cover
Contact Name
Dinda Assalia Avero Pramasheilla
Contact Email
dindaassalia@unja.ac.id
Phone
+6289662820084
Journal Mail Official
jurnalprabungseni@gmail.com
Editorial Address
Prodi Sendratasik, FKIP, Univ. Jambi. Jl. Jambi - Muara Bulian. KM. 15, Mendalo Darat, Kec. Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
Jurnal Prabung Seni: Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan
Published by Universitas Jambi
ISSN : 29647444     EISSN : 29647452     DOI : https://doi.org/10.22437/jpps.v1i01.21233
Core Subject :
Jurnal Prabung Seni merupakan jurnal ilmiah pengkajian dan penciptaan seni pertunjukan untuk mahasiswa. Dikelola oleh Program Studi Seni Darma, Tari dan Musik (Sendratasik) Universitas Jambi. Prabung Seni menerima tulisan hasil studi atau penelitian di bidang seni drama (teater), tari, dan musik dalam berbagai kemungkinan sudut pandang.
Arjuna Subject : -
Articles 48 Documents
STRUKTUR DAN GAYA GERAK ASYIK DALAM TRADISI RITUAL MASYARAKAT KABUPATEN KERINCI: STUDI KASUS PERBANDINGAN ASYIK (NUKUN ANAK, MENTA GUMENG, DAN AYUN LUCI)
Jurnal Prabung Seni : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol. 3 No. 2 (2024): Jurnal Prabung Seni | Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jpps.v3i2.31030

Abstract

Tradisi ritual "Asyik Nukun Anak," "Asyik Menta Gumeng," dan "Asyik Ayun Luci" menjadi bagian integral dari budaya Desa Koto Cayo, Desa Koto Panjang, dan Desa Koto Lua. Ritual ini memiliki aplikasi beragam, termasuk pengobatan dan perlindungan dari bala. Pelaksanaannya melibatkan serangkaian gerakan yang dilakukan oleh sejumlah pelaku dengan tujuan tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk memahami struktur dan gaya gerak dari ketiga ritual tersebut serta menemukan perbedaan dan persamaan di antara mereka. Dalam penelitian ini, digunakan teori struktur, teori gaya, dan teori komparasi. Metode kualitatif digunakan dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan analisis triangulasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur dan gaya gerak ketiga ritual tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dalam aspek kepala, badan, tangan, dan kaki. Asyik Nukun Anak menonjolkan gerakan tangan mengikuti kaki, Asyik Menta Gumeng menekankan gerakan menghentakkan kaki dan variasi gerakan, sedangkan Asyik Ayun Luci menampilkan gerakan mengayunkan tangan dan menghentakkan kaki. Meskipun demikian, terdapat persamaan, seperti gerakan dominan pada tangan dan kaki. Perbedaan lainnya mencakup struktur gerak yang terstruktur pada Asyik Ayun Luci, tetapi tidak serentak antar penari. Penelitian ini memberikan pemahaman mendalam tentang keunikkan dan keindahan tradisi ritual ini serta memberikan kontribusi pada pelestarian warisan budaya masyarakat Desa Koto Cayo, Desa Koto Panjang, dan Desa Koto Lua.
Musik Kelintang Perunggu pada Tiga Pertunjukan dalam Upacara Pernikahan Masyarakat Melayu Kabupaten Tanjung Jabung Timur
Jurnal Prabung Seni : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol. 3 No. 1 (2024): Prabung Seni | Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jpps.v3i1.31103

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh beberapa uraian fakta yang diperoleh dari hasil survey pada tiga daerah di Tanjung Jabung Timur mengenai musik kelintang perunggu. Peneliti melihat permasalahan yang menarik dan perlu dikaji lebih lanjut terhadap musik tersebut dalam konteks upacara pernikahan yang mana cukup banyak dimainkan di daerah Tanjung Jabung Timur. Hasil dari survey lapangan terhadap 3 kelompok pertunjukan musik kelintang perunggu ini, menunjukkan gejala persamaan dan perbedaan lagu serame dan bagubang yang dimainkan dalam konteks malam Tari Inai, oleh kelompok pemusik tersebut dengan pola permainan tersendiri. Tujuan dari penelitian ini yakni untuk, menjawab rumusan permasalahan yang dicoba untuk diungkapkan yakni struktur lagu serame dan bagubang serta persamaan dan perbedaan lagu serame dan bagubang yang dimainkan dalam tiga konteks upacara pernikahan oleh tiga kelompok musik kelintang perunggu yaitu di daerah Mendaraha Ilir, Teluk Majelis, dan Sabak Ilir. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan analisis komparatif menggunakan konsep keilmuan musikologi analisis variabel (data) untuk mengetahui perbedaan diantara dua kelompok variabel (data) atau lebih. Dapat diartikan bahwa analisis komparatif adalah cara peneliti untu melihat dua atau lebih data yang serupa serta melihat bagaimana perbedaan dan kesamaan yang dimilikinya. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bentuk lagu Serame dan Bagubang pada musik kelintang perunggu adalah Ireguler, atau musik yang tidak memiliki bentuk yang konstan pada 3 kelompok musik kelintang perunggu. Serta setiap kelompok mempunyai pola-pola sendiri yang mereka dapatkan dari seniman kelintang perunggu terdahulu yang berasal dari daerah mereka masing-masing.
Penciptaan Tari Lara Berdasarkan Sastra Lisan Dideng Dusun Rantau Pandan
Jurnal Prabung Seni : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol. 3 No. 1 (2024): Prabung Seni | Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jpps.v3i1.31339

Abstract

Karya tari Lara adalah karya yang digarap berdasarkan sastra lisan Dideng yang ada di Dusun Rantau Pandan Kabupaten Bungo. Lara merupakan hasil interpretasi yang dilahirkan kedalam kehidupan masa kini, tatkala perempuan mengalami kesedihan yang berlarut-larut ketika mengalami putus cinta. Landasan penciptaan gerak didasari pada motif gerak tari tauh dari Dusun Rantau Pandan. Metode penciptaan karya terbagi menjadi dua tahapan, yaitu pra-produksi (riset) dan produksi. Tahapan pra-produksi terdiri dari pengumpulan data dan pengembangan konsep, sedangkan tahap produksi adalah perwujudan tari. Karya tari yang menggunakan desain dramatik Kerucut Ganda ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian pertama dengan kedamaian, bagian kedua dengan suasana sendu dan menegangkan dan bagian ketiga suasana kebahagian.
FUNGSI GONDANG MULA-MULA PADA UPACARA ADAT SAURMATUA MASYARAKAT BATAK TOBA DI KOTA SIBOLGA PROVINSI SUMATERA UTARA
Jurnal Prabung Seni : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol. 3 No. 2 (2024): Jurnal Prabung Seni | Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jpps.v3i2.36071

Abstract

Upacara adat Saurmatua adalah upacara kematian adat masyarakat Batak Toba yang dilakukan di Kota Sibolga Provinsi Sumatera Utara. Pada umumnya, dalam Upacara Adat Saurmatua ini akan dimainkan repertoar Gondang Mula-mula. Repertoar Gondang Mula-mula ini akan dimainkan apabila Raja Parhata (ketua adat dalam marga) selesai memberikan Umpasa (petuah) kepada pihak keluarga jenazah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menekankan aspek deskripsi musik dan teori fungsi, yaitu menyangkut struktur musik menurut Leon Stein dan teori fungsi menurut Allan P Meriiam dari repertoar Gondang Mula-mula. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur musikal Gondang Mula-mula pada dasarnya terdapat 3 motif yang terdapat dalam 10 birama yang ada, yang ditemukan motif a, motif b dan motif c dengan beberapa jenis pengembangan motif yaitu repetisi, transisi, augmentasi, trungcation. Terdapat pula 3 frase yaitu frase introduksi,, frase, frase B. Pada repertoar ini juga memiliki jarak interval nada yang ditemukan yaitu Mayor 2, Mayor 3, Minor 2, Perfect 1, Perfect 4, Perfect 5 dan Minor 3. Teori musik menurut Allan P merriam terdapat 10 namun yang berhubungan dengan repertoar ini terdapat 5 jenis yaitu fungsi keagamaan, fungsi komunikasi, fungsi kelangsungan budaya, fungsi simbolik, dan fungsi ekpresi emosional.
PENERAPAN PRINSIP KOMPOSISI MUSIK ERA ROMANTIK PADA KARYA PILAR BERDASARKAN RITUAL MUJI SIALANG
Jurnal Prabung Seni : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol. 3 No. 2 (2024): Jurnal Prabung Seni | Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jpps.v3i2.39405

Abstract

Perubahan karya-karya seni pada Era Romantik membawa pengaruh besar pada capaian estetika seni mengarah pada kebebasan para seniman dalam wilayah subjektifitas dan berekspresi. Hal tersebut membawa penggarap pada pengolahan objek material sebuah mantra berasal dari ritual Muji Sialang di Desa Jambi Kecik, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi yang berjudul Muji Batang. Mantra ini berisi puji-pujian terhadap leluhur yang dimaksudkan untuk merayu dan meminta izin agar diberi kelancaran dalam pengambilan madu pada pohon Sialang. Penciptaan karya musik ini bertujuan untuk mengetahui cara menggabungkan dua disiplin ilmu, yaitu musikologi dan semiotika dalam pembuatan komposisi musik. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data yaitu survei lapangan, observasi, data musikologi dan non material musik (wawancara). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa objek material yang diangkat dapat dianalisis dengan semiotika dan musikologi yang kemudian diwujudkan dalam sebuah karya komposisi musik dengan gaya musik Era Romantik. Setiap gerakan dalam karya Pilar memiliki subjudul yang berbeda untuk merepresentasikan hubungan antara teks mantra dan peristiwa musikal, yaitu gerakan I (Bangka Kayu), gerakan II (Baner Kayu), gerakan III (Batang Kayu), gerakan IV (Kulit Kayu), gerakan V (Getah Kayu), gerakan VI (Dahan kayu), dan gerakan VII (Ranting Kayu).
STRUKTUR TARI MELAYU MAYANG MANGURAI PADA UPACARA ADAT PERNIKAHAN ETNIS MELAYU JAMBI DI KELURAHAN TANJUNG RADEN KECAMATAN DANAU TELUK KOTA JAMBI
Jurnal Prabung Seni : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol. 3 No. 2 (2024): Jurnal Prabung Seni | Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jpps.v3i2.39737

Abstract

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan objek tari Melayu Mayang Mangurai yang berasal dari Kelurahan Tanjung Raden, Kecamatan Danau Teluk, Jambi. Subjek penelitian ialah informan yang merupakan penari sekaligus pelatih tari ini sejak tahun 1960an, ketua lembaga adat Kelurahan Tanjung Raden, para penari, dan penyelenggara acara pernikahan yang menampilkan tari Melayu Mayang Mangurai. Teori yang dipakai dalam penulisan ini yaitu teori struktural, teori fungsi dan teori estetika. Adapun hasil penelitian ini bahwa Tari Melayu Mayang Mangurai merupakan tarian yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Kelurahan Tanjung Raden. Tarian ini merupakan salah satu bentuk kesenian etnis Melayu Jambi. Dahulunya tarian ini dipergunakan sebagai tari penyambutan tamu agung dan raja-raja. Namun sekarang tarian ini juga dipertunjukkan pada upacara adat pernikahan etnis Melayu Jambi di Kelurahan Tanjung Raden, karena dalam adat Melayu Jambi mempelai laki-laki dan perempuan dianggap sebagai Raja dan Ratu sehari. Terdapat berbagai aspek yang membangun tarian ini diantaranya adalah aspek penari yang terdiri dari 9 penari. Aspek gerak yang terdiri dari gerak langkah sembah, sereh serumpun, selimpat, sisir, dan sentung bebalik. Aspek properti yaitu pedang dan skin. Aspek busana yaitu teluk belango hitam dengan lis renda emas, kain batik dan peci hitam. Aspek musik iringan yaitu gong dan dua buah gendang dua sisi.
BENTUK PENYAJIAN DAN FUNGSI KESENIAN OMPEK GONJIIE LIMO GONOK DI DESA MUARA KIBUL KECAMATAN TABIR BARAT
Jurnal Prabung Seni : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol. 4 No. 01 (2025): Prabung Seni: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jpps.v4i01.41265

Abstract

Penelitian ini mengkaji kesenian Ompek Gonjiie Limo Gonok, sebuah tradisi berbalas pantun masyarakat Desa Muara Kibul, Jambi, yang tetap eksis sebagai identitas budaya lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk penyajian dan fungsi kesenian tersebut dalam kehidupan masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk penyajian Ompek Gonjiie Limo Gonok dicirikan oleh aksi berbalas pantun antara laki-laki dan perempuan di dalam Belerong, yaitu bilik kain berukuran 2x3 meter yang berfungsi sebagai pembatas ruang. Secara fungsional, kesenian ini berperan sebagai media pemenuhan kebutuhan emosional sekaligus fungsi hiburan pertunjukan. Melalui keindahan pantun yang disampaikan, tradisi ini mampu menciptakan kebahagiaan kolektif bagi pelakunya maupun masyarakat penikmat dalam berbagai perayaan besar daerah.
BENTUK MUSIK ASSALE DALAM KESENIAN SIKE RABANO YANG DIKEMBANGKAN OLEH SUMIRNA DI DESA KEMANTAN KEBALAI
Jurnal Prabung Seni : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol. 4 No. 01 (2025): Prabung Seni: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jpps.v4i01.43510

Abstract

Sike Rabano merupakan kesenian musik tradisi Kabupaten Kerinci yang bernafaskan Islam. Syairnya berdasarkan kitab Al-Barzanji yang merupakan teks tentang kelahiran Nabi Muhammad SAW. Di Desa Kemantan Kebalai, Sike Rabano adalah suatu bentuk pertunjukan tradisi yang menggabungkan musik dan tarian sebagai inti dari kegiatannya. Biasanya, Sike Rabano digelar dalam acara-acara penting seperti perayaan tradisional, ritual adat, atau acara keagamaan. Seiring berjalannya waktu, Sike Rabano mengalami perkembangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk musik Sike Rabano yang dikembangkan oleh Sumirna di Desa Kemantan Kebalai. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teori musik. Hasil dari penelitian ini menunjukkan analisis bentuk musik dari perkembangan kesenian Sike Rabano pada repertoar lagu Assale yaitu pada pengulangan penuh lagu Assale terdapat 36 birama. Terdiri dari 3 motif yaitu motif a, b dan c. Motif a memiliki pengembangan sebanyak 2 kali, motif b sebanyak 3 kali dan motif c sebanyak 5 kali. Serta terdapat 3 frase yaitu frase introduksi, frase A dan frase A1. Pada peningkah terdapat 14 ritme yang digunakan, dengan memiliki jumlah kemunculan yang berbeda-beda, namun terdapat satu ritme yang muncul sebanyak 9 kali. Kemudian pada pembantu tingkah terdapat 9 ritme yang digunakan, dengan memiliki jumlah kemunculan yang berbeda-beda, namun terdapat satu ritme yang muncul sebanyak 12 kali.
IDENTIFIKASI PERSAMAAN DAN PERBEDAAN KARAKTERISTIK MUSIK TRADISIONAL KRINOK DENGAN LAGU TENGAH MALAM MUSIK POP DAERAH KABUPATEN BUNGO
Jurnal Prabung Seni : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol. 4 No. 02 (2025): Prabung Seni: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jpps.v4i02.43821

Abstract

Krinok merupakan salah satu kesenian vokal tradisi yang berkembang di masyarakat Bungo, Kabupaten Bungo. Saat ini Krinok sering dipertunjukan pada acara pemerintahan, hiburan masyarakat, pernikahan atau kebutuhan akademik. Perkembangan kesenian umumnya akan mengikuti proses perubahan kebudayaan suatu masyarakat. Kebutuhan masyarakat akan sebuah inovasi dalam sebuah seni tradisi membuat Krinok berevolusi menjadi seni pertujukan. Hal demikianlah yang dilihat peneliti dengan ditemukannya beberapa lagu daerah Bungo yang memiliki kemiripan dengan Krinok seperti lagu Tengah Malam. Lagu Tengah Malam merupakan lagu pop daerah yang berkembang di masyarakat Bungo, Kabupaten Bungo. Lagu Tengah Malam berasal dari ritme pantun masyarakat yang bernama Rajuk Tengah Malam. Lagu ini sering dinyanyikan oleh masyarakat di acara-acara tertentu sebagai sarana hiburan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persamaan dan perbedaan karakteristik Krinok dengan lagu Tengah Malam secara musikologi serta struktur musik yang terdapat pada Krinok dan lagu Tengah Malam. Metode penelitian yang digunakan dalam peneltian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data yaitu survei lapangan, observasi, data musikologi dan non material musik. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Krinok memiliki beberapa kemiripan dengan lagu Tengah Malam. Kemiripan musikal tersebut dilihat dari aspek horizontal musik melalui analisis struktur musik. Adanya kemiripan yang menjadikan Krinok sebagai inspirasi dari terciptanya lagu Tengah Malam musik pop daerah Kabupaten Bungo.
BENTUK TARI KUDO KEPANG PADA KOMUNITAS TRI BUDOYO DESA SUKOMORO KECAMATAN RAWAS ULU KABUPATEN MUSI RAWAS UTARA PROVINSI SUMATERA SELATAN
Jurnal Prabung Seni : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol. 4 No. 01 (2025): Prabung Seni: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jpps.v4i01.44592

Abstract

Tari Kudo Kepang komunitas Tri Budoyo merupakan satu-satunya tarian etnis jawa yang berasal dari Desa Sukomoro, Kecamatan Rawas Ulu, Kabupaten Musi Rawas Utara, Provinsi Sumatera Selatan, yang didirikan oleh Bapak Siyamto. Tari ini dapat ditampilkan di berbagai acara. Di dalam tari ini terdapat beberapa hal yang mendukung sebuah pertunjukan antara lain: penari tari wanita dan laki-laki, penari barongan devil dan buto, serta penari perang celeng. Gerak yang terdiri dari gerak tari wanita dan gerak tari laki-laki dan beberapa tambahan tari seperti gerak tari barongan devil dan buto, gerak tari perang celeng, dan terakhir yakni mabok (kesurupan) bagi penari maupun penonton. Terdapat tata rias dan busana, alat musik iringan, tempat dan waktu pertunjukan dan pola lantai. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Subjek penelitian ialah para informan selaku pendiri komunitas tri budoyo dan para penari. Teori yang digunakan ialah teori bentuk. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dokumentasi dan analisis data. Hasil penelitian menunjukan bahwa Tari ini menggambarkan sebuah prajurit yang akan melaksanakan peperangan, yang dituangkan ke dalam gerak penari wanita dan laki-laki, yaitu gerak keluar, gerak sesembahan, gerak angkatan dasar, gerak lingkaran tengah dasar dan gerak peperangan.