cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Aquaculture Management and Technology
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Journal of Aquaculture Management and Technology diterbitkan oleh Program studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Undip. JAMTech menerima artikel-artikel yang berhubungan dengan akuakultur, nutrisi pakan ikan, parasit dan penyakit ikan, produksi budidaya, dll.
Arjuna Subject : -
Articles 38 Documents
Search results for , issue "Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014" : 38 Documents clear
PENGARUH PERENDAMAN EKSTRAK DAUN KETAPANG (Terminalia cattapa) TERHADAP KELULUSHIDUPAN DAN HISTOLOGI HATI IKAN MAS (Cyprinus carpio) YANG DIINFEKSI BAKTERI Aeromonas hydrophila Aminah, -; Prayitno, Slamet Budi; Sarjito, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.373 KB)

Abstract

Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengobati serangan bakteri A. hydrophila yaitu menggunakan bahan alami seperti ekstrak daun ketapang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan ekstrak daun ketapang sebagai antibakteri A. hydrophila, mengetahui pengaruh penggunaan ekstrak daun ketapang (T. cattapa) terhadap kelulushidupan dan histologi ikan mas yang diinfeksi bakteri A. hydrophila. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah perlakuan A (0 ppm), B (500 ppm), C (1000 ppm) dan D (1500 ppm). Ikan  mas yang digunakan sebanyak 120 ekor, kemudian disuntik bakteri A. hydrophila dengan kepadatan 107 CFU/mL secara intramuskular. Perendaman ekstrak daun ketapang dilakukan pada hari ke 2 pasca penyuntikan selama 15 menit. Nilai rata-rata kelulushidupan tertinggi hingga terendah berturut-turut yaitu 66,67% (perlakuan D), 55,67% (perlakuan C), 40% (perlakuan B) dan 3,33% (perlakuan A). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada uji sensitivitas ekstrak daun ketapang mampu memberikan efektivitas antibakteri secara in vitro. Perendaman dengan ekstrak daun ketapang menunjukkan hasil pengaruh nyata (P<0,05) terhadap kelulushidupan ikan mas. Pengamatan gambaran histologi hati diketahui adanya nekrosis, kongesti, degenerasi vakuola dan melanomakrofag. Perendaman ekstrak daun ketapang mampu mengobati ikan mas yang diinfeksi bakteri A. hydrophila pada dosis 1500 ppm. One of the effort to heal bacterial A. hydrophila infection is using natural ingredient such as ketapan leaves. The aims of this research were to determine the ability of ketapan leaves extract as an antibacterial of A. hydrophila, the soaking  effect of ketapan leaves (T. cattapa) extract toward the survival rate and histology of Carp infected by A. hydrophila. This research used experimental method with Completely Randomized Design 4 treatments and 3 replication. These treatments were 0 ppm (treatment A), 500 ppm (treatment B), 1000 ppm (treatment C) and 1500 ppm (treatment D). The experimental Carps used were 120 fish and injected by A. hydrophila with density of 107 CFU/mL intramuscularly. The soaking of ketapan leaves extract was carriedout 15 minutes and done on the  2nd day post-infection. The results showed that the average survival rate from the highest to the lowest were 66.67% (treatment D), 55.67% (treatment C), 40% (treatment B) and 3.33% (treatment A) respectively. The result of this research showed that on antibacterial sensitivity test of ketapan leaves extract was able to make an antibacterial effect from in vitro test. The soaking of ketapan leaves extract showed a significant effect (P<0.05) toward the survival rate of Carp. The results of histological observation of the liver showed necrosis, congestion, vacoula degeneration and melanomacrofage. The soaking of ketapan leaves extract could heal Carp infected by A. hydrophila at dosage of 1500 ppm.
PENGARUH PENAMBAHAN VITAMIN E PADA PAKAN BUATAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN KEPITING BAKAU (Scylla paramamosain) Winestri, Jati; Rachmawati, Diana; Samidjan, Istiyanto
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.128 KB)

Abstract

Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan pertumbuhan kepiting bakau yang lambat yaitu penambahan vitamin E pada pakan buatan guna meningkatkan nutrisi pakan. Vitamin E yang berfungsi sebagai antioksidan yang menjaga kerusakan protein dan enzim dari radikal bebas yang dapat menghambat pertumbuhan dan proses metabolisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan vitamin E pada pakan buatan terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan kepiting bakau (S. paramamosain). Penelitian ini dilaksanakan pada Januari hingga Maret 2014 di tambak Desa Tapak, Kecamatan Tugurejo, Mangkang, Semarang. Hewan uji yang digunakan adalah kepiting bakau (S. paramamosain) dengan bobot rata-rata 109,1±1,7 g/ekor yang dipelihara selama 56 hari dengan kepadatan 1 ekor/keranjang plastik dengan ukuran (25 x 16 x 15) cm3. Pemberian pakan sebanyak 5% bobot biomass/hari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental lapangan dengan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan penambahan vitamin E, yaitu perlakuan A (0 g/100 g), B (0,4 g/100 g), C (0,6 g/100 g), dan D (0,8 g/100 g).  Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan vitamin E memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap efisiensi pemanfaatan pakan protein efisiensi rasio dan laju pertumbuhan relatif. Hasil terbaik diperoleh pada perlakuan D dengan nilai (17,88±3,51%), (2,86±0,55%), dan (4,03±0,93%). Penambahan vitamin E tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap kelulushidupan kepiting bakau (S. paramamosain). Hasil kualitas air masih dalam kisaran kelayakan bagi budidaya kepiting bakau (S. paramamosain) terkecuali salinitas sedikit dibawah nilai kelayakan namun masih dapat ditolerir oleh kepiting bakau (S. paramamosain). Kesimpulan dari penelitian ini penambahan vitamin E 0,8 g/100 g pada pakan buatan memberikan hasil terbaik terhadap pertumbuhan kepiting bakau (S. paramamosain). One of alternative to overcome the problems in mud crab growthrates was dietary of vitamin E. Vitamin E have function as antioxidant to maintaince the proteins and enzymes by preventing free radicals which can disturb the growth and metabolism processes. This research aimed to assess effect of dietary of vitamin E on the growth and survival rate of mud crabs (S. paramamosain). The research was conducted in January until March 2014 in the brackish water pond Tapak Village, District Tugurejo, Mangkang, Semarang. The animals tested used were mud crab (S. paramamosain) with an average body weight of 109.1±1.7 g/individual, during 56 days at a density of 1 individual/basket with size (25 x 16 x 15) cm3. The feeding rate were 5% for weight biomass/day. The method used in this study is an experimental field with the pattern completely randomized design with 4 treatments and 3 replications of dietarary vitamin E, they were treatment A (0 g/100 g), B (0,4 g/100 g), C (0,6 g/100 g), and D (0,8 g/100 g). The results of this research indicate that dietary of vitamin E effect (P<0.05) on the efficiency of feed utilization, protein efficiency ratio and relative growth rate. The best results were obtained on treatment D with the value (17.88±3.51%), (2.86±0.55%), and (4.03±0.93%). Effects of dietary vitamin E didn’t give significant effect (P>0.05) on the survival rate of mud crab (S. paramamosain). Results of water quality was still within the range of feasibility for mud crab culture (S. paramamosain) except salinity slightly below the value of eligibility but can be tolerated by the mud crab (S. paramamosain). The conclusion of this research dietary 0.8 g/100 g vitamin E gives the best results on the growth of mud crab (S. paramamosain).
SENSITIVITAS BAKTERI Aeromonas sp. DAN Pseudomonas sp. YANG DIISOLASI PADA IKAN MAS (Cyprinus carpio) SAKIT TERHADAP BERBAGAI MACAM OBAT BEREDAR Nurjanah, Siti; Prayitno, Slamet Budi; Sarjito, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.051 KB)

Abstract

Permintaan akan ikan budidaya terutama ikan mas (Cyprinus carpio) yang semakin tinggi, masyarakat menerapkan sistem budidaya intensif bahkan super intensif. Kondisi ini tentunya akan menimbulkan kendala, salah satunya meningkatnya peluang terserangnya penyakit pada beberapa ikan. Upaya pengendalian penyakit bakterial pada budidaya ikan, sampai saat ini masih mengggunakan bahan kimia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sensitivitas isolat bakteri terhadap obat beredar serta bakteri yang menginfeksi ikan mas (C. carpio) Isolasi bakteri dilakukan pada 20 ekor ikan mas yang berasal dari Kedung Ombo dan Magelang dengan organ target hati, ginjal, dan luka pada media GSP. Uji sensitivitas dilakukan dengan mengkultur bakteri dengan kepadatan 108 CFU/mL ditebarkan di media TSA dengan jumlah 100 µl pada petridish dan diratakan menggunakan L glass kemudian didiamkan agar bakteri uji meresap ke dalam media. Paper disk steril diletakkan di atas media TSA yang sebelumnya telah direndam di dalam obat uji. Dosis obat yang digunakan sesuai yang dianjurkan dalam kemasan. Hasil isolasi diperoleh 29 isolat, kemudian dilakukan uji sensitivitas terhadap obat uji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua isolat bakteri terhadap obat beredar A, B, C, dan D bersifat resistance, kecuali SN3, SN5, SN6, SN8, SN9, SN11, SN14, SN16, dan SN23 intermediate terhadap obat D. Karakterisasi bakteri dilakukan terhadap isolat bakteri terpilih (SN6, SN11, SN19, SN24, dan SN26) secara morfologi yang selanjutnya di uji biokimia dengan hasil Pseudomonas putida (SN6), P. anguilliseptica (SN11), Aeromonas sobria (SN19), A. caviae (SN24), dan P. pseudoalcaligenes (SN26). Common carp (Cyprinus carpio) is one of aquaculture product that have economic value. Intensive and super intensive system have improved carp production. However, this condition  caused disease problems in fishes. The Efforts to control bacterial diseases in fish culture, at the moment still rely on chemical treatments. The aims of this research were to determine the susceptibility of the bacterial isolation to the different marketed drugs. Bacteria were isolated from  20 common carp sample from Kedung Ombo and Magelang and obtained from liver, kidney, and fish wound growth in the GSP media. In vitro study using diffusion susceptibility test was apllied at bacterial density 108 CFU/mL in100 µL  TSA.  The bacteria was spread by L glass evenly prior to the disk placement that previously being soaked in the various drugs test. The bacterial isolation gained 29 isolates. Further test demonstrated that various marketed drugs (A, B, C, and D) were resistance to isolated bacteria except isolates SN3, SN5, SN6, SN8, SN9, SN11, SN14, SN16, and SN23 were intermediates to drug D. Identification of isolates (SN6, SN11, SN19, SN24, and SN26) revealed 5 species namely Pseudomonas putida (SN6), P. anguilliseptica (SN11), Aeromonas sobria (SN19), A. caviae (SN24), and P. pseudoalcaligenes (SN26).
KARAKTERISASI DAN UJI POSTULAT KOCH BAKTERI GENUS VIBRIO YANG BERASAL DARI MEDIA KULTUR MASSAL MIKROALGA Rahmanto, Setyo Putro; Sarjito, -; Chilmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.888 KB)

Abstract

Vibriosis adalah salah satu jenis penyakit yang disebabkan oleh bakteri Vibrio sp. Penyakit ini merupakan salah satu kendala utama yang sering menyerang pembenihan maupun pembesaran udang. Penelitian ini bertujuan mengetahui agensia penyebab vibriosis yang berasal dari media kultur mikroalga dan gejala klinisnya pada udang vaname (Litopenaeus vannamei). Metode yang digunakan penelitian ini adalah metode eksploratif. Metode pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling. Isolasi bakteri menggunakan media Thiosulphate Citrate Bile Salt Agar (TCBSA). Isolat dilakukan seleksi berdasarkan morfologi koloni untuk dilakukan uji postulat koch.  Udang vaname yang digunakan sebagai hewan uji untuk uji postulat koch adalah udang sehat dengan berat 1-1,5 g sebanyak 10 ekor untuk masing – masing isolat dengan ulangan sebanyak 3 kali. Penyuntikan dilakukan pada ruas abdomen kedua dengan kepadatan bakteri 108 CFU/mL dengan dosis 0,1 mL. Pengamatan gejala klinis uji postulat koch dilakukan selama 96 jam. Identifikasi bakteri dilakukan dengan kriteria uji biokimia dan morfologi bakteri. Hasil penelitian didapatkan 21 isolat bakteri. Seleksi bedasarkan morfologi koloni bakteri didapatkan 6 isolat bakteri (TDS10, TDS12, TDS13, TDS15, TDS20, dan TDS9) untuk dilakukan uji postulat koch. Hasil identifikasi bakteri keenam isolat tersebut teridentifikasi sebagai Vibrio harveyi, V. parahaemolyticus, V. alginolyticus, V. fischeri dan V. mimicus yang berpotensi sebagai agensia penyebab vibriosis. Vibriosis was one type of disease caused by genus Vibrio. This disease was one of the major problems in shrimp farming esspecially shrimp hatchery and rearing. Aims of this research to determine the cause of vibriosis derived on culture of microalgae and clinical sign vaname shrimp (Penaeus vannamei) affected by vibriosis. The method in this research used was exploratory research .The sampling method using was simple random sampling method . The isolation of bacteria used Thiosulphate Citrate Bile Salt Agar (TCBSA). Isolate the selection was conducted based on colony morphology for Postulat Koch 's test. Shrimp test used vaname for Postulat Koch 's test was healthy shrimp with weigh of 1-1.5 as 10 shrimps for every repilcation. The bacterial was injected on second abdominal segment with bacterial density of 108 CFU / mL and 0.1 mL volume. The observations of clinical sign for 96 hour after Postulate Koch’s test. Identification bacteria was carried by biochemical and morphological criterias test. The results were obtained 21 isolates. Selection was done based on bacterial colony morphology of bacterial isolates was obtained 6 isaolates (TDS10, TDS12, TDS13, TDS15, TDS20 and TDS9) these isolates was continue for postulates koch's test. The results of identification six bacterial isolates was identified as Vibrio harveyi, V. parahaemolyticus, V. alginolyticus, V. fischeri and V. mimicus as an agent potentially cause vibriosis
PERFORMA KEMATANGAN GONAD, FEKUNDITAS, DAN DERAJAT PENETASAN UDANG WINDU (Penaeus monodon Fab.) MELALUI SUBTITUSI CACING LAUT DENGAN CACING TANAH Pujianti, Puput; Suminto, -; Rachmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.254 KB)

Abstract

Pemberian subtitusi cacing laut dengan cacing tanah pada pembenihan udang windu diharapkan dapat meningkatkan kematangan gonad, fekunditas dan derajat penetasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh subtitusi cacing laut dengan cacing tanah dan untuk mengetahui jumlah subtitusi cacing laut dengan cacing tanah yang terbaik terhadap kematangan gonad, fekunditas dan derajat penetasan pada induk udang windu (Penaeus monodon Fab.). Materi yang digunakan induk udang windu yang berasal dari Pangandaran dengan berat tubuh rata-rata 160.47±14.88 gram. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan yaitu perlakuan A (Cumi-cumi 30%, Tiram 40%, Cacing laut 30%), perlakuan B (Cumi-cumi30%, Tiram 40%, Cacing laut 22,5%, Cacing tanah 7,5%), perlakuan C (Cumi-cumi30%, Tiram 40%, Cacing laut 15%, Cacing tanah 15%), perlakuan D (Cumi-cumi30%, Tiram 40%, Cacing laut 7,5%, Cacing tanah 22,5%), dan perlakuan E (Cumi-cumi30%, Tiram 40%, Cacing tanah 30%) dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian subtitusi cacing laut dengan cacing tanah perlakuan A memberikan tingkat kematangan gonad paling cepat yaitu selama 4 – 5 hari. Hasil itu menunjukkan bahwa pemberian subtitusi cacing laut dengan cacing tanah berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap derajat penetasan (HR) dengan nilai tertinggi pada perlakuan B yaitu sebesar 94,40±1,49% tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kematangan gonad dan fekunditas induk udang windu (P. monodon Fab.). Berdasarkan pada hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Pemberian cacing tanah sebanyak 25% dari total pemberian cacing laut dapat digunakan sebagai substitusi cacing laut dalam strategi pemberian pakan induk udang windu. The substitute mudworm with earthworm in the tiger prawn hatchery can be expected to increase the maturation, fecundity and hatching rate. The purpose of the research was to observe the effect of the substitute mudworm with earthworm and to find out the best quantity of substitute earthworm on the maturation, fecundity and hatching rate (HR) brood stock of tiger prawn. This experiment used black tiger shrimp brood stock from Pangandaran with 160.47±14.88 grams weight. This experiment used was experimental method with completely randomized design with 5 treatments, i.e. treatment A (30% squid, 40% oyster, 30%mudworm, 0% earthworm), treatment B (30% squid, 40% oyster, 22,5%mudworm, and 7,5% earthworm), treatment C (30% squid, 40% oyster, 15%mudworm, and 15% earthworm), treatment D (30% squid, 40% oyster, 7,5%mudworm and 22,5% earthworm) and treatment E (30% squid, 40% oyster, 0% mudworm, 30% earthworm). The result showed that the substitute mudworm with earthworm in the treatment A was the fastest on the maturation during 4 – 5 days. the substitution treatments of mudworm with earthworm were significantly effect (P<0,05) on the Hatching Rate (HR) with the highest value in treatment B of 94,40±1,49% but not significantly effect (P>0,05) on the maturation and the fecundity of tiger prawn, P. monodon Fab. Base on the results and conclusion suggested that the gift of  earthworm 25% of total giving mudworn  can used  as substitution of  mudworm  in giving feed strategy for tiger prawn, P. monodon Fab.
PERFORMA PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN KEPITING BAKAU (Scylla paramamosain) MELALUI PEMBERIAN PAKAN BUATAN DENGAN PERSENTASE JUMLAH YANG BERBEDA Putri, Rizki Andika; Samidjan, Istiyanto; Rachmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.251 KB)

Abstract

Kepiting Bakau (Scylla paramamosain) merupakan salah satu komoditi perikanan bernilai ekonomis penting dengan harga pasaran Rp 40.000-200.000,-/kg sehingga berpotensi untuk dibudidayakan. Salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam usaha kegiatan budidaya adalah pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performa pertumbuhan dan kelulushidupan kepiting bakau (S. paramamosain) yang terbaik dan optimal melalui pemberian pakan buatan dengan persentase jumlah yang berbeda.Materi yang digunakan adalah kepiting bakau (S. paramamosain) dengan bobot rata-rata 100.5±1.03 g. Kepiting dipelihara dalam wadah keranjang buah. Pakan uji adalah pakan buatan berbentuk pelet dengan kandungan protein 35% yang ditambah vitamin C sebesar 24 mg/100g pakan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan, kemudian dilanjutkan dengan Uji Jarak Ganda Ducan untuk mengetahui perbedaan nilai antar perlakuan dan Regresi Polinomial Ortogonal untuk menentukan persentase yang optimal. Perlakuan dalam penelitian ini yaitu pemberian pakan dengan persentase  3%(A), 5% (B), 7% (C), dan 9% (D) dari bobot biomassa/hari. Peubah yang diukur yaitu laju pertumbuhan relatif (RGR), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP) dan kelulushidupan (SR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan persentase jumlah pakan berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap EPP, sangat nyata (P<0.01) terhadap RGR namun tidak berpengaruh nyata (P>0.05) terhadap SR. Persentase jumlah pakan optimal untuk RGR adalah 5.93% dan EPP 5.4% dari bobot biomassa/hari. Mudcrab (Scylla paramamosain) was one of important fisheries commodity with value 40.000-200.000,-/kg, so potencial was cultivation. One aspect for attention in cultivation were feeds. The aims of study were to determine the growth performance and survival rate of mud crab (S. paramamosain) that the best and optimal through artificial feed with different amount percentages. The materials used are mudcrabs (S. paramamosain) with the initial weigth ranging 100.5± 1.03 g. Crabs kept in containers fruit basket. Experimental diets (pellet formed) with 35% protein content plus vitamin C by 24mg/100g feed. The completely Randomize Design were adopted in this study with 4 treatments and replicated 3 times, then followed by Duncan’s New Multiple Range Test in order to determine the difference among the treatments and Orthogonal Polinomial Regression to determine the optimal treatments. Treatments in this study were percentage of artificial feed 3% (A), 5% (B), 7% (C) and 9% (D) bodyweight/day.The measured variabel were relative growth rate (RGR), food efficiency (EPP), and survival rate(SR).The results derived from this study indicated that different amount percentages was significantly (P<0.05) to EPP, highly significant (P<0.01) to RGR but it’s not significant (P>0.05) to SR. The optimal pecentages’s feed for RGR 5.93% and EPP 5.4% from bodyweight/day.
PENGARUH BAKTERI PROBIOTIK PADA PAKAN DENGAN DOSIS BERBEDA TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN, PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN LELE DUMBO (CLARIAS GARIEPINUS) Wardika, Aziz Sinung; Suminto, -; Sudaryono, Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.866 KB)

Abstract

Probiotik merupakan mikroba hidup yang memiliki pengaruh menguntungkan bagi inang melalui modifikasi bentuk keterikatan (asosiasi) dengan inang atau komunitas mikroba lingkungan hidupnya sehingga dapat memiliki pengaruh memperbaiki kecernaan makanan, melindungi dari serangan patogen dan memperbaiki kualitas lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan jumlah probiotik yang berbeda yang berasal dari usus lele terhadap efisiensi pemanfaatan pakan, pertumbuhan dan kelulushidupan lele dumbo (Clarias gariepinus). Hewan uji yang digunakan adalah lele dumbo sebanyak 240 ekor berukuran  6-7 cm dan bobot 2,35 ± 0,05 g. Bakteri probiotik yang digunakan sebagai bakteri uji adalah Bacillus subtilis, Bacillus lincheniformis dan Psidomonas putida telah diisolasi dari usus lele. Metode penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan A (tanpa probiotik), B (dosis probiotik 106 CFU/mL), C (dosis probiotik 107 CFU/mL), dan D (dosis probiotik 108 CFU/mL) dengan menyemprotkan probiotik pada pakan. Hasil pengamatan menunjukkan perlakuan D memiliki nilai EPP terbaik yaitu (70,83±4,60 %), PER (2,23±0,15), SGR (2,61±0,06 %/hari), panjang mutlak (4,50±0,72 cm) dan mempunyai SR (96,67±0,24%). Penambahan probiotik pada pakan menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap EPP (Efisiensi Pemanfaatan Pakan), PER (Protein Eficiency Ratio), SGR (Specific Growth Rate), Pertumbuhan panjang mutlak, dan tidak berpengaruh nyata terhadap serta SR (Survival Rate) lele dumbo. Hasil penelitian menunjukkan dosis probiotik terbaik yaitu perlakuan D (108 CFU/mL). Probiotic is a microbial life, that give to the advantageous effect for a fish culture (host) it through modification which have bounded (association) with host or microbial community of those habit so that have affected to improve feed utilization efficiency, resistance to pathogen and improve the environment quality. The purpose of this research was to know the effected of bacterial probiotic isolated from intestinal catfish (Clarias gariepinus) with the different  dosage on the feed utilization efficiency, growth and survival rate of catfish (C. gariepinus). The fish samples used were 240 tails of total which have average length 6-7cm and average wight 2,35 ± 0,05 g. The bacterial samples used were Bacillus subtilis, Bacillus lincheniformis and Psidomonas putida. The experimental method was employed in this research with completely randomized design. The research was carried out 4 (four) treatments with  3 (three) replicates respectively. Those treatments were A treatment (no added probiotic), B treatment (with addition of 106 CFU/mL), C (with addition of 107 CFU/mL), and D (with addition of 108 CFU/mL) spraying the probiotic on the feed. The results showed that D treatment had the EPP of (70.83±4.60%), PER of (2.23±0.15), SGR of (2.61±0.06 %/day), absolute length (4.50±0.72 cm) and had SR (96.67±0.24 %). The use of probiotic  had significally affected on EPP (feed efficiency utilization), PER (Protein Efficiency Ratio), SGR (Survival Growth Rate), absolute length for dumbo catfish, and Indicated that they were not significantly different on C. gariepinus SR (survival rate). Therefore the dosage of D treatment appears to be the best dosage.
STUDI POLA PERTUMBUHAN DAN KUALITAS SEL Chlorella sp. YANG DIHASILKAN MELALUI TEKNOLOGI PENCUCIAN BIBIT SEL Andreas, Sigmund Qory; Suminto, -; Chilmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.6 KB)

Abstract

Di dalam kultur massal Chlorella sp. sering terjadi penurunan jumlah sel secara drastis dan lama fase stasioner berselang kurang dari satu hari. Hal  ini diduga karena terjadi hubungan tertutup antara bakteri kontaminan dengan Chlorella sp. di dalam kulturnya. Penelitian ini bertujuan untuk membersihkan Chlorella sp. dari bakteri kontaminan menggunakan teknologi pencucian bibit sel, sehingga dapat memperbaiki pola pertumbuhan dan kualitas sel yang dihasilkan. Metode penelitian ini adalah eksperimen, menggunakan RAL dengan 4 perlakuan dan 4 kali ulangan. Perlakuan itu adalah Chlorella sp. yang dikultur dengan tanpa pencucian bibit sel (A), dengan 1 kali pencucian (B), dengan 2 kali pencucian (C), dan dengan 3 kali pencucian (D). Variabel yang diamati yaitu pola pertumbuhan yang terdiri dari waktu adaptasi, laju pertumbuhan spesifik, lama waktu stasioner, kepadatan sel maksimum, kepadatan akhir kultur, dan kualitas sel dengan kandungan proteinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencucian bibit sel berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap pola pertumbuhan sel Chlorella sp., terutama pada lama waktu fase stasioner dan nilai kepadatan maksimum sel. Lama waktu fase stasioner pada bibit sel yang mengalami pencucian 3 kali terjadi selama 5,5 hari (D), lebih lama dibandingkan dengan tanpa pencucian bibit sel yaitu selama 2 hari (A) dan kepadatan maksimum sel Chlorella sp. perlakuan D (5,2 X 107 sel/ml), lebih banyak dibandingkan perlakuan A (1,4 X 107sel/ml). Kandungan protein sel Chlorella sp. pada perlakuan A (52,52 %) lebih rendah dibandingkan pada perlakuan D (54,93%). Dari hasil tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa pencucian bibit sel dapat memperbaiki pola pertumbuhan dan kandungan protein Chlorella sp. pada kulturnya. Mass culture of Chlorella sp. often occurred drastic decrease in the number of cells and a long in the stationary phase which less than one day. It is assumed that due to close correlation of bacterial contaminants on to Chlorella sp. cells in the culture. The aim of this study was cleaned seed cells of Chlorella sp. from the bacterial contaminants by washing cells technology so as to improve the growth pattern and quality of Chlorella cells. The experiment method was employed in this research. There was Completely Randomized Design method with 4 treatments and 4 replicaties, respectively. Those treatments were Chlorella sp. cells cultured with seed cells without washed (A), with one time washed (B), with two times washed (C) and with three times washed (D). Variables observed were growth pattern of Chlorella sp. cells ie: lag phase, specific growth rate, a long time of stationary phase, maximum cells density and the end of culture density, and cells quality with their protein content. The results showed that cells seed washing was significantly effect (p <0.05) on the growth pattern of Chlorella sp. cells, as specialy on the a long time of stationary phase and maximum density. The stationary phase for treatment which washed three times was 5.5 days, longer than the unwashed (2 days). Either on the cell maximum density that higher on treatment D (5.2 X 107 cell/ml) than treatment A (1.4 X 107cell/ml). The protein content also higher on treatment D (54.93%) than treatment A (52.52%). Those could be concluded that cells seed washing to maximalised the growth patterns and protein content of Chlorella sp. cells in culture.
PENGARUH PENAMBAHAN SUMBER KARBON ORGANIK BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN RASIO KONVERSI PAKAN BENIH LELE “(Clarias sp.)” DALAM MEDIA BIOFLOK Aji, Sigit Bayu; Sudaryono, Agung; Harwanto, Dicky
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.521 KB)

Abstract

Intensifikasi budidaya lele dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan lingkungan. Teknologi bioflok merupakan salah satu pemecah masalah lingkungan dan dapat meningkatkan produksi budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan sumber karbon berbeda terhadap pertumbuhan dan rasio konversi pakan lele. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diujikan adalah penambahan sumber karbon berbeda dalam media bioflok A (molase), B (tapioka), dan C (gandum). Hewan uji menggunakan benih lele dengan bobot rata-rata individu sebesar 7,16±0,36 g. Lele dipelihara pada ember berdiameter 60 cm dengan volume 10 liter selama 42 hari dan pemberian pakan 4% dari berat biomassa. Hasil penelitian  menunjukan bahwa  penambahan sumber karbon organik dalam media bioflok tidak berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan mutlak, laju pertumbuhan spesifik, kelulushidupan, rasio konversi pakan dan total konsumsi pakan  lele. Nilai pertumbuhan mutlak yang dicapai pada perlakuan A, B, dan C berturut-turut adalah 10,09±0,06 g; 10,85±0,76 g dan 10,31±0,19 g.  Nilai laju pertumbuhan spesifik yang dicapai adalah (A) 2,21±0,02 %/hari; (B) 2,31±0,16 %/hari; dan (C) 2,23±0,16 %/hari. Nilai kelulushidupan lele (A) 96,67±5,77 %; (B) 96,67±5,77 % dan (C) 86,67±5,77 %. Nilai FCR (A) 1,16±0,03; (B) 1,07±0,10; dan (C) 1,12±0,05 g. Dan total konsumsi pakan sebesar (A) 11,72±0,24 g; (B) 11,57±0,50 g dan (C)  11,51±0,24 g. Penelitian ini membuktikan Penambahan sumber karbon organik berbeda tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap laju pertumbuhan spesifik harian, kelulushidupan, rasio konversi pakan dan tingkat konsumsi pakan dalam media bioflok. Ketiga sumber karbon organik yang berbeda (molase, tapioka dan gandum) semua memberikan hasil yang sama. Intensification of catfish farming can adversely affect the health of the environment. Bioflok technology is one environmental problem solvers and can improve aquaculture production. This study aims to determine the effect of different carbon sources on catfish feed efficiency and growth.This study used a completely randomized design (CRD) with 3 treatments and 3 replications. The treatment being tested is the addition of different carbon sources in the media bioflok A (molasses), B (tapioca), and C (wheat). Animal trials using seed catfish with an average individual weight of 7.16 ± 0.36 g. Catfish maintained at 60 cm diameter bucket with a volume of 10 liters for 42 days and feeding 4% of the weight of the biomass. The results showed that the addition of an organic carbon source in the medium bioflok no significant effect (P < 0.05) to the absolute growth , specific growth rate , survival rate , feed conversion ratio and total feed consumption of catfish . Absolute value of the growth achieved in treatment A , B , and C , respectively, 10.09 ± 0.06 g ; 10.85 ± 0.76 g and 10.31 ± 0.19 g . Value of the specific growth rate achieved was ( A ) 2.21 ± 0.02 % / day ; ( B ) 2.31 ± 0.16 % / day ; and ( C ) 2.23 ± 0.16 % / day . Catfish survival value ( A ) 96.67 ± 5.77 % ; (B) 96.67 ± 5.77 % , and (C) 86.67 ± 5.77 %  Food Conversion Ratio Value (A) 1,16±0,03; (B) 1,07±0,10; dan (C) 1,12±0,05 g. And total feed consumption of (A) 11.72 ± 0.24 g; ( B ) 11.57 ± 0.50 g and ( C ) 11.51 ± 0.24 g . This study proves The addition of organic carbon sources did not differ significant effect ( P > 0.05) on daily specific growth rate , survival rate , feed conversion ratio and feed intake level in bioflok media . These three different sources of organic carbon (molasses ,tapioca and wheat) all gave similar results.
PENGARUH PERENDAMAN EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativum) TERHADAP KELULUSHIDUPAN DAN HISTOLOGI GINJAL IKAN LELE (Clarias gariepinus) YANG DIINFEKSI BAKTERI “Edwardsiella tarda” Sari, Dian Ratna; Prayitno, Slamet Budi; Sarjito, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.115 KB)

Abstract

Keberadaan bakteri E. tarda yang menyerang ikan lele dumbo dalam kegiatan budidaya merupakan masalah yang serius karena ikan ini memiliki nilai ekonomis tinggi. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan menggunakan bahan alami, seperti bawang putih yang memiliki sifat antibakteri. Bawang putih adalah salah satu tanaman alami yang mengandung bahan-bahan aktif senyawa sulfur seperti aliin, allicin, disulfida, trisulfida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan ekstrak bawang putih sebagai antibakteri E. tarda, mengetahui pengaruh perendaman ekstrak bawang putih terhadap kelulushidupan ikan lele dumbo yang diinfeksi bakteri E. tarda, mengetahui kelainan histologi ginjal ikan lele dumbo yang diinfeksi bakteri E. tarda, sertamengetahui dosis yang terbaik dari ekstrak bawang putih dalam penelitian ini.Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali pengulangan. Perlakuan yang digunakan yaitu perlakuan A (dosis 0 ppm), B (dosis 1000 ppm), C (dosis 2000 ppm) dan D (dosis 3000 ppm). Ikan lele yang digunakan sebanyak 120 ekor dengan ukuran rata-rata 9,07±0,21 cm selanjutnya diinfeksi bakteri E. tarda dengan kepadatan 107 CFU/mL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada uji sensitivitas ekstrak bawang putih mampu memberikan efektivitas antibakteri secara in vitro. Perendaman ekstrak bawang putih berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kelulushidupan ikan lele yang diinfeksi bakteri E. tarda. Nilai kelulushidupan terendah hingga tertinggi dimulai pada perlakuan A sebanyak 13,13%, B sebesar 56,67%, D sebesar 56,67% dan C sebanyak 76,67%. Kelainan jaringan yang terjadi pada organ ginjal yaitu kongesti, nekrosis dan degenerasi vakuola. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa konsentrasi terbaik ekstrak bawang putih untuk mengurangi infeksi E. tarda adalah dosis 2000 ppm. The existence of E. tarda was a serious problem in Catfish farming, that caused  high economic losses in aquaculture. One of the effort to solve this case was the use of  natural ingredient, such as garlic extract which has antibacterial substances. Garlic is a natural plant which contains active ingredients such as sulfur compound, aliin, allicin, disulphide and trisulfida as antibacterial substances. The aims of this research were to determine the ability of garlic extract as an antibacterial of E. tarda, the soaking effect of garlic extract toward survival rate of catfish infected by E. tarda, to observe the abnormalities of liver and kidney in histologically and to determine the best dose of garlic extract to cope E. tarda.  This reasearch used experimental method using a completely randomized design with  4 treatments and 3 repetitions. These treatments were  A (0 ppm), B (1000 ppm), C (2000 ppm) and D (3000 ppm). The Catfish used were 120 fish, around 9,07±0,21 cm in size, then they were infected by E. tarda with dose 107 CFU/mL. The result of this research showed that on antibacterial sensitivity test of garlic extract was able to make an antibacterial effect from in vitro test. The soaking of garlic extract showed a significant effect (P<0.05) toward survival rate of Catfish infected by E. tarda. The lowest to higest of survival rate were treatment A (13.13%), B (56.67%), D (56.67%) and C (76.67%). The observation of histology in kidney showed congestion, necrosis and vacuola degeneration. From that research it can be concluded that the best garlic extract concentrations to reduce E. tarda infection was 2000 ppm.

Page 1 of 4 | Total Record : 38