cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Urania Jurnal Ilmiah Daur Bahan Bakar Nuklir
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Ilmiah Daur Bahan Bakar Nuklir URANIA adalah wahana informasi tentang daur bagan bakar nuklir yang berisi hasil penelitian, pengembangan dan tulisan ilmiah terkait. terbitan pertama kali pada tahun 1995 dengan frekuensi terbit sebanyak empat kali dalam setahun yakni pada bulan Januari, April, Juli dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 288 Documents
PENGGUNAAN PEREAKSI XYLENOL ORANGE DALAM ANALISIS MOLYBDENUM MENGGUNAKAN METODE SPEKTROPHOTOMETRI Yusuf Nampira; Dian Anggraini
Urania : Jurnal Ilmiah Daur Bahan Bakar Nuklir Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : website

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/urania.2012.18.2.640

Abstract

ABSTRAK Penggunaan pereaksi xylenol orange  dalam analisis kandungan molybdenum   telah dipelajari dengan menggunakan metode spektropotometri. Tujuan kegiatan ini adalah untuk  mengetahui kemampuan xylenol orange  dalam membentuk senyawa komplek molybdenum-xylenol orange sehingga senyawa komplek  tersebut dapat    digunakan untuk menganalisis unsur Mo.  Pada penelitian ini dipelajari beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan senyawa komplek tersebut, antara lain adalah  pH, waktu, perbandingan mol xylenol orange  serta jumlah  kandungan molybdenum. Bahan yang digunakan adalah ammonium molybdat (NH4)6Mo7O24.4H2O, larutan xylenol orange dengan konsentrasi 0,5% dan larutan buffer dengan  pH  (1,5).  Hasil pengukuran menunjukkan bahwa kompleks xylenol orange molybdenum memberikan puncak spektrum absorbansi maksimum pada panjang gelombang 563,6 nm. Absorbansi maksimun tercapai pada perbandingan mol Mo dan xylenol orange 1:2.   Konsentrasi Mo yang mengikuti hukum Lambert Beer berada dalam kisaran mulai dari 2 ppm sampai dengan 4 ppm. Kestabilan senyawa komplek molybdenum – xylenol orange sangat  singkat  yaitu lebih kecil dari  5 menit. Data pengukuran ini selanjutnya dapat digunakan sebagai parameter kerja dalam penentuan unsur Mo dengan metode spectrophotometer UV-VIS.   Kata kunci: Analisis molybdenum, xylenol orange, metode spektropothometri. ABSTARCT The use of  xylenol orange  (XO) reagent in Molybdenum (Mo) analysis. The use of  xylenol orange (XO) reagent  in the analysis of Molybdenum (Mo) by spectrophotometry have been studied. The aim of this activity  is to study the ability of xylenol orange to form a compound of molybdenum-xylenol orange complex to be analyzed by spectrophotometry. Some factors influencing the forming of the complex compound, for instance pH, time, comparison of XO/MO and the amount of Mo, are also studied. The materials used in this research includes ammonium molybdat (NH4)6MO7O24.4H2O), 0,5% xylenol orange and buffer solution (pH 1,5). Measurement result indicates that molybdenum content can be determined by spectrophotometry  method at a wavelength of 563,6 nm. The maximum  absorbance reached at a ratio of Molybdenum/Xylenol orange 1:2. The concentration of Mo was determined by using law of Lambbert Beer, which stayed in the range of 2 ppm to 4 ppm. The stability of complex  compound of molybdenum  xylenol orange was shorter than 5 minutes. This measurement result can be used as a parameter in the determination of Mo element with UV-VIS spectrophotometer.   Keywords: molybdenum analysis, xylenol orange, spectrophotometry.
ANALISIS DEPOSISI RADIONUKLIDA PEMANCAR ALFA PADA SALURAN PERNAFASAN MELALUI PROSES INHALASI DALAM KONDISI SISTEM TATA UDARA YANG BERBEDA DI INSTALASI RADIOMETALURGI Eko Pudjadi; Budi Prayitno; Sri Wahyuningsih
Urania : Jurnal Ilmiah Daur Bahan Bakar Nuklir Vol 15, No 2 (2009): April 2009
Publisher : website

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/urania.2009.15.2.2595

Abstract

ABSTRAK ANALISIS DEPOSISI RADIONUKLIDA PEMANCAR ALFA PADA SALURAN PERNAFASAN MELALUI PROSES INHALASI DALAM KONDISI SISTEM TATA UDARA YANG BERBEDA DI INSTALASI RADIOMETALURGI. Telah dilakukan analisis deposisi radionuklida gros alfa dalam saluran perrnafasan pekerja melalui proses inhalasi. Analisis ini bertujuan untuk melihat seberapa besar konsentrasi radionuklida gros alfa yang terhirup oleh pekerja dibandingkan dengan batasan yang direkomendasikan oleh IAEA. Metode yang digunakan adalah menggunakan pendekatan model biokinetika sistem pernafasan manusia sesuai ICRP Publikasi 66/1994 yang diekstrapolasi dari pengukuran konsentrasi radioaktifitas radionuklida pemancar alfa di udara. Pengukuran radionuklida pemancar alfa di udara dilakukan di operating area dan service area Instalasi Radiometalurgi (IRM). Hasil perhitungan menunjukkan bahwa aktifitas radionuklida pemancar a di paru-paru untuk orang yang bekerja selama 4 jam per hari di operating area berturut-turut sebesar 1.232 Bq, 3.988 Bq dan 38.917 Bq per hari dalam kondisi VAC normal, VAC Off 8 jam dan VAC Off 51 jam. Sedangkan untuk service area, aktifitas radionuklida pemancar a di paru-paru berturut-turut menunjukkan 1.577 Bq, 3.756 Bq dan 36.561 Bq per hari. Aktifitas radionuklida pemancar a di paru-paru dalam kondisi VAC Off 51 jam harus menjadi perhatian khusus karena aktifitas yang masih terdeposit selama 16 jam setelah mengalami proses clearance oleh jaringan paru-paru masih di atas batasan turunan yang diijinkan.   Kata kunci: Aerosol, diameter partikel, radiasi interna, proses inhalasi dan  model biokinetika.   ABSTRACT ANALYSIS OF ALFA EMITTED RADIONUCLIDE DEPOSITION AT RESPIRATORY TRACT VIA INHALATION PROCESS UNDER DIFFERENCE AIR-VENTILATION SYSTEM AT RADIOMETALLURGY INTALLATION. Analysis of alfa gross radionuclide deposition in RMI worker respiratory tract has been done. The objective is proposed to examine widely level of alfa gross radionuclide inhaled if compared it to the IAEA recommendation. Analysis method used biokinetic modeling for human respiratory tract according ICRP Publication No. 66/ 1994. This calculation was extrapolated from measurement of indoor air alfa radioactivity. Indoor air alfa gross radionuclide activity was measured at operating area and service area in Radiometallurgy Installation (RMI). The calculation results showed that a gross radionuclide activity in lung for worker during 4 hours per day in operating area was 1.232 Bq, 3.988 Bq and 38.917 Bq per day for condition of VAC normal, VAC Off 8 hours and VAC Off 51 hours respectively. Calculation of service area showed that a gross radionuclide activity in the lung was 1.577 Bq, 3.756 Bq and 36.561 Bq per day respectively for the three different VAC condition. a radionuclide activity in the lung for VAC Off 51 hours condition must be noticed because deposited activity during 16 hours after clearance process by lung tissue still higher than permissible derived limit. Keywords: Aerosol, particle size, internal radiation, inhalation process and  biokinetic model.
PENGARUH TEMPERATUR TERHADAP SIFAT BAHAN PADUAN ALUMINIUM FERO NIKEL Maman Kartaman; M.Husna Al Hasa; Ahmad Paid
Urania : Jurnal Ilmiah Daur Bahan Bakar Nuklir Vol 19, No 2 (2013): JUNI 2013
Publisher : website

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/urania.2013.19.2.1785

Abstract

ABSTRAK PENGARUH TEMPERATUR TERHADAP SIFAT BAHAN PADUAN ALUMINIUM FERO NIKEL. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh temperatur terhadap struktur fasa, sifat kekerasan paduan aluminium sebagai cladding bahan bakar. Paduan aluminium AlFeNi hasil sintesis dengan kadar 1%Fe dan 1%Ni dikenai pemanasan pada temperatur450 oC, 500 oC dan 550 oC.Pemanasan pada temperatur tersebut dapat berdampak terhadap perubahan struktur fasa, sifat kekerasan dan termal.  Pengujian sifat kekerasan paduan AlFeNi dilakukan dengan menggunakan  metoda Vicker.  Analisis struktur fasa dilakukan berdasarkan pola difraksi sinar x dan diagram fasa. Pengamatan mikrostruktur dilakukan dengan metalografik-optikal dan scanning electron microscope,SEM.Analisis unsur senyawa fasa diamati dengan electron dispersif x-ray spectrophotometer,EDS. Hasil pengukuran sifat kekerasan menunjukkan paduan AlFeNi dengan pemanasan pada 450 oC, 500 oC dan 550 oC masing-masing berkisar 45 HV, 45 HV dan 35 HV. Sifat kekerasan paduan AlFeNi dengan unsur pemadu 1%Fe dan 1%Ni menunjukkan relatif stabil hingga pada temperatur 500 oC dan cenderung menurun pada 550 oC. Hasil analis pola difraksi menunjukkan hanya terjadi pembentukan satu buah fasa pada temperatur 450 oC dan 500 oC. Pola difraksi sinar x memperlihatkan kecenderungan pembentukan fasa q (FeAl3) pada temperatur 450 oC dan 500 oC, sedangkan  pada temperatur 550 oC hanya teridentifikasi fasa a(Al). Hasil pengamatan metalografik-optikal memperlihatkan mikrostruktur paduan mengalami perubahan seiring dengan meningkatnya temperatur pemanasan terutama pada temperatur 550 oC. Mikrostruktur hasil pengamatan SEM memperlihatkan struktur butir berbentuk granular dan pada batas butir berbentuk serat-jarum yang tumbuh memanjang. Hasil analisis EDS mengidentifikasikan pada daerah batas butir terkandung unsur senyawa logam Al, Fe dan Ni yang berpotensi membentuk senyawa fasa logam, seperti fasa q. Kata kunci:paduan aluminium, Cladding, elemen bakar nuklir, temperatur. ABSTRACT EFFECT OF HEAT TREATMENT ON THE PROPERTIES OF ALUMINUM FERRO NICKELALLOY. This study is aimed to determine the effect of temperature on the phase structure and hardness properties of aluminum alloy as nuclear fuel cladding. The AlFeNi aluminum alloy that was synthesized with Fe content of 1% and  Ni content of 1% was heat treated at a temperature of 450 oC, 500oC and 550oC. Examination of AlFeNi alloy hardness was done by Vicker method. Phase structure analysis was performed by x-ray diffraction pattern and phase diagram. Microstructure examination was performed with optical and scanning electron microscope (SEM). Elemental analysis phase compounds were observed by electron dispersive x-ray spectrophotometer (EDS). The hardness test shows that the hardness of AlFeNi alloy over heating at 450oC, 500oC and 550oC is around 45 HV, 45 HV and 35 HV respectively. AlFeNi alloy hardness with alloying elements of 1% Fe and 1% Ni is found to be relatively stable at temperatures up to 500°C and the stability tends to decrease at 550oC. The diffraction pattern analysis indicates only the formation of a single phase at a temperature of 450oC and 500oC. The x-ray diffraction pattern shows that the phase formation has a tendency of q (FeAl3) at a temperature of 450oC and 500oC, while at 550oC only a (Al) phase is identified.  The metallographic-optical observation shows that the alloy microstructure changes with increasing heating temperature, particularly at 550oC. The SEM microstructure observation shows granular shaped grain structure and the grain boundary in the shape of fiber needles growing lengthwise. The EDS analysis indicates that the grain boundary region contains elements of Al, Fe and Ni, which have a potential to form metal phase compounds such as q phase. Keywords: aluminum alloy, cladding, nuclear fuel element, temperature.
Proses Ekstraksi-Stripping UO2(NO3)2 Berimpuritas Hasil Pelarutan Yellow Cake Muchsin, Anwar; Widodo, Ghaib
Urania : Jurnal Ilmiah Daur Bahan Bakar Nuklir Vol 23, No 1 (2017): Februari 2017
Publisher : website

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/urania.2017.23.1.3172

Abstract

Uranil nitrat/UO2(NO3)2  merupakan bahan dasar/umpan yang dipakai sebagai bahan bakar baik reaktor riset maupun reaktor daya. Proses ekstraksi-stripping  perlu dilakukan terhadap UO2(NO3)2, karena di dalam UO2(NO3)2 tersebut masih terdapat impuritas yang terikut selama berlangsungnya proses pelarutan Yellow Cake. Untuk mendapatkan larutan UO2(NO3)2 yang memenuhi persyaratan murni nuklir (nuclear grade), maka harus dilakukan proses pemurnian dengan ekstraksi-stripping menggunakan 3 (tiga) parameter yaitu laju alir umpan, keasaman umpan pada proses ekstraksi, dan keasaman pada proses stripping.  Mekanisme proses ekstraksi terjadi UO2(NO3)2 akan masuk ke fasa organik TBP, sedangkan impuritasnya berada dalam fasa air (rafinat). Uranium dalam fasa organik dilakukan proses stripping dengan menentukan keasaman (sebagai parameter), sehingga diperoleh larutan campuran UO2(NO3)2 murni nuklir (nuclear grade). Kondisi proses ekstraksi diperoleh laju air  umpan 15 L/jam, keasaman umpan pada proses ekstraksi sebesar ±3 M dan diperoleh kadar uranium sebesar  48.5365 gU/L, sedangkan proses stripping diperoleh UO2(NO3)2 sebesar  64,7860 gU/L pada keasaman 0,04 M. Kata Kunci: ekstraksi, stripping, laju alir umpan, perbandingan TBP/kerosin, keasaman.
Karakterisasi Paduan AlMgSi Untuk Kelongsong Bahan Bakar U3Si2/Al Dengan Densitas Uranium 5,2 gU/cm3 Ginting, Aslina Br.; Supardjo, Supardjo; Yanlinastuti, Yanlinastuti; Anggraini, Dian; Boybul, Boybul
Urania : Jurnal Ilmiah Daur Bahan Bakar Nuklir Vol 24, No 1 (2018): Februari, 2018
Publisher : website

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/urania.2018.24.1.4016

Abstract

Meningkatnya densitas uranium dari 2,96 gU/cm3 menjadi 5,2 gU/cm3 bahan bakar U3Si2/Al harus diikuti dengan penggunaan kelongsong yang kompatibel. Bahan bakar berdensitas tinggi mempunyai kekerasan yang tinggi, sehingga bila menggunakan paduan AlMg2 sebagai kelongsong dapat menyebabkan terjadi dogbone pada saat perolan. Selain fenomena dogbone, pada saat bahan bakar tersebut digunakan di reaktor dapat terjadi swelling karena meningkatnya hasil fisi maupun burn up. Oleh karena itu, perlu dicari pengganti bahan kelongsong untuk bahan bakar U3Si2/Al densitas tinggi. Pada penelitian ini telah dilakukan karakterisasi paduan AlMgSi sebagai kandidat pengganti kelongsong AlMg2. Karakterisasi yang dilakukan meliputi analisis termal, kekerasan, mikrostruktur dan laju korosi. Analisis termal dilakukan menggunakan DTA (Differential Thermal Analysis) dan DSC (Differential Scanning Calorimetry). Analisis kekerasan menggunakan alat uji kekerasan mikro, mikrostruktur menggunakan SEM (Scanning Electron Microscope) dan analisis laju korosi dilakukan dengan pemanasan pada temperatur 150 oC selama 77 jam di dalam autoclave. Hasil analisis menunjukkan bahwa kelongsong AlMgSi maupun AlMg2 mempunyai kompatibilitas panas dengan bahan bakar U3Si2/Al cukup stabil hingga temperatur 650 oC. Kelongsong AlMgSi mempunyai kekerasan sebesar 115 HVN dan kelongsong AlMg2 sebesar 70,1 HVN. Sementara itu, analisis mikrostruktur menunjukkan bahwa morfologi ikatan antarmuka (interface bonding) kelongsong AlMgSi lebih baik dari kelongsong AlMg2, demikian halnya dengan laju korosi bahwa kelongsong AlMgSi mempunyai laju korosi lebih kecil dibanding kelongsong AlMg2. Hasil karakterisasi termal, kekerasan, mikrostruktur dan laju korosi menunjukkan bahwa PEB U3Si2/Al densitas 5,2 gU/cm3 menggunakan kelongsong AlMgSi lebih baik dibanding PEB U3Si2/Al  densitas 5,2 gU/cm3  menggunakan kelongsong AlMg2.Kata kunci: U3Si2/Al, densitas 5,2 gU/cm3, kelongsong AlMgSi dan AlMg2.
REGANGAN KISI DAN UKURAN BUTIR ELEKTROLIT PADAT KOMPOSIT ALKALI-ALUMINA Yustinus Purwamargapratala; Safei Purnama
Urania : Jurnal Ilmiah Daur Bahan Bakar Nuklir Vol 16, No 2 (2010): April 2010
Publisher : website

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/urania.2010.16.2.2434

Abstract

ABSTRAK REGANGAN KISI DAN UKURAN BUTIR ELEKTROLIT PADAT KOMPOSIT  ALKALI-ALUMINA. Penelitian regangan kisi dan ukuran butir elektrolit padat  alkali-alumina telah dilakukan. Komposit alkali-alumina yang yang diteliti adalah alumina dengan penambahan bahan alkali Ba, Ca, Na, dan Li ke bahan alumina dan alumina tanpa penambahan alkali. Bahan aluminium hidroksida dan garam alkali nitrat dicampur dengan perbandingan mol 1:1 dalam larutan air, dilakukan evaporasi dan pirolisis pada temperatur 300 0C selama 1 jam. Hasil pirolisis dicampur alumina dengan perbandingan berat 1:1, dikompaksi, dan dipanaskan 600 0C selama 3 jam. Karakterisasi hasil sintesa digunakan dengan XRD (X-Ray Difractometer) pada 2θ antara 20o-80o dengan target CuK. Hasil analisa menunjukkan bahwa  terjadi penurunan intensitas dan pergeseran puncak difraksi setelah penambahan alkali, sudut difraksi semakin membesar. Penambahan alkali Ca, Ba, Na, dan Li menjadikan penurunan regangan kisi menjadi 0,0028; 0,0016; 0,0015; dan 0,0007 dari regangan kisi alumina 0,004. Ukuran butir alumina-alkali pada Ba-alumina, Na-alumina, dan Li-alumina mengecil menjadi 75,814; 69,7948; dan 48,4003 nm, sedangkan pada Ca-alumina menjadi lebih besar yaitu 183,7855 nm, ukuran butir alumina sebelum penambahan alkali adalah 138,3441 nm. Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi dalam pemilihan komposit alkali-alumina dengan konduktifitas ionik terbesar dan metodenya dapat digunakan pada bahan bakar nuklir. Kata kunci : Regangan kisi, ukuran kristalit, elektrolit padat, alkali-alumina   ABSTRACT LATTICE STRAIN AND GRAIN SIZE SOLID COMPOSITE ELECTROLITE OF ALKALI-ALUMINA. Research of lattice strain and cristalite size of solid electrolyte of alumina–alkali has been done. Alkali-alumina composites studied are alumina with the addition of alkaline materials Ba, Ca, Na, and Li into the material of alumina and alumina without the addition of alkali. Material hidroksida aluminum nitrate alkali and salt mixed with  mol comparison 1:1 in water solution was do evaporated and pirolysis at temperatures 300 0C for 1 hour.  Pirolysis  results was mixed alumina comparison mol with 1:1, compacted, and heated  600 0C for 3 hours. Characterization results used with XRD (X-Ray Difractometer). Results of analysis show at 2θ = 20o-80o to the CuK target  that the intensity decrease and shift in diffraction peak after the addition of alkali, the diffraction angles increase. The addition of alkali Ca, Ba, Na, and Li was decreased in lattice strain be 0.0028, 0.0016, 0.0015, and 0.0007 from 0.004 alumina lattice strain. Alumina grain size the alkali-alumina in Ba-alumina, Na-alumina, and Li-alumina over a 75.814, 69.7948 and 48.4003 nm, while the Ca-alumina outgrow the 183.7855 nm, the grains size of alumina before the addition of alkali is 138.3441 nm. The results of this research can provide information in the selection of alkali-alumina composite with the largest ionic conductivity and the methode can applied to nuclear fuel. Keywords: Lattice strain, the size kristalit, solid electrolyte, alkali-alumina
PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI INGOT PADUAN U-Zr UNTUK BAHAN BAKAR PWR . Masrukan
Urania : Jurnal Ilmiah Daur Bahan Bakar Nuklir Vol 18, No 3 (2012): Oktober 2012
Publisher : website

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/urania.2012.18.3.283

Abstract

PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI INGOT PADUAN U-Zr UNTUK BAHAN BAKAR PWR. Pembuatan paduan U-Zr melalui cara peleburan untuk bahan bakar PWR telah dilakukan. Mulamuladibuat ingot paduan U-Zr dengan cara melebur logam U dengan Zr didalam tungku busur listrik yang dilengkapi dengan pendingin air dan dalam suasana gas argon. Pembuatan ingot paduan U-Zr dilakukan pada konsentrasi Zr berturut-turut sebesar 35%, 45%, 55% dan 65% berat. Ingot U-Zr hasil leburan dipotong-potong untuk dikenai pengujian, diantaranya : densitas, kekerasan, mikrostruktur dan fasa. Pengujian densitas dilakukan menggunakan piknometer, kekerasan menggunakan metoda Vickers, mikrostruktur menggunakan mikroskop optic, dan fasamenggunakan XRD. Hasil pengujian densitas menunjukkan bahwa kenaikan jumlah Zr akan menurunkan densitas, sedangkan kekerasan cenderung naik. Pada konsentrasi Zr sebesar 35%(U-35Zr) denisitas U-35Zr sebesar 11,2409 g/cc dan pada konsentrasi 65%Zr (U-65Zr) densitas U-65Zr menjadi 8,4673 g/cc, sedangkan kekerasan pada 35%Zr (U-35Zr) sebesar 374 HV danpada konsentrasi Zr sebesar 65% menjadi 400 HV. Hasil pemeriksaan mikrostruktur menunjukkan bahwa kenaikan Zr akan mengakibatkan bertambahnya jumlah butir dan fasa 1 (fasa kedua), sedangkan hasil pengujin fasa menunjukkan bahwa paduan U-Zr yang diuji didominasi oleh fasa 1. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penambahan Zr mempengaruhi sifat fisik, mekanik, dan mikrostruktur yang terbentuk. THE MANUFACTURING AND CHARACTERIZATION OF U-Zr INGOT FOR PWR FUEL. Manufacturing  of U-Zr alloy by melting has been done. U-Zr alloy  ingot was manufactured by melting U and  Zr metal in electric arc furnace equipped with water cooler in argon gas atmosphere. U-Zr alloy was manufactured from various Zr concentrations of 35%, 45%, 55% and  65%  weight. The manufactured U-Zr ingot was tested  for its  density, hardness, microstructure and phases. Density test was done with picnometer, hardness test by Vickers method, microstructure examination with optical microscope, and phases analysis with XRD. The test results show that density of the manufactured alloy decreases with increasing Zr concentration, while  hardness increases  with increasing Zr concentration. The density of the manufactured alloy is 11,2409 g/cc  at Zr concentration of  35% (U-35Zr) and 8,4673 g/cc at Zr concentration of 65% (U-65Zr), while the hardness is 374 HV at 35% (U-35Zr) and 400 HV at Zr concentration of 65%.  The microstructure examination shows that increasing of Zr will increase the amount of grains and d1 phases, while the phases test indicates that the manufactured U-Zr is  dominated by d1 phases. It can be conclused that adding of Zr will influence the physical behavior, mechanical properties and microstructure of the manufactured U-Zr alloy.
KARAKTERISTIK SIFAT TERMAL, SIFAT LISTRIK DAN STRUKTUR KRISTAL DARI KERAMIK SIC DENGAN ADITIF CLAY Etty Marti Wigayati; Muljadi .
Urania : Jurnal Ilmiah Daur Bahan Bakar Nuklir Vol 14, No 3 (2008): Juli 2008
Publisher : website

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/urania.2008.14.3.2582

Abstract

ABSTRAK Karakteristik Sifat Termal, Sifat listrik Dan Struktur Kristal Dari Keramik SiC Dengan Aditif Clay. Telah dilakukan penelitian pembuatan keramik SiC  dari bahan baku SiC teknis dan aditif clay. Komposisi clay adalah ( 0,1,3,4) % berat, dimana fungsi clay adalah sebagai perekat, dan tidak mempengaruhi sifat dari SiC. Sintering dilakukan pada temperatur 1300o C, 1400oC dan 1500o C. Struktur kristal yang terbentuk diamati dengan XRD, semua sampel yang di-sinterring pada berbagai temperatur menunjukan fasa dominan α-SiC dengan struktur kristal rhombohedral. Koefisien muai termal diamati dengan dilatometer, yang memberikan hasil  koefisien muai termal 5.62.10-6 C-1. Resistivitas terbesar pada aditif 4 % dan diukur pada rentang temperatur 75o C sampai 450o C adalah 1142 Ω.cm. Dari hasil penelitian ini keramik SiC menunjukkan sifat stabil sehingga dapat digunakan untuk refraktori dan komponen pada industri nuklir. Kata kunci: Sifat termal, sifat listrik, keramik SiC, bahan aditif,  clay dan   struktur kristal.   ABSTRACT CHARACTERISTIC OF THERMAL PROPERTY, ELECTRICAL PROPERTY AND CRYSTAL STRUCTURE OF SiC CERAMIC WITH ADDITIF CLAY ADDITION. Ceramic SiC has been made from raw materials  SiC technics and clay as additive.  Clay composition is  0, 1 , 3, 4 % weight, where function of clay is as a binder and it can not influence properties of SiC. Sintering was done at temperatures 1300o C, 1400oC and 1500o C. The crystal structure was observed by using XRD, and all sintered samples have dominant phase α-SiC with rhombohedral crystal structure. The coefficient of thermal expansion was measured by using Dilatometer, and value of coefficient of thermal expansion is 5.62.10-6 C-1. The highest resistivity value at 4 % additive and at temperature measurement between 75 – 450 C is 1142 Ω.cm. And the result of research shows that ceramic SiC is stable materials and can be used for refractory and also as components in nuclear industrials. Key word: Thermal property, electric property, SiC ceramic, additife matterial, clay,  crystal structure.
MODEL DISTRIBUSI TEMPERATUR SEPANJANG PELAT ELEMEN BAKAR U3O8–Al PADA PENGURANGAN TEBAL DAN WAKTU Ghaib Widodo; Siti Wardiyati
Urania : Jurnal Ilmiah Daur Bahan Bakar Nuklir Vol 17, No 1 (2011): Februari 2011
Publisher : website

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/urania.2011.17.1.1107

Abstract

MODEL DISTRIBUSI TEMPERATUR SEPANJANG  PELAT ELEMEN  BAKAR  (PEB) U3O8 – Al PADA PENGURANGAN TEBAL DAN WAKTU. Perhitungan temperatur terhadap pelat elemen bakar (PEB) U3O8-Al pada setiap perubahan posisi dan waktu sampai proses perolan panas telah dilakukan dengan mengunakan model matematika hukum fourier.   Selama proses perlakukan perolan panas berlangsung panas pada pelat tersebut akan ditransfer keseluruh pelat  yang diawali berturut-turut  dari  ketebalan pelat 8,3 mm ke 7,0 mm ke 5,6 mm ke 2,6 mm dan diakhiri 1,65 mm. Diharapkan dengan adanya rekayasa perhitungan transfer panas menggunakan model matematika dan tetap  dalam koridor/kaidah chemical engineering tools, memungkinkan secara dini temperatur pada setiap posisi pelat proses perolan panas kelak dapat diketahui.  Apakah temperatur pelat tersebut dapat terdistribusi secara merata atau tidak sehingga dapat membantu kelakuan serbuk U3O8 dalam PEB. Data yang dipakai temperatur awal proses perolan pelat 40oC, temperatur pemanasan pelat dalam ungku 415oC selama + 30 menit. Hasil perhitungan distribusi temperatur pada parameter pengurangan ketebalan dan waktu untuk PEB U3O8 – Al hampir merata sepanjang pelat. Temperatur pada tiap pengurangan ketebalan  dan waktu selisih angka hampir sama. Kata Kunci :  Distribusi, PEB U3O8 – Al, temperatur, waktu, tebal   MODEL OF TEMPERATURE DISTRIBUTION ALONG FUEL ELEMENT PLATE (FEP) U3O8-Al AT DECREASING THICKNESS AND INCREASING TIME. A calculation on temperature of fuel element plate (FEP) U3O8 – Al at every change of position and time until the completion of hot rolling process by using Fourier law mathematical model has been done. During hot rolling process, heat will be transferred throughout  the plate beginning respectively from the plate thickness of 8.3 mm to 7.0 mm to 5.6 mm to 2.6 mm and ending at 1.65 mm. It is expected that the engineered calculation by using heat transfer mathematical model, yet  complying with the rules of chemical engineering tools, the temperature at any position during hot rolling process may be predicted in advance. Whether or not the predicted temperature is distributed homogenously may be a help in studying the behavior of U3O8 powder in the FEP. The calculation used initial given temparature of 40oC and the furnace temperature was considered steady at 415oC for + 30 minutes. The result shows that the temperature distribution is practically homogenous along the plate length with decreasing thickness. The temperature at decreasing thickness and increasing time intervals indicates similar difference value. Key Word :  Distribution, FEP U3O8 – Al, temperature, time, thickness
PEMBUATAN RADIONUKLIDA MOLIBDENUM-99 (99Mo) HASIL AKTIVASI NEUTRON DARI MOLIBDENUM ALAM UNTUK MEMPEROLEH TEKNESIUM-99m (99mTc) Saptiama, Indra; Herlina, Herlina; Sriyono, Sriyono; Sarmini, E.; Abidin, Abidin; Kadarisman, Kadarisman
Urania : Jurnal Ilmiah Daur Bahan Bakar Nuklir Vol 22, No 2 (2016): Juni 2016
Publisher : website

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/urania.2016.22.2.3094

Abstract

ABSTRAKPEMBUATAN RADIONUKLIDA MOLIBDENUM-99 (99Mo) HASIL AKTIVASI NEUTRON DARI MOLIBDENUM ALAM UNTUK MEMPEROLEH TEKNESIUM-99m (99mTc). Pembatasan penggunaan uranium sebagai target untuk produksi 99mTc menyebabkan rumah sakit di Indonesia  kesulitan mendapatkan pasokan 99mTc. Saat ini 99mTc diperoleh dari 99Mo hasil fisi (pembelahan uranium).  Pembuatan radionuklida 99Mo dari aktivasi neutron  molibdenum alam (MoO3) di teras reaktor G.A Siwabessy digunakan sebagai metode alternatif untuk memperoleh 99mTc. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan pembuatan radionuklida 99Mo dari aktivasi neutron molibdenum alam untuk memperoleh 99mTc. Serbuk MoO3 alam sebanyak 5 gram dikemas dalam ampul kuarsa dan dimasukkan ke dalam inner capsul selanjutnya dikemas menggunakan outer capsul sebagai bahan target. Bahan target diiradiasi di reaktor G.A Siwabessy selama 100 jam. Hasil perhitungan diperoleh aktivitas  99Mo sebesar 65 % dari nilai maksimum yang dapat diperoleh. MoO3 paska iradiasi dilarutkan dengan NaOH 4 M sehingga diperoleh larutan natrium molibdat (Na2MoO4). Radionuklida 99Mo dan 99mTc diukur menggunakan spektrometer gamma. Radionuklida 99Mo terdeteksi dalam produk larutan  Na2MoO4 dengan  aktivitas jenis 99Mo yang diperoleh sebesar 0,81 Ci 99Mo/g Mo.  Radionuklida anak luruh 99mTc dipisahkan dari radionuklida induk 99Mo menggunakan kolom pemisah yang berisi material berbasis zirkonium (MBZ) sebagai penyerap 99Mo. Radionuklida 99mTc hasil pemisahan diperoleh dalam bentuk natrium pertehnetat (Na99mTcO4).dengan recovery yang masih rendah yaitu sekitar 52 hingga 71 %.Kata kunci: Molibdenum, teknesium, radionuklida, pemisahan, iradiasi. ABSTRACTPRODUCTION OF ACTIVATED  NEUTRON MOLYBDENUM-99 (99Mo) RADIONUCLIDE FROM NATURAL MOLYBDENUM TO OBTAIN TECHNETIUM-99m (99mTc).  Uranium usage restriction causes the hospitals in indonesia difficult to obtain the suply of  99mTc. At Present, 99mTc is obtanied from molybdenum as a uranium fission product. Production of 99Mo radionuclide resulted from neutron activated natural molybdenum (MoO3) in G.A Siwabessy reactor could be used  as a alternatif method for producing 99mTc. The aim of this research is synthesize of   99Mo radionuclide from neutron activated natural molybdenum  (MoO3) to obtain 99mTc. The five grams of  MoO3 powder was packed in a quartz ampule and inserted into inner capsule then also inserted into outer capsule as a target material. It was iradiated in G.A Siwabessy reactor for 100hours. Based on theoritical calculation, about 65 % of maximum 99Mo activity could be recovered. After Irradiation,  MoO3 was dissolved by NaOH 4 M solution so it was natrium molybdate (Na2MoO4) solution. 99Mo and 99mTc radionuclide were analyzed using gamma spectrometer. 99Mo radionuclide was detected on Na2MoO4 solution as product that had specific activity of 0.81 Ci 99Mo/ g Mo. 99mTc as daughter radionuclide was separated from 99Mo as parent radionuclide using separated column containing zirconium based material (ZBM) as 99Mo adsobent. 99mTc radionuclide has been succesfully separated using ZBM column although recovery of 99mTc  was quite low in which approximately 52 to 71 %. The 99mTc radionuclide was recovered in the form of sodium pertechnetate (NaTcO4) solution.Keywords: Molybdenum, technetium, radionuclide, separation, irradiation.

Filter by Year

2008 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 29, No 2 (2023): OKTOBER, 2023 Vol 29, No 1 (2023): APRIL, 2023 Vol 28, No 3 (2022): OKTOBER, 2022 Vol 28, No 2 (2022): JUNI, 2022 Vol 28, No 1 (2022): Februari, 2022 Vol 27, No 3 (2021): Oktober, 2021 Vol 27, No 2 (2021): Juni, 2021 Vol 27, No 1 (2021): Februari, 2021 Vol 26, No 3 (2020): Oktober, 2020 Vol 26, No 2 (2020): Juni 2020 Vol 26, No 1 (2020): Februari, 2020 Vol 25, No 3 (2019): Oktober, 2019 Vol 25, No 2 (2019): Juni, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Februari, 2019 Vol 24, No 3 (2018): Oktober, 2018 Vol 24, No 2 (2018): Juni, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Februari, 2018 Vol 23, No 3 (2017): Oktober 2017 Vol 23, No 2 (2017): Juni 2017 Vol 23, No 1 (2017): Februari 2017 Vol 22, No 3 (2016): Oktober 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni 2016 Vol 22, No 1 (2016): Februari 2016 Vol 21, No 3 (2015): Oktober 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Februari 2015 Vol 20, No 3 (2014): Oktober 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Februari 2014 Vol 19, No 3 (2013): Oktober 2013 Vol 19, No 2 (2013): JUNI 2013 Vol 19, No 1 (2013): Februari 2013 Vol 18, No 3 (2012): Oktober 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Februari 2012 Vol 17, No 3 (2011): Oktober 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Februari 2011 Vol 16, No 4 (2010): Oktober 2010 Vol 16, No 3 (2010): Juli 2010 Vol 16, No 2 (2010): April 2010 Vol 16, No 1 (2010): Januari 2010 Vol 15, No 4 (2009): Oktober 2009 Vol 15, No 2 (2009): April 2009 Vol 15, No 1 (2009): Januari 2009 Vol 14, No 4 (2008): Oktober 2008 Vol 14, No 3 (2008): Juli 2008 Vol 14, No 2 (2008): April 2008 Vol 14, No 1 (2008): Januari 2008 More Issue