cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 42 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2: April 2013" : 42 Documents clear
Analisis Deskriptif Penggemar K-pop sebagai Audiens Media dalam Mengonsumsi dan Memaknai Teks Budaya Meivita Ika Nursanti; Triyono Lukmantoro; Nurist Surraya ulfa
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.251 KB)

Abstract

Kemunculan grup musik Seo Taji and Boys di Korea Selatan pada tahun 1992menjadi sebuah titik balik bagi industri musik populer Korea. Fenomena tersebutterus berkembang dan telah menjadi salah satu fenomena budaya pop yang hadir,tumbuh, dan berkembang di tengah-tengah masyarakat saat ini. K-pop (dalambahasa Korea 가요, Gayo) (singkatan dari Korean pop atau Korean popularmusic) adalah sebuah genre musik terdiri dari pop, dance, electropop, hip hop,rock, R&B dan electronic music yang berasal dari Korea Selatan.Banyak orang menyebut serbuan K-pop sebagai hallyu (한류) ataugelombang Korea (Korean Wave). Gelombang ini awalnya dipicu keranjinganorang terhadap drama romantis Asia, termasuk drama Korea. Dari sini, anak mudaAsia kemudian mengenal K-pop dan menggilainya. Maklum, K-pop tidak hanyamemanjakan telinga dan mata, tetapi juga menancapkan imajinasi tentang selebritiKorea yang berpenampilan apik dan berwajah semulus porselen. Tidak heran, kinibanyak anak muda yang ingin "dicetak" seperti selebriti Korea. Banyak anakmuda di mana-mana histeris melihat aksi boyband/girlband Korea. Inilah puncakgunung es dari kisah tentang penetrasi budaya pop Korea di sekitar kita.Dalam perkembangannya, K-Pop telah tumbuh menjadi sebuah subkulturyang menyebar secara luas di berbagai belahan dunia. Idol group dan solo artisseperti BoA, Rain, DBSK, JYJ, Super Junior, B2ST, Girls‟ Generations,BIGBANG, Wonder Girls, 2NE1, 2PM, 2AM, Miss A, KARA, SHINee, f(x),After School, Brown Eyed Girls, Se7en, CNBLUE, F.T. Island, Secret, MBLAQsangat terkenal di negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara, termasuk Jepang,Malaysia, Mongolia, Filipina, Indonesia, Thailand, Taiwan, Singapura, China, danVietnam (Cerojano, 2011).Kehadiran internet beserta jejaring sosial yang terdapat di dalamnya dapatdikatakan sangat membantu industri musik K-pop dalam menjangkau audiensyang lebih luas. Pengamat musik, Bens Leoseperti dikutip dalam sebuah portalkomunitas dan berita online tnol.co.idmengatakan musik K-pop yang telahmasuk ke Indonesia sekitar tahun 2009 berhasil populer di Indonesia berkatjaringan informasi dan teknologi internet, di mana kemudian masyarakat dapatdengan mudah mengakses dan melihat secara audiovisual. K-pop tidak hanyamengenalkan musik, tetapi K-pop juga mengenalkan budaya lewat gaya rambut,pakaian, maupun kostum (Nopiyanti, 2012).Pop culture yang beroperasi melalui fashion, musik, film maupun televisi inisangat dekat dengan dunia konsumsi di mana masyarakat dapat berekspresi didalamnya. Perilaku konsumsi individu maupun masyarakat yang terus menerus inipada akhirnya dapat menimbulkan sebuah sindrom fanatisme akibat hasilkomoditas budaya pop.Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia tahun 2009 (KBBI), fanatismeadalah keyakinan atau kepercayaan yang terlalu kuat terhadap suatu ajaran(politik, agama, dsb). Seseorang yang bersikap fanatik ini seringkali dijulukisebagai penggemaratau yang dalam skripsi ini disebut sebagai fans selebritis,serial televisi, band, dan komoditas budaya pop lainnyaseperti halnya dalamindustri K-pop.Henry Jenkins dalam Textual Poachers: Television Fans and ParticipatoryCulture (1992) menjelaskan mengenai kata “fan” (penggemar) yang merupakanabrevasi dari “fanatic”, yang berasal dari kata Latin “fanaticus”. Secara literal,“fanaticus” berarti “Dari atau berasal dari sebuah pemujaan; pelayan suatupemujaan; seorang pengikut” (“Of or belonging to the temple, a temple servant, adevotee”) (Oxford Latin Dictionary). Dalam perkembangannya, “fanatic”diartikan sebagai suatu bentuk kepercayaan religius yang berlebihan danmenyembah kepada setiap “antusiasme yang salah dan berlebihan”, yang padaakhirnya banyak menimbulkan kritik karena melawan kepercayaan dan dianggapsebagai suatu kegilaan yang timbul dari suatu posesi atas dewa atau iblis (OxfordEnglish Dictionary).Fenomena yang kemudian terjadi adalah menjamurnya fans K-pop di seluruhbelahan dunia. Fans yang berasal dari berbagai macam fandom idolgroupseperti misalnya ELF (Ever Lasting Friends) yang merupakan sebutanbagi penggemar Super Junior, B2UTY untuk penggemar B2ST, atau pun VIP bagipenggemar BIGBANGmenjadi sebuah kesatuan besar di bawah naunganfandom K-pop.Bagi kebanyakan orang, fandom K-pop dikenal dengan stereotip yangmelekat pada diri fans atau penggemarnya. Fans K-pop dianggap selalu bersikapberlebihan, gila, histeris, obsesif, adiktif, dan konsumtifketika mereka sangatgemar menghambur-hamburkan uang untuk membeli merchandise idola maupunmengejar idolanya hingga ke belahan dunia mana pun.Menurut Casey dalam Television Studies – The Key Concepts (2002: 91), fansselalu diasumsikan sebagai „canggung secara sosial dan kumpulan orang tidakberguna yang terbuai akan budaya populer, melalui sebuah media tertentu, dimanamenawarkan mereka kepuasan sintetis dan pelarian dari hidup mereka yangmenyedihkan.Stereotip tersebut salah satunya dapat dilihat dalam kehidupan di duniamaya. Mereka secara terang-terangan dapat menyatakan rasa cinta kepada idoladengan menggunakan fungsi mention pada Twitter dan ditujukan langsung keakun Twitter sang idola. Melalui dunia maya, mereka dapat dengan bebasmengungkapkan dan mencurahkan isi hati mereka kepada sesama fans K-popdengan posting pada blog maupun forum. Melalui dunia maya pula, fans K-popmelakukan sebuah aktivitas yang disebut dengan fangirling (berasal dari katafangirl. Fans lelaki disebut dengan sebutan fanboy. Fangirl dan fanboy seringdibedakan karena praktik tertentu yang mereka lakukan di dalam fandom. Namunpada dasarnya fans/penggemar/konsumen adalah sama) (Jenkins, 2007).Fangirling adalah sebutan yang digunakan untuk mendeskripsikankegembiraan berlebih atau bahkan ekstrim terhadap fandom tertentu. Internet telahmenjadi, bagi kebanyakan orang, sebuah sumber alternatif untuk informasi danhiburan, pada tingkat suatu bentuk media yang lebih “mapan” ketimbang televisidan media cetak (Rayner, Wall, Kruger, 2004: 104). Mereka sering menghabiskanwaktunya di depan komputer selama berjam-jam untuk berdiskusi mengenai objekkesenangan mereka hingga ke perilaku obesesif yang berlebihan yaitu stalking(istilah yang digunakan untuk mengacu pada perhatian obsesif yang tidakdiinginkan oleh seorang individu atau grup yang dilakukan oleh orang tertentu.Perilaku stalking sering dikaitkan dengan pelecehan dan intimidasi termasukmengikuti sang korban ke mana pun ia pergi dan memonitor segala perilakunya(http://www.thehistoryofastalker.com/stalkers-psychological-file).Melalui media seperti TV, dan terutama internet pula, fans K-pop dapatmemenuhi rasa „rindu‟ mereka. Mereka mengunduh video klip dan berbagaimacam variety show yang dibintangi idola mereka, mereka bertukar informasi dangossip terbaru melalui fanboard maupun bentuk media internet lainnya. Hal inibagi mereka adalah sebuah forum untuk mengekpresikan keluhan mereka, berbagiinformasi, dan mengesahkan identitas mereka sebagai fans (Rayner, Wall, Kruger,2004: 147).Bagi mereka fandom K-pop adalah sesuatu yang besar. Mereka memilikinama masing-masing, warna tertentu yang menunjukkan identitas mereka (warnabiru safir bagi fan Super Junior, warna merah untuk penggemar DBSK, dan lainlain),dan bahkan diakui secara resmi oleh label atau manajemen yang menaungiidola kesayangan mereka. Fandom K-pop telah berfungsi hampir menyerupaisebuah cult di mana penggemar yang terdapat di dalamnya seakan-akan telahdihipnotis untuk selalu memuja idola mereka selayaknya seorang dewa.Menurut Joli Jenson (dalam Storey, 2006:158), literatur mengenai kelompokpenggemar dihantui oleh citra penyimpangan. Penggemar selalu dicirikan sebagaisuatu kefanatikan yang potensial. Hal ini berarti bahwa kelompok penggemardilihat sebagai perilaku yang berlebihan dan berdekatan dengan kegilaan. Jensonmenunjukkan dua tipe khas patologi penggemar, „individu yang terobsesi‟(biasanya laki-laki) dan „kerumunan histeris‟ (biasanya perempuan).Para penggemar ditampilkan sebagai salah satu liyan yang berbahaya dalamkehidupan modern. “Kita” ini waras dan terhormat; “mereka” itu terobsesi danhisteris. Penggemar dipahami sebagai korban-korban pasif dan patologis mediamassa. Penggemar tidak bisa menciptakan jarak di antara dirinya dan objekkesenangannya.Para khalayak pop dikatakan memamerkan kesenangan mereka hinggamenimbulkan ekses emosional, sementara budaya resmi dan budaya dominansenantiasa mampu memelihara jarak dan kontrol estetik yang terhormat.Kelompok penggemar itu disebut-sebut hanya melakukan aktivitas kulturalkhalayak pop, sementara kelompok-kelompok dominan dikatakan memiliki minat,selera dan preferensi kultural. Hal ini diperkuat oleh objek-objek kekaguman.Budaya resmi atau dominan menghasilkan apresiasi estetik; kelompok penggemarhanya pas untuk pelbagai teks dan praktik budaya pop.Fans K-pop juga dikenal selalu loyal terhadap idolanya. Mereka tak seganseganuntuk mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk membeli segala macampernak-pernik tentang idolanya. Mereka juga tidak sayang untuk mengeluarkankocek yang besar untuk membeli hingga sepuluh CD album, saat idolanya merilisalbum baru, agar idola mereka dapat memenangkan penghargaan di berbagaiajang penghargaan musik. Merchandise sendiri terkadang memiliki harga yangtidak masuk akal bagi kebanyakan orang, terutama di luar fandom K-pop.Tidak hanya konsumsi merchandise atau pernak-pernik yang berhubungandengan idolanya, penggemar K-pop tentu tidak bisa dilepaskan dari konsumsimenonton konser. Di Indonesia sendiri, Showmaxx, selaku promotor yangmendatangkan Super Junior untuk konser di Indonesia, sampai harusmemperpanjang jadwal konser yang bertajuk Super Junior World Tour: SuperShow 4, menjadi tiga hari. Sebuah situs berita K-pop online, dkpopnews,memberitakan bahwa 60% audiens yang hadir di perhelatan konser Super Junior(Super Show 3: Super Junior the 3rd Asia Tour) di Singapura adalah penontonIndonesia. Mereka bahkan menyelenggarakan sebuah project dengan memberikansepuluh medali emas yang dipesan khusus untuk para anggota Super Junior.Masing-masing medali seharga sekitar $ 442.77 (Lee, 2011).Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa fandom K-pop telah berfungsihampir menyerupai sebuah cult di mana penggemar yang terdapat di dalamnyaseakan-akan telah dihipnotis untuk selalu memuja idola mereka selayaknyaseorang dewa. Obsesi mereka terhadap para idolanya sering dianggap berlebihandan melampaui batas.Casey (dalam Rayner, Wall, dan Kruger, 2004: 146) melihat bagaimana fansdalam representasinya seringkali ditolak dalam masyarakat. Casey menjelaskanbagaimana fans sering ditolak. Fans yang obsesif muncul karena telah „diambil‟oleh teks, dimana mereka (non-fans) tidak. Mereka (non-fans) mengkonstruksikanposisinya sebagai „normal‟ di mana sangat bertolak belakang dengan perilakufans. “Walaupun kita juga menikmati teks, „mereka‟ sangat berbeda dengan„kita‟.”Fans dan fandom sebagai salah satu area populer dalam studi mengenaiaudiens menjadi lebih layak dianalisis dalam studi kritikal ketika dalamperkembangannya, keberadaan fans telah dipengaruhi oleh teknologi dan media.Asumsi awal mengenai fans selalu dilihat sebagai mereka yang „obsesif‟, „anorak‟(seseorang yang memiliki ketertarikan yang kuat pada suatu hal, mungkin obsesifdan ketertarikan tersebut tidak dapat dipahami oleh orang lain; british slang,Oxford Dictionaries tahun 2012), dan „aneh‟, yang ketertarikan obsesinya adalahpada sebuah objek budaya tertentu sebagai „tameng‟ untuk mengejarkecanggungan atas kehidupan sosial mereka.Dewasa ini, representasi fandom telah mengalami perubahan. Jenkins (dalamRayner, Wall, Kruger, 2004: 147) mendeskripsikan bahwa fandom adalah sesuatuyang positif dan memberdayakan. Fandom adalah salah satu cara di manakhalayak dapat menjadi aktif dan berpartisipasi dalam mengkreasikan makna darisebuah teks dalam media.Penelitian ini akan berfokus pada bagaimana fans K-pop sebagai audiensmedia mengonsumsi dan memaknai teks di dalam media terkait dengan perilakufanatisme di dalam fandom yang mereka ikuti. Lebih lanjut, penelitian ini jugaakan membahas mengenai perilaku produksi yang dilakukan oleh penggemarsebagai hasil dari aktivitas konsumsi dan pemaknaan yang mereka lakukan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku penggemar K-pop, berkaitandengan motif yang mendorong mereka untuk melakukan aktivitas konsumsiadalah motif yang didasari oleh motif kepuasan. Konsumsi yang mereka lakukandidasari oleh keinginan mereka sendiri akan perasaan puas yang timbulsetelahnya. Kecintaan mereka terhadap idola menghapuskan rasa sayang untukmenghabiskan waktu dan biaya yang tidak sedikit bagi kegiatan kegemaranmereka. Konsumsi yang mereka lakukan bukanlah diukur dari berapa banyakwaktu maupun biaya yang mereka keluarkan atau pun bagaimana lingkungansosial menilai mereka. Konsumsi yang mereka lakukan lebih berbicara mengenaikenikmatan yang dicapai sebagai pelampiasan akan hasrat atau perasaan rinduyang terpendam terhadap sang idola. Perilaku konsumsi yang dilakukan olehpenggemar K-pop umumnya meliputi mengunduh video, membeli merchandise,dan menonton konser. Video yang mereka unduh adalah video-video berupa videoklip, potongan-potongan scene, hingga video variety show. Sedangkan mengenaikonsumsi merchandise dapat bermacam-macam bentuknya seperti CD, kaos,photo book, dan light stick. Aktivitas menonton konser adalah aktivitas yangpaling ditunggu-tunggu. Hal ini disebabkan oleh satu tujuan utama yang samayaitu untuk bertatap muka langsung dengan idola.Selain itu, penggemar K-pop tidak hanya melakukan konsumsi, merekasenantiasa juga melakukan pemaknaan terhadap teks di media. Ketika merekamengonsumsi, mereka memaknai. Pemaknaan yang dilakukan oleh penggemartidak hanya dilakukan berdasarkan pengalaman mereka secara individu namunjuga secara kolektif, misalnya ketika sedang berada di dalam kelompok ataukomunitas penggemar. Perilaku pemaknaan secara kolektif ini, salah satunyadapat dilihat dengan seberapa sering penggemar saling berdiskusi, bertukarinformasi atau berdebat mengenai pengetahuan objektif yang tidak diketahui olehorang awam.Penggemar, selain melakukan aktivitas konsumsi, ternyata juga melakukanaktivitas produksi kreatif sebagai bentuk fanatisme. Aktivitas produksi adalahefek yang timbul dari kegiatan mengonsumsi teks di media secara terus-menerus.Serupa dengan motif penggemar dalam mengonsumsi, motif produksi teks budayayang dilakukan oleh penggemar K-pop juga didasari atas pemenuhan kebutuhanafeksi dan emosi mereka. Selain untuk mencapai kepuasan (satisfaction), produksiteks juga dilakukan untuk memenuhi kebutuhan mereka sebagai manusia sosial,yaitu kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan untuk mencari identitas sertakebutuhan akan pemenuhan diri. Contoh produksi yang dilakukan oleh penggemarK-pop adalah fan fiction dan fan art. Hasil produksi ini kemudian akan diunggahke media (internet) untuk kemudian dishare dengan sesama penggemar. Tidakhanya sampai di situ, penggemar lainnya yang turut mengonsumsi produksitersebut juga ditemukan memberikan feedback bagi si produser; seperti misalnyameninggalkan komentar atau kritik yang membangun.Media yang telah menjadi sebuah wadah utama bagi mayoritas penggemarK-pop adalah internet. Selain membantu mereka dalam kegiatan kegemaran(fangirling), internet juga membantu mereka dalam berkomunikasi serta bertukarinformasi dengan sesama penggemar lainnya di dunia maya walau belum pernahdilakukan tatap muka di antara keduanya. Penggemar K-pop biasanya memilikiforum-forum khusus yang memungkinkan mereka untuk melakukan sharingsecara beramai-ramai. Forum-forum ini umumnya adalah situs yang dibuat olehpenggemar dan diperuntukkan bagi penggemar pula. Tidak hanya melalui forum,tetapi situs-situs jejaring sosial seperti twitter dan tumblr juga memudahkanmereka dalam melakukan kegiatan fangirling. Melalui forum/jejaring sosialmereka bisa membicarakan berbagai macam hal, dari mulai video klip yang barukeluar hingga gaya rambut sang idola yang terus berganti-ganti.DAFTAR PUSTAKAAnda, Atri, et. Al. 2012. Jalan-Jalan K-pop. Jakarta: Gagas Media.Casey, Bernadette, et. Al. 2008. Television Studies: The Key Concepts, SecondEdition. Oxon: Routledge.Cheonsa, Choi. 2011. Hallyu: Korean Wave. Klaten: Cable Book.Engel, James F, Roger .D Blackwell, dan Paul W. 1995. Perilaku Konsumen.Jakarta: Binarupa Aksara.Featherstone, Mike. 2007. Consumer Culture and Postmodernism Second Edition.London: SAGE Publications Ltd.Friedman, Jonathan. 2005. Consumption and Identity. Singapore: HarwoodAcademic Publishers.Genosko, Gary. 1994. Baudrillard and Signs: Signification Ablaze. London:Routledge.Gray, Jonathan, Cornel Sandvoss, dan C. Lee Harrington (ed.). 2007. Fandom:Identities and Communities in A Mediated World. New York & London:New York University Press.Hellekson, Karen, dan Kristina Busse (ed.). 2006. Fan Fictions and FanCommunities in the Age of the Internet. Jefferson: McFarland & Company,Inc.Hills, Matt. 2002. Fan Cultures. London: Routledge.Jenkins, Henry. 1992. Textual Poachers: Television Fans and ParticipatoryCulture. New York & London: Routledge.Kelly, William. W (ed.). 2004. Fanning the Flames: Fans and Consumer Culturein Contemporary Japan. Albany: State University of New York Press.Korean Culture and Information Service. 2011. Contemporary Korea No. 1 TheKorean Wave: A New Pop Culture Phenomenon. Seoul: Koreean Cultureand Information Service Ministry of Culture, Sports and Tourism.Kuswarno, Engkus. 2009. Metodologi Penelitian Komunikasi Fenomenologi:Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitiannya. Bandung: WidyaPadjadjaran.Mackay, Hugh (ed.). 1997. Consumption and Everyday Life. London: SagePublications Ltd.Moran, Dermot. 2000. Introduction to Phenomenology. London: Routledge.Neuman, Lawrence W. 2007. Basics of Social Rasearch: Qualitative andQuantitative Approaches Second Edition. Boston: Pearson Education Inc.Rakhmat, Jalaluddin. 2001. Psikologi Komunikasi. Bandung: Rosda.Rayner, Philip, Peter Wall dan Stephen Kruger. 2004. Media Studies: TheEssential Resource. London & New York: Routledge.Ritchie, Jane dan Jane Lewis. 2003. Qualitative Research Practice: A Guide forSocial Science Students and Researchers. London: SAGE Publications.Rusbiantoro, Dadang. 2008. Generasi MTV. Yogyakarta & Bandung: Jalasutra.Sastranegara, Arif. 2012. Boyband dan Girlband Korea: 21 Grupband KoreaSuper Populer. Surabaya: Citra Publishing.Schacht, Richard. 2005. Alienasi: Pengantar Paling Komprehensif.Jakarta: Jalasutra.Storey, John. 2006. Pengantar Komprehensif, Teori, dan Metode: CulturalStudies dan Kajian Budaya Pop. Yogyakarta: Jalasutra.Storey, John. 2009. Fifth Edition Cultural Theory and Popular Culture: AnIntroduction. Harlow: Pearson Education Ltd.Yuanita, Sari. 2012. Korean Wave: Dari K-Pop Hingga Tampil Gaya Ala Korea.Yogyakarta: IdeaTerra Media Pustaka.Referensi SkripsiPujarama, Widya (2008). Kisah Harry Potter yang Menjadi Mitos: Studi Etnografiterhadap Penggemar Kisah Harry Potter dalam Situswww.harrypotterindonesia.com. Skripsi. Universitas Brawijaya.Qisthina (2010). Budaya Penggemar Musik Pop Korea (Studi Pada PolaKonsumsi dan Produksi ELF Super Junior di Kalangan Pelajar KotaMalang). Skripsi. Universitas Brawijaya.Sandika, Edria (2010). Dinamika Konsumsi dan Budaya Penggemar KomunitasTokusatsu Indonesia. Tesis. Universitas Indonesia.Referensi InternetCerojano, Teresa. (2011). K-pop‟s Slick Productions Win Fans Across Asia.dalam http://lifestyle.inquirer.net/14895/k-pops-slick-productions-winfans-across-asia. diakses tanggal 17 November pukul 17:45.Grossman, Lev. (2011). The Boy Who Lived Forever. dalamhttp://www.time.com/time/arts/article/0,8599,2081784-1,00.html. diaksestanggal 15 Januari 2013 pukul 21:00.Halim, Denny F. (2012). My Jakarta: Wina and Siska, K-pop Fans. dalamhttp://www.thejakartaglobe.com/myjakarta/my-jakarta-wina-and-siska-kpop-fans/504997. diakses tanggal 23 April 2012 pukul 23:15.Jenkins, Henry. (2007). Gender and Fan Culture (Round Fifteen, Part Two: BobRehak and Suzanne Scott. dalamhttp://henryjenkins.org/2007/09/gender_and_fan_culture_round_f_4.html.diakses tanggal 27 April 2012 pukul 24:00.Kamil, Ati. (2012). “Gelombang Korea” Menerjang Dunia. dalamhttp://entertainment.kompas.com/read/2012/01/15/18035888/.Gelombang.Korea.Menerjang.Dunia. diakses tanggal 17 November 2012 pukul 23:00.Lee, Dajeong. (2011). 10 Gold Medals for Super Junior from Indonesian ELF.dalam http://www.dkpopnews.net/2011/01/photos-10-gold-medals-forsuper-junior.html. diakses tanggal 23 April 2012 pukul 21:00.Nopiyanti. (2012). Bens Leo: K-pop Penyelamat Musik Indonesia!. dalamhttp://www.tnol.co.id/film-musik/12710-bens-leo-k-pop-penyelamatmusik-indonesia.html. diakses tanggal 24 April 2012 pukul 20:10.Pasandaran, Camelia. (2012). „Gangnam Style‟ Star Psy to Ride Into Jakarta.dalam http://www.thejakartaglobe.com/entertainment/gangnam-style-starpsy-to-ride-into-jakarta/553423. diakses tanggal 16 November 2012 pukul21:45.Subi. (2012). K-pop Merchandising: Exploiting the Consumer. dalamhttp://seoulbeats.com/2012/01/k-pop-merchandising-exploiting-theconsumer/.diakses tanggal 27 April 2012 pukul 23:45.Suwarna, Budi dan Frans Sartono. (2010). Super Korea, Super Tampang. dalamhttp://nasional.kompas.com/read/2010/12/12/03182533/. diakses tanggal16 November 2012 pukul 19:05.Third Jakarta Show Added For K-pop Band Super Junior. (2012). dalamhttp://www.thejakartaglobe.com/entertainment/third-jakarta-show-addedfor-k-pop-band-super-junior/512038. diakses tangal 23 April 2012 pukul22:00.Today’s K-pop Fan Groups: Too Obsessive?. (2011). dalamhttp://seoulbeats.com/2011/11/todays-k-pop-fan-groups-too-obsessive/.diakses tanggal 27 April 2012 pukul 22:00.Referensi Media CetakBurhanudin, Tony. (2012, Juli). Imitator Jepang yang Sukses. Marketing: 66-67.Burhanudin, Tony. (2012, Juli). K-pop Sebagai National Branding Bangsa Korea.Marketing: 58-59.Ladjar, Angelina M. (2012, Juli). Tidak Sembarang Artis K-pop. Marketing: 76-77.Mulyadi, Ivan. (2012, Juli). Samsung as Global Brand. Marketing: 74-75.Tanoso, Harry. (2012, Juli). Harga Sinetron Korea Jauh Lebih Murah dariSinetron Lokal. Marketing: 82-83.Purwaningsih, Ike dan Miftah N. (2012, Oktober 7). Korea Masih Bikin Kepincut.Suara Merdeka: 21.
PR Campaign Klub Sepatu Roda di Bawah Porserosi Semarang Melalui Rangkaian event “Juara Bersama Sepatu Roda”dan “Fun Skate on Car Free Day” (Program Manager) Nisa Tunjung Hapsari; Yanuar Luqman; Nurist Surraya ulfa
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.861 KB)

Abstract

PENDAHULUAN Perkembangan sepatu roda di kota Semarang sedang mengalami peningkatan, animomasyarakat kota semarang akan permainan ini meningkat tajam. Peningkatan popularitasnya inidapat dilihat dengan adanya peminat sepatu roda di Simpang Lima setiap harinya. Hal ini jugadiikuti dengan maraknya para pemilik sepatu roda yang menyewakan sepatu roda kepadapengunjung. Permainan sepatu roda mulai banyak kita jumpai di kawasan pusat kota setiapharinya. Meningkatnya animo masyarakat akan olahraga ini seharusnya dapat dimanfaatkan olehPORSEROSI sebagai alat untuk menjaring bibit- bibit calon atlet sepatu roda kota Semarangdengan mengarahkannya tergabung ke dalam salah satu klub sepatu roda. Namun, hingga saat inikeberadaan klub – klub sepatu roda di bawah naungan PORSEROSI kota Semarang masihbelum diketahui oleh masyarakat kota Semarang. Sehingga, para penggemar sepatu roda belumterarahkan bakatnya.MasalahSebagai ibu kota Jawa Tengah, kota Semarang merupakan tempat lahirnya para atlet Sepaturoda. Prestasi yang ditunjukkan atlet kota Semarang pun cukup menjanjikan. Bahkan, di eventinternasional pun para atlet sepatu roda mampu bersaing dengan atlet manca negara dan mampumemberikan hasil yang memuaskan. Namun, berdasarkan hasil riset menunjukkan bahwa :a. Sepatu roda hanya memperoleh suara sebanyak 13 % sebagai olah raga yang diminatioleh anak – anak usia 7 – 12 tahun.b. Pengetahuan siswa siswi tentang klub sepatu roda juga terbilang masih rendah,kurang dari 50%, atau sekitar 48,3% responden yang mengetahui klub – klub sepaturodac. Rendahnya pengetahuan dan minat responden untuk bergabung dengan klub Sepaturoda di kota semarang pun masih sangat kurang. 61,67% responden menyatakanbahwa mereka tidak berminat untuk bergabung di klub Sepatu roda.TujuanTujuan umum : Meningkatkan awareness klub sepatu roda di kota Semarang sebagai saranamengembangkan minat dan bakat sepatu roda agar dapat berprestasi dengan cara yangmenyenangkan sebesar 15%TujuanKomunikasiinformingpersuadingremindingResponKhalayakEfekKognitifEfek AfektifEfekKonatifProsesPengambilankeputusanAttentionInterest &DesireDecision &ActionTujuan khusus : Meningkatkan minat masyarakat khususnya anak – anak usia 7 – 12 thuntuk bergabung kedalam klub-klub Sepatu roda di kota semarang. Dari 38 % menjadi 50 %,didalam klub-klub ini masyarakat khususnya anak-anak akan dibekali, diarahkan, dilatih dandibina dengan benar tentang olahraga Sepatu roda.Kerangka pemikiranKomunikasi persuasifPersuasi merupakan usaha untuk mengubah sikap melalui penggunaan pesan, berfokusterutama pada karakteristik komunikator dan pendengar. Sehingga komunikasi persuasif lebihjelasnya merupakan komunikasi yang berusaha untuk mengubah sikap receiver melaluipenggunaan pesan yang dilakukan sendiri. DeVito menjelaskan komunikasi persuasif dalambuku Komunukasi Antar Manusia sebagai berikut: “Pembicaraan persuasif mengetengahkanpembicaraan yang sifatnya memperkuat, memberikan ilustrasi, dan menyodorkan informasikepada khalayak.” Akan tetapi tujuan pokoknya adalah menguatkan atau mengubah sikap danperilaku, sehingga penggunaan fakta, pendapat, dan himbauan motivasional harus bersifatmemperkuat tujuan persuasifnya.“A procedure, from attention to action” atau dengan formula lain dengan slogan “AIDDA”.Proses penahapan komunikasi ini mengandung maksud bahwa komunikasi hendaknyadimulai dengan membangkitkan perhatian. Dalam hubungan ini, komunikator harusmenimbulkan daya tarik. Apabila perhatian komunikan telah terbangkitkan, sebaiknya disusuldengan upaya menumbuhkan minat atau interest. Minat adalah kelanjutan dari perhatian yangmerupakan titik tolak bagi timbulnya hasrat atau desire untuk melakukan suatu kegiatan yangdiharapkan komunikator.Adapun keterkaitan antara tujuan komunikasi dan respon khalayakberkaitan dengan tahap-tahap dalam proses penerimaan pesan dapat dilihat pada gambar berikut :Gambar 1.1 skema teoritisBentuk strategi yang dapat dilakukan dalam kampanye adalah melakukan kegiatan persuasi(bujukan). Artinya, melakukan persuasi merupakan tujuan dari proses komunikasi yangdilakukan dan merupakan proses belajar yang bersifat emosional, atau bisa juga dikatakansebagai perpindahan anutan dari hal yang lama ke hal yang baru melalui penanaman suatupengertian dan pemahaman.Kampanye Public RelationsKampanye Public Relations (PR compaign) dalam arti sempit bertujuan meningkatkan kesadarandan pengetahuan khalayak sasaran (target audience) untuk merebut perhatian sertamenumbuhkan persepsi atau opini yang positif terhadap suatu kegiatan dari suatu lembaga atauorganisasi agar tercipta suatu kepercayaandan citra yang baik dari masyarakat melaluipenyampaian pesan secara intensif dengan proses melalui penyampaian pesan secara intensifdengan proses komunikasi dan jangka waktu tertentu yang berkelanjutan.Target AudiensTarget audiens dari event ini khususnya berasal dari Kota Semarang, dan dari Jawa Tengah padaumumnya. Target terbagi menjadi tiga (3) kelompok usia yang kami golongkan menjadi targetprimer, target sekunder, dan target tersier.a. Target Primer yaitu target utama dalam pelaksanaan event ini adalah anak-anakSekolah Dasar (SD) yang berusia 7-12 tahun.b. Target Sekunder merupakan kelompok target audiens yang terdiri dari anakanaksekolah yang berada dibawah maupun diatas tingkat Sekolah Dasar, usiadibawah 7 tahun dan diatas 12 tahun. SES A – C, pendidikan TK, SMP, SMA, S1dan umum.c. Target Tersier adalah kelompok target yang merupakan masyarakat umumseperti orangtua dari anak-anak tersebut diatas.DIVISI PROGRAM MANAGER RANGKAIAN EVENT“JUARA BERSAMA SEPATU RODA”“Juara Bersama Sepatu Roda” dan “Fun Skate on Car Free Day merupakan rangkaianacara yang dikemas Porserosi kota Semarang dengan tujuan meningkatkan pengetahuan sertameningkatkan minat masyarakat, terutama anak usia 7 – 12 th untuk bergabung dengan klub –klub sepatu roda di bawah naungan Porserosi kota Semarang. Hal tersebut telah memberikanberbagai poin penting dalam melaksanakan sebuah event beserta efek yang ditimbulkan. DivisiProgram manager bertugas dalam hal perencanaan teknis event mulai dari perhitungan biayayang dibutuhkan, pemilihan talent, menyusun rundown acara hingga mempersiapkan segalasesuatu yang diperlukan dalam pelaksanaan event.Kendala Yang Dihadapi oleh Program ManagerTerselenggaranya dua rangkaian acara Road Show “Juara Bersama Sepatu Roda” dan “CoachingClinic on Car Free Day” tidak luput dari beberapa kendala yang menghambat jalannya acara.Adapun kendala yang dihadapi misalnyaa. Penetuan jadwal roadshowPerencanaan awal road show berlangsung ternyata bersamaan dengan ujiantengah semester, sehingga beberapa atlet sepatu roda tidak dapat ikut membantujalannya acara.b. Rundown acara sempat mundur dikarenakan perwaklian antar klub ada yangterlambat hadir. Namun hal ini tidaklah menjadi masalah, karena untuk mengisiwaktu yang kosong MC mengajak pengunjung untuk mengikuti games yangmenarik.c. Beberapa program awal yang dikonsepkan ditiadakan seperti live music daribrownshoes. Hal ini dikarenakan waktu yang terbatas, mengingat venue diadakandi Car Free Day, yang mengharuskan jalan dibuka pukul 09.00 WIBd. Panitia penyelenggara harus memproduksi kembali sticker sebagai gimmickevent, dikarenakan jumlah sticker yang telah diproduksi awal ternyata kurang,Evaluasi Program ManagerEvaluasi menjadi hal penting setelah kegiatan “Fun Skate on Car Free Day” berlangsung.Evaluasi digunakan untuk melihat hasil dari apa yang telah dilakukan apakah sudah memenuhitarget yang telah ditetapkan, kelebihan, dan kekurangan dari event tersebut. Sehinggakedepannya kekurangan tersebut dapat diperbaiki serta masukan-masukan yang bermanfaatuntuk kegiatan serupa dikemudian hari. Dengan evaluasi juga akan dapat terlihat kekurangandari kinerja Program Manager.Beberapa indikator yang terbukti menyatakan keberhasilan event ini adalah :a. Tujuan acara tepenuhi, hingga melebihi target dari yang ditetapkan. Informasidalam acara telah tersampaikan dengan baik. Peserta dapat mengingat danmengulang informasi secara umum seputar Klub sepatu roda kota Semarang,diantaranya adalah informasi tentang peralatan apa saja yang diperlukan untukbermain sepatu roda yang aman dan benar, nama – nama klub di bawah naunganPorserosi kota Semarang, tempat latihan masing – masing klub, nama – nama atletandalan setiap klubnya, dsb.b. Antusiasme audiens selama acara berlangsung sangat tinggi, terlihat dari:i. Jumlah Peserta coaching clinic yang melebihi targetii. Audiens tetap berada ditempat hingga acara selesai (pengundiandoorprize)Dari segi program manager, dapat dikatakan event terlaksana dengan baik. Hal ini dapatterlihat dari beberapa faktor-faktor berikut ini:a. Daftar kebutuhan produksi event terpenuhi, dapat terealisasi dan terpenuhi, hanyabeberapa item yang tidak dapat terpenuhi.b. Proses loading in dan loading out berjalan sesuai rundown yang telah dibuat.c. Ketersediaan makanan yang dapat memenuhi kebutuhan konsusmsi selama acarad. Jumlah total biaya yang dikeluarkan tidak melebihi rencana awal, perencanaansemula dengan estimasi budget sebesar Rp.10.820.000,- dapat diminimalkanmenjadi Rp. 7.740.000,-. Sisa anggaran dialokasikan untuk pembayaran feepanitia yang ikut membantu jalannya acara dan disumbangkan kepada tiap-tiapklub sebagai dana pembinaan.e. MC selama rangkaian acara telah melakukan tugasnya dengan baik,dapatmemaparkan informasi yang bersifat persuasive sehingga audience tertarik untukbertanya lebih lanjut dan mengingat pesan yang telah disampaikanf. Bagian registrasi berjalan lancar. Peserta coaching clinic baik sewaktu roadshowdan Car free day telah tercatat, sehingga memudahkan dalam proses evaluasi(menghitung jumlah total partisipan).g. Gimmick dan doorprize didistribusikan dengan lancar. Pada saat roadshow,gimmick diberikan untuk siswa siswi yang dapat menjawab pertanyaan denganbenar (seputar sepatu roda) sedangkan pada saat Car Free Day, gimmick diberikansaat sesi games yang dipandu oleh mc dan doorprize diundi di akhir acaraParameter keberhasilan eventCommunicationObjectiveDari riset penyelenggara pasca event yang dilakukan melalui60 responden yang mengetahui Klub sepatu roda kotaSemarang, sebanyak 43, yang berminat gabung ke dalamklub sebanyak 41 responden dan yang mengetahui event“Fun Skate on CFD” sebanyak 53 responden. Data per klubmenunjukkan jumlah kenaikan anggota setelah acaraterselenggara. (Ikos mengalami kenaikan anggota sebanyak18 anak, Kairos 21 anak dan Eagle 14 anak)Konsep Acara Dari 34 responden yang mengikuti acara “Fun Skate on CarFree Day”, sebanyak 23 responden menyatakan bahwa acaratersebut “sangat menarik”, sisanya menyatakan “menarik”.Target Audience Total peserta coaching clinic “Juara Bersama Sepatu Roda”dan ‘Fun Skate on CFD” secara akumulatif mencapai 550peserta dari target minimal 200 peserta.Rundown dan Timeline a. Tidak terjadi pembatalan event. Event “Fun Skate onCFD” tetap dilaksanakan pada hari H, yaitu Minggu,28 Oktober 2012 sesuai dengan kesepakatan.b. Acara berjalan sesuai dengan rundown, meskipunterjadi delay selama 15 menit dan overtime selama 20menit, namun tetap masih dalam batas toleransi awalyaitu maksimal delay adalah selama 59 menit.Budgeting a. Tidak terjadi adanya pembengkakan budget selamaperencanaan hingga pelaksanaan eventb. Semua anggaran pelaksanaan acara” diperoleh darikegiatan sponsorshipc. Kegiatan “Fun Skate on CFD” mendapatkan surplussebesar Rp. 2.250.000,- dari sponsorshipSponsorship a. Kegiatan “Fun Skate on Car Free Day” berhasilmendapatkan pendanaan secara penuh dari pihak sponsor,yaitu PT KAI, Suara Merdeka group dan sponsor lainnyab. Kegiatan ini juga didukung oleh sponsor (dalam bentukproduk), yaitu Telkomsel, Aquaria, Horison,CocacolaPermit and Venue Kegiatan “Fun Skate on CFD” berhasil mendapatkan izinvenue di enam sekolah dasar dan area Car Free Day jalanpahlawan pada waktu yang telah ditentukan tanpamengeluarkan biaya.PENUTUPImplikasia. Kegiatan promosi melalui roadshow “Juara Bersama Sepatu Roda” ke enam sekolah dasardan event “Fun Skate on Car Free Day” berhasil meningkatkan pengetahuan target audienmengenai klub – klub sepatu roda di bawah naungan Porserosi ( Eagle, Kairos, Ikos)sebesar 23,47% serta meningkatkan minat sebesar 28,67%. Klub sepatu roda di bawahnaungan Porserosi kota Semarang seperti Ikos, Eagle dan Kairos menjadi lebih dikenal olehmasyarakat kota Semarang, khususnya sesuai target utama yang dituju yaitu anak usia 7 – 12tahun.b. Dalam publikasi event, media flyer merupakan tools yang paling efektif digunakan, terbukti50,94% responden mengetahui acara “Fun Skat on Car Free Day” melalui brosur (flyer)yang disebar. Srategy persuasif untuk mempengaruhi audiens tidak hanya dilakukan melaluilisan, melainkan juga dengan menggunakan media promosi seperti flyer dan poster.c. Kegiatan pencarian mitra pada event Fun Skate on Car Free Day menghasilkan kesepakatandengan pihak pengurus Porserosi tentang konsep acara, sponsor pendukung acara seperti PTKAI, Suara Merdeka,Bank BRI, Telkomsel, Hotel Horison, Aguaria, Cocacola serta mediapartner surat kabar Suara Merdeka , radio Trax FM, TV Ku Semarang,dan media onlineHallo Jateng. Hubungan kerja sama antara pihak penyelenggara, klien, sponsorship danmedia pun berjalan dengan baik.d. Rangkaian event PR campaign Juara Bersama Sepatu Roda dan Fun Skate on Car Free Daytelah menghasilkan publisitas dimana berita tentang event telah dimuat di :a. surat kabar lokal Suara Merdeka, tanggal 29 Oktober 2012b. Radio TraxFM,mulai tanggal 21 – 27 Oktober 2012, dengan sehari tiga kalipemutaran.c. stasiun tv lokal di Semarang yakni TV ku , pada tanggal 2 November 2012pukul 17.00 WIBd. media online yaitui. Kabar17.com, http://kabar17.com/2012/10/mahasiswa-undip-lakukancoaching-clinic-sepatu-roda/ii. Radioidola.com , http://radioidola.com/article-3839-libatkan-atletmahasiswa-undip-gelar-coaching-clinic-sepatu-roda.htmliii. cyber news Suara Merdekahttp://www.suaramerdeka.tv/view/video/33080/bersepatu-roda-jangansekedar-hobiSarana. Media publikasi yang digunakan untuk menyebarluaskan pesan informatif ataupun persuasifdari sebuah event “lokal” sebaiknya menggunakan media yang dapat menyampaikan pesansecara langsung ke target sasaran dan memiliki sifat jangkauan sasaran yang tepat. Flyer,merupakan media yang efektif untuk disebar kepada target audiens secara langsung. Targetaudiens dapat membaca dengan rinci dan leluasa mengenai isi acara dari flyer yang disebar.b. Pemilihan venue sebuah event harus disesuaikan dengan target audiens yang dituju agarevent yang diselenggaran dapat tepat sasaran. Untuk event yang bertema olah raga di kotaSemarang, pemilihan venue di Car Free Day merupakan pilihan yang utama, karena di CFDinilah masyarakat kota Semarang mengisi Minggu pagi mereka untuk melakukan aktivitasolahraga, seperti: jogging, sepeda, senam, sepatu roda,dsb. Berbagai segmen usia,pendidikan,ekonomi berkumpul di area Car Free Day sehingga tidak sulit untuk menjangkausemua kalangan.c. Dalam penyelenggaraan sebuah event, pastikan segala macam perijinan telah terselesaikansebelum event berlangsung, agar tidak terjadi hal – hal yang tidak diinginkan.Semuaperijinan yang meliputi perijinan tempat, perijinan keamanan, perijinan sewa berbagai alatyang dibutuhkan harus dipersiapkan jauh – jauh hari sebelum event berlangsung agarpenyelenggaraan event tidak berbenturan dengan event sejenis dengan skala yang lebihbesar.d. Strategy dengan menyelenggarakan roadshow, berinteraksi secara langsung danmengadakan permainan ringan menjadi cara yang efektif dalam menarik minat anak usia 7 –12 th untuk mengikuti rangkaian kegiatan.DAFTAR PUSTAKAWebsitehttp://ponriau2012.com/index.php?option=com_content&view=article&id=200&Itemid=149 diakses pada tanggal 30 Mei 2012 pukul 21.45 WIBhttp://www.satlakprima.com/news/sepatu-roda-berpeluang-ukir-medali/)diakse pada tanggal 30 Mei 2012 pukul 22.10 WIB(http://sports.okezone.com/read/2012/04/02/43/603974/sepatu-roda-jabar-gemilang-diselandia-baru) diakses pada tanggal 30 Mei 2012 pukul 22.17 WIB(http://wsmulyana.wordpress.com/2008/12/16/69).Diakses pada tanggal 2 juni 2012 pukul 23.10 WIBBukuBelch E.George and Belch A. Michael,2001, Introduction to Advertasing and Promotionsan Interegated Marketing Communications Perspective, New Yor; : Mc Graw HillDeVito,Joseph.1997.Komunikasi Antar Manusia. Jakarta : Professional BookEffendy, Onong Uchjana. 2002, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT.Remaja Rosda KaryaLarson,Charles U.2009.Persuasion: Reception and Responsibility.California:WadsworthPublishing CompanyLerbinger,Otto.2003.Design for Persuasive Communication. Yogyakarta;Pustaka PelajarLittlejohn, Stephen W.2009.Teori Komunikasi ( Theories of Human Communication).Jakarta: Salemba HumanikaSissors, Jack Z. and Bumba, Lincoln. (1996). Advertising and Media Planning, (5th ed.).USA: Ntc Business BooksSumberlainData Statistik kota Semarang tahun 2009Data keanggotaan klub Porserosi kota Semarang 2012
Penerimaan Pemirsa Mengenai Pemberitaan Partai Nasdem di MetroTV Krisna Adhi Nugroho; Adi Nugroho; Muchammad Yulianto
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.155 KB)

Abstract

ABSTRAKSIDengan berkembangnya televisi di Indonesia, keberagaman acara di televisimenjadi ajang kesempatan bagi partai-partai politik yang ada untuk melakukanpemberitaan mengenai partainya di televisi, dan hal yang serupa juga dilakukanoleh Partai Nasdem melalui Metro Tv, Partai Nasdem mampu menyampaikaninformasi yang ada dalam partainya dalam berbagai pemberitaan-pemberitaanuntuk diberitahukan kepada masyarakat luas. Namun kegiatan di bidang mediamassa dewasa ini termasuk di Indonesia telah menjadi industri. Dengan masuknyaunsur kapital, media massa mau tak mau harus memikirkan pasar demimemperoleh keuntungan, baik dari penjualan maupun dari iklan. Dalam hal inimedia massa juga dapat mempengaruhi persepsi masyarakat tentang suatupermasalahan atau pemberitaan.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisiskeberagaman interpretasi khalayak mengenai pemberitaan seputar Partai NasDemdi MetroTV. Teori yang digunakan adalah Uses and Gratifications. Penelitian inimenggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode analisis resepsikhalayak. Peneliti menggunakan teknik wawancara mendalam terhadap pemirsayang secara aktif mengikuti berbagai segmen acara berita yang ditayangkanMetroTV. Para pemirsa kemudian dipilih berdasarkan tingkat pendidikan danjenis kelamin. Sehingga didapatkan makna yang berbeda-beda mengenaipemberitaan Partai Nasdem.Hasil dari penelitian ini menunjukkan gencarnya pemberitaan Partai Nasdemdi MetroTV mampu membentuk bahkan mengkonfigurasi resepsi Partai Nasdemdi mata khalayak. Pemberitaan tersebut mempengaruhi sebagian besar khalayakuntuk memberikan resepsi sesuai dominant-reading yang diharapkan pembuatberita, dalam hal ini adalah MetroTV. Informan menginterpretasi teks mediasesuai dengan struktur pengetahuan dan pengalaman subjektif yang berkaitandengan situasi tertentu. Dalam proses konsumsi dan produksi makna yangdilakukan oleh informan, ternyata latar belakang dan faktor pendidikan bukanmerupakan faktor penentu informan dalam mengkritisi makna dominan yangditawarkan media. Informan yang menjadi khalayak sasaran pemberitaan belumtentu terpengaruh oleh isi berita yang disajikan.Kata Kunci : MetroTV, Pemberitaan Partai NasDem, Analisis ResepsiABSTRACTWith increasingly television in Indonesia, various programs in televisionbecome opportunity arena for political parties presence in order to carried outnews about their parties in television, NasDem party could deliver informationexist within their party within various news informed to wide societies. Butactivity within this adult mass media sector already industrial in Indonesia. Byincluding capital element, mass media have think the market in order to obtainprofit, both from sale or advertisement. In this case mass media also couldinfluence society perception about such problem or news.This research aimed to describe and analyze the diversity of interpretationsof the audience on report NasDem Party on MetroTV. Theory used was Uses andGratifications. This study used a qualitative descriptive approach to audiencereception analysis method. Researcher used depth interview technique toaudience that actively participate in various program news segments whichpresent by MetroTV. Audiences, then, elected based on education level andgender. Therefore obtained difference meanings about NasDem Party news.This research result showed news unceasing of Nasdem Party on MetroTVable to formed event configurate reception of NasDem Party in public view.Those news was influence most public to giving reception due to dominantreadingwhich expected by news maker, in this case was MetroTV. Informant wasinterpreted media text due to knowledge structure and subjective experiencerelated to certain situation. Within both consumption and meaning productionprocess carried out by informant, in fact background and education factor werenot informant determinant factor to criticizes dominant meaning offered by media.Informan who became target public of news and indefinite influence by newscontent provided.Keywords: MetroTV, Nasdem Party News, Reception AnalysisPENDAHULUANRumusan MasalahPemberitaan media massa begitu cepat dengan pemberitaannya yangbegitu bebas tanpa ada pembatasan dan juga sensor semakin memberikanalternatif seseorang untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Televisidengan kemampuan untuk menyediakan informasi dalam bentuk audio-visualmenjadikannya sebagai salah satu media pilihan masyarakat untuk mendapatkaninformasi dalam rangka memenuhi kebutuhan akan informasinya. Persainganyang ketat diantara stasiun televisi yang ada juga sangat menguntungkan pemirsa.Dengan kelebihan yang dimiliki televisi, informasi-informasi yang disampaikantampak begitu nyata dengan tampilan gambar dan suaranya.MetroTV sebagai salah satu televisi swasta di Indonesia tidak berbedadengan stasiun televisi yang lain, yang berdiri untuk memenuhi kebutuhankhalayak akan informasi. MetroTV lebih mengutamakan pemberitaan yang aktualdan terkini, hal ini dapat dilihat dari kebanyakan program acara di MetroTV yanghampir semuanya tidak lepas dari berita. Beragam tayangan berita disajikan olehMetroTV, baik itu berita kebudayaan, hukum, kriminal, dan politik. Keberagamanpemberitaan politik yang dikemas dalam berbagai segmen acara di MetroTVtentunya sedikit banyak akan menimbulkan terpaan pemberitaan politik terhadapaudiensnya.Pemirsa sebagai audiens yang aktif memaknai teks berita yang disuguhkantelevisi, tentu diharapkan dapat menyadari bahwa tidak semua tayangan beritamemiliki nilai-nilai positif, namun juga disusupi oleh kepentingan-kepentinganmedia untuk mendapat perhatian pemirsa dan upaya pembentukan opini publikterhadap sebuah pemberitaan. Begitu halnya dengan pemberitaan Partai NasDemyang terlalu sering ditayangkan oleh MetroTV, karena sedikit banyak akanmenimbulkan penerimaan dari pemirsa MetroTV yang berbeda-beda. Mengamatifenomena tersebut, maka penelitian ini bermaksud untuk merumuskanpermasalahan secara garis besar, yaitu bagaimana resepsi pemirsa terhadapgencarnya pemberitaan yang dilakukan oleh MetroTV mengenai Partai NasDem?Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisisinterpretasi khalayak mengenai pemberitaan seputar Partai NasDem di MetroTV.Kerangka TeoritisState of The ArtPenelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini telah banyakdilakukan, salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Maya Monoarfapada tahun 2011 dengan judul Memahami Strategi Komunikasi Ormas NasionalDemokrat sebagai Embrio Partai Politik di Indonesia mempunyai tujuan untukmenganalisis strategi komunikasi yang digunakan ormas Nasional Demokrat,selain itu untuk menjelaskan strategi komunikasi apa saja yang diterapkan sebagaisarana bersosialisasi, memperkenalkan nama, tagline, serta lambing dari ormasNasional Demokrat. Penelitian tersebut menggunakan metode kualitatif denganmenggunakan metode studi kasus. Hasil yang diperoleh dari penelitian tersebutmenunjukkan bahwa ormas Nasional Demokrat dalam menerjemahkan sebuahgagasan dengan sebuah gerakan yang bernama Restorasi Indonesia menggunakantiga strategi komunikasi, yaitu : pendekatan tematik, mediated, dan non mediated.Analisis Resepsi KhalayakAnalisis resepsi menyatakan bahwa teks dan penerimanya adalah elemenyang saling melengkapi dalam aspek-aspek komunikasi. Dengan kata lain, analisisresepsi mengasumsikan bahwa tidak akan ada akibat (effect) tanpa makna(meaning) (Jensen, 2002: 135). Pada akhirnya, masyarakat ingin mengetahuibagaimana efek media massa dan analisis resepsi dapat menjawab pertanyaantersebut. Wacana media terbuka atau bersifat polisemis dan dapat diposisikan olehkhalayak yang merupakan agen budaya yang berkuasa.Yang menarik menurut Hoijer dalam Hagen dan Wasko (2000: 200&202),tidak satupun pemirsa mempertanyakan realitas dari berita. Pemirsa dapatbersikap kritis dan menganggap berita sebagai bias, tetapi tidak ada keraguanbahwa berita dianggap representasi dari realitas. Menariknya lagi, status realitasgenre tampaknya meningkatkan daya emosionalnya. Penelitian resepsi secaralebih lanjut menunjukkan bahwa pemirsa juga menjadi terlibat secara emosionaldalam berita. Bahkan, dalam penelitian survei representatif, mayoritas penonton(57%) menyatakan bahwa mereka biasanya menjadi sangat menaruh perhatianketika menonton berita.Khalayak dianggap aktif dalam menginterpretasikan isi media, dalam halini berita. Terdapat beberapa tipe dari khalayak aktif, antara lain : 1) Selektifitas,khalayak aktif dianggap selektif dalam proses konsumsi media yang mereka pilih.Konsumsi media khalayak aktif didasari alasan dan tujuan tertentu. 2)Utilitarianisme, di mana khalayak aktif mengkonsumi media dalam rangkamemenuhi kebutuhan dan tujuan tertentu yang mereka miliki. 3) Intensionalitas,yaitu penggunaan secara sengaja dari isi media. 4) Keikutsertaan, hal ini berartikhalayak secara aktif berpikir mengenai alasan mereka dalam mengkonsumsimedia. 5) Khalayak aktif dipercaya sebagai komunitas yang tahan dalammenghadapi pengaruh media dan tidak mudah dibujuk oleh media itu sendiri. 6)Khalayak yang terdidik, khalayak dianggap lebih bisa memilih media yangmereka konsumsi sesuai kebutuhan dibandingkan dengan khalayak yang tidakterdidik (Junaedi, 2007:82-83).Sebagai khalayak aktif, pemirsa televisi dalam menerima danmenginterpretasikan tayangan televisi menggunakan filter personalnya masingmasingdan tidak selalu sesuai dengan kemauan produsen. Begitu pula halnya saatpemirsa menonton tayangan pemberitan mengenai Partai Nasdem di MetroTv. Disatu sisi, media ingin menyampaikan pesan bahwa keterbukaan komunikasimengenai apa itu Partai Nasdem dan apa tujuan utama dengan dibentuknya PartaiNasdem, serta ingin menunjukkan model positif bagaimana berpolitik yang baiksesuai dengan arah Partai Nasdem. Namun, di sisi lain khalayak dapat menerimapesan tersebut dengan cara yang berbeda. Khalayak dengan frame of referencetertentu akan menganggap tayangan tersebut sekedar pencitraan Partai terhadappublik.Untuk mengetahui bagaimana penerimaan khalayak dapat berbeda-beda,dalam studi resepsi terdapat metode „encoding-decoding‟ milik Hall. Hallmenyebutkan bahwa teks berada di antara produsernya, yang menyusun maknadengan cara tertentu, dan khalayaknya, yang „men-decode‟ makna tersebutberdasarkan pada situasi sosial dan kerangka interpretasi yang berbeda. Transmisikomunikasi digambarkan sebagai sebuah loop yang meliputi rangkaian produksi,sirkulasi, distribusi/konsumsi, dan reproduksi (Hall, 1980 dalam O‟Shea, 2004:10).Hall menyebutkan, pesan yang komunikatif dibuat oleh pengirim danditafsirkan oleh penerima. Masalah timbul ketika ada ketidakcocokan antara kodeyang digunakan encoder dan decoder. Pesan-pesan media memikul berbagaimakna dan dapat diinterpretasikan dengan cara yang berbeda. Teks akandistrukturkan dalam dominasi yang mengarah kepada makna yang dikehendaki,yaitu makna yang dikehendaki teks dari kita. Khalayak dikondisikan sebagaiindividu yang secara sosial akan dikerangkakan oleh makna budaya dan praktikyang dimiliki bersama. Sejauh khalayak berbagi kode budaya dengan produsenatau pengode, mereka akan mengkode pesan di dalam kerangka kerja yang sama.Namun, ketika khalayak ditempatkan pada posisi sosial yang berbeda (misalkelas, usia, pengetahuan) dengan sumber daya budaya yang berbeda, dia mampumengkode program dengan cara alternatif. Hall juga menghipotesis bahwa adatiga posisi potensial decoding, antara lain :a) Dominan-hegemonik, yaitu ketika pemirsa mencode dan menerima maknayang dikehendaki. Karena posisi decoder dekat dengan encoder, makadecoder akan mengiterpretasi dengan bingkai kode dominan.b) Negosiasi, yaitu ketika decoder menerima beberapa aspek maknadominan, tapi menolak dan mengubah makna lainnya, untukmenyesuaikannya dengan pengertian dan tujuan sendiri.c) Oposisional, yaitu ketika posisi decoder berlawanan dengan encoder,mereka menciptakan cerita versi mereka sendiri dengan perhatian yangberbeda. Jadi decoder memaknai teks berlawanan dengan makna dominandari sudut pandang oposisional (Hall, 1980: 174-175).Gagasan Hall tersebut membuktikan adanya kesadaran untuk memikirkan teoriideologi dan kesadaran palsu. Dengan gagasan ini mereka diarahkan untukmeneliti potensi dari „differential decoding‟ yang menunjukkan adanyaperlawanan terhadap pesan media dominan. Selain itu, dapat dilihat bahwa mediamempunyai peran dalam mentransmisikan pesan-pesan dalam tayangan yangbergenre hiburan. Bagaimana masyarakat memaknai tayangan tersebut tentunyaakan beragam sesuai dengan latar belakang pengetahuan dan pengalamannya.Begitu pula tayangan pemberitan mengenai Partai Nasdem di MetroTv yangmungkin dimaknai secara berbeda-beda oleh individu yang berbeda.Berita Sebagai RealitasKehadiran program siaran berita yang dikemas dalam paket informasi olehtelevisi swasta memiliki banyak keunggulan dibanding media cetak. Beritatelevisi otomatis lebih cepat. Keistimewaannya lagi adalah gambar lebih hidupdengan dukungan suara yang persuasif dari para reporter televisi. Stasiun televisiswasta pantas bangga karena menyiarkan berbagai peristiwa secara audio danvisual.Selisih waktu yang hanya beberapa jam antara peristiwa dan penayangansudah cukup menjadikan kekuatan televisi swasta tak tertandingi media cetak.Tayangan televisi jelas lebih hidup, karena sifatnnya yang audio visual. Pemirsatidak perlu lagi bergantung pada wartawan Koran. Paket informasi berita televisimampu menjangkau banyak pemirsa bukan hanya karena kemampuanteknologinya saja, tetapi juga karena dalam menonton televisi pemirsa takmemerlukan keahlian apa-apa. Artinya mereka yang buta huruf pun dapatmengkonsumsi tayangan program televisi (Kuswandi, 2008:101-102).Birgitta Hoijer (Hagen dan Wasko, 2000:21) melaporkan dari beberapastudi tentang konsumsi audiens, tiga genre populer di televisi : berita, fiksi sosialrealitas,dan opera sabun prime-time. Hoijer menjelaskan bagaimana narasi tidakhanya dapat ditemukan dalam teks, tetapi adalah bentuk umum pengorganisasianpengalaman dalam pikiran. Dia menggambarkan bagaimana harapan penontonfiksi berbeda dari harapan mereka terhadap berita.Pemirsa berita televisi menginginkan prinsip berita harus singkat, jelas,sistematis, dan berpijak pada budaya tutur (story telling). Penyebaran beritasebagai salah satu bentuk industri informasi menyebabkan pemirsa televisi dapatmemperoleh berita tanpa harus membeli, seperti halnya media cetak.Dalam membuat berita, reporter harus mampu membedakan antarakejadian (fact) dan pendapat (opinion), agar penyiaran berita menjadi lebihobjektif. Kekhawatiran terjadinya subjektifitas antara kejadian (fact) dan pendapat(opinion) dalam berita yang dibuat reporter, bias mengakibatkan rusaknya proseskomunikasi sosial. Reporter dilarang memasukkan opini dalam membuat berita,agar tidak terjadi bias bagi audiens dalam menerima informasi atau berita. Sistempers Indonesia yang bebas dan bertanggung jawab bermakna bahwa arti bebasialah, berita reporter tidak „disusupi‟ unsure kepentingan golongan atau pribadidan institusi tertentu. Dalam hal ini, reporter bukan hanya sebagai sosok penyebarinformasi, tetapi sekaligus „penyaring‟ berita-berita yang layak terbit atau tidak.Sedangkan bertanggung jawab mengandung sisi etika sosial. Hal ini secaraetis menentukan posisi reporter untuk memahami dan menyadari bahwa hasilkaryanya (berita) mempunyai efek sosial. Dalam membuat berita, reporter dituntutobjektif. Tetapi karena sulitnya masalah objektivitas berita, pada akhirnya beritayang dibuat, bersifat „ganda‟ (objektivitas yang subjektif). Ini disebabkan reportertidak bisa menghindari unsur-unsur opini dalam membuat berita. Landasanobjektivitas dalam membuat berita, berhubungan erat dengan konsep etika, yaituselalu melihat tindakan manusia yang dibenarkan secara moral (Kuswandi,2008:84-86).Wartawan kenamaan Peter Arnett menegaskan bahwa pada dasarnyapenyajian berita dan penjelasan masalah aktual tidak lain adalah “…just to presentthe fact and opinion…!” reporter tidak boleh memasukkan opininya kedalam faktayang disusunnya (Kuswandi, 2008:98).Berita televisi adalah genre nonfiksi lain yang bersifat jelas tetapi genre iniakan tampak lebih fiktif ketika kita secara cermat menyelidikinya. Tokoh-tokohminor dalam program berita ini adalah reporter, subjek bintang dari peristiwaperistiwadunia, pakar, dan saksi mata. Alur kisah utama program berita inimemiliki fluktuasi drama seperti halnya kisah yang lain. Kisah-kisah individualdidramatisasi pada tingkat tertentu, memiliki pelbagai kualitas konflik dan akhiryang menggantung sehingga kita menonton episode berikutnya untuk melihatsiapa yang akan menang. Situasi-situasi minor ada karena program berita tersebutmemiliki pelbagai konvensi dan presentasi seperti halnya genre yang lain.Konvensi-konvensi ini berfungsi sebagai nilai-nilai berita (Burton, 2008:112).PenutupKesimpulanBerdasarkan pada penelitian yang dilakukan terhadap informan dapatditarik beberapa kesimpulan :1. Pada penelitian ini, terdapat tiga tipe pemaknaan oleh informan. Pertama,informan membaca dan memaknai pemberitaan Partai NasDemberdasarkan makna dominan yang ditawarkan. Mereka tidak melakukankritisi terhadap tayangan dan menerima teks apa adanya (tipe dominanthegemonic).Informan memaknai Partai NasDem sebagai sebuah partaialternative yang sangat cocok bagi pemilu 2014 ditengah berkurangnyakepercayaan khalayak dengan situasi politik dan partai politik yang ada diIndonesia sekarang ini. Kedua, informan melakukan tipe pembacaan yangbersifat negosiatif (negotiated reading). Meski mengkonstruksi PartaiNasdem sesuai dengan konsep pemberitaan, informan juga menciptakanalternatif makna baru berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yangmereka miliki. Ketiga, informan melakukan pembacaan secara berlawanan(oppositional reading). Informan ini bersikap lebih kritis dan tidakmenerima konstruksi Partai Nasdem sesuai dengan yang diberitakan.Informan dalam tipe ini tidak mempercayai apa yang digambarkanpemberitaan karena tidak sesuai dengan kenyataan.2. Gencarnya Pemberitaan Partai NasDem di MetroTV mampu membentukbahkan mengkonfigurasi resepsi Partai NasDem di mata khalayak.Pemberitaan tersebut mempengaruhi sebagian besar khalayak untukmemberikan resepsi sesuai dominant-reading yang diharapkan pembuatberita, dalam hal ini adalah MetroTV.3. Informan menginterpretasi teks media sesuai dengan struktur pengetahuandan pengalaman subjektif yang berkaitan dengan situasi tertentu. Dalamproses konsumsi dan produksi makna yang dilakukan oleh informan,ternyata latar belakang dan faktor pendidikan bukan merupakan factorpenentu informan dalam mengkritisi makna dominan yang ditawarkanmedia. Informan yang menjadi khalayak sasaran pemberitaan belum tentuterpengaruh oleh isi berita yang disajikan.4. Penelitian menganjurkan bahwa teks media yang sama tidak mutlak akandimaknai secara sama oleh individu dari status sosial yang sama. Tingkatpendidikan dan kondisi sosial yang sama masing memungkinkanterjadinya perbedaan pemaknaan. Maka dapat dikatakan bahwa latarbelakang yang paling menentukan sikap informan dalam memaknai teksmedia adalah faktor psikologis yang berupa selera dan kebiasaanmenonton televisi atau media yang lain.SaranPemberitaan di media merupakan salah satu cara efektif untukmendapatkan perhatian dari khalayak luas. Pemberitaan politik, memainkanperanan strategis dalam political marketing. Berikut ini peneliti ingin memberikanbeberapa saran yaitu :1. Khalayak dalam membaca pemberitaan partai politik, harusmengkaitkannya dengan konteks yang ada saat ini, track record dan latarbelakang partai, terbentuknya partai, serta tokoh yang berada di dalamnyaserta informasi terkait lainnya. Selain itu audience hendaknya mencariinformasi tentang partai politik yang bersangkutan tidak hanya di satumedia saja, tetapi bisa mencari di media yang netral sehingga audiencetidak terjebak dalam pemberitaannya.2. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan, acuan, dan pengetahuantambahan bagi khalayak media, sehingga di masa mendatang masyarakatdapat turut serta mengawasi isi media dan lebih kritis terhadappemberitaan media demi kemajuan di bidang komunikasi massa sertamenjadi kontribusi bagi partai politik dalam memberikan danmengarahkan pendidikan politik khalayak.Daftar PustakaReferensi BukuBaran, Stanley J. & Dennis K. Davis. (2000). Mass Communication Theory.Belmont: WadsworthBungin, Burhan. (2008). Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: RajaGrafindoPersadaBurton, Graeme. (2007). Membincangkan Televisi: Sebuah Pengantar KepadaKajian Televisi. Yogyakarta: JalasutraBurton, Graeme. (2008). Yang Tersembunyi Di Balik Media; Pengantar KepadaKajian Media. Yogyakarta: JalasutraCangara, Hafied. (2007). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Raja GrafindoPersadaDowning, John,Ali Mohammadi, Annabelle Sreberny-Mohammadi. (1990).Questioning The Media: A Critical Introduction. California: SAGEPublication.Gordon, A. David. (1999). Controversies in Media Ethics. Addison-WesleyLongman Educational Pub;ishers IncHagen, Ingunn & Janet Wasko. (2000). Consuming Audience? Production andReception In Media Research. New Jersey: Hampton Press, Inc\Hall, Stuart. (1980). “Encoding Decoding”. Stuart Hall, Dorothy Hobson, AndrewLowe, and Paul Willis (eds). Culture, Media, Language. London:Hutchinson.Hamad, Ibnu. (2004). Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa. Jakarta:GranitHaryatmoko. (2007). Etika Komunikasi. Yogyakarta: KanisiusHill, Annette. (2005). Reality TV Audiences and Popular Factual Television.London and New York: Routledge.Jensen, Klaus Bruhn. (2002). “Media Audiences Reception Analysis: MassCommunication as The Social Production of Meaning”. Klaus BruhJensen and Nicholas W. Jnkowski. A Handbook of Qualitative Methodologies forMass Communication Research. USA: Routledge.Junaedi, Fajar. (2007). Komunikasi Massa Pengantar Teoretis. Yogyakarta:Santusa.Kuswandi, Wawan. (2008). Komunikasi Massa : Analisis Interaktif BudayaMassa. Jakarta: Rineka CiptaLittlejohn, Stephen W. (2008). Theories of Human Communication. California:Thomson WadsworthLivingstone, Sonia. (1998). Making Sense of Television: The Psychology ofAudience Interpretation. London: RoutledgeMcQuail, Denis. (1987). Teori Komunikasi Massa, Agus Dharma (terj.). Jakarta:Erlangga.McQuail, Denis. (1996). Teori Komunikasi Massa. Jakarta: ErlanggaMulyana, Deddy. (2008). Komunikasi Massa: Kontroversi, Teori, dan Aplikasi.Bandung; Widya PadjajaranNimmo, Dan. (2005). Komunikasi Politik. Bandung: Rosda KaryaPawito. (2008). Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta: LkiSRakhmat, Jalaluddin. (2007). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT RemajaRosdakaryaStrauss, A.L & Corbin, J. (1998). Basics of qualitative research: techniques andprocedures for developing grounded theory. Thousand Oaks, CA: SageSukmadinata, Nana Syaodih. (2009). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:Remaja Rosdakarya.Warren, Samuel D and Louis D. Brandeis. (1980). The Right To Privacy. BostonWinarni. (2003). Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Malang: UMM Press.Wright C.R. (1985). Sosiologi Komunikasi Massa. Bandung: CV. PenerbitRemadja KaryaReferensi JurnalAfdjani Hadiono & Soemirat Soleh. (2010). Makna Iklan Televisi (StudiFenomenologi Pemirsa Di Jakarta Terhadap iklan Televisi Minuman“KUKU BIMA ENERGI” VERSI KOLAM SUSU ). Bandung: UniversitasPadjajaranAgus Setianto, Widodo. (2012) Penerimaan Khalayak Terhadap Berita-BeritaPolitik di Internet. Yogyakarta: Universitas Gajah MadaMichelle, Carolyn. (2009). Recontextualising Audience Receptions of Reality TV.Participations Journal of Audience & Reception Studies. New Zealand: Universityof Waikato.O‟Shea, Catherine Mary. (2004). Making Meaning, Making A Home: StudentsWatching Generations. Rhodes UniversityReferensi Internet:Priyatna, Adri. (2012). Berita dan Konstruksi Realitas.http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2012/04/18/berita-dankonstruksi-realitas. Diakses 5 Mei 2012Gustia, Firdha Yuni. (2011). Konstruksi Harian Media Indonesia terhadap PartaiGolkar dalam Berita Hak Angket Kasus Mafia Pajak.http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26233/6/Cover.pdf.Diakses 5 Mei 2012Anonim. (2012). Surya Paloh : Saatnya Kader NasDem Bersikap Tegas.http://www.metrotvnews.com/mobilesite/read/newsvideo/2012/02/26/146084/Surya-Paloh-Saatnya-Kader-Nasdem-Bersikap-Tegas. Diakses 6 Mei 2012Ramli, Gusti. (2011). Berdirinya Partai Nasional Demokrat.http://politik.kompasiana.com/2011/03/28/berdirinya-partai-nasionaldemokrat-351150.html. Diakses 2 April 2013Tampubolon, Jimmy. (2010). Deklarasi Nasional Demokrat.http://r-panuturi.blogspot.com/2010/02/deklarasi-nasional-demokrat.htmlDiakses 2 April 2012
Hubungan Intensitas Mahasiswa Mengakses Materi Perkuliahan Melalui Internet dengan Minat Mencari Materi Perkuliahan di Perpustakaan Kurniawati, Yuni Ningsih; Widagdo, S. Sos, M.I.Kom, Muchammad Bayu
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (39.651 KB)

Abstract

BAB IPENDAHULUANA. LATAR BELAKANGMedia mempengaruhi kebutuhan mahasiswa akan mencari materi perkuliahan yang semakin tinggi. Mahasiswa membutuhkan materi untuk menambah pengetahuan, maupun sebagai alat untuk bisa mencari bahan ujian dan tugas. Kebutuhan akan materi perkuliahan ini diakomodir oleh keberadaan media massa yang berlomba-lomba untuk menyajikan materi atau bahan secara mendalam dan berusaha untuk menjadi penyedia materi atau bahan yang paling akurat.Sebagai salah satu penyedia materi perkuliahan atau bahan perkuliahan, perpustakaan memiliki keunggulan dibanding lainnya. Namun ditengah perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat, fungsi sederhana perpustakaan yang merupakan tempat penyedia materi perkuliahan semakin ditantang untuk menarik minat pengunjungnya. Dengan serbuan media massa yang mengandalkan kecepatan dalam menyediakan materi perkuliahan, mencari materi atau bahan di perpustakaan jelas berada satu langkah dibelakang media massa – media massa tersebut.Di tengah arus kecepatan dalam menyediakan materi perkuliahan, perpustakaan memang mendapatkan tantangan dari media massa baru yang kini semakin berkembang yaitu internet. Internet telah menjadi unsur yang merubah wajah media massa di era informasi seperti saat ini. Jumlah pengguna Internet yang besar dan semakin berkembang, telah mewujudkan budaya Internet. Dalam ilmu komunikasi, Internet dikategorikan sebagai “new media”. “Istilah “media baru” mulai dikenal pada pertengahan 1990an, merebut tempat “multimedia”di bidang bisnis dan seni.Internet juga mempunyai pengaruh yang besar atas ilmu, dan pandangan dunia. Dengan hanya berpandukan mesin pencari seperti Google, pengguna di seluruh dunia mempunyai akses Internet yang mudah atas bermacam-macam informasi. Dibanding dengan buku dan perpustakaan, Internet melambangkan penyebaran (decentralization) / pengetahuan (knowledge) informasi dan data secara ekstrem.Kemudahan akses Internet inilah yang kemudian menghadirkan banyak sekali situs-situs yang menyediakan materi-materi perkuliahan di internet. Situs tersebut dapat dengan mudah dan cepat diakses oleh pengguna internet. Mahasiswa yang membutuhkan materi perkuliahan dengan cepat, membuka peluang bagi situs tersebut sebagai media pilihan akan hal itu. Sebagian besar dari situs tersebut merupakan teks yang berbentuk media digital dan kadang-kadang dilindungi dengan hak cipta digital, yang dapat diunduh secara gratis. Denganhadirnya situs-situs tersebut ini para pembaca dimudahkan untuk tidak menyimpan buku-buku favoritnya dalam bentuk fisik, sehingga menjadikan internet sebagai jalan pintas bagi para mahasiswa untuk mencari materi perkuliahan dan mencari ilmu di internet.B. PERUMUSAN MASALAHSetiap perkembangan teknologi biasanya menimbulkan dampak bagi teknologi sebelumnya. Dalam hal ini adalah buku yang ada di perpustakaan sebagai materi. Buku-buku yang terdapat di perpustakaan merupakan salah satu wujud ilmu pengetahuan, karena dapat diakses oleh kalangan mahasiswa. Tempat yang nyaman dan mudah dijangkau, membuat perpustakaan mampu menggaet pengunjung dari mahasiswa tingkat bawah hingga mahasiswa tingkat akhir.Dalam hal kecepatan menyediakan materi perkuliahan, perpustakaan memang bisa dibilang tertinggal oleh teknologi modern yang bermunculan, namun apakah munculnya situs-situs yang menyediakan materi perkuliahan dan kemudahannya dalam mengakses melalui internet, mempengaruhi turunnya minat mahasiswa dalam mencari materi perkuliahan di perpustakaan?Melalui berbagai uraian di atas, menarik untuk diteliti, bagaimanakah hubungan intensitas mahasiswa mengakses materi perkuliahan melalui internet dengan minat mencari materi perkuliahan di perpustakaan.C. TUJUAN PENELITIANPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas mengakses materi perkuliahan melalui layanan di internet dengan minat mencari materi perkuliahan di perpustakaan.D. KERANGKA TEORINew Media atau media baru tengah menjadi fenomena yang hangat dalam dunia komunikasi. Kehadiran media baru ini ditengarai akibat dari perkembangan teknologi yang sangat pesat, di mana secara perlahan mulai menggeser peran dominan dari media konvensional atau tradisional sebagai salah satu saluran komunikasi. “Bahwa studi media baru telah mendapatkan tempat sebagai cabang dari teori komunikasi juga bersandar pada klaim bahwa lingkungan media tradisional telah ditantang tidak hanya dengan inovasiteknologi, tapi pada tingkat ekologis, terdiri dari substansial, perubahan kualitatif daripada perkembangan tambahan untuk lingkungan media.” (Littlejohn & Foss, 2009: 684).Internet berkembang pesat mulai tahun 1990an di Amerika. “Kendati dalam beberapa hal internet mirip dengan medium massa tradisional yang mengirim pesan dari titik transmisi sentral, tetapi Internet lebih dari itu. Perbedaan signifikan lain dari media massa adalah Internet bersifat interaktif. Internet punya kapasitas untuk memampukan orang berkomunikasi, bukan sekedar menerima pesan belaka, dan mereka bisa melakukannya secara real time.” (Vivian, 2008: 263).Intensitas mengakses materi perkuliahan didefinisikan sebagai kegiatan berulang-ulang dengan keadaan dan frekuensi yang semakin lama semakin meningkat untuk memperoleh materi dalam bentuk digital melalui media Internet. Banyak media massa yang kita kenal sekarang sedang mengalami konvergensi ke format digital. “Konvergensi teknologi ini dipicu oleh percepatan miniaturisasi peralatan canggih dan kemampuan untuk mengompres data menjadi bit digital yang kecil sehingga mudah disimpan dan ditransmisikan. Dan perusahaan-perusahaan media, baik yang produknya didasarkan pada teknologi cetak, elektronik, atau fotografis, semuanya terlibat dalam konvergensi ini.” (Vivian, 2008: 279)Minat merupakan sebuah hubungan antara seseorang dengan sebuah obyek yang melibatkan unsur perasaan terhubung antara seseorang tersebut dengan obyeknya, memiliki perasaan positif terhadap obyek, tumbuhnya keinginan untuk mengetahui obyek lebih lanjut, berusaha menyelidiki dan terlibat dengan objek, dan memiliki keputusan untuk memelihara hubungan tersebut. (Schutz and Pekrun, 2007 : 152)Perpustakaan dan bahan bacaan adalah dua kata yang saling bertautan. Karena di perpustakaanlah bahan pustaka dikumpulkan, diproses, dan disebarluaskan dan didistribusikan kepada para pembaca/pemakai perpustakaan . (Sumpeno, 1994: 8)Pengertian minat mencari materi di perpustakaan dapat didefinisikan sebagai keadaan seseorang dimana kondisi mental terfokus, dimana kondisi ini melibatkan beberapa faktor yaitu, keterpusatan atensi atau perhatian, meningkatnya fungsi kognitif dalam diri, ketekunan dan keterlibatan faktor afeksi, sehingga ia memiliki keinginan dan ketertarikan tertentu untuk melakukan kegiatan membaca dan memperoleh materi dari perpustakaan.Keaktifan seseorang dalam memilih media massa yang digunakan, dijelaskan pada unsur-unsur teori Uses and Gratification yang diungkapkan oleh Katz, Blumler, dan Gurevitch (1968:22-23, dalam Severin and Tankard, 2008:356), menyatakan bahwa :1. Audiens dipandang bersikap aktif, hal ini bermaksud bahwa peranan penting media massa bagi seseorang diorientasikan pada tujuannya.2. Tingkat kepuasan dan pemilihan media yang digunakan ditentukan oleh audiens sendiri3. Media bersaing dengan media-media lain dalam memenuhi kebutuhan.E. HIPOTESIS PENELITIANBerdasarkan penjelasan dari gambaran geometri, hipotesis pada penelitian ini adalah terdapat hubungan negatif antara intensitas mengakses materi perkuliahan melalui internet dengan minat mencari materi perkuliahan di perpustakaan. Hal ini berarti, bahwa semakin tinggi intensitas mengakses materi perkuliahan melalui internet, maka semakin rendah minat mencari materi perkuliahan dari perpustakaan.F. METODOLOGI PENELITIAN1. Tipe PenelitianPenelitian ini menggunakan jenis penelitian eksplanatif, karena riset akan menghubungkan atau mencari sebab akibat antara dua atau lebih konsep (variabel) yang akan diteliti. (Kriyantono, 2007: 69)2. Populasia. PopulasiPopulasi dari penelitian ini adalah pengakses materi perkuliahan melalui internet.3. Teknik Pengambilan SampelDalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik quota sampling. Teknik sampel ini adalah bentuk dari sampel distratifikasikan secara proposional, namun tidak dipilih secara acak melainkan secara kebetulan saja..5. Alat dan Teknik Pengumpulan Dataa. Alat Pengumpulan DataAlat pengumpulan data dengan metode kuesioner, yaitu kumpulan daftar pertanyaan yang disusun secara sistematis dan berisi alternatif jawaban terstruktur. (Kriyantono. 2007: 93).6. Teknik Pengolahan Dataa. EditingKegiatan memeriksa atau memilih kembali jawaban responden. Pada tahap ini dilakukan pengecekan jawaban responden atas daftar pertanyaan untuk menghindari adanya kekeliruan, ketidaklengkapan, kepalsuan dan ketidaksesuaian.b. KodingMemberikan penilaian untuk jawaban yang sesuai dengan hipotesis. Jika mendukung diberikan skor yang tinggi dan sebaliknya.c. TabulasiMembuat tabulasi termasuk dalam kerja memproses data. Membuat tabulasi tidak lain adalah memasukkan data ke dalam tabel-tabel, dan mengatur angka-angka sehingga dapat dihitung jumlah kasus dalam berbagai kategoriBAB IIGAMBARAN UMUMDESKRIPSI TENTANG INTERNET, DAN PERPUSTAKAANI. INTERNETSecara harfiah, Internet (kependekan dari interconnection-networking) ialah sistem global dari seluruh jaringan komputer yang saling terhubung menggunakan standar Internet Protocol Suite (TCP/IP) untuk melayani miliaran pengguna di seluruh dunia. Saat ini Internet berkembang pesat, tidak hanya digunakan untuk keperluan militer dan keperluan universitas namun hampir seluruh keperluan penyebaran informasi bisa melalui Internet. Internet seolah-olah mampu menyatukan dunia yang terpisah jarak dan waktu. Melalui Internet segala bentuk informasi dapat dicari dan ditemukan dengan mudah, tidak ada lagi batasan jarak dan waktu.II. PERPUSTAKAANPerpustakaan merupakan upaya untuk memelihara dan meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses belajar-mengajar. Perpustakaan yang terorganisasi secara baik dan sisitematis, secara langsung atau pun tidak langsung dapat memberikan kemudahan bagi proses belajar mengajar di institusi tempat perpustakaan tersebut berada. Hal ini, terkait dengan kemajuan dibidang pendidikan dan dengan adanya perbaikan metode belajar-mengajar yang dirasakan tidak bisa dipisahkan dari masalah penyediaan fasilitas dan sarana pendidikan. (Sinaga, 2007:15)Tujuan dari perpustakaan adalah untuk membantu masyarakat dalam segala umur dengan memberikan kesempatan dengan dorongan melalui jasa pelayanan perpustakaan agar mereka dapat mendidik dirinya sendiri secara berkesinambungan, tanggap dalam kemajuan pada berbagai ilmu pengetahuan, kehidupan social dan politik. Ada juga agar masyarakat mau mengembangkan kemampuan berpikir kreatif, dan dapat menggunakan waktu senggang dengan baik yang bermanfaat bagi kehidupan pribadi dan social.BAB IIITEMUAN PENELITIAN TENTANG HUBUNGAN INTENSITAS MAHASISWA MENGAKSES MATERI PERKULIAHAN MELALUI LAYANAN INTERNET DENGAN MINAT MENCARI MATERI PERKULIAHAN DI PERPUSTAKAANUntuk mengetahui bagaimana ‘hubungan intensitas mahasiswa mengakses materi perkuliahan melalui layanan internet dengan minat mencari materi perkuliahan di perpustakaan’ dapat digambarkan dalam tabulasi silang berikut ini.HubunganIntensitasMahasiswaMengaksesMateriPerkuliahanMelaluiLayanan Internet DenganMinatMencariMateriPerkuliahan di PerpustakaanHubunganintensitasmahasiswamengaksesmateripekuliahanmelaluilayanan internetMinatmencarimateriperkuliahan di perpustakaanTOTALTINGGISEDANGRENDAHTINGGI( 2 )16,7 %( 3 )25 %( 7 )58,3 %( 12 )100%SEDANG( 1 )7,7 %( 4 )30,8 %( 8 )61,5 %( 13 )100 %RENDAH( 0 )0 %( 2 )40 %( 3 )60 %( 5 )100%30PembahasanDari hasil pengujian pada tabel silang antara variabel intensitas mencari materi perkuliahan melalui layanan internet dengan minat mencari materi perkuliahan di perpustakaan menunjukkan tidak adanya keterkaitan hubungan antar kedua variabel tersebut karena tidak diketemukannya hubungan positif ataupun hubungan negatif antar variabel tersebut. Artinya bahwa minat mencari materi perkuliahan di perpustakaan seseorang tidak dipengaruhi dari tinggi rendahnya intensitas mencari materi perkuliahan melalui layanan internet. Atau dengankata lain dalam analisis tersebut menunjukkan bahwa hasil dari penelitian terjadi penyimpangan dari hipotesis awal. Terlihat dari tanggapan responden yang menyatakan bahwa rendahnya intensitas mencari materi perkuliahan melalui layanan internet menunjukkan hubungan rendah pula pada minat mencari materi perkuliahan di perpustakaan, bahkan minat mencari materi perkuliahan di perpustakaan terhitung rendah disaat intensitas mencari materi perkuliahan melalui layanan internet tinggi. Ada pula tanggapan responden yang menyatakan dengan intensitas mencari materi perkuliahan melalui layanan internet yang sedang, maka minat mencari materi perkuliahan di perpustakaan juga rendah dengan persentase 61,5 %. Sehingga dari temuan ini dapat disimpulkan bahwa bagaimanapun intensitas mencari materi perkuliahan melalui layanan internet, minat mencari materi perkuliahan di perpustakaan tetap rendah bagi responden.BAB IVPENUTUPPerkembangan teknologi Internet yang sangat pesat memunculkan digitalisasi media. Dari hasil penelitian, hipotesis ini tidak terbukti. Tidak terdapat hubungan positif maupun hubungan negatif antara varibel (X) Intensitas mahasiswa mengakses materi perkuliahan melalui layanan internet dengan variabel (Y) minat mencari materi perkuliahan di perpustakaan.IV.1 KesimpulanBerdasarkan hasil analisis jawaban responden pada kuesioner yang telah dibagikan sebelumnya untuk kemudian diolah melalui tabulasi silang, maka dapat ditarik kesimpulan dari penelitian ini sebagai berikut :1.Berdasar tabel silang, tidak ditemukannya hubungan antara intensitas mengakses materi perkuliahan melalui layanan internet (X) dengan minat mencari materi perkuliahan di perpustakaan (Y) pada penelitian ini.2.Dari penelitian didapatkan bahwa minat mahasiswa dalam mencari materi perkuliahan di perpustakaan tergolo3.Dari penelitian ini juga didapatkan bahwa intensitas mahasiswa dalam mengakses materi perkuliahan melalui layanan internet dalam kategori sedang – tinggi. Hal tersebut diindikasikan dengan banyaknya jawaban responden yang lebih mengerti materi perkuliahan yang diakses dengan baik dibandingkan dengan yang terdapat di perpustakaan.IV.2 Saran1.Dari hasil penelitian, sebanyak 60% responden mempunyai minat mencari materi perkuliahan di perpustakaan yang rendah sehingga ada baiknya bagi pengelola perpustakaan, untuk lebih mengedepankan dan meningkatakan kualitas, dengan cara meningkatkan kegiatan sosialisasi mengenai program-program baru yang lebih variatif.2.Berdasarkan hasil dari penelitian ini, peneliti menyarankan agar diadakan penelitian lanjutan terhadap perkembangan situs-situs yang memuat materi perkuliahan dan penggunaannya.DAFTAR PUSTAKALittlejohn, Stephen W and Foss, Karen A. 2009. Encyclopedia of COMMUNICATION THEORY. Los Angeles: SAGE.Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa edisi kedelapan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.Schutz, Paul A. And Reinhard Pekrun. 2007. Emotion in Education. Oxford: Elsevier IncSeverin, Werner J. And James W. Tankard, Jr. 2008. Teori Komunikasi: Sejarah, Metode & Terapan di Dalam Media Massa. Jakarta: KencanaKriyantono, Rachmat. 2007. Teknis Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana.Sumpeno, Wahyudin. 1994. Perpustakaan Mesjid. Bandung: PT. Remaja RosdakaryaSinaga, Dian. 2007. Mengelola Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Kreasi Media Utama
PERLAWANAN TERHADAP BUDAYA DOMINAN DALAM LIRIK LAGU-LAGU EFEK RUMAH KACA (Analisis Semiotika) Khumaedi, Fariza; Lukmantoro, Triyono; Nugroho, Adi
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.506 KB)

Abstract

ABSTRAKSI PERLAWANAN TERHADAP BUDAYA DOMINAN DALAM LIRIK LAGU-LAGUEFEK RUMAH KACA (Analisis Semiotika)Nama : Fariza KhumaediNim: D2C606016Efek Rumah Kaca which consists of Cholil Mahmud as a vocalist and guitarist, AkbarBagus Sudibyo as a drummer, and a bassist Adrian Yunan Faisal as a band called by some mediaas the savior band music of Indonesia. At the moment all the bands in the mainstream talk aboutinfidelity and heartbreak, Efek Rumah Kaca provide refreshment and get closer the audiencewith themes of social reality which contains elements of resistance, where we are invited toappreciate the environment, balance, thinking about the social phenomenon, and open your heartto see oppression of the rulers.This research aimed to analyze the symbols and ideologies that reflect the resistance ofthe dominant culture in the lyrics of Efek Rumah Kaca’s songs. By using this approach belongsSaussure semiology, text analysis consisted of analysis of syntagmatic and paradigmatic analysisare used to reading the symbols of the seven songs from Efek Rumah Kaca chosen by theresearchers, such as: Di udara, Jalang, Mosi Tidak Percaya, Hilang, Kenakalan remaja di erainformatika, Desember, Balerina.The results of this study, based on syntagmatic analysis shows that the Efek RumahKaca’s lyrics are politically themed, rich with voice of resistance against the ruling classoppressed. Efek Rumah Kaca role as an oppressed minority party representation, it is known bylooking at the function's role in the song lyrics. Narrative patterns in the songs can be understoodas representing a story that has a message of resistance against the repression, which in thiscontext is the repression of acts of domination ruling arbitrarily. Second, the songs on the socialthemedused by Efek Rumah Kaca as an afterthought to make amends, learning about life inorder to be better in the future. While the results of paradigmatic analysis showed an associationbetween the tracks of the Greenhouse Effect with political issues and social phenomenon thatoccurred in Indonesia, such as: Di Udara, which tells the story of the death of human rightsactivist, Munir; Jalang, that criticized the Anti-Pornography and Porno action draft law; danHilang, that brought the spirit refuse to forget the kidnapping of activists in Orde Baru era;Kenakalan remaja di era informatika, which tells about the phenomenon of teens naked in frontof the camera; Desember which tells the story of the rainy season often lead to disaster; andBalerina, who shared the experience of dynamics and balance in life.Keyword: Efek Rumah Kaca, Lyric, semiologyPERLAWANAN TERHADAP BUDAYA DOMINAN DALAM LIRIK LAGULAGUEFEK RUMAH KACA(Analisis Semiotika)Musik memainkan peranan penting dalam sejarah kehidupan manusia diberbagai pelosok dunia. Salah satunya adalah sejarah perlawanan atau revolusi.Musik diterapkan sebagai alat untuk menyampaikan opini tentang sudut pandangyang diambil dalam menangkap keadaan sosial yang terjadi di masanya. Musikperlawanan cenderung mendapatkan tempat tersendiri di benak penikmatnya. Hal initerjadi karena lirik yang terdapat di dalamnya mengisahkan pengalaman sejarah yangmemiliki kedekatan secara emosional maupun pengalaman dengan parapendengarnya.Pada masa lalu, kesulitan hidup di rumah, di pabrik, di lokasi pertambangan,di perkebunan dan di ladang pertanian merupakan tema-tema utama bagi lagu-lagubernada protes (http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/lagu-protes-danperjuangan).Namun, kecenderungan di ranah musik mulai berubah seiring perubahandi tiap elemen kehidupan. Melalui budaya populer musik berkembang menjadi salahsatu bagian dari industri, perkembangan inilah yang menjadikan tantangan dankonsekuensi bagi tiap musisi untuk bertahan di ranah musik, apakah mereka masihdapat mempertahankan idealisme bermusik mereka atau hanyut terbawa aruspermainan industri. Untuk sebagian dari musisi yang terjebak permainan industrimusik, tema-tema lagu yang keluar menjadi stereotip, menyesuaikan selera pasar danmayoritas menceritakan tentang kisah romantisme belaka.Musisi yang membawakan pesan resistensi dan pemberontak dapat diamatiberdasarkan genre musik. Dalam ranah rock, band rap-rock Rage Against TheMachine (RATM) merupakan salah satu contoh yang representatif, band yang dikenaldengan warna musiknya yang kental dengan politik dan perlawanan. Albumpertamanya, Rage Against The Machine, dirilis pada tahun 1992 dengan sampulalbum yang sarat dengan kontroversi, yaitu seorang Biksu yang membakar diri(http://www.berdikarionline.com/suluh/20120203/tom-morello-dari-musikperlawanan-hingga-politik.html). RATM menyuarakan kritik sosial yang serupadengan aksi pelaku bakar diri namun menggunakan media yang berbeda dalammengungkapkannya. Mereka sama-sama resah, dan sama-sama ingin „berbagi‟keresahan kepada publik. Keresahan mereka tidak berhenti pada musik dan liriknyayang mengedepankan kritik politik, namun juga karena para personel band ini sangataktif dalam gerakan-gerakan politik perlawanan sayap kiri.Ada beberapa pemusik yang telah menjadi bagian dan menjadi inspiratorrevolusi, seperti John Lennon yang banyak memberi pengaruh terhadap kelas pekerjadan kaum muda, Green day dengan kesedihan mereka terhadap orang-orang Amerikadalam lagu “American Idiot”, hingga PJ Harvey dengan album Let England Shakeyang oleh majalah musik Inggris New Musikal Express (NME), Uncut dan Mojo,dinobatkan sebagai album terbaik tahun 2011(http://www.jakartabeat.net/editorial/pengantar-redaksi/83-editorial/699-bagaimana2011-menghakimi-let-england-shake.html). Beberapa musisi di atas menunjukkanbahwa, musik yang bermuatan perjuangan, pemberontakan atau kritik politik punmemiliki pasar dan penikmatnya sendiri. Musik tentang perlawanan memilikikarismanya sendiri yang membuatnya berbeda dengan tema musik industrial,mungkin karena muatan pesan yang dimiliki merekam peliknya kehidupan.Keberhasilan mereka layak disyukuri karena romantisme bukanlah harga mati danmemberi warna sendiri dalam industri musik.Pada jalur musik protes, masyarakat Indonesia tentu tidak asing dengan namaIwan Fals. Konsistensinya terhadap lagu-lagu dengan lirik perlawanan terhadapketidakadilan membuatnya dikenal sebagai pahlawan kaum pinggiran. Diamengungkapkan realitas sosial dalam untaian lirik lagu berirama balada.Setiap kali mendengar lagu-lagu Iwan Fals, banyak orang yang sejenaktersadar akan kondisi sosial tanah air. Orang menyukainya karena lagu-lagunyamudah dicerna dan mengandung pesan-pesan humanis yang mendalam. Kelebihanlirik lagu-lagu Iwan Fals yang paling mencolok adalah kenyataan bahwa dia tidaklahir dari ruang hampa, lirik-liriknya lahir dari hasil jepretan atas kondisi sosialpolitik Indonesia sendiri dengan penggunaan kata-kata sederhana, telanjang, dankadang-kadang jenaka.Efek Rumah Kaca merupakan buah bibir untuk genre musik indie diIndonesia di tahun 2007 berangkat dari sebuah single “Di Udara” yang didedikasikankepada pejuang HAM, mendiang Munir. Mereka mulai meramaikan industri musikIndonesia dengan membawakan tema-tema musik yang beragam. Efek Rumah Kacamerupakan grup musik indie yang berasal dari Jakarta. Terdiri dari Cholil Mahmud(vokal, gitar), Adrian Yunan Faisal (vokal latar, bass) dan, Akbar Bagus Sudibyo(drum, vokal latar). Melalui jalur musik, Efek Rumah Kaca membingkai peristiwa didunia nyata dan kemudian dituturkan dalam bait-bait lirik. Efek Rumah Kacamerupakan grup band Indonesia saat ini yang secara konsisten memiliki semangatmemperjuangkan idealisme dalam berkarya. Sampai sekarang, band ini sudahmengeluarkan dua buah album studio, yaitu Efek Rumah Kaca pada tahun 2007 danKamar Gelap pada tahun 2008.Efek Rumah Kaca merilis album penuh pertamanya, Self Titled, di bawahlabel indie Paviliun. Tidak diduga, album itu mendapat sambutan baik, terjual 4.000hingga 5.000 keping. Ini adalah jumlah penjualan yang bagus untuk band indie,sekaligus membuktikan bahwa jalur indie pun memiliki kekuatan untuk bersaingdengan jalur mainstream. Di luar penjualan album, Efek Rumah Kaca sering dimintatampil dalam pergelaran musik. Sekarang rata-rata Efek Rumah Kaca memilikijadwal konser enam kali sebulan dengan tarif sekali manggung Rp 0 alias gratishingga Rp 13 juta(http://entertainment.kompas.com/read/2008/09/07/01403215/ERK.Band.dengan.Pernyataan.Politik).Efek Rumah Kaca pada awalnya dibentuk pada tahun 2001. Setelahmengalami beberapa kali perubahan personel, akhirnya mereka memantapkan diridengan formasi band tiga orang. Sebelumnya, band ini bernama Hush. Nama inikemudian diganti menjadi Superego, lalu berubah lagi pada tahun 2005 menjadi EfekRumah Kaca - diambil dari salah satu judul lagu pada album perdana mereka.Sejak awal kemunculan mereka, banyak pihak yang menyebutkan bahwawarna musik Efek Rumah Kaca tergolong dalam post-rock, bahkan ada yangmenyebutkan shoegaze sebagai warna musik mereka. Tetapi, Efek Rumah Kacadengan lugas menyebutkan bahwa warna musik mereka adalah pop, karena merekamerasa tidak menggunakan banyak distorsi dan efek-efek gitar dalam lagu-lagumereka seperti selayaknya musik rock.Efek Rumah Kaca adalah penyegaran bagi musik Indonesia, menjadi sebuahrenungan bagi kita untuk lebih menghargai hidup. Ketika kontroversi pornografi danpornoaksi mencuat, ERK menulis lagu ”Jalang”. Lagu tersebut mengkritik pasalpasalkaret RUU Pornografi dan Pornoaksi. Dalam liriknya tertulis:siapa berani bernyanyi nanti dikebiri/siapa yang berani menari nanti kan dieksekusi//.Penggalan lirik di atas menggambarkan bagaimana Efek Rumah Kaca mencoba untukmenyampaikan pesan bahwa tubuh bukanlah sekadar obyek seksualitas, tapijuga obyek estetik. Pendekatan RUU Pornografi dianggap semata-mata memandangtubuh sebagai isu moral dan tidak sensitif terhadap keberagaman masyarakatIndonesia yang multikultur dalam memandang tubuh dan ketelanjangan.Ketika kasus Munir mencuat, Efek Rumah Kaca meluncurkan lagu “DiUdara”. Lagu tersebut menegaskan, teror dan ancaman pembunuhan tidak akanmenciutkan nyali pejuang HAM seperti Munir. Lagu ini memposisikan diri sebagaiinformasi agar pendengarnya sadar kondisi Munir yang membela orang lalu dibunuh.Dengan mengedepankan spirit perjuangan bagi para pendengarnya, sepertinya EfekRumah Kaca memiliki harapan yang cukup tinggi akan munculnya "Munir-Munir"baru.Lirik Efek Rumah Kaca tidak hanya bicara soal politik. Mereka juga bicarasoal penyakit diabetes yang diderita oleh bassis mereka, Adrian Yunan Faisal, dalamlagu “Sebelah Mata” dan nafsu belanja dalam lagu “Belanja sampai Mati”. Bahkan,mereka menyorot musisi Indonesia yang atas nama selera pasar berbondong-bondongmenulis lagu-lagu cinta.Sudut pandang yang diambil oleh Efek Rumah Kaca dalam memandangmusik bukan sekadar sarana hiburan, melainkan media yang bisa digunakan untukmemotret fenomena sosial, menyatakan opini, bahkan beroposisi, ini merupakanperwujudan dari semangat idealisme, protes dan sikap kritis tentang keadaan sosialyang terjadi pada saat itu. Sikap bermusik seperti ini sebelumnya telah ditunjukkanmusisi Indonesia yang lebih senior, macam Iwan Fals, Harry Roesly, FrankySahilatua, dan Slank. Mereka bertahan dan memiliki massa yang mengidolakanmereka.Jika Rage Against The Machine (RATM) menggunakan lirik sebagai senjataperlawanan terhadap kapitalisme dan politisi, Efek Rumah Kaca menekankan soalmetode bagaimana musik bisa membangkitkan dan menggerakkan massa rakyat,menggunakan lirik untuk membentuk sebuah kesadaran baru bahwa ada sesuatu yangsalah, belum sampai pada perlawanan, maka untuk sampai kepada musik perlawananpun memerlukan tahapan; menggelitik, ingin tahu, menyadari, dan mulai berpikirbagaimana mengubah keadaan.Saat ini musik populer yang digemari oleh masyarakat kurang lebih memilikiciri yang sama, baik dalam aransemen maupun penampilan para musisipengusungnya. Ini tidak terlepas dari campur tangan pelaku industri yang masihmenggunakan musik sebagai komoditas hiburan atau barang jualan semata danmasyarakat yang pasrah menikmati arus musik yang seragam. Efek Rumah Kacamencoba menawarkan gagasan melalui konsep “pasar bisa diciptakan”, konsep inimerupakan bentuk perlawanan jalur independen (subculture) terhadap budayadominan yang diwakili oleh jalur mainstream.Di balik perlawanan jalur independen yang diusung oleh Efek Rumah Kacamelalui keberagaman tema musik yang kemudian mereka wujudkan pada konsep“pasar bisa diciptakan” kita harus menyadari bahwa Efek Rumah Kaca berada dalamsistem yang memungkinkan pihak tertentu yang berusaha menguasai pihak lainnyadengan mendominasi ideologi pada media melalui ekspresi dan sudut pandang yangdianut sebagai budaya mapan, baik secara sadar maupun tidak. Dalam konteks iniEfek Rumah Kaca sebagai komoditas yang dipasarkan oleh label atau korporasi yangmenaungi Efek Rumah Kaca.Dari penjabaran di atas yang menarik untuk dikaji adalah perlawanan tehadapbudaya dominan yang disuarakan oleh Efek Rumah Kaca melalui lirik lagu yangmereka ciptakan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui :1. Simbol-simbol pada lirik lagu-lagu Efek Rumah Kaca yang merefeleksikanusaha perlawanan terhadap budaya dominan dalam sebuah media lagu.2. Ideologi yang berperan dominan dalam lirik lagu-lagu Efek Rumah Kaca dalamkonteks usaha perlawanan terhadap budaya dominan.Penelitian ini menguraikan bagaimana struktur lirik yang dibangun oleh EfekRumah Kaca. Seperti yang kita ketahui bersama, Efek Rumah Kaca merupakan salahsatu band yang memiliki tema bervariasi dalam lagu-lagunya. Dari beberapa albummaupun single yang sudah dirilis, peneliti menemukan sedikitnya empat buah laguyang bertema politik. Lagu-lagu tersebut adalah Di Udara, Jalang, Mosi TidakPercaya, dan lagu terbaru mereka berjudul Hilang. Selain itu dalam penelitian inidijabarkan juga struktur dari tiga lagu Efek Rumah Kaca yang dipilih penelitiberdasarkan pesan yang bersifat lebih personal. Lagu-lagu tersebut adalah Kenakalanremaja di era informatika, Desember, dan Balerina. Selanjutnya lagu-lagu tersebutdianalisis satu persatu menggunakan analisis sintagmatik dan paradigmatik untukmengkaji lebih jauh pesan denotasi dan konotasi yang terkandung di dalamnya.Pendekatan semiologi milik Saussure digunakan untuk membedah kumpulanteks yang terdapat dalam lirik lagu-lagu Efek Rumah Kaca. Analisis teks tersebutterdiri dari analisis sintagmatik dan analisis paradigmatik yang digunakan untukpembacaan simbol-simbol terhadap tujuh lagu dari Efek Rumah Kaca yang telahdisebutkan di atas.Dengan menggunakan Jargon “Pasar dapat diciptakan”, Efek Rumah Kacamencoba menekankan soal metode bagaimana musik bisa membangkitkan danmenggerakkan massa rakyat. Sejumlah media, zine, dan blog sempatmemberitakannya sebagai sindiran Efek Rumah Kaca terhadap industri musik diIndonesia yang semakin seragam. Bermodalkan dua album Efek Rumah Kaca yangsarat dengan muatan kritik-kritik sosial yang tajam berhasil memberikan warna yangberbeda di kancah dunia musik Indonesia.Berdasarkan penilitian yang telah dilakukan, ditemukan beberapa fakta terkaitdengan lirik lagu-lagu Efek Rumah Kaca dalam konteks usaha perlawanan terhadapbudaya dominan yang dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu:Pertama, hasil analisis dari struktur sintagmatik dalam lagu-lagu Efek RumahKaca yang bertema politik menunjukkan bahwa lirik lagu dari Efek Rumah Kacakaya dengan suara perlawanan kelas tertindas terhadap penguasa. Efek Rumah Kacaberperan sebagai representasi pihak minoritas yang tertindas, hal tersebut diketahuidengan melihat fungsi peran dalam lirik lagu. Pola narasi dalam lagu-lagu tersebutdapat dipahami sebagai penggambaran sebuah cerita yang memiliki pesanperlawanan terhadap aksi penindasan, yang dalam konteks ini aksi penindasan adalahdominasi penguasa yang bertindak semena-mena.Kedua, hasil analisis dari struktur paradigmatik dalam lagu-lagu Efek RumahKaca yang bertema politik menunjukkan adanya keterkaitan antara lagu dari EfekRumah Kaca dengan isu politik yang terjadi di Indonesia dan bagaimana sudutpandang Efek Rumah Kaca dalam menyikapi hal tersebut, seperti: Di Udara, yangbercerita tentang kematian pejuang HAM, Munir; Jalang, yang mengkritikRancangan Undang-Undang Anti-Pornografi dan Pornoaksi; dan Hilang, yangmembawa semangat menolak lupa akan peristiwa penculikan sejumlah aktivis padaera Orde Baru. Dari hasil analisis ini juga menjabarkan bagaimana keberpihakanEfek Rumah Kaca dalam memandang isu politik yang ada. Beberapa lagu di atasseperti memperlihatkan respon fisik ketidakpuasan Efek Rumah Kaca terhadappemerintah Indonesia, seperti kasus Munir yang hingga kini belum menemui titikterang siapa dalang dibaliknya atau kasus hilangnya sejumlah aktivis pada masa OrdeBaru hingga kini para keluarga korban belum juga mendapat penjelasan daripemerintah.Ketiga, struktur sintagmatik dalam lagu-lagu Efek Rumah Kaca yangbermuatan isu sosial mendeskripsikan bahwa Efek Rumah Kaca memposisikan dirisebagai individu yang mendapatkan pengalaman secara langsung terhadap fenomenasosial. Lagu-lagu yang bertema sosial ini digunakan oleh Efek Rumah Kaca sebagairenungan untuk mengoreksi diri, media pembelajaran tentang hidup agar dapatmenjadi lebih baik di kemudian hari.Keempat, Berdasarkan analisis paradigmatik yang dilakukan pada beberapalagu Efek Rumah Kaca bermuatan isu sosial, dapat dipahami sebagai pernyataanopini mereka terhadap fenomena sosial yang terjadi. Lagu-lagu Efek Rumah Kacaseperti Kenakalan remaja di era informatika, yang bercerita tentang fenomena pararemaja yang bugil di depan kamera; Desember yang bercerita tentang musimpenghujan yang sering menimbulkan bencana; dan Balerina, yang berbagipengalaman tentang dinamika serta keseimbangan dalam hidup. Di sini terlihatbahwa Efek Rumah Kaca memiliki kepekaan dalam menangkap kondisi sosial yangada di masyarakat dan memberikan opini tentang apa yang mereka rasakan. Haltersebut menempatkan Efek Rumah Kaca pada level berkesenian yang lebih tinggidari pada band-band baru bermunculan yang hanya mementingkan aspek ekonomisemata.
Penerapan Konsep Pencitraan Politisi Di Media Twitter Dody Tisna Kurniawan; Adi Nugroho; Muchammad Yulianto
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENDAHULUANLatar BelakangPenggunaan Twitter dinilai lebih simple, karena tampilannya yang sederhana,hanya ada satu halaman utama yang menyajikan menu-menu utama dalamTwitter. Sangat berbeda dengan Facebook, Friendster, atau jejaring sosial lainyang terkesan lebih menyulitkan dalam berkirim pesan, karena harus melihatprofil dari yang dituju terlebih dahulu. Selain itu, simple disini juga berartipemakaian 140 karakter yang dinilai efektif dan efisien dalam berkirim pesan,tidak bertele-tele dan tepat sasaran. Status dan pesan kepada orang lain beradadalam satu kontrol. Bila tanpa mention maka otomatis menjadi “status”, apabiladiberi mention (@username) maka otomatis menjadi pesan yang bisa dibaca olehsi penerima pesan.Tergabungnya para artis, politisi dan tokoh lain dalam Twitter tak pelakmenimbulkan dorongan baru bagi para onliners untuk membuat account Twitter.Hal tersebut tidak lepas dari aura trendsetter yang ada pada diri para tokohtersebut. Berbondong-bondong para penggemar membuat account Twitter untukdapat mengetahui keseharian dan kegiatan dari sang idola.(http://media.kompasiana.com/new-media/2011/05/25/)Untuk politisi sendiri, Twitter berguna sebagai ajang mencari citra dansimpati kepada masyarakat yang memfollow akun politisi tersebut. Aspek-aspekpencitraan tersebut dapat dilihat dari berbagai pendekatan, mulai dari kata-katayang terkesan meminta simpati secara langsung atau tidak langsung maupunpendekatan yang bersifat akrab dengan masyarakat. Penerapan konsep pencitraanyang digunakan adalah untuk menarik simpati masyarakat. Twitter dipilih politisisebagai alat untuk melakukan pencitraan, hal tersebut dikarenakan, media Twitteradalah media yang sedang populer saat ini, efektif dan mudah berhubungandengan masyarakat sebagai tujuananya.Melihat hal tersebut para politisi dengan cermat menerapkan konseppencitraan di media sosial seperti Twitter, penerapan konsep yang dimaksudadalah strategi pencitraan positif sbagai strategi yang ampuh untuk meraup5dukungan publik secara luas, pola kerjanya mengedepankan peranan media dankecanggihan teknologi sehingga terbuka pula kesempatan dan peluang bagipraktik kekuasaan yang mengedepankan penguasaan atas simbol dan jugakekerasan secara simbolik.Mengamati fenomena tersebut, hal inilah yang menarik untuk diteliti, penelitimerasa perlu untuk mengetahui aplikasi penerapan konsep pencitraan politisidalam media sosial Twitter.BATANG TUBUHPencitraan KinerjaDalam 4 unsur pencitraan yang penulis golongkan, diantaranya terdapat 1 unsuryang akan dibahas dalam sub bab ini, berdasarkan deskripsi di bab sebelumnya,terdapat 2 politisi yang menuliskan tentang pencitraan kinerja di akun mediajejaring sosial Twitter miliknya. Politisi tersebut adalah Denny Indrayana selakuWamenkumham dan Ruhut Sitompul selama periode 2 bulan terakhir. Sementara5 politisi lain tidak terindikasi menuliskan tweet pencitraan kinerja di akun mediajejaring sosial yang mereka miliki.BuchariAlma (2008:55) citra adalah serangkaian kepercayaan yangdihubungkan dengan sebuah gambaran yang dimiliki atau didapat daripengalaman. Untuk membentuk citra positif dari masyarakat khususnya followersDenny dan Ruhut menerapkan konsep pencitraan kinerja untuk memperolehkepercayaan masyarakat, dengan menunjukan hasil kinerjanya kepadamasyarakat. Herbert Blumer dan Elihu Katz ( Hafied Cangara, 2009 : 119)mengatakan bahwa pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih danmenggunakan media tersebut. Dengan kata lain, pengguna media adalah pihakyang aktif dalam proses komunikasi. Pengguna media berusaha mencari sumbermedia yang paling baik di dalam usaha memenuhi kebutuhannya. Artinyapengguna media mempunyai pilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhannya,Denny Indrayana adalah sosok fenomenal yang sempat menggemparkan publikdengan sepak terjangnya memerangi mafia – mafia hukum.6Pencitraan ReligiusDalam unsur pencitraan religius, terdapat 4 politisi yang menerapkan konseppencitraan ini didalam akun media jejaring sosial mereka, yaitu PrabowoSubianto, Ruhut Sitompul, Anas Urbaningrum dan Aburizal Bakrie. Jika melihatlatar belakang 4 politisi tersebut, politisi-politisi tersebut pernah tersandung kasus,diantaranya kasus pelanggaran HAM dan penculikan aktifis 98 oleh PrabowoSubianto, Pelanggaran kode etik DPR oleh Ruhut Sitompul, dugaan korupsi megaproyek Hambalang oleh Anas Urbaningrum dan lumpur lapindo oleh AburizalBakrie. Karena kasus-kasus tersebut pernah di beritakan secara terus menerus olehmedia nasional maupun lokal, secara otomatis kebanyakan masyarakat akanberfikiran bahwa ke 2 politisi tersebut mempunyai kepribadian yang buruk, danuntuk mengembalikan citra positif mereka dimata publik, maka para politisitersebut “merangkul kembali” masyarakat dengan tweet-tweet religius parapolitisi, paradigma dimasyarakat adalah, orang-orang yang baik adalah orangorangyang dekat dengan Tuhan.Freud (Alwisol, 2010 : 162 ), Seseorang akan bertahan dengan caramemblokir seluruh dorongan-dorongan atau dengan menciutkan dorongandorongantersebut menjadi wujud yang lebih dapat diterima konsepsi dan tidakterlalu mengancam. Cara ini disebut mekanisme pertahanan diri atau mekanismepertahanan ego/Ego Defense Mechanism. Wujud disini penulis masukan kedalampenulisan tweet-tweet dari politisi-politisi, dengan menuliskan tweet pencitraanreligius para politisi berharap akan diterima kembali dimasyarakat setelah apayang mereka lakukan. Dalam teori Uses &Gratifications (Kegunaan danKepuasan) oleh Herbert Blumer dan Elihu Katz (Hafied Cangara, 2009 : 120)mengatakan bahwa pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih danmenggunakan media tersebut. Dengan kata lain, pengguna media adalah pihakyang aktif dalam proses komunikasi. Pengguna media berusaha mencari sumbermedia yang paling baik di dalam usaha memenuhi kebutuhannya. Artinyapengguna media mempunyai pilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhannya.7Para politisi selaku pelaku dan pengguna media jejaring sosial twitter,menggunakan konsep pencitraan religius ini karena suatu kebutuhan untukmemuasakan kebutuhannya.Pencitraan SosialPenerapan konsep pencitraan sosial inilah yang menjadi “andalan” parapolitisi untuk melakukan pencitraan, bagaimana tidak, seluruh subjek politisiterindikasi menuliskan pencitraan sosial kedalam akun media jejaring sosial milikmereka, mulai dari Denny Indrayana, Ruhut Sitompul, Anas Urbaningrum,Aburizal Bakrie, Prabowo Subianto, Dede Yusuf dan Rustriningsih, pencitraansosial yang dimaksud adalah cara yang dilakukan politisi untuk menarik simpatimasyarakat khususnya para Followers dengan cara yang halus, misalnyamemanggil dengan sapaan “sahabat”, memeberikan feedback kepada parafollowers sampai dengan pemberian bantuan kepada masyarakat demi sebuahkepentingan. Secara sederhana dapat disebutkan bahwa empati adalahkemampuan menempatkan diri pada situasi dan kondisi orang lain. Dalam hal iniK. berlo (Hafied Cangara, 2009 : 121). memperkenalkan teori yang dikenaldengan nama influence theory of emphaty (teori penurunan dari penempatan dirikedalam diri orang lain). Artinya, komunikator mengandaikan diri, bagaimanakalau ia berada pada posisi komunikan. Dalam hal ini individu memiliki pribadikhayal sehingga individu-individu yang berinteraksi dapat menemukan danmengidentifikasi persamaan-persamaan dan perbedaan masing-masing, yangkemudian menjadi dasar dalam mmelakukan penyesuaian. Untuk mengetahui apayang masyarakat inginkan, terlebih dahulu para politisi harus mengerti betul apaitu empati, dalam hal ini pencitraan sosial yang politisi tidak terlepas dari halempati, bagaimana tidak? Bayangkan saja ketika kita disapa dengan kata“sahabat” oleh orang yang menjadi public figure atau orang yang dikenal banyakorang, pasti akan tersirat rasa bangga tersendiri, demikian pula konsep pencitraansosial yang bertema pemberian bantuan, jika kita menerima bantuan, pasti kitamerasa senang sebagai pihak yang dibantu.Menurut K. Berlo (Hafied Cangara, 2009 : 121), didalam teori emoatiterdapat 2 golongan teori, yaitu :81.Teori Penyimpulan (inference theory), orang dapat mengamati ataumengidentifikasi perilakunya sendiri.2.Teori Pengambilan Peran (role taking theory), seseorang harus lebih dulumengenal dan mengerti perilaku orang lain.Para politisi melakukan hal yang membuat masyarakat senang untuk menarikperhatian masyrakat, yaitu dengan melakukan hal yang menurut masyarakat harusdibenahi, dan yang tidak disukai masyrakat kemudian para politisi melakukan halitu untuk memperoleh citra baik politisi di masyarakat.Penerapan konsep Pencitraan sosial digunakan oleh para politisi untukkepentingannya masing-masing, diantaranya adalah untuk menarik simpati publikdi media jejaring sosial Twitter dalam Pilgub dan Pilpres, para politisiberbondong-bondong menuliskan tweet dan menshare foto yang penulis berijudul “dekat dengan masyarakat”untuk media kampanyenya dimedia Twitter.Menurut Richard A. Joslyn dalam Swanson (Hafied Cangara, 2009 : 284)melukiskan kampanye politik tidak ada bedanya dengan sebuah adegan dramayang dipentaskan oleh para aktor-aktor politik.Adegan drama yang penulis simpulakan dari Richard A. Joslyn tersebutadalah, ketika tiba saatnya politisi memiliki kepentingan, maka politisi akanmembangun pencitraan mereka dengan citra yang positif, dan tidak sesuai denganrealita sebenarnya, untuk “mengelabui” atau hanya sekedar untuk menarik simpatipublik. Pencitraan sosial ditemukan atau terindikasi dalam semua tweet dipolitisiyang penulis teliti. Hal ini menunjukan, unsur pencitraan sosial adalah unsureyang menurut penulis paling bisa mempengaruhi followers atau masyarakat.Pencitraan PolitikSesuai dengan unsur Pencitraan politik yang penulis definisikan sebagaipencitraan yang meiliki kepentingan politik dan mengikut sertakan kepentinganlain, bukan hanya individu dari politisi itu sendiri, contohnya adalah partai yang didinaungi oleh politisi tersebut.Dalam unsur pencitraan politik ditemukan 5 politisi yang menggunakankonsep tersebut untuk pencitraan di akun media jejaring sosial para politisi.Diantarany adalah Prabowo Subianto dari partai Gerindra (Gerakan Indonesia9Raya), Ruhut Sitompul eks Partai Demokrat, Anas Urbaningrum dari PartaiDemokrat, Aburizal Bakrie dari Partai Golkar (Golongan Karya) danRustriningsih dari PDI Perjuangan (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan).Keloyalitasan para politisi yang berangkat menjadi politisi dengan berlatarbelakang Dependent (dari partai politik) seolah-olah menjadi hal wajib untuk ikutserta mencitrakan partai yang dinaunginnya dan para tokoh partai didalamnya.Contohnya ketika Anas menuliskan tentang kerja keras para anggota partainyaketika membantu korban banjir dan menuliskan tentang sosok presiden yang baik(SBY) didalam akun media jejaring sosial Twitter miliknya, dan Pemimpin partaiGerindra, Prabowo Subianto juga melakukan hal tersebut, demikian pula AburizalBakrie. Partai Demokrat yang mempunyai banyak anggota bermasalah dansemakin diperparah dengan konflik intern didalamnya membuat Anas sebagaipemimpin partai Demokrat aktif melakukan pencitraan politik agar masyarakattetap mengangap partai Demokrat sebagai partai yang memiliki integritas.Nimmo dan Thomas Ungs (Hafied Cangara, 2009 : 285) melihat bahwasebuah perencanaan kampanye politik sedapat mungkin harus melalui tiga fase,yakni:1. Fase pengorganisasian (organizing phase)2. Fase pengujian (testing phase)3. Fase kritis (critical phase).Fase pengorganisasian, yakni kapan staf, informasi, dan dana dikumpulkan,strategi dan praktek yang diterapkan, dan semangat kelompok dibangkitkan untukpengurus dan anggota. Fase pengujian kampanye (testing phase), yakni kapancalon menggalang para anggota dan menawarkan kemudahan-kemudahan kepadaorang yang belum menjadi anggota. Langkah terakhir adalah fase kritis (criticalphase) di mana kampanye mencapai suatu titik di mana calon pemilih (voters)belum menentukan sikap terhadap partai atau siapa yang akan didukung ataudipilih.Kandidat dan partai adalah 2 unsur yang tidak bisa dipisahkan, ke 2nyamempunyai bagian-bagian yang saling melengkapi dan saling menguntungkan,atau bisa dikenal dengan istilah win-win solutions. Dalam hal ini, para politisi10yang berlatar belakang berangkat dari partai akan mengangkat citra partainya,sebagai timbale baliknya, partai akan berjuang untuk membantu politisi dalampencitraannya, dengan tujuan mempengaruhi dan mencari simpati publik.KESIMPULAN DAN SARANKesimpulanKemunculan Media Jejaring Sosial Twitter sebagai media baru telah mengubahdunia politik. Sebagai media baru, banyak peran penting Twitter untuk politisiyang tergabung didalamnya, dengan media jejaring sosial Twitter, para politisidapat berhubungan langsung kepada masyarakat khusunya Followersnya. Apapunyang mereka inginkan dapat mereka tulis untuk selanjutnya disebarkan, sepertimisalnya kinerja mereka, bencana alam, kepentingan politik, dan lain-lain dapattersebar luas kepada semua orang diseluruh penjuru dunia melalui Twitter.Pemberitaannya bahkan mengalahkan kecepatan media informasi yang lain.Kegiatan pencitraan tidak hanya dilakukan politisi di media massa (TV, radio,Koran) . Tetapi media baru, Twitter dapat melakukan kegiatan pencitraan.Sebenarnya pemegang akun media jejaring sosial Twitter bisa menggunakanyasesuai dengan kepentingannya masing-masing. Jumlah karakter yang hanya 140itu merupakan kekurangan dari media jejaring sosial Twitter, karena orang tidakakan mampu menjelaskan sesuatu secara gamblang dengan space sekecil itu.Tetapi ada juga yang menilai bahwa itulah yang menjadi senjata ampuh Twitterdalam menyampaikan suatu hal yang diinginkan oleh pemilik akun. Masyarakatdituntut untuk menyampaikan sebuah fakta yang jelas hanya dalam 140 karakter.Terlepas dari perdebatan di atas, media jejaring sosial Twitter sebagai mediapencitraan politisi memberikan kesempatan kepada politisi untuk berinteraksidalam ruang publik pada sebuah situasi yang sebelumnya tidak dirasakan padamasa kejayaan media mainstream. Sistem yang baru ini memberikan kemudahankepada politisi untuk memenuhi kepentingannya, biasanya para politisi yang akanmelakukan pencitraan harus memebayar kepada media untuk meliput, dan11memberitakan citra yang positif si politisi, dengan munculnya Twitter, parapolitisi akan lebih mudah dan murah untuk melakukan pencitraannya.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Twitter memang mendukung penerapankonsep pencitraan politisi. Ide pencitraan politisi muncul ketika politisi melihatpeluang “emas” untuk menarik simpati publik dengan cara yang relatif mudah danmurah. Penerapan konsep pencitraan dalam Twitter dilakukan dengan :1. Para politisi Menuliskan tweet-tweet yang berisikan kinerja mereka untukmempengaruhi publik khususnya para Followers yang memfollow akun politisi,dengan begitu para followersnya yang memfollow akun politisi tersebut akanberfikiran bahwa, politisi tersebut adalah politisi yang berkompeten danbertanggung jawab dalam bidangnya. Penerapan konsep pencitraan kinerja tidakterlalu popular di kalangan politisi, karena dari 7 politisi yang dianalisa penulis,hanya 2 politisi yang menerapkan konsep kinerja di akun media jejaring sosialTwitter miliknya.2. Politisi menuliskan tweet yang berisikan konten yang bersifat religius, untukmempengaruhi dan menarik simpati publik, khususnya para followersnya.Menurut paradigm masyarakat, orang yang baik adalah orang yang beragama,karena dalam agama terdapat ilmu-ilmu yang mengajarkan kebaikan. Haltersebutlah yang membuat politisi menerapkannya dalam akun media jejaringsosia Twitter mereka. Dari 7 politisi yang penulis analisa, terdapat 4 politisi yangmenerapkan konsep pencitraan di akun media jejaring sosial twitternya. Namuntidak menutup kemungkinan bahwa tweet religius yang di tuliskan oleh parapolitisi di akun media jejaring sosial milik mereka adalah sifat asli mereka,sebagai mahluk Tuhan yang beragama dan patuh akan Tuhannya.3. Politisi Menuliskan tweet yang berisikan konten sosial, untuk mempengaruhidan menarik simpati publik khususnya para Followers yang mengikuti akunpolitisi tersebut. Sifat sosial dan bersosialisasi adalah bentuk sifat manusia, karenamanusia tidak dapat hidup sendiri, selaku publik figur, banyak politisi yangmemanfaatkan ketenarannya untuk menarik simpati rakyat, mulai dengan dekat12dengan rakyat, sampai membantu rakyat yang sedang kesusahan, hal tersebutsangat dimanfaatkan politisi dalam konsep pencitraan yang diterapkanya, dalamhal ini adalah pencitraan sosial. Konsep Pencitraan ini tergolong konsep yang“laris manis” yang diterapkan para politisi dimedia jejaring sosial Twittermiliknya. Dari 7 politisi yang penulis analisa tweet-tweetnya, semua politisitersebut menerapkan konsep pencitraan ini.4. Para politisi menuliskan tweet yang berisikan konten politik, apalagi politisiyang menggunakan jalur dependent, atau yang terikat oleh partai tidakmelenggang sukses dengan sendirinya, tetapi partai ikut andil bagian dalammembesarkan nama dan citranya. Oleh karena itu partai dan politisi adalah 2unsur yang saling membutuhkan, partai perlu politisi untuk tetap eksis, demikianpula politisi. Salah satu bagian politisi adalah ikut mencitrakan partainya secarabaik dimata masyarakat, dengan menuliskan kebaikan partainya di Akun mediajejaring sosial Twitter miliknya. Dari 7 politisi yang penulis analisa, terdapat 5politisi yang menerapakan konsep pencitraan partainya.5.2. Saran5.2.1 Secara TeoritisPenelitian ini berusaha mengembangkan pemikiran akademis atau teoritik dalampenerapan konsep pencitraan oleh politisi dimedia jejaring sosial Twitter.Sehingga penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan bagi peneliti lainyang ingin melakukan penelitian dengan tema sejenis atau tertarik dengan konsepyang digunakan politisi untuk pencitraan dirinya. Namun pada penelitianselanjutnya dapat menggunakan metode yang berbeda yaitu metode penelitiankuantitatif dan menggunakan unit analisis yang berbeda, semisal pengaruhpencitraan politisi terhadap tingkat kepercayaan masyarakat.5.2.2 Secara PraktisMedia dapat menjadi alat komunikasi untuk menjadi sebuah identitas individu.Dengan banyaknya fungsi media hendaknya masyarakat terutama politisi dapat13menggunakan fungsi media dengan baik dan bijaksana, selaku publik figursetidaknya politisi memberikan informasi yang mendidik dan sesuai dengan hatinurani politisi. Misalnya menuliskan tentang ilmu-ilmu politik, hukum atauapapun yang politisi kuasai ilmunya. Atau menuliskan tentang kebeneran suatumasalah yang mereka ketahui. Bukan hanya untuk kepentingan mereka tetapiuntuk menambah ilmu para followersnya. Pencitraan sebenarnya sah untukdilakukan para politisi, asal tidak terlalu berlebihan, karena hal tersebut yangnantinya akan merusak citra mereka sendiri. Masyarakat, sekarang ini sudahpintar mengkritisi, mana yang benar-benar baik, dan mana yang di setting menjadibaik, jadi ketika politisi terlalu “over” melakukan pencitraan, masyarakat akanberfikiran, kalau apa yang dilakukan politisi tersebut hanya untuk kepentingannyasendiri nantinya.5.2.3 Secara SosialMasyarakat luas, khususnya para Followers yang mengikuti akun media jejaringsosial Twitter dapat berpikir kritis dalam menyikapi pencitraan – pencitraan yangdituliskan oleh para politisi di akun media jejaring sosial twitter milik politisi.Dan sebaiknya masyarakat tidak tertuju dengan cuman satu media saja untukmenilai citra baik dan buruknya para politisi, masih banyak media lain untukmengetahui apakah politisi tersebut benar-benar baik atau tidak, dan apakah yangdituliskan politisi didalam akun media jejaring sosial twitter mereka adalahsebuah kenyataan atau tidak. Sebaiknya masyarakat pandai mengkritisi, agar tidaktepengaruh sifat tertulis politisi di twitter yang menuliskan citra baik untukberbagai kepentingan mereka, sudah sering para politisi terdahulu melakukan danmengedepankan citra baik dimasyarakat. Tetapi jika kepentingannya sudahterpenuhi, maka para politisi tersebut akan berubah, semisal politisi-politisi yangdulu dianggap baik malah banyak terjebak kasus, misalnya koruspi. Politisi yangbaik tidak akan mengumbar kebaikan dan akan mengakui kesalahannya..14DAFTAR PUSTAKABuku :Alwisol. (2010). Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press.Buchari, Alma. (2008). Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Bandung :Alfabeta.Budiardjo, Miriam. (1978). Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta : GramediaBulaeng, Andi. (2004). Metode Penelitian Komunikasi Kontemporer. Yogyakarta: Andi.Cangara, Hafief. (2009). Komunikasi Politik: Konsep, Teori, dan Strategi. Jakarta:Raja Grafindo Persada.Jensen, Klaus Bruhn. Nicholas W. Jankowski (2002). A Handbook Of QualitativeMethodologies For Mass Communication Research. London and New York:Routledge.McQuail, Denis. (1987). McQuail’s Communication Theory. London:Sage Publications.Zuriah, Nurul. (2005). Metodologi Penelitian Sosial Dan pendidikan. Jakarta :Bumi Aksara.WEB :Pengertian dan definisi media. (2012) .dalamhttp://carapedia.com/pengertian_definisi_media_info2046.html diakses padatanggal 7 September pukul 13.10 WIB.PengertianPolitik.Dalamhttp://id.shvoong.com/law-andpolitics/politics/1935230-pengertian-politik/#ixzz25laPgmox. Diakses padatanggal 8 september 2012 pukul 13.32 WIB.Pengertianpolitik.Dalamhttp://ruhcitra.wordpress.com/2008/11/21/pengertian-politik/. Diakses pada tanggal 8 september 2012 pukul 13.35 WIB.Pencitraan.Dalamhttp://www.erepublik.com/en/article/pencitraan-1812550/1/20 . Diakses pada tanggal 8 september 2012 pukul 13.52 WIB.15Sejarah tehknlogi. Dalam http://sejarahteknologi.blogspot.com/. Diaksespada tanggal 8 september 2012 pukul 12.25 WIB.Twitter. Dalam http://en.wikipedia.org/wiki/Twitter. Diakses pada tanggal7 september 2012 pukul 11.05 WIBTwitter dan Mahasiswa: Studi Kasus Penggunaan Twitter Sebagai MediaSosial dan Komunikasi pada Mahasiswa JPP Fisipol UGM Angkatan 2009.Dalam http://media.kompasiana.com. Diakses pada tanggal 8 september pukul13.10 WIB.
PR Campaign Klub Sepatu Roda di Bawah Porserosi Semarang Melalui Rangkaian event “Juara Bersama Sepatu Roda”dan “Fun Skate on Car Free Day” (Project Officer) Rodra Ciptaning; Yanuar Luqman; Nurist Surraya ulfa
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.341 KB)

Abstract

Pendahuluan Olahraga merupakan suatu kegiatan positif yang penuh dengan manfaat bagi setiapinsan yang menjalankannya. Berbagai jenis cabang olahraga telah dikenal diIndonesia, bahkan diantaranya mampu membawa Indonesia dikenal di kancah dunia,sebut saja Bulu Tangkis, Angkat besi, Dayung dan masih banyak lagi. Disampingolahraga – olahraga tersebut, masih banyak cabang olahraga yang berpotensi untukmengukir prestasi, sebut saja sepatu roda.Akhir-akhir ini masyarakat kota Semarang memang sedang mengalami musimpermainan sepatu roda, dimana tiap sore hingga malam disepanjang jalan SimpangLima dipenuhi masyarakat pecinta sepatu roda yang memainkan atraksinya dan tidaksedikit pula para pemula yang belajar untuk mencoba permainan ini. Hal ini diikutidengan menjamurnya komunitas yang menyewakan sepatu roda di kawasan SimpangLima Semarang. Tidak sedikit pengunjung yang ikut meramaikan permainan sepaturoda ini, mulai dari anak-anak hingga remaja bahkan dewasa yang bermain sepaturoda tiap harinya.PORSEROSI (Persatuan Olah Raga Sepatu roda Seluruh Indonesia) kotaSemarang pun menyatakan bahwa selama ini, sosialisasi tentang olah raga sepatu rodamemang masih kurang. Sosialisasi klub – klub sepatu roda di bawah naunganPORSEROSI kota Semarang untuk menjaring anggotanya juga sangat kurang.Sampai saat ini terdapat 3 (tiga) klub sepatu roda di kota Semarang, diantaranyaEagle, Ikos, Kairos. Klub-klub tersebut siap memberi pelatihan dan mengajarkanteknik – teknik olahraga sepatu roda, baik untuk anak – anak maupun dewasa.Karenanya PORSEROSI kota Semarang akan menyasar pada tingkat anak-anak,dengan jenjang usia 7 – 12 tahun, dengan maksud dapat mendapatkan anak-anak yangberbakat sejak dini.Segmen pesepatu roda dini atau anak-anak, dipilih berdasarkan beberapafaktor, diantaranya anak-anak adalah fase yang berpeluang untuk dijejali motivasi dangambaran-gambaran, yang akan mampu mendorong dan menjadi pedoman merekauntuk menggali dan menentukan bakatnya sejak dini. Kedua, anak – anak tersebutmasih memiliki pemikiran yang terbatas sehingga hal ini merupakan peluang untukmengedukasi mereka dan dapat menghasilkan anak-anak berbakat yang akan menjadiatlet sebagai upaya regenerasi Sepatu roda Jawa Tengah khususnya Kota Semarang.Dapat dilihat antara fenomena yang terjadi sekarang ini, bahwa sepatu rodayang sedang digandrungi disemua kalangan. Namun, hal ini tidak diimbangi denganpengetahuan masyarakat akan keberadaan klub-klub sepatu roda di kota Semarang.Masih banyak masyarakat yang belum mengetahui klub-klub sepatu roda, sehinggabanyak diantara mereka yang tidak berminat untuk bergabung ke klub-klub sepaturoda. Sebagian dari masyarakat kota Semarang yang gemar bersepatu roda, hanyamelakukan olah raga ini untuk mengisi waktu luang dan mengikuti trend terkini.Selain sosialisasi klub yang sangat kurang, faktor area atau lapangan untukberlatih juga minim sehingga jumlah anggota klub-klub yang terbentuk juga tidaklahbanyak, hanya sekitar 50 – 70 anggota di tiap klub-nya. Dengan berkembangnyapermainan sepatu roda di kota Semarang, PORSEROSI bermaksud untuk mengajakanak-anak yang tertarik Sepatu roda untuk turut serta bergabung dengan klub-klubSepatu roda dengan tujuan agar mereka mendapat pengarahan, pengetahuan sertateknik-teknik Sepatu roda. Di samping itu, dengan tergabungnya mereka ke dalamklub sepatu roda juga dapat menjaring bibit-bibit unggul sebagai upaya regenerasiatlet Sepatu roda yang masih lambat.B. Batang TubuhKarya bidang ini disusun dengan menggunakan pendekatan persuasif serta penerapanteori- teori kampanye PR untuk mendukung keberhasilan tujuan komunikasinya.Melalui penyelenggaraan serangkaian event yang meliputi roadshow “Juara BersamaSepatu Roda” dan “Fun Skate on Car Free Day” cara ini dinilai efektif untukmeningkatkan awareness masyarakat akan klub sepatu roda. Roadshowdiselenggarakan di enam sekolah dasar di kota Semarang dengan materi acarameliputi perkenalan olah raga sepatu roda, perkenalan klub beserta atletnya sertamengadakan coaching clinic teknik dasar bermain sepatu roda. Acara puncak “FunSkate on Car Free Day” diselenggarakan di area Car Free Day jalan Pahlawan denganmenampilkan atraksi masing- masing klub sepatu roda. Masyarakat yang inginbergabung dalam klub pun dapat mendaftar secara langsung di stan masing-masingklub yang diinginkan.Keberhasilan dalam mencapai tujuan komunikasi dapat diketahui berdasarkanriset pasca event. Setelah event berlangsung, awareness audiens meningkat sebanyak23,37% dari yang semula 48,3% menjadi 71,67%. Sedangkan minat untuk bergabungke dalam klub sepatu roda juga meningkat sebesar28,67%. Dengan demikian,rangkaian event PR campaign ini efektif untuk mencapai tujuan komunikasi awal.Berikut merupakan parameter keberhasilan event ini :Tabel Parameter keberhasilan eventParameter KeteranganCommunication Objective Dari riset penyelenggara pasca event yang dilakukan melalui 60responden yang mengetahui Klub sepatu roda kota Semarang,sebanyak 43, yang berminat gabung ke dalam klub sebanyak 41responden dan yang mengetahui event “Fun Skate on CFD”sebanyak 53 responden. Data per klub menunjukkan jumlahkenaikan anggota setelah acara terselenggara. (Ikos mengalamikenaikan anggota sebanyak 18 anak, Kairos 21 anak dan Eagle 14anak)Konsep Acara Dari 34 responden yang mengikuti acara “Fun Skate on Car FreeDay”, sebanyak 23 responden menyatakan bahwa acara tersebut“sangat menarik”, sisanya menyatakan “menarik”.Target Audience Total peserta coaching clinic “Juara Bersama Sepatu Roda” dan‘Fun Skate on CFD” secara akumulatif mencapai 550 peserta daritarget minimal 200 peserta.Rundown dan Timeline a. Tidak terjadi pembatalan event. Event “Fun Skate on CFD”tetap dilaksanakan pada hari H, yaitu Minggu, 28 Oktober 2012sesuai dengan kesepakatan.b. Acara “Fun Skate on CFD” berjalan sesuai dengan rundown,meskipun terjadi delay selama 15 menit dan overtime selama 20menit, namun tetap masih dalam batas toleransi awal yaitumaksimal delay adalah selama 59 menit.Budgeting a. Tidak terjadi adanya pembengkakan budget selamaperencanaan hingga pelaksanaan eventb. Semua anggaran pelaksanaan acara” diperoleh dari kegiatansponsorshipc. Kegiatan “Fun Skate on CFD” mendapatkan surplus sebesarRp. 2.250.000,- dari sponsorshipSponsorship a. Kegiatan “Fun Skate on Car Free Day” berhasilmendapatkan pendanaan secara penuh dari pihak sponsor, yaituPT KAI, Suara Merdeka group dan sponsor lainnyab. Kegiatan ini juga didukung oleh sponsor (dalam bentukproduk), yaitu Telkomsel, Aquaria, Horison,CocacolaPermit and Venue Kegiatan “Fun Skate on CFD” berhasil mendapatkan izin venue dienam sekolah dasar dan area Car Free Day jalan pahlawan padawaktu yang telah ditentukan tanpa mengeluarkan biaya.C. PenutupKarya bidang ini diharapkan dapat memberikan implikasi-implikasi dalam aspekakademis dan praktis. Implikasi akademis karya bidang ini berupa kontribusi untukmemperkaya pengetahuan akan penerapan strategy persuasive dan penerapan teori PRcampaign dalam pencapain tujuan komunikasi. Sementara itu, implikasi praktismemberikan pengetahuan dan pengalaman untuk membuat kegiatan promosi yangefektif sesuai dengan target audiens serta tujuan komunikasinya.D. Daftar PustakaWebsitehttp://ponriau2012.com/index.php?option=com_content&view=article&id=200&Itemid=149 diakses pada tanggal 30 Mei 2012 pukul 21.45WIBhttp://www.satlakprima.com/news/sepatu-roda-berpeluang-ukir-medali/) diakse padatanggal 30 Mei 2012 pukul 22.10 WIB(http://sports.okezone.com/read/2012/04/02/43/603974/sepatu-roda-jabar-gemilangdi-selandia-baru) diakses pada tanggal 30 Mei 2012 pukul22.17 WIBhttp://wsmulyana.wordpress.com/2008/12/16/69 Diakses pada tanggal 2 juni 2012pukul 23.10 WIBBukuBelch E.George and Belch A. Michael,2001, Introduction to Advertasing andPromotions an Interegated Marketing Communications Perspective, New Yor; :Mc Graw HillDeVito,Joseph.1997.Komunikasi Antar Manusia. Jakarta : Professional BookEffendy, Onong Uchjana. 2002, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT.Remaja Rosda KaryaLarson,Charles U.2009.Persuasion: Reception andResponsibility.California:Wadsworth Publishing CompanyLerbinger,Otto.2003.Design for Persuasive Communication. Yogyakarta;PustakaPelajarLittlejohn, Stephen W.2009.Teori Komunikasi ( Theories of Human Communication).Jakarta: Salemba HumanikaSissors, Jack Z. and Bumba, Lincoln. (1996). Advertising and Media Planning, (5thed.). USA: Ntc Business BookSumber lainData Statistik kota Semarang tahun 2009Data keanggotaan klub Porserosi kota Semarang 2012
Hubungan Terpaan Informasi Politik Partai NasDem di Televisi dan Komunikasi di dalam Kelompok Referensi Terhadap Preferensi Memilih Partai NasDem Mufti, Zulfikar; Pradekso, Tandiyo; Santosa, Hedi Pudjo
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.079 KB)

Abstract

PENDAHULUAN Saat ini, kehidupan masyarakat seakan tidak bisa luput dari informasi.Dimanapun tempat beraktivitas, akan selalu ditemui informasi baik dengansengaja ataupun tidak. Informasi hadir dengan beragam bentuk kepadamasyarakat, baik yang melalui media cetak, elektronik, maupun konvensional.Dari sekian banyak pilihan saluran komunikasi yang ada, televisi adalahsalah satu media yang menjadi pilihan favorit masyarakat. Hal itu tidak bisadilepaskan dari kelebihan – kelebihan media televisi yakni dalam segi audiovisual, baik suara, gerak, dan gambar. Kelebihan inilah yang kemudian membuatinformasi yang disampaikan melalui televisi menjadi lebih menarik dan memilikidampak yang lebih besar kepada audiencenya.Seiring perkembangan zaman, media televisi tidak hanya menjadi salurankomunikasi bagi pesan – pesan komersil, tetapi juga pesan – pesan yangmengandung informasi politik pun kini sudah banyak menghiasi layar televisikita. Pesan – pesan politik yang sering muncul di televisi paling sering dikemasdalam bentuk iklan dan berita.Informasi politik yang sering hadir di televisi saat ini adalah informasitentang partai Nasional Demokrat atau yang sering disingkat NasDem, informasiyang ditampilkan dikemas dalam dua bentuk yaitu berita dan iklan politik.Menariknya, partai ini di danai oleh Surya Paloh yang juga merupakanpemilik dari stasiun televisi MetroTV. Bahkan belakangan Harie Tanoesodibyoyang juga pemilik MNC Group yang terdiri dari RCTI, Global TV, dan MNC TVpun merapat ke partai Nasdem dengan jabatan sebagai ketua dewan pakar. Olehsebab itu, tak dapat dihindari bagaimana informasi politik tentang partai NasDemkerap kali bermunculan di beberapa stasiun televisi yang telah disebutkan di atas.Perubahan yang sangat signifikan pada pemilu di era reformasi adalahrakyat langsung bisa memilih para calon wakil – wakilnya yang akan duduk diDPR, kemudian Presiden, Gubernur, Bupati maupun walikota. Sayangnya dilainpihak, angka partisipasi masyarakat dalam setiap perhelatan politik lima tahunantersebut selalu mengalami penurunan. Individu - individu yang tidak ikutberpartisipasi dalam pemilihan umum ini sering disebut dengan sebutan “golput”atau golongan putih. (http://kanalpemilu.net/?q=node/800).\Salah satu kelompok sosial di masyarakat yang rentan untuk menjadigolput adalah mahasiswa, hal ini karena tingkat pendidikan yang dimilikimahasiswa untuk cenderung bertindak secara rasional dalam menentukan sikappolitiknya, sikap golput ini karena tidak ada pilihan calon yang layak dan bersihuntuk dipilih sehingga mahasiswa menentukan untuk golput, selain itu mahasiswacenderung bersikap apatis, apolitis dan kritis terhadap pemilu, serta merupakankelompok yang biasanya teralienasi dari sistem atau proses politik yang ada.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji hubungan terpaan informasipolitik partai NasDem di televisi dan komunikasi di dalam kelompok referensiterhadap preferensi memilih.Tipe yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe explanatory(penjelasan) yang dimaksudkan untuk mengetahui hubungan diantara variabelbebas dan variabel terikat dari tema penelitian. Penelitian explanatory digunakanuntuk menjelaskan hubungan atau korelasi antara terpaan informasi politik partaiNasDem di televisi sebagai variabel independen pertama, dan komunikasi dalamkelompok referensi sebagai variabel independen kedua, dengan preferensimemilih sebagai variabel dependen.PEMBAHASANDalam berkomunikasi minimal akan tiga unsur yang langsung terlibat,yakni communicator, message, dan communicant. Komunikasi yang dilakukanakan selalu menimbulkan effect seperti apa yang dijabarkan oleh Harold Laswellbahwa komunikasi adalah siapa mengatakan apa, melalui apa, kepada siapa, danapa akibatnya ( Cangara, 2009 : 19). Efek terjadi sebagai dampak atau timbalbalik atas pesan yang diterima individu baik secara sengaja maupun tidakdisengaja. Efek pada komunikasi massa dapat dilihat dari adanya suatu perubahanyang terjadi sebagaimana yang diinginkan komunikator, seperti pengetahuan,sikap, dan perilaku, atau bahkan ketiganya ( Wiryanto, 2000 : 39).Karena dalam penelitian ini media massa tidak menjadi variabel tunggaldalam mempengaruhi sikap, maka diperlukan model efek terbatas yangmenjelaskan ada hubungan faktor lain secara psikologis dan sosial yangmempengaruhi sikap. Penelitian Joseph Klapper melaporkan tentang efek mediamassa dalam hubungannya dengan pembentukan dan perubahan sikap, yaitu :1. Pengaruh komunikasi massa dikarenakan oleh faktor – faktor sepertipredisposisi persona, proses selektif, keanggotaan kelompok atau disebutjuga faktor personal.2. Karena faktor – faktor ini, komunikasi massa biasanya berfungsimemperkokoh sikap dan pendapat yang ada , walaupun kadang – kadangberfungsi sebagai media pengubah (agent of change)3. Bila komunikasi massa menimbulkan perubahan sikap, perubahan kecilpada intensitas sikap lebih umum terjadi daripada ”konversi” (perubahanpada seluruh sikap) dari satu sisi masalah ke sisi yang lain.4. Komunikasi massa cukup efektif dalam mengubah sikap bidang – bidangdi mana pendapat orang lemah.5. Komunikasi massa cukup efektif dalam menciptakan pendapat tentangmasalah – masalah baru bila tidak ada presdiposisi yang harus dipengaruhi(Rakhmat, 2005 : 232).Joseph Klapper dalam buku The Effect of Mass Communicationmenunjukkan temuan yang menarik, bahwa faktor psikologis dan sosial ikutberpengaruh dalam proses penerimaan pesan dari media massa. Faktor – faktortersebut antara lain proses seleksi, proses kelompok, norma kelompok, dankeberaan pemimpin opini (Nurudin, 2003 : 208). Media massa bukan hanya faktortunggal dalam dalam perubahan sikap, kelompok adalah psikologis yang dapatmempengaruhi individu.Dari hasil uji statistik korelasi Rank Kendal diketahui bahwa hipotesisyang menyatakan terdapat hubungan antara terpaan informasi politik partaiNasDem di televisi (X1) terhadap preferensi memilih partai NasDem (Y) di tolak.Artinya bahwa tinggi rendahnya terpaan informasi politik partai NasDem ditelevisi yang menerpa responden, tidak semerta – merta membuat respondencenderung untuk memilih partai NasDem.Bittner ( dalam Nurudin, 2007 : 211) mengungkapkan fokus utama efekmedia adalah tidak hanya bagaimana media mempengaruhi audience, tetapibagaimana juga audience mereaksi pesan – pesan media yang sampai padadirinya. Faktor interaksi yang terjadi antar individu akan mempengaruhi pesanyang diterima. Dalam kaitannya dengan penelitian ini adalah bagaimanaresponden memberikan respon terhadap informasi politik partai NasDem yangditerimanya melalui media televisi, responden sebagai individu juga tidak terlepasdari interaksi dengan kelompok referensinya yang membentuk sikap respondendalam mengurai terpaan informasi partai NasDem yang diterimannya.Nurudin ( 2007 : 225 – 226) menyatakan ada dua alasan yangmengakibatkan efek terbatas media massa bisa terjadi, yaitu :1. Rendahnya terpaaan media massaMcQuail (dalam Rakhmat, 2004 : 199) mengatakan bahwa makinsempurna monopoli komunikasi massa, makin besar kemungkinan perubahanpendapat dapat ditimbulkan pada arah yang dikehendaki.2. Perlawanan individu dalam menerima pesan mediaMcQuail (dalam Rakhmat, 2004 : 199) mengatakan bahwapemilihan dan penafsiran isi oleh khalayak dipengaruhi oleh pendapat dankepentingan yang ada dan oleh norma – norma kelompok.Setelah dilakukan pengujian, dapat diinterpretasikan bahwahipotesis yang menyatakan terdapat hubungan komunikasi di dalam kelompokreferensi (X2) terhadap preferensi memilih partai NasDem (Y) diterima. Artinyabahwa tinggi rendahnya komunikasi di dalam kelompok referensi akan ikutmempengaruhi preferensi memilih partai NasDem.Kelompok rujukan adalah alat ukur yang digunakan untuk menilai dirisendiri atau untuk membentuk sikap. konformitas di dalam kelompok membuatkelompok rujukan menjadi sangat efektif dalam membentuk sikap individu(Rakhmat, 2004: 149).Selain media massa, saluran informasi politik dapat melalui komunikasi didalam kelompok (Maran, 2001 : 165). Interaksi yang sering terjadi membuathubungan mereka menjadi lebih akrab satu sama lain. Komunikasi yang terjadidalam kelompok ini adalah menggunakan dua arus komunikasi, yang pada tahappertama pemimpin – pemimpin opini di kelompok akan menguraikan danmenyaring pesan – pesan yang masuk, kemudian disebarkan kepadakelompoknya.Saluran informal dalam kelompok penting karena tiga hal, yaitu pertama :sebagai saluran informasi yang aktual; kedua, sebagai sumber tekanan sosial atasindividu untuk mematuhi berbagai norma tingkah laku; dan ketiga, sebagaisumber dukungan atas norma – norma yang berguna bagi keutuhan dalamkelompok (Maran, 2001 : 166).Setelah dilakukan uji korelasi, dapat diinterpretasikan bahwa hipotesisyang menyatakan terdapat hubungan antara terpaan informasi politik partaiNasDem di televisi (X1) dan komunikasi didalam kelompok referensi (X2)terhadap preferensi memilih partai NasDem (Y) di terima. Artinya bahwa terpaaninformasi politik partai NasDem dan komunikasi dalam kelompok referensi dapatmempengaruhi preferensi memilih partai NasDem, sekalipun kedua variabeltersebut tidak dapat secara mutlak membentuk preferensi memilih.Preferensi memilih dalam pemilihan umum, selain dipengaruhi olehInformasi Politik juga dipengaruhi oleh hubungan interpersonal yang membentukkomunikasi dalam kelompok.Terpaan informasi politik partai NasDem dan komunikasi di dalamkelompok referensi membutuhkan sebuah tahapan atau proses agar sampai padasikap preferensi memilih partai NasDem. Kelman (dalam Azwar, 2005 : 55)mengungkapkan teorinya mengenai organisasi sikap dengan menekankankonsepsinya mengenai proses yang sangat berguna dalam memahami fungsipengaruh sosial terhadap perubahan sikap. Tiga proses sosial yang berperan dalamperubahan sikap adalah kesediaan, identifikasi, dan internalisasi.Pada akhirnya, penelitian ini menunjukkan bahwa variabel terpaaninformasi politik partai NasDem di televisi dan variabel komunikasi di dalamkelompok referensi bahwa memiliki hubungan dengan variabel memilih partaiNasDem, namun kedua varibael tersebut tidak secara mutlak menjadi faktorpenentu bagi individu untuk memilih partai NasDem. Masih terdapat faktor lainjuga yang dapat mempengaruhi preferensi seseorang, yakni sikap, nilai,kepercayaan, bidang – bidang pengalaman dan hubungan – hubunganinterpersonal pada proses penerimaan, pengelolaan, dan penyampaian informasi.Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan Klapper (dalam McQuail, 1987 :236) sebagai pendekatan fenomenistik yaitu pendekatan yang memandang mediasebagai pengaruh yang berfungsi di tengah – tengah pengaruh lainnya di dalamsuatu situasi menyeluruh.PENUTUPKesimpulan :1. Tidak terdapat hubungan antara terpaan informasi politik partai NasDemdi televisi terhadap preferensi memilih partai NasDem.2. Terdapat hubungan positif antara komunikasi di dalam kelompok referensi(terhadap preferensi memilih partai NasDem.3. Terdapat hubungan positif antara terpaan infromasi politik partai NasDemdi televisi dan komunikasi di dalam kelompok referensi terhadappreferensi memilih partai NasDem.Saran :1. Partai NasDem harus bisa mendesain ruang komunikasi politik selainmelalui media televisi, agar informasi politik yang disampaikan dapatmempengaruhi preferensi memilih partai NasDem.2. Partai NasDem perlu mentransfer informasi politik kedalam jaringankomunikasi kelompok, karena dari kelompok – kelompok itulah yangterbukti sangat berpengaruh terhadap preferensi individu memilih partaiNasDem.Daftar PustakaAzwar, Saifuddin. 2005. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta :Pustaka Pelajar.Cangara, Hafied. 2009. Komunikasi Politik : Konsep, Teori, dan Praktek. Jakarta :Raja Grafindo Persada.Maran, Rafael Raga. 2001. Pengantar Sosiologi Politik. Jakarta : Rineka Cipta.Mc Quail, Denis. 1987. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : Erlangga.Nurudin. 2007. Komunikassi Massa. Malang : Gespur.Rakhmat, Jalaludin. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya.Wiryanto. 2000. Teori Komunikasi. Jakarta : Grasindo.
KEKERASAN SIMBOLIK TERHADAP PEREMPUAN DALAM TAYANGAN KOMEDI OPERA VAN JAVA Putri, Alfdian Wizqi; Sunarto, Dr.; Lestari, Sri Budi
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

KEKERASAN SIMBOLIK TERHADAP PEREMPUAN DALAM TAYANGAN KOMEDI OPERA VAN JAVAAlfdian Wizqi PutriABSTRACTMass media especially television is one of the medium that used to convey the message. The successful comedy show that being broadcast on Trans7, Opera van Java, give us the potrayal of symbolic violence towards women. How the manifestation of symbolic violence in comedy show will strengthen the dominant ideology that exist in the society.The purpose of this study is to see the manifestation of symbolic violence towards women in comedy show and the background ideology of the symbolic violence. Theories that used in this study are standpoint theory and sosialist feminist theory. Researcher tried to find the meanings that shown in this comedy show through semiotics analysis by Roland Barthes, include the lexias and five major codes.The results of this study indicate that symbolic violence towards women was manifested to stereotypes, domestication and sexual objectification towards women. Women stereotypes that represent through this show are in the domestic space, role as the wife and mother, responsible on houseworking, take care of the husband and children, weak, passive, dependent, don’t have ability to take decisions, as sexual object/symbol and as the object of sexual abuse. Domestication towards women separates women from public space, make the house as the proper place for women. Sexual objetification reducts women ability to be passive and gender object (passion, exploitation, abuse). Symbolic violence towards women was based on patriarchy and capitalism ideology. Therefore, we need to destruct both patriarchy and capitalism to release women from the oppression.Key words: television, comedy, women, symbolic violencePENDAHULUANSemakin banyaknya program yang disajikan oleh stasiun-stasiun televisi swasta diharapkan dapat menambah pilihan tontonan yang bermanfaat bagi para pemirsanya. Akan tetapi, televisi sekarang ini lebih banyak menyajikan konten hiburan, salah satunya yaitu tayangan komedi. Hal yang disayangkan adalah bahwa komedi televisi banyak sekali mengandung konten kekerasan simbolik terhadap perempuan.Kekerasan simbolik merupakan kekerasan yang bekerja pada sekelompok individu tidak secara fisik, melainkan secara simbolik. Dapat berupa pengingkaran diri, diperlakukan inferior atau dibatasi aspirasinya. Pada relasi gender, kekerasan simbolik cenderung terjadi dalam bentuk penyangkalan hak perempuan dan pemberian keuntungan atau keistimewaan bagi laki-laki (Bourdieu, 2002: xvi).Opera van Java merupakan salah satu tayangan komedi yang menyajikan kekerasan simbolik terhadap perempuan. Perempuan digambarkan secara subordinat dan inferior melalui penokohan, alur cerita, serta adegan-adegan yang ditayangkan. Perempuan yang sering menghiasi tayangan komedi OVJ memang seringkali dijadikan objek untuk membuat guyonan-guyonan yang mampu mengundang tawa pemirsanya. Berhubungan dengan hal tersebut, penelitian ini berusaha untuk mengkaji beberapa permasalahan, yaitu mengapa perempuan seringkali menjadi objek kekerasan simbolik dalam komedi? Bagaimana bentuk-bentuk kekerasan simbolik yang terjadi? Serta apakah ideologi dominan yang melandasi kekerasan yang terjadi?Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana bentuk kekerasan simbolik terhadap perempuan dalam tayangan komedi Opera van Java dan membongkar ideologi gender dominan yang melatarbelakanginya.METODA PENELITIANTipe penelitian ini adalah deskriptif dengan metode kualitatif. Analisis dilakukan dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Subyek penelitian adalah salah satu episode tayangan komedi Opera van Java berjudul “Banyak Anak Banyak Rezeki???” yang ditayangkan di Trans7.HASIL PENELITIANMelalui analisis sintagmatik yang meliputi aspek (1) kerja kamera, (2) setting dan kostum, (3) dialog, serta (4) karakter, maka dipilih 20 adegan penting yang dapat memberikan makna mengenai kekerasan simbolik terhadap perempuan dalam tayangan komedi Opera van Java, yaitu adegan nomor 2, 4, 5, 7, 8, 9, 11, 12, 14, 16, 18, 19, 20, 21, 25, 28, 29, 30, 39 dan 50. Selanjutnya, peneliti melakukan analisis paradigmatik dengan menggunakan lima kode pembacaan Roland Barthes yang meliputi kode hermeneutika, kode proarietik, kode simbolik, kode kultural dan kode semik untuk melakukan pemaknaan lebih mendalam di balik penyajian adegan-adegan tersebut.Hasil dari analisis kode hermeneutika dalam tayangan ini menggambarkan perempuan, sebagai istri dan ibu, adalah individu yang tempatnya di rumah, jauh dari sektor produksi. Masalah-masalah yang dihadapi perempuan adalah masalahrumah tangga, seperti mengurus anak, melayani suami dan masalah ekonomi yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Kemudian, perempuan digambarkan sebagai sosok yang bergantung dan tidak dapat menyelesaikan masalah.Hasil dari analisis proarietik menunjukkan bahwa kekerasan simbolik terhadap perempuan yang terjadi melalui domestikasi dan objektifikasi seksualitas perempuan. Selain itu, perempuan juga dimunculkan dengan stereotip tertentu, seperti berada di rumah, berperan sebagai istri dan ibu, mengurus rumah tangga, melayani suami dan mengasuh anak, lemah, pasif, patuh, bergantung pada laki-laki (suami), tidak mampu membuat keputusan sendiri, sebagai obyek seksual/simbol seks dan obyek pelecehan.Kekerasan simbolik terhadap perempuan berdampak pada kondisi psikis, ekonomi serta sosial perempuan. Dari segi psikologis, efek yang ditimbulkan adalah ketidaknyamanan bahkan kemarahan. Dari segi ekonomi, perempuan bergantung kepada laki-laki secara finansial. Kemudian dari segi sosial, posisi perempuan selalu inferior terhadap laki-laki. Kekerasan simbolik terhadap perempuan berdampak pada semakin langgengnya dominasi laki-laki dalam masyarakat.Hasil dari analisis kode simbolik menunjukkan bahwa simbol-simbol yang ditampilkan merujuk kepada suatu simbol dominan yaitu simbol dominasi laki-laki. Tayangan ini menampilkan laki-laki sebagai sosok yang dominan, baik darisegi ekonomi, posisinya sebagai kepala keluarga yang harus dihormati dan dilayani, maupun tindakan-tindakan kekerasan yang menunjukkan dominasi.Hasil dari analisis kode kultural merujuk pada satu budaya patriarki. Perempuan, baik dalam status sosial tinggi maupun rendah, sama-sama terdominasi oleh kuasa laki-laki. Dominasi laki-laki ini diperlihatkan melalui kepatuhan, pelayanan, serta kebergantungn seorang istri terhadap suami. Selain itu, dominasi laki-laki juga ditunjukkan dalam bentuk kekerasan seksual terhadap perempuan.Hasil dari analisis kode semik adalah kekerasan simbolik terhadap perempuan terjadi secara alami dan tanpa disadari. Kekerasan simbolik terjadi melalui mitos-mitos yang ada dalam masyarakat yang menentukan peran yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan. Kekerasan simbolik yang terjadi terhadap perempuan merupakan bentuk dari dominasi ideologi kapitalisme dan patriarki.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekerasan simbolik terhadap perempuan dalam tayangan komedi Opera van Java terjadi dalam bentuk stereotype, domestikasi dan objektifikasi perempuan. Selain itu, peneliti juga menemukan bahwa kekerasan simbolik yang terjadi dilatarbelakangi oleh ideologi patriarki dan kapitalisme.PEMBAHASANPenelitian ini mengindikasikan adanya kekerasan simbolik terhadap perempuan dalam berbagai bentuk. Menurut penjelasan Bourdieu (2002: xvi),kekerasan simbolik merupakan kekerasan yang bekerja pada sekelompok individu tidak secara fisik, melainkan secara simbolik. Dapat berupa pengingkaran diri, diperlakukan inferior atau dibatasi aspirasinya. Pada relasi gender, kekerasan simbolik cenderung terjadi dalam bentuk penyangkalan hak perempuan dan pemberian keuntungan atau keistimewaan bagi laki-laki.Kekerasan simbolik terhadap perempuan dalam tayangan ini dapat ditemukan dalam bentuk stereotiping, domestikasi dan objektifikasi. Perempuan dalam tayangan ini digambarkan melalui sifat-sifat tertentu yang menegaskan stereotype gender perempuan dalam masyarakat, demikian halnya dengan laki-laki. Sosok perempuan ditampilkan berada di rumah, berperan sebagai istri dan ibu, mengurus rumah tangga, melayani suami dan mengasuh anak, lemah, pasif, patuh, bergantung pada laki-laki (suami), tidak mampu membuat keputusan sendiri, sebagai obyek seksual/simbol seks dan obyek pelecehan. Sedangkan laki-laki ditampilkan bekerja, sebagai pemimpin, dominan, kompetitif, mandiri, dilayani, dipatuhi dan sebagai tempat bergantung (istri dan anak-anak).Penggambaran tersebut mengarahkan pada adanya pembagian sifat-sifat maskulin dan feminin. Menurut Bem (dalam Sunarto, 2009: 155-156), stereotype yang dilekatkan kepada kaum perempuan adalah karakter afeksi, gembira, menyukai anak, penuh kasih sayang, tidak berbahasa kasar, mempunyai hasrat besar untuk menyejukkan perasaan yang terluka, feminin, dapat memuji, lemah lembut, mudah tertipu, cinta anak-anak, setia, sensitif terhadap kebutuhan orang lain, malu, bicara halus, simpatik, sabar, pengertian, hangat dan mengalah. Sedangkan kaum laki-laki adalah sebagai pemimpin, agresif, ambisius, atletik,asertif, atletik, kompetitif, mempertahankan keyakinan, dominan, kuat, mempunyai kemampuan kepemimpinan, bebas, individualistik, mudah membuat keputusan, maskulin, percaya diri, mandiri, kepribadian kuat, kemauan bertanggung jawab dan kemauan mengambil resiko.Meskipun demikian, ada juga sifat-sifat maskulin yang melekat pada tokoh perempuan, misalya ekspresi emosi dengan bentuk kemarahan dan kata-kata kasar. Namun, ekspresi ini merupakan efek dari ketidakpuasan perempuan. Selain itu, sikap kasar dan tidak patuh seorang istri terhadap suami dianggap sebagai sesuatu yang tidak seharusnya. Karakter ini dianggap sebagai penyimpangan dari peran istri dan ibu “ideal” yang seharusnya. Tayangan ini menekankan peran gender yang seharusnya bagi laki-laki dan perempuan, serta memberikan penilaian baik bagi peran gender yang seharusnya dan penilaian buruk bagi peran gender yang dianggap tidak sesuai.Selanjutnya, kekerasan simbolik dalam tayangan ini juga ditampilkan dalam bentuk domestikasi perempuan. menurut penjelasan Sunarto (2009: 140), domestikasi dipahami sebagai pembiasaan, pemisahan dan depolitisasi kaum perempuan. Paham ini menempatkan ranah rumah tangga sebagai tempat yang layak dan umum bagi kaum perempuan. Melalui analisis terhadap leksia-leksia yang dipilih dapat ditemukan kecenderungan untuk menempatkan perempuan dalam ranah domestik/rumah tangga. Tokoh-tokoh perempuan diceritakan berada di rumah dan dilekatan dengan kewajiban-kewajiban rumah tangga, seperti memasak, mengasuh anak dan melayani suami. Peran perempuan dalam rumah tangga ini merupakan konstruksi sosial yang dilegitimasi oleh negara. Sepertiyang dicantumkan dalam UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, tugas istri sebagai ibu rumah tangga adalah dengan mengatur urusan rumah tangg sebaik-baiknya, sedangkan laki-laki berkewajiban mencari nafkah dan melindungi keluarga.Domestikasi menegaskan inferioritas perempuan dalam masyarakat, membatasi kaum perempuan untuk mengembangkan potensinya, mengeksploitasi tenaga kerja perempuan dan menjadikan perempuan bergantung terhadap laki-laki (suami). Penelitian ini juga menunjukkan bahwa perempuan dari kelas sosial rendah mengalami depresi melalui peran domestiknya. Melalui tokoh Bu Joko, perempuan ditunjukkan lelah dengan pekerjaan domestik yang menyibukkannya. Selain itu, peran domestik yang dibebankan kepada perempuan menjadikannya tidak memiliki akses yang memadai ke tempat kerja sehingga perempuan tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk mensejahterakan hidupnya. Hal ini menjadikan perempuan bergantung kepada suami. Seperti yang diungkapkan Jaggar (dalam Tong, 2008: 171), pekerjaan domestik yang dilakukan oleh perempuan merupakan bentuk eksploitasi laki-laki terhadap tenaga kerja perempuan. Karena perempuan di dalam sistem kapitalis tidak mempunyai akses yang memadai terhadap tempat kerja, untuk menjaga kelangsungan hidupnya, perempuan harus menggantungkan diri secara finansial kepada laki-laki.Kekerasan simbolik terhadap perempuan juga ditampilkan dalam bentuk objektifikasi seksualitas perempuan. Menurut Sunarto (2009: 140), objektifikasi adalah pereduksian kaum perempuan menjadi pasif dan obyek gender (hasrat, eksploitasi, siksaan) daripada menampilkan perempuan sebagai subyek manusiasepenuhnya. Perempuan digambarkan sebagai obyek kesenangan laki-laki dan obyek pelecehan seksual. Penggambaran tersebut menampilkan bahwa perempuan hanya dilihat dari seksualitasnya.Kekerasan simbolik terhadap perempuan dalam tayangan ini kemudian mempertanyakan ideologi dominan yang melatarbelangi praktik kekerasan simbolik yang terjadi. Hal yang menarik didiskusikan dalam penelitian ini yang pertama adalah mengenai penggambaran keluarga sebagai suatu bentuk unit kapitalisme patriarkal. Ideologi kapitalisme patriarkal ini ditunjukkan melalui pembagaian kerja secara seksual. Tokoh perempuan dalam tayangan ini digambarkan sebagai ibu rumah tangga yang kegiatannya berada di rumah, mengurus suami dan merawat anak. Sedangkan laki-laki dewasa digambarkan sebagai kepala keluarga yang bertugas mencari nafkah di luar rumah.Pada zaman prakapitalis, menurut Young (dalam Tong, 2008: 181), perkawinan adalah suatu “rekanan”ekonomi antara laki-laki dan perempuan. Mereka bekerja berdampingan dalam bisnis yang berpusat di rumah. Kapitalisme kemudian muncul dan menciptakan suatu batasan antara tempat kerja dan rumah, mengirimkan laki-laki ke luar menuju tempat kerja sebagai tenaga kerja primer dan memenjarakan perempuan di rumah sebagai tenaga kerja sekunder. Peran istri ini kemudian juga dilihat sebagai fungsi pelaksana reproduksi istri dalam menyediakan tenaga kerja bagi kaum kapitalis. Para istri berperan untuk menjaga stamina tenaga kerja agar siap bekerja kembali keesokan harinya melalui perawatan dan pelayanan kepada suami-suami mereka. Dalam sistem patriarkisme dan kapitalisme, semua yang dilakukan perempuan sebagai pelaksana reproduksitenaga kerja dan calon tenaga kerja merupakan suatu kondisi yang normal dan wajar (Sunarto, 2009: 37-38). Posisi perempuan dalam keluarga dan sistem pembagian kerja secara seksual yang bekerja dalam keluarga menjadikan perempuan tersubordinasi, tidak dapat mengembangkan dirinya, serta menjadikannya lemah dan bergantung kepada laki-laki.Temuan yang menarik selanjutnya adalah bekerjanya ideologi patriarkal kapitalisme ini dalam bentuk perendahan derajat perempuan melalui objektifikasi terhadap seksualitas perempuan. Sosok perempuan yang ditampilkan cantik dan menarik sehingga menjadikannya obyek untuk dinikmati secara visual, digoda, dan bahkan dilecehkan oleh para laki-laki. Hal tersebut sejalan dengan penjelasan Tong (2008: 172) bahwa dalam kapitalisme, seksualitas perempuan menjadi komoditi. Tidak heran bila banyak konten televisi yang mempertontonkan seksualitas perempuan sebagai daya tarik.Penelitian ini menunjukkan dominasi ideologi patriarki yang juga merujuk kepada sistem kapitalis yang ada dalam masyarakat. Melalui pandangan tersebut, peneliti menemukan bahwa kekerasan simbolik terhadap perempuan dalam tayangan ini dilatarbelakangi oleh ideologi patriarki dan kapitalisme yang bekerja bersamaan untuk mengopresi perempuan. Hal ini sejalan dengan pemikiran feminis sosialis yang menyatakan bahwa sumber opresi perempuan terletak pada kaitan antara kedua ideologi ini dan pembebasan kaum perempuan dari ketertindasan hanya dapat terjadi apabila kedua ideologi ini hancur.PENUTUPSimpulanKekerasan simbolik dalam tayangan Opera van Java episode “Banyak Anak Banyak Rezeki???” ditampilkan dalam bentuk stereotype, domestikasi dan objektifikasi seksualitas perempuan. Bentuk kekerasan simbolik yang pertama adalah stereotype perempuan. Tokoh perempuan dalam tayangan ini digambarkan berada di rumah, berperan sebagai istri dan ibu, mengurus rumah tangga, melayani suami dan mengasuh anak, lemah, pasif, patuh, bergantung pada laki-laki (suami), tidak mampu membuat keputusan sendiri, sebagai obyek seksual/simbol seks dan obyek pelecehan.Bentuk kekerasan simbolik yang kedua adalah domestikasi perempuan. Tokoh perempuan dalam tayangan ini digambarkan dengan tugas-tugas rumah tangga, seperti melayani suami, merawat anak dan mengurus keperluan rumah tangga. Melalui domestikasi, perempuan terpinggirkan dari ranah publik sehingga tidak dapat mengembangkan potensinya.Selanjutnya, kekerasan simbolik dimunculkan dalm bentuk obyektifikasi seksualitas perempuan. Tokoh perempuan dalam tayangan ini sering menjadi obyek kesenangan para laki-laki, baik sebagai obyek tatapan, godaan, rayuan, bahkan pelecehan secara fisik melalui pelukan atau ciuman. Penggambaran tersebut menampilkan bahwa eksistensi perempuan hanya dilihat dari segi seksualitasnya saja, yaitu untuk kesenangan laki-laki.Penggambaran perempuan dalam tayangan ini merujuk pada suatu bentuk ketimpangan gender dalam masyarakat. Perempuan digambarkan subordinat terhadap laki-laki. Kekerasan simbolik yang ditampilkan dalam tayangan ini dilihat sebagai suatu bentuk penegasan dominasi patriarki dan kapitalisme yang ada dalam masyarakat. Dengan demikian, pembebasan perempuan dari opresi hanya dapat dilakukan melalui penghancuran kedua ideologi dominan ini.RekomendasiSecara teoritis, pernelitian ini berusaha memberikan kontribusi dan gagasan ilmiah, serta memperkaya pengetahuan mengenai kekerasan simbolik terhadap perempuan unruk menunjang kemajuan disiplin ilmu komunikasi, khusunya di bidang komunkasi gender. selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi referensi untuk dilakukannya penelitian lebih lanjut terkait masalah yang dialami perempuan sebagai kelompok marginal.Secara praktis, penelitian ini diharapkan memberi pemahaman bagi para praktisi industri media massa, khususnya televisi mengenai ketimpangan relasi kekuasaan gender yang terjadi melalui penggambaran perempuan dalam media massa. Para praktisi diharapkan lebih memperhatikan kepentingan kaum permepuan agar dapat melakukan pemberitaan atau penggambaran yang layak dan berimbang mengenai perempuan. Dengan demikian, tidak memperkuat ideologi dominan yang menekan kepentingan kaum perempuan yang minoritas.Secara sosial, penelitian ini berusaha mengungkap kekerasan simbolik yang dialami perempuan dalam masyarakat sebagai dampak dari ideologidominan patriarki. Khalayak diharapkan dapat berpikir kritis dan terus mempertanyakan problematika yang dialami oleh perempuan, seperti berbagai bentuk diskriminasi yang dialami perempuan dalam masyarakat. Terwujudnya masyarakat yang memiliki kesadaran gender diharapkan menciptakan masyarakat dengan keseimbangan gender.DAFTAR PUSTAKASumber Buku:Ardianto, Elvinaro, Lukiati Komala dan Siti Karlinah. (2007). Komunikasi Massa: Suatu Pengantar Edisi Revisi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.Arivia, Gadis. (2006). Feminisme: Sebuah Kata Hati. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.Bourdieu, Pierre. (2010). Dominasi Maskulin. Yogyakarta: Jalasutra.Budiman, Arief. (1982). Pembagian Kerja Secara Seksual. Jakarta: Penerbit PT Gramedia.Burton, Graeme. (2007). Membincangkan Televisi. Yokgayakarta dan Bandung: Jalasutra.Byerly and Ross. (2006). Women and Media: A Critical Introduction. USA: Blackwell Publishing Ltd.Edwards. Tim. (2006). Cultures of Masculinity. New York: Toutledge Taylor & Francis Group.Feldman, Sylvia D. (1974). The Rights of Women. New Jersey: Hyden Book Company, INC.Fiske, John. (2011). Cultural and Communication Studies. Yogyakarta: Jalasutra.Griffin, Em. (2012). A First Look At Communication Theory Eight Edition. New York: The McGraw-Hill Companies, Inc.K. Denzin dan Yvonna S. Lincoln. (2009). Handbook of Qualitative Research. Thousand Oaks, California: SAGE PublicationsKurniawan, Heru. (2009). Sastra Anak: dalam Kajian Strukturalisme, Sosiologi, Semiotika, hingga Penulisan Kreatif. Yogyakarta: Graha Ilmu.Littlejohn, Stephen W dan Karen A. Foss. (2009). Teori Komunikasi Edisi 9. Jakarta; Penerbit Salemba Humanika.Mangunhardjana, Margija. (1976). Mengenal Film. Yogyakarta: Yayasan Kanisius.Maryati, Kun dan Juju Suryawati. (2007). Sosiologi. Jakarta: Penerbit Erlangga.Moleong, Lexy J. (2007). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja RosdakaryaNaratama. (2004). Menjadi Sutrada Televisi. Jakarta: Grasindo.Ollenburger, Jane C and Helen A. Moore. (1996). Sosiologi Wanita. Jakarta: PT Rineka Cipta.Pratista, Himawan. (2008). Memahami Film. Yogyakarta: Homerian Pustaka.Rianto, Puji dkk. (2012). Dominasi TV Swasta (Nasional), Tergerusnya Keberagaman Isi dan Kepemilikan. Yogyakarta: PR2Media &Yayasan Tifa.Richardson, Diane dan Victoria Robinson. (1993). Introducing Women’s Studies: Feminist Theory and Practice. London: The Macmillan Press Ltd.Richmond-Abbott, Marie. (1992). Masculine and Feminine: Gender Roles over the Life Cycle. USA: McGraw-Hill, Inc.Siahaan, N.H.T. (2004). Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan. Jakarta: Penerbit Erlangga.Subroto, Darwanto Sastro. (1994). Produksi Acara TV. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.Sumarno, Marselli. (1996). Dasar-Dasar Apresiasi Film. Jakarta: Grasindo.Sunarto. (2000). Analisis Wacana: Ideologi Jender Media Anak-Anak. Semarang: Mimbar bekerjasama dengan Yayasan Adikarya Ikapi dan Ford Foundation.Sunarto. (2009). Televisi, Kekerasan, dan Perempuan. Jakarta: Kompas.Suryochondro. Sukanti. (1984). Potret Pergerakan Wanita di Indonesia. Jakarta: CV. Rajawali bekerja sama dengan Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial (YIIS).Thornham, Sue. (2007). Women, Feminism and Media. Edinburgh: Edinburgh University Press Ltd.Tong, Rosemarie Putnam. (2008). Feminist Thought : Pengantar Paling Komprehensif kepada Arus Utama Pemikiran Feminis. Yogyakarta: Jalasutra.Waluya, Bagja. (2007). Sosiologi: Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat. Bandung: PT Setia Purna Inves.Waluyo, Herman J. (1994). Pengkajian Cerita Fiksi. Surakarta: Sebelas Maret University Press.Webb, Jenn dkk. (2002). Understanding Bourdieu. New South Wales: Allen & Unwin.West dan Turner. (2007). Introducing Communication Theory: Analysis and Application. USA: McGraw-Hill, Inc.Widagdo, M. Bayu dan Winastawan Gora S. (2007).Bikin Film Indie Itu Mudah! Yogyakarta: Penerbit Andi.Sumber Lain:Diannita, Yustin. (2009). Sensualitas Perempuan dalam Iklan Axe Effect – Call Me di Televisi. Skripsi. Universitas Diponegoro.Widyastuti, Diahrani. (2002). Komodifikasi Tubuh Perempuan dalam Tayangan Iklan Televisi (Studi kualitatif pada Iklan Minuman Kesehatan). Skripsi. Universitas Diponegoro.Noristania, Harlin Dyah. (2012). Representasi Kekerasan Verbal Terhadap Perempuan Janda (Analisis Semiotika Film Ku Tunggu Jandamu). Skripsi. Universitas Diponegoro.Astuti, Indri. (2010). Menginterpretasikan Kekerasan Dalam Tayangan Komedi (Analisis Resepsi Terhadap Tayangan Opera van Java di Trans 7). Skripsi. Universitas Diponegoro.Sumber Internet:Trans 7. (2011). Opera van Java Episode “Banyak Anak Banyak Rezeki???”. Diakses pada tanggal 8 Oktober 2012 dari http://www.youtube.com/watch?v=QeltOaSbo5E&list=FLoFVJZ2-8cVm4M2RiRixjTg&index=16Trans 7. (2011). Opera van Java “Episode Kisah Cinta Nyi Ayu Rangrang”. Diakses pada tanggal 4 November 2012 dari http://www.youtube.com/watch?v=C_PsDk11OLYTrans 7. (2011). Opera van Java Episode “Madu Tiga”. Diakses pada tanggal 4 November 2012 dari http://www.youtube.com/watch?v=IvPLRHQ9a9kRayendra, Panditio. (2011). Rating Report: OVJ Sahur dan Primetime Dominasi Rating. Diakses pada tanggal 18 Desember 2012 dalam http://www.tabloidbintang.com/film-tv-musik/ulasan/14659-rating-report-ovj-sahur-dan-primetime-dominasi-rating.html
PROGRAM FEATURE PARIWISATA KOTA SEMARANG DENA ADI SANTOSA; Nurul Hasfi; Djoko Setyabudi
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.423 KB)

Abstract

ABSTRAK Peran komunikasi dalam pariwisata, yaitu dalam proses memasarkan produk wisata agardapat menarik perhatian pelanggan untuk menggunakan produk wisata. Dalam melakukankegiatan pemasaran, tentunya seorang komunikator akan menggunakan teknologi atau mediauntuk melakukan kegiatan pemasaran. Misalnya saja melalui media televisi dengan menampilkanatau menayangkan program acara, iklan, dll, yang berhubungan dengan kepariwisataan. Adapunsalah satu bentuk program dari media televisi, yaitu Program Feature. Program Feature adalahsuatu program yang membahas suatu pokok bahasan, satu tema, diungkapkan lewat berbagaipandangan yang saling melengkapi, mengurai, menyoroti secara kritis, dan disajikan denganberbagai format.Komunikasi diperlukan dalam melakukan promosi pariwisata. Dimana komunikasi harusmemiliki minimal 3 unsur agar suatu komunikasi dapat berlangsung dengan baik. 3 unsur yangharus ada dalam sebuah kegiatan komunikasi yaitu : adanya komunikator sebagai pemberiinformasi, adanya pesan yang disampaikan dan adanya komunikan sebagai penerima informasi.Selain 3 unsur tersebut, harus terdapat alat sebagai media perantara pemberi pesan darikomunikator kepada komunikan.Pada karya ini menciptakan sebuah Program Feature dengan format audio-visual padatelevisi, dengan tema mengenai Pariwisata Kota Semarang. Disuguhkan dengan kemasan ataucara penayangan yang kreatif, unik, dan menarik, pariwisata dapat menjadi sebuahentertaintment, warna pilihan pada program acara pada perusahaan media massa Televisi. Tidakseluruhnya pariwisata yang ada, melainkan beberapa obyek wisata. Wisata itu antara lainMuseum Perkembangan Islam di Jawa Tengah, Taman Wisata Air Banjir Kanal Barat, sertawisata kuliner Mie Kopyok dan Jamu Jun. Keempat tema tersebut dikerjakan melalui 3 tahap,yaitu tahap pra produksi, tahap produksi, dan tahap paska produksi. Setelah melalui 3 tahaptersebut, terciptalah sebuah karya program fature yang siap untuk di publikasikan melalui mediatelevisi. Merupakan suatu kesempatan, karena saya mendapatkan ijin tayang pada media televisilokal Cakra Semarang TV. Karya ini dapat di tampilkan pada suatu spot program acara mengenaipariwisata bernama Jateng Exotic.Setelah melalui berbagai proses kerja, karya ini bertujuan untuk memperkenalkan,memberitakan, menginformasikan tempat pariwisata di Kota Semarang. Berupa tempat wisatabersejarah, tempat rekreasi, wista kuliner seperti makanan dan minuman di kota Semarang.Disuguhkan dengan kemasan atau cara penayangan yang kreatif, unik, dan menarik. KaryaBidang ini tayang pada hari Senin, 28 Januari 2013, dan Kamis 31 Januari 2013 di CakraSemarang TV.Kata Kunci : Program Televisi, Feature, PariwisataFEATURES PROGRAM OF SEMARANG CITY TOURISMABSTRACTThe role of communication in tourism, which is in the process of marketing the tourismproducts in order to attract the attention of customers to use the product tour. In conductingmarketing activities, of course, a communicator will use the technology or media to conductmarketing activities. For example, through the medium of television with the show or broadcastprograms, advertising, etc., relating to tourism. As one form of media television program, theProgram Feature. Feature Program is a program that addresses a topic, a theme, expressedthrough a variety of complementary view, parse, highlights critical, and served with a variety offormats.Communication is needed in promoting tourism. Where the communication must have atleast 3 elements that a communication can take place properly. 3 elements that must exist in acommunication activities are: the communicator as a conduit of information, the messagedelivered and the communicant as recipient. In addition to these three elements, there must be atool as its medium of its message to the communicant communicator.In this work creates a Program Feature with audio-visual format on television, with thetheme of Tourism of Semarang. Presented with the packaging or how your creative, unique, andinteresting, tourism can become an entertaintment, color choices on the event program ontelevision media company. Not entirely of tourism, but some of the attractions. Tourism, amongothers, the Museum of Islamic Development in Central Java, Water Park of West Flood Canal, aswell as culinary tours Mie Kopyok and Jamu Jun. The four themes are carried through 3 stages:pre-production phase, the production phase, and the post-production stage. After going throughthe third phase, creating a work program fature are ready to publish in the medium of television.It is an opportunity, as I get permission aired on local television media Chakra Semarang TV.This work can be displayed at a spot on the tourism program named Jateng Exotic.After going through various processes work, this paper aims to introduce, proclaim,inform tourism spot in Semarang. Form of historical attractions, recreation, culinary wista suchas food and beverages in the city of Semarang. Presented with the packaging or how yourcreative, unique, and interesting. The field work of the day aired on Monday, January 28, 2013,and Thursday, January 31, 2013 in Semarang Cakra TV.Keywords: Television Program, Featured, TourismBAB IPENDAHULUANLatar BelakangPeran komunikasi dalam pariwisata, sebagai proses memasarkan produk wisata agardapat menarik perhatian pelanggan untuk menggunakan produk wisata. Dalam melakukankegiatan pemasaran, tentunya seorang komunikator akan menggunakan teknologi atau mediauntuk melakukan kegiatan pemasaran. Misalnya saja melalui media televisi denganmenampilkan atau menayangkan program acara, iklan, dll, yang berhubungan dengankepariwisataan.Informasi dan promosi sangat berkaitan dengan pariwisata, karena pariwisata butuh suatupromosi guna lebih mempopulerkan kelanjutan pariwisata tersebut, disamping itu masyarakatjuga butuh suatu media untuk dapat mengetahui segala bentuk perkembangan pariwisata budayayang ada, oleh karena itu dibuatlah karya program feature pariwisata sebagai salah satu mediayang dapat menjadi suatu wadah yang begitu baik dalam menampilkan segala bentuk programpariwisata budaya. Program ini nanti dapat menunjukkan sebagai acara terstruktur mengenaipariwisata budaya yang memberikan informasi mengenai tempat tujuan wisata kegiatan-kegiatanwisata dan masih banyak yang lainnya dalam program pariwisata budaya. Dengan tampailanyang apik sehingga pemirsa dapat menikmati suguhan acara tersebut dengan nyaman, karenalewat tayangan ini pemirsa ataupun masyarakat dapat lebih paham dan menghargai pariwisatadan budaya di daerah mereka.Selain itu dengan adanya program pariwisata pada televisi ini, media televisi dapatmenjadikan program tersebut sebagai ragam warna program acara pada layar kaca televisimasyarakat. Adanya acara program pariwisata yang di kemas secara apik dan menarik penonton,dapat menjadikan sumber keungan bagi para awak media telvisi swasta khususnya. Karena acarayang menarik dengan rating yang tinggi dapat di jual kepada para pengiklan.Perumusan MasalahBerbagai kendala seperti biaya dan belum adanya minat media untuk mengangkat potensiyang ada pun menghambat berlangsungnya eksistensi potensi tersebut di mata masyarakat.Belum adanya atau kurangnya suatu pemberitaan yang menginformasikan suatu tempat wisata,sejarah, budaya, membuat kurang atau ketidaktahuan masyarakat akan ketertarikan terhadappotensi tersebut. Kurang nya pemberitaan melalui media massa yang ada. Sehingga kurangdikenal atau bahkan tidak dikenal banyak oleh masyarakat. Karena kurang nya publikasimengenai pariwisata di kota Semarang sendiri, mempengaruhi eksistensi produk wisata terhadappara wisatawan.Pada media televisi khusus nya televisi lokal. Program acara sangatlah menentukankualitas dan eksistensi media dalam suatu kariernya. Sehingga adanya media televisi yangmemiliki program acara yang sekiranya kurang baik bagi dampak ataupun manfaatnya, dapatmerefisi ulang program yang ada. Atau adanya perkembangan inovasi program dengan programfeature pariwisata sebagai salah satu pilihan ragam program acara yang dapat di tampilkan.Berdasarkan hal diatas muncul pertanyaan, apakah produksi program feature pariwisatadapat menjadi salah satu ragam acara pada televisi dan dapat menjadi sebuah media promosiyang berguna bagiperkembangan pariwisata di kota Semarang?.TujuanTujuan yang akan dicapai dari pembuatan program feature pariwisata ini adalah untukmemperkenalkan, memberitakan, menginformasikan tempat pariwisata di Kota Semarang.Berupa tempat wisata bersejarah, tempat rekreasi, makanan dan minuman khas kota Semarang.Obyek Peliputan1. Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah2. Normalisasi Banjirkanal Barat - Bendung Simongan, Cagar Budaya yang Terlupakan3. Mie Kopyok Pak Dhuwur4. Jamu Jun Khas SemarangKontribusi Karya1. Memberikan informasi dan gambaran tentang pariwisata, tempat bersejarah, hiburan,budaya, dan kuliner.2. Dalam program feature televisi ini nantinya akan mengungkapkan informasi ataupengetahuan mengenai tempat pariwisata bersejarah Museum Perkembangan IslamJawa Tengah, Cagar Budaya Bendung Simongan, Mie Kopyok Pak Dhuwur dan JamuJun yang merupakan makanan dan minuman khas dari kota Semarang. Sehingga haltersebut di harapkan dapat menjadi masukan bagi pengelola tempat-tempat berpotensiseperti tempat wisata, sejarah, dan budaya untuk tetap terus dilestarikan.3. Menjadikan referensi bagi masyarakat untuk mengetahui dan menjadi salah satu tempattujuan untuk memperoleh hiburan ataupun pengetahuan.TeoriSebuah konsep dari perencanaan komunikasi pemasaran yang memperkenalkan nilaitambah dari rencana komprehensif yang mengevaluasi peran strategis dari berbagai disiplinkomunikasi misalnya periklanan umum, respon langsung, sales promotion, dan PR.Mengombinasikan disiplin-disiplin ini untuk memberikan kejelasan, konsistensi dan dampakkomunikasi yang maksimal. Merupakan IMC (Integrated Marketing Communication). Integratedmarketing communication adalah bagian dari kegiatan marketing yang timbul dikarenakankebutuhan dari produk (Program Feature Pariwisata Kota Semarang) untuk mengkomunikasikandiri kepada target audience atau konsumennya. Suatu produk diciptakan atau diproduksi dengansuatu tujuan marketing yaitu umumnya produk laku dipasaran. Menurut Jerome Mc Carthy(1964) bahwa ada 4 elemen penentu keberhasilan produk di pasar, yaitu dikenal dengan teori 4 P(Product, Price, Place & Promotion).Dalam usaha mencapai tujuan ini salah satu usaha yangdilakukan bahwa Program Feature Pariwisata Kota Semarang tersebut harus dikenal olehkonsumennya. Kegiatan berkomunikasi ini masuk dalam salah satu elemen 4P dalam teori McCarthy yaitu bagian promotion.Format KaryaProgram feature merupakan suatu sajian laporan berupa fakta dan kejadian yang memilikinilai berita (unusual, factual, esensial) dan disiarkan melalui media secara periodik. Suatuprogram acara yang akan di tampilkan pada layar kaca masyarakat, terlebih dahulu terdapatadanya penataan segmen per-segmen di mana merupakan beberapa susunan point yang akan ditampilkan menurut urutannya.Produksi berita feature pariwisata ini memiliki segmen audience sebagai berikut:1. Berada di wilayah Kota Semarang dan sekitarnya, karena tempat pariwisata yang akan diangkat terdapat di wilayah tersebut.2. Wisatawan dan para pelaku dalam Pariwisata yang berhubungan dengan hal-halpariwisata di kota Semarang.3. Setiap pemirsa atau penonton yang memiliki pikiran terbuka, gemar dan memilikiperhatian terhadap hal-hal yang terkait dengan Pariwisata.BAB IICAKRA SEMARANG TV DAN PROGRAM JATENG EXOTICCakra Semarang TelevisiCakra Semarang TV didirikan 9 Mei 2005 dengan maksud sebagai media bagimasyarakat untuk mengekspresikan jati diri kearifan lokal masyarakat semarang khususnya danJawa Tengah pada umumnya, dengan ciri utama dari, oleh, dan untuk kekhasan budaya dan adatSemarang. Kehadiran Cakra Semarang TV diharapkan mampu untuk selalu menumbuhkansemangat masyarakat Semarang untuk mengenali secara lebih lengkap kekayaan kebudayaannya.Dengan semakin mengenal budaya warisan nenek moyang yang telah menjadi keutuhankehidupan sehari-hari, masyarakat Semarang diharapkan mampu menumbuhkan rasa semakincinta dan menghormati serta mengekspresikan dan melestarikan kebudayaannya. Rasa cinta danpenghargaan yang tinggi terhadap nilai budaya, diyakini mampu menjadi spirit bagi masyarakatdalam menjalani sosial masyarakat secara baik dan benar.CAKRA SEMARANG TV tampil dan hadir dengan visi mewujudkan masyarakat yangsejahtera dan harmonis, yakni sebuah cita-cita ideal yang dinamis terjaga identitas, ruang sertaproses budaya Jawa Tengah. Untuk menjaga kebudayaan Jawa Tengah, Cakra Semarang TVmewujudkan visi tersebut itu kedalam Misi dan langkah-langkah Strategis sebagi berikut :Cakra Semarang TV, merupakan Media Informasi, pendidikan dan hiburan yang dapat dijadikansebagai sumber inspirasi, pembangkit semangat serta pencerahan masyarakat Jawa Tengah.Menjadi media yang membangun semangat demokratisasi dan pemberdayaan politik rakyat JawaTengah. Media Informasi dalam bidang perekonomian dan perdagangan bagi para pelaku sectorekonomi Jawa Tengah. Media komunikasi dan tukar informasi antar pemerintah, tokohmasyarakat, politusi, dan rakyat Jawa Tengah. Memberi ruang bagi upaya penggalian nilai-nilaiwarisan leluhur yang masih relevan untuk menjawab tantangan globalisasi.Program Jateng ExoticSetelah beberapa tahun tidak ada acara mengenai wisata pada Cakra Semarang Tv, makapada tahun 2012 awal melalui adanya ide dan gagasan terbentuklah acara “Jateng Exotic”. Tepatnya pada bulan Juni 2012 Program Jateng Exotic itu terbentuk. Jateng Exotic, berupa programacara wisata Human Interest mengenai kuliner, budaya, entertaintment, dan pariwisata itusendiri. Diberi nama Jateng Exotic, karena obyek liputan-nya meliputi wilayah Semarang danJawa Tengah dan Exotic yang berarti eksotis. Sehingga acara ini bertujuan menampilkan Wisatadi Jawa Tengah dengan menarik dan menawan, memperlihatkan betapa eksotisnya Wisata diJawa Tengah. Jateng Exotic pada Cakra Semarang TV merupakan Program Feature televisilokal kota Semarang yang menampilkan Program liputan berbagai perjalanan atau informasimengenai Pariwisata, Budaya, Kuliner, Entertainment serta Sosial, yang ada di wilayah JawaTengah.Memiliki tema acara fokus terhadap liputan dokumenter mengenai wisata dalam lingkupSemarang-Jawa Tengah. Acara Jateng Exotic memiliki tujuan sebagai suatu program acaratelevisi lokal Semarang yang dapat menjadi hiburan, pengetahuan, dan panduan wisata bagi parapemirsanya. Yaitu dengan menginformasikan berita, menggali, mengangkat potensi budaya lokalyang ada, kearifan masyarakat (kegiatan adat, acara tahunan, dll) yang ada di Semarang-JawaTengah. Sajiannya pun berupa berita feature mencakup lokasi atau tempat bersejarah, tempatwisata, rekreasi, kuliner, edukasi, bisnis, entertainment, keunikan, dll.BAB IIIPELAKSANAANTahap Pra ProduksiPada pembuatan program feature pariwisata kota Semarang ini, produser sebagai SingleFighter (bekerja sendiri) tentunya menyiapkan diri dengan memaksimalkan kemampuanterhadap kegiatan lainnya dan produser itu sendiri. Namun dalam pelaksanaannya, tetapdibutuhkan bantuan kru tambahan yang berjumlah dua orang dari media partner (CakraSemarang Tv). Yaitu dalam tahap produksi seperti kameramen ke-2 dan kameramen saatproduser juga merangkap sebagai presenter. Selain itu produser juga yang mengupayakanperijinan tempat atau lokasi liputan, perijinan untuk wawancara, pengambilan gambar presenter,serta tempat proses paska produksi.Mendapatkan Media partner atau media relation adalah tugas dari MarketingCommunication. Setelahnya produser berkoordinasi dengan produser eksekutif. Produsereksekutif dalam karya ini adalah pihak produser program acara “Jateng Exotic” pada CakraSemarang TV, sebagai media relation atau mitra penyiaran karya bidang saya ini. Adapunnegosiasi yang dilakukan oleh Marcomm atau produser dengan produser eksekutif, dimanaproduser eksekutif memberikan saran-saran , seperti lokasi atau tema yang sesuai dengan pihakmedia, narasumber, bagaimana proses produksi sebaiknya, dan bagaimana hasil akhir karyanantinya. Mengenai proses produksi dan paska produksi, produser lah yang bertugas mengaturjalannya proses-proses tersebut. Yaitu mengaturnya dengan membuat Rundown atau Susunankegiatan yang akan dilaksanakan. Dapat berupa Rundown Acara keseluruhan, Rundown Sheetsaat proses produksi, dan Editing Script saat proses paska produksi atau editing.Beberapa langkah yang dilakukan reporter atau presenter saat pada tahap pra produksi ini,yaitu. Mengetahui ide atau tema acara yang akan di produksi, maka reporter pada pra produksimemiliki tugas mempersiapkan diri untuk proses peliputan nantinya. Persiapan yang dilakukanantara lain yaitu mencari petunjuk atau gambaran mengenai lokasi, narasumber, situasi, dan lainsebagainya yang akan menjadi obyek liputan. Proses ini bertujuan untuk mempersiapkan reporterpada waktu produksi.Mempersiapkan naskah, memberikan gambaran awal informasi apa saja yang akan dandapat diberitakan. Selain itu naskah awal sebelum nantinya melalui revisi setelah proses liputanatau produksi berlangsung, naskah ini merupakan acuan / panduan dalam menggali lebih lanjutinformasi nantinya. Karena setelah liputan atau proses eksekusi produksi berlangsung, naskahpasti ada perubahan, seperti data yang tidak sesuai atau salah, dan penambahan informasi datapenting lainnya yang belum tertulis.Tahap ProduksiPada karya ini reporter atau presenter memiliki tugas yang sama, dimana produser jugamerangkap sebagai reporter ataupun presenter. Reporter juga sebagai presenter, dalam tahapproduksi, reporter bekerjasama dengan kameramen untuk melakukan tugasnya. Yaitu sebagaipresenter, membuka - menutup acara, dan melakukan wawancara dengan narasumber. Adapunperimbangan yang dilakukan, antaralain penyampaian presenter, menyesuaikan kondisi dansituasi lapangan, dan bagaimana berinteraksi dengan narasumber.Selain menjalankan tugas-tugas produser sebagaimana mestinya, produser juga memilikitugas sebagai pengarah produksi. Pengarah produksi yaitu bertugas pada saat pengambilangambar-gambar sesuai naskah, wawancara, dan terutama pada saat pengambilan gambarpresenter.Proses pengambilan gambar (Take Gambar) pada produksi program ini merupakan tukasseorang Kameramen. Kameramen bertugas mengoperasikan kamera selama produksiberlangsung. Terdapat dua Kameramen pada proses produksi ini, yaitu saya sendiri yangmerangkap sebagai kameramen ke-2, dan dibantu oleh saudara Heru Prasetyo sebagaikameramen pertama dari media relation Cakra Semarang Tv.Pada proses produksi, karena terdapat dua Kameramen, maka ada dua kamera yangdigunakan. Kamera pertama yaitu menggunakan kamera Panasonic Full HD 1920x1080 HDCMDH1yang dipegang atau dioperasikan oleh Heru Prasetyo. Dan kamera kedua, adalah kameraprosumer Fuji Film Finepix S2980 yang dioperasikan oleh saya sendiri. Kedua kameramensaling berkoordinasi terkait gambar yang akan diambil. Adapun tugas-tugas tersendiri bagi keduakameramen, kamera pertama bertugas mengambil gambar umum obyek dan pengambilangambar presenter. Kameramen kedua, mencari gambar umum atau gambar penunjang sebagaistok gambar editing.Tahap Paska ProduksiMemasuki pada tahapan paska produksi, merupakan tahap penyelesaian akhir, dimanadilakukan penyempurnaan dari proses produksi yang telah dilakukan. Proses ending dariproduksi program feature ini, diantara nya adalah kegiatan pada tahap penyempurnaan naskah,voice over, converting video, editing video dan audio serta evaluasi. Hasil akhir produksi ininantinya harus layak dan pantas untuk di tayangkan atau disiarkan pada televisi.Pada tahap pra produksi, reporter telah menyusun naskah awal atau naskah bayangansebagai gambaran saat proses produksi. Maka setelah proses produksi, naskah tersebut dapat disempurnakan dan pada tahapan paska produksi inilah naskah di sempurnakan. Banyak data baruyang di peroleh setelah proses produksi, dan data-data yang kurang valid pun segera di gantidengan data yang benar. Sehingga naskah yang di buat berdasarkan sumber obyek peliputanyang ada, bukan dari sumber-sumber yang kurang kompeten.Merupakan produk media visual dan audio lah program feature pariwisata ini. Sehinggauntuk memperjelas visualisasi yang telah di liput, maka di perlukan audio untuk melengkapinya.Selain backsoud dan atmosfer audio asli video liputan, maka terdapat penjelasan bahasa suaraberupa kalimat penjelas. Proses inilah yang di namakan Voice Over (mengisi suara). Seseorangmembacakan naskah yang telah siap, dan hasilnya di sertakan dalam proses editing nantinyasebagai pelengkap dan penjelas gambar visual yang ada. Proses Voice Over saya meminjam dandi lakukan di kantor Cakra Semarang Tv, karena pada tempat tersebut terdapat sarana yangmemadahi untuk melaksanakan proses tersebut.Diawali dengan proses Capturing pemindahan gambar dari kamera ke hardis padakomputer. Gambar yang di ambil oleh kameramen pertama dengan kamera Panasonic Full HDmasih berformat mts, dan berupa frame per frame (sepenggal-sepenggal). Dan pada prosesediting, software yang di gunakan ada “Adobe Premiere Pro CS3”. Software tersebut tidaksuport dengan file video yang berformat MTS, sehingga perlu di lakukan Converting video.Proses editing pertama adalah menempatkan bumper program Jateng Exotic pada awalpenayangan. Setelah itu mempersiapkan voice over dengan jeda dan segmen-segmen yang ditentukan sesuai dengan naskah yang ada. Voice over siap, lalu menyiapkan gambar presenter danwawancara yang akan di pergunakan. Menempatkan opening presenter pada awal, wawancarasesuai susunan pada naskah, dan closing presenter pada akhir. Setelahnya merangkai ataumenyesuaikan gambar pendukung dengan voice over yang ada. Ditambahkan backsound musiksesuai tema, bertujuan untuk menarik kemasan program, memperindah audio, dan menguranginoise. Adapula pemberian Title Deco berupa judul segmen, nama presenter, dan namaketerangannarasumber pada wawancara. Setelah semuanya tertata dengan benar dan baik, padaakhir di beri dengan bumper penutup acara Jateng Exotic. Tidak lupa di berikan beberapa efek,seperti efek transisi video (perubahan gambar), dan efek audio (pada perubahan suara).Terdapat empat segmen atau tema pada produksi program ini. Yaitu Museumperkembangan Islam di Jawa Tengah, Taman wisata air Banjir Kanal Barat, Mie KopyokSemarang, dan Jamu Jun yang berkhasiat. Keempat tema tersebut melalui proses editing yangsama seperti proses editing yang di jelaskan di atas. Untuk lama proses pengerjaan, setiapsegmen nya antara kurang lebih 3 hingga 4 hari. Sehingga untuk 4 segmen kurang lebih 2minggu pengerjaan. Saat proses editing, ada pembicaraan dan masukan dengan produsereksekutif, tentang bagaimana sebaiknya proses editing agar sesuai dengan program Jateng Exoticdan mendapatkan hasil edit yang baik.Setelah proses editing selesai. Terdapat 4 Squence yang merupakan 4 segmen untuk dapatdi Rendering dan kemudian di Export ke hasil jadi berupa Video berformat AVI. Dan setelahnyadapat di evaluasi oleh pihak Cakra Semarang TV (produser eksekutif, Mas Rudy Setyawan) danpihak kampus (Dosen Pembimbing, Mbak Nurul Hasfi dan Mas Djoko Setyabudi). Dari hasilevaluasi tersebut di peroleh beberapa masukan untuk di revisi agar hasil jadi lebih baik.Memperoleh hasil yang maksimal dengan pendapat dari kalangan yang berkompeten, maka hasiljadi dari proses produksi program feature pariwisata ini dapat di kirim atau di berikan ke pihakCakra Semarang Tv, dan siap untuk di tayangkan.Segmen pertama mengenai Museum Perkembangan Islam di Jawa Tengah, segmen keduaTaman Wisata Air Banjir Kanal Barat, dan Segmen ketiga Mie Kopyok Semarang. ketigasegmen tersebut dapat tayang bersamaan dalam satu episode Jateng Exotic dengan dua kali jedaiklan pada Hari Kamis tanggal 31 Januari 2013 pukul 10.00 hingga 10.30 WIB. Sedangkansegmen keempat terlebih dahulu tayang bersamaan dengan di antara 2 episode dari segmenJateng Exotic yang sudah ada, di taruh pada segmen kedua dengan dua kali jeda iklan. Tayangpada hari Senin tanggal 28 Januari 2013 pukul 10.00 hingga 10.30 WIB.BAB IVPENUTUPKarya yang telah disusun ini merupakan suatu kegiatan produksi Program FeatureTelevisi, mengenai pariwisata, khususnya di Kota Semarang. Dengan konsep program feature,terdapat empat tema mengenai Wisata di Kota Semarang. Tema program feature ini antara lain,Pertama merupakan Wisata bersejarah yaitu Museum Perkembangan Islam di Jawa Tengah yangberada di Menara Al-Husna Masjid Agung Jawa Tengah Semarang. Kedua merupakan tempatrekreasi, yaitu Taman Wisata Air yang Berada di kawasan sungai Banjir Kanal Barat. Ketiga dankeempat, merupakan wisata kuliner, Mie Kopyok Semarang (Mie Kopyok Pak Dhuwur) danminuman yang berkhasiat Jamu Jun.Dari karya yang telah selesai di produksi ini, muncul beberapa kesimpulan. Antara lainsebagai berikut:1. Pengetahuan terhadap Wisata Kota SemarangKarya ini bertujuan untuk memperkenalkan, memberitakan, menginformasikan tempatpariwisata di Kota Semarang. Berupa tempat wisata bersejarah, tempat rekreasi, wisatakuliner seperti makanan dan minuman di kota Semarang.2. Pengenalan pariwisata merupakan bagian dari media televisiDisuguhkan dengan kemasan atau cara penayangan yang kreatif, unik, dan menarik,pariwisata dapat menjadi sebuah entertaintment, warna pilihan pada program acara padaperusahaan media massa Televisi.3. Program feature pariwisata pada media televisiMedia televisi merupakan salah satu media terpopuler di masyarakat. Sehingga dengan disajikannya program feature ini, warga Semarang khususnya dapat mengetahui atau lebihmengetahui empat tema pariwisata pada karya ini, yaitu mengenai MuseumPerkembangan Islam, Sungai Banjir Kanal Barat, Mie Kopyok, dan Jamu Jun Semarang.DAFTAR PUSTAKABukuBurton, Grame. (2007). “Membincangkan Televisi: Sebuah Pengantar Kepada KajianTelevisi”. Edisi Indonesia, Yogyakarta, Jalasutra, hlm.Darwanto. (2007). Televisi sebagai Media Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Belajar.Fisher, B. Aubrey, (1986). Teori-teori Komunikasi. Penyunting: Jalaluddin Rakhmat,Ishwara, Luwi. (2007). Catatan-catatan Jurnalisme Dasar (3th ed.). Jakarta: Penerbit BukuKompas.Karyono, A. Hari. (1997) “Kepariwisataan”. Jakarta, Grasindo, hlm.Kovach, Bill., dan Rosenstiel, Tom. (2006). Sembilan Elemen Jurnalisme. Jakarta: YayasanPantau.Kusumaningrat, Hikmat., dan Kusumaningrat, Purnama. (2005). Jurnalistik: Teori danPraktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.Kuswandi, Wawan. (1996). Komunikasi Massa : Sebuah Analisis Media Televisi. Jakarta:Rineka Cipta.McQuail, Dennis. (1996). Teori Komunikasi Massa. Jakarta : Erlangga.Mulyana, Deddy. (2008). Komunikasi Massa, Kontroversi, Teori dan Aplikasi. Bandung :Widya Padjajaran.LP3ES.Mulyana, Deddy. (2008). Komunikasi Massa. Bandung : Widya Padjajaran.Ruslan, Rosady. (2008). Manajemen Public Relations & Media Komunikasi. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada.Santana.K, Septiawan. (2005). Jurnalisme Kontemporer. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.Subroto, Darwanto. S. (1994). Produksi Acara Televisi. Yogyakarta: Duta WacanaUniversity Press.Sutisna. (2001). Perilaku Konsumen dan Komunikasi Perusahaanan. PT. RemajaRosdakarya. Bandung.Vivian, John. (2008). Teori Komunikasi Massa (8th ed.). Jakarta: Kencana.Wibowo, Fred. (1997). Dasar-dasar Produksi Program Televisi. Jakarta: Grasindo.Penerjemah: Soejono Trimo. Bandung: Remaja Rosdakarya.InternetDiakses pada 05-09-2012http://blog.tp.ac.id/format-acara-televisihttp://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/02/18/177579/VJT-2013-Prioritaskan-Promosi-PariwisataDiakses pada 27-09-2012http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/02/06/50564/Jamu-Jun-Nikmat-dan-Berkhasiathttp://www.suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=185827http://id.shvoong.com/society-and-news/environment/2148966-bendung-simongan-cagarbudaya-yang/#ixzz2CJUIDPekhttp://www.indonesiakaya.com/see/read/2012/10/18/1133/20009/1/Merasakan-Jejak-Islamdi-Museum-Perkembangan-IslamDiakses pada 15-10-2012http://eprints.undip.ac.id/29120/1/SUMMARY_PENELITIAN_Kusuma_Ratna_Putri.pdfhttp://www.isi-dps.ac.id/berita/televisi-sebagai-konstruksi-realita-bagian-iihttp://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kuliner/2011/01/10/140/Mie-Kopyok-Pak-Dhuwur-Jalan-Tanjung-SemarangDiakses pada 10-12-2012http://cchasagala.blogspot.com/2011/02/komunikasi-pariwisata-dikaitkan-dengan.htmlhttp://analisispublicrelations.wordpress.com/category/komunikasi-pariwisata/Diakses pada 05-02-2013http://wsmulyana.wordpress.com/2008/12/16/69/http://cakrasemarang.tv/