cover
Contact Name
Lutfia Okta Riwayati
Contact Email
lutfiakta8@gmail.com
Phone
+6285643145048
Journal Mail Official
lutfiakta8@gmail.com
Editorial Address
Karawitan Department, Faculty of Performing Art Indonesian Institute of the Arts, Surakarta, Indonesia Jl. Ki Hajar Dewantara No.19, Jebres, Kec. Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57126
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi
ISSN : 14122065     EISSN : 27146367     DOI : https://doi.org/10.33153/keteg.v25i1.7302
Core Subject :
Focus And Scope Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi is a peer-reviewed, open-access journal advancing the study of sound, music, and performing arts. We exclusively publish high-quality, original research and review articles that demonstrate significant scientific novelty, supported by a clear state-of-the-art and gap analysis. We welcome both empirical and practice-based/practice-led research. Our core scope includes, but is not limited to: Sound Studies & Acoustics: Multidisciplinary research on auditory culture, soundscapes, and the physical/technological aspects of music. Ethnomusicology & Cultural Studies: Critical analysis of sound and music within socio-cultural and historical contexts. Karawitanologi & Traditional Performing Arts: In-depth studies on Indonesian traditional music, including its education, history, aesthetics, and organology. Contemporary Arts & Composition: Research on modern musical composition, contemporary performance, and creative processes. Keteg strongly encourages interdisciplinary approaches, inviting global scholars and practitioners to enrich the academic discourse on "sound" in all its dimensions.
Arjuna Subject : -
Articles 189 Documents
PERUBAHAN FORMAT MUSIKAL MACAPAT KINANTHI Kartika Nur Hekmawati; Rusdiyantoro Rusdiyantoro
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 20 No. 2 (2020)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v20i2.3556

Abstract

 Tulisan ini dilatarbelakangi oleh adanya perubahan dan perkembangan garap musikal dari Sekar Macapat Kinanthi menjadi beberapa bentuk gendhing, baik gendhing vokal maupun bentuk gendhing gamelan. Penulis menggunakan istilah perubahan dan perkembangan garap karena pada kenyataannya Sekar Macapat Kinanthi tidak hanya dibentuk menjadi gendhing gamelan saja, akan tetapi  juga  mengalami  perkembangan  dalam  bentuk  sajian  vokal  yang  lain, seperti: sajian bawa dan palaran.Melalui analisis perbandingan sèlèh nada pada setiap baris sekar Macapat Kinanthi dengan beberapa bentuk gendhing sasaran, maka penulis mencoba untuk mengkorelasikan kerangka balungan gendhing, lagu vokal gerongan, dan garap rebaban pada bentuk-bentuk gendhing sasaran dengan sèlèh nada dan alur lagu dari  jenis  Sekar  Macapat  Kinanthi  yang  menjadi  dasar  penciptaannya.  Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan oleh penulis adalah pendekatan musikologis, dengan  mendasarkan pada konsep garap, balungan, bentuk,  dan struktur gendhing. Adanya penelitian ini, karena sebuah pemikiran sebagaimana yang dikemukakan oleh R. Ng. Warsapradangga, bahwa adanya suatu gendhing adalah dari sekar.
KEHADIRAN GENDING MUGI RAHAYU DALAM KONTEKS SOSIAL Niken Setyani; Rusdiyantoro Rusdiyantoro
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 20 No. 1 (2020)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v20i1.3557

Abstract

Permasalahan yang ingin diurai dalam penelitian ini adalah terkait perkembangan fungsi Mugi Rahayu di masyarakat. Hal tersebut atas dasar popularitas gending, kehadiran, dan perkembangan garapnya yang beragam dalam memenuhi  beberapa fungsi dan keperluan di dalam masyarakat Jawa Tengah khususnya daerah Surakarta dan sekitarnya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan metode deskriptif analisis, yaitu memberikan penjelasan  tentang  keragaman  gending  Mugi  Rahayu  dalam  berbagai fungsi dengan menggunakan pendekatan pemikiran Supanggah mengenai teori garap. Hasil analisis yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa ragam garap yang terjadi pada gending Mugi Rahayu terlahir karena memenuhi fungsi yang ada dalam masyarakat Jawa dan menjadikan gending Mugi Rahayu tetap eksis dan sering dipilih sebagai pendukung sajian sosial maupun layanan seni.
TRANSFORMASI SEKAR MACAPAT DURMA MENJADI GENDING KEMANAK ANGLIRMENDHUNG Suraji Suraji
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 21 No. 1 (2021)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v21i1.3561

Abstract

Tulisan ini dilatarbelakangi oleh informasi bahwa gending-gending JawaGaya Surakarta banyak yang dibentuk dari ‘sekar’ (tembang). Pembahasan dalamtulisan ini difokuskan pada hubungan yang terdapat pada sekar macapat Durmadan gendhing kemanak Anglirmendhung dengan cara membandingkan alur melodilagu vokal pada lagu sekar macapat Durma dengan gendhing kemanakAnglirmendhung. Studi ini berupaya untuk mendeskripsikan dan mencari korelasi antaragending kemanak Anglirmendhung dengan sekar macapat Durma. Adapun untukmembedah permasalahan tersebut, konsep garap digunakan pada studi ini karenaapa yang terjadi dalam persoalan tersebut sesungguhnya adalah hasil darikreativitas, imajinasi dan interpretasi para pengrawit. Di samping itu, landasanpemikiran Mas Ngabehi Warsapradangga digunakan dalam kerja analisisnya.Dasar pemikirannya adalah bahwa, dasar penciptaan gending pada awalnyabersumber dari lagu vokal (tembang). Ditemukannya jawaban atas permasalahantersebut tentu sangat bermanfaat bagi dunia karawitan, baik dari sudut pandangpraktik maupun keilmuan. Hasil analisis menunjukkan bahwa, dengan membandingkan baris-barisdalam sekar macapat Durma terhadap kalimat lagu gendhing kemanakAnglirmendhung, serta memperhatikan alur melodi dan seleh-selehnya, adalahsalah satu bukti yang membenarkan pemikiran Mas Ngabehi Warsapradangga.
FUNGSI MUSIK DALAM RITUAL TIBAN DI DESA PURWOKERTO KECAMATAN NGADILUWIH KABUPATEN KEDIRI Viesta Agustina; Muhammad Nur Salim
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 20 No. 1 (2020)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v20i1.3563

Abstract

The article entitled "The Function of Music in Tiban Rituals in Purwokerto Village, Ngadiluwih District, Kediri Regency" focused on the issue of Tiban ritual forms, Tiban ritual music performance and the function of Tiban ritual music. The results showed that the Tiban ritual was held during the long dry season with the aim for asking for rain through whipping by the perpetrators or what is called petiban. The people believe that the Tiban ritual can bring rain by means of media of blood dripping on the ground. Tiban music has several motifs in the wasp structure that characterizes it. Tiban music has an important function in Tiban rituals. The functions of music include the function of emotional expression, aesthetics, communication, physical reaction, legalization of social institutions and religious ceremonies, cultural sustainability, and community integration.
“PAMETHUK PARI” EKSPRESI MUSIKAL RITUAL PETHIK PARI DI DESA SUMBER ASRI KECAMATAN PURWOHARJO KABUPATEN BANYUWANGI JAWA TIMUR Yatimin Yatimin; Santosa Soewarlan
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 20 No. 1 (2020)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v20i1.3564

Abstract

Pamethuk Pari, a Musical Expression of the Pethik Pari Ritual, is a form of music based on the ethnic Banyuwangi music using Angklung Paglak as a performance art. Interest in the existence of this ritual is becoming unknown in society. The phenomenon that occurs in the Pethik Pari ritual is rarely done in Banyuwangi Regency. The concept of art used is a symbolic concept with an arrangement concept that emphasizes new music with Banyuwangi ethnic music media. The initial steps in the process of creating a musical work Pamethuk Pari include 1) observation to determine the possible limitations to be packaged in a musical piece. Observations were made by looking for information that reviewed the Pethik Pari ritual, 2) Search for materials looking for instruments whose sound characters could represent rural nuances, 3) Collection of Materials, 4) Methods and Stages of Material Processing so that the links between the musical instruments could complement one another 5) Technical arrangement of materials by means of instrument exploration. The philosophy of the musical Pamethuk Pari contains guidelines for community life that teach mutual respect, togetherness, and gratitude to God Almighty.
GARAP GENDERAN DALAM GENDING LAMPAH TIGA Wahyu Thoyyib Pambayun; Nanang Bayu Aji
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 20 No. 2 (2020)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v20i2.3569

Abstract

 Gending lampah tiga composed by Harjasubrata in the 1950s. At the very beginning of its existence, lampah tiga composition focused and working on vocals, so gending lampah tiga has not been equipped with settled garap instruments. Most pengrawits find it hard to present gending lampah tiga, especially on ricikan gender, this is because the information about genderan lampah tiga is still limited. This article is entitled “Garap Genderan in Gending Lampah Tiga”, the problem  described in this article is how to present garap genderan in gending lampah tiga. The method that used to solve the problem in this article is to analyze and transcribe the presentation of gending lampah tiga, then interpreted.The writer hopes to provide an offer about how to interpret genderan in gending lampah tiga and to give a “little” contribution of thoughts for the development of karawitan science.
PROSES PENYUSUNAN KOMPOSISI GAMELAN "ARUHARA" Wahyu Thoyyib Pambayun
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 21 No. 1 (2021)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v21i1.3622

Abstract

 This article contains the author’s experience in composing gamelan composition, “Aruhara”. In the composing process of “Aruhara”, the author was inspired by the Genderan of Ada-ada Ngobong Dupa presented by Sumiyati. In order to create the gamelan composition “Aruhara”, the author uses reinterpretation approaches. The steps of composing the piece are: observation, exploration, elaboration, rehearsal, and finalization. The process that has been passed has resulted new offers in addressing the gender instrument, such as  the use of patterns, techniques, musical scales and the connection between the instruments. The author hopes this article can be useful as an alternative source to learn gamelan compositions for gamelan composition learners, and it can provides an overview about the discourse, also the performance of Indonesian composers.Keywords::Composition, Gamelan, Gender, Aruhara, Karawitan
INTERPRETASI VOKALIS TERHADAP FRASA BALUNGAN CÉNGKOK MATI Nanang Bayu Aji; Bambang Sunarto
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 21 No. 1 (2021)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v21i1.3679

Abstract

Tulisan ini mengungkap kasus frasa balungan céngkok mati di dalam karawitan gaya Surakarta. Permasalahan yang akan dipaparkan terkait interpretasi vokalis terhadap frasa balungan céngkok mati. Pengumpulan data diperoleh dengan cara studi pustaka, wawancara, dan juga laboratoris. Analisis dilakukan dengan cara menafsirkan kembali pemikiran serta pengalaman pêngrawit vokalis yang diperoleh melalui realitas pragmatik. Penafsiran menggunakan metode interpretasi dan analisis garap. Vokal dalam ensambel gamelan mempunyai cara untuk menginterpretasi frasa balungan céngkok mati. Interpretasi tersebut digunakan dalam rangka mengeksekusi frasa balungan céngkok mati dengan garap balungan céngkok mati. Hal tersebut dikarenakan tidak semua frasa balungan céngkok mati dieksekusi dengan garap balungan céngkok mati. Kehadiran vokal mempunyai peranan penting dalam karawitan, khususnya peranan terhadap gending dan garap gending. Peranan penting vokal dalam sajian karawitan tertentu memposisikan vokal menjadi lebih berwenang dalam menginterpretasi frasa balungan céngkok mati. Kata kunci : vokalis, balungan céngkok mati,  interpretasi, peran, eksekusi
LANGGAM DAN ZAPIN GRUP MUSIK MELAYU SAYANG SENANDUNG Yusnelli Yusnelli; Ferry Herdianto
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 21 No. 1 (2021)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v21i1.3681

Abstract

Malay art generally displays songs that have song ranges or tempo such as langgam and zapin. Likewise with the Malay art of Sayang Senandung always plays these two tempos in every show. However, there is something unique about Sayang Senandung where the two tempo forms are packaged using different instruments from other Malay forms. Tempo Langgam uses violin instruments (melodic instruments), bebano pasu, kompang, and tetawak as tempo control instruments, and in every show always plays the songs Dondang Sayang, Inang Cina and Serampang Laut. Tempo Zapin uses the string instrument, the violin as the carrier of the melody and filler and the Marwas and the tetawak as the instrument for cntrolling the tempo. The songs he often performed were zapin major and zapin minor.
KARAWITAN : ANALISIS PATHET DAN JALAN SAJIAN GARAP GENDING PAKELIRAN Sigit Setiawan
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 21 No. 1 (2021)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v21i1.3740

Abstract

Hal yang ingin diungkap pada penelitian ini adalah, bentuk gending, jalan sajian, dan studi pathet dalam gending Krawitan. Krawitan merupakan gending yang lebih dikenal oleh masyarakat karawitan sebagai gending pakeliran. Maka, naskah ini fokus pada jalan sajian guna keperluan pakeliran. Adapun konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah, teori garap Rahayu Supanggah, pendekatan kontekstual dan tekstual dalam antropologi pandangan Ahimsa Putra, yang mana pada kajian tekstual mendapat perhatian yang lebih besar. Kajian tekstual yang dihadirkan adalah kajian bentuk gending, jalan sajian, dan studi pathet. Jalan sajian dianalisis dengan menggunakan tiga contoh kasus yakni, versi Media Ajar, versi RRI dan versi Nartosabda. Sedangkan studi pathet menggunakan pendekatann pathet melalui biang pathet karya Sri Hastanto. Dari hasil analisis yang dilakukan, investigasi bentuk gending berhasil memetakan posisi ketawang gending kethuk 4 kerep yang merupakan pemekaran dari ketawang gending kethuk 2 kerep dan diawali dari bentuk ketawang. Jalan sajian, termasuk di dalam dinamika irama pada garap pakeliran ada dua versi yakni versi dari ayak-ayak dan versi buka rebab. Hal tersebut berdampak pada perjalanan Gending Krawitan. Terakhir, investigasi terkait pathet, membuktikan bahwa meski Gending Krawitan ini merupakan gending dengan pathet induk nem, tetapi pada faktanya gending ini terdiri dari frasa-frasa melodi yang tidak hanya pathet nem. 

Page 11 of 19 | Total Record : 189