cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Management of Aquatic Resources Journal (Maquares)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 27216233     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Management of Aquatic Resources diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Jurnal Management of Aquatic Resources menerima artikel-artikel mengenai bidang perikanan, manajemen sumberdaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 35 Documents
Search results for , issue "Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013" : 35 Documents clear
STRUKTUR SEDIMEN DAN SEBARAN KERANG PISAU (Solen lamarckii) DI PANTAI KEJAWANAN CIREBON JAWA BARAT Umah, Khoerul; Subiyanto, -; Hartoko, Agus
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.715 KB)

Abstract

Struktur komunitas biota dipengaruhi oleh faktor ekologis seperti sedimen dasar perairan. Jenis sedimen digunakan sebagai indikasi untuk menentukan pola hidup, ketiadaan dan tipe organisme pada Gastropoda dan Bivalvia. Keragaman tekstur sedimen dasar perairan yang dimiliki Pantai Kejawanan mengakibatkan terjadinya pola distribusi biota yang hidup di pantai tersebut. Salah satu biota di pantai ini adalah kerang pisau.  Penelitian  ini menggunakan metode deskriptif dengan pengambilan sampel secara random sampling. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh struktur sedimen terhadap sebaran kerang pisau di Pantai Kejawanan. Hasil penelitian menunjukan jenis sedimen yang ada di Pantai Kejawanan adalah jenis pasir berlumpur (medium sand) dengan persentase pasir antara 75,23 -  96,04 % dan lumpur antara 3,96 - 22,74 %. Sebaran kerang pisau di Pantai Kejawanan bersifat mengelompok dan hanya ditemukan pada jenis sedimen tertentu. Pada jenis sedimen pasir berlumpur dengan persentase kandungan pasir yang tinggi kepadatan kerang juga tinggi, sedangkan pada persentase kandungan pasir yang rendah kepadatannya rendah.
ANALISIS PERBEDAAN MORFOLOGI DAN KELIMPAHAN KARANG PADA DAERAH RATAAN TERUMBU (Reef Flate) DENGAN DAERAH TUBIR (Reef Slope) DI PULAU PANJANG, JEPARA Septyadi, Kiai Agoes; Ruswahyuni, -; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.979 KB)

Abstract

Pulau Panjang merupakan kawasan wisata di Jepara yang memiliki potensi salah satunya adalah ekosistem terumbu karang. Ekosistem terumbu karang mempunyai fungsi ekologis yaitu sebagai habitat untuk berkembang biak, mencari makan dan berlindung bagi biota lain. Terumbu karang juga mempunyai fungsi melindungi pantai dari hempasan ombak dan arus laut. Selain itu keindahan alam laut dan terumbu karang sendiri dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat sebagai daerah pariwisata bahari.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan morfologi karang pada zona rataan (reef flat) dengan terumbu karang daerah tubir (reef slope) di perairan pulau Panjang, Jepara. Dan mengetahui kelimpahan terumbu karang pada zona rataan (reef flat) dan terumbu karang pada zona tubir (reef slope) di perairan pulau Panjang, jepara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Dimana metode yang digunakan tergolong dalam metode survei yang bersifat deskriptif. Metode yang digunakan pada pengambilan data adalah Line Intercept Transect (LIT). Penelitian dilakukan pada dua lokasi yaitu daerah rataan terumbu dan daerah tubir. Panjang line transek adalah 10 m, di letakkan sejajar garis pantai, transek yang digunakan di daerah rataan terumbu sebanyak 3 line dan daerah tubir sebanyak 3 line. Jarak antara line dimasing-masing lokasi sampling 5 m.Hasil penelitian jenis karang yang ditemukan di rataan terumbu dan tubir yaitu  adalah jenis Porites sp., Acropora sp., Echinopora sp., Turbinaria sp., Goniastrea sp., Pavona  sp., Favites sp., Leptoseries sp., Pectinia sp., dan Goniopora sp. Prosentase penutupan karang hidup tertinggi di rataan terumbu yaitu jenis Porites sp. 26,73% , Goniastrea sp. 4,10% dan Acropora sp 3,67%. Sedangkan presentase penutupan karang hidup tertinggi di tubir yaitu jenis Porites  sp. 35,67%, Echinopora sp. 6,50% dan Acropora sp. 6,33%. Nilai prosentase penutupan karang hidup di daerah rataan terumbu sebesar 36,40% yang termasuk dalam kategori sedang. Sedangkan nilai prosentase penutupan karang hidup di tubir sebesar 65,50% termasuk kategori baik. Pada rataan terdapat jenis morfologi Acropora yaitu  jenis Acropora Branching (ACB) sebesar 3,67%, sedangkan pada tubir  sebesar 6,33%. Jenis morfologi yaitu jenis Acropora terdapat satu jenis yaitu Acropora Branching (ACB), Baik daerah rataan dan tubir.  Sedangkan untuk non Acropora yang paling banyak adalah jenis Coral Encrusting (CE) baik pada rataan dan tubir.
ANALISIS HASIL TANGKAPAN, PRODUKTIVITAS, DAN KELAYAKAN USAHA PERIKANAN RAWAI DASAR DI PPI BAJOMULYO I KABUPATEN PATI Kisworo, Rian; Saputra, Suradi Wijaya; Ghofar, Abdul
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.457 KB)

Abstract

Rawai dasar merupakan alat tangkap dengan target penangkapan ikan - ikan demersal. Rawai dasar banyak dipergunakan nelayan  di Kabupaten Pati, khususnya nelayan di PPI Bajomulyo I Juwana. Makin bertambahnya jumlah kapal dengan alat tangkap rawai dasar setiap tahunnya akan mempengaruhi kelestarian sumberdaya ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil tangkapan rawai dasar (komposisi, produksi, dan nilai produksi), nilai hook rate dan produktivitas alat tangkap rawai dasar, dan kelayakan usaha (keuntungan, revenue cost ratio, payback period) rawai dasar. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2012. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survei. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Jenis data yang digunakan terdiri dari data primer yaitu jenis ikan, produksi dan nilai produksi satu trip, ukuran kapal, jumlah ikan tertangkap, jumlah pancing, modal usaha, biaya operasional, dan pendapatan yang didapatkan. Data sekunder terdiri dari jumlah trip selama satu tahun, jumlah ABK selama satu tahun, volume produksi dan nilai produksi selama satu tahun. Hasil penelitian menunjukkan komposisi hasil tangkapan dari 48 kapal sampel didominasi oleh ikan Remang (Congresox talabon) dengan presentase sebesar 61,9 %. Nilai hook rate  termasuk dalam kategori kurang baik. Nilai hook rate berkisar antara 0,85 - 2,89 , dengan rata - rata sebesar 1,98. Semakin besar ukuran kapal, nilai produktivitas per tonnage yang didapatkan semakin kecil. Sedangkan semakin besar ukuran kapal semakin tinggi nilai produktivitas per ABK dan produktivitas per trip. Hasil perhitungan kelayakan usaha didapatkan nilai keuntungan kapal ukuran 30 - 39 GT lebih tinggi dibanding dengan ukuran 20 - 29 dan 40 - 49 GT. Nilai R/C kapal rawai dasar > 1 atau usaha layak dilakukan. Pengembalian modal atau payback period kapal rawai dasar dalam kategori pengembalian sedang yaitu berkisar 3,23 - 4,16 tahun.
PENILAIAN PENCEMARAN PERAIRAN DI POLDER TAWANG SEMARANG DITINJAU DARI ASPEK SAPROBITAS Suprobo, Harisya Diah; Anggoro, Sutrisno; Soedarsono, Prijadi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.513 KB)

Abstract

Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan disuatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Polder Tawang Semarang merupakan suatu sistem untuk memproteksi air limpahan dari luar kawasan dan mengendalikan muka air di dalam Kota Lama. Polder Tawang Semarang mempunyai masalah pencemaran akibat limbah yang berasal dari limbah kota, pasar ikan, industri, dan rumah tangga yang masuk ke perairan yang berpengaruh terhadap kekeruhan,bau air dan pertumbuhan mikroorganisme.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji dan mengetahui tingkat saprobitas di Polder Tawang Semarang berdasarkan nilai SI (Saprobik Indeks) dan TSI (Tropik Saprobik Indeks), mengetahui hubungan antara saprobitas perairan dengan variabel kualitas air (BOD dan DO), serta mengetahui tingkat pencemaran air menggunakan penilaian saprobitas perairan. Penelitian ini menggunakan plankton sebagai materi utama yaitu sampel air dan sampel plankton. Komunitas fitoplankton yang terdapat di Polder Tawang Semarang terdapat 14 genera fitoplankton. Berdasarkan nilai kelimpahan individu fitoplankton dengan nilai rata-rata sebesar 8.423- 8.774 ind/L, sedangkan nilai Saprobik Indeks (SI) berkisar (-0,33) – (0,09) dan Tropik Saprobik Indeks berkisar (-0,67) – (0,14) maka tingkat pencemaran di Polder Tawang Semarang selama penelitian diketegorikan sebagai pencemaran sedang sampai berat (α-mesosaprobik). Dari hasil uji regresi antara saprobitas perairan dengan BOD dan DO menunjukkan adanya korelasi yang kuat yang berarti kontribusi pengaruh BOD dan DO terhadap saprobitas cukup besar.
PROFIL VERTIKAL BAHAN ORGANIK DASAR PERAIRAN DENGAN LATAR BELAKANG PEMANFAATAN BERBEDA DI RAWA PENING Putri, Mutia Novenda; Purnomo, Pujiono Wahyu; Soedarsono, Prijadi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.659 KB)

Abstract

Sedimentasi di Rawa Pening berlangsung secara intensif dan selalu meningkat sehingga menyebabkan pendangkalan akibat pertumbuhan Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) yang tidak terkendali. Penumpukan bahan organik akibat Eceng Gondok di dasar perairan perlu diteliti pengaruhnya bagi lingkungan perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kandungan bahan organik secara vertikal pada zonasi pendangkalan di kawasan tutupan Eceng Gondok dan perairan terbuka serta untuk mengetahui hubungan potensi bahan organik dengan sediaan nutrien nitrogen dan fosfor. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan metode sampling menggunakan purposive sampling. Lokasi penelitian terdiri dari 2 stasiun yaitu kawasan tutupan Eceng Gondok dan perairan terbuka. Data yang diukur meliputi bahan organik, N Total, P Total, pH tanah, tekstur tanah, kedalaman kecerahan, arus, suhu, dan DO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan bahan organik, N Total dan P Total pada semua segmen tidak memiliki pola. Bahan organik tergolong sangat tinggi dengan kisaran 61,99% - 74,82%. P Total tergolong tinggi sedangkan N Total tergolong rendah sampai sedang. Kontribusi nutrien ini tergolong rendah sampai sedang terhadap perairan akibat DO dan pH yang rendah.
HUBUNGAN KELIMPAHAN MEIOFAUNA PADA KERAPATAN LAMUN YANG BERBEDA DI PULAU PANJANG, JEPARA Assy, Dwi; Widyorini, Niniek; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.278 KB)

Abstract

Lamun merupakan salah satu sumberdaya laut yang sangat potensial dan dapat dimanfaatkan. Organisme benthos seperti meiofauna menepati posisi yang sangat penting dalam proses biodegradasi di ekosistem pantai. Meiofauna bersifat relatif menetap pada dasar perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan meiofauna pada kerapatan lamun yang berbeda di Pantai Pulau Panjang, Jepara dan mengetahui hubungan antara kerapatan lamun yang berbeda dengan kelimpahan meiofauna. Metode pengambilan sampel dan pengamatan meiofauna adalah sampel diambil 7 titik dari setiap stasiun, pengambilan sampel meiofauna dengan menggunakan pralon 20 cm, sampel kemudian disaring dengan menggunakan saringan sampel 0,5 mm dan diberi formalin sebanyak 4% ,larutan rose bengale™ dan larutan ludox. Jenis lamun yang ditemukan di lokasi penelitian ini didapatkan 5 genera lamun yaitu Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhalus sp, Syringodium sp dan Halodule sp. Jumlah spesies individu meiofauna pada stasiun A yaitu 34.666 individu/m3 dari 22 spesies, pada stasiun B yaitu 42.666 individu/m3 dari 22 spesies dan pada stasiun C yaitu 54.000 individu/m3 dari 22 spesies. Uji korelasi pearson didapatkan nilai sebesar 0,565 ( ≥ 0,05 ) dengan kesimpulan H0 diterima dan H1 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara meiofauna dengan kerapatan lamun yang berbeda di Pulau Panjang Jepara. Nilai korelasi antara meiofauna dengan kerapatan lamun sebesar -0,632, hal ini menunjukkan bahwa tidak adanya hubungan yang erat antara meiofauna dengan kerapatan lamun di Pulau Panjang, Jepara.
HUBUNGAN JALUR MIGRASI PENYU LEKANG (Lepidochelys olivacea) TERHADAP TINGGI MUKA LAUT, SUHU PERMUKAAN LAUT, KLOROFIL-a di PERAIRAN INDONESIA Manurung, Monica Evi Suanty; Hartoko, Agus; Subiyanto, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1544.381 KB)

Abstract

Penyu adalah satwa yang terancam kepunahannya. Transmitter dalam pemantauan penyu dapat memberikan data jelajah penyu yang akurat beserta parameter oseanografinya. Metode penelitian ini menggunakan metode deskripsi. Tahapan penelitian meliputi pengambilan data dari satelit NOAA (tinggi muka laut, suhu permukaan laut dan klorofil-a) dan data titik koordinat penyu. Data kemudian diolah dengan menggunakan Er Mapper 7.0. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penyu lekang yang telah di pasang transmitter terpantau jalur migrasinya dari Selat Bali, Gilimanuk, Bali Utara,/Situbondo, Selat Madura, Madura Utara dan Selat Makassar. Distribusi tinggi muka laut berdasarkan titik koordinat penyu selama lima bulan (Juni, Juli, Agustus, November dan Desember) 2009 pada 7 lokasi yang berbeda yaitu dengan nilai minimum 44 cm dan maksimum 79 cm, sedangkan distribusi suhu permukan laut dengan nilai minimum 260C dan maksimum 300C, dan untuk distribusi klorofil-a dengan nilai minimum 0.219 mg/m3 dan nilai maksimum 2.77 mg/m3. Korelasi/keeratan hubungan posisi penyu terhadap tinggi muka laut, dengan nilai (r) yaitu 0.873 mempunyai interpretasi atau hubungan yang tinggi. Nilai (r) suhu permukaan laut yaitu 0.78 menunjukkan bahwa interpretasi sedang, dan untuk klorofil-a didapatkan nilai (r) yaitu 0.69, nilai ini menunjukkan bahwa interpretasi sedang.
STUDI ANALISA PLANKTON UNTUK MENENTUKAN TINGKAT PENCEMARAN DI MUARA SUNGAI BABON SEMARANG Cahyaningtyas, Ina; Hutabarat, Sahala; Soedarsono, Prijadi
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.348 KB)

Abstract

Daerah Aliran Sungai (DAS) Babon merupakan salah satu DAS yang sangat penting bagi kelangsungan ekosistm khususnya wilayah Semarang dan sekitarnya. Plankton merupakan organisme perairan yang keberadaannya dapat menjadi indikator perubahan kualitas biologi perairan sungai. Plankton memegang peran penting dalam mempengaruhi produktivitas primer perairan sungai. Perairan sungai Babon secara nyata telah menerima limbah yang berasal dari kegiatan industri yang berada di sekitar sungai Babon dan limbah yang berasal dari kegiatan rumah tangga (domestik). Keadaan ini diduga menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan muara Sungai Babon. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji bagaimana tingkat pencemaran di muara Sungai Babon. Pengamatan dilakukan berdasarkan analisis SI (Saprobik Indeks) dan TSI (Tropik Saprobik Indeks) untuk mengetahui sejauh mana tingkat pencemaran yang terjadi. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah fitoplankton dan zooplankton yang berada di muara Sungai Babon berikut parameter fisika dan kimia. Kelimpahan fitoplankton  di muara Sungai Babon adalah 10.765 – 13.777 ind/L dengan 19 - 24 genera. Kelimpahan zooplankton adalah 218-241 Ind/m3 dengan 9 genera. Berdasarkan kelimpahan plankton maka didapatkan nilai Saprobik Indeks (SI) berkisar 0,07 - 0,34 dan nilai Tropik Saprobik Indeks berkisar (-0,73) – (-0,98) kualitas perairan muara sungai Babon selama penelitian termasuk dalam tingkat α-Mesosaprobik atau dalam kondisi tercemar sedang hingga berat.
KELIMPAHAN NUDIBRANCHIA PADA KARANG BERCABANG DAN KARANG BATU DI PANTAI PANCURAN BELAKANG PULAU KARIMUNJAWA JEPARA Kusuma, Rizky Chandra; Ruswahyuni, -; Subiyanto, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.153 KB)

Abstract

Nudibranchia adalah salah satu Moluska tidak bercangkang yang seringkali berwarna terang dan mencolok. Nudibranchia memanfaatkan karang sebagai feeding ground dan spawning ground, tanpa mengganggu kehidupan karang. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui kelimpahan dan perbedaan Nudibranchia yang terdapat pada daerah karang bercabang dan karang batu. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2013 di Pantai Pancuran Belakang, Pulau Karimunjawa. Metode yang digunakan dalam pengambilan data menggunakan metode line transek sepanjang 50 meter sejajar garis pantai dan kuadran transek dengan ukuran 2 x 2 meter. Hasil penelitian didapatkan Penutupan substrat perairan dimasing-masing lokasi paling banyak tertutupi oleh karang hidup yaitu pada daerah karang bercabang 64,48% dengan jumlah Nudibranchia sebanyak 38 ind/300m2. Pada daerah karang batu sebesar 75,87% dengan jumlah Nudibranchia 50 ind/300m2. Terdapat 5 jenis Nudibranchia di lokasi penelitian yaitu Chromodoris lineolata, Phyllidia varicosa, Phyllidiella nigra, Thuridilla lineolata dan Thuridilla sp. Pada Uji Independent T-Test, rata-rata kelimpahan Nudibranchia pada karang bercabang dan batu adalah sama. Hal ini membuktikan bahwa kelimpahan Nudibranchia sangat dipengaruhi oleh adanya terumbu karang dan tidak berbeda antara karang bercabang (branching) dan karang batu (massive).
KAJIAN HASIL TANGKAPAN DAN TINGKAT KESEJAHTERAAN NELAYAN DI DESA AROMAREA DISTRIK KOSIWO, KABUPATEN SARUI KEPULAWAN YAPEN, PAPUA Yapanani, Ethan; Solichin, Anhar; Wibowo, Bambang Argo
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.886 KB)

Abstract

Nelayan Tradisional adalah nelayan yang memanfaatkan sumber daya perikanan dengan peralatan tangkap tradisional, modal usaha yang kecil, dan teknologi penangkapan yang relatif sederhana. Akibat keterbatasan teknologi, ruang gerak nelayan tradisional sangat terbatas, mereka hanya mampu beroperasi di perairan pantai. Hal ini membuat Masyarakat Aromarea Distrik Kosiwo harus memiliki pemahaman yang baik agar masalah sosial yang dihadapi dapat diatasi secara efisien dan efektif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tentang hasil tangkapan dan tingkat kesejahteraan nelayan tradisional dengan alat tangkap jaring insang (gillnet). Dan mengetahui kondisi sosial dan ekonomi Masyarakat Desa Aromarea Distrik Kosiwo Papua. Penelitian ini menggunakan metode field research, tujuannya adalah mendeskripsikan secara detail tentang latar belakang, sifat serta karakter yang khas dari subyek penelitian tersebut. Metode pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Pengambilan data dilakukan di Desa Aromarea Kepulauan Yapen Papua. Data tersebut disajikan dalam bentuk tabulasi kemudian di analisis secara  deskriptif, yang menghasilkan investasi atau modal, biaya total, pendapatan, dan keuntungan sehingga diperoleh tingkat kesejahteraan nelayan tradisional di Desa Aromarea.  Analisis keragaan ekonomi secara undiscounted criterion menunjukkan bahwa usaha perikanan jaring gillnet di Desa Aromarea menguntungkan, efisien dan layak beroperasi dengan nilai R/C ratio sebesar 1,7 serta rentabilitas sebesar 62% dan payback period (PP) sebesar 1,6. Dan tingkat kesejahteraan nelayan jaring gillnet dengan metode Nilai Tukar Nelayan (NTN) diperoleh hasil NTN pada bulan Juli sebesar 1,4. Hal ini memberikan informasi bahwa keluarga nelayan mampu memenuhi kebutuhan sekunder atau tersiernya dan mampu menyisihkan uang untuk ditabung sebesar Rp. 829.546,00. Jadi, secara umum kehidupan nelayan mempunyai tingkat kesejahteraan cukup baik.

Page 3 of 4 | Total Record : 35