cover
Contact Name
Ihya' Ulumudin
Contact Email
ihyaulumudin84@gmail.com
Phone
+6285706535574
Journal Mail Official
bismillah@kitabaca.id
Editorial Address
Kitabaca : Journal of Islamic Studies International Consortium of Islamic Researchers (ICONIRs) CV. Branded Tech Indonesia. Alamat : Dusun Krajan RT 02 RW 01 Tempuran Bantaran Probolinggo, Indonesia. Email : redaksi@kitabaca.id
Location
Kab. probolinggo,
Jawa timur
INDONESIA
Kitabaca : Journal of Islamic Studies
ISSN : 30627230     EISSN : 30627222     DOI : https://doi.org/10.66930/kitabaca
Core Subject :
Kitabaca : Journal of Islamic Studies, (E-ISSN-3062-7222, P-ISSN-3062-7230) published twice a year (June and December). Kitabaca : Journal of Islamic Studies, is a double-blind review quarterly, has established a reputation for publishing scholarly research and analysis, as well as book reviews, on the Middle East and the Islamic world. Included within the areas covered are North Africa, West Asia and the various regions and countries in Asia containing significant Muslim communities. The Journal focuses in particular on the political, security, economic, energy, cultural, educational and demographic linkages between Asia and the Middle Eastern/Islamic worlds. The approach is interdisciplinary, straddling and combining perspectives from political science, international relations, history, economics, anthropology, sociology, culture and religion. International Consortium of Islamic Researchers (ICONIRs) CV. Branded Tech Indonesia, will build on this solid foundation, retaining the same interdisciplinary approach and area coverage. It is the editorial arrangements, the procedural processes in attracting and accepting manuscripts, and the outreach into different markets which International Consortium of Islamic Researchers (ICONIRs) International Consortium of Islamic Researchers (ICONIRs) CV. Branded Tech Indonesia wishes to develop.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Cadar Sebagai Pembentuk Identitas Diri Muslimah Hayatul Mala
Kitabaca : Journal of Islamic Studies Vol. 1 No. 2 (2024): Desember
Publisher : International Consortium of Islamic Researchers (ICONIRs) CV. Branded Tech Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66930/kitabaca.v1i2.11

Abstract

Saat ini, cadar menjadi simbol identitas yang kuat. Tantangan sosial dan stigma sering kali menjadi bagian dari realitas yang harus dihadapi oleh wanita muslimah bercadar. Namun, hal ini tidak menghambat peningkatan jumlah wanita yang memilih untuk tetap mempertahankan identitas diri mereka sebagai bentuk representatif wanita salihah. Tujuan dari penelitan ini adalah untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan cadar dalam membentuk identitas diri muslimah bercadar. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Subyek penelitian ini adalah muslimah bercadar yang berada di Kabupaten Lumajang. Dalam menggali data, peneliti menggunakan teknik wawancara dan observasi dan menganalisisnya dengan mereduksi data sehingga berbentuk kata-kata dan tulisan yang kemudian dapat ditarik kesimpulan terkait tema dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan cadar dapat memperkuat identitas agama seorang Muslimah, sekaligus berfungsi sebagai alat untuk mengekspresikan kebebasan dalam menjalani ajaran Islam. Meskipun terdapat variasi pandangan terkait cadar dalam konteks sosial dan budaya, sebagian besar responden menganggap cadar sebagai bagian penting dalam membentuk citra diri mereka sebagai individu yang taat dan bermartabat. Keywords: cadar, identitas diri, muslimah bercadar
Model Pembelajaran Membaca Al-Quran TPQ Raudlatul Muta’allimin Hamimah
Kitabaca : Journal of Islamic Studies Vol. 2 No. 1 (2025): June
Publisher : International Consortium of Islamic Researchers (ICONIRs) CV. Branded Tech Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66930/kitabaca.v2i1.18

Abstract

AlQuran adalah kalamullah yang di turunkan kepada nabi Muhammad melalui malakat Jibril dengan ayat yang pertama kali di turunkan adalah surat Al-a’laq yang berbunyi Bacalah dengan menyebut Nama Allah yang menciptakan. AlQuran merupakan petunjuk dalam hidup manusia dan menjadi pedoman dalam hidup manusia. Membaca adalah kemampuan yang wajib di kuasai oleh siswa agar proses belajar mengajar terlaksana dengan baik. Membaca merupakan kemampuan yang bagi sebagian orang mudah namun bagi sebagian yang lain merupakan hal yang sulit. Tujuan dari penelitian ini adalah Pertama, untuk mengetahui bagaimana Model Pembelajaran Membaca Al-Quran di TPQ raudlatul Muta’allimin untuk mengetahui faktor apa saja yang mendukung dan menghambat Model Pembelajaran Membaca Al-Quran TPQ raudlatul Muta’allimin. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif analitik. Tehnik pengambilan data dengan melakukan wawancara terhadapa santri TPQ Raudlatul Muta’allimin, melakukan wawancara dengan guru TPQ Raudlatul Muta’allimin. Hasil dari penelitian ini adalah model pembelajaran membaca TPQ Raudlatul Muta’allimin terdiri dari tiga Model; Satu, ABATASA. Dua, IQRA’. Tiga, SIMAAN. Adapun faktor yang mendukung dan menghambat adalah Faktor Internal: faktor yang bersumber dari dalam diri dan Faktor Eksternal: faktor yang bersumber dari luar diri.
Memahami Konsep Islamic Education Leadership Kyai Ageng Muhammad Besari Eva Maghfiroh; Parino
Kitabaca : Journal of Islamic Studies Vol. 2 No. 2 (2025): Desember
Publisher : International Consortium of Islamic Researchers (ICONIRs) CV. Branded Tech Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66930/kitabaca.v2i2.23

Abstract

Penelitian ini mengkaji konsep kepemimpinan pendidikan Islam melalui sosok Kyai Ageng Muhammad Besari (Syekh Hasan Besari) sebagai tokoh yang berperan signifikan dalam bidang agama, budaya, dan nasionalisme. Menggunakan pendekatan konseptual dengan metode studi manuskrip dan penelitian akademik, penelitian ini bertujuan memahami hubungan dialektis antara aspek religius-kultural dan religius-nasionalistik yang diwujudkan oleh Syekh Hasan Besari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kyai Ageng Muhammad Besari merupakan pemimpin Pondok Pesantren Tegalsari yang mencapai puncak kejayaan di bawah kepemimpinannya, menarik ribuan santri dari seluruh nusantara. Dalam aspek budaya, ia menerapkan pendekatan akulturatif yang apresiatif dan akomodatif terhadap budaya lokal, menggunakan pola 'pribumisasi' dan 'negosiasi' dalam mengintegrasikan agama dan budaya tanpa menghilangkan tradisi lokal yang tidak bertentangan dengan prinsip Islam. Penelitian ini menyimpulan bahwa nilai-nilai Islam Syekh Hasan Besari teraktualisasi dalam seluruh aspek kehidupan dengan pendekatan harmonis yang menghindari konfrontasi antara ajaran agama dengan budaya lokal atau identitas nasional. Warisannya menekankan pentingnya pemimpin agama dalam memupuk kohesi sosial dan mempromosikan pemahaman Islam yang inklusif, menghormati tradisi lokal, dan berkontribusi pada identitas nasional. Kata kunci: kepemimpinan pendidikan Islam, Kyai Ageng Muhammad Besari, akulturasi budaya, nasionalisme, Pondok Pesantren Tegalsari
Konsep Al-Birr dan Al-Qisṭ dalam Tafsir Al-Qurṭūbī dan Implikasinya terhadap Toleransi Antaragama Ihya Ulumudin
Kitabaca : Journal of Islamic Studies Vol. 2 No. 1 (2025): June
Publisher : International Consortium of Islamic Researchers (ICONIRs) CV. Branded Tech Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66930/kitabaca.v2i1.24

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk merekonstruksi konsep al-birr dan al-qisṭ dalam tafsir al-Qurṭūbī terhadap QS. Al-Mumtaḥanah ayat 8 serta menganalisis relevansinya dalam konteks relasi Muslim–non-Muslim di masyarakat plural kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan metode analisis tahlīlī terhadap karya tafsir al-Jāmiʿ li Aḥkām al-Qur’ān. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Qurṭūbī memaknai al-birr sebagai tindakan kebaikan aktif yang konkret, mencakup pemberian bantuan dan pemeliharaan hubungan sosial dengan non-Muslim yang tidak memusuhi Islam. Sementara itu, al-qisṭ dimaknai sebagai keadilan distributif yang menuntut pemberian hak secara proporsional tanpa diskriminasi yang tidak sah. Integrasi kedua konsep tersebut membentuk fondasi etika relasional yang menggabungkan dimensi moral dan hukum secara seimbang. Meskipun penafsiran al-Qurṭūbī bersifat kondisional sesuai konteks sosial-politik klasik, substansi normatifnya dapat direkonstruksi melalui pendekatan maqāṣid al-sharīʿah untuk menjawab tantangan pluralitas modern. Penelitian ini menunjukkan bahwa tafsir fikih klasik tidak identik dengan eksklusivisme sosial, melainkan menyediakan dasar normatif bagi koeksistensi yang adil dan bermartabat. Dengan demikian, konsep al-birr dan al-qisṭ memiliki relevansi teoritis dan praktis dalam penguatan etika relasi antaragama di Indonesia
Meneguhkan Kembali Kesucian: Dakwah Islam sebagai Komunikasi Publik di Dunia Pasca-Sekuler melalui Gerakan KUPI Putri Nadiyatul Firdausi
Kitabaca : Journal of Islamic Studies Vol. 2 No. 1 (2025): June
Publisher : International Consortium of Islamic Researchers (ICONIRs) CV. Branded Tech Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66930/kitabaca.v2i1.25

Abstract

Penelitian ini mengkaji bagaimana Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) merekonstruksi dakwah Islam sebagai bentuk komunikasi publik dalam masyarakat pasca-sekuler. Dengan menggunakan kerangka teori post-secular (Habermas; Taylor) dan konsep public religion (Casanova), studi ini menganalisis bagaimana ulama perempuan KUPI menegosiasikan nilai kesucian, agensi gender, dan religiositas digital dalam konteks Indonesia kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus interpretatif. Data diperoleh melalui analisis dokumen dan observasi digital terhadap publikasi resmi KUPI, termasuk dokumen nilai dasar, risalah, fatwa, materi kampanye, serta konten digital periode 2021–2024. Analisis tematik menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, KUPI mendefinisikan ulang dakwah sebagai komunikasi publik reflektif yang menerjemahkan prinsip teologis Islam ke dalam wacana etika yang inklusif. Kedua, ulama perempuan membangun agensi religius digital melalui strategi komunikasi dialogis dan partisipatif yang merekonstruksi otoritas keagamaan. Ketiga, KUPI mengartikulasikan kembali makna kesucian sebagai kekuatan moral yang terlibat secara sosial, dengan mengintegrasikan spiritualitas, keadilan gender, tanggung jawab ekologis, dan dialog pluralistik. Temuan ini menunjukkan bahwa KUPI merepresentasikan model komunikasi Islam pasca-sekuler, di mana agama tidak diprivatisasi, melainkan dinegosiasikan secara rasional dan etis dalam ruang publik digital. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian komunikasi Islam, agensi perempuan Muslim, dan wacana agama di ruang publik kontemporer. Kata kunci: Dakwah, KUPI, komunikasi publik, perempuan ulama, pasca-sekuler, religiositas digital.

Page 2 of 2 | Total Record : 15