cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 33 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1: Januari 2013" : 33 Documents clear
REPRESENTASI PEREMPUAN PENARI DALAM KESENIAN RAKYAT RONGGENG (STUDI SEMIOTIKA PADA FILM SANG PENARI) Tiara Pudyadita
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.416 KB)

Abstract

Film menjadi media yang sangat efektif untuk membentuk citra suatu profesi, tidak terkecuali ronggeng. Jaman dahulu ronggeng diketahui sebagai ritus yang dilakukan masyarakat yang berbasis agraria sebagai ungkapan syukur atas panen mereka. Mitos tersebut ketika masuk dalam film Sang Penari menjadi melenceng dari maknanya yang sebenarnya, dan hal tersebut akan menimbulkan resistensi yang besar akan keberadaan ronggeng di masyarakat. Untuk itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui representasi perempuan penari ronggeng dan untuk menampilkan kehidupan penari ronggeng saat ini.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan analisis semiotika untuk menganalisa obyek yang diteliti. Teknik analisa data menggunakan teori John Fiske “the codes of television”. Film Sang Penari diuraikan secara sintagmatik pada level realitas dan level representasi. Sedangkan penguraian level ideologi menggunakan analisa secara paradigmatik.Film Sang Penari menggambarkan bentuk kekerasan pada perempuan yang bisa dilakukan dan terjadi dalam berbagai dimensi. Film ini juga menampilkan seksualitas perempuan penari ronggeng, yang muncul atas wacana yang berkembang di masyarakat bahwa ronggeng identik dengan praktik pelacuran. Temuan unik dalam penelitian ini berupa: baik penari perempuan maupun pengibing tidak menganggap hal tersebut sebagai praktik pelacuran karena melakukannya atas nama tradisi. Dan terdapat kecenderungan perempuan penari ronggeng tidak lekat dengan stereotip negatif perempuan Jawa yang lemah, pasif, dependen. Film ini menunjukkan bahwa perempuan penari ronggeng adalah subyek yang aktif, bekerja di sektor publik dan independen terhadap laki-laki. Film ini menunjukkan pola pikir perempuan Banyumas yang menganggap bahwa menjadi penari ronggeng adalah sebuah profesi yang terhormat sebagai perwujudan nasionalisme meraka pada tanah kelahirannya.Kata kunci : film, ronggeng, perempuan Jawa, kekerasan
Divisi Program Manager dalam Event “CAKRA DOLAN SALATIGA 2012” (Strategi Peningkatan Brand Awareness Cakra Semarang TV di Kalangan Masyarakat Salatiga) Muhammad Ihsan
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.124 KB)

Abstract

Televisi merupakan media yang memiliki pengaruh sangat besar terhadapperilaku sosial, ekonomi, dan kultur masyarakat termasuk perilaku masyarakatsebagai komunitas konsumsi. Akan tetapi dominasi siaran dari stasiun televisi yangberpusat di Jakarta dinilai akan berdampak pada menurunnya kesadaran identitas jatidiri masyarakat tak terkecuali masyarakat Jawa Tengah yang tentu saja lebih jauhakan berdampak pada menurunnya nasionalisme (kesadaran berbangsa danbernegara). Terlebih kebudayaan Jawa merupakan sentra Bangsa Indonesia yangmemiliki posisi strategis di dalam pembentukan kesadaran identitas dan karakterkebangsaan. Atas dasar itulah Cakra Semarang TV sebagai televisi lokal hadirmelalui penguatan kebudayaan identitas untuk menguatkan nasionalisme. Disampingitu Melalui berbagai siaran yang mengedepankan muatan-muatan lokal, CakraSemarang TV menjadi sumber inspirasi dan semangat untuk mendorong masyarakatJawa Tengah terus menerus menuju kesempurnaan dimana kehidupan yang lebihsejahtera secara ekonomis terwujud hal ini tergambar dalam tagline Cakra SemarangTV yaitu menjaga tradisi dan jati diri.Dalam pelaksanaan event, Program Manager berperan dan bertanggungjawab langsung pada pelaksanaan Event “Cakra TV Dolan Salatiga”, danmemastikan segala kebutuhan selama event dapat terpenuhi. Kemampuan dalammelakukan koordinasi, menjalin komunikasi, lobi dan negosiasi dengan semua pihakyang terkait, serta persiapan yang matang sangat membantu kinerja ProgramManager selama pelaksanaan kegiatan.
Pembuatan Script Serial Animasi Petualangan Ramboy & Raia episode 1 dan 2 Lifebuoy Shampoo Fertilina Hardiyani
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.021 KB)

Abstract

Dunia periklanan yang berkembang dengan begitu cepat, mendorong pekerja industriini untuk memiliki daya kreatif yang tinggi namun tetap persuasif. Untuk itu,diperlukan pendekatan lain untuk beriklan, salah satunya adalah film. Selainmenghibur dari segi cerita, pesan komunikasi periklanan pun dapat disisipkan didalamnya tanpa penonton harus merasa keberatan. Film animasi adalah salah satujenis film yang tepat apabila memilih anak-anak sebagai target audience.Petualangan Ramboy dan Raia adalah salah satu serial animasi yang digunakan olehLifebuoy Shampoo sebagai media beriklan melalui pendekatan storytelling. Pesanutama yang ingin disampaikan dalam animatic series ini adalah bahwa keramas tidakcukup hanya dengan air karena air hanya memindahkan kotoran, bukanmembersihkan.Salah satu unsur penting dalam sebuah film adalah script yang dijadikan acuan ceritadan dialog antar tokohnya. Pengerjaan script Petualangan Ramboy dan Raia inidikerjakan oleh seseorang yang disebut sebagai seorang copywriter. Selainmenjalankan fungsinya sebagai copywriter yang harus menjual produk lewat tulisan,seorang copywriter dalam hal ini juga harus menjalankan fungsi seorang scriptwriteryang harus menyusun cerita yang menarik untuk ditonton.Melalui karya bidang ini, akan dijelaskan tahap-tahap apa yang dilakukan hinggaterbentuklah script yang siap tayang mulai dari tahap pemberian creative brief,brainstorm, penyusunan guideline, pembuatan karakter tokoh, pembuatan storyline,penjabaran ke bentuk script itu sendiri, hingga tahap revisi. Pemilihan nama dankarakter masing-masing tokoh, konsep cerita, dan visualisasi pun harus diperhatikandengan seksama agar pesan komunikasi yang ingin disampaikan oleh brand tetapdapat tersampaikan dengan baik tanpa mengabaikan dari sisi cerita itu sendiri.Kata kunci : periklanan, animatic series, copywriter, Petualangan Ramboy & Raia
Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Drama Seri Korea di Televisi dan Motif Menonton Tayangan Drama Seri Korea di Televisi dengan Perilaku Berpakaian Remaja Deansa Putri; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.594 KB)

Abstract

PENDAHULUANPersaingan media televisi saat ini semakin gencar dan jumlah stasiun televisi semakinbertambah seiring dengan perkembangan jaman. Stasiun televisi di tanah air bermunculanmulai dari hanya satu stasiun televisi, yaitu Televisi Republik Indonesia (TVRI) sampaimuncul stasiun televisi baru yang mengudara secara nasional dan berkantor di IbukotaJakarta. Stasiun televisi tersebut antara lain Rajawali Citra Televisi (RCTI), Surya CitraTelevisi (SCTV), Media Nusantara Citra (MNC TV), Andalas Televisi (ANTV), Indosiar,Televisi Transformasi Indonesia (TRANS TV), TRANS 7, METRO TV, TV ONE, danGLOBAL TV.Belakangan ini, musik, drama, serta budaya Korea sedang merebak di beberapanegara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Tidak bisa dipungkiri, musik maupun dramaseri Korea menjadi sesuatu yang sangat digemari di Indonesia saat ini. Bahkan sakingantusiasnya banyak yang mencari dan mempelajari hal-hal yang berbau Korea. Fenomenamenyebarluasnya drama, musik, serta budaya Korea secara global ini disebut Koreanwave atau dalam bahasa Korea disebut Hallyu.Fenomena Hallyu melalui drama seri Korea sedang menjadi tren di stasiun televisiswasta Indonesia. Beberapa stasiun televisi swasta tanah air kini tengah gencar bahkanbersaing menayangkan drama seri Korea. Drama seri Korea datang membawa tontonanringan dengan berbagai konflik di dalamnya, yang dibungkus sedemikian rupa sehinggamenarik untuk ditonton. Tentu drama Korea ini segera digandrungi masyarakat yangmemang menginginkan sesuatu yang baru. Dan memang kenyataannya, masyarakatsangat antusias menonton drama seri Korea. Selain itu episode-nya juga tidak sepanjangsinetron Indonesia, hanya sekitar 16 hingga 25 episode saja. Masyarakat yang tengahjenuh dengan tayangan sinetron-sinetron Indonesia langsung menyambut baik masuknyadrama seri Korea di Indonesia. Keberhasilan drama seri Korea mengambil hatimasyarakat Indonesia terbukti dengan tingginya minat penonton terhadap drama seriKorea yang pertama kali ditayangkan saat itu, yaitu Endless love. Berdasarkan survey ACNielsen Indonesia, serial Endless Love ratingnya mencapai 10 (ditonton sekitar 2,8 jutapemirsa di lima kota besar), mendekati Meteor Garden dengan rating 11 (sekitar 3,08 jutapemirsa). (http://www.slideshare.net/AHD/fenomena-ratingshare-televisi).Dalam menggunakan media massa, manusia didorong oleh beraneka ragam motif.Motif merupakan suatu tenaga yang terdapat dalam diri manusia yang menimbulkan,mengarahkan, dan mengorganisasi tingkah laku (perilaku). Motif yang mendorongkonsumsi media pada setiap orang berbeda. Dorongan kebutuhan yang berbeda akanmembuat orang memiliki motif yang berbeda pula dalam menggunakan televisi.(Rakhmat, 2006:216). Motif yang berbeda tersebut akan menimbulkan efek yangberlainan pada setiap orang.Drama seri Korea yang masuk ke Indonesia tidak hanya sekedar tontonan di waktuistirahat, namun drama Korea juga telah memberikan pengaruh di Indonesia. Begitubooming-nya drama seri Korea di tanah air, tidak heran jika pada saat ini banyak remajayang mulai terpengaruh dengan budaya-budaya Korea, terutama dari segi mode ataufashion. Dalam drama seri Korea sering menonjolkan mode-mode yang sedang populer diKorea. Penampilan para artis dalam drama seri Korea selalu didukung dengan gayaberbusana yang “Korea banget”, mulai dari model rambut, warna rambut, caraberpakaian, tas, sepatu, aksesoris yang dikenakan, dan masih banyak lagi. Mode alaKorea kerap disebut dengan Korean Style.Pada akhirnya masalah mode merupakan hal yang menarik untuk dibicarakankhususnya di kalangan remaja yang memiliki kedinamisan dalam mengikutiperkembangan berbagai mode yang sedang menjadi trend karena ingin tampil menarik,menambah percaya diri, dapat diterima dilingkungannya, dan supaya tidak dikatakanketinggalan jaman. Intensitas menonton drama seri Korea tersebut akan tetap berlangsungselama ada motif yang mendorongnya dan remaja mempunyai harapan akan memperolehsuatu keuntungan dari kegiatan menonton acara tersebut. Motif remaja menontontayangan drama seri Korea bisa dilihat dari motif untuk mendapatkan informasi, identitaspribadi, integrasi dan interaksi sosial, serta hiburan.Melalui televisi, remaja terinspirasi oleh perilaku idola mereka. Tahapan ini dimulaidari melihat gaya berpakaian atau tingkah laku yang diperbuat oleh seorang tokoh ditelevisi, kemudian para remaja berusaha mengadaptasi gaya berpakaian para artisidolanya dengan harapan penampilannya menjadi seperti penampilan para artis dalamtayangan drama seri Korea di televisi. Berdasarkan hal tersebut, lantas apakah adahubungan antara intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisi dan motifmenonton tayangan drama seri Korea di televisi dengan perilaku berpakaian remaja ?ISIMunculnya media televisi dalam kehidupan manusia memang menghadirkan suatuperadaban, khususnya dalam proses komunikasi dan informasi yang bersifat massa.Proses komunikasi massa tersebut dikatakan efektif apabila menghasilkan pengaruhkepada khalayaknya. Pengertian pengaruh itu sendiri adalah perbedaan antara apa yangdipikirkan, dirasakan dan dilakukan oleh penerima sesudah menerima pesan. Bersamaandengan jalannya proses penyampaian isi pesan media massa kepada pemirsa, maka isipesan akan diinterpretasikan secara berbeda–beda oleh pemirsa, serta efek yangditimbulkan juga beraneka ragam. (Bungin, 2008:72).Menurut Powerfull Effect Theory, dimana didasarkan pada asumsi Walter Lippman(dalam Vivian, 2008:465), bahwa gambaran realita dibentuk dengan sangat kuat olehmedia massa. Powerfull Effect Theory juga menjelaskan tentang media massamempunyai pengaruh langsung dan mendalam terhadap seseorang. Pada konsep HaroldLasswell yang terkenal “who says what in which channel to whom with what effect,”pada titik yang ekstrem teori ini mengasumsikan bahwa media dapat menyuntikkaninformasi, ide, dan bahkan propaganda kepada publik. Water Lippman mengatakanbahwa “gambaran” tentang dunia di benak kita yang tidak kita alami secara personaldibentuk oleh media massa, sehingga khalayak pun akan menerima pemuasan yangberagam dari media. Kepuasan yang berbeda-beda, juga akan menghasilkan efek yangberbeda pula.Dengan demikian, kegiatan menonton televisi dapat memberikan pengaruh tetapi haltersebut tergantung dengan tingkat intensitasnya. Diungkapkan oleh Burhan Bungin(2001:125-126), bahwa intensitas atau frekuensi remaja dalam menonton televisi dapatmempengaruhi besarnya pengaruh televisi terhadap perilaku remaja. Semakin tinggiintensitas menonton televisi maka semakin cepat dan besar pula pengaruhnya terhadapperilaku remaja. Begitu pula dengan keadaan sebaliknya, semakin rendah intensitasmenonton televisi maka semakin rendah pula pengaruhnya terhadap perilaku remajatersebut.Dalam kaitannya dengan menonton televisi, para remaja memiliki motif yangberagam. Motif-motif tersebut adalah motif untuk mendapatkan informasi, identitaspribadi, integritas dan interaksi sosial, serta hiburan. Motif merupakan salah satuindikator yang dapat mempengaruhi perilaku individu dalam menonton televisi.Woodhworth (dalam Petri, 135:1981) mengungkapkan bahwa perilaku terjadi karenaadanya motif atau dorongan yang mengarahkan individu untuk bertindak sesuai dengankepentingan atau tujuan yang ingin dicapai. Karena tanpa dorongan tersebut tidak akanada suatu kekuatan yang mengarahkan individu pada suatu mekanisme timbulnyaperilaku.Pandangan lain dikemukakan oleh Hull (dalam As’ad, 140:1995) yang menegaskanbahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh motif atau dorongan oleh kepentinganmengadakan pemenuhan atau pemuasan terhadap kebutuhan yang ada pada diri individu.Lebih lanjut dijelaskan bahwa perilaku muncul tidak semata-mata karena dorongan yangbermula dari kebutuhan individu saja, tetapi juga adanya faktor belajar.Hal ini dapat diperkuat dengan penjelasan dari Teori Pembelajaran Sosial.Berdasarkan hasil penelitian Albert Bandura, teori ini menjelaskan bahwa mereka meniruapa yang mereka lihat di televisi, melalui suatu proses observational learning(pembelajaran hasil pengamatan) atas tingkah laku yang ditampilkan oleh individuindividulain yang menjadi model. Titik mula dari proses belajar sosial adalah peristiwayang bisa diamati, baik langsung maupun tidak langsung oleh seseorang. Peristiwatersebut mungkin terjadi pada kegiatan orang sehari–hari, dapat pula disajikan secaralangsung oleh televisi, buku, film dan media massa lain. (Liliweri, 1991:174).Adapun yang penting dari teori Bandura, bahwa proses belajar mengikuti sesuatudimulai dari tahap; (1) proses memperhatikan; (2) proses mengingatkan kembali; (3)proses gerakan untuk menciptakan kembali; dan (4) proses mengarahkan gerakan sesuaidengan dorongan. (Liliweri, 1991:179). Jelasnya bahwa remaja masih suka mencaritokoh atau model untuk dijadikan panutan dalam berperilaku maupun berpenampilan,maka seringkali remaja akan memperhatikan dan mengingat perilaku model yangdilihatnya di televisi. Sering adegan-adegan dalam drama yang dilihat, atau perilakuyang digambarkan dapat menarik perhatian, sehingga dari ucapan, gerakan, bahkan jugapakaian yang dikenakan oleh sang tokoh akan diamatinya dan kemudian dapat sajamereka gunakan pada penampilan diri mereka.Monks (1969:109) menyatakan bahwa suatu tindakan atau tingkah laku dapatdipelajari melalui melihat saja. Melalui televisi remaja dapat melihat peristiwa, perilaku,dan segala sesuatu yang baru yang pada akhirnya diikuti oleh khalayak dan menjadi trendi kalangan masyarakat. Berkaitan dengan penelitian ini maka perilaku yang munculadalah gaya berpakaian yang dilakukan oleh remaja. Remaja berpenampilan mengikutitrend yang ada, mulai dari model rambut, pakaian, tas, sepatu, dan aksesoris lainnya.Jelasnya, bahwa remaja akan terinspirasi dengan apa yang dilihat dan ditawarkan olehmedia, dalam hal ini termasuk bagaimana perilaku berpakaian remaja.Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan intensitas menonton tayangan drama seriKorea di televisi (X1) dengan perilaku berpakaian remaja (Y), maka dilakukan pengujianstatistik melalui analisis korelasi Rank Kendall. Berdasarkan hasil pengujian makahipotesis penelitian yang menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara intensitasmenonton tayangan drama seri Korea di televisi dengan perilaku berpakaian remajadapat diterima. Hal ini menjelaskan tingginya intensitas menonton tayangan drama seriKorea di televisi diikuti pula oleh perilaku berpakaian yang modis di kalangan remaja.Dengan menggabungkan unsur hiburan dan informasi drama seri Korea yangditayangkan di televisi secara tidak langsung telah menyajikan berbagai referensimengenai mode ala Korea yang sedang menjadi kecenderungan atau trend. Respondenyang menonton tayangan drama seri Korea dengan intensitas menonton yang tinggitermasuk dalam kelompok heavy viewers dimana mereka melihat gagasan mengenaimode tersebut sebagai realitas, sehingga akan lebih mudah terpengaruh dan berperilakuseperti apa yang ditampilkan dalam drama seri tersebut.Sementara responden yang menonton drama seri Korea dengan intensitas menontonyang rendah termasuk dalam kelompok light viewers, dimana mereka hanya memandangdrama seri Korea sebagai sebuah tayangan, tanpa melihatnya sebagai realitas, sehinggapengaruh yang diterima pada kelompok ini tidak sebesar kelompok heavy viewers.Perbedaan diantara keduanya terdapat dalam konsep mainstreaming (mengikuti arus)pada kelompok heavy viewers.Hubungan motif menonton tayangan drama seri Korea di televisi (X2) denganperilaku berpakaian remaja (Y) dapat diketahui dengan melakukan pengujian statistikdengan menggunakan uji formula Chi Square Test. Berdasarkan hasil pengujian makahipotesis penelitian yang menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara motifmenonton tayangan drama seri Korea di televisi dengan perilaku berpakaian remaja dapatditerima. Hal ini menjelaskan ragam motif menonton tayangan drama seri Korea ditelevisi diikuti pula oleh perilaku berpakaian yang modis di kalangan remaja.Responden yang tertarik dengan mode ala Korea dapat mengikuti perkembanganmode tersebut melalui tayangan drama seri Korea di televisi. Para remaja memilikikecenderungan ingin mengikuti terus perkembangan mode yang sedang menjadi trendagar dapat tampil stylish dan modis. Motif identitas pribadi dalam menonton tayangandrama seri Korea di televisi dapat mengarahkan remaja untuk berperilaku modis,sehingga ragam motif menonton tayangan drama seri Korea di televisi akanmempengaruhi perilaku berpakaian modis pada remaja.Hubungan intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisi (X1) dan motifmenonton tayangan drama seri Korea (X2) di televisi dengan perilaku berpakaian remaja(Y) dapat diketahui dengan melakukan pengujian statistik melalui analisis korelasikonkordansi Rank Kendall.Setelah dilakukan perhitungan diperoleh hasil koefisien korelasi konkordansi sebesar0,194 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 kurang dari 0,01 maka hubungan dinyatakansangat signifikan. Serta hasil uji dengan Chi Square Test didapatkan nilai X2 hitungsebesar 19,387 (dengan df = 2), dan nilai signifikansi sebesar 0,000 kurang dari 0,01.Dengan demikian dapat dinyatakan Ha diterima dan Ho ditolak. Maka hasil pengujiantersebut menunjukkan bahwa variabel bebas (intensitas menonton tayangan drama seriKorea dan motif menonton tayangan drama seri Korea) secara bersama-sama memilikihubungan yang sangat signifikan dengan variabel terikat (perilaku berpakaian remaja).Hal ini berarti bahwa baik berdiri sendiri maupun bersama-sama, kedua variabelbebas (intensitas menonton tayangan drama seri Korea dan motif menonton tayangandrama seri Korea) mempunyai hubungan dengan variabel terikat (perilaku berpakaianremaja), sehingga tingginya intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisidan ragam motif menonton tayangan drama seri Korea di televisi akan mempengaruhiperilaku berpakaian modis pada remaja.PENUTUPPenelitian tentang hubungan antara intensitas menonton tayangan drama seriKorea di televisi dan motif menonton tayangan drama seri Korea di televisi DENGANperilaku berpakaian pada remaja, dilakukan terhadap para remaja putri di Semarangyang berusia 17-20 tahun yang pernah menonton tayangan drama seri Korea ditelevisi selama tiga bulan terakhir ini.Metode penarikan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan cara nonrandom sampling, dengan pertimbangan jumlah populasi dalam penelitian ini tidakdapat diketahui secara pasti. Penelitian ini menggunakan alat pengumpul data berupakuesioner. Teknik pengumpulan data berupa penyebaran Angket dan dengan bantuanpanduan observasi berupa checklist (daftar cocok) yang digunakan untuk mengamativariabel perilaku berpakaian pada remaja.Alat yang digunakan untuk menganalisa data kuantitatif yang telah didapatadalah dengan statistika, untuk kemudian dideskripsikan menggunakan corelasi untukmenguji hubungan antara intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisidan motif menonton tayangan drama seri Korea di televisi dengan perilaku berpakaianpada remaja. Adapun kesimpulan dan saran yang dapat penulis berikan adalah sebagaiberikut:5.1. Kesimpulan1. Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara variabel intensitas menontontayangan drama seri Korea dengan variabel perilaku berpakaian remaja. Halini berdasarkan nilai koefisiensi korelasi sebesar 0,540 dan nilai signifikansisebesar 0,000. Dengan demikian, tingginya intensitas menonton tayangandrama seri Korea di televisi mendorong remaja melihat gagasan yang disajikandalam tayangan tersebut sebagai realitas dan berperilaku seperti apa yangditampilkan dalam tayangan tersebut. Semakin tinggi intensitas menontontayangan drama seri Korea di televisi maka akan semakin modis pula perilakuberpakaian pada remaja.2. Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara variabel motif menontontayangan drama seri Korea di televisi dengan variabel perilaku berpakaianremaja. Hal ini didapatkan dari hasil X2 hitung sebesar 31,222 dengan df = 6,dan nilai signifikansi sebesar 0,000. Serta hasil uji korelasi ContingencyCoefficient (C) sebesar 0,620 dan nilai signifikansi sebesar 0,000. Hal tersebutmenjelaskan ragam motif menonton tayangan drama seri Korea di televisiakan diikuti pula oleh perilaku berpakaian yang modis di kalangan remaja.3. Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara variabel intensitas menontontayangan drama seri Korea di televisi dan variabel motif menonton tayangandrama seri Korea di televisi dengan variabel perilaku berpakaian remaja.Berdasarkan hasil uji korelasi diperoleh informasi nilai koefisiensi sebesar0,194 dan nilai signifikansi sebesar 0,000. Serta didapatkan nilai X2 hitungsebesar 19,387 (dengan df = 2), dan nilai signifikansi sebesar 0,000. Hal iniberarti bahwa baik berdiri sendiri maupun bersama-sama, kedua variabelbebas (intensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisi dan motifmenonton tayangan drama seri Korea di televisi) mempunyai hubungandengan variabel terikat (perilaku berpakaian remaja), sehingga tingginyaintensitas menonton tayangan drama seri Korea di televisi dan ragam motifmenonton tayangan drama seri Korea di televisi akan mempengaruhi perilakuberpakaian modis pada remaja.4. Pada penelitian ini penonton tayangan drama seri Korea di televisi denganpersentase terbanyak adalah remaja putri yang berada pada kisaran usia 20tahun sebanyak 36%, sedangkan berdasarkan tingkat pendidikan persentaseterbanyak adalah para remaja putri yang duduk di bangku perkuliahan atauperguruan tinggi sebanyak 80%.5.2. Saran1. Berdasarkan kesimpulan di atas maka tayangan drama seri Korea di televisisebetulnya mampu membantu remaja untuk memberikan inspirasi dalampencarian model bagi remaja, yang berkaitan dengan gaya berpakaian ataupenampilan melalui “sosok” artis yang menjadi pemeran dalam tayangandrama seri Korea di televisi. Namun audiens juga diharapkan mampumemfilter dengan bijak informasi yang terkandung dalam tayangan tersebutdan bersikap selektif terhadap tayangan – tayangan yang mereka konsumsi,agar dapat membedakan antara realitas media dengan realitas sosial, sehinggatidak serta merta mengikuti segala sesuatu yang ada dalam tayangan tersebut.2. Pada penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan perilaku berpakaian remajahendaknya dapat dilakukan dengan melihat faktor – faktor lain yang bisamenjadi penyebab terjadinya perilaku tersebut, di luar intensitas menonton danmotif menonton, misalnya tingkat pendidikan, status sosial, atau interaksi peergroup. Disamping itu, penelitian juga dapat dilakukan dengan menggunakanteknik pengambilan sampel yang berbeda pula.DAFTAR PUSTAKABUKUArdianto, Elvinaro dan Erdinaya, Liluati Komala. 2004. Komunikasi Massa SuatuPengantar. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.As’ad, M. 1989. Motivasi Dalam Belajar. Jakarta: Dep.Dik.Bud Direktoral JendralPendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Dan Lembaga Tenaga.Bungin, Burhan. 2006. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Kencana PrenadaMedia Group.Bungin, Burhan. 2001. Erotika Media Massa. Jakarta: Kencana Prenada MediaGroup.Barnard, Malcomm. 2007. Fashion dan Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.Cangara, Hafied. 1998. Pengantar ilmu komunikasi. Jakarta. Raja grafindo persada.Effendi, Onong. U. 1993. TV Siaran Teori dan Praktek. Bandung: Mandar Maju.Effendy, Onong. U. 2003. Ilmu komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT.RemajaRosdakarya.Gerungan ,W.A. 1991. Psikologi Sosial. Bandung: Eresco.Kaunang, Claudia. 2010. Keliling Korea dalam 9 Hari. Yogyakarta: B – Fierst.Khadijah, Nyanyu. 2006. Psikologi Pendidikan. Palembang: Grafika Telindo Press.Kuswandi, Wawan. 1996. Komunikasi Massa Sebuah Analisis Media Televisi.Jakarta: Rhineka Cipta.Liliweri, Alo. 1997. Memahami Peran Komunikasi Massa Dalam Masyarakat.Bandung: Citra Aditya Bakti.McQuail, Dennis. 1996. Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Jakarta:Erlangga.Monks, F. J, dkk. 1982. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Gajah MadaUniversity Press.Morissan. 2008. Manajemen Media Penyiaran. Jakarta: Kencana Prenada MediaGroup.Nuruddin. 2000. Sistem Komunikasi Indonesia. Malang: BIGRAFF publishing.Petri, H.L. 1981. Motivation Theory and Research. Belmont, California: WadsworthPublishing Company.Rakhmat, Jalaluddin. 2001. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: RemajaRosdakarya.Rakhmat, Jalaluddin. 2006. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Rakhmawati, Dede. 2011. Jago Berbahasa Korea dalam 1 Hari. Jakarta: GudangIlmu.Sugiyono. 2002. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung: Alfabeta.Singarimbun Masri dan Sofian Effendi. 1995. Metode Penelitian dan Survey. Jakarta:LP3ES.Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa. Prenada Media:Jakarta.Wiryanto. 2000. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: PT Grasindo.Wiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT Grasindo.INTERNEThttp://www.slideshare.net/AHD/fenomena-ratingshare-televisi.www.geocities.com/dramakorean.http://www.facebook.com/pages/PENYUKA-DRAMA-KOREA/.http://tvguide.co.id/mobile-new//home.http://www.facebook.com/koreanbutik.shopiing/,http://www.facebook.com/ballegirls.shop.http://www.facebook.com/tomoya.koreanbutik.http://id.wikipedia.org/wiki/Drama_Korea.id.wikipedia.org/wiki/Hallyu.www.koreanstylefashion.com/.http://www.saranghaeyo.biz.www.saranghaeyo.biz › fashion › lifestyle.ABSTRAKJudul : Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Drama Seri Korea di Televisi danMotif Menonton Tayangan Drama Seri Korea di Televisi dengan PerilakuBerpakaian RemajaNama : Deansa PutriNIM : D2C009110Mode ala Korea yang masuk dan berkembang di Indonesia melalui tayangandrama seri Korea pada tahun 2002, banyak digemari dan diterapkan oleh remaja. Pararemaja cenderung ingin selalu mengikuti perkembangan mode yang sedang populeragar tampil modis. Hal ini dilakukan karena para remaja ingin seperti apa yangditampilkan oleh tokoh yang dilihatnya, yaitu berupa pakaian yang dikenakan olehseorang model, serta aksesoris-aksesoris lainnya yang dapat memperbaiki penampilandirinya. Perilaku berpakaian modis pada remaja tersebut disinyalir merupakan akibatdari beberapa faktor, antara lain intensitas menonton tayangan drama seri Korea ditelevisi dan motif menonton tayangan drama seri Korea di televisi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan intensitas menontontayangan drama seri Korea di televisi dan motif menonton tayangan drama seri Koreadi televisi dengan perilaku berpakaian remaja. Peneliti menggunakan Teori PowerfullEffect dan didukung oleh Teori Pembelajaran Sosial dari Bandura. Responden padapenelitian ini berasal dari kalangan remaja putri di Kota Semarang yang berumur 17hingga 20 tahun. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 50 orang dimanapengambilan sampel dilakukan dengan metoden non random, serta accidental sampeluntuk teknik pengambilan sampel.Untuk menguji hubungan antara intensitas menonton tayangan drama seriKorea di televisi dengan perilaku berpakaian remaja dan hubungan antara motifmenonton tayangan drama seri Korea dengan perilaku berpakaian remaja, makadigunakan uji analisis Koefisiensi Korelasi Rank Kendall, dan uji formula denganChi-Square, sedangkan untuk menguji korelasi antara dua variabel bebas dengan satuvariabel terikat, digunakan uji analisis Korelasi Konkordasi Rank Kendall (Kendall’sW Test).Berdasarkan hasil penelitian, maka tingginya intensitas menonton tayangandrama seri Korea di televisi akan diikuti pula dengan perilaku berpakaian yang modispada remaja. Hal ini dikarenakan responden dengan intensitas menonton yang tinggiakan lebih mudah terpengaruh dan berperilaku seperti apa yang ditampilkan dalamtayangan tersebut. Selain itu, ragam motif menonton tayangan drama seri Korea ditelevisi akan diikuti pula oleh perilaku berpakaian yang modis di kalangan remaja.Motif tersebut dapat mengarahkan remaja untuk mengetahui penampilan atau modeala Korea yang sedang menjadi kecenderungan (trend), mendapat kepuasan denganmelihat penampilan bintang idolanya, serta menemukan sosok model yang bisadijadikan inspirasi dan pedoman dalam bergaya seperti penampilan para artis dalamtayangan drama seri Korea di televisi.Kata kunci: Drama Seri Korea, Perilaku berpakaian, Korelasi.ABSTRACTTitle: The Relationship of The Intensity of Watching Korean Drama Series onTelevision and Motives Watching Korean Drama Series on Television withTeens Dressed Behavior.Name: Deansa PutriNIM: D2C009110Korean fashion style in and growing in Indonesia through Korean dramaseries in 2002, much-loved and adopted by teenagers. The teens tend to want toalways continue to follow the development of fashion that is popular in order to lookfashionable and stylish. This is done because the teen wanted to like what is shown bythe figures he saw, in the form of clothing worn by a model, as well as otheraccessories that can improve the appearance of her day-to-day. Fashionable dress onteen behavior is alleged to be the result of several factors, including the intensity ofwatching a Korean drama series on television and motives watching Korean dramaseries on television.This study aims to determine the relationship of the intensity of watching aKorean drama series on television and motives watching Korean drama series ontelevision with the behavior of teenagers dressed. Researchers used a Powerful EffectTheory and supported by Bandura's Social Learning Theory. Respondents in thisstudy come from the young women in the city of Semarang ever watch a Koreandrama series over the past three months and aged 17 to 20 years. The study samplesize of 50 people where the sampling is done with non-random methode, withconsideration has’t complete information on population size, as well as samples foraccidental sampling technique.To examine the relationship between the variable of intensity of watching aKorean drama series on television with a teenager dressed behavioral variables andrelationships between variables of motives watching Korean drama series with thevariable of behavior of teenagers dressed, then used the test Kendall RankCorrelation Coefficient analysis, and testing with Chi-Square formula, while for thetest and explain the correlation between the two independent variables with thedependent variable, used test correlation analysis Konkordasi Rank Kendall(Kendall's W Test).Based on the results of the study, the high intensity of watching a Koreandrama series on television will be followed by a fashionable dressing behavior inadolescents. This is because respondents with a high intensity watch will be easilydistracted and behave like what is shown in the display. In addition, the variety ofmotives watching Korean drama series on television will be followed by a fashionabledressed behavior among adolescents. The motive may lead adolescents to determinethe appearance or Korean-style fashion is a trend, the satisfaction and pleasure to seehis idol star appearance, as well as to discover the figure of a model that could beused as inspiration and guidance in the style of artists like appearance in the dramashow Korea in the television series.Keywords: Korean Drama Series, Behavior of dressed, Correlation.
HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENGAKSES SITUS DEWASA, PERHATIAN ORANG TUA, DAN PERGAULAN DENGAN TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH REMAJA DI KAWASAN RW 04 KELURAHAN GENUK KECAMATAN UNGARAN BARAT Jaduk Gilang Pembayun
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.417 KB)

Abstract

Penelitian ini berjudul “Hubungan Antara Intensitas Mengakses Situs Dewasa,Perhatian Orang Tua, Dan Pergaulan Dengan Teman Sebaya Dengan Perilaku SeksualPranikah Remaja Di Kawasan Rw 04 Kelurahan Genuk Kecamatan Ungaran Barat”. Variabelindependent pada penelitian ini adalah intensitas mengakses situs dewasa (X1), perhatianorang tua (X2), dan pergaulan dengan teman sebaya (X3), sedangkan variabel dependentnyaadalah perilaku seksual pranikah (Y). Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisishubungan intensitas mengakses situs dewasa, perhatian orang tua, dan lingkungan pergaulanterhadap perilaku seksual pranikah remaja. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalahteori Internet Addiction milik Young (1998), teori Pembentukan Kepribadian yangdikemukakan oleh Geldard (2011) dan teori Pergaulan Berbeda oleh Edwin H. Sutherland(2012). Penelitian ini mengambil sampel sebanyak 40 responden. Teknik yang digunakandalam pengambilan sampel ini adalah dengan menggunakan teknik “Simple RandomSampling”, dan metode yang digunakan adalah eksplanatori, yaitu untuk mencari hubunganantara variabel yang satu dengan variabel yang lain dan menguji hipotesis yang ada.Uji analisis dalam penelitian ini menggunakan “Kendall’s Tau”. Berdasarkan ujistatistik, diperoleh hasil antara X1 dengan Y, rs = 0.771 dengan signifikansi 0.01. Hal inidapat dinyatakan bahwa “terdapat hubungan positif antara intensitas mengakses situs dewasa(X1) dengan perilaku seksual pranikah remaja (Y)”, dengan demikian hipotesis alternatif (Ha)diterima dan hipotesis nol (Ho) ditolak,Sedangkan hubungan X2 dengan Y, rs = -0.333 dengan signifikansi 0.01. Hal inidapat dinyatakan bahwa “terdapat hubungan negatif antara perhatian orang tua (X2) denganperilaku seksual pranikah remaja (Y)”, dengan demikian hipotesis alternatif (Ha) diterima danhipotesis nol (Ho) ditolak. Kemudian X3 dengan Y, rs = 0.342 dengan signifikansi 0.01. Halini dapat dinyatakan bahwa “terdapat hubungan positif antara perhatian orang tua (X3)dengan perilaku seksual pranikah remaja (Y)”, dengan demikian hipotesis alternatif (Ha)diterima dan hipotesis nol (Ho) ditolak. Merujuk ke hasil penelitian bisa diamati bahwaperhatian orang tua masuk pada kategori kurang. Perhatian orang tua sangat mempengaruhikepribadian anak, sehingga orang tua diharapkan mampu menaruh perhatian lebih kepadaanaknya. Walaupun orang tua sibuk, perhatian tetap dapat dilakukan dalam berbagai caraantara lain rajin menelepon anak, mengirimkan pesan singkat sehingga anak merasa terpantaudan diperhatikan oleh orang tuanya. Perhatian yang tinggi akan membentuk kepribadian anakmenjadi lebih baik.Kata kunci : Intensitas Mengakses Situs Dewasa, Perhatian Orang Tua, Pergaulan,Perilaku Seksual Pranikah
Pembingkaian Koran Kompas Dan Republika Terhadap Peristiwa Perang Israel - Palestina Mahar Rachanca
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.603 KB)

Abstract

Pendefinisian realitas yang dihasilkan oleh media massa tidak dilihat sebagaiakumulasi fakta atau realitas, akan tetapi sebagai proses reproduksi realitas. Padadasarnya media bukan hanya mentransmisikan makna yang telah ada melainkan mediajustru melakukan penyeleksian dan pembuatan makna atas suatu peristiwa.Berdasarkan pemahaman tersebut penelitian ini mencoba mengangkat peristiwaperang antara Israel dengan Palestina. Adapun obyek penelitian adalah koran Kompas danRepublika. Sedangkan metoda yang digunakan adalah dengan pendekatan analisisframing. Analisis ini digunakan untuk mengetahui bagaimana suatu realitas dibingkaioleh media massa. Perangkat framing yang digunakan adalah model Pan dan Konsicki.Metoda ini akan mengoperasionalkan empat dimensi struktur teks yakni:sintaksis, skrip,tematik, retoris.Setidaknya ada dua tema utama pemberitaan, yang pertama pemberitaan yangmengutamakan aspek atau unsur How (bagaimana). Tema ini banyak digambarkantentang bagaimana proses atau kronologi peristiwa perang, bagaimana kedua pihakmelancarkan serangan demi juga reaksi masyarakat dunia merespon peristiwa tersebut.Penggambaran korban akibat perang, upaya penyelesaian konflik, dan dampak yangdiakibatkan oleh perang tersebut. Tema yang kedua adalah pemberitaan yangmengutamakan unsur Why (mengapa). Penekanan pada unsur ini cenderung mencari-carisiapa yang benar atau salah, ataupun siapa yang menjadi pemicu perang tersebut dan apayang melatarbelakangi perang. Dengan menonjolkan unsur why kedua harian banyakmengulas tentang loby-loby yang dilakukan oleh kedua negara tersebut.Hasil penelitian ini menunjukkan adanya persamaan frame tentang perang tersebut.Kedua media sepakat bahwa Jalur diplomasi ini dinilai tak mampu lagi menjadi alternatifpenyelesaian konflik. Kompas dan Republika sama-sama menonjolkan kegagalandiplomasi karena dianggap masalahnya sudah semakin rumit dan menjalar keberbagaiaspek. Hasil lain dari penelitian ini adalah adanya perbedaaan, Kompas mengungkapkanalasan penyerangan itu yang dikaitkan dengan isu politik Israel.Republika memaknaiserangan Israel ini sebagai kekejaman yang mengakibatkan krisis kemanusiaan di Gaza.Hal-hal yang dipahami dan diterapkan berkaitan dengan pemahaman Framingadalah bahwa prinsip analisis framing secara garis besar adalah proses seleksi danpenajaman terhadap dimensi-dimensi tertentu dari fakta yang diberitakan dalam media.Fakta tidak ditampilkan secara apa adanya, namun diberi bingkai sehingga menghasilkankonstruksi makna. Proses framing dalam sebuah media bersifat dinamis dan tidakseragam. Perbedaan sikap akan muncul pada masing-masing media dalam memberitakanperistiwa.BAB I PENDAHULUAN1. Latar BelakangBeragam pemberitaan seputar Konflik berkepanjangan Israel – Palestinayang terjadi awal tahun 2009.2. Perumusan MasalahPerbedaan mengemas berita sebagai strategi media dalam menyikapi danmemaknai sebuah peristiwa. Hal ini tidak terlepas dari keberagaman latarbelakang, ideologi dengan karakteristik berbeda, sehingga dalammenyikapi sebuah peristiwa media akan memandangnya secara berbedabegitu pula dengan pengemasan beritanya. Hal ini sangat berkaitan denganmasing-masing media untuk mengemas atau membingkai secara berbedapada hal peristiwa tersebut pada hakekatnya adalah sama, dalam hal iniadalah pembingkaian terhadap peristiwa perang antara Israel-Palestina.3. Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui Frame / bingkai yang dilakukanoleh Kompas dan Republika dalam mengemas berita tentang perang antaraIsrael–Palestina.4. Kerangka TeoriPenelitian ini menggunakan teori analisis framing yang masuk padaparadigma konstruksionis. Metoda yang digunakan adalah denganpendekatan analisis framing. Perangkat framing yang digunakan adalahmodel Pan dan Konsicki. Metoda ini akan mengoperasionalkan empatdimensi struktur teks yakni:sintaksis, skrip, tematik, retoris.5. METODE PENELITIANSubyek Penelitian ini adalah pemberitaan koran Kompas dengan koranRepublika tentang perang Israel-Palestina, selama masa perangberlangsung yaitu 22 hari terhitung mulai tanggal 27 Desember 2008sampai dengan 17 Januari 2009. Analisis data dalam penelitian inimenggunakan analisis framing model Zhongdang Pan dan Gerald M.Kosicki yang mengoperasionalkan empat struktur dimensi yaitu: sintaksis,skrip, tematik dan retoris.BAB II PROFIL KORAN KOMPAS DAN REPUBLIKA1. Harian Umum KOMPASMotto Kompas yang tertulis sejak pertama berdiri adalah “AmanatHati Nurani Rakyat”. Prinsip yang selalu dipegang oleh Kompas adalahdengan independensinya sebagai media. Namun pada kenyataannyaKompas tidak lepas dari stigma bahwa koran ini identik dengan katholikterlebih bagi sebagian masyarakat Indonesia, khususnya di kalangan Islamgaris keras. Stigma yang melekat pada Kompas tersebut seakanmendorong koran ini untuk terus menjaga prinsip-prinsipnya itu. Sebagaikoran yang mengedepankan keterbukaan, meninggalkan pengotakan latarbelakang suku, ras, dan golongan, Kompas mengarahkan kebijakanredaksional penulisan berita pada upaya penciptaan sikap terbuka,toleran, dan kritis bagi para pembaca. Oleh karena itu, penulisanpenulisanpada surat kabar ini senantiasa peka akan nasip manusia yangsekaligus jadi pegangan klasik jurnalistik.2. Harian Umum REPUBLIKAKoran ini identik dengan ICMI karena memang didirikan olehIkatan Cendekiawan Muslim Indonesia, dikalangan masyarakat Republikadikenal sebagai Koran nasional yang mengakomodasi kepentingan Islam.Sebagian besar pemberitaannya masih mengakomodasi kepentingan Islam.Republika menampilkan Islam dari sisi yang lebih Humanis, kosmopolisdan inklusif, sehingga mampu berdialog dengan berbagai pihak. Materiyang ditampilkan terkesan damai dan menggunakan pendekatan yang lebihrasional. Dari karakter jurnalis Republika tersebut memang cenderunghomogen dan didominasi oleh orang muslim. Oleh karena itu maklum jikanantinya Republika akan bereaksi sebagai kesadaran solidaritas Islam.BAB III-IV KONSTRUKSI PERISTIWA PERANG ISRAEL –PALESTINA DALAM PEMBERITAAN KOMPAS DAN REPUBLIKAPada bab ini akan mendeskripsikan dan melihat bagaimana konstruksi danpemaknaan mengenai berita tentang perang antara Israel-Palestina diKompas dan Republika dalam menurunkan berita.A. Kecenderungan Frame pemberitaan KompasDari hasil pengamatan yang dilakukan, Ada beberapa hal yangpaling menonjol atau yang paling dibicarakan di sana yaitu :1. Kinerja PBB Dalam Menangani Konflik. Kompas menilai bahwasatu: Kompas meragukan tindakan yang diambil DK PBB ketika DKPBB tidak mampu bertindak secara tegas. DK PBB tidak konsistendengan kebijakannya sehingga Kompas meragukan kredibilitasnya.Kedua, Kompas menilai DK PBB sudah gagal dalam menanganimasalah tersebut karena terkesan apatis dan lamban. Penilaian inimuncul ketika beberapa kali Kompas memberitakan tentang perangyang masih saja terjadi meski DK PBB telah mengeluarkan resolusi.2. Jalur diplomasi tidak mampu lagi mengakomodir kedua belah pihaksehingga tidak tercapainya kesepakatan bersama. Kompas menilaikeduanya adalah pihak yang sulit untuk diajk bicara.3. Ketiga, adanya keterkaitan antara isu politik Israel terkait dengankeputusan penyerangan ke Gaza.B. Kecenderungan Frame pemberitaan RepublikaAda beberapa hal yang paling menonjol atau yang palingdibicarakan di sana yaitu:1. Krisis Kemanusiaan di Palestina. Koran ini ingin menegaskan bahwaserangan itu adalah tindakan yang tidak manusiawi sehinggamenyebabkan krisis kemanusian di Gaza dan tidak selayaknnyadilakukan. Isi berita yang dikemas menggambarkan bagaimanaserangan-serangan dahsyat dan akibatnya justru diterima oleh wargaPalestina yang sebagian besar korbannya adalah warga sipil, wanitadan anak-anak. Terlihat bagaimana Republika lebih menyorotiperistiwa itu lebih pada aspek simpatik. Dengan skema pemberitaanseperti itu jelas bahwa Republika ingin menyampaikan bahwa perangitu adalah serangan dari Israel, sedangkan Palestina atau Hamas inihanya berjuang demi mempertahankan apa yang menjadi haknya.2. Jalur diplomasi yang berjalan sangat alot, sehingga tidak tercapainyakesepakatan bersama. Republika terlihat beberapa kali memperlihatkansikap kedua belah pihak untuk damai dalam menyelesaikan konfliktersebut, namun keduanya seakan bersikeras pada pendirian masingmasingdan perang pun terus berlanjut.3. PBB gagal dalam menyelesaikan persoalan yang terjadi antara Israeldengan Palestina.Selain itu PBB juga terkesan tidak tegas dalammengambil sikap. Pihak yang mendapat sorotan tajam mengenai hal iniadalah DK PBB, selaku badan tertinggi perdamaian dunia dinilai telahgagal mengemban tugasnya. Frme ini muncul ketika jalur diplomasidan alotnya perundingan mulai tidak berarti, ini karena aksi ngototmasing-masing pihak akni Israel dan Palestina membuat konfliksemakin memanas. Bukti lain yang mendukung frame ini adalah tidakdipatuhinya resolusi DK PBB untuk gencatan Senjata.C. Perbandingan Frame Tentang perang Israel – Palestina YangDikembangkan Oleh Kompas dan RepublikaKompas1. Kompas mencoba melihat masalah-masalah dari berbagai segi danlebih pada gaya humanismenya. Meskipun demikian di beberapaedisi, Kompas juga menggambarkan proses kekejaman peperanganitu tapi tidak terlalu detil tetapi kental dengan gaya humanismenya.2. Sekilas gambaran pembingkaian Kompas terhadap konflik IsraelPalestina menyebutkan bahwa Kompas memandang DK PBB tidakmampu bertindak secara tegas. Dari situ kita bisa melihat bahwa adabeberapa hal yang diinformasikan oleh Kompas mengenai kinerjaDK PBB. Pertama adalah bahwa DK PBB tidak konsisten dengankebijakannya sehingga Kompas meragukan kredibilitasnya. Kedua,Kompas menilai DK PBB sudah gagal dalam menangani masalahtersebut karena terkesan apatis dan lamban. Penilaian ini munculketika beberapa kali Kompas memberitakan tentang perang yangmasih saja terjadi meski DK PBB telah mengeluarkan resolusi.3. Bagi kompas kekerasan bukan hanya tidak akan menyelasaikanmasalah, melainkan justru akan berakibat pada peperangan yangtidak kunjung henti, dan segala upaya penyelesaian akan sia-siabelaka. Konflik timur tengah sudah menjalar sedemikian rumit, dankalau masing-masing pihak mau menggunakan jalan kekerasan makahanya akan memperparah kondisi.4. Kompas terlihat dengan komitmennya yaitu dalam setiappemberitaannya berupaya untuk selalu bersikap netral, hal iniditunjukkan dengan informasi yang lebih lengkap dan argumen dariwartawan porsinya hanya sedikit. Informasi yang lengkap itulahKompas memberikan ruang bagi pembaca untuk memberikankesimpulannya sendiri.REPUBLIKA1. Sementara itu Republika hadir dengan falsafah Islam moderatnya mengemasberita tersebut dengan menggambarkan secara detail berlangsungnyapeperangan tersebut. Pemberian judul setiap pemberitaannya Republikacenderung memojokkan tentara Israel. Disini diugkap juga bahwa kecamankeras terhadap serangan Israel ke Jalur Gaza tidak membuat negara itu surut.2. Harian Republika menyajikan berita tentang perang tersebut sebagaiHeadline secara terus-menerus dihalaman pertama dengan gambar sertajudul yang ditulis dengan ukuran yang cukup besar. Judul berita Republikadengan menggunakan teknik empati.3. Banyak digambarkan tentang bagaimana proses atau kronologi peristiwaperang, bagaimana kedua pihak melancarkan serangan demi serangan,bagaimana reaksi masyarakat dunia merespon peristiwa tersebut.Penggambaran Korban akibat perang. Upaya penyelesaian konflik, dandampak yang diakibatkan oleh perang tersebut.4. Republika memandang bahwa pemicu konflik ini adalah keinginan Israelmenancapkan dominasinya di Palestina dan kemudian menjadikan tanahPalestina sebagai bagian dari wilayah Israel. Meski banyak beredarpembingkaian berita yang mengarah pada sentimen keagamaan namunRepublika justru tidak pernah menyebutnya dalam bingkainya.5. Hal yang paling dionjolkan dari pemberitaan konflik ini justru padatindakan Israel yang tidak manusiawi kepada warga Palestina yangditunjukkan dengan serangkaian penyerangan yang membabi buta danmengerahkan angkatan bersenjata yang paling canggih untuk menaklukkanPalestina.6. Terungkap bahwa PBB terkesan lambat dan gagal dalam menyelesaikanpersoalan yang terjadi antara Israel dengan Palestina. Selain itu PBB jugadianggap gagal dalam menjalankan tugas untuk menjaga perdamaian dunia.BAB V PENUTUPKesimpulan Hasil penelitian ini menunjukkan adanya persamaan frame tentang perangtersebut. Kedua media sepakat bahwa Jalur diplomasi ini dinilai takmampu lagi menjadi alternatif penyelesaian konflik. Kompas danRepublika sama-sama menonjolkan kegagalan diplomasi karena dianggapmasalahnya sudah semakin rumit dan menjalar keberbagai aspek. Hasillain dari penelitian ini adalah adanya perbedaaan, Kompasmengungkapkan alasan penyerangan itu yang dikaitkan dengan isu politikIsrael.Republika memaknai serangan Israel ini sebagai kekejaman yangmengakibatkan krisis kemanusiaan di Gaza.Implikasi Hal-hal yang dipahami dan diterapkan berkaitan dengan pemahamanFraming adalah bahwa prinsip analisis framing secara garis besar adalahproses seleksi dan penajaman terhadap dimensi-dimensi tertentu dari faktayang diberitakan dalam media. Fakta tidak ditampilkan secara apa adanya,namun diberi bingkai sehingga menghasilkan konstruksi makna.Daftar PustakaBungin, Burhan. 2008. Konstruksi Sosial Media Massa: Kekuatan PengaruhMedia Massa, Iklan Televisi, dan Keputusan Konsumen Serta Kritik TerhadapPeter L. Berger & Thomas Luckmann. Jakarta: Kencana Prenada Media GroupCroteau, David dan william Hoynes. 2000. Media/Society: Industries, ImagesAnd Audiences. Pine Forge Press. New Delhi.De Jong, Kees. 2001. Humanisme dan Kebebasan Pers; Menyambut 70 TahunJakob Oetama. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara).Eriyanto. 2002. Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media.Yogyakarta.: LkiS.Fauzi, Choiri, Arifatul.2007. Kabar-Kabar Kekerasan dari Bali. Yogyakarta:LkiS.Hamad, Ibnu. 2004. Konstruksi Realitas Politik Dalam Media Massa. Jakarta:Granit.Haris, Sumadiria, 2005. Jurnalistik Indonesia: Menulis Berita dan Feature.Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Junaedi, Fajar. 2007. Komunikasi Massa, Pengantar Teoritis. Yogyakarta:Penerbit Santusta.Kriyantono, Rachmat. 2007. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta:Kencana Prenada Media Group.Kusumaningrat, Hikmat dan Purnama. 2005. Jurnalistik: Teori dan Praktek.Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Mc Quail, Denis. 1987. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Erlangga.Rakhmat, Jalaluddin. 2003. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT RemajaRosdakarya.Severin, Werner J. & James W. Tankard, Jr. 2005. Teori Komunikasi: Sejarah,Metode, & Terapan Di Dalam Media Massa. Jakarta: KencanaSyahputra, Iswandi. 2006. Jurnalisme Damai: Meretas ideologi peliputan diArea Konflik.Yogyakarta: Nuansa Aksara.Sobur, Alex. 2001. Analisis Teks Media. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Sobur, Alex. 2003. Semiotika komunikasi. Bandung: Rosdakarya.Sudibyo, Agus. 2001. Politik Media dan Pertarungan Wacana. Yogyakarta:LkiS.Seda, Frans. 2001. Humanisme dan Kebebasan Pers; Menyambut 70 TahunJakob Oetama. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara).Nugroho, B, Eriyanto, Frans Surdiasis.1999. Politik Media Mengemas Berita.Institut Studi Arus Informasi. Jakarta.Surat Kabar:Kompas tanggal 30 Desember 2008, (Israel Dikecam Keras )Kompas tanggal 6 Januari 2009, (Presiden: Bukan Konflik Agama)Kompas, 18 Januari 2009, (Kerugian di Gaza Rp 5 Triliun)Kompas tanggal 18 Januari 2009, (Mencari Titik Temu Israel-Palestina)Republika, tanggal 30 Desember 2008, (Israel Semakin Brutal).Republika, tanggal 2 Januari 2009.( Draf Resolusi Hentikan Agresi Israelditolak)Republika, tanggal 10 Januari 2009,( Militer Israel Akan Terus MelakukanOperasinya Di Gaza)Internet:http:www.hidayatullah.com/Saturday,13September2003,02:06/palestina.memahami.kiprah.dan.serangan.zionis/catatan-akhir-pekan-adian-husaini/, diakses21/05/2009www.BBC Indonesia/10 Januari, 2008; Bush: Israel akhiri pendudukanwww.republika.co.id/Ahad,11 Januari 2009, 22:59 WIB. Masalah PalestinaBeres Bila Pendudukan Israel Diakhirihttp:www.republika.co.id/Ahad,22November2009. Konflik Israel-PalestinaTewaskan 8.900 Orang).http//nasional.kompas.com/ Jumat, 30 Januari 2009 | 09:52 WIB/ Presiden IsraelDiteriaki "Pembunuh" oleh PM Turkihttp:kompas.com/edisi Minggu,18 Januari 2009/ Gagal Meredam, Israel TetapMenyerangRochim, 2002: ITB Central LibraryABSTRAKSIPembingkaian Koran Kompas Dan Republika Terhadap Peristiwa PerangIsrael - PalestinaPendefinisian realitas yang dihasilkan oleh media massa tidak dilihat sebagaiakumulasi fakta atau realitas, akan tetapi sebagai proses reproduksi realitas. Padadasarnya media bukan hanya mentransmisikan makna yang telah ada melainkan mediajustru melakukan penyeleksian dan pembuatan makna atas suatu peristiwa.Berdasarkan pemahaman tersebut penelitian ini mencoba mengangkat peristiwaperang antara Israel dengan Palestina. Adapun obyek penelitian adalah koran Kompas danRepublika. Sedangkan metoda yang digunakan adalah dengan pendekatan analisisframing. Analisis ini digunakan untuk mengetahui bagaimana suatu realitas dibingkaioleh media massa. Perangkat framing yang digunakan adalah model Pan dan Konsicki.Metoda ini akan mengoperasionalkan empat dimensi struktur teks yakni:sintaksis, skrip,tematik, retoris.Setidaknya ada dua tema utama pemberitaan, yang pertama pemberitaan yangmengutamakan aspek atau unsur How (bagaimana). Tema ini banyak digambarkantentang bagaimana proses atau kronologi peristiwa perang, bagaimana kedua pihakmelancarkan serangan demi juga reaksi masyarakat dunia merespon peristiwa tersebut.Penggambaran korban akibat perang, upaya penyelesaian konflik, dan dampak yangdiakibatkan oleh perang tersebut. Tema yang kedua adalah pemberitaan yangmengutamakan unsur Why (mengapa). Penekanan pada unsur ini cenderung mencari-carisiapa yang benar atau salah, ataupun siapa yang menjadi pemicu perang tersebut dan apayang melatarbelakangi perang. Dengan menonjolkan unsur why kedua harian banyakmengulas tentang loby-loby yang dilakukan oleh kedua negara tersebut.Hasil penelitian ini menunjukkan adanya persamaan frame tentang perang tersebut.Kedua media sepakat bahwa Jalur diplomasi ini dinilai tak mampu lagi menjadi alternatifpenyelesaian konflik. Kompas dan Republika sama-sama menonjolkan kegagalandiplomasi karena dianggap masalahnya sudah semakin rumit dan menjalar keberbagaiaspek. Hasil lain dari penelitian ini adalah adanya perbedaaan, Kompas mengungkapkanalasan penyerangan itu yang dikaitkan dengan isu politik Israel.Republika memaknaiserangan Israel ini sebagai kekejaman yang mengakibatkan krisis kemanusiaan di Gaza.Hal-hal yang dipahami dan diterapkan berkaitan dengan pemahaman Framingadalah bahwa prinsip analisis framing secara garis besar adalah proses seleksi danpenajaman terhadap dimensi-dimensi tertentu dari fakta yang diberitakan dalam media.Fakta tidak ditampilkan secara apa adanya, namun diberi bingkai sehingga menghasilkankonstruksi makna. Proses framing dalam sebuah media bersifat dinamis dan tidakseragam. Perbedaan sikap akan muncul pada masing-masing media dalam memberitakanperistiwa.
Hubungan antara Iklim Komunikasi Suportif dan Motivasi Berorganisasi dengan Komitmen Afektif Anggota Remaja Islam Masjid Agung Jawa Tengah (RISMA JT) Muhammad Nur Ahadi
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The main aim of this sudy is to determine the relationship between supportive communication climate and organizational motivation with affective commitment of the members of RISMA JT. The population are the members of RISMA JT focused on V, VI, and VII generations amounting to 335 people. The results showed that there is a significant relationship between supportive communication climate and affective commitment (R=0,397 p=0.011). Organizational motivation has a significant relationship with affective commitment (R=0,314 p=0,043). Furthermore, the correlation test results between supportive communication climate and organizational motivation with affective commitment using statistical techniques Kendall-W test showed a probability value of 0.191 (> 0.05) meaning that there’s not simultaneously significant relationship between the three variables. Key Words: Supportive Communication Climate; Organizational Motivation; Affective Commitment
Representasi Konflik Ideologi antar Kelas dalam film The Help Afidah, Astri Nur
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.036 KB)

Abstract

Film merupakan media massa yang mempunyai kemampuan untuk menyampaikan pesan kepada khalayak. The Help merupakan salah satu film yang mencoba menggambarkan keadaan masyarakat pembantu kulit hitam yang mencoba melawan struktur dominansi majikan kulit putih sebagai akibat dari adanya tindakan diskriminasi. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana tindakan resistensi yang dilakukan oleh pembantu kulit hitam, gambaran karakter orang kulit hitam serta bentuk-bentuk perlawanan yang dilakukan yang direpresentasikan melalui simbol-simbol visual dan linguistik dan mengungkap ideologi yang ada. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis John Fiske untuk mengkaji dan meneliti tanda-tanda dalam film The Help. Ada tigal level yang diungkapkan Fiske, yakni level realitas, representasi, dan ideologi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk-bentuk resistensi terjadi dalam bentuk secara langsung ataupun secara tidak langsung. Bentuk perlawanan secara langsung terjadi secara verbal melalui pengucapan kata-kata kasar, jorok, umpatan, pemberian julukan, bentakan, dan sangkalan. Bentuk perlawanan secara langsung juga terjadi secara non verbal dengan cara mengcengkeram lengan baju, mengabaikan ucapan, dan melotot. Bentuk resistensi yang dilakukan oleh pembantu kulit hitam dapat juga berupa ucapan verbal dan tindakan secara tidak langsung.Pengucapan cemoohan dan mengumpat di belakang majikan kulit putih adalah salah satu bentuk resisitensi dalam bentuk verbal secara tidak langsung. Penerbitan buku yang berisi tentang pemikiran dan perasaan orang kulit hitam adalah bentuk resistensi budak kulit hitam secara tidak langsung dan non verbal. Sebagian besar gambaran perlawanan tersebut dapat dilihat melalui penokohan, latar belakang cerita, simbol, tindakan tokoh dalam adegan, serta dialog. Tanda-tanda komunikasi dalam film ini diungkap melalui kerja kamera, pencahayaan, tata artistik, serta dialog. Film ini menunjukkan bagaimana kaum minoritas dapat berjuang melawan keterbatasan agar dapat setara dengan kaum mayoritas.Keywords : Semiotika, Film, Ras, Kelas, Kulit Hitam
Divisi PR Dalam Event Gerrymagination Yonasita Rizqi Amalia
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beberapa perusahaan yang menggunakan event sebagai alat komunikasi pemasaran saat ini. Pemanfaatan event yang digunakan sebagai alat promosi produk sebuah perusahaan ini dinilai lebih efektif dibanding harus membelanjakan uang untuk beriklan di media massa. Keunggulan event sendiri dibanding dengan alat komunikasi pemasaran yang lain adalah keterlibatan target audiens secara langsung yang mana menjadi alat yang ampuh bagi perusahaan untuk memperkenalkan brand nya lebih dekat kepada target audiens. Disamping itu, dapat menjangkau target audiens pada segmen yang tepat. PT Garuda Food memiliki produk Gery Pasta dan Gery Meses. Produk Gery Pasta dan Gery Meses memiliki masalah terhadap awareness dikalangan target audiens yang mana target audiens utamanya adalah anak-anak berusia 6-12 tahun. Maka dari itu, PT Garuda Food mengadakan event guna meningkatkan awareness di kalangan target audiens. Event tersebut adalah event Gerymagination yang dilaksanakan di wilayah Tembalang dan Banyumanik dan diikuti oleh 10 SD serentak. Wilayah tersebut dipilih karena kurangnya awareness target audiens terhadap produk Gery Pasta dan Gery Meses. Event Gerymagination dirancang untuk mengasah kreativitas dan imaginasi anak melalui kegiatan lomba mewarnai dan menggambar terpanjang, lomba fotogenik, games, dan penampilan ekstrakurikuler. Pemilihan kegiatan-kegiatan tersebut berdasarkan riset yang dilakukan pada target audiens. Secara umum, tugas divisi Marketing dan PR adalah merancang promosi event untuk dipromosikan melalui media-media yang tepat sehingga informasi mengenai event dapat sampai pada target audiens. Media-media yang digunakan berupa media lini atas dan media lini bawah. Media lini atas seperti media cetak, media elektronik, dan interaktif media. Media lini bawah seperti gimmik dan kaos. Indikator keberhasilan divisi marketing dan PR apabila event Gerymagination dimuat disalah satu media massa. Event Gerymagination berhasil dimuat di media massa elektronik dan interaktif media. Pelaksanaan event secara keseluruhan dapat berjalan sukses dan lancar. Tingkat awareness pada produk Gery Pasta meningkat menjadi 86,67%  serta Gery Meses meningkat menjadi 81,67%. Indikator keberhasilan event Gerymagination secara keseluruhan yaitu tingkat kepuasan, jumlah peserta di masing-masing sekolah dasar, serta tingkat awareness dikalangan target audiens.Tingkat kepuasan diukur dari tingkat kepuasan klien Garuda Food, pihak sekolah (guru serta target audiens), talent (MC, Panitia, serta Fotografer). Tingkat awareness dilihat dari hasil kuesioner pra event dan pasca event yang dibagikan pada target audiens.
MEMAHAMI POLA ASUH DALAM KELUARGA BEDA AGAMA TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN ANAK MEMILIH AGAMA Prawitasari, Retno Dian
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terdapat beberapa dampak sosial dalam pernikahan beda agama, salahsatunya adalah masalah pendidikan agama pada anak. Bukan sesuatu yang mudahbagi keluarga beda agama khususnya orang tua dalam menerapkan pola asuhdalam menanamkan nilai spiritual pada anak.Tujuan penelitian ini menggambarkan pengalaman orang tua-anak untukmendeskripsikan pola asuh yang diterapkan orang tua beda agama kepada anakuntuk memilih agamanya. Menggunakan Teori Skema Keluarga dari Fitzpatrick(1988), Teori Hubungan Dialektik dari Baxter (1960), dan Teori Etika Dialogisdari Martin Buber (1958). Penelitian bersifat deskriptif kualitatif denganparadigma konstruktivisme dan menggunakan pendekatan fenomenologi inidilakukan pada tiga keluarga informan dengan orang tua (pasangan suami istri)beda agama dan anak. Penelitian ini dilakukan di Kota Semarang. Pengambilandata dilakukan dengan menggunakan teknik sampling snowball serta wawancaramendalam.Hasil penelitian ini menunjukkan peran orang tua dalam pola asuhmenanamkan nilai-nilai agama pada anak cenderung kurang. Orang tua jugakurang berperan dalam keterlibatan pengambilan keputusan anak memilih agama.Pendidikan agama di sekolah dan pengaruh saudara sekandung justru menjadifaktor yang banyak memberi pengaruh bagi anak dalam memilih keyakinan. Darihasil temuan penelitian, juga diperlukan sikap mengalah serta kemampuan untukberadaptasi pada perubahan ketika anak sudah memutuskan memilih agama. Paraorang tua beda agama harus siap dengan konsekuensi menjadi pemeluk agamaminoritas dalam keluarga. Terdapat pula temuan unik yang didapat dari penelitianini yaitu komunikasi antar pribadi yang efektif mampu menciptakan suatuhubungan yang akrab dan harmonis tetapi belum mampu mengurangi konflikbatin yang dialami oleh informan anak sebagai anak dari pasangan orang tua bedaagama, selain itu keharmonisan hubungan tidak menjamin keberhasilan dankeefektifan anak dalam mengambil keputusan.Kata kunci: pola asuh orang tua, keluarga beda agama, pengambilan keputusan

Page 3 of 4 | Total Record : 33