKSI BOROHIDRIDA.Telah dibuat nanopartikel berstruktur core/shell Fe/oksida Fe dengan nilai magnetisasi tinggi melalui tahapan reaksi reduksi FeCl 3 oleh reduktor Natrium Borohidrida (NaBH4), pencucian endapan dalam etanol, pemanasan 75oC dalam suasana vakum, dilanjutkan dengan proses oksidasi terkendali dengan pereaksi Trimethylamine N-Oxide (TMNO). Morfologi struktur nanopartikel core/shell dipelajari dari foto hasil pengamatan dengan Transmission Electron Microscope (TEM), sifat magnetik ditentukan dari kurva histeresis hasil pengukuran dengan Vibrating Sample Magnetometer (VSM) dan fasa dianalisis dari pola difraksi sinar-X. Diperoleh bahwa karakteristik magnetik yang terbentuk dipengaruhi oleh kondisi proses pencucian untuk menghilangkan fasa sisa reaktan dan kondisi pemanasan untuk penyempurnaan reaksi pembentukan core. Pemanasan yang terlalu lama cenderung menurunkan sifat magnetik karena meningkatkan fasa-fasa minor FeB dan Fe2B. Pada tahapan oksidasi, selain pembentukan lapisan shell oksida Fe pada permukaan core Fe, juga terjadi proses reduksi fasa minor tersebut dan memberikan peningkatan sifat magnetik. Karakteristik optimal nanopartikel dengan ukuran kristalin ~ 8 nmdalampartikel core Fe berukuran < 30 nm dan shell oksida Fe setebal ~ 3 nmdenganmagnetisasi saturasi Ms ~ 130 emu/gram diperoleh pada proses sintesis dengan pencucian 15x diikuti pemanasan 4 jam.
ANALISIS PENGARUH TEKNOLOGI PROSES PRODUKSI TERHADAP KARAKTERISTIK MATERIAL PISTON Iwan Setyadi
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 14, No 1: OKTOBER 2012
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (715.611 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2012.14.1.4643

Abstract

ANALISIS PENGARUH TEKNOLOGI PROSES PRODUKSI TERHADAP KARAKTERISTIK MATERIAL PISTON. Pistonmerupakan salah satu komponen utama padamotor bakar yang berfungsi sebagai komponen penekan udara masuk dan penerima tekanan hasil pembakaran pada ruang bakar. Komponen ini dirancang harus ringan dan tahan terhadap tekanan. Selain pemilihan jenismaterial yang tepat, pemilihan proses manufaktur piston akan mempengaruhi karakteristiknya, terutama sifat fisik dan sifat mekanis. Piston yang dijual dipasaran kebanyakan dibuat dengan proses pengecoran. Namun untuk peningkatan efisiensi juga telah dikembangkan piston yang dibuat dengan proses tempa. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengamati karakteristik kedua jenis piston tersebut melalui pengujian strukturmikro dan uji kekerasan. Hasil penelitian menunjukkan produk piston yang dibuat dengan proses tempa memiliki nilai kekerasan rata-rata yang lebih tinggi 14,9% dari 121,1 HV dibanding dengan piston yang dibuat dari proses pengecoran. Disamping itu strukturmikro piston tempa adalah homogen, sedangkan piston cor berupa dendrite.
PEMBUATAN BAHAN PIEZOELEKTRIK RAMAH LINGKUNGAN Bi0,5Na0,5TiO3 DENGAN METODE MOLTEN SALT Evi Yulianti; Dona Triwahyuni; Syahfandi Ahda; Deswita Deswita
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 14, No 1: OKTOBER 2012
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (635.983 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2012.14.1.4633

Abstract

PEMBUATAN BAHAN PIEZOELEKTRIK RAMAH LINGKUNGAN Bi0,5Na0,5TiO3 DENGAN METODE MOLTEN SALT. Bahan Piezoelektrik Bi0,5Na0,5TiO3 (BNT) yang ramah lingkungan telah dibuat dengan metode molten salt. Proses pembuatan BNT terdiri dari dua tahapan, dimana pada tahap pertama dilakukan sintesis Bi2Ti4O11 (BTO) sedangkan pada tahap kedua berlangsung proses pembentukan BNT. Proses sintesis BTO terjadi dalam lelehan garam NaCl-KCl dengan terlebih dahulu mencampurkan dua bahan dasar Bi2O3 dan TiO2. Selanjutnya BTO yang telah terbentuk ditambahkan dengan Na2CO3 berlebih dan dipanaskan sampai terbentuk BNT. BNT yang telah disintesis selanjutnya dikarakterisasi dengan menggunakan X-Ray Diffractometer (XRD) untuk mengidentifikasi fasa, struktur kristal dan ukuran butir kristal dan bentuk morfologi dianalisis dengan Scanning Electron Microscope-EnergyDispersive Spectroscopy (SEM-EDS).Dengan melakukan variasi proses diantaranya variasi suhu dan variasi komposisi berat NaCl-KCl, diperoleh suhu optimal sintesis BTO pada 950 oC dengan perbandingan berat komposisi NaCl-KCl sama dengan berat campuran Bi2O3-TiO2. Sedangkan suhu optimal untuk sintesis BNT adalah pada 600 oC. BNT yang diperoleh mempunyai struktur kristal rhombohedral dengan a = b = c = 3,884 Å dan α = β = γ = 90,12243o. Ukuran kristal BTO yang terbentuk adalah 16,769 nm sedangkan ukuran kristal BNT yang terbentuk adalah 17,139 nm.
ISOLASI DAN SINTESIS GELATIN BERIKATAN SILANG DAR ILIMBAH SISIK IKAN KAKAP PUTIH (LATES CALCARIFER) DENGAN TEKNIK INDUKSI IRADIASI GAMMA Dian P P; Darmawan Darmawan; Erizal Erizal; Tjahyono Tjahyono
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 14, No 1: OKTOBER 2012
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.658 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2012.14.1.4639

Abstract

ISOLASI DAN SINTESIS GELATIN BERIKATAN SILANG DAR ILIMBAH SISIK IKAN KAKAP PUTIH (LATES CALCARIFER) DENGAN TEKNIK INDUKSI IRADIASI GAMMA. Dalam kerangka pemanfaatan limbah perikanan telah dilakukan isolasi gelatin sisik ikan kakap dan disintesis gelatin berikatan silang dengan induksi iradiasi gamma pada rentang dosis 0 kGy hingga 50 kGy. Perubahan struktur kimianya dikarakterisasi menggunakan spektrofotometer Ultra Violet - Visible (UV-Vis) dan Fourier Transform - Infra Red (FT-IR) serta perubahan viskositas diukur dengan viskosimeter. Hasil menunjukkan bahwa peningkatan dosis iradiasi menyebabkan kenaikkan absorbansi dan viskositas larutan gelatin secara linier pada dosis 10 kGy hingga 30 kGy. Sedangkan pada dosis 40 kGy hingga 50 kGy, larutan gelatin berubah ke bentuk gel disertai perubahan yang signifikan pada spektrum FT-IR. Teknik iradiasi gamma selayaknya dapat dipertimbangkan sebagai teknik yang aman dan relatif cepat untuk mensintesis gelatin berikatan silang.
KOMPATIBILITAS PADUAN ZIRKONIUM PAD ACAIRAN LOGAM BERAT LEAD-BISMUTH EUTECTIC Abu Khalid Rivai; Bernandus Bandriyana; Annette Heinzel; Fabian Lang
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 14, No 1: OKTOBER 2012
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1427.873 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2012.14.1.4644

Abstract

KOMPATIBILITAS PADUAN ZIRKONIUM PAD ACAIRAN LOGAM BERAT LEAD-BISMUTH EUTECTIC. Cairan Lead Bismuth Eutectic (LBE) merupakan pendingin salah satu kandidat utama reaktor masa depan di dunia (Generation IV reactors) yaitu Lead alloy-cooled Fast Reactor (LFR) sekaligusmerupakan material target spalasi untuk Accelerator Driven Transmutation System (ADS). Cairan ini memiliki berbagai keunggulan dari segi netronik, termalhidrolik maupun sifat yang inert terhadap air dan udara. Namun cairan LBE ini bersifat korosif pada logam-logam yang menjadi penyusun material kelongsong bahan bakar dan struktur reaktor. Oleh karena itu pengembangan material kelongsong bahan bakar dan struktur reaktor dalamlingkungan LBE merupakan salah satu kunci utama dalam pengembangan LFR dan ADS. Telah dikembangkan paduan zirkonium yaitu ZrNbMoGe di Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir (PTBIN)-BATAN. Dalam rangka untuk mengeksplorasi karakteristik paduan zirkonium ini dilakukan investigasi kompatibilitas bahan paduan zirkonium ZrNbMoGe di dalam lingkungan cairan LBE dengan menggunakan fasilitas aparatus COSTA di Pulsed Power and Microwave Technology-Karlsruhe Institute of Technology Germany. Pengujian dilakukan pada suhu 550 °C dengan konsentrasi oksigen 1 x 10-6 %berat selama 312 jam. Hasil pengujian memperlihatkan jejak pembentukan lapisan oksida zirkonium di atas permukaan sampel yang kemudian terlepas. Hal ini menunjukkan bahwa dalam waktu yang relatif singkat paduan zirkonium telah mengkonsumsi cukup banyak oksigen di dalam cairan LBE dengan membentuk lapisan oksida zirkonium di atas permukaan sampel. Namun pembentukan lapisan oksida zirkoniumyang cepat dan relatif tebal di atas permukaan sampel ini menyebabkan dalamwaktu relatif singkat lapisan oksida ini terlepas dari permukaan bahan. Oleh sebab itu paduan zirkonium ini tidak kompatibel dengan cairan logam berat LBE yang digunakan dalam sistem reaktor nuklir.

Page 1 of 2 | Total Record : 14


Filter by Year

2012 2012


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1: OCTOBER 2022 Vol 23, No 2: APRIL 2022 Vol 23, No 1: OCTOBER 2021 Vol 22, No 2: APRIL 2021 Vol 22, No 1: OCTOBER 2020 Vol 21, No 4: JULY 2020 Vol 21, No 3: APRIL 2020 Vol 21, No 2: JANUARY 2020 Vol 21, No 1: OCTOBER 2019 Vol 20, No 4: JULY 2019 Vol 20, No 3: APRIL 2019 Vol 20, No 2: JANUARY 2019 Vol 20, No 1: OCTOBER 2018 Vol 19, No 4: JULI 2018 Vol 19, No 3: APRIL 2018 Vol 19, No 2: JANUARI 2018 Vol 19, No 1: OKTOBER 2017 Vol 18, No 4: JULI 2017 Vol 18, No 3: APRIL 2017 Vol 18, No 2: JANUARI 2017 Vol 18, No 1: OKTOBER 2016 Vol 17, No 4: JULI 2016 Vol 17, No 3: APRIL 2016 Vol 17, No 2: JANUARI 2016 Vol 17, No 1: OKTOBER 2015 Vol 16, No 4: JULI 2015 Vol 16, No 3: APRIL 2015 Vol 16, No 2: JANUARI 2015 Vol 16, No 1: OKTOBER 2014 Vol 15, No 4: JULI 2014 Vol 15, No 3: APRIL 2014 Vol 15, No 2: JANUARI 2014 Vol 15, No 1: OKTOBER 2013 Vol 14, No 4: JULI 2013 Vol 14, No 3: APRIL 2013 Vol 14, No 2: JANUARI 2013 Vol 14, No 1: OKTOBER 2012 Vol 13, No 3: JUNI 2012 Vol 13, No 2: FEBRUARI 2012 VOL 13, NO 1: OKTOBER 2011 Vol 12, No 3: JUNI 2011 Vol 12, No 2: FEBRUARI 2011 Vol 12, No 1: OKTOBER 2010 Vol 11, No 2: FEBRUARI 2010 Vol 11, No 1: OKTOBER 2009 Vol 10, No 1: OKTOBER 2008 Vol 9, No 3: JUNI 2008 Vol 9, No 2: FEBRUARI 2008 Vol 9, No 1: OKTOBER 2007 Vol 8, No 3: JUNI 2007 Vol 8, No 2: FEBRUARI 2007 EDISI KHUSUS: OKTOBER 2007 Vol 8, No 1: OKTOBER 2006 Vol 7, No 3: JUNI 2006 Vol 7, No 2: FEBRUARI 2006 EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006 Vol 7, No 1: OKTOBER 2005 Vol 6, No 3: JUNI 2005 Vol 6, No 2: FEBRUARI 2005 Vol 6, No 1: OKTOBER 2004 Vol 5, No 3: JUNI 2004 Vol 5, No 2: FEBRUARI 2004 Vol 5, No 1: OKTOBER 2003 Vol 4, No 3: JUNI 2003 Vol 4, No 2: FEBRUARI 2003 Vol 4, No 1: OKTOBER 2002 Vol 3, No 3: JUNI 2002 Vol 3, No 2: FEBRUARI 2002 Vol 3, No 1: OKTOBER 2001 Vol 2, No 3: JUNI 2001 Vol 2, No 2: FEBRUARI 2001 Vol 2, No 1: OKTOBER 2000 Vol 1, No 3: JUNI 2000 Vol 1, No 2: FEBRUARI 2000 Vol 13, No 4: Edisi Khusus Material untuk Kesehatan More Issue