cover
Contact Name
Lukman Cahyadi
Contact Email
lukman.cahyadi@esaunggul.ac.id
Phone
+6221-5674223
Journal Mail Official
nutrirediaita.ueu@esaunggul.ac.id
Editorial Address
https://ejurnal.esaunggul.ac.id/index.php/Nutrire/about/editorialTeam
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
NUTRIRE DIAITA
Published by Universitas Esa Unggul
ISSN : 19798539     EISSN : 27461734     DOI : -
Core Subject : Health, Agriculture,
Journal Description NUTRIRE DIAITA publishes original research articles, review articles, and clinical studies covering the broad and multidisciplinary field of human nutrition. In the aim of improving the quality of the journal since Oktober 2019 this journal officially had made a cooperation with Nutrition Department Universitas Esa Unggul FOCUS AND SCOPE NUTRIRE DIAITA aim to deliver findings and innovations in the field of nutrition and health. NUTRIRE DIAITA is published 2 times per year (April and October). The journal covers all aspect relating to Human Nutrition including clinical nutrition, community nutrition, food service management, food technology and sport nutrition.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2012): NUTRIRE DIAITA" : 5 Documents clear
Perbedaan Asupan Cairan Berdasarkan Kelompok Umur, Jenis Kelamin, Tipe-Daerah, Dan Status-Ekonomi Di Pulau Sulawesi Putri, Renata Mega; Mulyani, Erry Yudhya
Jurnal Nutrire Diaita (Ilmu Gizi) Vol 4, No 2 (2012): NUTRIRE DIAITA
Publisher : Lembaga Penerbitan Unversitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/nut.v4i2.1243

Abstract

AbstractWater is the main component in the human body. The water content in the body of the adult male is 55% - 60% while; in adult women 50% - 60%. Status of mild dehydration occurred in Makassar (59.4%) and urban areas Malino (35.7%) rural / mountainous areas both on the island. The aims of this study was to determine the differences of fluid intake in Sulawesi Island based on age group, sex, type of area, and economic status. The study uses secondary data Riskesdas 2010, the cross-sectional design. The samples are all resident on the island of Sulawesi totaling 20 127 people. Data were analyzed using ANOVA. Based on the results in fluid intake can according to the type of beverage and the type of area is the largest of the water as much as 822.78 liters in urban and rural 803.69 liters. The difference in fluid intake of water by sex is (813.35 ± 381.907) liter in men and (809.20 ± 372.224) liters in women. Based on the average type of area (822.78 ± 413.827) liters in the urban and (803.69 ± 350.640) liters in the countryside. The difference in total fluid intake by sex (796.22 ± 457.578) liter in men and (810.98 ± 433.655) liters in women. Based on the type of area; in urban areas (818.97 ± 476.963) and liters (793.54 ± 423.486) liters in the countryside. There are differences in fluid intake by age group, sex, type of area, and economic status (P <0.05). Fluid intake is highest among women, living in urban areas, and were in the age group 14-18 years. The highest fluid intake in poor, low on the rich. Therefore, the government needs to provide access to clean water and poor populations, especially in rural areas. Keywords: Water Intake, Age, Sex AbstrakAir merupakan komponen utama dalam tubuh manusia. Kandungan air dalam tubuh pada pria dewasa yaitu 55% - 60% sedangkan; pada perempuan dewasa 50% - 60%. Status dehidrasi ringan terjadi di Makassar (59,4%) daerah perkotaan dan Malino (35,7%) daerah pedesaan/pegunungan yang keduanya merupakan daerah di Pulau Sulawesi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan asupan cairan di Pulau Sulawesi berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin, tipe daerah, dan status ekonomi. Penelitian menggunakan data sekunder Riskesdas 2010, rancangan cross-sectional. Sampel adalah semua penduduk di Pulau Sulawesi berjumlah 20.127 orang. Analisis data menggunakan Anova. Berdasarkan hasil di dapat asupan cairan menurut jenis minuman dan tipe daerah terbanyak adalah dari air putih sebanyak 822,78 liter di perkotaan dan 803,69 liter di pedesaan. Perbedaan asupan cairan dari air putih berdasarkan jenis kelamin yaitu (813,35±381,907) liter pada laki-laki dan (809,20±372,224) liter pada perempuan. Berdasarkan tipe daerah rata-rata (822,78±413,827) liter di perkotaan dan (803,69±350,640) liter di pedesaan. Perbedaan asupan cairan total berdasarkan jenis kelamin (796,22±457,578)liter pada laki-laki dan (810,98±433,655) liter pada perempuan. Berdasarkan tipe daerah; di perkotaan (818,97±476,963)liter dan (793,54±423,486) liter di pedesaan. Ada perbedaan asupan cairan berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin, tipe daerah, dan status ekonomi (p<0.05). Asupan cairan tertinggi yaitu pada perempuan, tinggal di perkotaan, dan berada pada kelompok umur 14-18 tahun. Asupan cairan tertinggi pada penduduk miskin, terendah pada penduduk kaya. Oleh karenanya, pemerintah perlu menyediakan akses air bersih kepada penduduk tidak mampu terutama di wilayah pedesaan. Kata Kunci: Asupan Cairan, Umur, Jenis Kelamin
Perbandingan Asupan Energi dan Zat Gizi Makro Anak SD (6-12 Tahun) Berdasarkan Tingkat Pendidikan Orang Tua di Provinsi NTB Dan NTT Aryanti, Festy; Ngadiarti, Iskari
Jurnal Nutrire Diaita (Ilmu Gizi) Vol 4, No 2 (2012): NUTRIRE DIAITA
Publisher : Lembaga Penerbitan Unversitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/nut.v4i2.1244

Abstract

AbstractIn NTB province have 12.4% and 11% of elementary school children experience with poor nutrition and malnutrition, as well as in NTT approximately 5.3% and 6%. The problems of education in the region of NTB and NTT are still high enough that illiterate, about 419 991 inhabitants and 370 710 people. The objective of this study was to compare macro nutrient intake by level of parent’s education in the province of NTB and NTT. We used secondary data RISKESDAS 2010 with total sample in NTB and NTT are 886 respondents and 1064 respondents, respectively. The method used cross-sectional design, analytical survey. The statistical analyzing used independent t-test. Most of the parents' education level of respondents in NTB and NTT are drop out in Elementary School or never attended school. The average age of respondents in NTB province is 8.9 years (±1.985) and NTT is 8.8 years (±1.931). The average energy intake of the respondents in NTB 1031.21Kal (±396.42) and NTT 871.13Kal (±412.96). The average protein intake of the respondents in NTB 31.54g (±18.22) and NTT 24.02g (±19.60). The average intake of carbohydrates respondents in NTB 128.84g (±53.44) and in NTT 141.02g (±74.61). There were no significant differences energy intake and macro-nutrients in elementary school age children based on education level of parents in NTB and NTT (p≥0.05). We should do intensive counseling and programmed of nutriton balanced diet and the importance things is breakfast for school children. Keywords: Energy Intake, Macronutrients, Level of Education AbstrakDi provinsi NTB terdapat 12.4% dan 11% anak sekolah dasar mengalami gizi kurang dan gizi buruk, serta di NTT sekitar 5.3% dan 6%. Permasalahan pendidikan di wilayah NTB dan NTT masih cukup tinggi yaitu buta huruf, sekitar 419.991 jiwa dan 370.710 jiwa.Menganalisa perbandingan asupan zat gizi makro berdasarkan tingkat pendidikan orang tua di provinsi NTB dan NTT.Data yang digunakan merupakan data sekunder RISKESDAS 2010 dengan jumlah sampel sebanyak 886 responden untuk provinsi NTB dan 1064 responden untuk provinsi NTT. Metode yang digunakan cross sectional, survey analitik. Pengujian statistik menggunakan t-test independent. Sebagian besar tingkat pendidikan orang tua responden di provinsi NTB maupun NTT adalah Tidak Sekolah atau Tidak Tamat SD. Rata – rata usia responden di provinsi NTB adalah 8.9 tahun (±1.985), sedangkan provinsi NTT adalah 8.8 tahun (±1.931). Rata – rata asupan energi responden di NTB 1031.21Kal (±396.42) dan di NTT 871.13Kal (±412.96). Rata – rata asupan protein responden di NTB 31.54g (±18.22) dan di NTT 24.02g (±19.60). Rata – rata asupan karbohidrat responden di NTB 128.84g (±53.44) dan di NTT 141.02g (±74.61). Tidak terdapat perbedaan bermakna asupan energi dan zat gizi makro anak usia SD berdasarkan tingkat pendidikan orang tua di provinsi NTB dan NTT (p³0.05). Perlu dilakukan penyuluhan yang intensif dan terprogram dengan baik mengenai gizi seimbang dan pentingnya sarapan bagi anak sekolah Kata kunci : Asupan Energi, Asupan Zat Gizi Makro, Tingkat Pendidikan
Perbedaan Asupan Zat Gizi Makro Makan Pagi Pada Remaja Usia 12 - 19 Tahun Berdasarkan Tiga Daerah Dan Jenis Kelamin Di Propinsi Kalimantan Barat Lasini, Lasini; Wiyono, Sugeng
Jurnal Nutrire Diaita (Ilmu Gizi) Vol 4, No 2 (2012): NUTRIRE DIAITA
Publisher : Lembaga Penerbitan Unversitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/nut.v4i2.1245

Abstract

AbstractPhysical changes due to growth in adolescence can be affects to health and nutritional status of adolescents. It is necessary for balanced nutrition to meet the needs. The objective study was to determine differences macro nutrient intake of breakfast in adolescents aged 12-19 years based on the three areas and gender in West Kalimantan. We used secondary data Riskesdas 2010 with cross-sectional design and analytic survey. The population are all adolescents aged 12-19 years in three areas. The sample was 31 adolescents aged 12-19 years in Pontianak district, 85 in Pontianak and 32 in Singkawang. Statistical testing used independent t-test and One-way ANOVA test. The average value of z-score (nutritional status) in three regions are normal status (75%), obese (11.1%) and underweight (10.4%). The intake of Energy, carbohydrates, protein, and fat are (330.3±144.4) kcal, (53.9±20.2) g, (10.02±7.09) g and (4.9±8.72) g, respectively in the Pontianak district. In Kota Pontianak, the intake of energy, carbohydrates, protein, and fat are (305.4±172.5) kcal, (42.76±21.5) g, (9.74±8.36) g and (4.9± 8.7) g, respectively. In Singkawang the intake of energy, carbohydrates, protein, fat are (262.4±176.25) kcal, (39.08±22.2) g, (5.46±4.49) g and (8.94±12.78) g, respectively. The intake of carbohydrate and protein in breakfast time was significantly different according to three regions (p <0.05) whereas the intake of energy and fat was not significantly different (p≥0.05), and this study failed to find the differences of macro nutrient intake between men and women (p≥0.05). The government should give the information about the total of breakfast time macro nutrient intake in adolescents based on area and gender. Keywords: Macro-Nutrients intake, Breakfast, Adolescence AbstrakPerubahan fisik karena pertumbuhan pada masa remaja akan mempengaruhi status kesehatan dan gizi remaja. Untuk itu diperlukan gizi seimbang untuk memenuhi kebutuhan. Untuk mengetahui perbedaan asupan zat gizi makro makan pagi pada remaja usia 12-19 tahun berdasarkan tiga daerah dan jenis kelamin di Propinsi Kalimantan Barat. Data yang digunakan data sekunder Riskesdas        2010 dengan pendekatan cross-sectional dan design survey analitik. Populasi adalah seluruh remaja usia 12-19 tahun di tiga daerah. Sampel adalah 31 remaja usia 12-19 tahun di Kabupaten Pontianak, 85 di Kota Pontianak dan 32 di Kota Singkawang. Pengujian statistik menggunakan uji t-test Independen dan uji One-way Anova. Hasil: Nilai rata-rata z-score di ketiga daerah berstatus gizi normal (75%), status gizi gemuk (11,1%) dan kurus (10,4%). Asupan energi 330,3 kkal (±144,4), karbohidrat 53,9 gr (±20,2, protein 10,02 gr (±7,09) dan lemak 4,9 gr (±8,72) di Kabupaten Pontianak. Di Kota Pontianak asupan energi 305,4 kkal (±172,5), karbohidrat 42,76 gr (±21,5), protein 9,74 gr (±8,36) dan lemak 4,9 gr (±8,7) dan Kota Singkawang asupan energi 262,4 kkal (±176,25), karbohidrat 39,08 gr (±22,2), protein 5,46 gr (±4,49) dan lemak 8,94 gr (±12,78). Asupan karbohidrat dan protein waktu makan pagi berbeda secara bermakna berdasarkan tiga daerah (p<0,05) sedangkan asupan energi dan lemak tidak berbeda secara bermakna (p≥0,05), dan juga tidak ditemukan adanya perbedaan asupan zat gizi makro antara laki-laki dan perempuan (p≥0,05). Pemerintah perlu menginformasikan besaran asupan zat gizi makro makan pagi pada remaja terkait dengan lokasi dan jenis kelamin. Kata kunci                 : Asupan zat gizi makro, Sarapan, Remaja
Status Gizi Berdasarkan Pola Konsumsi Pada Anak Usia 6-7 Tahun Di Pulau Sumatera (Analisis Riskesdas 2010) Puspita, Tri; Ronitawati, Putri
Jurnal Nutrire Diaita (Ilmu Gizi) Vol 4, No 2 (2012): NUTRIRE DIAITA
Publisher : Lembaga Penerbitan Unversitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/nut.v4i2.1246

Abstract

AbstractNutritional status of children are influenced by many factors, one of which is the consumption pattern. The consumption patterns may either bring a child into the status of malnutrition or overweight that inhibits growth and development. This study to identifying consumption patterns based on the nutritional status of children aged 6-7 years on the island of Sumatera. We used secondary data RISKESDAS 2010, with cross-sectional approach. The total of respondent are 2304 children’s. We used one-way An-nova test to analyzing data. Based on the results of the study, as many as 79.7% of children of normal nutritional status, underweight 10.3% and 9.9% overweight. The results showed that children who overweight nutritional status of the mostly had consumed foods from cereals and grains (441±178) g, meat and poultry (12.4 ± 46.7) g, egg (24±45) g, milk (7.8± 35) g, vegetables (64.5± 84 g and fruits (19±55.5) g. Meanwhile, the children who underweight nutritional status mostly consumed of marine products such as fish and other marine products (40±70) g. There were no significant differences between consumption pattern of (cereals and grains, beans, meat, poultry, fish, milk, fats or oils, vegetables, fruits, snack foods, beverages, sugar and others) and nutritional status in children age 6-7 years on the island of Sumatera. We need more efforts to prevent and overcome problem of malnutrition with the comprehensive approach that includes aspects related to the nutritional status. Keywords: Nutritional Status, Food Consumption Pattern, Children aged 6-7 y AbstrakStatus gizi pada anak banyak dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satu diantaranya adalah pola konsumsi. Pola konsumsi yang tidak baik dapat membawa anak menjadi berstatus gizi kurang atau berstatus gizi lebih yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangannya. Mengidentifikasi pola konsumsi berdasarkan status gizi pada anak usia 6-7 tahun di Pulau Sumatera. Data yang digunakan adalah data sekunder RISKESDAS 2010, dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel anak yang masuk penelitian sebesar 2304 anak. Dalam pengujian statistik menggunakan uji one-way annova. Berdasarkan hasil penelitian, sebanyak 79,7% anak berstatus gizi normal, 10,3% berstatus gizi kurang dan 9,9% berstatus gizi lebih. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa anak dengan status gizi lebih paling banyak mengonsumsi makanan dari sumber serealia dan umbi-umbian 441 (±178 gr), daging dan unggas 12,4 (±46,7 gr), telur 24 (±45 gr), susu 7,8 (±35 gr), sayuran 64,5 (±84 gr) dan buah-buahan 19 (±55,5 gr). Sementara untuk anak dengan status gizi kurang paling banyak mengonsumsi bahan makanan dari hasil laut seperti ikan dan hasil laut lainnya 40 (±70 gr). Tidak terdapat perbedaan bermakna antara pola konsumsi (serealia dan umbi-umbian, kacang-kacangan, daging, unggas, ikan, susu, lemak atau minyak, sayuran, buah-buahan, makanan jajanan, minuman, gula dan lainnya) dan status gizi pada anak usia 6-7 tahun di Pulau Sumatera. Dalam upaya mencegah dan menanggulangi masalah gizi perlu dilakukan pendekatan menyeluruh yang meliputi aspek yang terkait dengan status gizi Kata Kunci : Status Gizi, Pola Konsumsi, Anak Usia 6-7 tahun
Perbedaan Pola Makan dan Asupan Energi, Zat Gizi Makro dan Serat Berdasarkan Jenis Kelamin, Status Ekonomi, Tipe Daerah, dan Status Gizi Pada Anak-Anak Usia 6-10 Tahun di Pulau Jawa Hasti, Setyorini Nur; Jusat, Idrus
Jurnal Nutrire Diaita (Ilmu Gizi) Vol 4, No 2 (2012): NUTRIRE DIAITA
Publisher : Lembaga Penerbitan Unversitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/nut.v4i2.1242

Abstract

AbstractIn Indonesia, many variation patterns of staple food consumption. It is caused by economic status, and level of education. The group of elementary school are in a period of rapid and active growth. The children should have sufficient intake of nutrients in both quantity and quality. The nutritional status of children is one of the indicators for assessing the state of growth and health status of children. To understand of the differences in diet, intake of energy, carbohydrate, protein, fat, fiber and nutritional status in children aged 6-10 years, in Java based on gender, type of area, economic status, and nutritional status. We used secondary data from Riskesdas 2010, with cross-sectional design. The samples are12838 children’s aged 6-10 years in Java Island. The food consumption data from 24-hour recall method, and then calculated with total of nutrient intakes; Energy, Macro Nutrient Substances and fiber, and the data of nutritional status from anthropometric measurements. We used t-test and ANOVA to analyzing data. Approximately 61.4% of school-age children with normal nutritional status, and about 14% are obese. Carbohydrate intake from cereals and tubers are significantly different based on type of Region (p <0.05). The average intake of protein from meat and poultry in low-income groups significantly different than the other groups (p <0.05). The average intake of fat from food/Snack higher in obese children than other groups (p <0.05). Fiber intake from Nuts & Grains greater in girls (p <0.05). The pattern of diet, intake of energy, macro nutrients, and fiber in children aged 6-10 years varies greatly according to gender, type of area, economic status, and nutritional status in Java Island. Keywords: Energy Intake, Nutritional Status, Economic Status AbstrakPola konsumsi makanan pokok di Indonesia dapat beragam. Disebabkan oleh  status ekonomi, dan pendidikan. Kelompok usia sekolah berada pada masa pertumbuhan yang cepat dan aktif. Anak harus mendapatkan zat gizi dalam kuantitas dan kualitas yang cukup. Status gizi anak merupakan salah satu tolak ukur untuk menilai keadaan pertumbuhan dan status kesehatan anak. Mengetahui perbedaan pola makan, asupan energi, karbohidrat, protein, lemak, serat serta status gizi pada anak usia 6-10 tahun di pulau Jawa berdasarkan jenis kelamin, tipe daerah, status ekonomi, dan status gizi. Menggunakan data sekunder Riskesdas 2010, rancangan cross sectional. Sampel yang dianalisa adalah anak usia 6-10 tahun di Pulau Jawa yang berjumlah 12838 orang. Data konsumsi makanan didapat melalui metoda recall 24-jam, kemudian dihitung jumlah asupan Energi, Zat Gizi Makro dan Serat, dan data status gizi melalui pengukuran antropometri. Analisis data menggunakan t-test dan Anova. Sekitar 61,4% anak usia sekolah dengan status gizi normal, dan sejumlah 14% sangat gemuk. Asupan karbohidrat dari Serealia & Umbi-umbian berbeda sangat bermakna menurut tipe Daerah (p<0,05). Rata-rata asupan protein dari Daging & Unggas pada kelompok berpendapatan rendah berbeda sangat bermakna dibanding kelompok lainnya (p<0,05). Asupan rata-rata lemak dari Makanan/Jajan lebih tinggi pada anak dengan status gizi gemuk dibanding kelompok lainnya (p<0,05). Asupan serat dari Kacang  & Biji-bijian lebih besar pada anak perempuan (p<0,05). Pola makan, asupan energi, zat gizi makro, dan serat pada anak-anak usia 6-10 tahun sangat bervariasi menurut jenis kelamin, tipe daerah, status ekonomi, dan status gizi pada anak-anak usia 6-10 tahun di pulau Jawa. Kata Kunci: Asupan Energi, Status Gizi, Status Ekonomi

Page 1 of 1 | Total Record : 5