cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Aquaculture Management and Technology
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Journal of Aquaculture Management and Technology diterbitkan oleh Program studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Undip. JAMTech menerima artikel-artikel yang berhubungan dengan akuakultur, nutrisi pakan ikan, parasit dan penyakit ikan, produksi budidaya, dll.
Arjuna Subject : -
Articles 38 Documents
Search results for , issue "Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014" : 38 Documents clear
APLIKASI FEEDING REGIMES YANG BERBEDA TERHADAP TINGKAT KONSUMSI PAKAN ALAMI, PERKEMBANGAN DAN KELULUSHIDUPAN LARVA UDANG WINDU (Penaeus monodon) Nofiyanti, Vika Ratna; Subandiyono, -; Suminto, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.51 KB)

Abstract

Penerapan feeding regime yang diterapkan pada panti pembenihan larva udang windu (P. monodon) di Indonesia pada umumnya menggunakan pakan Skeletonema sp., Artemia sp. dan pakan buatan.  Dugaan masalah muncul karena jenis, ukuran, nutrisi dan dosis pakan yang diberikan kurang sesuai dengan kebutuhan pakan larva udang.  Komposisi pakan dalam feeding regime yang tepat dan sesuai kebutuhan berpengaruh terhadap perkembangan larva udang.  Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji aplikasi feeding regimes yang berbeda terhadap perkembangan dan tingkat kelulushidupan pada larva udang.  Metode dalam penelitian ini adalah metode eksperimen yang menggunakan pola rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan.  Perlakuan yang diberikan ialah feeding regime A (Chaetoceros sp., Skeletonema sp., Branchionus sp., Instar I Artemia sp. dan pakan buatan), feeding regime B (Chaetoceros sp., Skeletonema sp., Instar I Artemia sp. dan pakan buatan) dan feeding regime C (Skeletonema sp., Instar I Artemia sp. dan pakan buatan).    Hasil penelitian menunjukkan bahwa feeding regimes yang berbeda memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap perkembangan dan tingkat kelulushidupan pada larva udang windu.  Nilai perkembangan selama 9 hari penelitian mencapai stadia PL-1 yang tercepat ditunjukkan oleh feeding regime A sebesar 100±0%, sedangkan untuk feeding regime B dan C masing-masing sebesar 33±0% dan 0±0%, secara berurutan.  Nilai tingkat kelulushidupan stadia PL-10 yang terbaik ditunjukkan oleh feeding regime A sebesar 20,00±1,32%, sedangkan pada feeding regime B dan C masing-masing sebesar 15,33±0,76% dan 11,17±1,15%, secara berurutan.  Disimpulkan bahwa feeding regime A (Chaetoceros sp., Skeletonema sp., Branchionus sp., Instar I Artemia sp. dan pakan buatan) menunjukkan hasil yang terbaik dan direkomendasikan untuk diterapkan dalam feeding regime pada pembenihan larva udang windu (N hingga PL-10). Application of feeding regime which were applied on the hatchery of P. monodon larvae in Indonesia used Skeletonema sp., Artemia sp., and artificial feed.  Problems may arise due to the type, size, and improper dose of the nutrients to meet the requirement of the shrimp larvae.  Suitable composition in feeding regime to meet its requirement affected on the larval morphological development.  The objectives of the research were to examine the application of various feeding regimes for morphological development and survival rate of the shrimp larvae.  The experiment method was applied in this research with completely randomized design (CRD).  The experiment was used three treatments and three replicates.  Those treatments were feeding regime A (Chaetoceros sp., Skeletonema sp., Branchionus sp., Instar I of Artemia sp., and artificial feed), feeding regime B (Chaetoceros sp., Skeletonema sp., Instar I of Artemia sp., and artificial feed), and feeding regime C (Skeletonema sp., Instar I of Artemia sp., and artificial feed). The results showed that the application of different feeding regimes resulted on significantly different effect (P<0.05) on morphological development and survival rate of the trial larvae.  The best value was also resulted on feeding regime A, with its total value of morphological development (100±0%) occurred at the day-9 was already at the PL-1 stage, whereas for feeding regime B and C were 33±0% and 0±0%, respectively.  The best value was also resulted on feeding regime A, with its total value of survival rate (20.00±1.32%) occurred at the    day-18 was already at PL-10 stage, whereas for feeding regime B and C were 15.33±0.76% and 11.17±1.15%, respectively.  Conclusion that feeding regime A i.e. Chaetoceros sp., Skeletonema sp., Branchionus sp., Instar I of Artemia sp., and artificial feed, its the best resulted and suitable to be applied to the feeding regime of the shrimp larvae hatchery (N up to PL-10).
PENGARUH PENGGUNAAN EKSTRAK BUAH NANAS TERHADAP TINGKAT PEMANFAATAN PROTEIN PAKAN DAN PERTUMBUHAN IKAN MAS (Cyprinus carpio) Anugraha, Riana Slamet; Subandiyono, -; Arini, Endang
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.927 KB)

Abstract

Ikan mas (Cyprinus carpio) merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang memiliki kandungan protein tinggi serta mempunyai nilai ekonomis penting. Penambahan ekstrak buah nanas pada pakan dapat meningkatkan pemanfaatan protein lebih optimal untuk pertumbuhan kultivan. Enzim bromelin yang terdapat di dalam ekstrak buah nanas dapat menghidrolisis protein menjadi komponen-komponennya yang lebih sederhana. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh ekstrak buah nanas dalam pakan buatan terhadap tingkat pemanfaatan protein pakan, serta keterkaitan dengan nilai efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), protein efisiensi rasio (PER), laju pertumbuhan relatif (RGR), dan kelulushidupan (SR). Ikan uji yang digunakan adalah ikan mas dengan ukuran 3-5 cm dengan kepadatan 20 ekor/ wadah perlakuan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu perlakuan A (tanpa penambahan ekstrak buah nanas), B (ekstrak buah nanas dosis 0,75%), C (ekstrak buah nanas dosis 1,5%), dan perlakuan D (ekstrak buah nanas dosis 2,25%). Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan dengan menggunakan ekstrak buah nanas yaitu perlakuan B, C, dan D (P<0,05) memberikan pengaruh terhadap nilai EPP, PER dan RGR dan mendapat nilai tertinggi dibandingkan perlakuan tanpa menggunakan ekstrak buah nanas (perlakuan A). Nilai kelulushidupan antar perlakuan tidak berbeda nyata (P>0,05). Perlakuan terbaik untuk nilai EPP, PER, dan RGR diperoleh pada perlakuan B, yaitu dengan nilai EPP 27,21±3,93; PER 0,81±0,12, dan  RGR 0,67±0,11. Perlakuan B memiliki hasil terbaik untuk nilai EPP, PER, dan RGR. Carp (Cyprinus carpio) is one of the freshwater fish which contained high protein level  and it has high economical value. The use of the pineaple extract could improve the optimal utilization of protein compsumtion by carp (C. carpio) for their optimal growth. Bromelain enzyme found in the pineaple extract could hydrolize the protein to be more simple component. This study aims to study the effect of pineaple extract in artificial feed on the  feed utilization rate and its relations to the efficiency of feed utilization (EPP), protein efficiency ratio (PER), relative growth rate (RGR), and survival (SR). The fish body lenght used was between 3-5 cm. The density was 20 fish/tank. This study used a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replicates. The treatments were A (without the addition of pineaple extract), B (pineaple extract 0,75%), C (pineaple extract 1,5%), and D (pineaple extract 2,25%). The data showed that the utilization of pineaple extract resulted on the more significant effect (P<0,05) on the EPP, PER, and RGR, values  compared  to the treatment A. The survival rate was not significantly different between treatments (P>0,05). The best treatment on the EPP, PER, and RGR were treatment B with a value of 27,21±3,93 EPP, 0,81±0,12 PER, 0,67±0,11 RGR. Treatment B had the best results for EPP, PER, and RGR.
PENGARUH C/N RATIO BERBEDA TERHADAP EFESIENSI PEMANFAATAN PAKAN DAN PERTUMBUHAN UDANG WINDU(Penaeusmonodon) PADA MEDIA BIOFLOK Hidayat, Riyan; Sudaryono, Agung; Harwanto, Dicky
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.704 KB)

Abstract

Udang merupakan salah satu komoditas yang di andalkan dalam peningkatan devisa negara dari sektor non migas. Udang mampu berkembang dengan pesat bila dibudidayakan secara baik, terpenuhi segala kebutuhan hidupnya dan tidak ada gangguan lingkungan. Pakan merupakan komponen budidaya yang menyerap biaya paling besar sampai 80%. Teknologi bioflok merupakan salah satu alternatif penyediaan pakan tambahan berprotein untuk kultivan sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi pakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan sistem bioflok dengan sumber C/N yang berbeda terhadap efisiensi pakan dan pertumbuhan udang windu dan mengetahui ratio C/N yang menghasilkan efisiensi pakan dan pertumbuhan udang windu yang terbaik. Parameter variable bebas yang dikaji meliputi pertumbuhan mutlak, laju pertumbuhan spesifik (SGR), tingkat konsumsi pakan (TKP), efesiensi pemanfaatan pakan (EPP) dan kelulushidupan (SR). Rancangan percobaan penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu perlakuan A (C/N ratio 12), perlakuan B (C/N ratio 18), dan perlakuan C (C/N ratio 24). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah karbon yang berbeda memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap laju pertumbuhan harian dan efesiensi pemanfaatan pakan dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kelulushidupan (SR). Ratio C/N yang memberikan efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan terbaik adalah 24, dengan nilai SGR 1,08±0,079%; EPP 72,32±6,17g; TKP 39,27±1,58; SR 90,00±10,00 dan kualitas air masih dalam kisaran layak untuk kehidupan udang windu (Penaeus monodon). Shrimp is one commodity in the count in an increase in national income of the non-oil sector. Shrimp able to thrive if cultivated properly, meet all the needs of life and no environmental interference. Feed an cultivating components that absorb the greatest costs up to 80%. Bioflok technology is an alternative to the provision of additional food protein kultivan so as to improve growth and feed effeciency. The purpose of this study was to determine the effect of the use of the system with the source bioflok C/N is different to the feed effeciency and growth of balck tiger shrimp and determine the ratio C/N which produces feed effeciency and growth of tiger shrimp are best. Free variabel parameters studied include the absolute growth, specific growth rate (SGR), the level of feed intake (TKP),  effeciency of feed utilization (EPP), survival rate (SR). Parameters of this study supports using a completely randomized design (RAL) with 3 treatments and 3 replications, namely treatment A (C/N ratio 12), treatment B (C/N ratio 18), and treatment C (C/N ratio 24). The results showed that the number of different carbon gives significant influence (P<0,01) the daily growth rate and  effeciency of feed utilization and not significant effect (P>0,05) to survival rate (SR). Ratio C/N which gives the best growth and feed effeciency was 24, with a value of  SGR 1,08±0,079%; EPP 72,32±6,17g; TKP 39,27±1,58; SR 90,00±10,00 and the water quality is still within the range for a decent life tiger shrimp (Penaeus monodon).
KARAKTERISASI BAKTERI DAN GAMBARAN HISTOPATOLOGI PADA IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy) YANG TERSERANG PENYAKIT “MATA BELO” Latifah, Anisa Dwiaryani; Sarjito, -; Prayitno, Slamet Budi
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1057.198 KB)

Abstract

Mata belo adalah salah satu penyakit yang menyerang budidaya ikan gurami. Penelitian ini bertujuan mengetahui gejala klinis dan karakterisasi bakteri serta gambaran histopatologi ginjal, hati dan mata pada ikan gurami yang terserang penyakit “mata belo”. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksploratif, sedangkan metode pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Ikan gurami yang digunakan untuk isolasi dan histopatologi berukuran 16,8±3,4 cm sebanyak 7 ekor. Organ yang diisolasi yaitu ginjal, hati, mata, geripis dan luka. Isolasi bakteri menggunakan media Tryptic Soy Agar (TSA) dan Glutamate Starch Phenile (GSP). Isolat dipilih dengan melakukan seleksi berdasarkan morfologi koloni untuk uji reinfeksi. Ikan gurami yang digunakan sebagai ikan uji untuk uji reinfeksi berukuran 7 – 9  cm sebanyak 10 ekor per akuarium. Penyuntikan dilakukan dengan kepadatan bakteri 108 CFU/mL dan dosis 0,1 mL. Identifikasi bakteri dengan uji biokimia dan morfologi bakteri. Organ yang diamati saat uji histopatologi yaitu ginjal, hati dan mata. Hasil penelitian menunjukkan gejala klinis seperti exopthalmia, ekor geripis, luka pada tubuh dan hemorrhagic pada insang. Hasil isolasi didapatkan 28 isolat bakteri. Seleksi berdasar morfologi koloni bakteri didapatkan 7 isolat bakteri (NG01, NG06, NG07, NG11, NG13, NG15 dan NG14) untuk uji reinfeksi. Hasil uji reinfeksi menunjukkan bahwa 7 isolat bakteri mengakibatkan tingkat kematian ikan uji yang beragam yaitu 96,67%; 80,00%; 63,33%; 60,00%; 53,33%; 50,00%; 46,67%. Bakteri yang menyebabkan penyakit “mata belo” adalah bakteri Aeromonas hydrophila, sedangkan bakteri yang berasosiasi dengan penyakit “mata belo” adalah Staphylococcus aureus, Plesiomonas sigeloides, Escherichia vulneris dan Bacillus mycoides. Hasil pengamatan histopatologi ditemukan kelainan yaitu kongesti, nekrosis dan degenerasi pada ginjal, kongesti, melanomakrofag dan degenerasi pada hati serta nekrosis pada mata. Mata belo is one of the fish diseases that infect the culture of gouramy. The aim of this study to determine the clinical sign of the disease and to know histopathology characterization of kidney, liver and eye. The method in this research used sampling method with purposive sampling method. The gouramy samples to used isolation and histopathology have length 16.8±3.4 cm. Isolation of bacteria using media Tryptic Soy Agar (TSA) and Glutamate Starch Phenile (GSP). Isolated organs are kidneys, liver, eye, and wound. Isolates selected based on colony morphology for reinfection test. Gouramy samples for reinfection test have length 7 – 9 cm. The density of injection 108 CFU bacteria/mL with dose 0.1 mL. Identification of bacteria based from biochemical and morphological criteria. Histopathology organs were kidneys, liver and eye. The results of the clinical sign was a exopthalmia and hemorrhagic in the gills. Results obtained 28 isolates of bacterial isolation. The isolat was selected 7 isolates (NG01, NG06, NG07, NG11, NG13, NG15 and NG14) to reinfection test. The test results showed that mortality in 7 isolates were 96.67%; 80.00%; 63.33%; 60.00%; 53.33%; 50.00%; 46.67%. The bacteria was caused on “mata belo” is Aeromonas hydrophila, while the bacteria was associated on “mata belo” are Aeromonas hydrophila, Staphylococcus aureus, Plesiomonas sigeloides, Escherichia vulneris and Bacillus mycoides. Histopathology results were congestion, necrosis and degeneration of the kidneys, while in the liver was congested, melanomacrofag, degeneration and necrosis at the eye.
PENGARUH PERSENTASE JUMLAH PAKAN BUATAN YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN KEPITING BAKAU (Scylla paramamosain) Qomariyah, Lailiyul; Samidjan, Istiyanto; Rachmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.716 KB)

Abstract

Pakan merupakan salah satu modal operasional yang besar dalam usaha budidaya kepiting bakau (S. paramamosain).  Pakan yang digunakan harus dapat berperan efisien, supaya dapat menekan biaya tanpa mengurangi tingkat produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh persentase pakan optimal terhadap perkembangan budidaya kepiting bakau (S. paramamosain). Penelitian ini menggunakan Metode Eksperimental yang dilakukan di lapangan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yaitu 4 perlakuan dan 3 ulangan.  Perlakuan A (pakan 3% dari bobot biomassa pakan), B (pakan 5% dari bobot biomassa pakan), C (pakan 7% dari bobot biomassa pakan, D (pakan 9% dari bobot biomassa pakan). Hewan uji yang digunakan adalah kepiting bakau (S. paramamosain) dengan berat awal rata-rata 111,91±1,12 g/ekor. Pakan uji merupakan pakan buatan yang diperkaya dengan vitamin E dengan dosis 0,8 g/100 g  pakan, kandungan protein dalam pakan mencapai 35 %. Kepiting bakau (Scylla paramamosain) dipelihara dengan metode single room dalam basket plastik berukuran 25 x 16 x 15 cm selama 56 hari. Hasil penelitian menunjukkan persentase pakan buatan  memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap RGR, EPP, PER, tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap SR kepiting bakau.  Persentase optimal yang dihasilkan dari pertumbuhan adalah 7,59%, sedangkan untuk efisieinsi pakan adalah 7,72%. Nilai kelulushidupan kepiting bakau (Scylla paramamosain) berkisar antara 66,67–100,00%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah persentase pemberian pakan dengan jumlah berbeda memberikan pengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan relatif, efisiensi pemanfaatan pakan dan protein efisiensi pakan, namun tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kelulushidupan. persentase pemberian pakan yang dapat diberikan pada pakan buatan untuk kepiting bakau (Scylla paramamosain) adalah pakan dengan persentase 7% dari bobot biomassa. Feed is one of the major operating in cultivation of mud crab (S. paramamosain). Feed used must be able to act efficiently, in order to reduce costs without reducing the level of production. This research aims to determine the optimal effect of the feed percentage on the growth of mud crab aquaculture (S. paramamosain). This research was conducted using Experimental Methods with completely randomized design (CRD), those is 4 treatments and 3 replications. Treatment A (3% feeds of the weight biomass), B (5% feeds of weight biomass), C (7% feeds of weight biomass feed, D (9% feeds of weight biomass). Animal testing used was mud crab (S. paramamosain) with an average initial weight of 111.91 ± 1.12 g / individual. Feed testing is artificial feed enriched with vitamin E at a dose of 0.8 g/100 g of feed, protein content in the feed is 35%. Mud crab (S. paramamosain) maintained by the method of single room in a plastic basket measuring 25 x 16 x 15 cm during 56 day. The results shows the percentage of artificial feed gives significant effect (P <0.05) on RGR, EPP, PER, but not significantly (P> 0.05) on SR mangrove crabs. The optimal resulting percentage of growth was 7.59%, while for efisieinsi feed is 7.72%. The survival rate of mud crab (S. paramamosain) ranged from 66.67 to 100.00%.The survival rate of mud crab (S. paramamosain) ranged from 66.67 to 100.00%. The conclusion of this study is the addition with different doses significant effect on absolute weight growth and efficiency of feed utilization but no significant effect on survival rate. percentage of feeding that can be given on artificial feed for mud crab (S. paramamosain) is feed to the percentage of 7% of the weight of the biomass.
PEMANFAATAN EKSTRAK DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia) UNTUK PENANGGULANGAN PENYAKIT BAKTERI (Vibrio harveyi) PADA UDANG WINDU Pratama, Pungki Nanda; Prayitno, Slamet Budi; Sarjito, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.277 KB)

Abstract

Penyakit bakterial merupakan kendala yang menyebabkan penurunan produksi seperti halnya vibriosis. Vibriosis merupakan penyebab kematian utama pada larva, post larva, juvenil, remaja dan udang dewasa hampir mendekati 100%. Salah satu jenis vibrio yang sering menyebabkan kematian pada udang windu adalah Vibrio harveyi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan ekstrak daun binahong (A. cordifolia) dan mengetahui dosis terbaik terhadap kelulushidupan dan histopatologi udang windu yang diinfeksi V. harveyi. Penginfeksian V. harveyi sebanyak 0,1 mL dengan dosis 105 CFU/ml pada bagian intramuskular.Pada penelitian ini digunakan konsentrasi ekstrak daun binahong dengan dosis perlakuan  0 ppm, 600 ppm, 800 ppm dan 1000 ppm, kemudian dilakukan perendaman (dipping) selama 8 menit. Dari treatment perendaman ekstrak binahong memberikan pengaruh nyata terhadap kelulushidupan dan histopatologi hepatopankreas udang windu. Treatment A (600 ppm) merupakan dosis terbaik untuk mengobati udang windu yang terinfeksi V. harveyi. Bacterial disease is the one problems causes a decreasing production like as vibriosis. Vibriosis is the main problem cause mortality in larvae, post-larvae, juvenile, and adult stages of shrimp close to 100%. Vibrio harveyi is one of species from genus vibrio which often causes mortality in black tiger shrimp. The aim of this resaerch to determine the effect of utiliztion of binahong leaf extracts (A. cordifolia) and determine the best dose to survival and histopathological of tiger shrimp it was infected by V. harveyi. V. harveyi injection as much as 0.1 mL with a dose of 105 CFU / ml in the intramuscular tissue. The research used concentration of Binahong leaf extract in four treatment were 0 ppm, 600 ppm, 800 ppm, and 1000 ppm, then carried to immersion treatment during 8 minutes. Based from immersion of binahong extract has significant effect on survival and hepatopancreas histopathology of Tiger shrimp. Treatment A (600ppm) is the best dose to cure V. harveyi infection in tiger shrimp.
PENGARUH PADAT TEBAR BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN KERANG DARAH (Anadara granosa) YANG DIBUDIDAYA DI PERAIRAN TERABRASI DESA KALIWLINGI KABUPATEN BREBES Bahari Sony Atmaja; Sri Rejeki; Restiana Wisnu Ariyati
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.041 KB)

Abstract

Kerang darah merupakan salah satu kelompok hewan moluska dari kelas Bivalvia yang dapat dikonsumsi sebagai sumber protein hewani dan bernilai ekonomis. Kondisi perairan terabrasi yang banyak ditumbuhi oleh pohon mangrove dalam upaya bioremediasi perairan tersebut dapat diikuti dengan kegiatan budidaya kerang darah sebagai solusi dari pemanfaatan lahan terabrasi dan juga permasalahan ekonomi masyarakat sekitar perairan tersebut. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh padat tebar berbeda terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan Kerang darah (A.granosa), dan mengetahui padat tebar yang menghasilkan pertumbuhan dan kelulushidupan terbaik. Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah  kerang darah  dengan bobot individu rata-rata 4,87±1,46 gram yang diperoleh dari pengumpul di sekitar lokasi penelitian. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan yaitu perlakuan A (padat penebaran 20 ekor/wadah), B (padat penebaran 30 ekor/wadah), C (padat penebaran 40 ekor/wadah), D (padat penebaran 50 ekor/wadah). Variabel yang diamati adalah laju pertumbuhan relatif, dan kelulushidupan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa padat tebar berbeda berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan kerang darah (Anadara granosa) yang dibudidaya di perairan tambak terabrasi Kaliwlingi Kabupaten Brebes. Padat tebar yang terbaik untuk pertumbuhan dan kelulushidupan kerang darah adalah 20 ekor/wadah yang menghasilkan laju pertumbuhan relatif (1,06%), dan kelulushidupan (73,33%). Blood cockles is one of a group of molluscs from the class of bivalvia that can be consumed as a source of animal protein and have economical value. The condition of eroded water territory which is overgrown by mangrove trees for water bioremediation that could followed by blood cockles culture activity to solution the economic problems for community around these area. The purpose of this research is to know the influence of different stocking density for growth and survival rate of blood cockles (A. granosa), and knowing the stocking density that giving the best of growth and best survival rate. The blood cockles obtained from the collector around these area. Experimental design that used in these research was complete randomied design with 4 treatment and 3 replication treatment that are A (stocking density 20/container), B (stocking density 30/container), C (stocking density 40/container), D (stocking density 50/container). Variable observed were relative growth rate,and survival rate. Based on the result can be concluded that the different stocking density effect for the growth and survival rate of blood cockle (A. granosa) that cultivated in the eroded waters teritory of Kaliwlingi Brebes Regency. The best stocking density for growth and survival rate of blood cockles are 20/container that produce relative growth rate (1,06%), and survival rate (73,33%).
SENSITIVITAS BAKTERI YANG BERASOSIASI DENGAN PENYAKIT IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) TERHADAP BERBAGAI MACAM OBAT IKAN YANG BEREDAR DI KABUPATEN PATI Suwarno, Yelliana Fatmawati; Sarjito, -; Prayitno, Slamet Budi
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.477 KB)

Abstract

Intensifikasi budidaya ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) dapat memicu timbulnya penyakit bakterial.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui agensia penyebab penyakit bakterial serta sensitivitasnya terhadap berbagai macam obat ikan yang beredar di pasaran.  Penelitian ini dilakukan dengan metode eksploratif dengan pengambilan sampel secara purposive random sampling.  Isolasi bakteri menggunakan media TSA, GSP, dan TCBS dengan metode streak pada luka, hati dan ginjal ikan.  Identifikasi bakteri dilakukan dengan kriteria uji biokimia dan morfologi bakteri.  Uji sensitivitas obat dilakukan secara in vitro.  Obat beredar yang digunakan yaitu; obat B™ dan C™ dengan dosis 2,5 µl, 5 µl dan 7,5 µl; obat A™ dengan dosis 6 µl, 12 µl dan 18 µl; serta obat D™ dengan dosis 2 µl, 4 µl, dan 6µl.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala klinis lele dumbo yang terserang bakteri terlihat dengan ciri – ciri  warna badan kuning, sirip geripis, terdapat luka (borok), dan warna tubuh pucat.  Hasil isolasi diperoleh 37 isolat bakteri. Seleksi berdasarkan morfologi koloni bakteri didapatkan 10 isolat bakteri untuk dilakukan uji selanjutnya.  Agensia penyebab penyakit pada ikan  lele dumbo dari Pati adalah Vibrio logei (LNH 5.2), V. fischeri (LNL 2.8), V.  furnishi (LNL 7.3), V. vulnificus (LNL 4.5), Aeromonas caviae (LNL 5.13), A. hydrophilla (LJ 3 dan LT 3), A. salmonisida (LTG 10 10’5) dan Edwardsiella ictaluri (LJ 5 dan LNH 8.17).  Hasil dari uji sensitivitas menunjukkan bakteri tersebut resisten terhadap A™, B™, C™ dan D™.  Hal ini berarti bahwa kesepuluh agensia penyebab penyakit bakteri pada ikan lele tidak sensitif terhadap obat beredar. Bacterial disease in catfish (Clarias gariepinus) due to intensification of aquaculture.  The aims of this study were to determine the agent which causing bacterial diseases and their sensitivity against common fish medicine.  The method used on this study was explorative with purposive random sampling.  Bacterial isolation using TSA, GSP and TCBS with streak method on wound, liver and kidney of fish.  Bacterial identification was performed using biochemical test qualification and the bacterial morphology.  Sensitivity test for common fish medicine was conducted through in vitro.  Common fish medicines which used were B™and C™ using  2,5 µl, 5 µl and 7,5 µl of dose; A™  using 6 µl, 12 µl and 18 µl of dose; and dusing 2 µl, 4 µl and 6µl of dose.  The material used 30 samples with lenght, then samples have baeter (15 – 24 cm) from Pati, Central Java.  The results showed that bacteria isolation obtained 37 isolates.  By morphological characters of bacterial colony was obtained 10 bacterial isolates which were selected for the further test.  Bacterial agents which  causing disease on catfish originated from Pati were Vibrio logei (LNH 5.2), V. fischeri (LNL 2.8), V. furnishi (LNL 7.3), V.  vulnificus (LNL 4.5), Aeromonas caviae (LNL 5.13), A. hydrophilla (3 LJ and LT 3), A. salmonisida (LTG 10 10'5) and Edwardsiella ictaluri (LJ 5 and LNH 8.17).  Mean while the sensitivity tests showed that all bacterias were not sensitive againts A™, B™,C™ and D™.
PENGARUH DOSIS PEMBERIAN PAKAN BUATAN YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN JUVENIL KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) Haryanto, Prasdicko; Pinandoyo, -; Ariyati, Restiana Wisnu
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.766 KB)

Abstract

Manajemen pemberian pakan adalah suatu usaha untuk memaksimalkan pemanfaatan pakan untuk pertumbuhan. Pakan merupakan salah satu komponen dalam budidaya ikan yang sangat besar peranannya, baik itu berfungsi sebagai penentu pertumbuhan ikan dan juga sebagian besar biaya produksi pada ikan adalah biaya pakan. Pemberian pakan yang diberikan dalam Dosis yang optimum akan diperoleh efisiensi pakan yang optimal dan menekan penurunan kualitas lingkungan budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh dosis pemberian pakan buatan terhadap pertumbuhan juvenil kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus). Metode penelitian ini adalah metode eksprimental, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 taraf perlakuan dan 3 pengulangan per perlakuan. Perlakuan yang diujikan adalah dosis pemberian pakan 3%(A), 5%(B), 7%(C) dan 9%(D) dari biomassa ikan dengan frekuensi pemberian pakan sebanyak 3 kali sehari (08.00, 12.00 dan 16.00). Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah juvenil kerapu macan yang berukuran 4-5cm.  Benih tersebut dipelihara dalam wadah pemeliharaan berukuran 20 liter dengan kepadatan 10 ekor/wadah. Masa pemeliharaan juvenil kerapu macan adalah 28 hari. Hasil dari penelitian ini didapatkan hasil bahwa dosis pemberian pakan berpengaruh nyata terhadap efisiensi pemberian pakan, laju pertumbuhan spesifik dan rasio efisiensi protein, tetapi tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kelulushidupan. Dosis pemberian pakan 7% dari bobot biomassa ikan memberikan nilai terbaik pada efisiensi pemberian pakan sebesar (64,51%) dan laju pertumbuhan spesifik (1,30% berat tubuh per hari). Nilai rasio efisiensi protein berkisar 1,05-1,43% dan nilai kelulushidupan 100% pada semua perlakuan. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pemberian pakan dengan dosis 7% dari bobot biomassa perhari dapat meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi dalam penggunaan pakan bagi juvenil kerapu macan. Feeding management was an effort to optimize the utilization of feed given for growth. The feeding given like a optimum dose will be obtained geting optimal feed efficiency and suppress the cultivation of environmental degradation. This method could be applied by managing feeding frequencies  The purpose of this study was to find the effects of feeding dose on the growth of juveniles tiger grouper. This study was an experimental method.  The design of the experiment was a completely randomized design with 4 treatments and 3 replicates. The treatments were feeding dose 3%(A), 5%(B), 7%(C) and 9%(D) of the weight of biomass, frequency of feeding the times a day (08:00, 12:00 and 16:00). The samples of fish used were juvenile tiger grouper measuring 4-5 cm. The fish were treated in containe-sized 20 liters with a density of 10 fish/containe. The observation was done for 28 days. This study showed that various feeding dose significantly affected on the feed utility efficiency, spesific growth rate and protein efficiency ratio  but not significantly affected on the survival rate. Feeding dose 7%  of the weight of biomass resulted on the best value of feed utility efficiency (64,51%) and spesific growth rate ((1,30% per day) of the fish. The values of protein efficiency ratio 1,05-1,43% and survival rate 100% of the fish. It was concluded that feeding dose 7% of the weight of biomass a day could increase the growth of the tiger grouper juveniles.
PENGARUH BAKTERI KANDIDAT PROBIOTIK TERHADAP PERUBAHAN KANDUNGAN NUTRIEN C, N, P DAN K MEDIA KULTUR LELE DUMBO (Clarias gariepinus) Pitrianingsih, Chairulina; Suminto, -; Sarjito, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.215 KB)

Abstract

Pemberian bakteri kandidat probiotik melalui media kultur dapat mempengaruhi kandungan nutrien karbon organik (C), Nitrogen, Phospat, Kalium, pertumbuhan dan kelulushidupan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan bakteri probiotik terhadap perubahan kandungan nutrien C, N, P, K, pertumbuhan dan kelulushidupan. Penelitian ini menggunakan kultivan lele ukuran 6 ± 0,5 cm dengan rata-rata 2,11 ± 0,5 gr. Kultivan dipelihara dalam baskom bervolume 25 L yang berisi air 20 L dengan kepadatan 20 ekor atau 1 ekor/1 L. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 (empat) perlakuan 3 (tiga) kali ulangan; perlakuan A (kepadatan bakteri 105 sel/mL), B (kepadatan bakteri 106 sel/mL), C (kepadatan bakteri 107 sel/mL), dan D (kepadatan bakteri 108 sel/mL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan A (105 sel/mL) memberikan perubahan kandungan karbon organik terendah, dan perlakuan C (107 sel/mL) memberikan selisih perubahan kandungan N, P, K, pertumbuhan dan kelulushidupan tertinggi (P<0,05), yaitu kandungan karbon organik (42,02 ± 0,61), N (37,28 ± 0,37), P (80,37 ± 1,96), K (49,50 ± 0,72), SGR (2,58 ± 0,30) dan SR (91,67 + 2,89). Berdasarkan pada hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan bakteri probiotik melalui media kultur lele dengan kepadatan 107 dapat meningkatkan kandungan N, P, K, pertumbuhan dan kelulushidupan, namun masih belum dapat menurunkan kandungan karbon organic dalam media kultur lele dumbo (C. gariepinus).  The addition of probiotic bacteria candidates in culture medium able to affect nurient content of the carbon organic (C), N, P, K, growth and Survival Rate. The aim of this research for find out the effect of the addition of probiotic bacteria againts the changes of nutrient content C, N, P, K, growth and Survival Rate of Clarias gariepinus. This research was used Clarias gariepinus seeds with length average of 6 ± 0,5 cm and weight average of 2,11 ± 0,5 gr. The Clarias gariepinus seeds was cultured in the plastic basket of 25 L with total water volume 20 L.  This research was carried out a completely randomized design with the four treatments and three  replication. Those treatments were A (bacterial density 105 sel/mL), B (bacterial density 106 sel/mL), C (bacterial density 107 sel/mL) and D (bacterial density 108 sel/mL). The research result shown that the treatment A(105 sel/mL) gave the lowest results , and the treatment C (107 sel/mL) gave the highest N, P, K content, growth and survival (P<0,05), carbon organic content (42,02 ± 0,61), N (37,28 ± 0,37), P (80,37 ± 1,96), K (49,50 ± 0,72), SGR (2,58 ± 0,30) dan SR (91,67 + 2,89). Based on the result, it can be concluded that the use of probiotic bacteria through cat fish as medium with the density of 107 can increase the content of N, P, K, growth, survival rate, but it still has not been able to decrease the carbon organic in the African catfish culture medium (C. gariepinus).

Page 2 of 4 | Total Record : 38