Articles
40 Documents
Search results for
, issue
"Vol 4, No 1 (2015)"
:
40 Documents
clear
STUDI BATIMETRI DAN SEDIMEN DASAR LAUT UNTUK ALUR PELAYARAN PELABUHAN TANJUNG BONANG REMBANG
Marom, Muhammad Chusnul;
Widada, Sugeng;
Ismanto, Aris
Journal of Oceanography Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (707.091 KB)
Pelabuhan Tanjung Bonang merupakan pelabuhan niaga yang ada di Kabupaten Rembang. Pada saat ini Pelabuhan Tanjung Bonang masih dalam proses pembangunan Tahap Pertama. Informasi mengenai batimetri dan sedimen dasar laut perairan sangat dibutuhkan guna menunjang alur pelayaran pasca pembangunan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai gambaran batimetri dan menentukan kedalaman alur pelayaran sesuai dengan rencana peruntukanya. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 12-16 April 2014 di Perairan Tanjung Bendo kawasan Pelabuhan Tanjung Bonang. Data yang digunakan untuk penelitian adalah data pemeruman dengan Echosounder SinglebeamGarmin 585, data pasang surut, dan data sedimen dasar laut perairan Tanjung Bendo. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif dan data diolah menggunakan software Surfer 12, Global Mapper 15, dan ArcGIS 10.1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perairan Tanjung Bendo kawasan Pelabuhan Tanjung Bonang termasuk dalam kategori perairan dangkal dengan kedalaman pada lokasi survei berkisar antara 0,73 m – 11,31 m. Morfologi dasar perairan rata dengan rata-rata kemiringan dasar perairan 0,45% dan termasuk dalam kategori hampir datar (flat to almost flat). Sedimen dasar perairan didominasi oleh jenis sedimen lanau (silt). Alur pelayaran saat ini hanya digunakan untuk kapal tongkang (Barge) dan kapal tunda (Tugboat) dengan kedalaman minimum 5,4 m danlebar alur 130 m. Alur Pelayaran Rencana untuk jenis kapal kargo umum (General Cargo) dengan nilai DWT(Dead Weight Tonnage)maksimum 5000 membutuhkan kedalaman minimal 8,16 m. Untuk optimalisasi alur pelayaran rencana tersebut diperlukan adanya pengerukan awal (capital dredging) terhadap area alur yang memiliki kedalaman kurang dari 8,16 m.
PEMETAAN BATIMETRI SEBAGAI PERTIMBANGAN PENENTUAN ALUR PELAYARAN DI PERAIRAN PULAU PANJANG, JEPARA
F. Napitupulu, Rima Melina;
Sugianto, Denny Nugroho;
Hariyadi, Hariyadi
Journal of Oceanography Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pulau Panjang merupakan pulau kecil yang terdapat di Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Pulau Panjang menjadi salah satu kawasan pariwisata bahari karena memiliki ekosistem terumbu karang, padang lamun dan rumput laut. Kondisi Perairan Pulau Panjang yang dangkal, memerlukan data kedalaman perairan sebagai referensi alur pelayaran menuju Pulau Panjang agar tidak karam saat mengenai terumbu karang. Data kedalaman di dapatkan melalui penelitian batimetri dan pasang surut yang kemudian akan dianalisis untuk menghasilkan peta batimetri. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui batimetri di Perairan Pulau Panjang, Jepara untuk pertimbangan penetapan alur pelayaran. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 10-11 Juni 2014. Kegiatan pemeruman dengan singlebeam echosounder dan tongkat ukur dilaksanakan di Pulau Panjang dan pengukuran pasang surut di LPWP Jepara. Materi yang dijadikan objek studi dalam penelitian ini meliputi batimetri dan pasang surut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif. Pengolahan data menggunakan perangkat lunak Surfer 12, ArcGIS 10, dan Global Mapper 13. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kedalaman perairan lokasi penelitian berkisar antara 0,13 m – 11,82 m. Peta batimetri memperlihatkan daerah yang lebih curam karena jarak kontur yang rapat pada sisi sebelah selatan sampai barat dan di sebelah timur jarak kontur semakin jarang sehingga terlihat daerah yang landai. Kondisi tersebut sesuai dengan hasil perhitungan kelerengan dasar laut yang menunjukkan bahwa morfologi perairan termasuk dalam kategori landai dengan nilai 2,24%-3,22% Tipe pasang surut di perairan ini adalah condong harian tunggal dengan nilai Formzahl 1,9175. Alur pelayaran disarankan menggunakan sisi dermaga yang berbeda saat kondisi angin dari timur dan dari barat.
STUDI VARIABILITAS SPASIAL DAN TEMPORAL TEMPERATUR PERMUKAAN LAUT BERDASARKAN ANALISIS CITRA TERMAL SATELIT LANDSAT-8 DI PERAIRAN PLTU SUMURADEM INDRAMAYU JAWA BARAT
Wijaya, Yusuf Jati;
Yusuf, Muh.;
Helmi, Muhammad
Journal of Oceanography Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (351.574 KB)
Pembangunan PLTU di wilayah pesisir akan mengakibatkan peningkatan temperatur permukaan laut cukup signifikan. Peningkatan temperatur permukaan laut tersebut disebabkan oleh air pendingin yang dibuang ke badan air melalui kanal pembuangan, buangan itu disebut air bahang. Terpilihnya perairan komplek PLTU Sumuradem sebagai daerah kajian, karena PLTU Sumuradem merupakan pembangkit listrik yang baru beroperasi selama 3 tahun. Tujuan penelitian ini adalah memetakan temperatur permukaan laut akibat air bahang secara horizontal di perairan PLTU Sumuradem, Indramayu. Penelitian temperatur permukaan laut menggunakan citra satelit Landsat-8 kanal 11 yang mempunyai kanal inframerah termal, berfungsi dalam mengukur dan memetakan panas. Pengolahan saluran termal Landsat-8 melalui analisa kuantitatif yang meliputi konversi nilai digital menjadi nilai radian dan konversi nilai radian menjadi temperatur. Kenaikan temperatur permukaan laut perairan kompleks Sumuradem Indramayu akibat air bahang dari yang terendah 31°C hingga temperatur tertinggi 36°C yang berada di mulut kanal outlet PLTU.
PEMODELAN DISTRIBUSI SALINITAS DAN SUHU PERMUKAAN LAUT PERAIRAN SELAT BALI BAGIAN SELATAN PADA MUSIM TIMUR
Hernomo, Arindri Diestya;
Purwanto, Purwanto;
Marwoto, Jarot
Journal of Oceanography Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (606.916 KB)
Bagian penting dari gambaran oseanografi adalah deskripsi distribusi parameter suhu dan salinitas laut yang mempengaruhi sifat fisika, kimia dan biologi perairan.Memasuki musim timur, Perairan Selat Bali memiliki pola kesuburan yang ditandai dengan rendahnya suhu permukaan dan tingginya salinitas perairan. Tujuan dari penelitian ini adalah memodelkan sebaran suhu dan salinitas lapisan permukaanPerairan Selat Bali bagian selatan secara horizontal pada musim timur.Sebaran suhu dan salinitas disimulasikan menggunakan modul RMA2 dan RMA4 dalam sofware SMS 8.1 dan 11.1. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan penentuan lokasi menggunakan metode purposive sampling.Hasil simulasi sebaran salinitas di Perairan Selat Bali bagian selatan menunjukkan salinitas bergerak menyebar dari selatan ke barat daya nilainya semakin tinggi (30 – 33,9 psu) dan suhu pada lapisan permukaan menunjukkan pola sebaran dari selatan ke utara nilainya semakin tinggi (28 – 30oC). Pola sebaran tersebut dipengaruhi oleh adanya proses adveksi-difusi di perairan.
Kajian Refraksi-Difraksi dan Transformasi Penjalaran Gelombang Laut di Perairan Pantai Tapak Paderi Kota Bengkulu
Vimeris, May Trio;
Sugianto, Denny Nugroho;
S, Wahyu Budi
Journal of Oceanography Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2286.84 KB)
AbstrakPantai Tapak Paderi Kota Bengkulu merupakan pantai yang telah beralih fungsi dari kawasan pelabuhan menjadi kawasan pantai wisata akibat kurangnya informasi terkait penjalaran gelombang laut di perairannya. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan informasi transformasi penjalaran gelombang terkait refraksi dan difraksi gelombang di perairan Tapak Paderi Kota Bengkulu berdasarkan jalur pengamatan. Proses pengolahan data terdiri dari konversi gelombang per musim dari data angin 10 tahun dan proses model simulasi penjalaran gelombang menggunakan BOUSS2D dari program Surface Water Modeling System 11. Hasil pengukuran lapangan selama tiga hari di perairan Tapak Paderi menghasilkan tinggi signifikan 1,6 m dan periode signifikan 7,75 s. Hasil konversi angin menggunakan metode SMB mengasilkan resume data gelombang per musim selama sepuluh tahun. Gelombang signifikan tertinggi di perairan Tapak Paderi terjadi pada musim Timur dan peralihan II, masing-masing memiliki tinggi signifikan 2,23 m dan 2,0 m dengan periode signifikan 7,12 s dan 7,0. Gelombang di perairan Tapak Paderi memiliki dua arah datang dominan, yakni gelombang datang dari kelompok fetch barat laut dan kelompok fetch selatan. Hasil analisis simulasi model berdasarkan jalur pengamatan menunjukkan bahwa gelombang mengalami refraksi di jalur pengamatan 1, mengalami difraksi setelah adanya Gosong Patasembilan di jalur pengamatan 2, mengalami difraksi setelah adanya anak Gosong Patasembilan dan konvergensi gelombang pada Tanjung Pantai Tapak Paderi di jalur pengamatan 3, mengalami konvergensi pada daerah tanjung dan divergensi pada daerah teluk di jalur pengamatan 4. Sedangkan untuk tinggi gelombang terendah sebesar 0,29 m terjadi pada musim peralihan II pada titik pengamatan di belakang ujung bangunan pantai Tapak Paderi.
PENGARUH LAPISAN TERMOKLIN TERHADAP KANDUNGAN OKSIGEN TERLARUT DI SAMUDERA HINDIA BAGIAN TIMUR
Flora, Sara Maylin;
Setiyono, Heryoso;
Tisiana, A.Rita
Journal of Oceanography Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (383.865 KB)
Perairan Samudera Hindia bagian Timur dipengaruhi oleh sistem angin monsun yang mengakibatkan terjadinya upwelling. Upwelling yang terjadi mengakibatkan terjadinya variabilitas lapisan termoklin, upwelling yang terjadi juga mempengaruhi tinggi rendahnya parameter pendukung dalam produktivitas primer di perairan yakni oksigen terlarut yang perlu dikaji lebih lanjut untuk memberikan gambaran mengenai kaitan lapisan termoklin dengan oksigen terlarut di daerah tersebut.Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa pengaruh lapisan termoklin dan peran upwelling yang mempengaruhi tinggi rendahnya oksigen terlarut di Samudera Hindia bagian Timur (Selatan Jawa), serta faktor – faktor yang mempengaruhi terjadinya upwelling di Selatan Jawa.Penelitian ini menggunakan data riset MOMSEI (Monsoon Onset Monitoring for Social and Ecosystems Impact) pada 22 September – 1 Oktober 2013. Data yang digunakan meliputi data kedalaman, suhu, salinitas, oksigen yang diukur menggunakan CTD pada tiga lajur yang berbeda dan diukur pada 16 titik stasiun di lapangan. Data sebaran suhu dan pola sirkulasi arus laut menggunakan data dari HYCOM (Hybrid Coordinate Ocean Model).Hasil penelitian menunjukkan kandungan oksigen terlarut memiliki nilai yang cukup tinggi yaitu 3.5-5.5ml/l pada daerah termoklin di 3 CTD yang berbeda.
KAJIAN BATIMETRI BAGI KEPENTINGAN PENAMBAHAN KEDALAMAN KOLAM PELABUHAN DI PERAIRAN TEGAL
Arifyanto, Donny;
Setyono, Heryoso;
Handoyo, Gentur
Journal of Oceanography Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (655.136 KB)
Perairan Tegal merupakan wilayah pesisir bagian utara dari Kota Tegal, Jawa Tengah yang dimanfaatkan sebagai area pelabuhan. Pelabuhan Tegal merupakan pelabuhan nasional yang mempunyai kegiatan utama yaitu perbaikan kapal atau docking untuk kapal berukuran kecil sampai sedang. Kegiatan lain yang dilakukan oleh Pelabuhan Tegal yaitu aktivitas bongkar muat, namun hanya dapat dilakukan oleh kapal yang mempunyai draft kapal maksimal 3 meter karena perairan yang dangkal. Menanggapi hal tersebut, pemerintah Kota Tegal berupaya untuk melakukan pengembangan pelabuhan supaya pelabuhan yang baru dapat melakukan kegiatan docking dan bongkar muat dengan maksimal. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan informasi tentang karakteristik pasang surut dan kondisi batimetri yang disajikan dalam bentuk peta serta menentukan kedalaman tambahan supaya kapal kapasitas 5000 DWT dapat masuk ke dalam kolam pelabuhan. Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif yaitu metode yang digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam, suatu data yang mengandung makna. Data pasut diolah menggunakan metode admiralty dan kedalaman perairan dihitung dari muka surutan (LLWL) dengan menggunakan Singlebeam Echosounder. Hasil penelitian menunjukan perairan Tegal mempunyai tipe pasang surut campuran dominan ganda dengan muka air rata – rata (MSL) 152,6 cm dan muka surutan sekaligus air rendah terendah (LLWL) 100,71 cm. kedalaman perairan berkisar antara 0,7 – 3 meter dan disarankan untuk menambah kedalaman 6,8 – 8,8 meter.
TRANSPORT SEDIMEN DI LOKASI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PELABUHAN MARUNDA, JAKARTA UTARA
Oktiarini, Dwi;
Atmodjo, Warsito;
Widada, Sugeng
Journal of Oceanography Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1493.08 KB)
Salah satu faktor permasalah yang sering terjadi dalam pemilihan lokasi pengembangan pelabuhan yakni proses sedimentasi yang terjadi terus menerus sehingga berpotensi mengakibatkan pendangkalan. Pergerakan material sedimen dalam proses sedimentasi dipengaruhi oleh pergerakan aliran air seperti pasang surut, angin, arus dan gelombang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis sedimen dasar di sekitar lokasi perencanaan pembangunan, mengetahui perbandingan konsentrasi sedimen tersuspensi pada saat pasang dan surut serta membuat simulasi transport sedimen sehingga diharapkan memberikan informasi dan gambaran mengenai sedimentasi di perairan Perencanaan Pembangunan Pelabuhan Marunda. Penelitian ini dibagi menjadi tiga tahap, yaitu pengambilan data lapangan, analisa sampel sedimen, dan pengolahan data serta penyusunan laporan. Pengambilan data lapangan dilakukan pada bulan Juni 2014. Metode yang digunakan adalah metode studi kasus, sedangkan untuk penentuan titik koordinat lokasi penelitian berlangsung adalah dengan menggunakan metode pertimbangan atau metode sampling. Berdasarkan hasil analisis dan pengolahan data lapangan, diperoleh jenis sedimen yang terdapat di sekitar perairan pelabuhan yaitu sedimen pasir. Sedangkan konsentrasi sedimen tersuspensi disetiap stasiun pengamatan pada saat surut lebih besar dibandingkan pada saat pasang. Dengan bantuan perangkat lunak MIKE 21 diperoleh volume sedimen dari pergerakan transport sedimen selama 15 hari adalah sebesar 5,083 x 10-3 m3.
PERAMALAN NILAI MSL BERDASARKAN DATA PASANG SURUT DENGAN METODE ADMIRALTY DAN AUTOREGRESSIVE INTEGRATED MOVING AVERAGE (ARIMA) DI PERAIRAN PULAU PARI KEPULAUAN SERIBU
Candrasari, Kirana;
Rifai, Azis;
Handoyo, Gentur
Journal of Oceanography Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (316.577 KB)
Pulau Pari merupakan salah satu pulau yang memiliki perairan yang jernih, sehingga menjadi salah satu objek wisata di Kepulauan Seribu. Pemilihan Pulau Pari sebagai daerah penelitian karena kurang lengkapnya informasi data hidrooseanografi, yaitu pasang surut. Perhitungan pasang surut dapat dilakukan secara analisa harmonik dengan metode Admiralty dan analisa stastistik dengan metode ARIMA. Penelitian ini bertujuan untuk meramalkan nilai MSL di perairan Pulau Pari Kepulauan Seribu pada tahun 2014 sampai 2015 dengan pendekatan analisa harmonik dan pendekatan statistik. Penelitian di lapangan dilakukan pada tanggal 9-23 April 2014 di dermaga Pulau Pari dengan menggunakan palem pasang surut selama 15 hari dengan interval setiap jam. Data lapangan yang telah diteliti kemudian diolah dengan menggunakan metode Admiralty 15 piantan sehingga dihasilkan 9 komponen pasang surut, yang kemudian dilanjutkan dengan peramalan pasang surut (Rampas). Sedangkan untuk inputan ARIMA menggunakan data MSL bulanan pada Januari 2011 sampai April 2014 dari BIG (Badan Informasi Geospasial). Untuk pengolahan ARIMA menggunakan software Minitab 16. Hasil dari metode Admiralty diperoleh nilai Formzahl sebesar 3,41 dengan HHWL=216 cm, MSL= 163 cm, dan LLWL = 110 cm, yang berarti Pulau Pari mempunyai tipe pasang surut tunggal. Setelah itu diperoleh nilai peramalan MSL yang berkisar antara 162,39 cm-163,54 cm, dengan MRE sebesar 9,46%. Pemodelan ARIMA diperoleh rumus pemodelan , dengan nilai peramalan berkisar antara 136,25 cm-144,69 cm dan nilai MRE sebesar 4,24%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa peramalan MSL jangka pendek dengan menggunakan metode ARIMA lebih akurat bila dibandingkan dengan Metode Admiralty.
POLA DISTRIBUSI KANDUNGAN KLOROFIL-A DAN SUHU PERMUKAAN LAUT DI PERAIRAN LOMBOK BARAT, NUSA TENGGARA BARAT
Triadi, Rahmad;
Zainuri, Muhammad;
Yusuf, Muh.
Journal of Oceanography Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (484.004 KB)
Perairan Lombok Barat memiliki produktivitas primer yang tinggi dan hal ini menandakan kesuburan suatu perairan. Klorofil-a dan suhu permukaan laut merupakan salah satu faktor yang berhubungan erat dengan kesuburan perairan di Lombok Barat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pola distribusi dan hubungan kandungan klorofil-a dan suhu permukaan laut di perairan Lombok Barat. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 4-5 Mei 2014 di perairan Lombok Barat. Variabel yang diamati berupa kandungan klorofil-a dan suhu permukaan laut. Data klorofil-a dan suhu permukaan laut dianalisis dengan model persebaran menggunakan software ArcGIS 10, sedangkan hubungan klorofil-a dan suhu permukaan laut dianalisis menggunakan analisis regresi linier sederhana. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sumber klorofil-a tinggi berasal dari depan Muara Sungai Dodokan yang terdistribusi ke wilayah sekitarnya oleh pergerakan arus, memiliki kisaran konsentrasi klorofil-a 0,14-0,48 mg/m3. Pola distribusi suhu permukaan laut di perairan Lombok Barat menunjukkan bahwa di wilayah teluk dan pesisir Lombok Barat mempunyai suhu lebih dingin (30-30,6ºC) daripada wilayah lepas pantai (30,8-31,6ºC). Korelasi hubungan antara klorofil-a dan suhu permukaan laut sebesar 0,5217 dan bersifat negatif.