cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Aquaculture Management and Technology
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Journal of Aquaculture Management and Technology diterbitkan oleh Program studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Undip. JAMTech menerima artikel-artikel yang berhubungan dengan akuakultur, nutrisi pakan ikan, parasit dan penyakit ikan, produksi budidaya, dll.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015" : 15 Documents clear
PENGARUH BERBAGAI JENIS PAKAN SEGAR TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN KEPITING BAKAU (Scylla serrata) CANGKANG LUNAK DENGAN METODE POPEYE Wahyuningsih, Yuni; Pinandoyo, -; Widowati, Lestari Lakhsmi
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.479 KB)

Abstract

Pemberian berbagai jenis pakan segar terhadap kepiting bakau cangkang lunak diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan kepiting bakau cangkang lunak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian berbagai jenis pakan segar terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan kepiting bakau (Scylla serrata) cangkang lunak, mengetahui jenis pakan segar terbaik serta jenis pakan segar yang dapat mempercepat proses molting. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 4 kali ulangan. Perlakuan A (ikan petek), B (keong mas), C (usus ayam). Metode popeye diterapkan pada hewan uji. Bobot awal rata-rata 70,83±0,57 g/ekor. Kepiting dipelihara didalam basket berisi satu ekor kepiting. Pengamatan berakhir ketika kepiting mengalami molting. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian tiga jenis pakan berbeda berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap laju pertumbuhan relatif (RGR), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), protein efisiensi rasio (PER). Tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap tingkat kelulushidupan. Hasil pengukuran menunjukan bahwa kepiting yang diberi pakan B (keong mas) menghasilkan nilai paling tinggi yaitu pada nilai RGR sebesar (3.13±0,18%/hari), EPP sebesar (14,26±1,30%), PER sebesar (0.24±0,02%). Perlakuan A (Ikan petek) dan B (keong mas) lebih cepat mengalami molting, secara umum kepiting molting terjadi pada pukul 21.00–00.00 berjumlah berkisar  2 – 8 ekor/hari. Kualitas air masih dalam nilai kelayakan untuk budidaya kepiting bakau cangkang lunak. Various types of fresh feed to soft shell mud crab is expected to increase a growth of soft shell  crab. The aims of this research was to determine the effect of various types fresh feed to growth and survival of  soft shell crab (Scylla serrata)  to determine the best types of fresh feed, and to determine the best fresh feed to moulting process. The research was done by experimental method used completely randomized design (CRD) with 3 treatments and 4 replications. Treatment A (Leiognathus splendens Cuv), B (snails), C (chicken intestines). Mangrove crab that be used popeye methode was applied in. The early weight is approximately 70.83±0.57g/for each crab. Crabs were cultured in baskets which size of 25 x 16 x 15 cm. The results showed that a giving of various types feed had a significant effect (P<0,05) to relative growth rate (RGR), efficiency of feed utilization (EPP), and protein efficiency ratio (PER), but had no significant effect (P>0,05) to survival rate. The result showed that crab which was given feed B (snail) had the highest value in RGR (3.13±0,18%/day), EPP (14.26±1,30%), and PER (0.24±0,02%). Moulting process a was faster in treatment A. Generaly the moulting time occurred at 21.00-00 o’clock for 2-8 crabs/day. Water quality value was capable for shoft shell mud crab culture.
PERFORMA PERTUMBUHAN BENIH IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias gariepinus) MELALUI PENAMBAHAN ENZIM PAPAIN DALAM PAKAN BUATAN Khodijah, Dewi; Rachmawati, Diana; Pinandoyo, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.403 KB)

Abstract

Budidaya lele Sangkuriang memerlukan nutrisi yang berasal dari pakan buatan.  Pakan yang dikonsumsi ikan hendaknya memiliki nutrien yang mudah dicerna dan diserap dengan baik oleh ikan, sehingga pakan tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.  Penambahan enzim pada pakan buatan dilakukan untuk dapat memanfaatkan protein secara maksimal untuk pertumbuhan kultivan.  Enzim papain merupakan enzim protease yang mampu meningkatkan penyerapan protein pakan yang dikonsumsi oleh ikan, sehingga meningkatkan pemanfaatan protein pakan oleh tubuh.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan enzim papain dalam pakan buatan dan mengetahui dosis enzim papain yang optimal dalam pakan buatan terhadap pertumbuhan ikan lele Sangkuriang (C. gariepinus).  Ikan uji yang digunakan adalah benih ikan lele Sangkuriang dengan bobot rata-rata 1,38±0,24 g.ekor-1 dan padat tebar 1 ekor.l-1.  Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini: perlakuan A (tanpa enzim papain), B (enzim papain dengan dosis 1,125%), C (enzim papain dengan dosis 2,25%), dan D (enzim papain dengan dosis 3,375%).  Data yang diamati meliputi laju pertumbuhan relatif (RGR), protein efficiency ratio (PER), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), kelulushidupan (SR), dan kualitas air.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan enzim papain dalam pakan buatan memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap RGR, PER dan EPP namun tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap SR. Dosis optimal enzim papain sebesar 2,53% pada pakan buatan mampu menghasilkan laju pertumbuhan relatif maksimal sebesar 5,05%/hari untuk ikan lele Sangkuriang (C. gariepinus).  Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran yang layak untuk budidaya ikan lele Sangkuriang. The catfish culture needs nutrients which derived from an artificial diet.  Feed consumed fish should have nutrients that are easily digested and absorbed by fish, so that the feed can be used optimally. Additional enzymes in the feed to maximize protein utilization by cultivan.  Papain enzyme is a protease enzyme that can enhance absorption of protein in the fish since the feed is consumed so that the utilization of protein is increased on the body.  The aim of this study to determine the effect of addition the papain enzyme in artificial diet againts the growth of the catfish (C. gariepinus) and for to knows the optimal dose of papain enzyme in artificial diets againts the growth of the catfish (C. gariepinus).  The fish samples which are used are the seed of the catfish which have average of weight, 1.38 ± 0.24 g.fish-1 and stocking density 1 fish.l-1.  The study was carried out experimentally by using a completely randomized design (CRD) of 4 treatments and 3 replications.  The treatments in this research were treatment A (without papain enzyme), B (papain enzyme with a dose of 1.125%), C (papain enzyme with a dose of 2.25%), and D (papain enzyme with a dose of 3.375%).  The data observed were relative growth rate (RGR), protein efficiency ratio (PER), efficiency of feed utilization (EPP), survival rate (SR), and water quality.  The results showed that the use of the papain enzyme significantly (P <0.05) of the RGR, PER and EPP but not significantly different (P> 0.05) to SR.  Optimal dose of 2.53% papain enzyme on artificial feed is able to produce maximum relative growth rate of 5.05%/day for catfish (C. gariepinus).  Water quality in the maintenance medium contained in a decent range for  farming catfish.
TINGKAT PEMANFAATAN Artemia sp. BEKU, DAN SILASE Artemia sp. UNTUK PERTUMBUHAN POSTLARVA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) Susanti, Ester; Subandiyono, -; Herawati, Vivi Endar
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.793 KB)

Abstract

Jenis dan bahan pakan yang diberikan pada postlarva udang vaname berpengaruh terhadap pertumbuhan dan pemanfaatan pakan.  Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji tingkat pemanfaatan pakan untuk pertumbuhan postlarva udang vaname yang diberi pakan Artemia sp. beku, dan silase Artemia sp.  Perlakuan yang diujikan adalah pemberian pakan dengan Artemia sp. beku (perlakuan A), silase Artemia sp. (perlakuan B), dan pakan buatan (perlakuan C) dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari dengan metode relative feeding rate yaitu sebesar 30% bobot biomass.  Postlarva udang tersebut dipelihara dalam ember berkapasitas 25 L yang diisi air sebanyak 20 L.  Kepadatan postlarva udang uji adalah 20 ekor/L, dengan periode pemeliharaan selama 35 hari. Variabel yang diamati selama penelitian yaitu: laju pertumbuhan relatif bobot (RGRW), laju pertumbuhan relatif panjang (RGRL), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), protein efficiency ratio (PER), dan tingkat kelangsungan hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pakan yang berbeda memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan postlarva udang vaname.  Nilai RGRW, RGRL, dan EPP tertinggi diperoleh pada perlakuan A yaitu masing-masing dengan nilai 30,90%/hari; 13,72%/hari; dan 26,17%.  Nilai PER tertinggi diperoleh pada perlakuan C yaitu sebesar 0,55%.  Nilai SR untuk ketiga perlakuan tidak berbeda (P>0,05).  Berdasarkan pada hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Artemia sp. baik dalam bentuk beku maupun silase dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan dan EPP yang lebih baik bila dibandingkan dengan pakan buatan.  Pakan buatan yang diberikan pada postlarva udang vaname menghasilkan nilai PER yang lebih baik bila dibandingkan dengan pakan Artemia sp. The types and ingredients of feed given to shrimp postlarva vanname affected on the growth and feed utilization.  Feeding fairly and in accordance with the nutritional requirements needed to support the growth of shrimp larvae.  Feed requirements depend on the availability of food, to help ensure the availability of feed storage methods are needed to feed so that the feed can last long, in this case can the freezing and preservation methods.  The purpose of the research was to examine the degree of utilisation of the feed for the growth and survival of the postlarva vannamei fed shrimp feed frozen Artemia sp., preserved Artemia sp., and artificial feed. The treatments to be tested is feeding with frozen Artemia sp. (treatment A), preserved Artemia sp. (treatment B), and artificial feed (treatment C) with feeding frequency 3 times a day by the method of relative feeding rate which is 30% lighter weight biomass.  Postlarva shrimp are kept in a bucket capacity of 25 L of water filled as much as 20 L. The density of post larva shrimp tails assay is 20 L, with a period of maintenance for 35 days. Variables were observed during the study, namely: the pace of weights relative growth (RGRW), the pace of long relative growth (RGRL), efficiency of feed utilization (EPP), the protein efficiency ratio (PER), and the survival rate (SR).  The results showed that different types of feed to give the real influence (P<0.05) against the growth of post larva shrimp vannamei.  The highest value for RGRW, RGRL, EPP obtained at the treatment A, that were 30.90%/day; 13.72%/day; and 26.17%, the respectively.  The highest value of PER obtained at treatment C, that was 0.55%. The values of SR fo all treatments were similiar (P>0.05). Based on the results of the study it can be concluded that Artemia sp. in the form of frozen and preserved can be utilized for growth and EPP is better when compared to artificial feeding.  However, the artificial feed fed on shrimp postlarvae vannamei generates value PER better when compared to the feed Artemia sp.
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG ALGA COKLAT (Sargassum sp.) DALAM PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN BENIH LELE (Clarias sp.) Sahara, Riyand; Herawati, Vivi Endar; Sudaryono, Agung
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.392 KB)

Abstract

Pakan merupakan salah satu faktor yang dapat menunjang perkembangan budidaya ikan. Pakan yang sesuai dengan tingkat kebutuhan nutrisi dan memiliki nilai kecernaan yang tinggi dapat mendukung pertumbuhan maksimal ikan. Alga coklat (Sargassum sp.) memiliki material imunostimulan yang dapat digunakan sebagai feed supplement untuk pakan ikan karena memiliki kandungan nutrisi seperti protein, vitamin, karbohidrat, serat kasar, lipid dan mineral. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan tepung alga coklat (Sargassum sp.) dalam pakan terhadap pertumbuhan dan efisiensi pemanfaatan pakan benih lele (Clarias sp.). Variabel yang dikaji meliputi nilai efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), protein efisiensi rasio (PER), pertumbuhan mutlak (G), laju pertumbuhan spesifik (SGR), dan kelulushidupan (SR). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan yaitu perlakuan A (tepung Sargassum sp. dosis 0%), B (tepung Sargassum sp. dosis 1%), C (tepung Sargassum sp. dosis 2%), D (tepung Sargassum sp. dosis 3%) dan E (tepung Sargassum sp. dosis 4%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung alga coklat (Sargassum sp.) dalam pakan berpengaruh (P<0,05) terhadap EPP, PER, G dan SGR, namun nilai SR untuk semua perlakuan menunjukkan hasil yang sama (P>0,05). Perlakuan D dan E memberikan nilai EPP, PER, G dan SGR tertinggi (P<0,05), yaitu masing-masing sebesar (78,83-81,04%), (2,00-2,04), (100,39-103,53 g) dan (2,66-2,70%/hari). Berdasarkan pada hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan tepung alga coklat (Sargassum sp.) dalam pakan mampu meningkatkan nilai EPP, PER, dan Pertumbuhan pada benih lele (Clarias sp.). The fish feed was one of the important factor required for the fish culture. Feed that matched with nutritional requirement and has high value of digestion values will be able to promote maximum growth of fish. Brown algae (Sargassum sp.) Have immunostimulatory material that can be used as a feed supplement for fish food because it contains nutrients such as protein, vitamins, carbohydrates, crude fiber, lipids and minerals This study aimed to examine the effect of adding flour brown algae (Sargassum sp.) in diets on growth and feed utilization efficiency of seed catfish (Clarias sp.). The variables examined include the efficiency of feed utilization (EPP), protein efficiency ratio (PER), Absolute Growth (G), specific growth rate (SGR), and survival rate (SR). This study used a completely randomized design (CRD) with 5 treatments and 3 replications that treatment A (Sargassum sp. flour doses of 0%), B (Sargassum sp. flour dose of 1%), C (Sargassum sp. flour dose of 2%), D (Sargassum sp. flour dose of 3%) and E (Sargassum sp. flour dose of 4%). The use of Sargassum sp. significantly affect FE, PER, G and SGR values (P<0.05), but did not show a significantly effect towards the value of SR (P>0.05). The treatment D and E showed highest FE, PER, G and SGR (P<0.05), with value of (78.83-81.04%), (2.00-2.04), (100.39-103.53 g) and (2.66-2.70%/days). It was suggested that the used of Sargassum sp. in practical diet was able to increase the FE, PER, G and SGR values for the catfish (Clarias sp.).
TINGKAT PEMANFAATAN Artemia sp. BEKU, Artemia sp. AWETAN DAN CACING SUTERA UNTUK PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP LARVA GURAMI (Osphronemus gouramy, Lac.) Nugroho, Ido Istiaji; Subandiyono, -; Herawati, Vivi Endar
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.074 KB)

Abstract

Ikan Gurami (O. gouramy, Lac) adalah jenis ikan air tawar yang bersifat omnivor dan  memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Cacing sutera banyak digunakan sebagai pakan larva gurami, namun ketersediannya dapat terganggu karena faktor cuaca. Artemia sp dapat digunakan sebagai pakan larva gurami, Artemia sp bisa diberikan dalam bentuk beku maupun awetan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat pemanfaatan Artemia sp. beku, Artemia sp. awetan dan cacing sutera serta mengetahui hasil terbaik untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva gurami. Ikan uji yang digunakan adalah larva gurami dengan bobot 0,02 gr/ekor dan padat tebar 300 ekor/20 L. Pemberian pakan 3 kali sehari pada pukul 08.00, 12.00, dan 16.00 secara at satiation. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan A (Artemia sp. beku), perlakuan B (Artemia sp. awetan), dan perlakuan C (Cacing sutera). Variabel yang diamati adalah laju pertumbuhan relatif (RGRW dan RGRL), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), protein efisiensi rasio (PER), kelangsungan hidup (SR) dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian  jenis pakan yang berbeda memberikan pengaruh (P<0.05) terhadap RGRW, RGRL, EPP, dan PER, namun tidak berpengaruh (P>0.05) terhadap SR.  Nilai tertinggi untuk RGRW, RGRL, EPP, PER, dan SR sebesar 3.48%/hari, 1.40%/hari, 17.78%, 0.28%, dan 72.44%.  Kualitas air yang didapatkan selama penelitian masih dalam kisaran normal untuk kehidupan larva gurami. Berdasarkan hasil penelitian ini, disimpulkan bahwa perlakuan pemberian pakan terbaik untuk larva gurami adalah cacing sutera.  Gouramy (gouramy, Lac) is omnivorous freshwater fish, and highly economical value. Silk worm widely used as life food of gouramy larvae. However, it’s availability could be interrupted by of the weather.  Artemia sp. can be used as life food for gouramy larvae, too Artemia sp. can be used in the form of frozen and preserved. This research was aimed to study the utilization rate of frozen Artemia sp.,and silk worm on the growth and survival rate of gouramy larvae. The eksperimenal fish used was gouramy larvae with the average body weight of 0,02 grams, the stocking density of the fish was 300 fish/l. The feeding applied was at satiation, with the feeding frequency of 3 times a day, that was at 08.00; 12.00 and 16.00 WIB. The eksperimental method used was completely randomized design (CRD) with 3 treatments and 3 replicates. The trial feeds was A (frozen Artemia sp.), B (Preserved Artemia sp.) and C (silk worm), respectively. Variables measured included relative growth rate to weight and length, feed efficiency utilization, protein efficiency ratio and survival rate. The result of reseach was that different type of life food (P<0.05) had effect on RGRW, RGRL, EPP, and PER, but no significant (P>0.05) for SR. The highest value for RGRW, RGRL, EPP, PER and SR were 3.48%/day, 1.40%/day, 17.78%, 0.28%, and 72.44%, respectively. Water quality obtained during the reseach was within the normal range for gouramy life. Based on the study, It was concluded that the best feeding trial for gouramy larvae was silk worms. 
TINGKAT PEMANFAATAN Artemia sp. BEKU, Artemia sp. AWETAN DAN PAKAN BUATAN UNTUK PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP POSTLARVA UDANG WINDU (Penaeus monodon, Fab.) Cahyanti, Erni Nur; Subandiyono, -; Herawati, Vivi Endar
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.514 KB)

Abstract

Pakan alami Artemia sp. merupakan jenis pakan yang cocok untuk udang windu stadia postlarva, sebab selain kandungan protein yang tinggi yaitu sekitar 50%, Artemia sp. juga mudah dicerna oleh larva udang.  Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat pemanfaatan pakan berupa Artemia sp. beku, Artemia sp. awetan, dan pakan buatan untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup postlarva udang windu (P. monodon, Fab.).  Metode yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu perlakuan A (Artemia sp. beku), B (Artemia sp. awetan), dan C (pakan buatan).  Udang yang digunakan adalah udang windu PL-8 dengan bobot biomassa rata-rata yaitu perlakuan A sebesar 0,0045±0,0003 g, B sebesar 0,0043±0,0002 g, dan C sebesar 0,0044±0,0002 g.  Panjang individu rata-rata udang windu perlakuan A sebesar 0,54±0,0124 cm, B sebesar 0,53±0,0068, dan C sebesar 0,54±0,0015 cm.  Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pengembangan Wilayah Pantai (LPWP) Jepara, Jawa Tengah selama 35 hari.  Pakan diberikan 3 kali sehari dengan menerapkan metode relative feeding rate, yaitu sebesar 30%/bobot biomassa.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan yang berbeda berpengaruh (P<0,05) terhadap laju pertumbuhan relatif (RGRW dan RGRL), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), protein efficiency ratio (PER), namun tidak berpengaruh (P>0.05) terhadap nilai kelangsungan hidup.  Nilai untuk RGRW dan RGRL, EPP, dan PER sebesar 16,83%/hari, 8,07%/hari, 25,23%, 0,45%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian pakan Artemia sp. menghasilkan nilai pertumbuhan, EPP, dan PER yang lebih tinggi pada udang windu bila dibandingkan dengan pakan buatan, sedangkan pakan Artemia sp. dalam bentuk beku lebih baik daripada Artemia sp. yang berbentuk awetan. Artemia sp. was a suitable life food for tiger shrimp postlarvae stage, because it has high protein level, (that was about of 50%), and it easily digested by the larvae.  The  purpose  of  this  research  was to determine  of  consumption  and  utilization  rate of  frozen Artemia sp., preserved Artemia sp., and artificial feed for growth and survival rate postlarvaee tiger shrimp (P. monodon, Fab.).  The experimental method used was completely randomized design (CRD), with three treatment and three replicaties. The trials used with A (frozen Artemia sp.), B (preserved Artemia sp.), and C (artificial feed). The experimental shrimp used was PL-8 with biomass weight a trial A of 0.0045±0.0003 g, B of 0.0043±0.0002 g, and C of 0.0044±0.0002 g.  The individual length a trial A of 0.54±0.0124 cm, B of 0.53±0.0068, and C of 0.54±0.0015 cm.  The trial shrimp maintenanced at The Coastal Development Laboratory Jepara, Central Java for 35 days.  Feeding frequency applied 3 times a day with relative feeding rate of 30% total biomass weight.  The result showed that the different (P<0.05) on relative growth rate of weight and length, feed utilization efficiency, protein efficiency ratio, but no significant (P>0.05) on the survival rate.  Those value for RGRW dan RGRL, EPP, and PER were 16.83%/days, 8.07%/days, 25.23%, 0.45%.  It was concluded that the tiger shrimp fede on Artemia sp. produce highest growth rate to tiger shrimp when compared with artificial feed, whereas frozen Artemia sp., better resulted om growth the preserved Artemia sp.
PENGARUH PENGKAYAAN NUTRISI MEDIA KULTUR DENGAN SUSU BUBUK AFKIR TERHADAP KUANTITAS DAN KUALITAS PRODUKSI CACING SUTERA (Tubifex sp.) Mi’raizki, Fauzi; Suminto, -; Chilmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.645 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pengkayaan nutrisi media kultur dengan susu bubuk afkir terhadap kuantitas dan kualitas produksi cacing sutera dan mengetahui kadar pemberian susu bubuk afkir yang memberikan hasil terbaik untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi cacing sutera. Materi uji yang digunakan adalah cacing sutera dengan kepadatan 150 g/m2. Wadah disusun bertingkat dengan sistem resirkulasi air dengan debit 0,6 liter/menit. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini: perlakuan A (tanpa susu bubuk afkir), B (susu bubuk afkir dengan dosis 2%), C (susu bubuk afkir dengan dosis 4%), dan D (susu bubuk afkir dengan dosis 6%). Data yang diamati meliputi pertumbuhan populasi, biomassa mutlak, kandungan nutrisi cacing sutera dan kualitas air.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengkayaan nutrisi media kultur dengan susu bubuk afkir memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan populasi, biomassa mutlak, dan kandungan nutrisi cacing sutera. Pertumbuhan populasi tertinggi diperoleh pada perlakuan C (70,6x104 ind/m2). Pertumbuhan biomassa tertinggi diperoleh pada perlakuan D (886,80 g/m2). Kandungan tertinggi protein dan lemak cacing sutera masing-masing telah terjadi pada perlakuan A (48,63 %) dan perlakuan C (31,13%). Kualitas air selama penelitian untuk nilai suhu dan Oksigen terlarut (DO) dalam kisaran yang layak, sedangkan nilai pH dan ammonia dalam kisaran tidak layak, namun cacing selama penelitian masih dapat hidup dan tumbuh. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengkayaan nutrisi media kultur dengan susu bubuk afkir berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan populasi, biomassa dan kandungan nutrisi pada cacing sutera. Pengkayaan dengan dosis 4% memberikan hasil terbaik terhadap kuantitas dan kualitas cacing sutera. The research was aimed  to know the effect of nutrient enrichment in culture medium with rejected milk powder on the quantity and quality of Tubifex and determine the dose of the rejected milk powder that give the best result to increase the quantity and quality of Tubifex  production. The densityof Tubifex  used was      150g.m-2. The Nested containers were using water recirculation system with a water flow 0.6 liters. Min-1. The study was carried out experimentally by using a completely randomized design (CRD) of 4 treatments and 3 replications. The treatments in this research were treatment A (without rejected milk powder), B (rejected milk powder with a dose of 2%), C (rejected milk powder with a dose of 4%) and D (rejected milk powder with a dose of 6%). The data observed were population growth, the absolute biomass, nutrient content of Tubifex and water quality.The results showed that nutrient enrichment of culture medium with rejected milk powder were  significantly affected (P <0.05) on the growth population, the absolute biomass and nutrient content of Tubifex. The highest population growth was obtained in treatment C (70.6x104 ind.m­-2). The highest biomass production in treatment D (886.80 g.m-2). The highest protein content and the highest fat content of  Tubifex worm were obtained in treatment A (48.63%) and treatment C (31.13%) respectively . Variable value of water quality during the research as well as temperature and dissolved oxygen were in the feasible range for Tubifex grown. In addition  the value of pH  and ammonia was high range, but worms during the study can still live and grown. It was concluded that nutrient enrichment of culture medium with milk powder were  significantly affected on the growth population, the absolute biomass and nutrient content of Tubifex. The enrichment with a dose of 4% gave the best result on quantity and quality of Tubifex.
OPTIMALISASI PENAMBAHAN TEPUNG RUMPUT LAUT COKLAT (Sargassum sp.) YANG BERBEDA DALAM PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN JUVENIL UDANG WINDU (Penaeus monodon) Widyantoko, Widodo; Pinandoyo, -; Herawati, Vivi Endar
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.317 KB)

Abstract

Pakan merupakan salah satu faktor yang dapat menunjang perkembangan budidaya udang windu. Pakan yang sesuai dengan tingkat kebutuhan nutrisi dapat mendukung pertumbuhan optimum udang. Rumput Laut coklat (Sargassum sp.) memiliki peran sebagai imunostimulan yang terbukti berpengaruh terhadap respon non spesifik pada sistem imun beberapa jenis ikan dan udang, sehingga membantu melancarkan daya cerna pakan yang dikonsumsi oleh tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan tepung rumput laut coklat (Sargassum sp.) dalam pakan terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan juvenil udang windu (Penaeus monodon). Variabel yang dikaji meliputi nilai tingkat konsumsi pakan (TKP), laju pertumbuhan relatif (RGR), Efisiensi Pemanfaatan Pakan (EPP), Protein Efisiensi Rasio (PER), dan kelulushidupan (SR). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan yaitu perlakuan A (tepung  rumput laut coklat dosis 0%), B (tepung rumput laut coklat dosis 1%), dan C (tepung rumput laut coklat dosis 2%), D (tepung rumput laut coklat dosis 3%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan penambahan tepung rumput laut memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap RGR, EPP, dan PER namun tidak berpengaruh nyata  (P>0,05) terhadap SR. Persentase dosis optimal yang dapat meningkatkan pertumbuhan udang windu yaitu 2,48% pada pakan buatan mampu menghasilkan 4,05% untuk RGR. Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran yang layak untuk budidaya udang windu. Feed is one of the factors that can support the development of tiger shrimp culture. Food that is in accordance with the level of nutritional needs to support optimum growth of shrimp. Brown Seaweed (Sargassum sp.) Has a proven role as an immunostimulatory effect on non-specific response of the immune system of some species of fish and shrimp, so that helped launch the digestibility of feed consumed by the body. This study aimed to examine the effect of adding flour brown seaweed (Sargassum sp.) In diets on the growth and survival of juvenile tiger shrimp (Penaeus monodon). Variables examined include the value of the  feed consumption rate (TKP), relative growth rate (RGR), Feed Utilization Efficiency (EPP), Protein Efficiency Ratio (PER), and survival rate (SR). This study used a completely randomized design (CRD) with four treatments and three replications ie treatment A (brown seaweed powder dose 0%), B (brown seaweed powder dose of 1%), and C (brown seaweed powder dose of 2%) , D (brown seaweed powder dose of 3%). The results showed that the addition of flour seaweed treatment effect (P <0.05) on RGR, EPP, and PER but not significant (P> 0.05) to SR. Optimal percentage dose that 2.48% on the artificial diet capable of producing 4.05%  for RGR. Water quality in the maintenance medium contained in a decent range for tiger shrimp.
PEMANFAATAN TEPUNG DAUN SINGKONG (Manihot utilissima) YANG DIFERMENTASI DALAM PAKAN BUATAN TERHADAP PERTUMBUHAN BENIH IKAN NILA MERAH (Oreochromis niloticus) Amarwati, Heni; Subandiyono, -; Pinandoyo, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.842 KB)

Abstract

Daun singkong berpotensi sebagai salah satu bahan baku yang dapat dimanfaatkan dalam pakan ikan karena mengandung nilai nutrisi yang cukup tinggi dan mudah diperoleh. Namun daun ini memiliki kandungan serat kasar yang cukup tinggi. Salah satu upaya untuk menurunkan kandungan serat kasar yaitu dengan fermentasi. Fermentasi tepung daun singkong ini dapat meningkatkan kualitas nutrisi dengan menurunkan serat kasar dan meningkatkan BETN dalam pakan ikan yang berpengaruh pada laju pertumbuhan.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji manfaat penambahan tepung daun singkong (manihot utilissima) yang telah difermentasi kedalam pakan buatan terhadap pertumbuhan benih ikan nila merah (O. niloticus).  Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL)  yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan.  Ikan diberi pakan perlakuan dengan kadar tepung daun singkong masing-masing sebesar 0, 5, 10 dan 15%. Variabel yang diamati meliputi laju pertumbuhan relatif (RGR), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), protein efisiensi rasio (PER), dan kelulushidupan (SR).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi tepung daun singkong memberikan pengaruh  nyata (P<0,05) terhadap nilai RGR, EPP dan PER, sedangkan pada nilai SR tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05). Perlakuan penambahan fermentasi tepung daun singkong sebesar 10% merupakan hasil terbaik dengan nilai  laju pertumbuhan relatif sebesar 2,72% per hari, efisiensi pemanfaatan pakan sebesar 63,66%, protein efisiensi rasio sebesar 2,13%.  Berdasarkan pada hasil penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa pemberian fermentasi tepung daun singkong  sebesar 10%  kedalam pakan mampu meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan serta pertumbuhan ikan nila merah (O.niloticus). Dosis optimum tepung daun singkong yang dapat ditambahakan kedalam pakan buatan untuk benih ikan nila merah adalah sebesar 10,07 – 10,88%. Cassava leaf could potentially used as one of feed ingredient for fish, as it contained relatively high nutritional value and was easily obtained. However, these leaf contained quite high level of crude fiber. One of the efforts to descrease the crude fiber contain was by fermentation process. By using the process, fermented cassava leaf meal could increased the nutrient content, that was by drecusyng the value of crude fiber and increased the value BETN.                This research was aimed to observe the influence of fermented cassava leaf meal (Manihot utilissima) in the diet on the fish  red tilapia (O. niloticus) growth. The method used was randomized completely design that consisted of 4 treatments and 3 replicates. The fish was feed on trial feed with containing  of fermented cassava leaf of  0, 5, 10, and 15%. The variables measure  included the relative growth rate (RGR), efficiency of feed utilization (EPP), protein efficiency ratio (PER) and survival rate (SR).  The results showed that fermented cassava leaf meal affected significant (P<0.05) on the RGR, EPP and PER, whereas survival rate was not significant (P>0.05).  The treatment of i.e  dietary cassava leaf meal of 10% resulted on the best value for RGR i.e 2.72% /day, EPP i.e 63.66% and PER i.e 2.13%. It was concluded that dietary cassava leaf meal of 10% could improve the feed eficiency and growth of red tilapia ( O.niloticus ). Optimum dose cassava leaf meal that can be added into artificial feed for red telapia seeds as much as 10.07 – 11.88%.
PENGARUH BOBOT AWAL YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN Gracilaria sp. YANG DIBUDIDAYAKAN DENGAN METODE Longline DI PERAIRAN TAMBAK TERABRASI DESA KALIWLINGI KABUPATEN BREBES Muhammad Rizky Hasan; Sri Rejeki; Restiana Wisnu Ariyati
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.459 KB)

Abstract

Pertambakan di desa Kaliwlingi Kabupaten Brebes mengalami abrasi sehingga berubah menjadi perairan terbuka dan tidak termamfaatkan. Perairan tambak terabrasi tersebut masih berpotensi memberikan peluang untuk dimanfaatkan kegiatan budidaya. Salah satu bentuk pemanfaatan perairan tambak terabrasi tersebut adalah untuk kegiatan budidaya laut antara lain untuk budidaya rumput laut Gracilaria sp. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bobot awal yang memberikan pertumbuhan terbaik bagi Gracilaria sp dan mengetahui pengaruh bobot awal yang berbeda terhadap pertumbuhan Gracilaria sp yang dibudidayakan dengan metode longline. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei - Juni 2014. Tanaman uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumput laut dari jenis Gracilaria sp. yang dibudidayakan dengan metode longline. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 kali ulangan yaitu perlakuan A (bobot 50 g), B (bobot 100 g), dan C (bobot 150 g).  Variabel yang diamati adalah laju pertumbuhan relatif, laju pertumbuhan harian, dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai RGR terbaik pada perlakuan A (50 g) 26.79% , perlakuan B (100 g) 19.85% ,dan perlakuan C (150 g) 17.45%. Nilai SGR pada perlakuan A (50 g) 14.16%, perlakuan B (100 g) 12.41%, dan perlakuan C (150 g)  11.63%. Kesimpulan yang didapat adalah pertumbuhan rumput laut Gracilaria sp  dengan bobot awal 50 g memberikan pertumbuhan relatif terbaik yaitu sebesar (26.79 0.36) dan SGR terbaik (14.16 0.07) dan di rekomendasikan untuk dibudidayakan. Fishpond in the Kaliwlingi village of Brebes District has been abraded, so that to turned into open water and not utilized. Abraded fishpond water is still potentially provide opportunities to be utilized aquaculture. One of the alternative uses fishpond water abraded is for marine culture activities among others for the cultivation of seaweed Gracilaria sp. The objective of research were to discover the initial weight that gives the best growth and different initial weights on the growth of Gracilaria sp cultivated with longline method. This study was conducted in May-June, 2014. The seaweed used in this study is the seaweed of Gracilaria sp. cultivated with longline method. The experimental design used was a completely randomized design (RAL) with 3 treatments and 3 replications: treatment A (weight 50 g), treatment B (weight 100 g) and treatment C (weight 150 g). Variables observed were relative growth rate, daily growth rate, and water quality. The results showed that the value of RGR treatment A (50 g) 26.79%, treatment B (100 g) 19.85%, and treatment C (150 g) 17.45%. SGR value treatment A (50 g) 14.16%, treatment B (100 g) 12.41%, and treatment C (150 g) 11.63%. The conclusion is the growth of seaweed Gracilaria sp cultivated with longline method of initial weight of 50 g (treatment  A) gives the best RGR value 26.79 0.36 and the best value SGR 14.16 0.07 and recommended for cultivation.

Page 1 of 2 | Total Record : 15