cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 33 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1: Januari 2013" : 33 Documents clear
BINGKAI MEDIA TENTANG PEMBERITAAN JATUHNYA PESAWAT SUKHOI SUPER JET (SSJ) 100 DI GUNUNG SALAK (Analisis Framing Harian Kompas dan Suara Merdeka) Prastiwi, Krisna
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.628 KB)

Abstract

Penelitian ini berangkat dari pemahaman bahwa media memberitakan secara berbeda peristiwa yang sama. Perbedaan itu terjadi karena peristiwa tersebut dipahami dan dikonstruksi secara berbeda oleh media. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bingkai yang dilakukan oleh media Nasional (Kompas) dan media lokal (Suara Merdeka) dengan kasus yang diteliti yaitu peristiwa jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak Bogor Jawa Barat. Media massa yang dijadikan objek penelitian adalah harian Kompas dan Suara Merdeka pada tanggal 10 - 24 Mei 2012. Sedangkan metode penelitian yang digunakan adalah analisis framing, yaitu analisis yang digunakan untuk melihat bagaimana pesan atau peristiwa dikonstruksi oleh media dan disajikan kepada khalayak, dengan mengembangkan analisis framing dari Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki (2007). Model ini membagi perangkat framing dalam empat struktur besar, yaitu struktur sintaksis, struktur skip, struktur tematik, dan struktur retoris.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberitaan Kompas dan Suara Merdeka dalam peristiwa tersebut menuju pada tujuan yang sama yaitu untuk memberitakan mengenai perkembangan yang terjadi mengenai jatuhnya pesawat Sukhoi di Gunung Salak. Tetapi, Kompas dalam hal ini lebih menyoroti pada sisi ekonomi, yakni mengenai kerugian yang ditanggung oleh Sukhoi pasca jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak. Selain itu, model pemberitaan yang mendukung sikap Kompas dengan menonjolkan sisi humanisme transendental yakni dengan mengarahkan fokus dan tujuan pada nilai transenden atau mengatasi kepentingan kelompok. Sedangkan pada Suara Merdeka, lebih berani dalam memberitakan jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet100. Suara Merdeka berusaha sedetail mungkin dalam melakukan pemberitaan mengenai Sukhoi dari evakuasi korban, identifikasi korban , hingga menuliskan beberapa dugaan sabotase pada jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100. Selain itu Suara Merdeka juga memfokuskan pemberitaan pada sisi politik seperti dengan memberi pemberitaan berlebih pada Suharsono Monoarfa. Selain sikap dan frame yang berbeda, dari pemberitaan Kompas dan Suara Merdeka ada fakta yang terbentuk yaitu berita-berita mengenai kecelakaan bisa disikapi berbeda walaupun kejadian tersebut diberitakan sama oleh dua media. Perbedaan frame yang digunakan kedua media tersebut dalam pemberitaan mengenai jatuhnya pesawat Sukhoi di Gunung Salak Bogor, Jawa Barat secara umum dipahami sebagai akibat dari faktor kebijakan yang ada dalam media yang mempengaruhi pemberitaan media tersebut dalam memandang suatu peristiwa.Kata kunci : framing, bingkai, Sukhoi, Kompas, Suara Merdeka
PENGARUH TERPAAN PEMBERITAAN KEKERASAN PELAJAR TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PELAJAR Herlina Kurniawati
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.107 KB)

Abstract

PENDAHULUANPemberitaan yang akhir – akhir ini banyak diberitakan oleh media adalah mengenai kekerasan pelajar di sekolah. Pemberitaan media mengenai kekerasan pelajar sendiri tidak lepas dari meningkatnya jumlah kekerasan di lingkungan dan kejadiannya tidak hanya pada saat masa orientasi, melainkan sepanjang tahun dengan berbagai modus, intensitas, dan pelaku. Data yang dirilis KPAI (Komisi perlindungan Anak Indonesia) menunjukkan bahwa 1.2026 responden, 87,6 persen anak mengaku pernah mengalami kekerasan di lingkungan sekolah. Dari persentase itu, 29,9 persen kekerasan dilakukan guru, 42,1 persen oleh teman sekelas, dan 28,0 persen oleh teman lain kelas. Kasus yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia, berupa kekerasan kepada adik kelas dan tawuran pelajar antarsekolah mendapat perhatian dari masyarakat luas tidak terkecuali oleh pelajar itu sendiri. Baik pelaku maupun sasaran kekerasan oleh pelajar sama – sama dalam posisi sebagai korban. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) mencatat jumlah kasus tawuran antarpelajar pada semester pertama tahun 2012 meningkat dibandingkan dengan kurun yang sama tahun lalu. Ketua Umum Komnas Anak Arist Merdeka Sirait menyatakan sepanjang enam bulan pertama tahun 2012 lembaganya mencatat ada 139 kasus tawuran pelajar, lebih banyak dibanding periode sama tahun lalu yang jumlahnya 128 kasus. Menurut data yang diperoleh dari layanan pengaduan masyarakat Komnas Anak tersebut, dari 139 kasus tawuran yang kebanyakan berupa kekerasan antarpelajar tingkat sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas itu 12 diantaranya menyebabkan kematian. Secara keseluruhan layanan pengaduan masyarakat Komnas Anak menerima 686 pengaduan kasus kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah.Media massa dengan gaya pemberitaan yang berbeda antara media satu dengan yang lain saling berlomba dalam memberitakan peristiwa kekerasan pelajar untuk menarik perhatian masyarakat tidak terkecuali bagi pelajar itu sendiri. Pemberitaan kekerasan pelajaryang diberikan oleh media massa menimbulkan efek yang berbeda pada masing – masing khalayak yang mengkonsumsinya. Hampir sepanjang waktu mereka diberi informasi mengenai tindak kekerasan yang dilakukan oleh pelajar mulai dari pemukulan, pengerusakkan, perkelahian antar pelajar yang terkadang berakhir dengan pembunuhan.Pemberitaan berita kriminal mempunyai tipologi yang berbeda – beda, ada yang menampilkan langsung korban dan pelaku ada yang tidak, bahkan ada media yang memberitakan proses terjadinya kriminal secara terperinci dengan pola investigasi dimana hal ini bertujuan untuk menarik perhatian dari khalayak (Kuswandi, 2008:50). Berita kekerasan pelajar termasuk dalam kategori berita kriminal, maka berita – berita kekerasan pelajar yang ada di media massa mengikuti penyajian berita kriminal pada umumnya. Berita kekerasan tersebut diberitakan oleh media dengan pola yang dapat menyebabkan rasa simpati terhadap korban, bahkan bisa berwujud perasaan ngeri akibat efek dramatisasi sehingga menjadi hal yang wajar jika para pelajar tersebut merasakan kengerian ketika mereka mengkonsumsi berita kekerasan pelajar tersebut.Penelitian ini termasuk dalam tipe eksplanatif, dimana penelitian ini merupakan penelitian dengan menghubungkan atau mencari sebab akibat antara dua atau lebih variabel yang diteliti. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah terpaan pemberitaan kekerasan pelajar (X) yang berpengaruh terhadap variabel terikat, yaitu tingkat kecemasan pelajar (Y). teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Kultivasi / Cultivation Theory, Teori Penguatan / Reinforcement Theory, Teori Ketergantungan / Depedency Theory.PEMBAHASANPada penelitian ini hasil yang diperoleh setelah melakukan penelitian di lapangan melalui 76 responden yang berprofesi sebagai pelajar SMA, menunjukkan bahwa berapapun tingkat terpaan pemberitaan mengenai kekerasan pelajar tingkat kecemasan yang mereka rasakantermasuk dalam kategori tinggi. Terpaan pemberitaan kekerasan pelajar merupakan faktor yang menimbulkan kecemasan bagi pelajar namun bukan menjadi faktor satu – satunya yang menjadikan pelajar tersebut menjadi cemas. Faktor – faktor yang mempengaruhi khalayak dalam menerima efek media ini meliputi organisasi personal psikologis individu seperti potensi biologis, sikap, nilai, kepercayaan, serta pengalaman, kelompok sosial dimana individu menjadi anggota, dan hubungan interpersonal pada proses penerimaan, pengelolaan, dan penyampaian informasi (Rakhmat, 2004:204). Sedangkan kecemasan yang timbul di diri pelajar terhadap kasus kekerasan pelajar yang banyak terjadi di kalangan pelajar saat ini dapat terjadi karena beberapa faktor, yaitu : faktor pribadi, faktor lingkungan keluarga, faktor lingkungan kelompok sebaya, faktor lingkungan sekolahTerpaan pemberitaan kekerasan pelajar yang tidak memiliki pengaruh terhadap tingkat kecemasan pelajar membuat hasil penelitian tidak sesuai dengan Teori Ketergantungan (Depedency Theory). Pada teori ini dijelaskan bahwa semakin orang menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya, maka semakin penting peran media dalam hidup orang tersebut, sehingga semakin besar pengaruh yang dimiliki media. Namun dalam perkembangannya, khalayak semakin kritis dalam menerima berbagai informasi yang diberikan oleh media. Mereka membutuhkan media dalam mencari berbagai informasi mengenai apa yang terjadi di sekitar mereka namun dalam menerima pesan di media informasi tersebut akan disaring, dipikirkan, dan dan dipertimbangkan apakah mereka mau menerima pesan dari media massa tersebut atau tidak. Walaupun peristiwanya sama namum pelajar akan menanggapi secara berbeda – beda, sesuai keadaan diri mereka masing – masing. Secara psikologis pelajar mempersepsi stimuli sesuai dengan karakteristik personalnya atau dapat dikatakan bahwa pesan diberi makna berlainan oleh orang yang berbeda. Seperti dijelaskan dalam Teori Pengolahan Informasi individu bekerja bagai biokomputer yang rumit, dengan kapasitas dan strategi pengelola informasi tertentu.Teori ini menggunakan analogi mekanis untuk menggambarkan dan menafsirkan bagaimana individu mengambil dan memaknai banjir informasi yang diterima indera masing – masing setiap saat setiap harinya (Baran, 2010:311). Setiap hari pelajar terekpos dengan berbagai informasi mengenai kekerasan pelajar dalam jumlah yang besar oleh media massa, mereka menyaring berbagai informasi sehingga hanya sebagian kecil saja yang mencapai pikiran sadar mereka. Hanya sebagian kecil saja dari informasi tersebut yang menarik perhatian dan diproses sehingga hanya menyimpan sedikit informasi ini dalam memori jangka panjang. Khalayak bukanlah seorang penerima ataupun penghindar informasi, namun mereka telah membangun mekanisme canggih untuk menyeleksi informasi yang tidak penting atau tidak berguna.Teori Pengolahan Informasi memiliki potensi yang besar untuk mengeksplorasi beragam konten di media. Bagaimana pelajar merangkai kemampuannya dalam merangkai kemampuan kognitif alamiah mereka untuk memahami dan menggunakan berbagai konten di media. Pelajar yang merupakan usia peralihan dimana awalnya terpesona dan ketakutan oleh pemberitaan kekerasan yang diberikan oleh media pada akhirnya membuat pembedaan yang kompleks terhadap apa yang diberitakan. Pelajar mulai mengerti bahwa pemberitaan kekerasan pelajar yang diberitakan oleh media tidak selalu seperti fakta yang ada, dengan pengemasan berita yang berlebihan mereka tidak akan langsung menerima segala informasi yang diberikan. Ketakukan dan kecemasan terhadap kekerasaa pelajar tidak langsung muncul setelah mereka mengkonsumsi pemberitaan di media.PENUTUPKesimpulanBerdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa hipotesis penelitian ini tidak terbukti, yaitu tidak ada pengaruh antara terpaan pemberitaan kekerasan pelajar terhadap tingkatkecemasan pelajar. Berapapun terpaan pemberitaan kekerasan pelajar (X), tingkat kecemasan pelajar (Y) tergolong tinggi hal ini disebabkan oleh beberapa faktor lain yang turut memengaruhi hasil penelitian mengenai pengaruh terpaan pemberitaan kekerasan pelajar terhadap tingkat kecemasan pelajar. Beberapa faktor lain tersebut antara lain seperti faktor pribadi, faktor lingkungan keluarga, faktor lingkungan kelompok sebaya, dan faktor lingkungan sekolah.Saran•Media dalam memublikasikan berita mengenai kekerasan pelajar lebih memperhatikan peraturan yang ada, agar tidak sekedar melihat sisi komersilnya saja namun juga dapat menjadi sumber informasi dan juga pembelajaran bagi masyarakat. Media massa memiliki tanggung jawab sosial bagi masyarakat untuk ikut mendidik anak bangsa.•Pihak sekolah dapat membentuk hubungan secara egaliter (setara) dan tidak ada keharusan penghormatan secara berlebihan baik antarpelajar, termasuk dengan guru agar tidak terjadi penghormatan berlebihan dari yunior kepada senior yang mengarah pada tindakan bullying yang banyak terjadi di lingkungan sekolah.•Pelajar adalah kalangan muda yang memiliki energi besar, namun kurikulum pendidikan tidak mampu menampung kekuatan tersebut. Energi pelajar yang besar itu seharusnya disalurkan oleh sekolah secara proporsional. Jika pelajar hanya dituntut secara kognitif dalam kurikulum, mereka tentu kesulitan menyalurkan kelebihan energinya dalam hal-hal lain yang positif akhirnya terjadilah kekerasan dan tawuran.•Orangtua dapat menciptakan komunikasi yang baik dengan anak agar mereka dapat menceritakan apa yang mereka rasakan dan alami ketika berada di lingkungan sekolah. Sehingga orangtua dapat memperhatikan pergaulan anak dengan kelompokteman sebayanya di lingkungan tempat anak menimba ilmu maupun tempat mereka bermain.DAFTAR PUSTAKABaran, Stanley J & Dennis K. Davis. (2010). Teori Komunikasi Massa: Dasar, Pergolakan, dan Masa Depan (Mass Communication Theory: Foundations, Ferment, and Future). Jakarta: Salemba Humanika.Effendy, Onong Uchjana. (1990). Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Hernandez, Roger E. (2005). Remaja & Media. Bandung: PT Intan Sejati.Javanovich, Harcourt Brace. (1993).Pengantar Psikologi. Jakarta: Erlangga.Kriyantono, Rachmat. (2008). Teknik Praktis Riset Komunikasi: Disertai Contoh Praktis Riset Media, Public Relations, Advertising, Komunikasi Organisasi, Komunikasi Pemasaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.Kuswandi, Wawan. 2008. Komunikasi Massa (Analisis Interaktif Budaya Massa). Jakarta: Rineka Cipta.Littlejohn, Stephen W & Karen A Foss. (2008). Theories of Human Communication. 9th Edition. Belmont: Thomson Wadsworth.McQuail, Denis. (2011). Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga.Morissan. (2010). Psikologi Komunikasi. Bogor: Ghalia Indonesia.Nurudin. (2010). Kutu – Kutu Media: Seksualitas dalam Globalisasi Media. Yogyakarta: Mata Padi Presindo.Rakhmat, Jalaluddin. 2004. Psikologi Komunikasi: Edisi Revisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Risnawita, S & M.Nur Ghufron. (2011). Teori – Teori Psikologi. Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA.Sarwoko, Bambang. (1989). Konsep Dasar: Pendidikan Luar Sekolah. Semarang: IKIP Seamarang Press.
Isu Kemajemukan (Pluralisme) Bangsa Indonesian Dalam Film ’?’ (Tanda Tanya) (Analisis Semiotika Dalam Film ’?’ (Tanda Tanya) ) Munirah Ulfah
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.999 KB)

Abstract

Film merupakan sebuah medium yang mampu menghadirkan realitas dalam bingkailayar lebar. Film „?‟ (Tanda Tanya) merupakan sebuah film yang mencobamenghadirkan realitas adanya isu kemajemukan (pluralisme) yang terjadi padabangsa Indonesia dan kemudian mencoba untuk merepresentasikannya kembalidalam sebuah cerita film. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimanasebuah isu kemajemukan (pluralisme) bangsa Indonesia direpresentasikan malauisimbol-simbol visual dan linguistik serta mengungkap mitos-mitos yang ada dalamFilm „?‟ (Tanda Tanya). Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui gagasangagasanyang ingin disampaikan dalam Film „?‟ (Tanda Tanya).Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakananalisis semiotika untuk menganalisis obyek yang diteliti. Teknik analisis datadilakukan dengan menggunakan teori “the codes of television” yang dikemukakanoleh John Fiske. Film „?‟ (Tanda Tanya) diuraikan secara sintagmatik melaluianalisis leksia yang setiap aspeknya dijelaskan pada level realitas dan levelrepresentasi. Selanjutnya level ideologi dianalisis secara paradigmatik.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa film „?‟ (Tanda Tanya) menunjukkanadanya representasi isu kemajemukan (pluralisme) yang ditandai melalui isukemajemukan antar agama yang kemudian diidentikkan dengan klaim kebenaran(truth claim), isu kemajemukan antar etnis yang menimbulkan stereotype etnis,prasangka dan intoleransi dalam pluralisme serta kajian gender dalam pluralismeyang dapat dilihat melalui tanda-tanda seperti dialog, kostum, penampilan maupungambar yang ada dalam film iniFilm „?‟ (Tanda Tanya) menunjukkan bahwa kemajemukan (pluralisme)bangsa Indonesia merupakan suatu hal yang nyata yang tidak dapat lagi untukdiperdebatkan selain mengambil jalan tengah terbaik yaitu mengakui tentangkemajemukan itu sendiri dengan toleransi yang positif atas segala kondisi dansituasinya.Kata Kunci: Isu Kemajemukan (Pluralisme), Film, Representasi

Page 4 of 4 | Total Record : 33