cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI INDONESIA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 15 No. 1 (2013)" : 8 Documents clear
PENERAPAN TEKNOLOGI BiTumMan UNTUK MENGATASI LAHAN KRITIS PASCA PENAMBANGAN (Studi Kasus di Bekas Tambang Nikel) Sittadewi, Euthalia Hanggari
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 15 No. 1 (2013)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (882.566 KB) | DOI: 10.29122/jsti.v15i1.934

Abstract

Upaya revegetasi lahan pasca penambangan selama ini belum memberikan hasil yang optimal karena terkendala oleh kondisi lahannya.Teknologi BiTumMan (Biji Tumbuh Mandiri) dapat membantu mengatasi permasalahan ini. Tujuan dari penelitian ini adalah penerapan BiTumMan untuk media tanam sengon (Paraserianthes falcataria) pada lahan terdegradasi pasca penambangan nikel dengan metodologi survei, analisis tanah serta penanaman sengon dengan media BiTumMan secara konvensional. Biji sengon yang dilapisi dengan bio-fertilizer Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) dan Rhizosphere Bacteria mempunyai efek positif terhadap pertumbuhan akar dan pertumbuhan selanjutnya. Keuntungan lain dari penerapan teknologi BiTumMan yaitu tidak membutuhkan biaya pembibitan dan biaya transportasi bibit.
IDENTIFIKASI DAERAH RAWAN BENCANA TANAH LONGSOR DI PROVINSI LAMPUNG Prawiradisastra, Suryana
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 15 No. 1 (2013)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (673.072 KB) | DOI: 10.29122/jsti.v15i1.939

Abstract

Luas wilayah Provinsi Lampung sekitar 35.376 km2 dengan topografi yang memperlihatkan proses erosi yang cukup intensif. Proses erosi yang demikian dipengaruhi oleh bentuk topografi, jenis litologi, struktur geologi, vegetasi dan kondisi iklim lokal. Pola pengaliran/drainase yang ada di wilayah ini memperlihatkan pola/bentuk dendritik dan sub radial, bentuk ini dipengaruhi oleh litologi dan struktur geologi. Wilayah barat Provinsi Lampung merupakan daerah rawan tanah longsor karena sebagian besar terdiri dari material vulkanik muda dan daerah sesar aktif. Kejadian tanah longsor setiap tahun terjadi di Provinsi Lampung, oleh karena itu perlu ada identifikasi. Tingkat kerawanan tanah longsor ditentukan oleh beberapa parameter, yaitu : kemiringan, intensitas hujan, geologi dan tataguna lahan. Berdasarkan itu, luas wilayah rawan di Provinsi Lampung sekitar 83 % dari luas keseluruhan wilayah.
KAJIAN KESESUAIAN LAHAN UNTUK MITIGASI BENCANA LAHAN DI KAWASAN BUDIDAYA Soewandita, Hasmana
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 15 No. 1 (2013)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.215 KB) | DOI: 10.29122/jsti.v15i1.935

Abstract

Bencana lahan di kawasan budidaya di lereng Gunung Sindoro dan Sumbing sering dipicu oleh kegiatan yang berkaitan dengan pola budidaya tanaman pangan/hortikultura monokultur (single commodity). Dalam rangka mitigasi bencana lahan perlu dilakukan kajian alternative dan pola budidaya yang sesuai baik dari segi lingkungan biofisik lahan, ekonomi dan sosial budaya masyarakat. Metoda yang digunakan untuk kajian ini yaitu dengan metoda skoring dan pembobotan. Parameter-parameter yang dipertimbangkan meliputi aspek luas lahan yang sesuai (20 %), aspek budidaya dan pengelolaan (20 %), aspek produksi (10 %), aspek keberadaan komoditas (5 %), aspek konservasi (15 %), aspek pola budidaya (15 %), dan aspek pasar (15 %). Hasil analisis menunjukkan bahwa tanaman keras (hutan) menempati skor tertinggi, baru kemudian berturut tanaman perkebunan, hortikultura dan tanaman pangan. Rekomendasi dari hasil analisis ini adalah untuk membuat pola budidaya dengan memadukan tanaman strata tinggi (tanaman keras) dengan tanaman strata menengah (perkebunan) dan tanaman strata rendah (hortikultura/pangan).
ANALISIS GERAK RAMBAT LERENG DAN UPAYA PERBAIKAN KESTABILANNYA wisyanto, wisyanto
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 15 No. 1 (2013)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (963.471 KB) | DOI: 10.29122/jsti.v15i1.940

Abstract

Indonesia dengan proses alamnya yang dinamis telah membuat wilayahnya memiliki beragam morphologi. Morfologi terjal, lapisan batuan, jenis tanah dan tingginya curah hujan dalam hal ini Banjarnegara, Jawa Tengah telah menjadikan wilayahnya rentan terhadap gerakan tanah. Gerakan tanah tidak hanya dapat menimbulkan korban jiwa, tetapi juga dapat merusak banyak fasilitas umum secara berulang. Hal ini juga terjadi pada ruas jalan pada jalan yang menghubungkan Kota Banjarnegara dengan PLTA Tulis. Penulis tertarik dengan fenomena ini dan mencoba melakukan kajian kestabilan lereng selama 3 bulan (September sampai Desember). Kajian dilakukan melalui pengamatan beberapa patok pantau untuk mengetahui pola gerak lerengnya. Dengan mengetahui arah da kecepatan pergerakan lereng, ditambah dengan informasi jenis batuan, tanah, topografi detail dan tutupan tumbuhannya, penulis dapat menentukan beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kestabilan lereng disekitar ruas jalan.
KAJIAN PENILAIAN RISIKO BENCANA KEMUNGKINAN JEBOLNYA TANGGUL WADUK PENJALIN, KABUPATEN BREBES, PROVINSI JAWA Naryanto, Heru Sri
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 15 No. 1 (2013)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1063.641 KB) | DOI: 10.29122/jsti.v15i1.936

Abstract

Waduk merupakan badan yang air memilki multifungsi dalam menyokong kehidupan penduduk serta turut menciptakan keseimbangan ekologi, tata air dan lingkungan. Waduk Penjalin yang terletak di Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah, mempunyai luas 4,77 km2 dengan volume maksimum rata-rata tahunan sebesar 7.942.500 m3 dan volume rata-rata minimum tahunan 2.610.000 m3. Waduk Penjalin merupakan bendungan tipe urugan, dengan ketinggian dari lembah terdalam 16 meter, lebar puncak mercu 4 meter dan panjang puncak mercu 850 meter. Kondisi tanggul sudah mengalami beberapa kali renovasi. Di bagian perbatasan dengan tanggul Waduk Penjalin terdapat permukiman dan infrastruktur yang sangat padat, dan mempunyai risiko tinggi apabila tanggul tersebut tersebut jebol. Sesuai amanat UU No 24 tahun 2007, maka perlu dilakukan kajian risiko bencana terkait dengan jebolnya tanggul waduk tersebut secara lebih mendalam. Kajian mengenai risiko yang menyangkut perpaduan antara bahaya dan kerentanan terkait jebolnya tanggul waduk menjadi hal yang sangat penting. Parameter yang dipakai dalam analisis kerentanan adalah tataguna lahan (tanaman tahunan, tanaman musiman, sawah, permukiman, lahan kosong dan badan air). Data hasil penilaian risiko tersebut dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan perencanaan tata ruang berbasis kebencanaan serta pengurangan risiko bencana. Zona genangan akibat jebolnya tanggul Waduk Penjalin mengarah ke timur. Berdasarkan pada hasil analisis tingkatan risiko bencana jebolnya tanggul Waduk Penjalin yang dilakukan melalui analisis spasial, dibagi menjadi risiko tinggi, risiko sedang, risiko rendah dan daerah aman
KADAR AIRTANAH PEMICU LONGSOR DESA GIRIMEKAR KABUPATEN BANDUNG PROVINSI JAWA BARAT Tejakusuma, Iwan G.
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 15 No. 1 (2013)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (892.413 KB) | DOI: 10.29122/jsti.v15i1.937

Abstract

Bencana longsor makin sering terjadi di Indonesia dan telah banyak menyebabkan korban jiwa, kehilangan harta benda dan kerugian ekonomi. Di Kampung Legokhayam, Desa Girimekar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat longsor terjadi pada 21 Maret 2010 menghancurkan 9 rumah dan 9 rumah lainnya rusak. Longsor tersebut dikontrol oleh faktor geologi – litologi dan kemiringan lereng dan terjadi dipicu oleh curah hujan.Tipe longsor adalah translasional dan sebagian kecil rotasional. Kadar airtanah diteliti untuk mengetahui ambang batas untuk longsor. Sampel tanah undisturbed dari lokasi BH 01 dan BH 02 diambil dan dianalisa di laboratorium untuk parameter index properties dan engineering properties. Analisis kestabilan lereng juga dilakukan dan disimulasikan untuk mengetahui kadar airtanah kritis untuk longsor. Hasilnya menunjukkan bahwa faktor keamanan lereng di BH 01 adalah 0,832 dan di BH 02 adalah 0.962. Nilai kritis airtanah untuk longsor adalah 90% untuk lapisan atas dan 76% untuk lapisan bawah di BH 01 dan 82% untuk lapisan bawah di BH 02. Longsor akan terjadi bila kandungan airtanah melebihi nilai tersebut. Nilai tersebut dapat digunakan untuk sistem peringatan dini longsor.
EMISI KARBON SEBAGAI DASAR IMPLEMENTASI PENYEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU DI DKI JAKARTA Edyanto, CB Herman
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 15 No. 1 (2013)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.828 KB) | DOI: 10.29122/jsti.v15i1.933

Abstract

Emisi adalah salah satu dari beberapa aspek lingkungan yang berbahaya yang dapat berdampak terhadap perubahan global di dunia. Bahan bakar minyak yang digunakan dalam infrastruktur transportasi dikenal sebagai hal yang paling utama yang menghasilkan intensitas emisi yang tinggi bagi kota besar seperti Jakarta .Dampak yang nyata adalah dengan tingginya jumlah penduduk yang menderita sakit dari polusi udara. Tutupan lahan atau kota hijau, termasuk apa yang disebut sebagai 'hutan kota’ atau ruang terbuka akan memberikan harapan baru di masa depan sebagai unsur kota untuk mengurangi polusi udara dan emisi.Metoda analisis dilakukan dengan melakukan koleksi dan analisis data sekunder mengenai produksi karbon dioksida yang dihasilkan dari beberapa kegiatan perkotaan seperti penggunaan listrik dan bahan bakar di Jakarta.Transportasi dan kebutuhan tenaga listrik merupakan kebutuhan pokok masyarakat perkotaan, namun memiliki dampak yang terbesar terhadap produksi karbon dioksida diudara.Ketersediaan ruang terbuka yang luas serta kebijakan efisiensi energi harus menjadi salah satu agenda pemerintah pusat dan daerah merupakan solusi utama untuk mengatasi masalah.
KARAKTERISASI BENCANA BANJIR BANDANG DI INDONESIA Adi, Seno
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 15 No. 1 (2013)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.595 KB) | DOI: 10.29122/jsti.v15i1.938

Abstract

Saat ini bencana hidrometeorologi menunjukkan tren meningkat. Bencana banjir bandang adalah bagian dari bencana hidrometeorologi yang terindikasi berdampak signifikan terhadap kehidupan, dan harta benda. Faktor utama banjir bandang adalah dipicu oleh intensitas hujan ekstrim. Kemudian berhubungan dengan kejadian longsor yang menyumbat aliran sungai membentuk bendung alam. Selanjutnya tekanan aliran sungai menjebol bendung alami tersebut sehingga terjadi banjir bandang yang ditandai dengan kecepatan aliran yang tinggi dengan membawa lumpur, kayu, dan batu. Setidaknya terjadi 10 kejadian banjir bandang di Indonesia pada tahun 2012 yang mengakibatkan 15 korban jiwa dan kerusakan harta benda pada setiap kejadian bencana. Untuk mengatasi bencana banjir bandang beberapa tindakan mitigasi dapat dilakukan yaitu dengan pemetaan daerah bahaya, sistem peringatan dini, kesiapsiagaan masyarakat, dan peramalan hidrometeorologi. Sayangnya dari upaya tindakan mitigasi tersebut, hanya beberapa daerah yang berpotensi bencana banjir bandang yang siap dengan upaya tersebut.

Page 1 of 1 | Total Record : 8