Jurnal Prabung Seni: Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan
Jurnal Prabung Seni merupakan jurnal ilmiah pengkajian dan penciptaan seni pertunjukan untuk mahasiswa. Dikelola oleh Program Studi Seni Darma, Tari dan Musik (Sendratasik) Universitas Jambi. Prabung Seni menerima tulisan hasil studi atau penelitian di bidang seni drama (teater), tari, dan musik dalam berbagai kemungkinan sudut pandang.
Articles
48 Documents
PENCIPTAAN TARI TIRAI TOPENG BERDASARKAN TRADISI MAIN TOPENG DESA MUARO JAMBI
Jurnal Prabung Seni : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol. 2 No. 02 (2023): Prabung Seni | Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan (Desember 2023)
Publisher : Universitas Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22437/jpps.v2i02.27660
Karya tari Tirai Topeng adalah karya yang digarap berdasarkan tradisi Main Topeng yang ada di Desa Muaro Jambi. Topeng diinterpretasikan ke dalam kehidupan sosial tentang sifat munafik. Landasan penciptaan gerak didasari pada motif gerak tari Ngebeng dari Desa Rambutan Masam. Metode penciptaan karya terbagi menjadi dua tahapan, yaitu pra-produksi (riset) dan produksi. Tahapan pra-produksi terdiri dari pengumpulan data dan pengembangan konsep, sedangkan tahapan produksi adalah perwujudan tari. Karya tari yang menggunakan desain dramatik Kerucut Tunggal ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian pertama dengan suasana kedamaian, bagian kedua dengan suasana kegelisahan dan bagian tiga dengan suasana pemberontakan.
Penciptaan Karya Tari Senjang Berdasarkan Tradisi Ngadu Tanduk di Kerinci
Jurnal Prabung Seni : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol. 3 No. 1 (2024): Prabung Seni | Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan
Publisher : Universitas Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22437/jpps.v3i1.27730
Karya “Senjang” ini terinspirasi dari tradisi Ngadu Tanduk yang pada hakikatnya tradisi Ngadu Tanduk hanya memperbolehkan kaum laki-laki saja untuk memainkannya, hal ini terjadi dikarenakan adanya stigma bahwa perempuan adalah kaum yang lemah hingga tidak diperbolehkan untuk memainkan tradisi ini dan dianggap melanggar peraturan adat, dimana dalam peraturan adat kedudukan perempuan di kerinci hanya bertugas di dapur, kasur, dan sumur. Dari fenomena tersebut pengkarya menemukan adanya isu ketidak setaraan gender dimana pada saat ini perempuan mampu melakukan banyak hal layaknya seperti yang dilakukan oleh kaum laki-laki. Kesetaran merupakan poin utama yang di ungkap dalam karya “Senjang” ini. Dalam penggarapan karya “Senjang” menggunakan media tanduk yang terbuat dari rotan sebagai simbol kekuatan dan semangat seorang perempuan dalam menghadapi kehidupan. Karya “Senjang” menggunakan gerak silat langkah tigo sebagai dasar pijakan dalam pengembangan bentuk-bentuk gerak pada karya “Senjang” ini, musik dalam karya “Senjang” diambil dari motif pukulan musik tradisi Ngadu Tanduk yang terdiri dari alat musik Gendang, Gong dan vokal, kemudian dikembangkan dan disesuaikan dengan kebutuhan karya “Senjang”.
Analisis Struktur Musikologi Nandung Muji Sialang Versi Sahadan pada Ritual Muji Sialang di Kelurahan Jambi Kecil
Jurnal Prabung Seni : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol. 3 No. 1 (2024): Prabung Seni | Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan
Publisher : Universitas Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Muji Sialang merupakan ritual mengambil madu pohon Sialang, pada ritual Muji Sialang terdapat teks yang dibacakan oleh pemanjat dengan cara dinyanyikan. Nyanyian atau yang biasa disebut nandung Muji Sialang merupakan nyanyian yang teksnya bersifat merayu, bertujuan untuk meminta izin serta harapan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menekankan aspek deskripsi musik , yaitu menyangkut struktur musik nandung Muji Sialang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur musikal nandung Muji Sialang pada dasarnya selalu terjadi pengulangan setiap bagian melodinya, yang mana motif primer nandung Muji Sialang hanya terdapat 10 motif primer yaitu motif A sampai motif J dan selanjutnya pengulangan dari motif primer tersebut namun dengan pengembangan motif yang berbeda. Oleh karena itu, bentuk dan struktur nandung Muji Sialang tidak mengacu pada bentuk musik konvensional (barat). Dapat dikatakan nandung Muji Sialang memiliki bentuk dan struktur sendiri atau independen dengan kecenderungan perputaran siklus melodinya. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya repetisi baik motif maupun frase.
ANALISIS STRUKTUR KOMPOSISI MUSIK AFEKTIF NYANYIAN MANTAU DALAM MEREPERESENTASIKAN IDIOM MUSIKAL DAN EKTRAMUSIKAL PADA MUSIK PROGRAMMA DESKRIPTIF
Jurnal Prabung Seni : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol. 3 No. 2 (2024): Jurnal Prabung Seni | Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan
Publisher : Universitas Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22437/jpps.v3i2.27844
Mantau adalah nyanyian tradisional yang tumbuh dan berkembang di Desa Simpang Parit, Kecamatan Renah Pembarap, Kabupaten Merangin. Nyanyian tradisional Mantau berisi tentang kisah percintaan, kesedihan, dan ekspresi kehidupan petani perladangan. Kata mantau sendiri berarti melihat, mencari, memanggil (berkomunikasi) teman yang memotong karet atau berladang di dalam hutan. Nyanyian Mantau ini dijadikan dasar penciptaan komposisi musik melalui transformasi idiom musikal dan ekstra musikal sebagai bagian dari tradisi nyanyian Mantau. Proses penciptaan menggunakan metode observasi, perumusan, dan pengembangan konsep, serta perwujudannya ke dalam komposisi musik. Hasilnya berupa karya musik yang menyajikan pola melodi dari kesenian Mantau, digarap melalui sejumlah instrumentasi, mencakup nyanyian dengan vokal sopran, alto, tenor dan bass dalam bentuk ansambel campuran. Karya musik ini diberi judul “Afektif Nyanyian Mantau”.
PEMERANAN TOKOH SISKA DALAM NASKAH PELANGI KARYA NANO RIANTIARNO
Jurnal Prabung Seni : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol. 2 No. 02 (2023): Prabung Seni | Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan (Desember 2023)
Publisher : Universitas Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22437/jpps.v2i02.27866
Penciptaan pemeranan tokoh Siska merupakan kerja keaktoran yang didasari oleh naskah Pelangi karya Nano Riantiarno. Tujuan dari penciptaan pemeranan ini adalah mewujudkan tokoh Siska dengan akting yang dapat dipertanggungjawabkan. Kerja pemeranan ini menggunakan metode akting Stanislavski yang terdapat di dalam buku Persiapan Seorang Aktor (1980) dan Membangun Tokoh (2008). Metode akting yang dipilih antara lain: motivasi, imajinasi, pemusatan pikiran, ingatan emosi, kekuatan motif, mendandani tokoh dan menubuhkan tokoh. Pendekatan akting yang dipilih dalam mewujudkan tokoh Siska adalah pendekatan akting representasi.
STUDI DESKRIPTIF GAYA PENYAJIAN TARI RANGGUK MASYARAKAT KABUPATEN KERINCI KASUS TARI RANGGUK DESA PENAWAR, SIULAK, DAN KUMUN
Jurnal Prabung Seni : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol. 3 No. 2 (2024): Jurnal Prabung Seni | Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan
Publisher : Universitas Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22437/jpps.v3i2.29112
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan fenomena terkait studi deskriptif gaya penyajian Tari Rangguk masyarakat Kabupaten Kerinci yang ada di Desa Penawar, Kumun dan Siulak. Pertunjukan Tari Rangguk menjadi ajang silaturahmi dalam hidup bertetangga. Oleh karena itu Tari Rangguk sering dipertunjukan pada acara adat yaitu Kenduri Sko. Tari Rangguk diambil dari kegiatan merangguk yang menjadi kebiasaan dalam masyarakat, sehingga muncullah ide masyarakat untuk menjadikan sebuah gerak tari. Sedangkan musik pada tari mengambil dari alunan Kerinci serta ayat-ayat al-quran. Kostum penari yaitu baju adat Kerinci yang memperlihatkan ciri khas masyarakat setempat. Keberadaan Tari Rangguk di Kerinci berkembang di tiga desa dengan berbagai macam keberagaman mulai dari strukur penyajian tari yaitu gerak, musik, penari, kostum rias, properti dan desain lantai. Gaya yang dianalisis dari gerak penari serta sebab akibat yang memberikan dampak pada Tari Rangguk, sehingga terdapat perbedaan dan persamaan pada tari tersebut. Dari penjelasan di atas, maka peneliti tertarik untuk membahas tentang bagaimana struktur penyajian tari, gaya pada Tari Rangguk, dan bagaimana perbedaan serta persamaan pada Tari Rangguk. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui menganalisis Tari Rangguk dengan terjun langsung ke lapangan untuk mendapatkan data yang diinginkan. Teori yang digunakan adalah struktur, gaya serta komparasi yang relevan dengan peneilitian.
STUDI BIOGRAFI DAN KOREOGRAFI HARUN PASIR SEBAGAI PENCIPTA TARI NGAGAH IMAU
Jurnal Prabung Seni : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol. 2 No. 02 (2023): Prabung Seni | Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan (Desember 2023)
Publisher : Universitas Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22437/jpps.v2i02.29360
Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri proses kreatif dari Harun Pasir sebagai seorang seniman Pulau Tengah dalam mewujudkan ide koreografi dan bentuk garapan karya tari Ngagah Imau sebagai tari daerah dari Kerinci. Objek penelitian adalah Harun Pasir dan tari Ngagah Imau yang dikaji dari studi koreografi dan biografi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitik. Objek formal yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori biografi, teori koreografi dan teori bentuk. Hasil dari penelitian ini adalah Harun Pasir dijuluki sebagai seorang seniman alam, karena ide, konsep dan gerak yang disajikan selalu terinspirasi dari alam dan kegiatan masyarakat. Pada karya tari Ngagah Imau, bentuk gerak berangkat dari upaya peniruan atas gerak-gerak binatang.
MUSIK TRADISIONAL JAMBI SEBAGAI SUMBER PROJECT BASED LEARNING PADA MATA KULIAH KOMPOSISI MUSIK II PRODI SENDARATASIK UNIVERSITAS JAMBI
Jurnal Prabung Seni : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol. 2 No. 02 (2023): Prabung Seni | Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan (Desember 2023)
Publisher : Universitas Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22437/jpps.v2i02.29777
Musik tradisional daerah Jambi merupakan bahan kajian pada bidang dan minat musik di Program Studi Seni Drama, Tari dan Musik (Sendratasik). Mata kuliah Komposisi Musik II adalah mata kuliah lanjutan dan mata kuliah akhir dari pembelajaran teori musik, teori kebudayaan, dan konsep musik yang memuat pembelajaran praktek (project) untuk capaian pembelajarannya. Model Project Based Learning (BjBL) dengan skema Team Based Learning (TBL). Penelitian ini bertujuan untuk melatih mahasiswa agar lebih aktif dan menguasai ilmu pengetahuan serta terampil dalam menciptakan karya musik. Secara metodologis, penelitian ini menggunakan pendekatan metode kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif fokus pada eksperimen gagasan struktural musikal. Sedangkan pendekatan kualitatif digunakan untuk menjelaskan dan mendeskripsikan temuan dari proses karya atau sebuah produksi laboratorium yang bisa dinikmati dan dianalisis kembali oleh audiens. Presentasi merupakan salah satu luaran dari siklus pertama yang menjadi tolak ukur keberhasilan mahasiswa dalam memaparkan materi dan memahami materi pembelajaran. Peneliti menyimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) dengan penerapannya pada mahasiswa semester VII dalam mata kuliah Komposisi Musik II sangat efektif pada pebelajaranya sehingga mampu meningkatkan keaktifan dan motivasi siswa semester VII dalam rangka persiapan Tugas Akhir pada Program Studi Seni Drama Tari dan Musik.
Penciptaan Tari Renjana Berangkat Dari Kepedulian Terhadap Rasa Kebersamaan pada Rumah Panggung di Desa Muara Jambi
Jurnal Prabung Seni : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol. 3 No. 1 (2024): Prabung Seni | Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan
Publisher : Universitas Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22437/jpps.v3i1.30546
Renjana merupakan karya dengan ide garapan yang berasal dari tradisi Rumah Panggung di desa Muara Jambi. Ide yang menjadi inspirasi pengkarya dalam karya Renjana adalah keinginan hati yang kuat untuk mengembalikan kebersamaan dalam sebuah keluarga, yakni berubahnya kedekatan yang dahulunya terjalin sangat dekat antar anggota keluarga, menjadi renggang dan tidak saling memperdulikan antar anggota keluarga walau tinggal dalam satu rumah yang sama. Sehingga menciptakan perasaan hati yang kuat untuk mengembalikan perasaan terhadap kebersamaan yang dahulunya terjadi di Rumah Panggung tersebut. Perubahan interaksi sosial ini terjadi meliputi berubahnya ruang rumah inti sebagai tempat utama untuk besosialisasi antar anggota keluarga menjadi kehilangan fungsi utamanya. Metode penciptaan karya menggunakan tahap observasi, pengumpulan data, perwujudan pengembangan konsep dan perwujudan tari.
KAJIAN TERHADAP PERSEPSI “BERTUTUR LOKAL†DALAM FILM (INDONESIA)
Jurnal Prabung Seni : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol. 2 No. 02 (2023): Prabung Seni | Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan (Desember 2023)
Publisher : Universitas Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22437/jpps.v2i02.30852
Tulisan ini berusaha mengurai posisi latar ‘lokal’ sabagai salah satu aspek determinan dalam kreativitas penciptaan film (di) Indonesia. Langkah terpenting yang dilakukan adalah dengan melakukan perbandingan dengan beberapa film di luar Indonesia. Hal ini dilakukan untuk menemukan tafsiran formula film terkait posisi ‘bertutur lokal’ dalam kemasannya. Pemaknaan kembali tersebut dilakukan dengan menelusuri secara singkat kapasitas kreatornya pada serangkain film yang telah dihasilkannya. Serangkaian film-film tersebut diamati perdasarkan kekhasan film baik secara naratif maupun sinematik, untuk kemudian ditindaklanjuti dengan interpretasi secara subyektif (opinion approach) sebagai cara untuk mengetahui sejauh mana posisi ‘lokal’ dijadikan pijakan dalam memberi daya tarik estetik film secara keseluruhan. Pemberian opini atas pengamatan dan komparasi film tersebut juga dilakukan untuk memberi batasan kembali (redefinisi) ‘bertutur lokal’ yang selama ini seringkali menibulkan ragam persepsi baik dikalangan kreator film maupun di kalangan pengamat dan kritiukus film. Penawaran batasan kembali atas ‘bertutur lokal’ tersebut dilakukan untuk memberikan tempat pada ‘lokal’ sebagai sesuatu yang semestinya tidak dijadikan ‘sentimen’ yang mendekatkan pada kegenitan-kegenitan formulasi, yang sama sekali tidak menyentuh subtansi film baik secara naratif maupun sinematik.