cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI INDONESIA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 15 No. 3 (2013)" : 5 Documents clear
Aplikasi Kontrol Digital Untuk Pemupukan Secara Variable Rate Pada Sistem Pertanian Presisi Manalu, Lamhot P.
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 15 No. 3 (2013)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.032 KB) | DOI: 10.29122/jsti.v15i3.3394

Abstract

Precision agriculture has many facets including guidance, yield mapping, variable rate application and remote sensing. Variable rate nitrogen fertilization is a technique being developed for fertilizer application in recent years. One of the main problems in variable rate nitrogen fertilization is controlling the fertilizer application rate according to the soil nitrate level. In this paper, a digital control system for variable rate nitrogen fertilization is presented. A pole-placement controller design based on the simplified process model is used in this system. The system dynamic response of the pole-placement controller was simulated under the condition with torque disturbance and the condition without torque disturbance. The digital controller was then implemented into a prototype system and the dynamic response of the control system was tested under different torque disturbance conditions. The control system performed at acceptable levels under small external torque disturbance conditions. However, under large torque disturbances, the steady-state offset error in the system response was not acceptable and the use of a robust controller for both tracking control and disturbance rejection was recommended. This paper presents a simulation of the use of digital control for variable rate fertilization The benefits of using variable rate technology are very clear. Low yielding areas of the field are no longer over fertilized resulting in reduction of costs in those areas.Pertanian presisi memiliki banyak aspek diantaranya pengukuran, pemetaan hasil, aplikasi laju tidak tetap dan penginderaan jarak jauh. Pemupukan nitrogen secara laju tidak tetap (variable rate) adalah teknik yang dikembangkan untuk aplikasi pemupukan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu masalah utama dalam pemupukan nitrogen secara laju tidak tetap yaitu mengontrol jumlah pemakaian pupuk agar sesuai dengan kandungan nitrat tanah. Tulisan ini menyajikan studi tentang aplikasi sistem kontrol digital untuk pemupukan nitrogen secara laju tidak tetap dalam kerangka pertanian presisi (precision farming). Sebuah desain kontroler tiang-penempatan didasarkan penyederhanaan modelnya digunakan dalam sistem ini. Sistem respon dinamik dari pengontrol tiang-penempatan disimulasikan pada kondisi dengan gangguan torsi dan kondisi tanpa gangguan torsi. Kontrol digital kemudian diimplementasikan ke dalam sistem prototipe dan respon dinamik dari sistem kontrol diuji di bawah kondisi gangguan torsi yang berbeda. Sistem kontrol dilakukan pada tingkat yang dapat diterima dalam kondisi gangguan torsi eksternal yang kecil. Namun, di bawah gangguan torsi besar, kondisi steady yang mengimbangi kesalahan dalam respon sistem tidak dapat diterima. Tulisan ini menyajikan simulasi penggunaan kontrol digital untuk pemupukan secara variable rate. Tujuan penggunaan teknologi variable rate adalah agar lokasi dengan produktivitas rendah tidak lagi dipupuk secara berlebihan sehingga mengurangi biaya.Keywords: fertilization, digital control, variable rate, precision farming.
Produksi Umbi Mini Sebagai Propagul Kultivar Kentang (Solanum Tuberosum L.) Granola, Atlantik dan Cipanas -, Pertamawati
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 15 No. 3 (2013)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.776 KB) | DOI: 10.29122/jsti.v15i3.3390

Abstract

Mini tuber production aspropagulcultivars of potato (Solanumtuberusum L.) Granola, Atlantic and Cipanaswasdone in Kebun Percobaan Sub Balai Penelitian Hortikultura Cipanas for 4 months with 3 times replications. The design used is a Random Design Group (RAK) with two factors, namely the cultivar (Granola, Atlantik and Cipanas) as the first factor and volume pots, namely 43cm3, 86cm3, 11 cm3 and 134cm3 as the second factor. A total of 12 treatment combinations with the experimental unit consisted of 20 plants with four blocks. The variables observed include high plant, the number ofbook, number of tubers/plant, diameter bulbs, wet and dry weight of tuber, wet and dry weight of tuber/plant, was the amount of standard A bulbs (< 1.0 g/tuber), standard B (1.0– 10.0 g/tuber) and standard C (more than 10.0 g/tuber). Observation on vegetative variables is done every week since the second week up to eight weeks, while the independent harvesting is done at 10 MST. Mini tuber production experiment, cultivars and volume pot has no effect on the number of books and plant potatoes.Interactionbetween cultivars with the volume potaffectvariables the number of tubers/plant.Numberof bulbs are correlated positively with tuber standard B on all three cultivars, the number ofstandarsB/plant are obtained in combination treatment of cultivar Atlantic in volume pot 134cm3.Interactionbetween cultivars with the volume pot affects the weight of wet bulbs/plant. Wet weight/tuber crop cultivar Cipanas in volume pot 43cm3 and 86cm3 weights the same, whereas on the volume pot 134cm3 weight wet bulb cultivar Atlantik is the hardest. From the result concluded that cultivars Granola, Atlantik and Cipanasdeliversresults in accordance with the benefits and usefulness infullfieldthe need for potatoes for the people in Indonesia.Keywords : mini tuber, potato, Granola, Atlantik, Cipanas
Pengolahan Jamur Tiram (PleurotusL Ostreatus) Sebagai Alternatif Pemenuhan Nutrisi Widyastuti, Netty
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 15 No. 3 (2013)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.63 KB) | DOI: 10.29122/jsti.v15i3.3391

Abstract

Oyster mushroom ( Pleurotus ostreatus ) is one of the edible mushroom because it has a relatively high content of nutrients , delicious taste , easy cultivation , and relatively cheap , and easily available in the market . The specialty is the oyster mushrooms contain beta - glucans and has antioxidant activity . Beta - glucans can be as immunomodulators , by stimulating the body's defense system by activating macrophages to capture and destroy foreign substances in the body such as viruses , bacteria , fungi and parasites .Oyster mushrooms processed food than as an alternative of nutrition because it contains fiber , protein / amino acids , carbohydrates , minerals , fats and beta - glucan . Processed foods as well as oyster mushrooms can be an alternative source of income because it can increase the value added . For example dumplings , nuggets , sausages , flavor, shredded, crackers, a health drink etc. Oyster mushrooms processed foods deserve to be disseminated to the public in an effort to meet nutrition for promote health.Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) merupakan salah satu jamur yang dapat dimakan karena memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi, lezat rasanya, mudah budidayanya, dan relatif murah harganya, serta mudah diperoleh di pasaran. Keistimewaan jamur tiram adalah mengandung beta-glukan dan mempunyai aktifitas antioksidan. Beta-glukan dapat sebagai immunomodulator, dengan cara menstimulasi sistem pertahanan tubuh dengan mengaktifasi makrofag untuk menangkap dan menghancurkan benda asing dalam tubuh seperti virus, bakteri, fungi dan parasit. Pangan olahan jamur tiram selain sebagai alternatif pemenuhan nutrisi karena mengandung serat, protein/asam amino, karbohidrat, mineral, lemak serta beta-glukan . Pangan olahan jamur tiram dapat juga sebagai alternatif sumber pendapatan karena dapat meningkatkan nilai tambah. Contohnya pangan olahan jamur tiram adalah siomay, nugget, sosis, penyedap rasa, abon, kerupuk, minuman kesehatan dan lain-lain. Berbagai pangan olahan jamur tiram layak disosialisasikan kepada masyarakat dalam upaya pemenuhan nutrisi untuk meningkatkan kesehatan.Keywords: Pleurotus ostreatus, nutrition, processed food, beta glucans
Pengaruh Penambahan Molases Pada Kulit Pisang Kapendis Untuk Media Produksi Xilanase B.Stearothermophillus DSM 22 -, Trismillah
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 15 No. 3 (2013)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jsti.v15i3.3392

Abstract

Cavendish banana peel can be used as a substitute for the expensive xylan, while molasses than as a source of carbon as well as nitrogen, minerals and nutrients needed for the growth of microbes that can produce the enzyme. Xylanase produced from Bacillus stearothermopillus DSM 22, using media cavendish banana peels with the addition of molasses 1%, 2%, and 3%. Fermentation is done in a shaker incubator at 550C temperature conditions, initial pH 8, and 250 rpm agitation. The result showed the highest enzyme activity of 4,14 ± 0,16 U/mL min., on the addition 2% molasses after 24 hours. Further fermentation carried out in the fermenter working volume of 3.5 liters, with the condition of temperature 550C, pH 8, aeration 1 vvm, agitation 250 rpm, the highest spesific enzyme of activity of 51,62 ± 0,16 U/mg after 24 hours. Partial purification of xylanase enzyme fermentation is done with the results of microfiltration, ultrafiltration, ammonium sulfate (0-80%) and dialysis. There is an increase in the purity of the enzyme at each stage of purification, the highest purity on dialysis 3.23 times of crude enzymes.Kulit buah pisang kapendis dapat digunakan sebagai pengganti xilan yang harganya mahal, sementara molases selain sebagai sumber karbon serta nitrogen, mineral dan nutrisi dibutuhkan untuk pertumbuhan mikroba yang dapat menghasilkan enzim. Xilanase yang dihasilkan dari Bacillus stearothermopillus DSM 22, menggunakan media kulit pisang kapendis dengan penambahan molase 1%, 2%, dan 3%. Fermentasi dilakukan dalam shaker inkubator pada temperatur 550C, pH awal 8, dan agitasi 250 rpm. Hasilnya menunjukkan aktivitas enzim tertinggi 4,14 ± 0,16 U/mL min., pada penambahan 2% molases setelah 24 jam. Selanjutnya fermentasi dilakukan di dalam fermentor, volume kerja dari 3,5 liter, dengan kondisi temperatur 550C, pH 8, aeration 1 vvm, agitasi 250 rpm, aktivitas spesifik tertinggi 51,62 ± 0,16 U/mg setelah 24 jam. Pemurnian parsial fermentasi enzim xilanase dilakukan dengan hasil mikrofiltrasi, ultrafiltrasi, amonium sulfat (0-80%) dan dialisis. Ada peningkatan kemurnian enzim pada setiap tahap pemurnian, kemurnian tertinggi pada dialisis 3,23 kali dari enzim kasar.Keywords: Xylanase, B. stearothermophillus DSM 22, Cavendish banana peel, molasses, enzyme activity
Induksi Produksi Asiatikosida Pegagan (Centella asiatica [L] Urban) Menggunakan Stimulan Biologi Pada Kondisi Ternaungi Roswanjaya, Yuda Purwana
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 15 No. 3 (2013)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.27 KB) | DOI: 10.29122/jsti.v15i3.3393

Abstract

This research studied the effect of Rhizobacteria on increasing the biomass and quality (asiaticoside content and production) of Indian Pennywort (Centella asiatica [L] Urban) under shaded condition. The experiment was arranged in split plot design. The main plot was shading condition (30% shading of Flemingia macrophylla and 30% shading of Coffee (Coffea arabica) trees) and the sub plot was Rhizobacteria inoculation (0 and 106 CFU/mL) with three replications. The result showed that vegetative growth and biomass of Indian Pennywort were not affected by Rhizobacteria inoculation and shading. However, Rhizobacteria inoculation increased asiaticoside content and production in Indian Pennywort.Studi ini dilakukan untuk mempelajari pengaruh Rhizobacteria sebagai stimulan biologi dalam meningkatkan biomasa dan kualitas (kadar dan produksi asiatikosida) pegagan (Centella asiatica [L] Urban) dalam kondisi ternaungi. Percobaan dirancang dalam Rancangan Petak Terbagi. Petak utama adalah naungan (Naungan Flemingia 30% dan naungan kopi 30%) dan anak petak adalah inokulasi Rhizobacteria (0 dan 106 CFU/mL) dengan tiga ulangan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pertumbuhan vegetatif dan biomasa pegagan tidak dipengaruhi oleh inokulasi Rhizobacteria dan naungan. Namun, inokulasi Rhizobacteria dapat meningkatkan kadar dan produksi asiatikosida pegagan.Keywords: Rhizobacteria, triterpenoid, cekaman naungan

Page 1 of 1 | Total Record : 5