cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Materi Indonesia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Sains Materi Indonesia (Indonesian Journal of Materials Science), diterbitkan oleh Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir - BATAN. Terbit pertama kali: Oktober 1999, frekuensi terbit: empat bulanan.
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1: OKTOBER 2003" : 20 Documents clear
PEMBUATAN MAGNET PERMANEN BARIUM HEKSAFERIT BERBAHAN BAKU MILL SCALE DENGAN TEKNIK METALURGI SERBUK Arie Fiandimas; Azwar Manaf
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 5, No 1: OKTOBER 2003
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1345.282 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2003.5.1.5206

Abstract

PEMBUATAN MAGNET PERMANEN BARIUM HEKSAFERIT BERBAHAN BAKU MILL SCALE DENGAN TEKNIK METALURGI SERBUK. Telah dilakukan pembuatan fasa magnetik BaO.6(Fe2O3) dari serbuk mill scale yang telah mengalami proses oksidasi dan serbuk BaCO3 melalui teknik powder metallurgy. Berdasarkan pengukuran XRD, mill scale terdiri dari fasa Fe2O3 dan Fe3O4 setelah oksidasi pada suhu 900 °C selama l jam, mill scale menjadi material fasa tunggal Fe2O3 menjadikan material ini sebagai salah satu komponen penyusun senyawa magnetik BaO.6(Fe2O3) untuk pembuatan magnet permanen barium heksaferit. Penghalusan serbuk mill scale dilakukan dengan ball mill. Ditemukan bahwa lama waktu milling l0 jam menghasilkan distribusi ukuran serbuk yang cukup baik < l mm dengan nilai rata-rata ~O,5 μm mendekati ukuran partikcl berdomain tunggal (0,49 μm) BaO.6(Fe2O3). Densitas magnet permanen tertinggi yang dicapai melalui tahapan sintering hanya ~78 % dinilai masih terlalu rendah untuk menjadikan sampel sebagai magnet permanen yang baik. Berdasarkan pengukuran magnetisasi sisa (remanen), nilai terukur hanya ~0,4 kG jauh lebih rendah dengan nilai sekarang yaitu l,8 kG. Disimpulkan bahwa meskipun telah berhasil terbentuk fasa magnetik BaO.6(Fe2O3), namun, disebabkan porositas yang relatif tinggi, nilai remanen terukur dari sampel hanya 22 % dari nilai ekspektasi.
STUDI ORIENTASI MOMEN MAGNETIK ION Fe PADA SUHU 10K SENYAWA ErFe6Sn6 MENGGUNAKAN TEKNIK DIFRAKSI NEUTRON Suharyana Suharyana
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 5, No 1: OKTOBER 2003
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.079 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2003.5.1.5212

Abstract

STUDI ORIENTASI MOMEN MAGNETIK ION Fe PADA SUHU 10K SENYAWA ErFe6Sn6 MENGGUNAKAN TEKNIK DIFRAKSI NEUTRON. Teknik difraksi neutron telah digunakan untuk menetukan posisi atom di dalam sel satuan serta orientasi momen magnetik ion Fe senyawa ErFe6Sn6 pada suhu l0 K. Pola difraksi neutron dianalisis menggunakan metode Rietveld GSAS. Hasil analisis menunjukkan bahwa senyawa ErFe6Sn6 memiliki struktur kristal ortorombik dengan grup ruang Cmcm tipe ErFe6Sn6. Orientasi momen magnetik subkisi Fe bersifat antiferomagnetik mengarah ke sumbu a kristal ortorombik dengan grup ruang magnetik Cpmcccmc. Semua ion Fe memiliki momen magnetik sebesar (2,3±0,2)mB.
SINTESIS BAHAN MAGNET BARIUM HEXAFERRITE MEMANFAATKAN SUMBER DAYA ALAM LOKAL Ridwan Ridwan; Grace Tj. Sulungbudi; Mujamilah Mujamilah
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 5, No 1: OKTOBER 2003
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (829.879 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2003.5.1.5202

Abstract

SINTESIS BAHAN MAGNET BARIUM HEXAFERRITE MEMANFAATKAN SUMBER DAYA ALAM LOKAL. Bahan Magnet Barium Hexaferrite, BaO.6Fe2O3 telah berhasil disintesis dengan metode metalurgi serbuk memanfaatkan sumber daya lokal baik yang berasal dari limbah pabrik baja (HSM, CRM), limbah pabrik polimer (LK) dan pasir besi (PBA). Limbah-maupun pasir besi adalah sumber utama oksida besi, Fe2O3. Barium oksida yang digunakan dalam penelitian ini berasal BaCO3 produk Merck, dan BaSO4 yang dijual bebas sebagai barite. ldentifikasi fasa menggunakan teknik difraksi sinar-x menunjukkan bahwalbahan magnet hasil sintesis telah sesuai dengan bahan magnet produk komersial (SUMI). Energy Product Maximum (BH)maks hasil pengukuran dengan Vibrating Sample Magnetometer (VSM), untuk cuplikan berbahan dasar HSM—, CRM- dan BaCO3 adalah 1,141 MGOe dan 1,136 MGOe sedangkan SUM]adalah 1,142 MGOe. Namun demikian untuk bahan terbuat dari LK-, PBA- menggunakan BaC03 ataupun CRM- dengan barite, (BH)maks yang diperoleh relatif lebih rendah daripada produk komersial.
PEMANTULAN DAN PEMBIASAN GELOMBANG ELEKTROMAGNET HARMONIK PERTAMA (FHEM) TERPOLARISASI-S DI BIDANG BATAS BAWAH BAHAN ANTIFEROMAGNETIK FeF2 PADA KONFIGURASI VOIGT Taufik Nurrohman; Roniyus M. S.
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 5, No 1: OKTOBER 2003
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.352 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2003.5.1.5217

Abstract

PEMANTULAN DAN PEMBIASAN GELOMBANG ELEKTROMAGNET HARMONIK PERTAMA (FHEM) TERPOLARISASI-S DI BIDANG BATAS BAWAH BAHAN ANTIFEROMAGNETIK FeF2 PADA KONFIGURASI VOIGT. Telah dilakukan analisis teoretis mengenai pemantulan dan pembiasan gelombang elektromagnet harmonik pertama (FHEM) terpolarisasi-s di bidang batas bawah bahan antiferomagnetik FeF2 pada konfigurasi Voigt. Dari penelitian ini didapatkan informasi bahwa reflektansi (R) dan transmitansi (T) gelombang elektromagnet harmonik pertama di bidang batas bawah memiliki sifat tak resiprokal terhadap perubahan tanda HO (medan magnet konstan terpasang dari luar) maupun terhadap perubahan tanda sudut Φ(sudut tiba gelombang datang), sama seperti sifat-sifat yang diperoleh di bidang batas atas. Selain itu diperoleh juga relasi V1(Ho) = V2(-Ho) dan V1(Φ) = V2(-Φ) dengan V1 dan V2 berturut-turut adalah R dan T di bidang batas atas dan bidang bawah.
PRODUKSI HEMATIT (α-Fe2O3) DARI PASIR BESI: PEMANFAATAN POTENSI ALAM SEBAGAI BAHAN INDUSTRI BERBASIS SIFAT KEMAGNETAN Agus Yulianto; Satria Bijaksana; Waloejo Loeksmanto; Daniel Kurnia
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 5, No 1: OKTOBER 2003
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (718.079 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2003.5.1.5208

Abstract

PRODUKSI HEMATIT (α-Fe2O3) DARI PASIR BESI: PEMANFAATAN POTENSI ALAM SEBAGAI BAHAN INDUSTRI BERBASIS SIFAT KEMAGNETAN. Dalam rangka meningkatkan nilai ekonomis pasir besi, kami telah melakukan pengolahan mineral magnetit (Fe3O4) yang diambil dari pasir besi menjadi mineral hematit (α-Fe2O3) melalui proses oksidasi. Mineral magnetit dipisahkan dari pasir besi yang diambil dari suatu lokasi di pesisir utara Jawa Tengah melalui proses ekstraksi, penghalusan dan pemisahan sehingga diperoleh dengan kemurnian yang tinggi. Magnetit yang dimurnikan tersebut kemudian dioksidasi pada suhu 500°C, 600°C dan 700°C, masing-masing selama 15 jam. Hasil oksidasi mempunyai penampakan fisika yang berbeda dan nilai susceptibility magnetik yang lebih kecil dibanding mineral magnetit asalnya. Semakin tinggi suhu oksidasi semakin mirip warnanya dengan diperoleh dengan mineral hematit yang dihasilkan oleh industri. Nilai susceptibility magnetik juga menurun dengan semakin tingginya suhu oksidasi. Analisis fotomineralogi menunjukkan bahwa kandungan hematit meningkat dari ll% pada suhu oksidasi 500°C, menjadi sekitar 99% pada 700°C. Analisis dengan metode difraksi sinar-X memperlihatkan bahwa puncak-puncak intensitas magnetit yang semula mendominasi pada bahan awal secara bertahap diganti dengan puncak-puncak hematit pada sampel-sampel hasil oksidasi
NOVEL MAGNETISM IN SPIN GAP SYSTEM Hidekazu TANAKA
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 5, No 1: OKTOBER 2003
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.212 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2003.5.1.5198

Abstract

Most of magnetic properties of conventional magnets can be understood in terms of the classical vector spin model. However, recent development of new quantum magnets and high-field experiments at low temperatures revealed that some systems exhibit many- body effects characteristic of quantum particle system. Such behavior can be observed in spin dimer system, where pairs of ions with spin S=l/2 are coupled antiferromagnetically to form non magnetic singlet state at low temperatures.
PEMBUATAN MAGNET BARIUM HEKSAFERIT ANISOTROP Novrita Idayanti; Dedi Dedi
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 5, No 1: OKTOBER 2003
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.31 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2003.5.1.5203

Abstract

PEMBUATAN MAGNET BARIUM HEKSAFERIT ANISOTROP. Barium Heksaferit (BaFe12O19) merupakan bahan keramik dan material magnet yang biasanya digunakan untuk pembuatan magnet permanen. Pada penelitian dilakukan pembuatan magnet Barium Heksaferit yang Anisotrop, dan dapat diaplikasikan untuk loudspeaker, motor-motor listrik, dinamo dan KWH meter. Magnet ini sangat banyak digunakan karena mempunyai lnduksi Remanen (Br) dan koersifitas (Hc) yang tinggi. Selain itu teknologi proses yang digunakan lebih sederhana dan mudah, bahan baku murah dan mudah didapat, sehingga komponen magnet yang dihasilkan jauh lebih murah. Teknologi proses yang digunakan adalah Metalurgi Serbuk, yaitu mereaksikan semua bahan dalam bentuk serbuk (oksida) dengan distribusi ukuran tertentu, dan melalui tahapan preparasi yang cukup ketat. Tahap selanjutnya adalah pencampuran bahan baku berupa ferit dan barium karbonat dalam bentuk oksida, yang kemudian dikalsinasi, kompaksi sambil diarahkan (anisotrop), sintering dan karakterisaSi. Tujuan Anisotrop adalah untuk mensejajarkan arah partikel, sehingga magnet yang dihasilkan akan memiliki nilai lnduksi Remanen (Br) dan koersifitas (Hc) yang tinggi. Semua tahapan proses ini akan sangat menentukan karakteristik fisik maupun kimianya. Karakteristik magnet terbaik yang dihasilkan dari penelitian ini adalah : nilai lnduksi Remanen (Br) = 4,27 kG koersivitas (He) = 1,745 kOe dan BHmaks = 2,3l MGOe.
PENGGUNAAN SENSOR FLUXGATE HARMONISA KEDUA UNTUK MENGUKUR MEDAN MAGNETIK SEARAH DUA DIMENSI Ivan Limansyah; Mitra Djamal
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 5, No 1: OKTOBER 2003
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.603 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2003.5.1.5218

Abstract

PENGGUNAAN SENSOR FLUXGATE HARMONISA KEDUA UNTUK MENGUKUR MEDAN MAGNETIK SEARAH DUA DIMENSI. Sensor medan magnetik fluxgate merupakan solusi dalam pengukuran medan magnetik searah yang besarnya relatif kecil yang murah, akurat dan sederhana. Dengan menambahkan sedikit pengembangan maka sensor ini dapat digunakan untuk mengukur besar dan arah medan magnetik luar. Dengan menambahkan kumparan pendeteksi yang memiliki arah tegak lurus dengan kumparan pendeteksi semula maka dapat dibuat sensor medan magnetik fluxgate yang dapat mengukur medan dalam arah dua dimensi.
STUDI KARAKTERISTIK KURVA HISTERISIS SUPERKONDUKTOR YBa2Cu3O7-x Wisnu Ari Adi; Engkir Sukirman; Didin S. Winatapura; Setyo Purwanto; Yasuo Yamaguchi
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 5, No 1: OKTOBER 2003
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1397.947 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2003.5.1.5209

Abstract

STUDI KARAKTERISTIK KURVA HISTERISIS SUPERKONDUKTOR YBa2Cu3O7-x. Telah dilakukan pengukuran momen magnetik bahan (m) sebagai fungsi suhu (T) dan medan magnet luar (H) dengan menggunakan superconducting quantum interference device magnetometer (SQUID) pada superkonduktor YBa2Cu3O7-x. Sampel yang diukur terdiri dari pellet hasil sintering dan pelelehan. Kurva m—T digunakan untuk menentukan suhu transisi kritis (Tc), sedangkan kurva m-H digunakan untuk menentukan medan kritis bawah (Hc1), medan kritis atas (Hc2), rapat arus kritis (Jc), dan gaya pinning (Fp). Dari hasil analisis kedua kurva tersebut diperoleh estimasi Tc adalah 90,16 K dan 90,15 K yang berturut-turut untuk sampel hasil sintering dan pelelehan. Hc dan Hc, kedua sampel berturut-turut adalah l kOe dan 20 kOe. Jc (H= 0) adalah 1,88 x 102 A cm-2 ;2,80 x 104 A.m-2 2,02 x 103 A.m-2;dan 5,70 x 105 A cm-2 yang berturut-turut untuk sampel YS-2 (T= 77 K), YS-2 (T= 5 K), YM-2 (T= 77 K) dan YM-2 (T= 5 K) Dan Fp maksimum adalah 5,8 x 105 Nm-3 (H = 17 kOe); 2,1 x 108 Nm-3 (H = 17 kOe); 5,1 x 106 Nm-3 (H = l4 kOe); dan 8,3 x 109 Nm-3 (H = 14 kOe) yang berturut-turut untuk sampel YS-Z (T = 77 K), YS-Z (T = 5 K), YM-2 (T= 77 K), dan YM-2 (T= 5 K).
AMORPHOUS AND NANOCRYSTALLINE MATERIALS FOR APPLICATIONS AS HARD AND SOFT MAGNETS Reiko Sato; Roland Grfissinger
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 5, No 1: OKTOBER 2003
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (758.685 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2003.5.1.5199

Abstract

In the last years great effort was made to improve the magnetic properties of hard and soft magnetic materials. Permanent magnets based on Nd-Fe-B with an energy product of45 1k J/m3 were recently reported Any significant further improvement needs a new compound with a higher saturation magnetization.

Page 2 of 2 | Total Record : 20


Filter by Year

2003 2003


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1: OCTOBER 2022 Vol 23, No 2: APRIL 2022 Vol 23, No 1: OCTOBER 2021 Vol 22, No 2: APRIL 2021 Vol 22, No 1: OCTOBER 2020 Vol 21, No 4: JULY 2020 Vol 21, No 3: APRIL 2020 Vol 21, No 2: JANUARY 2020 Vol 21, No 1: OCTOBER 2019 Vol 20, No 4: JULY 2019 Vol 20, No 3: APRIL 2019 Vol 20, No 2: JANUARY 2019 Vol 20, No 1: OCTOBER 2018 Vol 19, No 4: JULI 2018 Vol 19, No 3: APRIL 2018 Vol 19, No 2: JANUARI 2018 Vol 19, No 1: OKTOBER 2017 Vol 18, No 4: JULI 2017 Vol 18, No 3: APRIL 2017 Vol 18, No 2: JANUARI 2017 Vol 18, No 1: OKTOBER 2016 Vol 17, No 4: JULI 2016 Vol 17, No 3: APRIL 2016 Vol 17, No 2: JANUARI 2016 Vol 17, No 1: OKTOBER 2015 Vol 16, No 4: JULI 2015 Vol 16, No 3: APRIL 2015 Vol 16, No 2: JANUARI 2015 Vol 16, No 1: OKTOBER 2014 Vol 15, No 4: JULI 2014 Vol 15, No 3: APRIL 2014 Vol 15, No 2: JANUARI 2014 Vol 15, No 1: OKTOBER 2013 Vol 14, No 4: JULI 2013 Vol 14, No 3: APRIL 2013 Vol 14, No 2: JANUARI 2013 Vol 14, No 1: OKTOBER 2012 Vol 13, No 3: JUNI 2012 Vol 13, No 2: FEBRUARI 2012 VOL 13, NO 1: OKTOBER 2011 Vol 12, No 3: JUNI 2011 Vol 12, No 2: FEBRUARI 2011 Vol 12, No 1: OKTOBER 2010 Vol 11, No 2: FEBRUARI 2010 Vol 11, No 1: OKTOBER 2009 Vol 10, No 1: OKTOBER 2008 Vol 9, No 3: JUNI 2008 Vol 9, No 2: FEBRUARI 2008 Vol 9, No 1: OKTOBER 2007 Vol 8, No 3: JUNI 2007 Vol 8, No 2: FEBRUARI 2007 EDISI KHUSUS: OKTOBER 2007 Vol 8, No 1: OKTOBER 2006 Vol 7, No 3: JUNI 2006 Vol 7, No 2: FEBRUARI 2006 EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006 Vol 7, No 1: OKTOBER 2005 Vol 6, No 3: JUNI 2005 Vol 6, No 2: FEBRUARI 2005 Vol 6, No 1: OKTOBER 2004 Vol 5, No 3: JUNI 2004 Vol 5, No 2: FEBRUARI 2004 Vol 5, No 1: OKTOBER 2003 Vol 4, No 3: JUNI 2003 Vol 4, No 2: FEBRUARI 2003 Vol 4, No 1: OKTOBER 2002 Vol 3, No 3: JUNI 2002 Vol 3, No 2: FEBRUARI 2002 Vol 3, No 1: OKTOBER 2001 Vol 2, No 3: JUNI 2001 Vol 2, No 2: FEBRUARI 2001 Vol 2, No 1: OKTOBER 2000 Vol 1, No 3: JUNI 2000 Vol 1, No 2: FEBRUARI 2000 Vol 13, No 4: Edisi Khusus Material untuk Kesehatan More Issue