cover
Contact Name
PAIR BATAN
Contact Email
pair@batan.go.id
Phone
-
Journal Mail Official
pair@batan.go.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop Radiasi
ISSN : 19070322     EISSN : 25276433     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi terbit dua kali setahun setiap Bulan Juni dan Desember. Penerbit khusus dilakukan bila diperlukan
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2006): Juni 2006" : 5 Documents clear
PELUANG MUTASI INDUKSI PADA UPAYA PEMECAHAN HAMBATAN PENINGKATAN PRODUKSI PADI Sobrizal .; Moch. Ismachin
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 2, No 1 (2006): Juni 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.274 KB) | DOI: 10.17146/jair.2006.2.1.564

Abstract

Pada World Rice Research Conference yang diselenggarakan di Tsukuba, Jepang, 4-7 November 2004, ramai dibicarakan mengenai upaya peningkatan produksi padi. Umumnya para pemuliasepakat bahwa potensi produksi varietas padi sampai sekarang belum berhasil ditingkatkan secara nyata sejak dilepasnya varietas IR8. Pembentukan varietas baru hanya mampu mempertahankan potensi IR8 dengan memperbaiki umur, dan daya adaptasinya terhadap stres lingkungan. Peningkatan produksi padi bagi para pemulia adalah peningkatan potensi produksi dari suatu varietas. Ada dua pendekatan yangmeskipun sudah cukup lama dilaksanakan, tetapi masih tetap belum mencapai sasaran yang diinginkan. Kedua pendekatan tersebut adalah pembuatan padi hibrida dan pembuatan padi tipe baru (new plant ideotype). Kedua pendekatan ini merupakanpendekatan utama saat ini yang dipandang mampu untuk meningkatkan potensi produksi varietas padi. Ide pembuatan padi hibrida muncul terdorong oleh keberhasilan tanaman hibrida jagung, sorghum, dan bawang merah dalam meningkatkan produksi. Di antara beberapa negara yang melakukan penelitiantentang padi hibrida, ternyata Cina yang lebih dahulu berhasil membuat varietas padi hibrida, dan telah ditanam secara luas sampai sekarang. Keberhasilan Cina tersebut telah memicu negara lain, termasuk Indonesia, untuk membuat padi hibrida. Sampai saat ini, Indonesia sudah melepas 11 varietas padi hibrida. Idepembuatan padi tipe baru muncul dari kajian terhadap koleksi varietas padi yang ada dewasa ini yang mempunyai berbagai sifat yang bila digabungkan idealnya akan menjadi padi tipe baru. Sayang kedua cara pendekatan yang secara teori bisa diujudkan, masih ada hambatan, sehingga sampai sekarang sasaran kegiatannya belum sepenuhnya dapat dicapai. Dalam tulisan ini dibahas seberapa besar peluang mutasi induksi dapat menyumbang pada keberhasilan kedua cara pendekatan tersebut.
PERTUMBUHAN KHAMIR PADA TAPIOKA IRADIASI Irawan Sugoro; M. R. Pikoli
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 2, No 1 (2006): Juni 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.351 KB) | DOI: 10.17146/jair.2006.2.1.560

Abstract

Tapioka dapat digunakan sebagai medium pertumbuhan isolat khamir karena mengandung karbohidrat tinggi. Sterilisasi dengan iradiasi sinar gamma menghasilkan senyawa senyawayang lebih sederhana dan bersifat toksik. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh dosis iradiasi terhadap sifat fisik dan kimia serta pertumbuhan isolat khamir R1 dan R2 serta isolat mutan R110 dan R210. Dosis yang digunakan adalah 10, 20, dan 30 kGy. Hasil percobaan menunjukkan bahwa terjadiperubahan warna yang semakin gelap dan granula pati semakin kecil sebanding dengan meningkatnya dosis, sedangkan secara kimia terjadi penurunan pH dan kelarutan serta peningkatan kadar glukosa. Tapioka iradiasi tidak mempengaruhi pertumbuhan khamir dengan tidak terbentuknya zona hambat, sedangkan pertumbuhan isolat khamir dalam medium cair tapioka 1 % menunjukkan hasil yang berfluktuasi dan umumnya memiliki dua pola pertumbuhan
PENGARUH INFEKSI Fasciola gigantica (CACING HATI) IRADIASI TERHADAP GAMBARAN DARAH KAMBING (Capra hircus LINN.) Boky Jeane Tuasikal; Suhardono .; Muchson Arifin; Yusneti .; Dinardi .
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 2, No 1 (2006): Juni 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.644 KB) | DOI: 10.17146/jair.2006.2.1.561

Abstract

Penelitian dilaksanakan dengan tujuan untuk melihat pengaruh infeksi Fasciola gigantica yang diiradiasi menggunakan 60Co terhadap gambaran darah kambing. Dua puluh ekor kambing kacang (Capra hircus Linn.), jantan, berumur antara 10-12 bulandengan berat badan sekitar 15-20 kg digunakan sebagai hewan percobaan. Hewanhewan tersebut dibagi kedalam lima kelompok perlakuan, masing-masing terdiri dari empat ekor. Tiga kelompok hewan masing-masing diinfeksi dengan metaserkaria Fasciola gigantica iradiasi dengan dosis 45, 55 dan 65 Gy. Dua kelompok hewan digunakan sebagai kelompok kontrol positif dan kelompok kontrol negatif. Dosis infeksi adalah 350 metaserkaria peroral untuk tiap ekor. Pengamatan dilakukan tiap minggu terhadap parameter bobot badan, jumlah eosinofil darah, nilai hematokrit(PCV) dan kadar hemoglobin (Hb). Penelitian ini menunjukkan bahwa iradiasi dapatmenurunkan infektivitas Fasciola gigantica. Dari seluruh parameter yang diamati, antara kelompok kontrol negatif dan kelompok iradiasi tidak menunjukkan perbedaan yang berarti (p>0,05).
REPRODUCTIVE DISORDER STUDIES USING RADIOIMMUNOASSAY (RIA) PROGESTERONE ON DAIRY CATTLE Totti Tjiptosumirat; Bokky Jeane Tuasikal; Nuniek Lelananingtyas
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 2, No 1 (2006): Juni 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.195 KB) | DOI: 10.17146/jair.2006.2.1.563

Abstract

Two intensive systems of husbandry practices, Garut West Java and Yogyakarta Central Java, were chosen for this study. Both areas have been voluntarily made into a pilot farm for theapplication of RIA progesterone to improve reproductive performance. Five dairy cattle from Garut West Java, which according to Health Extension and Artificial Insemination Technicians anamneses and according to farmers who own the animal, were showing reproductive failure and were selected from those cattle for the study. Other fifteen dairy cattle from Yogyakarta area, with anamneses of having low reproductive performance, were also selected for this study. Milk progesteronesample were collected twice a week for five consecutive weeks period of time to follow the biological reproductive status of every animal, while samples from dairy cattle at Yogyakarta were collected three times post Artificial Insemination (AI) services, as according to Artificial Insemination Database Application (AIDA) procedure, to monitor the failure of AI, success rate of AI, and ovarian activities of the cattle. Result of the study in Garut shows that RIA progesterone indicates that animals need special treatments and most AI failed due to lack of historical information of the dairy cows. RIA progesterone leads to a suggestion that it can be use as a tool to monitor the reproductive disorder, as the recommendation made for those cows to anticipate reproductive disorder overcome the problems. Similar result found in Yogyakarta, which almost 50% of the observed animals failed to AIdue to miss-estrus detection. Furthermore, from the RIA for milk progesterone, information of the reproductive disorder figures can be drawn and early suggestion could be made to anticipate losses. Overall, beside the reproductive historical record, RIA progesterone is important tool to be applied in the animal husbandry system in Indonesia as to improve the herd productivity and has an economical value to reduce operational cost at waiting period for feeding animal up to INS Rp 224,000 — 336,000 per head animal.
TANGGAP KEBAL SAPI TERHADAP FASCIOLOSIS AKIBAT INOKULASI METASERKARIA Fasciola gigantica IRADIASI Muchson Arifin
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 2, No 1 (2006): Juni 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2006.2.1.562

Abstract

Suatu percobaantelah dilakukan untuk mempelajari tanggap kebal sapi terhadap fasciolosis setelah mendapatkan inokulasi metaserkaria F. gigantica iradiasi. Digunakan empat kelompok sapi dengan perlakuan sebagai berikut: kelompok pertama (Vp) diinoklasi dengan metaserkaria infektif sebagai kontrol positif, kelompok ke dua (Vi) diinokulasi satu kali dengan metaserkaria iradiasi dan diberi tantangan metaserkaria infektif dengan interval waktu masing-masing 3 (tiga) minggu, kelompok ke tiga (Vii) diinokulasi dua kali dengan metaserkaria iradiasi dan diberi tantangan metaserkaria infektif dengan interval waktu masing-masing 3 (tiga) minggu, kelompok ke empat (Vn) tanpa inokulasi metaserkaria sebagai kontrol negatif. Dosis iradiasi yang digunakan adalah 45 Gy, sedangkan dosis inokulasi untuk semua kelompok adalah 700 metaserkaria F. gigantica per ekor sapi. Tanggap kebal yang terjadi diamati dengan melihat pertambahan bobot badan, jumlah sel darah merah (RBC), jumlah sel darah putih (WBC), kadar haemoglobin (Hb), persentase PCV (Packed cellvolume), persentase jumlah sel eosinofil, uji serologis secara ELISA, kondisi patologis anatomi hati, dan perkembangan cacing hati. Rataan pertambahan bobot badan yang diperoleh dari setiap pengukuran adalah Vp = 6 kg, Vi = 9 kg, Vii = 9 kg dan Vn = 10 kg. Hati tidak mengalami perubahan baik untuk Vi, Vii maupunVn, sedangkan Vp hatinya mengalami perubahan patologi yang serius. Cacing dewasa negatif pada Vi, Vii dan Vn, sedang Vp banyak ditemukan cacing dewasa. Hasil ini menunjukkan bahwa inokulasi metaserkaria F. gigantica memberikan perlindungan yang cukup baik terhadap tantangan yang diberikan pada sapi.

Page 1 of 1 | Total Record : 5