cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Materi Indonesia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Sains Materi Indonesia (Indonesian Journal of Materials Science), diterbitkan oleh Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir - BATAN. Terbit pertama kali: Oktober 1999, frekuensi terbit: empat bulanan.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 3: JUNI 2003" : 9 Documents clear
PENGARUH UKURAN SERBUK TERHADAP RAPAT ARUS KRITIS SUPERKONDUKTOR YBa2Cu3O7-x Wisnu Ari Adi; Grace Tj. S.; Didin S. Winatapura; E. Sukirman; Ari Handayani; Octavianus Octavianus
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 4, No 3: JUNI 2003
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.873 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2003.4.3.4868

Abstract

PENGARUH UKURAN SERBUK TERHADAP RAPAT ARUS KRITIS SUPERKONDUKTOR YBa2Cu3O7-x. Pengukuran rapat arus kritis (Jc) superkonduktor YBa2Cu3O7-x sebagai fungsi dari ukuran serbuk dengan menggunakan metode four point probe telah dilakukan di laboratoriumbidang bahan maju. Untuk memperoleh perbedaan ukuran serbuk pada sampel digunakan 3 ukuran ayakan, yaitu: 100 mesh, 200 mesh dan 300 mesh. Variasi ukuran serbuk terdiri dari 4 bagian, yaitu : -100 mesh (x >150 μm), +100/-200 mesh (75 < x ≤ 150 μm), +200/-300 mesh (49 < x ≤ 75 μm), dan +300 mesh (x ≤ 49 μm). Analisis kualitatif menunjukkan bahwa keempat sampel memiliki fasa yang sama dengan suhu transisi kritis (Tc) sebesar 91,1 K. Hasil pengukuran rapat arus kritis (Jc) adalah 14.404, 15.713,19.641, dan 20.951 A.m-2 berturut-turut untuk ukuran serbuk x >150, 75 < x ≤ 150, 49 < x ≤ 75, dan x ≤ 49 μm. Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa semakin kecil ukuran serbuk maka semakin besar harga Jc yang diperoleh sebab densitas sampel semakin tinggi. Hasil ini sesuai dengan prediksi dari Choi dan kawan-kawan bahwa Jc meningkat akibat ukuran serbuk semakin kecil. Namun untuk ukuran serbuk x ≤ 75 μm kenaikan dJc/dx cukup kecil (awal daerah plateau). Jadi untuk memperoleh bahan superkonduktor dengan Jc yang cukup tinggi maka diperlukan prekusor dengan ukuran serbuk kurang dari atau sama dengan 75 μm.
PERBANDINGAN NAA DENGAN ICP-MS UNTUK ANALISIS UNSUR KELUMIT DALAM BERBAGAI JENIS BAHAN Rukihati Rukihati
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 4, No 3: JUNI 2003
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.594 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2003.4.3.4873

Abstract

PERBANDINGAN NAA DENGAN ICP-MS UNTUK ANALISIS UNSUR KELUMIT DALAM BERBAGAI JENIS BAHAN. NAA (Neutron Activation Analysis) dan ICP-MS (Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry) adalah dua metode analisis multi-unsur untuk menentukan unsur-unsur kelumit (trace elements) dalam suatu bahan pada tingkat konsentrasi ppb (part perbillion = 10-7 %) atau kurang. Kedua metode ini mempunyai kelebihan spesifik, dan dapat dipilih untuk keperluan analisis bahan tertentu. Tidak seperti ICP-MS, NAA tidak bergantung pada matriks, dan tidak bergantung pada pengkalibrasi. ICP-MS masih terus dikembangkan dan banyak diminati untuk analisis rutin. Sedangkan NAA masih tergolong penting sebagai metode acuan yang mempunyai ketepatan dan ketelitian tinggi.
ANALISIS FASA BaO 6Fe2O3 HASILPERLAKUAN MEKANIK DAN ULTRASONIK TERHADAP PREKURSOR SOL-GEL Ridwan Ridwan; Grace Tj. Sulungbudi
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 4, No 3: JUNI 2003
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.456 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2003.4.3.4869

Abstract

ANALISIS FASA BaO 6Fe2O3 HASILPERLAKUAN MEKANIK DAN ULTRASONIK TERHADAP PREKURSOR SOL-GEL. Prekursor bahan magnet heksaferit, BaO 6Fe2O3 telah berhasil disintesis dari garam nitrat besi dan barium dengan Fe: Ba = 12 : 1 menggunakan metode sol-gel. Identifikasi fasa menggunakan teknik difraksi sinar-x menunjukkan prekursor lebih didominasi oleh α-Fe2O3. Proses pemanasan 700, 850, dan 1000ºC selama 5 jam terhadap prekursor setelah dideaglomerasi menunjukkan bahwa fasa BaO 6Fe2O3 telah terbentuk pada suhu 700ºC dan mengkristal sempurna pada 1000ºC. Prekursor yang dipanaskan pada suhu 1000ºC tanpa melalui proses deaglomerasi tidak memberikan sistem fasa tunggal BaO 6Fe2O3. Deaglomerasi prekursor menggunakan sistem ultrasonik ataupun milling dapat memberikan sistem fasa tunggal BaO 6Fe2O3 setelah dipanaskan pada suhu 1000ºC baik dalam bentuk serbuk maupun pellet. Metode ultrasonik dalam sintesis bahan heksaferit BaO 6Fe2O3 dapat dianggap salah satu alternatif terutama apabila partikel yang dibutuhkan sangat halus dan dengan kemurnian tinggi.
ALIRAN GAYANORMALAKIBAT BEBAN SUHU DENGAN MENGGUNAKAN HUBUNGAN ELASTOMEKANIS YANG MENINJAU KOEFISIEN PERPINDAHAN PANAS LAMINAT Darwin Sebayang
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 4, No 3: JUNI 2003
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.507 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2003.4.3.4874

Abstract

ALIRAN GAYANORMALAKIBAT BEBAN SUHU DENGAN MENGGUNAKAN HUBUNGAN ELASTOMEKANIS YANG MENINJAU KOEFISIEN PERPINDAHAN PANAS LAMINAT. Hubungan elastomekanis merupakan salah satu persamaan yang diperlukan untuk menyelesaikan persamaan silinder. Di sini diturunkan persamaan elastomekanis yang meninjau koefisien perpindahan panas. Hal ini berguna untuk mempermudah perhitungan gaya dalam akibat beban termis. Untuk meneliti kesahihan hubungan elastomekanis tersebut maka hasil yang diperoleh dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dengan menggunakan hubungan elastomekanis konvensional.
SINTESIS DAN KARAKTERISASI STRUKTUR KRISTAL, SIFAT TERMAL DAN KONDUKTIVITAS IONIK GELAS KOMPOSIT (AgI)0,7(NaPO3)0,3 E. Kartini; S. Purnama; A. Sugiharto; T. Sakuma; D. W. Ningsih; Nurainun Nurainun
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 4, No 3: JUNI 2003
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.173 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2003.4.3.4870

Abstract

SINTESIS DAN KARAKTERISASI STRUKTUR KRISTAL, SIFAT TERMAL DAN KONDUKTIVITAS IONIK GELAS KOMPOSIT (AgI)0,7(NaPO3)0,3. Telah disintesis bahan elektrolit padat baru berbasis gelas NaPO3 dan gelas komposit (AgI)0,7(NaPO3)0,3. Berbagai karakterisasi telah dilakukan pada kedua elektrolit padat ini seperti pengukuran struktur kristal menggunakan X-ray Diffractometer, sifat termal dengan Differential Scanning Calorimetry (DSC) dan pengukuran konduktivitas ionik menggunakan Impedance Spectroscopy (LCR meter). Pola difraksi sinar-x pada suhu ruang menunjukkan bahwa gelas NaPO3 terdiri dari dua puncak lebar yang menandakan gelas ini benar-benar masih amorf dan kualitasnya baik. Pada gelas komposit (AgI)0,7(NaPO3)0,3 ditunjukkan bahwa sebagian cuplikan telah terkristalisasi. Analisis struktur kristal pada suhu ruang menunjukkan bahwa presipitat tersebut berasal dari campuran fasa γ-AgI dan β-AgI, sedangkan pada suhu 250 oC telah terjadi perubahan fasa menjadi α-AgI. Hal ini didukung dengan pengamatan sifat termal bahwa telah terjadi transisi fasa pada suhu sekitar 148,43 oC dengan enthalpy sebesar 21,43 J/g. Hasil pengukuran sifat listrik pada tegangan dan frekuensi yang berbeda menunjukkan bahwa telah terjadi kenaikan konduktivitas ionik yang signifikan pada gelas komposit (AgI)0,7(NaPO3)0,3 yaitu α(0,1volt) = 6,918 x 10–6 S/cm, α(1 volt) = 3,09 x 10-5 S/cm, α(2 volt) = 4,36 x 10-5 S/cm, dibandingkan dengan gelas tanpa dopan NaPO3 yaitu α(0,1volt) = 1,62 x 10–8 S/cm, α(1 volt) = 2,39 x 10-7 S/cm, α(2 volt) = 2,51 x 10-7 S/cm. Kenaikan konduktivitas ini bukan disebabkan karena α-AgI sebagaimana yang diperkirakan sebelumnya, melainkan karena mekanisme konduksi Ag+ and I- pada matriks gelas NaPO3.
PENGARUH DEFORMASI TERHADAP SUHU REKRISTALISASI PADA PADUAN Cu-Mn-Ni Ika Kartika; Bambang Sriyono
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 4, No 3: JUNI 2003
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (861.604 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2003.4.3.4875

Abstract

PENGARUH DEFORMASI TERHADAP SUHU REKRISTALISASI PADA PADUAN Cu-Mn-Ni. Paduan Cu-Mn-Ni atau paduan manganin adalah pemaduan dari 4% Ni, 12% Mn dalam tembaga. Pada penelitian ini akan dilihat pengaruh besarnya deformasi dipadukan dengan suhu aniling yang bervariasi terhadap suhu rekristalisasi dari paduan manganin. Paduan manganin dianiling pada suhu kamar (30oC), 250oC, 300oC, 350oC, 400oC, 450oC, 500oC dan 550oC selama 50 menit, dimana as cast paduan sebelum dipanaskan, dirol dingin dengan variasi reduksi sebesar 27,79%, 52,44% dan 66,31%. Pengujian lain yang mendukung untuk melihat pengaruh besarnya deformasi, terhadap suhu rekristalisasi dari paduan tersebut, adalah metalografi dan uji keras (HB-10). Dari hasil metalografi terlihat bahwa rekristalisasi mulai terjadi berkisar antara suhu 400oC-450oC. Dari grafik hasil uji keras paduan manganin pada variasi reduksi dan suhu anil yang berbeda, diperoleh suhu rekristalisasi pada reduksi 27,79% = 416oC, reduksi 52,44% = 410oC dan reduksi 66,31% = 379oC.
PENGARUH PENAMBAHAN ZINC STEARATE TERHADAP DEGRADASI TERMAL PADA PADUANAKRILONITRIL-BUTADIENA-STIRENADAN POLIPROPILENASERTAKARAKTERISASI MEKANIK DAN INFRA MERAH Reni Tri Y.S.; Hendro Juwono; Sudirman Sudirman
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 4, No 3: JUNI 2003
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.664 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2003.4.3.4871

Abstract

PENGARUH PENAMBAHAN ZINC STEARATE TERHADAP DEGRADASI TERMAL PADA PADUANAKRILONITRIL-BUTADIENA-STIRENADAN POLIPROPILENASERTAKARAKTERISASI MEKANIK DAN INFRA MERAH. Perkembangan polimer yang sangat cepat tidak lepas dari kebutuhan hidup manusia yang membutuhkan bahan polimer baru dengan sifat yang lebih baik. Blending (polipaduan) adalah salah satu cara untuk menjawab kebutuhan tersebut, baik tanpa ataupun dengan bahan aditif. Penelitian polipaduan Akrilonitril-Butadiena-Stirena (ABS) dan Polipropilen (PP) dengan penambahan zinc stearate dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh, baik secara fisik maupun kimia, bahan hasil paduan terhadap degradasi termal. Polipaduan ABS dan PP dibuat dengan variasi komposisi 95:5, 80:20, 65:35, 50:50 dengan penambahan 0%, 2%, 4%,dan 6% zinc stearate. Paduan tersebut diproses dengan alat rheomix selama 7 menit untuk komposisi. Bahan hasil proses paduan selanjutnya didegradasi secara termal menggunakan oven dengan suhu 80OC selama 300 jam. Karakteristik bahan polipaduan menggunakan uji mekanik dan infra merah (FT-IR) baik sebelum dan sesudah didegradasi. Dari uji mekanik diperoleh hasil bahwa komposisi 95 : 5 dengan penambahan 2% zinc stearate merupakan komposisi terbaik. Dari uji dengan FTIR diperoleh kesimpulan bahwa bahan setelah di degradasi termal selama 300 jam terjadi degradasi meskipun tidak dapat dihitung nilai indeks karbonilnya.
PILARISASI DAN KARAKTERISASI MONTMORILLONIT Yulia Istinia; Karna Wijaya; Iqmal Tahir; Mudasir Mudasir
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 4, No 3: JUNI 2003
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.308 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2003.4.3.4867

Abstract

PILARISASI DAN KARAKTERISASI MONTMORILLONIT. Telah dilakukan pilarisasi montmorillonit dengan Cr2O3 dengan metode interkalasi dan karakterisasinya baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Sintesis lempung terpilar dilakukan melalui dua tahap yaitu tahap pembuatan agent pemilar berupa oligomer kation chrom dan pemilaran montmorillonit. Pembuatan oligomer dilakukan dengan melarutkan garam Cr(NO3)3. 9H2O dalam air terdemineralisasi selama 36 jam dengan pemanasan pada suhu 95oC sambil diaduk dengan pengaduk magnet. Pemilaran lempung dilakukan dengan melarutkan Na-montmorillonit ke dalam larutan campuran air terdemineralisasi dan aseton, selanjutnya mencampurkan suspensi tersebut ke dalam larutan oligomer sambil diaduk dengan pengaduk magnet pada suhu pemanasan 40 oC selama 24 jam. Campuran disaring kemudian padatan yang diperoleh dikeringkan dan selanjutnya dikarakteristik menggunakan spektrofotometer inframerah, difraksi sinar-X, analisis adsorpsi gas dan analisis pengaktifan neutron. Analisis yang sama juga dilakukan pada Na-montmorillonit yang digunakan sebagai pembanding. Tahap selanjutnya adalah uji keasaman permukaan yang dilakukan secara kualitatif yaitu dengan metode spektrofotometer infra merah dan secara kuantitatif dengan metode gravimetri yaitu dengan mengadsorbsikan amoniak ke dalam montmorillonit terpilar Cr2O3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pilarisasi Na-montmorillonit dengan Cr2O3 membentuk montmorillonit terpilar Cr2O3 dengan tinggi pilar sebesar 5,95Å, Pilarisasi juga mengakibatkan kenaikan luas permukaan spesifik dari dari 90,0587 m2/g (Na-montmorillonit) menjadi 170,471 m2/g (montmorillonit terpilar) dan volume total pori dari 60,9264 x 10-3 cm3/g (Na-montmorillonit) menjadi 92,6631 x 10-3 cm3/g (montmorillonit terpilar Cr2O3). Keasaman permukaan montmorillonit meningkat dari 0,6673 mmol/g (Na-Montmorillonit) menjadi 2,6965 mmol/g (montmorillonit terpilar Cr2O3).
PENYERAPAN TIMBAL OLEH JERAMI TERMODIFIKASI SECARA SONIKASI Siti Wardiyati; Wildan Zakiah Lubis; Wahyudianingsih Wahyudianingsih; Ari Handayani
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 4, No 3: JUNI 2003
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.014 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2003.4.3.4872

Abstract

PENYERAPAN TIMBAL OLEH JERAMI TERMODIFIKASI SECARA SONIKASI.Telah dilakukan percobaan penyerapan logam berat Pb oleh jerami yang termodifikasi secara sonikasi. Modifikasi jerami secara sonikasi dilakukan dengan mengunakan alat ultrasonik jenis cleaning bath. Penyerapan logam berat Pb oleh jerami dilakukan secara catu dengan beberapa parameter, diantaranya pH larutan umpan (1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7), waktu kontak (5, 10, 15, 20, 25, dan 30 menit) , ukuran jerami (20, 40, 60, dan 80 mesh), perbandingan Pb terhadap jerami ( 0,25/0,5; 0,5/0,5; 0,75/0,5; dan 1,0/0,5 mg/g ). Penentuan struktur mikro jerami dilakukan dengan menggunakan alat Scanning Electron Microscope (SEM) dan analisis logam berat Pb dilakukan dengan mengunanan alat Spectrofotometer UV-VIS DMS 100. Dari hasil percobaan penyerapan logam berat Pb oleh jerami yang termodifikasi secara sonikasi dapat disimpulkan bahwa jerami yang dimodifikasi secara sonikasi layak dimanfaatkan sebagai bahan penyerap terhadap logam berat Pb. Dari percobaan diperoleh efisiensi penyerapan 94 % untuk larutan Pb 10 mg/L sebanyak 50 mL , pH larutan 5 dan waktu kontak 20 menit dan jumlah jerami 0,5 g. Bila dibandingan dengan modifikasi secara kimia, modifikasi secara sonikasi lebih menguntungkan karena jerami hasil sonikasi tidak mengalami kerusakan atau pembelahan serat, ikatan dengan logam Pb lebih kuat dan tidak memerlukan bahan kimia.

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2003 2003


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1: OCTOBER 2022 Vol 23, No 2: APRIL 2022 Vol 23, No 1: OCTOBER 2021 Vol 22, No 2: APRIL 2021 Vol 22, No 1: OCTOBER 2020 Vol 21, No 4: JULY 2020 Vol 21, No 3: APRIL 2020 Vol 21, No 2: JANUARY 2020 Vol 21, No 1: OCTOBER 2019 Vol 20, No 4: JULY 2019 Vol 20, No 3: APRIL 2019 Vol 20, No 2: JANUARY 2019 Vol 20, No 1: OCTOBER 2018 Vol 19, No 4: JULI 2018 Vol 19, No 3: APRIL 2018 Vol 19, No 2: JANUARI 2018 Vol 19, No 1: OKTOBER 2017 Vol 18, No 4: JULI 2017 Vol 18, No 3: APRIL 2017 Vol 18, No 2: JANUARI 2017 Vol 18, No 1: OKTOBER 2016 Vol 17, No 4: JULI 2016 Vol 17, No 3: APRIL 2016 Vol 17, No 2: JANUARI 2016 Vol 17, No 1: OKTOBER 2015 Vol 16, No 4: JULI 2015 Vol 16, No 3: APRIL 2015 Vol 16, No 2: JANUARI 2015 Vol 16, No 1: OKTOBER 2014 Vol 15, No 4: JULI 2014 Vol 15, No 3: APRIL 2014 Vol 15, No 2: JANUARI 2014 Vol 15, No 1: OKTOBER 2013 Vol 14, No 4: JULI 2013 Vol 14, No 3: APRIL 2013 Vol 14, No 2: JANUARI 2013 Vol 14, No 1: OKTOBER 2012 Vol 13, No 3: JUNI 2012 Vol 13, No 2: FEBRUARI 2012 VOL 13, NO 1: OKTOBER 2011 Vol 12, No 3: JUNI 2011 Vol 12, No 2: FEBRUARI 2011 Vol 12, No 1: OKTOBER 2010 Vol 11, No 2: FEBRUARI 2010 Vol 11, No 1: OKTOBER 2009 Vol 10, No 1: OKTOBER 2008 Vol 9, No 3: JUNI 2008 Vol 9, No 2: FEBRUARI 2008 Vol 9, No 1: OKTOBER 2007 Vol 8, No 3: JUNI 2007 Vol 8, No 2: FEBRUARI 2007 EDISI KHUSUS: OKTOBER 2007 Vol 8, No 1: OKTOBER 2006 Vol 7, No 3: JUNI 2006 Vol 7, No 2: FEBRUARI 2006 EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006 Vol 7, No 1: OKTOBER 2005 Vol 6, No 3: JUNI 2005 Vol 6, No 2: FEBRUARI 2005 Vol 6, No 1: OKTOBER 2004 Vol 5, No 3: JUNI 2004 Vol 5, No 2: FEBRUARI 2004 Vol 5, No 1: OKTOBER 2003 Vol 4, No 3: JUNI 2003 Vol 4, No 2: FEBRUARI 2003 Vol 4, No 1: OKTOBER 2002 Vol 3, No 3: JUNI 2002 Vol 3, No 2: FEBRUARI 2002 Vol 3, No 1: OKTOBER 2001 Vol 2, No 3: JUNI 2001 Vol 2, No 2: FEBRUARI 2001 Vol 2, No 1: OKTOBER 2000 Vol 1, No 3: JUNI 2000 Vol 1, No 2: FEBRUARI 2000 Vol 13, No 4: Edisi Khusus Material untuk Kesehatan More Issue